Oleh : Rebecca Marian )*

Masyarakat mendukung tindakan tegas aparat keamanan terhadap Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua. Penegakan hukum diperlukan untuk menjaga kedamaian Papua menjelang Natal dan Tahun Baru.

Kelompok Separatis Teroris tampaknya tidak bosan mengganggu keamanan di Papua. KST masih saja menunjukkan aksi brutalnya yang membuat Orang Asli Papua terusik. Kebrutalan yang diakibatkan oleh ulah KST tentu saja harus mendapatkan perhatian dari pemerintah, karena pemerintah memiliki kewajiban untuk menjaga keamanan dari Sabang sampai Merauke.

Jika KST sudah menggunakan senjata dalam aksinya menyerang masyarakat, negara harus hadir, dengan mengerahkan aparat TNI-Polri yang dipersenjatai untuk melindungi masyarakat.

Pada akhir Oktober 2021 lalu, KST melancarkan serangan yang ditujukan kepada Polsek Sugapa pada pukul 15.00 WIT. Saat itu TNI dan Polri terlibat kontak tembak dengan KST selama 30 menit.

Selain menyerang kantor Polsek, KST Papua juga menyerang pos Satgas 521 dan personel BKO Brimob. Usai baku tembak, KST Papua melanjutkan aksinya dengan membakar sejumlah rumah yang berada di sekitar Bilorai Sugapa. Aksi tersebut tentu saja tidak bisa dibiarkan, aksi pembakaran fasilitas umum tersebut telah menjadi bukti bahwa KST memang teroris yang harus ditumpas.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebutkan bahwa sebanyak 95 orang meninggal dunia akibat aksi teror dan kekerasan KST. Dari jumlah tersebut 59 diantaranya merupakan warga sipil.

Selain menyebabkan puluhan orang meninggal dunia, teror yang dilancarkan oleh KST juga menyebabkan ratusan korban luka-luka. Gangguan keamanan ini tentu saja mengganggu jalannya pembangunan yang sedang digadang-gadang oleh pemerintah.
Sebelumnya, Gubernur telah mengajak segenap jajaran di Provinsi Papua Barat untuk mendukung Visi Indonesia 2019-2024 dan menyelaraskan program pembangunan provinsi, kabupaten/kota dengan program nasional.

Pembangunan di Papua tentu mencakup infrastruktur dan SDM, di mana keberadaan infrastruktur akan mendukung aktifitas perekonomian, sedangkan pembangunan SDM akan meningkatkan daya saing masyarakat Papua di era globalisasi, harapannya kesejahteraan di tanah papua dapat mengalami akselerasi.

Tindakan yang dilakukan oleh KST memang sudah sangat keji dan biadab. Sebab mereka tidak hanya menyebarkan teror, tetapi juga merusak fasilitas milik negara seperti sekolah dan puskesmas.

Oleh karena itu, tindakan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata di Papua tersebut sudah memenuhi unsur-unsur yang ada dalam UU Terorisme. Selain itu, berkaitan dengan label teroris, Komjen Pol Paulus Waterpauw terus mengingatkan masyarakat terutama di Bumi Cenderawasih agar tidak salah mengartikan, dimana penyematan label tersebut hanya khusus ditujukan kepada KKB saja.

Pasalnya kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh KKB tidak hanya tertuju kepada aparat keamanan, tetapi juga menyasar kepada warga sipil, tenaga pendidik dan tenaga kesehatan. Paulus juga menuturkan, saat terakhir kali ke Yakuhimo, dirinya mengetahui seorang pekerja yang sedang membawa batako mendapatkan serangan panah oleh KKB. Setelah jatuh, korban kemudian dihabisi menggunakan kapak.

Ia mengatakan, KKB sudah memiliki senjata tajam lalu lakukan kekerasan pada masyarakat. Minta makanan, minta dana. Mereka melakukan hal tersebut kepada warga Papua, bahkan dengan membakar rumah warga. Selaku tokoh Papua, dirinya menilai bahwa konflik di Papua harus dilihat dengan pendekatan hukum, karena siapapun wajib taat pada aturan negara. Oleh karena itu, Paulus mengingatkan, jika nanti sudah diputuskan di pengadilan terhadap pelaku teroris di Papua, kelompok tersebut mendapat konsekuensi besar. Bukan hanya pelaku di lapangan, tetapi juga otak di belakang layar.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo telah meminta kepada anggota Polri dan Prajurit TNI untuk mewaspadai adanya ancaman dari KST yang aktivitasnya diprediksi akan menguat jelang akhir tahun. Ia mengatakan TNI-Polri akan memantau pergerakan kelompok-kelompok yang berusaha mengacaukan acara akbar di Papua seperti PON dan Peparnas.

Sebelumnya Sigit juga menjelaskan, bahwa siapapun yang mengganggu situasi keamanan dan ketertiban di Papua, bakal ditindak secara tegas. Dirinya meyakini bahwa Satgas Operasi Nemangkawi mampu meyakinkan masyarakat Papua jika mereka dicintai seluruh bangsa.

KST ibarat benalu yang merusak tatanan sosial di Papua, demi kepentingan politik mereka lantas menyerang dan merusak fasilitas umum layaknya teroris. Pemerintah tidak boleh tinggal diam, karena menjaga keamanan Papua adalah menjaga keamanan dan keutuhan NKRI.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Oleh : Rebecca Marian )*

Kelompok Separatis Teroris (KST) dikabarkan telah kembali membantai 2 warga sipil Papua. Dua warga tersebut tengah bekerja, membangun jembatan di sungai Brazza, Kampung Kribun, Distrik Dekai Kabupaten Yakuhimo, Papua. Masyarakat Papua pun mengutuk aksi brutal kelompok tersebut yang menghambat pembangunan Papua.
KST kembali melakukan aksi brutal. Kasatgas Humas Nemangkawi KBP Ahmad Mustofa Kamal, dalam keterangannya, membenarkan kejadian tersebut. Saat ini, kedua jenazah sedang periksa medis di RSUD Dekai.

Kasus yang terjadi di wilayah hukum Yahukimo itu pun terjadi perhatian utama Satgas gabungan TNI-Polri Nemangkawi. Ahmad menuturkan, Aparat tidak akan tinggal diam dan akan mengusut tuntas sesuai dengan prosedur hukum pelaku pembantaian pekerja PT Indopapua ini. Kepada Warga masyarakat yang memiliki info seputar KST Wilayah Yakuhimo pimpinan Tendius Gwijangge agar tidak segan untuk melapor ke kepolisian terdekat.

Apa yang dilakukan KST memang terbilang kejam, kelompok tersebut membunuh dua orang warga sipil pegawai PT Indo Papua dan jasadnya ditemukan dibakar berrsama satu unit mobil milik PT Indo Papua. Personel Satgas Nemangkawi juga melakukan penyisiran dan pengamanan terhadap karyawan PT. Indo Papua yang masih berada di camp kali yegi, Jalan Trans Papua Dekai Yahukimo, ke kenyam Nduga.

Saat melakukan penyisiran dan pengamanan personel satgas Nemangkawi menggunakan satu unit mobil Hilux singgah di PT Indo Papua, guna mengecek dan membantu evakuasi barang-barang milik karyawan untuk diamankan di tempat pengungsian.

Setelah itu, personel gabungan bergeser untuk melanjutkan perjalanan menuju ke TKP, saat dalam perjalanan menuju TKP, personel Satgas Nemangkawi menghadang satu unit mobil yang mencurigakan yang menuju ke arah kota, kemudian melakukan pemeriksaan terhadap mobil tersebut dan ditemukan tiga buah HP, yang akan diselidik lebih lanjut di Sat Reskrim Polres Yakuhimo.

Personel-pun akhirnya melanjutkan perjalanan, setibanya di TKP Jembatan Kali Braza rombongan mendapatkan serangan tembakan dari arah bukit seberang Kali Brazza, personel Satgas Nemangkawi membalas tembakan dari KKB wilayah Yakukimo.

Tepatnya di pertigaan jalan Trans Papua Dekai Yakuhimo-Tanah Merah, personel satgas Nemangkawi ditembaki dari arah sebelah kanan, sehingga personel Satgas Nemangkawi membalasnya dengan tembakan.

Ketika sudah tidak ada balasan tembakan dari KKB Wilayah Yakuhimo personel melanjutkan perjalanan 100 Meter kedepan terdapat satu pohon yang melintang dan satu unit motor Honda Blade tanpa nopol. Selanjutnya personel memotong kayu untuk membuka jalan dan melanjutkan perjalanan.

Personel Satgas Nemangkawi tiba di kampung kali bele melakukan pengecekan kampung di kali bele selanjutnya personel melanjutkan perjalanan ke camp Kali Yegi.

Setibanya di Kali Yegi, personel Nemangkawi langsung melakukan pengecekan di Camp Kali Yegi untuk mencari Karyawan PT. Indo Papua yang masih berada di Camp Kali Yegi, namun setelah dilakukan pengecekan, penyisiran di sekitar dan membunyikan sirine dengan maksud karyawan keluar dari persembunyian, apabila karyawan bersembunyi di Hutan namun di camp kali yegi tidak terdapat adanya karyawan PT. Indo Papua.

Sekitar 500 meter dari Camp Induk PT. Indo Papua personel Satgas Nemangkawi mendapati para karyawan PT. Indo Papua yang telah menyelamatkan diri di pinggir kali Braza di Rumah warga setempat, kemudian tim mengamankan ke atas kendaraan dan dibawa menuju Mapolres Yakuhimo.

Setelah melakukan evakuasi pekerja PT. Indo Papua, selanjutnya personel Satgas Nemangkawi bergerak menuju kearah kota dan personel beserta para pekerja PT. Indo Papua tiba di Mapolres Yakuhimo.

Personel gabungan akan terus melakukan tindakan tegas terhadap kelompok-kelompok yang mengganggu stabilitas keamanan di Papua. KST memang tidak bisa ditolerir, mereka menggunakan cara keji untuk memisahkan diri dari NKRI dan tidak segan-segan untuk menyerang warga sipil yang tidak bersalah, sehingga apparat TNI-Polri patut memberangus mereka agar Papua menjadi aman dan damai.

Sementara itu Papua tengah menyiapkan event Pekan Olahraga Nasional (PON) XX, di mana event tersebut akan mendongkrak pembangunan Papua dang menggerakkan beragam sector termasuk ekonomi, tentu saja keamanan di Papua harus tetap dijaga agar KST tidak mengacaukan multievent olahraga kebanggaan Indonesia.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Oleh : Rebecca Marian )*

Aksi brutal Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua tidak dapat dibiarkan karena mereka tega melukai warga sipil. Akibatnya, masyarakat menjadi ketakutan dan berbagai program pembangunan menjadi terhambat.

Apa yang Anda ketahui tentang Papua? Saat ini Bumi Cendrawasih tak hanya identik dengan Gunung Jayawijaya, tetapi juga terkenal dengan tujuan wisatanya seperti Raja Ampat dan perbatasan dengan Papua Nugini. Banyak turis lokal dan asing yang suka traveling ke sana karena eksotisme alamnya dan sudah ada infrastruktur pendukung seperti jalan yang lebar dan mulus.

Untuk mendukung sektor pariwisata dan ekonomi di Papua, pemerintah memang membangun berbagai infrastruktur seperti jalan Trans Papua, Bandara internasional Sentani dan jembatan Youtefa. Apalagi jelang PON XX yang diselenggarakan di Papua dan Papua barat, pembangunan makin digenjot agar siap menyambut kontingen dari seluruh provinsi di Indonesia. Sayangnya ada yang mengganggu yakni KST.

Ketua Komnas HAM Andi Taufan menyatakan bahwa KST yang sering melakukan penyerangan mengganggu pembangunan Papua. Oleh sebab itu, tindakan KST yang sering melancarkan serangan telah merugikan semua pihak di Bumi Cendrawasih, dan Komnas HAM selalu mengatakan untuk menghentikan kekerasan, karena merugikan dan menghalangi pembangunan di Papua.

Pembangunan di wilayah Bumi Cendrawasih memang diganggu oleh ulah KST, terbukti mereka beberapa kali melakukan penyerangan di proyek jalan trans Papua, sehingga harus dijaga ketat oleh aparat. Tujuannya agar pembangunan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan jadwal yang direncanakan.

Selain itu, KST juga melakukan penyerangan di Kampung Bingki, Yahukimo. Sejumlah pekerja bangunan ditembak, setelah sebelumnya sebuah truk dihadang. Padahal truk itu berisi material yang akan digunakan untuk membangun jembatan, untuk membuka jalan antara Bingki dengan daerah sekitarnya, sehingga tidak terisolir lagi.

Kapen Kogabwilhan III Kolonel IGN Cz Suriastawa menyatakan bahwa ulah KST yang menghadang truk merupakan upaya untuk menghambat pembangunan di Papua, karena mereka tidak menyukainya. KST tidak ingin Papua maju dan menjadikan warga sipil sebagai korban aksi terornya. Sehingga ketika ada tindakan tegas terukur dari aparat ke anggota KST, sudah sangat tepat.

Mengapa KST harus diberi ketegasan? Penyebabnya karena selama ini, cara untuk mengatasi mereka via diplomasi gagal total. KST masih ingin melepaskan diri dari Indonesia, padahal kenyataannya Papua tidak pernah dijajah. Mereka sendiri yang tidak setuju dengan hasil pepera dan menganggap bahwa sedang dijajah.

Oleh karena itu KST memang harus ditumpas, agar tidak mengganggu berbagai proyek pembangunan di Papua. Pertama, pembangunan akan terhambat karena ketika ada penyerangan, semua pekerja melarikan diri dan akhirnya jadwal selesainya proyek jadi berantakan. Jika ini yang terjadi maka yang rugi adalah warga sipil karena mereka tidak bisa melewati jalan itu tepat waktu.

Kedua, ketika ada penyerangan KST maka membahayakan keselamatan pekerja bangunan dan warga sipil. Mereka harus dijaga oleh aparat agar KST takut dan tidak berani mengganggu proses pembangunan infrastruktur di Bumi Cendrawasih. Padahal yang jadi pekerja proyek adalah orang asli Papua, sehingga sangat aneh ketika KST malah ingin menyerang saudaranya sendiri.

KST wajib diberantas agar tidak mengganggu pembangunan infrastruktur di Papua. Oleh karena itu, tindakan tegas terukur diperbolehkan agar mereka kapok menyerang pekerja proyek. Jika tidak ada KST maka proyek-proyek itu akan berjalan tepat waktu dan hasilnya bisa dinikmati oleh seluruh warga di Bumi Cendrawasih.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta