Oleh : Timotius Gobay )*

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua berulah lagi dengan melakukan penyerangan sampai 2 kali ke aparat dan membawa korban jiwa. Serangan-serangan mereka juga menghambat pembangunan dan kemajuan Papua.

Selama ini Papua dikenal dengan wisatanya yang eksotis seperti Raja Ampat. Akan tetapi faktor keamanan juga menjadi pertimbangan apakah turis mau mengunjungi Bumi Cenderawasih apa tidak. Pemerintah berusaha keras mengamankan Papua dan mengenyahkan KST serta OPM, agar tidak mengganggu keamanan.
Keberadaan KST amat mengganggu, tak hanya bagi wisatawan asing tetapi juga bagi masyarakat sipil Papua. Gangguan KST membuat pembangunan terhambat karena jika tak ada turis maka tak ada uang untuk pemerintah daerah dan akhirnya dana untuk pembangunan jadi terlalu minim.

KST juga dikecam karena selalu melakukan tindak kekerasan. Mereka melakukan penyerangan dan pada tanggal 26 januari 2022 malah nekat menyerang aparat sampai 2 kali dan mengakibatkan 3 korban jiwa.

Kapendam XVII Cendrawasih Kolonel Inf Aqsha Erlangga menyatakan bahwa serangan KST dilakukan ke Pos Koramil Gome, Satgas Kodim Yonif Raider 408. Serangan dilakukan 2 kali dan korban jiwanya adalah Serda Rizal, Pratu Tuppal Baraza, dan Pratu Rahman. Sementara Pratu Rahman luka-luka.

Kekejian KST benar-benar membuat masyarakat geram karena nekat menyerang pos Koramil sampai 2 kali. Jika yang diserang adalah pos aparat keamanan, berarti menantang dengan sengaja. KST bersikap sombong dan langsung melarikan diri pasca penyerangan.

Ketika ada kekejian KST maka perlu ada penyisiran lagi sehingga mereka tidak bisa seenaknya. Prajurit TNI berani diserang, apalagi rakyat sipil. Betapa kasihannya warga jika KST masih bercokol di Bumi Cenderawasih.

Keberadaan KST juga menghambat kemajuan di Bumi Cenderawasih. Buktinya adalah ketika jalan Trans Papua masih dalam masa pembangunan, para anggota KST malah mengganggu pekerja dengan sengaja. Gangguan ini tentu merepotkan dan mengancam nyawa para pekerja, oleh karena itu aparat juga diterjunkan ke sana untuk mengamankan.

Alangkah gilanya KST ketika menghambat pembangunan jalan trans Papua. Padahal jalan ini demi kelancaran mobilitas rakyat di Bumi Cenderawasih, sehingga mereka bisa menggunakan jalan darat tanpa tergantung oleh transportasi udara yang sangat mahal. KST tidak pernah berpikir sepanjang itu, mereka hanya tahu cara menembak dengan membabi-buta.

Bukan kali ini saja ada serangan KST karena mereka juga pernah menembak ke aparat keamanan, padahal aparat sedang mendistribusikan bantuan sembako. Ini adalah bukti lain bahwa KST mengganggu kemajuan di Papua karena tidak ingin rakyat mendapatkan bantuan dari pemerintah.

KST tidak bisa berpikir panjang, mengapa aparat yang mengirim bantuan malah ditembaki? Padahal yang akan menerima bantuan adalah orang asli Papua yang notabene saudara mereka sendiri. Bagaimana bisa mereka memimpin jika hanya bisa emosi tanpa mengedepankan kecerdasan?

Aparat keamanan juga selalu menjadi sasaran KST karena merepresentasikan pemerintah. Padahal tentara dan polisi adalah sahabat rakyat dan tugas mereka adalah mengamankan warga sipil sekaligus mendukung pembangunan di Bumi Cenderawasih.

Otomatis ketika KST menyerang aparat maka sama saja menghambat pembangunan karena kinerja jadi tidak maksimal saat melakukan proteksi pada sebuah proyek. Padahal pembangunan itu demi kemajuan Papua, tetapi seolah-olah KST tidak mau dimajukan. Stagnasi amat berbahaya karena bisa membuat Papua tertinggal dari provinsi lain.

Oleh karena itu semua pihak kompak dalam melawan KST. Tak hanya aparat keamanan tetapi juga tokoh masyarakat dan warga sipil. Tujuannya agar KST dan OPM lekas bubar dan tak lagi mengganggu kelancaran pembangunan di Papua.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Gorontalo

Oleh : Moses Waker )*

Kelompok Separatis Teroris (KST) memang terlalu brutal dalam membuat suasana di suatu wilayah memanas, keberadaan mereka seakan menjadi biang keladi kerusuhan di Papua dan Papua Barat. Masyarakat pun mengecam aksi keji KST yang terus berulah menjelang HUT OPM.

KST terus melakukan berbagai pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua. Seperti yang terjadi di Intan Jaya yang kembali memanas setelah KST membakar sejumlah rumah warga yang tinggal di Distrik Sugapa, Intan Jaya, Papua pada 2 November 2021 lalu. Dalam peristiwa pembakaran tersebut tercatat tidak ada korban jiwa.

Kolonel Czi IGN Suriastawa selaku Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III dalam keterangan tertulisnya mengatakan, petugas mendapatkan info adanya pembakaran gedung kantor DPRD oleh KST pada selasa 2 November 2021 siang. Namun berkat antisipasi pemantauan Tim Satgas TNI-Polri yang bertugas di Distrik Sugapa, Intan Jaya berhasil mengantisipasi pembakaran dengan penjagaan ketat.

Suriastawa menjelaskan, KST rupanya kembali datang di sekitar kantor DPRD, tepatnya di kampung Mamba Bawah pada selasa sore dan langsung membakar rumah warga. Setelah KST terlihat membawa senjata dan membakar rumah warga, Satgas TNI-Polri yang ada di lokasi langsung melepaskan tembakan ke arah mereka.

Dalam peristiwa tersebut, tidak ada korban jiwa. Aparat TNI-Polri juga terus melakukan penjagaan di lokasi untuk mencegah serangan susulan dari teroris KST. Aksi Pembakaran tersebut diduga dilakukan oleh kelompok teroris KST Intan Jaya yang dipimpin oleh Undius Kogoya.

Pembakaran dan teror yang dilakukan teroris KKB di Intan Jaya bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya, pada jumat 29 Oktober 2021 lalu KST juga telah melakukan aksi pembakaran rumah warga di sekitar Polsek Sugapa. Tak hanya gudang dan ambulans, satu unit mobil tangki air di Bandara Bilogai juga dibakar. Kontak tembak antara Satgas TNI-Polri juga terjadi setelah aksi pembakaran tersebut.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD meminta kepada TNI-Polri untuk lebih berhati-hati dalam operasi militer melawan KST di Intan Jaya Papua. Hal ini disampaikan oleh Mahfud setelah insiden dua orang warga sipil yang masih balita tertembak. Satu di antaranya meninggal dunia dalam kontak senjata antara KST dan TNI-Polri pada tanggal 26 November 2021 lalu.

Atas peristiwa tersebut, Mahfud meminta agar aparat TNI-Polri dapat melakukan tindakan terukur agar tidak terjadi korban masyarakat sipil. Sebenarnya, seperti masyarakat tahu bahwa TNI-Polri sudah sangat berhati-hati dalam melindungi warga sipil.

Dirinya menyebut bahwa insiden tersebut terjadi karena KKB selalu menggunakan warga sipil sebagai tameng. Sementara itu, Tentara Pembebasan Papua Barat – Organisasi Papua Merdeka (TPNB-OPM) mengklaim bahwa saat ini situasi perang uang intens kembali terjadi dengan aparat TNI-Polri di Intan Jaya sejak 24 Oktober 2021 lalu.

Semula KST melakukan penembakan ke Pos Koramil dan Polsek Sugapa. Sehingga personel yang bertugas memberikan tembakan balasan sehingga memicu kontak senjata. Jika selama ini KST menyatakan berjuang untuk melepaskan Papua dari NKRI, aksi tersebut nyatanya hanya membuat masyarakat takut, kenyataannya rakyat sipil menjadi korban kekerasan dan penembakan.

Mantan Kapolda Papua, Irjen Paulus Waterpauw mengatakan bahwa KST merupakan kelompok yang sering bergerombol dan mengganggu kondusifitas keamanan di Papua. Paulus menegaskan bahwa dirinya selalu mengkategorikan KST sebagai free man. Hidupnya hanya melakukan kekerasan, menakutkan semua orang, mengancam semua orang dengan senjata.

Tentu saja kekejaman yang dilakukan KST yang dulu disebut KST tidak bisa ditolerir lagi. Negara juga harus segera berbuat atau bertindak. Agar korban jiwa di kalangan masyarakat Papua tidak lagi berjatuhan, negara harus bertindak tegas dan terukur.

Ketika negara bertindak tegas dan anggota KST menyerah, mereka harus dihadapkan ke proses hukum untuk mempertanggungjawabkan aksi kekerasan bersenjata yang mereka lakukan selama ini. Sebaliknya, jika tindakan tegas negara direspons dengan serangan bersenjata yang mematikan oleh KST, tidak salah juga jika prajurit TNI-Polri pun melancarkan serangan balasan atas nama bela negara dan melindungi segenap tumpah darah.

Papua merupakan bagian integral dari NKRI, sehingga keamanan di wilayah tersebut harus dijaga semaksimal mungkin, TNI-Polri mengemban tugas berat untuk menumpas KST, namun bagimanapun Papua haruslah dijaga.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali

Oleh : Timotius Gobay )*

Kelompok kriminal bersenjata makin menggila karena tega membakar sekolah dan membunuh guru. Tindakan mereka sangat merugikan, karena anak-anak tidak bisa menuntut ilmu di tempat yang representatif. Kekejian terhadap pada guru juga tak bisa diampuni, karena mereka secara tidak langsung membuat para murid kehilangan harapan untuk belajar.

Papua kembali membara karena ulah KKB (Kelompok Kriminal Bersenjata). Di Kampung Jolukoma, Kabupaten Puncak, seorang guru SD bernama Oktavianus Rayo tertembak oleh anggota mereka. belum habis kekagetan masyarakat, ada guru SMP yang bernama Yonatan Randen yang juga meninggal dunia akibat muntahan pelor.

Adanya korban jiwa dalam kasus penambakan ini juga dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal. Menurutnya, saat itu Oktavianus sedang menjaga kios. Lalu datanglah orang tak dikenal dan ia masuk tanpa permisi dan menembak Oktavianus.

Tak hanya menembak guru, KKB juga makin gila karena nekat membunuh seorang pelajar SMA di Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak. Korban yang bernama Ali Mom langsung meninggal dunia. KKB sangat licik karena melakukan aksi saat anggota TNI sedang latihan di Beoga, yang jaraknya cukup jauh dari Ilaga. Mereka juga jahat karena ketahuan membakar 3 gedung sekolah.

Kekejaman KKB spontan membuat warga sipil Papua menangis pilu, karena mereka tega menembak remaja pria, juga para guru. Untuk apa mereka membunuh seorang anak muda? Keluarganya akan sangat kehilangan. Mendiang Ali juga kehilangan masa depan karena nyawanya dicabut dengan paksa oleh kelompok kriminal bersenjata.

Pembunuhan masyarakat sipil, terutama pemuda, sangat mengkhawatirkan. Jangan sampai ada korban lagi dari kalangan remaja. Karena merekalah harapan bangsa di masa depan. Jika para pemuda ditembaki terus-menerus, bagaimana nasib Papua 10 tahun ke depan? Tidak akan ada regenerasi pemimpin di Bumi Cendrawasih.

Penembakan guru juga sangat dikecam oleh masyarakat, tak hanya yang bermukim di Papua, tetapi juga seluruh WNI. Karena guru bertugas untuk mencerdaskan bangsa. Sedangkan jika guru dibunuh, bagaimana masa depan murid-muridnya? Mereka tak bisa belajar dan menempa ilmu di baah bimbingan sang pengajar. Sungguh tragis karena secara tak langsung KKB membiarkan kebodohan meraja di Papua.

Jika KKB terus seperti ini, apa mereka selalu terkungkung dalam keterbelakangan dan kebodohan? Saat guru ditembak, maka anak-anak terancam kehilangan sosok pemberi ilmu. Betapa teganya mereka membunuh seorang guru, yang seringkali honornya belum UMR karena belum berstatus PNS. Namun tetap semangat mengajar demi kecerdasan murid-muridnya.

Ketika KKB anti sekolah dan menembak guru, bagaimana Papua bisa maju ketika mereka ngotot untuk merdeka? Malah bisa-bisa mereka mudah dibodohi ketika Papua Barat berdiri tetapi anggota KKB tidak mau mengenyam bangku sekolah. Mereka tidak memikirkan ke masa depan, hanya terburu nafsu untuk memerdekakan diri.

Anggota DPR Dede Yusuf mengecam penembakan para guru di Papua. Menurutnya, sebaiknya ada tindakan preventif. Misalnya dengan menaruh pengajar di kompleks perumahan yang dijaga ketat oleh aparat. Dalam artian, bukannya untuk mengistimeakan mereka, tetapi untuk mencegah masuknya KKB ke dalam rumah.

Ketika guru, murid, dan masyarakat diketatkan keamanannya, maka diharap KKB tidak akan bertindak nekat. Mereka sebaiknya menyerahkan diri agar tak lelah dikejar-kejar anggota TNI. Papua merdeka hanya mimpi di siang bolong, karena masyarakat di Bumi Cendrawasih sangat setia pada NKRI.

KKB sudah bertindak di luar batas dengan menembak guru dan murid. Korban dari masyarakat sipil menunjukkan bahwa mereka tega membunuh saudara sesukunya sendiri. Pemberantasan KKB harus digencarkan, agar mereka tak lagi membuat ulah.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Gorontalo