Publik sepat dihebohkan karena ada isu penjualan data penduduk oleh hacker. Namun pemerintah sudah menjamin bahwa tidak ada kebocoran data pada aplikasi Ehac, sehingga mereka bisa mengunduh dan menggunakannya tanpa perlu khawatir akan terjadi peretasan.

Digitalisasi data adalah hal yang baru di Indonesia selama beberapa tahun ini. Dengan pencatatan secara digital maka kelebihannya adalah data lebih cepat masuk dan tertata rapi, sehingga dengan mudah ditemukan hanya dengan beberapa kali klik. Selain itu, bisa untuk mencegah adanya pencatatan data double dan miskomunikasi.

Dengan adanya aplikasi maka digitalisasi data akan lebih mudah, karena masyarakat tinggal men-download lalu mengisinya dengan data pribadi. Akan tetapi mereka jadi ketakutan karena ada isu ketika hacker meretas dan membocorkan data banyak orang di Indonesia, lalu menjualnya ke beberapa pihak dengan bayaran mata uang kripto.

Akan tetapi hal ini tidak terjadi di kartu digital Ehac, yang terintegrasi dengan aplikasi Peduli Lindungi. Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono menyatakan bahwa tidak ada upaya pengambilan data pada server Ehac. Hal ini disimpulkan setelah ada penyelidikan yang dilakukan oleh polisi siber, terhadap Kementerian Kesehatan dan mitranya. Aplikasinya pun aman digunakan oleh masyarakat.

Irjen Pol Argo melanjutkan, ketika terbukti tidak ada kebocoran data maka bantuan dari polisi siber dihentikan. Dalam artian kasus sudah dinyatakan selesai karena dugaan peretasan terhadap aplikasi Peduli Lindungi sebagai ‘rumah’ bagi Ehac, tidak benar.

Jika polisi sudah mengadakan penyelidikan dan hasilnya adalah Ehac tidak diretas, maka ia dipastikan sangat aman. Publik bisa mengunduh aplikasi Peduli Lindungi dan mengisi kartu Ehac, tanpa takut datanya akan dicuri atau dijual oleh hacker. Sehingga ia bisa melakukan perjalanan dengan aman di masa pandemi, karena saat akan naik pesawat harus memperlihatkan aplikasi tersebut.

Ehac alias electronic health alert card diciptakan agar pelaku perjalanan, baik domestik maupun internasional, tercatat data-data pentingnya. Kartu ini terintegrasi dengan aplikasi Peduli Lindungi, sehingga dengan menunjukkan gawai, maka seseorang bisa terlihat bahwa ia sudah vaksin atau belum.

Memang suatu aplikasi yang baru launching masih rawan akan beberapa gangguan, karena ada yang masih versi beta atau versi awal, sehingga terlihat ada bug atau error yang lain. Kelemahan ini bisa diperbaiki pada versi selanjutnya dan akan terus disempurnakan, agar para penggunanya nyaman saat memakainya. Sehingga makin banyak yang mengunduhnya maka makin sedikit keluhan yang muncul di tampilan Google Playstore.

Namun aplikasi Peduli Lindungi terbukti aman dan tidak ada kebocoran data sama sekali, dan makin disempurnakan oleh developernya. Penyebabnya karena dalam aplikasi tersebut ada banyak data penting seperti NIK yang harus diproteksi. Jangan sampai NIK bocor dan akhirnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena ada penyalahgunaan data.

Kita bisa mengunduh Peduli Lindungi dan mengisi data di Ehac dengan lengkap dan benar, sehingga bisa diketahui status kesehatan, domisili, NIK, dll. Ketika akan masuk mall maka bisa melenggang dengan bebas karena sudah ada bukti kartu vaksin dalam bentuk digital, di aplikasi tersebut. Juga saat akan naik pesawat, Ehac dan Peduli Lindungi adalah duo yang wajib ditunjukkan kepada petugas.

Tidak ada bukti peretasan terhadap data-data di kartu digital Ehac, sehingga aplikasi Peduli Lindungi dinyatakan aman. Kita bisa mengisi data di sana tanpa takut akan bocor lalu tersebar di sosial media. Jangan takut untuk mengunduh dan mengisi data-datanya dengan benar.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Bekasi

Oleh : Deka Prawira )*

Corona sudah bermutasi hingga varian Mu, setelah ada varian Alfa, Beta, dan Delta.. Tetaplah menaati protokol kesehatan dan jangan lengah sedikitpun, agar tidak terjangkiti oleh virus Covid-19 varian apa saja.

Virus Covid-19 adalah makhluk kecil yang terus bermutasi, dan wajar jika sebuah virus melakukan mutasi ketika ada lingkungan yang mendukung. Setelah heboh dengan Corona varian Delta yang dianggap bahaya, karena bisa menular hanya dengan berpapasan dengan OTG, maka saat ini sudah ada Corona varian Mu. Penamaannya memang mengikuti urutan abjad Yunani (alfa, beta, dst).

Corona varian Mu sedang naik daun karena kabarnya, ia bertransformasi menjadi virus yang lebih kuat. Virus ini sudah ada di 39 negara di dunia tetapi belum masuk ke Indonesia. Hal ini patut kita syukuri, tetapi bukan berarti harus santai, karena kita masih tetap wajib meningkatkan kewaspadaan. Anda tentu tidak mau kena Corona, teruama varian Mu, bukan?

Untuk mencegah terinfeksi virus Covid-19 varian Mu, maka yang perlu dilakukan adalah terus berdisiplin menaati protokol kesehatan, tidak hanya 3M tetapi sampai 10M. Penyebabnya karena seluruh poin dalam prokes memang didesain, agar ditaati dan nantinya seluruh WNI tidak terjangkiti oleh virus berbahaya ini.

Jangan pernah lupa untuk pakai masker dan mengenakannya harus dalam posisi yang benar, jangan melorot atau baru dipasang saat ada razia petugas. Masker harganya murah tetapi manfaatnya besar, karena ia bisa menolak droplet pembawa virus Covid-19 varian Mu. Pilih masker kain yang berbahan katun atau bahan lain yang lembut tetapi punya filtrasi baik, dan jangan beli masker scuba atau buff, yang tidak efektif dalam menentang penularan Corona.

Saat ini WHO juga merekomendasikan untuk mengenakan masker ganda, dengan posisi masker sekali pakai di bagian dalam dan masker kain di bagian luar. Ketika ada 2 masker sekaligus yang dipasang, maka akan meningkatkan filtrasi sampai 90%, sehingga tidak akan terkena droplet dari OTG. Jangan lupakan fakta bahwa OTG ada di mana-mana dan kita tidak tahu siapa yang terkena virus Covid-19 varian Mu.

Selain memakai masker, jangan lupa untuk mencuci tangan, mandi, dan mengganti baju saat tiba di rumah. Walau habis pergi ‘hanya’ ke pasar, tetap harus melakukan prokes ini, agar selamat dari virus Covid-19. Dengan langsung mandi maka tubuh bersih dan tidak kena virus-virus nakal, termasuk Corona. Lantas ganti baju meminimalisir perpindahan virus, karena ia akan mati saat pakaian dicuci, dan kalau bisa dibersihkannya dengan air panas karena higienis.

Jangan dengan sengaja melewati keramaian, agar tidak terkena virus Covid-19 varian Mu atau yang lain. Triknya, datanglah ke pasar tradisional atau supermarket ketika tempat itu baru saja dibuka, sehingga masih sepi dan Anda terhindar dari berdesak-desakan dengan pembeli lain. Cepat-cepatlah berbelanja agar tidak terjebak macet dan merasa sesak di mobil, lalu melepas masker begitu saja.

Apalagi dengan poin prokes menghindari keramaian, berarti Anda juga tidak boleh dengan sengaja membuat kerumunan. Jangan nekat menggelar pesta dangdut di tengah pandemi dengan alasan butuh hiburan. Boro-boro terhibur, yang ada setelah acara malah banyak yang terkapar karena Corona.

Corona varian Mu memang sedang menjadi perhatian dan belum masuk ke Indonesia, tetapi kita masih harus meningkatkan kewaspadaan. Jangan lengah dan tetap taati prokes agar selamat dari virus Covid-19 varian apa saja. Menaati prokes juga sangat mudah, bukan?

)* Penulis adalah kontributor Lingkar pers dan mahasiswa Cikini

Oleh : Putri Fitria )*

Pemerintah tengah merancang strategi penanganan Covid-19 akan berubah status, dari pandemi menjadi endemi. Meskipun begitu, masyarakat tidak usah takut karena akan terproteksi, dengan syarat sudah divaksin dan mematuhi protokol kesehatan. 

Kapan pandemi akan berakhir? Ini adalah pertanyaan yang ada di benak banyak orang. Kita sudah lebih dari setahun dicengkram ketakutan akan corona dan mulai ada yang stress berat dan takut untuk keluar rumah. Penyebabnya karena mereka terjangkit cabin fever alias terlalu sering berada di dalam ruangan.

Pandemi bisa berakhir dengan syarat 75% masyarakat di suatu daerah sudah divaksin, sehingga memiliki herd immunity dan tidak ada lagi penularan corona. Namun WHO menyatakan bahwa pandemi bisa saja menjadi endemi, mengingat virus Covid-19 terus bermutasi dan penularannya makin cepat. Endemi adalah keadaan di mana terjadi penularan penyakit tetapi terbatas di suatu wilayah.

Pemerintah Indonesia sudah mengantisipasi jika pandemi Covid-19 berubah menjadi endemi. Guru Besar Kesehatan Masyarakat UI Hasbullah Thabrany menyatakan bahwa di manapun di dunia, pandemi akan berubah menjadi endemi, tinggal menunggu pengumuman resmi dari WHO. Namun masyarakat tidak usah jadi paranoid karena ada kunci untuk selamat dari situasi ini.

Memang sebagai masyarakat sipil tidak usah takut lalu menjadi tertekan secara psikologis. Keadaan endemi tidak semengerikan yang dibayangkan orang awam, karena sebenarnya kita sudah familiar dengan penyakit saat endemi, seperti malaria dan demam berdarah. Penyakitnya relatif bisa terkendali dan pasiennya bisa lekas sehat.

Pemerintah sudah menyiapkan berbagai strategi untuk mengantisipasi endemi Covid di Indonesia dan langkah ini sangat tepat. Hal ini dungkapkan oleh Piter Abdullah, ekonom Center of Reform on Economics. Menurutnya, strategi-strategi itu bisa mengendalikan corona tetapi aktivitas ekonomi masih terjaga. Dalam artian, bidang kesehatan tidak akan ‘bertarung’ dengan ekonomi, karena keduanya saling berkaitan dan saling dukung.

Strategi pemerintah yang pertama untuk menghadapi endemi Covid adalah dengan menggencarkan protokol kesehatan. Tak jemu-jemu kita diingatkan untuk selalu pakai masker, bahkan masker ganda dan selalu cuci tangan. Menjaga jarak juga menjadi sebuah kewajiban, karena corona varian delta bisa menular hanya dengan berpapasan dengan OTG.

Jangan lupa pula poin lain dalam protokol kesehatan seperti menghindari kerumunan, mengurangi mobilitas, mengganti baju, menjaga imunitas dan kesehatan tubuh. Serta menjaga daya tahan pribadi, meningkatkan kebersihan lingkungan, dan menjaga sirkulasi udara. Protokol kesehatan yang dipakai adalah versi palign mutakhiralias 10M, bukan hanya 3M.

Selain prokes, vaksinasi juga digencarkan agar membentuk herd immunity. Vaksinasi makin digencarkan karena target juga dinaikkan, menjadi 2 juta suntikan per hari. Caranya adalah dengan memperbanyak vaksinasi massal dan melakukan vaksinasi door to door, sehingga makin banyak warga yang sudah diinjeksi.

PPKM juga bisa dilanjutkan walau aturannya tidak lagi diperketat. Sebenarnya yang paling penting adalah pembatasan mobilitas masyarakat karena terbukti ampuh dalam menurunkan kasus corona di Indonesia. Masyarakat juga mulai terbiasa dengan berbagai aturan saat PPKM.

Situasi pandemi bisa berubah jadi endemi dan diprekdisikan akan terjadi tahun depan. Semoga tahun 2022 target vaksinasi nasional tercapai 100% sehingga kita bisa melaluinya dengan selamat. Jangan takut akan corona karena jika disiplin dalam menerapkan prokes dan sudah divaksin, akan baik-baik saja.

Endemi bukanlah suatu film horor episode berikutnya setelah pandemi, karena situasi ini bisa sangat dikendalikan. Tentu dengan berbagai syarat seperti vaksinasi, pemberlakuan PPKM, dan kedisiplinan dalam menaati protokol kesehatan. Pemerintah sudah mengantisipasi endemi dan masyarakat akan menuruti berbagai aturannya.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Aruna Kusumawardhani )*

Masyarakat diharapkan terus mengikuti vaksinasi dan tidak perlu memilih-milih merek vaksin Covid-19. Pasalnya, Pemerintah memastikan bahwa semua vaksin aman, halal, dan efektif untuk digunakan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarti menegaskan, pemerintah telah memastikan keamanan, mutu serta khasiat semua jenis vaksin Covid-19 yang tersedia di Indonesia. Bahkan semua merek vaksin yang telah tersedia di Indonesia telah melalui proses evaluasi Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), ITAGI dan Worl Health Organization.

            Airlangga juga meminta kepada masyarakat untuk tidak pilih-pilih vaksin Covid-19. Karena semua merk vaksin berkhasiat untuk melindungi masyarakat. Selain itu, Airlangga juga menekankan agar masyarakat dapat disiplin 3M terutama dalam memakai masker, penguatan 3T demi membangkitkan produktifitas dan upaya mengakhiri pandemi Covid-19.

            Sebelumnya, pemerintah telah menegaskan, bahwa berdasarkan evaluasi efektivitas vaksin Covid-19 yang dilakukan terhadap tenaga kesehatan di DKI Jakarta, semua merek vaksin yang ada di Indonesia aman dan efektif dalam melawan Covid-19. Semua vaksin yang telah datang di Indonesia telah dijamin aman dan mampu melindungi masyarakat dari risiko sakit berat jika terpapara virus Covid-19, serta efektif melawan berbagai varian virus corona dan mengurangi risiko kematian akibat Covid-19.

            Evaluasi efektifitas vaksin Covid-19 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes RI menunjukkan bahwa vaksin mampu menurunkan risiko terinfeksi Covid-19 dan mengurangi perawatan dan kematian bagi tenaga kesehatan.

            Studi itu dilakukan terhadap 71.455 tenaga kesehatan di DKI Jakarta yang meliputi perawat, bidan, dokter, teknisi dan tenaga umum lainnya sepanjang periode Januari-Juni 2021.            Studi tersebut mengamati kasus konfirmasi positif Covid-19, perawatan dan kematian akibat Covid-19 pada tiga kelompok tenaga kesehatan, yaitu penerima vaksinasi dosis pertama, vaksinasi lengkap dan yang belum divaksinasi.Para tenaga kesehatan yang menjadi bagian dari studi tersebut mayoritas mendapatkan vaksin Sinovac.

Saat laporan tersebut diturunkan, tercatat ada 143 ribu SDM Kesehatan di DKI Jakarta yang telah divaksinasi dosis pertama dan 125.431 orang telah divaksinasi dosis kedua.

            Studi dilakukan dalam kondisi yang dinamis, mengingat sepanjang Januari-Juni 2021 terjadi beberapa gelombang peningkatan kasus Covid-19. Selain itu, terdapat pula dinamika komposisi Variants of Concern dengan adanya mutasi varian Delta, baik di wilayah DKI Jakarta maupun nasional.

            Dari semua tenaga kesehatan yang divaksinasi lengkap, 5% di antaranya dilaporkan terkonfirmasi Covid-19 pada periode April-Juni 2021. Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang terkonfirmasi Covid-19 pada periode Januari-Maret 2021 yang hanya 0.98%.  Meski demikian, jumlah tenaga kesehatan yang telah divaksinasi lengkap dan harus dirawat jauh lebih rendah (0,17%) daripada mereka yang belum mendapatkan vaksinasi (0,35%).

            Sementara itu, tenaga kesehatan yang dirawat karena infeksi Covid-19 sepanjang periode April-Juni 2021 tercatat mencapai 474 orang. Dari jumlah tersebut, mayoritas Tenaga Kesehatan yang divaksinasi lengkap tidak perlu dirawat. Jumlah tenaga kesehatan yang dirawat berkurang hingga 6x lebih rendah yakni turun dari 18% ke 3,3%.

            Data juga menunjukkan lama perawatan tenaga kesehatan yang divaksinasi adalah 8 hingga 10 hari. Lama perawatan itu lebih rendah dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang belum divaksinasi (9-12 hari).

            Adapun secara total tenaga kesehatan yang dirawat 2,3% di antaranya memerlukan perawatan intensif di ICU. Sebagian besar (91%) dari tenaga kesehatan yang memerlukan perawatan intensif adalah tenaga kesehatan yang belum mendapatkan vaksinasi atau baru mendapatkan 1 dosis vaksin.

            Untuk mendapatkan vaksin, masyarakat juga semakin dipermudah, apalagi saat ini bisa mendaftar secara online, dan bisa juga datang langsung ke fasilitas kesehatan atau tempat vaksinasi yang diselenggarakan oleh institusi baik pemerintah ataupun swasta dengan membawa KTP.

            Saat mendaftar, peserta vaksin juga akan diperiksa oleh tenaga kesehatan seperti Tekanan Darah, Gula Darah dan akan diwawancara singkat oleh dokter, untuk bisa diputuskan apakah kondisi tubuh aman atau tidak untuk mendapatkan suntikan vaksin covid-19.Jika dokter memutuskan untuk belum boleh mendapatkan vaksin misal karena tensinya terlampau tinggi, maka peserta vaksin diminta untuk istirahat terlebih dahulu.

            Dengan demikian, pemerintah mengajak kepada masyarakat untuk tidak perlu pilih-pilih atau meragukan efektifitas vaksin Covid-19. Semua vaksin yang ada di Indonesia terbukti aman dalam melawan infeksi virus corona dan efektif mengurangi risiko penularan serta kematian akibat Covid-19.

)* Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara 

Presiden RI, Joko Widodo didampingi Sekretaris Kabinet Pramono, Anung (kanan) meninjau vaksinasi COVID-19 untuk masyarakat, di Jogja Expo Center, Bantul, Yogyakarta, Jumat (10/9/2021).

Pada kesempatan tersebut, Presiden Jokowi meminta seluruh pihak mulai menyiapkan transisi dari masa pandemi ke endemi karena COVID-19 belum diketahui kapan akan berakhir.

“Karena kita tahu COVID-19 ini tidak mungkin akan hilang. Oleh sebab itu kita harus mulai menyiapkan transisi dari pandemi ke endemi,” kata Presiden Jokowi.

Presiden juga mengatakan semua pihak mulai belajar hidup bersama dengan COVID-19. Hal tersebut penting agar masyarakat tidak memiliki euforia yang berlebihan dan tetap waspada terhadap bahaya COVID-19 yang setiap saat bisa menyerang.

“Ini penting, saya sampaikan agar kita tidak euforia yang berlebihan, senang-senang yang berlebihan, karena kita dan semuanya harus sadar bahwa COVID-19 selalu mengintip kita,” ujarnya.

Oleh karena itu, Presiden mengingatkan masyarakat untuk terus berdisiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) untuk pencegahan penularan COVID-19, terutama menggunakan masker, serta protokol pencegahan lainnya, seperti mencuci tangan dan menjaga jarak.

“Protokol kesehatan harus terus dilakukan, terutama memakai masker,” ujar Kepala Negara.

Dalam kesempatan itu, Presiden Jokowi meninjau vaksinasi COVID-19 bagi 375 pelajar Sekolah Luar Biasa (SLB) di DIY.

“Saya meninjau pelaksanaan vaksinasi untuk kurang lebih 375 pelajar SLB. Kita harapkan ini bisa memberikan perlindungan dan proteksi secara maksimum kepada para pelajar SLB,” kata Presiden Jokowi.

Presiden mengatakan vaksinasi COVID-19 bagi para pelajar SLB merupakan upaya perluasan vaksinasi guna menurunkan tingkat penyebaran COVID-19, terutama COVID-19 Varian Delta.

“Vaksinasi bagi pelajar ini merupakan bagian dari upaya perluasan vaksinasi yang kita lakukan untuk kendalikan penyebaran COVID-19, terutama varian Delta, karena kita tahu COVID-19 ini tak mungkin akan hilang,” ujar Presiden.

Dalam peninjauan vaksinasi di SLB Negeri 1 Yogyakarta itu, tampak mendampingi Presiden, Menseskab, Pramono Anung dan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. (**)

Oleh : Muhammad Yasin )*

Pemerintah terus memaksimalkan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 jelang Pekan Olah Raga Nasional (PON) XX. Langkah tersebut diharapkan dapat melindungi warga dari penularan   Covid-19 jelang perhelatan ajang olah raga nasional tersebut. 

Johny G Plate selaku Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) mengatakan, program vaksinasi  Covid-19 untuk empat klaster pelaksanaan PON XX dan Peparnas XVI ditargetkan mencapai 70% pada September 2021.

Pemerintah akan terus memantau perkembangan program vaksinasi Covid-19 pada empat klaster tersebut.Johny berujar, vaksinasi juga akan dijadikan salah satu syarat bagi masyarakat yang ingin menyaksikan PON XX dan Peparnas XVI secara langsung.

Pemerintah juga telah memastikan ketersediaan vaksin di empat klaster PON XX dan Peparnas XVI Papua agar dapat memenuhi kebutuhan yang ada. Selain itu, pemerintah telah menyiapkan tenaga kesehatan untuk mendukung program vaksinasi tersebut. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi masyarakat di Papua untuk tidak divaksin.

            Vaksinasi diharapkan dapat membantu memastikan kesehatan semua pihak yang terlibat agar tidak memunculkan klaster baru Covid-19. Vaksin tentu dibutuhkan untuk meningkatkan imunitas, melindungi diri sendiri dan keluarga, serta mengurangi gejala berat Covid-19.

            Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali menjelaskan soal pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk para atlet. Ia mengatakan telah meminta sebanyak 5 ribu dosis vaksin Covid-19 untuk atlet nasional ke kementerian kesehatan.  Dalam kesempatan konferensi virtual, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali menjelaskan terkait dengan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk para atlet. Ia mengatakan telah meminta sebanyak 5 ribu dosis vaksin Covid-19 untuk atlet nasional ke Kementerian Kesehatan.

            Vaksinasi Covid-19 untuk atlet tahap pertama diutamakan untuk atlet yang sedang berada di Jakarta, mempersiapkan diri untuk bertanding. Selanjutnya, Kemenpora juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan di daerah untuk vaksinasi Covid-19 kepada atlet yang sedang kembali di kota asalnya.

            Pada kesempatan berbeda, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa vaksinasi Covid-19 bagi atlet diprioritaskan abgi mereka yang akan melakukan pertandingan di kancah internasional maupun dalam negeri.  Pernyataan ini disampaikan oleh Menkes Budi Sadikin ketika dirinya meninjau pelaksanaan vaksinasi bagi para atlet, pelatih maupun tenaga pendukung di Istora Senayan.

Kemenkes juga akan mempercepat vaksinasi covid-19 di sejumlah kota/kabupaten di Papua. Hal ini bertujuan untuk menunjang penyelenggaraan PON XX pada 2-15 Oktober 2021. Sebagai Informasi, PON XX 2021 akan digelar pada 2-5 Oktober 2021. Terdapat 37 cabang dan 10 cabang ekspedisi yang akan dipertandingkan.

            Karena pandemi Covid-19 masih berlangsung, Ketua KONI Marciano Norman meminta agar semua orang yang terlibat dalam pelaksanaan PON XX 2021 harus sudah divaksin. Dirinya juga mengaku optimis, situasi dan kondisi di lokasi penyelenggaraan PON XX 2021 kan kondusif. Adapun lokasi yang dimaksud meliputi Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Mimika dan Kabupaten Merauke.

            Bagi Papua, PON adalah event yang sangat penting, karena event ini tentu saja akan menjadi nilai tambah bagi pemerataan pembangunan di Papua hingga pemerataan pembangunan ekonomi di Papua. Karena sukses PON tidak hanya soal sukses penyelenggaraan dan sukses prestasi saja.

            PON XX akan dimeriahkan dengan 37 cabang olahraga, 56 disiplin cabor, 679 nomor pertandingan dan 6.442 atlet. Keseluruhan atlet tersebut diharapkan dapat tampil maksimal demi mengukir rekor baru.Selain itu, multievent paling bergengsi di Indonesia tersebut tidak hanya mengenai kompetisi semata, tetapi juga ajang unjuk gigi bagi atlet asal Bumi Cenderawasih untuk dikenal di dunia internasional.

            TNI AL (Angkatan Laut) juga tidak tinggal diam, untuk mempercepat vaksinasi TNI AL telah menerjunkan KRI Soeharso atau kapal rumah sakit untuk melayani percepatan vaksinasi Covid-19 di tempat diselenggarakannya PON, karena selama ini daerah tersebut masih rendah tingkat vaksinasinya. Selain menyiagakan kapal, TNI AL juga menyiapkan tenaga kesehatana dengan harapan sebelum PON sudah banyak masyarakat yang mendapatkan vaksin Covid-19.

            Dalam rangka percepatan vaksinasi, TNI AL menunda sementara latihan militernya dan fokus terhadap pelaksanaan percepatan vaksinasi dalam rangka mendukung program pemerintah agar segera terwujud kekebalan kelompok.

            Vaksinasi diharapkan dapat menjadikan PON dan Peparnas di Papua menjadi semakin semarak, karena dengan adanya vaksinasi, maka masyarakat yang telah mendapatkan vaksin dapat menyaksikan secara langsung para atlet yang berlaga.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Pemerintah menerapkan beberapa Kebijakan ini diambil berdasarkan asesmen terhadap indikator penanganan pandemi, serta sebagai upaya transisi menuju tatanan kehidupan baru yang berdampingan dengan COVID-19. Kerja sama setiap individu dalam menjaga protokol kesehatan akan berperan penting untuk menghambat proses penularan virus dan menekan risiko kembali terjadi lonjakan kasus.

Beberapa indikator pengendalian pandemi di tanah air menunjukkan tren positif, sehingga pemerintah menetapkan penurunan level PPKM di berbagai wilayah. Berdasarkan peta risiko Satgas COVID-19 per 5 September 2021, hanya 5 kabupaten/kota yang mengalami zona merah.

Kepatuhan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan nasional selama PPKM juga terus mengalami peningkatan. Skor rata-rata kepatuhan memakai masker, misalnya, pada awal Juli berada di angka 7,72. Skor tersebut naik hingga 7,88 pada periode 20 Agustus-3 September 2021.

Pemerintah terus mengimbau masyarakat untuk terus memperkuat disiplin protokol kesehatan, dan tidak lelah untuk melaksanakannya sebagai bagian dari adaptasi kebiasaan baru.

Guru Besar FK UI dan Anggota Komite Penasihat Ahli ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization), Prof. DR. dr. Soedjatmiko, SpA (K), Msi. yang biasa dipanggil Prof. Miko menyatakan, masker adalah benteng pertama proteksi kesehatan manusia terhadap virus COVID-19.

Virus akan selalu ada sepanjang masa. Untuk dapat hidup berdampingan dengan COVID-19, yang utama adalah virus jangan sampai masuk ke tubuh kita. Caranya dengan patuh protokol kesehatan, pakai masker dengan benar, jangan longgar, jangan melorot, harus menutup hidung, mulut dan dagu,” ujarnya

PT Bio Farma menerima kembali vaksin CoronaVac 2 dosis dari Sinovac, dalam bentuk finish product untuk keenam kalinya, sebanyak lima juta dosis. Pengiriman CoronaVac 2 dosis ini, merupakan kelanjutan pengiriman dari total 50 juta dosis, yang akan diterima Bio Farma, dalam periode Agustus – September 2021 mendatang.

Kedatangan vaksin CoronaVac 2ds ini, merupakan kedatangan yang ke-50, sejak 10 bulan yang lalu pada bulan Desember 2020. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, kedatangan ke-50 ini menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah Indonesia, dalam upaya memastikan ketersediaan stok vaksin untuk mencukupi kebutuhan vaksin Covid-19 di Indonesia.

“Vaksin dalam bentuk jadi dari CoronaVac, sudah diterima sebanyak 33 juta dosis, (tiga juta pertama, diterima pada Desember 2020 yang digunakan untuk tenaga kesehatan), sedangkan vaksin Sinovac dalam bentuk bulk yang diterima sebanyak 153,9 juta, AstraZeneca sebanyak 19,5 juta dosis, Moderna delapan juta dosis, Pfizer 2,75 juta dosis, Sinopharm 8,25 juta dosis”, ujar Airlangga.

Menurut Airlangga, totalnya Indonesia sudah mengamankan vaksin Covid-19 sebanyak 225.4 juta dosis vaksin dari berbagai merk, baik berbentuk bulk, maupun dalam bentuk finish product. Dengan kedatangan vaksin CoronaVac 2 dosis pada hari ini (6/9) dapat dipastikan pasokan vaksin Covid-19 sudah aman.

Pemerintah Pusat, melalui Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) telah menerbitkan Instruksi Mendagri (Inmendagri) Nomor 39 Tahun 2021 Tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 4, Level 3 dan Level 2 Corona Virus Disease 2019 di Wilayah Jawa dan Bali pada Senin (6/9/2021) malam.

Aturan perpanjangan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Jawa-Bali ini berlaku pada 7-13 September 2021.
Dalam Inmendagri itu, secara rinci disebutkan bahwa kabupaten di Jawa dan Bali masuk kedalam kategori level 4, level 3 dan level 2 yang tersebar di tujuh provinsi.

Sementara itu, kabupaten/kota di Jawa-Bali yang berada pada level 3 tersebar di enam provinsi.

Menyikapi hal tersebut, pengamat Makara Strategic Insight, Iwan Freddy, mengatakan bahwa perpanjangan program PPKM guna mencegah kenaikan kembali kasus covid-19.

“Perpanjangan PPKM guna mencegah kembali menaiknya angka covid-19. Masyarakat sebaiknya taat dan patuh kepada aturan PPKM guna menurunkan kasus baru Covid-19”, ujar Iwan Freddy.

Pemerintah telah berhasil menyusun suatu strategi jangka panjang guna menyikapi kemungkinan pandemi Covid-19 akan tetap ada dalam jangka waktu yang lama.

Opsi terbaik bagi masyarakat saat ini adalah program vaksinasi nasional dan tetap menegakkan disiplin protokol kesehatan (prokes) sebagai jalan menuju tatanan kehidupan baru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah mengingatkan agar negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, mempersiapkan diri mengambil langkah-langkah mitigasi. 

Menyikapi hal tersebut, analis Taiwan-Indonesia Trade Association (TITA), Tulus J. Maha, mengatakan bahwa disiplin prokes dan vaksinasi merupakan suatu strategi jangka panjang agar dapat hidup berdampingan dengan covid-19, sehingga roda perekonmian dapat kembali bergerak. Melalui prokes den vaksinasi, kegiatan perdagangan dapat berjalan dengan resiko yang minim.

“Disiplin protokol kesehatan (prokes) dan percepatan vaksinasi merupakan inti strategi jangka panjang dalam hidup bersama covid19, sehingga roda perekonomian dapat kembali bergerak seperti sedia kala. Mekanisme supply dan demand dapat kembali berjalan sehingga ekonomi dapat pulih” ujar Tulus.

Lebih lanjut dirinya menghimbau masyarakat agar dapat beradaptasi dimasa pandemi covid-19 ini, agar perjalanan menuju new normal dapat tercapai dengan tetap produktif.

“Sebaiknya kita dapat beradaptasi dimasa pandemi covid-19 ini, agar perjalanan menuju new normal dapat tercapai dengan tetap produktif” tambahnya.