Oleh : Deka Prawira )*

Publik dikejutkan oleh tingkah pendukung Rizieq Shihab yang nekat menyerbu rumah ibunda Mahfud MD. Ratusan orang itu mengelilingi rumah dan akan melakukan tindakan anarki. Masyarakat makin antipati terhadap mereka, karena sebelumnya juga nekat melakukan azan yang isinya diubah jadi kontroversial.

Rizeq dipanggil oleh Polda Metro Jaya untuk kedua kalinya. Namun ia terus mengelak dengan alasan sakit. Di luar dugaan, ratusan pendukung sang habib di Madura mengadakan protes. Mereka mendatangi Polres Pamekasan dan memprotes, mengapa Habib Rizieq harus dipanggil oleh polisi?

Anehnya, seusai dari kantor polres, kumpulan pendukung Rizieq tidak membubarkan diri. Mereka malah sengaja berjalan menuju rumah Mahfud MD di Kelurahan Bugih, Pamekasan. Ratusan orang itu tiba-tiba memindah aksi demo ke depan hunian tersebut, lalu memaksa untuk membuka pagar. Mereka meneriakkan nama Mahfud agar keluar rumah.

Aksi massa ini tentu membuat seisi rumah ketakutan. Ibunda Mahfud MD yang sudah berusia lanjut gemetar karena takut massa akan mengamuk dan menyerbu masuk ke rumahnya. Beruntung aksi ini hanya berlangsung sebentar. Keesokan harinya, di depan rumah Mahfud MD langsung dijaga oleh pasukan dari ormas lain.

Publik menyayangkan tindakan pendukung Rizieq yang ngawur. Untuk apa mereka menyerbu sebuah rumah yang dihuni oleh nenek tua? Bagaimana jika seandainya beliau kaget lalu sakit karena shock berat? Tentunya mereka tak mau bertanggungjawab dan lari dari masalah. Lagipula, mereka juga konyol, karena Mahfud MD berkantor di Jakarta dan tidak sedang mudik ke Madura.

Mahfud MD berkomentar bahwa pendukung sang habib tidak menyerbu pemerintah (karena ia adalah representasi dari pemerintah Indonesia), namun sudah menyerangnya secara pribadi. Ia juga menyayangkan kejadian ini dan mengkhawatirkan kesehatan sang bunda.

Bukan kali ini saja pendukung Rizieq bertindak anarki. Beberapa waktu lalu ada potongan video yang viral di media sosial. Dalam rekaman itu ada seorang laki-laki yang sedang mengumandangkan azan. Sayangnya redaksi kata-kata dalam azan diubah, dari ‘hayya ala shalla’ menjadi ‘hayya ala jihad’ yang berarti ayo kita jihad.

Siapa yang begitu berani mengubah kata-kata dalam azan yang sangat sakral? Apa ia tak takut diazab? Rupanya ketika ditelusuri, muazin yang melakukannya adalah salah satu pendukung Rizieq. Anehnya teman se-ormas malah mendukung perbuatannya yang sangat ngawur dan kontroversial. Karena sudah mengarah ke tindakan kriminal.

Logikanya, untuk apa orang-orang diajak jihad, padahal Indonesia sudah merdeka tahun 1945. Jika masyarakat diajak berperang, maka melawan siapa? Ajakan untuk jihad sungguh sangat tidak relevan dengan kehidupan modern. Karena kompeni sudah menyerah sejak dahulu kala.

Jika pendukung Rizieq ngotot berjihad untuk melawan musuh, maka musuh yang mana? Mereka selalu menganggap orang lain yang tidak sependapat sebagai musuh, dan lebih ekstrim lagi, musuh itu boleh saja disakiti sampai kehilangan nyawa. Makna jihad bergeser jauh, dari membela umat menjadi menyakiti orang lain yang tidak bersalah.

Mereka lupa bahwa sesungguhnya jihad yang paling utama adalah mencari nafkah untuk anak dan istri. Bukan dengan berperang dan memusuhi orang lain dengan cara yang ngawur. Jangan mencampur adukkan ajakan untuk beribadah dengan berperang, karena sangat tidak etis. Justru sebagai manusia beriman, kita berperang melawan setan dan nafsu di dalam dada.

Pendukung Rizieq sudah melewati batas ketika mereka menggeruduk rumah Mahfud MD dengan alasan ingin memanggilnya. Padahal mereka sudah terindikasi akan melakukan tindakan anarki. Selain itu, mereka juga bertindak kelewatan ketika mengubah kata-kata dalam azan menjadi ajakan jihad. Karena saat ini arti jihad mereka salah artikan jadi jauh sekali.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Tangerang

Kepolisian menangkap sejumlah aktivis Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) atas dugaan melakukan provokasi dan hasutan kepada mahasiswa dan buruh agar melakukan aksi anarkis saat penolakan UU Cipta Kerja di wilayah Medan dan Jakarta. Mereka melakukan provokasi melalui Whatsapp Group (WAG).

Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Argo Yuwono, mengatakan bahwa para aktivis KAMI ditangkap karena terbukti melakukan provokasi melalui aplikasi grup pesan singkat. Isinya berisi penghasutan sehingga aksi demo menolak Omnibus Law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja di Medan pada 8 Oktober 2020 lalu yang berujung ricuh.

Salah satunya kata Argo, seperti yang disampaikan tersangka KAMI Medan berinsial KA. Dia menuliskan dalam WAG tersebut untuk melempari Gedung DPR dan polisi. “Tulisannya kalian jangan takut mundur. lempar DPR dan lempari polisi. Itu ada (tulisannya) ini ada bantunyalah alat buktinya,” kata Argo. Satu yang lainnya melakukan hasutan untuk membuat kondisi seperti demonstrasi 1998 dan melakukan penjarahan.

Hal itu juga menjadi perhatian Pemerintah melalui Tenaga Ahli Utama Bidang Hukum Kantor Staf Presiden (KSP), Ade Irfan Pulungan. Ade menyebut aparat penegak hukum memiliki kewenangan menangkap pihak-pihak yang dicurigai melakukan provokasi terkait demonstrasi yang menolak UU Cipta Kerja Omnibus Law hingga berujung anarkis.

Lanjut Ade, kepolisian memiliki bukti percakapan di sebuah grup WhatsApp yang diduga menyebarkan ujaran kebencian sekaligus menghasut demo tolak UU Cipta Kerja Omnibus Law hingga berujung anarkis.

Ade menyebut tindakan penangkapan terhadap beberapa tokoh KAMI yang dilakukan aparat penegak hukum untuk mencegah perbuatan tindak pidana. Sehingga langkah yang diambil aparat adalah tindakan yang sah dan sesuai ketentuan hukum yang ada.