suaratimur.id – Kebijakan Pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) di Papua yang saat ini telah masuk dalam pembahasan akhir di DPR menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Papua sebagai pintu masuk percepatan pembangunan di bumi cenderawasih. Adanya pernyataan kesepakatan dukungan antara Gubernur Papua dan Mendagri serta dukungan dari berbagai elemen, baik dari masyarakat di wilayah Papua maupun yang di luar Papua secara massif dan berturut-turut, menjadi api semangat serta semakin mengukuhkan keyakinan bersama akan adanya harapan baru bagi tanah Papua.

Gelaran rapat dengar pendapat antara panitia kerja (Panja) Komisi II DPR dengan perwakilan Majelis Rakyat Papua (MRP) dan Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) pada Rabu 22 Juni 2022, membuahkan keputusan positif dukungan dari kedua pihak terhadap tiga daerah DOB Papua, yakni Provinsi Papua Selatan, Provinsi Papua Tengah, dan Provinsi Papua Pegunungan. Dukungan tersebut hadir setelah terdapat masukan dimana salah satunya tersirat harapan bahwa pemekaran akan  mengutamakan kesejahteraan dan pemberdayaan orang asli Papua (OAP).

Adapun untuk saat ini, Panja telah menyelesaikan pembahasan daftar inventarisasi masalah (DIM) draf rancangan undang-undang (RUU), dimana ketiga RUU tersebut akan masuk ke tahap tim perumus (timus) dan tim sinkronisasi (timsin) untuk memperbaiki hal-hal yang bersifat redaksional.  

Dukungan Gubernur Papua Akhiri Pro Kontra Pembahasan DOB

Gayung bersambut, adanya kesepakatan dukungan yang muncul dari Gubernur Papua menjadi angin segar bagi perjalanan pembahasan kebijakan yang merupakan bagian dari Otsus.  Anggota DPR RI Dapil Papua, Yan Permenas Mandenas, menilai bahwa adanya dukungan Gubernur Papua, Lukas Enembe terhadap pembentukan DOB akan mengakhiri pro-kontra yang selama ini terjadi sehingga pembahasan DOB di Komisi II DPR RI tidak mengalami kendala. Dengan adanya dukungan dari Gubernur Papua tersebut maka diharapkan seluruh masyarakat Papua bersatu mendukung DOB mengingat dampaknya akan dirasakan sendiri oleh rakyat di Tanah Papua.

Adanya sikap keraguan yang muncul dari Ketua MRP Timotius Murib apakah terdapat jaminan ketika upaya mensejahterakan masyarakat Papua melalui pemekaran wilayah mampu menyelesaikan konflik di Papua tak perlu menjadi perhatian yang berlebih. Pasalnya, pernyataan tersebut muncul secara pribadi mengatasnamakan organisasi representatif, MRP. Publik sudah banyak menerima informasi bahwa MRP di bawah kepemimpinan Timotius Murib mengalamai konflik internal akibat penyalahgunaan wewenang hingga anggaran. Yang seharusnya menyampaikan aspirasi masyarakat, namun sudah terlebih dahulu bersikap condong untuk menolak DOB. Secara umum, MRP secara organisasi dan orang-orang didalamnya perlu segera dievaluasi. Hal tersebut yang menjadi salah satu evaluasi ke depan bahwa anggota MRP di provinsi baru menjadi wewenang penjabat gubernur yang disetujui oleh presiden.

Pentingnya realisasi kebijakan DOB juga dinyatakan oleh mantan aktivitas Negara Republik Federal Papua Barat, Musa Karubaba. Menurutnya rencana pembentukan DOB pada hakikatnya untuk mempercepat pembangunan kesejahteraan masyarakat. Program Pemerintah dengan pembentukan daerah otonomi baru bertujuan membuka akses perekonomian melalui pembangunan infrastruktur, yang dampaknya dapat membuka lapangan pekerjaan untuk orang asli Papua. Sebagai tokoh penggerak pemuda manokwari, dirinya mengimbau seluruh elemen masyarakat mendukung kebijakan DOB untuk mempercepat pembangunan agar Papua maju, sejahtera dan melindungi hak-hak masyarakat orang asli Papua dalam bingkai NKRI.

Pemerintah pusat secara bertahap akan mengupayakan pengesahan dan realisasi kebijakan pemekaran provinsi di Papua sebagai upaya mempercepat pembangunan dan kemajuan. Hal tersebut tak akan bisa terselenggara secara maksimal dan optimal jika tak mendapat dukungan dari pemerintah daerah, dalam hal ini Gubernur Papua. Adanya pernyataan sikap dukungan dari Lukas Enembe diharapkan mampu mempercepat proses kebijakan tersebut.

Tentunya kita berharap bahwa sikap dari sang Gubernur tak lagi berubah-ubah seperti sebelumnya khususnya dalam merespon kebijakan pemekaran DOB di Papua. Sudah banyak korban berjatuhan dan pihak yang dirugikan akibat dinamika respon dan pro kontra yang terjadi akibat adanya rencana kebijakan DOB. Sudah saatnya peran dukungan sang gubernur dapat menyelaraskan visi dan misi antara pusat dan daerah, bukan karena kepentingan tertentu yang jauh dari keberpihakan terhadap masyarakat Papua.

Dukungan dari Masyarakat di Luar Papua Terus Berdatangan

Sampai dengan hari ini, dukungan berbagai elemen masih terus bermunculan untuk menyambut realisasi kebijakan pemekaran DOB di Papua. Meski pemerintah melaksanakan secara bertahap dimulai dengan tiga provinsi, namun harapan besar akan perubahan bagi Papua tersemat dalam setiap sikap dukungan dari berbagai wilayah di Indonesia.  

Komunitas Orang Asli Papua (OAP) Surabaya menghelat deklarasi dan pembacaan pernyataan sikap dalam rangka mendukung keberlanjutan Otsus Jilid II dan Pemekaran DOB di Provinsi Papua dan Papua Barat.  Penanggung jawab kegiatan, Mika Korwa, mengatakan terdapat lima pernyataan sikap yang diberikan oleh OAP Surabaya. Hal tersebut sehubungan dengan telah disahkannya Undang Undang (UU) Otsus Jilid II oleh DPR RI dan telah disetujuinya rencana pemekaran DOB di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat oleh pemerintah.

Sementara itu, Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Papua di Jabodetabek untuk DOB menggelar unjuk rasa di area patung kuda dan Gedung DPR Senayan Jakarta pada Kamis, 23 Juni 2022. Massa yang terdiri dari mahasiswa OAP dari sejumlah wilayah seperti Jabodetabek, Bandung dan beberapa daerah lain di Jawa Barat mendesak DPR dan pemerintah untuk mengesahkan RUU DOB.

Koordinator aksi Charles Kossay mengatakan, pengesahan RUU DOB harus dilakukan secepat mungkin, agar masyarakat Papua dapat merasakan kesejahteraan seperti provinsi lain di Indonesia. Menurutnya, pemekaran akan memperpendek jalur logistik di Tanah Papua yang secara geografis penuh dengan tantangan alam, sehingga pemenuhan logistik dapat dilakukan dengan cepat, efektif, efisien, dan murah. Selain itu pemekaran dapat memperpendek tali komando administrasi, sehingga pelayanan masyarakat dapat diakukan dengan cepat, terutama di daerah-daerah terpencil.

Forum mahasiswa OAP untuk DOB di Papua Tengah, Papua Pegunungan Tengah, dan Papua Selatan menyadari sepenuhnya bahwa prakarsa Presiden Jokowi tersebut berpotensi mengganggu kepentingan sempit segelintir oknum elite. Sebab dana otonomi khusus dan dana-dana APBD lainnya akan teralokasikan secara merata ke ketiga daerah otonomi baru.

Untuk itu, mendesak agar seluruh aparat penegak hukum, baik KPK, Kejaksaan Agung, maupun Kepolisian RI segera menangkap oknum elite-elite yang selama ini melakukan praktik korupsi, agar tidak lagi menghambat upaya peningkatan kesejahteraan rakyat Papua, khususnya OAP. Mereka meyakini bahwa bukti-bukti konkret dari penyelewegan dana otsu dan dana-dana APBD telah dimiliki oleh aparat penegak hukum.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)