Oleh : Saby Kosay )*

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua merupakan musuh rakyat yang selalu menghambat pembangunan. Mereka ditengarai memiliki motif ekonomi sehingga mau melakukan serangan brutal dan tega menghabisi saudara sukunya sendiri.

KST adalah kelompok pemberontak di Papua, yang merupakan anak buah OPM (Organisasi Papua Merdeka). Mereka adalah kelompok perusuh yang kerap menyerang aparat keamanan maupun warga sipil. Bahkan tidak jarang ada korban luka-luka hingga korban jiwa, padahal korbannya juga sesama orang asli Papua.

KST membuat onar dengan menembak 10 warga di Nduga pada bulan Juli 2022 lalu, dan salah satu korbannya adalah seorang pendeta. Mereka tak peduli status korban, masyarakat biasa atau seorang pendeta, tetap dihabisi dengan kejam. KST juga bertindak brutal dengan membunuh seorang pendulang emas di tambang ilegal, dan memamerkan kepala korbannya yang dipenggal.

Tokoh adat Papua Yanto Eluay menyatakan bahwa anggota KST juga anak adat Papua wilayah pegunungan. Mereka seharusnya tidak melakukan kekejaman seperti pembunuhan dan lain-lain. Yanto menduga ada motif ekonomi di balik aksi teror KST, karena saat ini keadaan finansial banyak orang sedang sulit. Aksi KST bukan murni pembelotan, tetapi lebih cenderung ke ekonomi.

Dalam artian, bisa jadi karena pandemi dan ada kegoncangan ekonomi, maka KST mendatangi pemukiman warga dan menyerbu suatu toko di Nduga sebelum melakukan pembunuhan massal. Toko kelontong itu diacak-acak dan bisa jadi mereka berniat untuk merampok isinya. Namun malah berubah haluan menjadi penyerbuan besar-besaran.

Motif ekonomi yang ditengarai menjadi penyebab KST makin brutal, adalah sebuah kewajaran. Mereka merasa hidup makin sulit, terlebih di masa pandemi. Belum diketahui bagaimana cara mereka untuk bertahan hidup di hutan, entah dengan bertani atau cara lain.

Ada sebuah video yang viral di Papua, dimana seorang anggota KST yang masih baru memalak kepala kampung (yang tidak disebutkan daerahnya). Anggota KST itu pura-pura meminta minum, lalu mengancam dan meminta bantuan berupa beras dan uang, yang akan diberikan kepada teman-temannya yang sedang berjuang di hutan. Dia berjanji akan kembali lagi untuk mengambilnya. Kepala kampung yang pura-pura menyetujuinya lalu menghubungi aparat keamanan.
Setelah itu, di hari yang dijanjikan, ia dan warga mengungsi dan meletakkan kardus di depan honainya. Anggota-anggota KST tertipu karena kardus itu berisi sampah, bukan makanan. Mereka tidak bisa menyerbu karena sudah diserang oleh aparat yang bersembunyi.

Dari video tersebut terlihat bahwa KST benar-benar terdesak saat hidup di dalam hutan. Video tersebut bukan berdasarkan skenario film, tetapi kejadian nyata. Terbukti KST makin kesulitan untuk makan dan berusaha survive di masa pandemi, dan semakin sering merampok masyarakat.

Motif ekonomi yang dinyatakan oleh Yanto Eluay juga terlihat ketika KST membunuh seorang pendulang emas di tambang ilegal. Mereka marah karena mengklaim bahwa tambang tersebut adalah milik KST, dan menganggap orang lain adalah saingan dan harus dilenyapkan. Padahal sudah jelas bahwa tambang tersebut ilegal dan bukan milik perseorangan, apalagi milik KST.

Dari kasus-kasus yang melibatkan KST maka terlihat bahwa hidup mereka makin mengenaskan di hutan. Entah panennya gagal atau sudah tidak ada penyokong kegiatannya. Selama ini diduga ada dalang di balik KST yang menyuplai mulai dari senjata api hingga uang/dana tunai. Namun bisa jadi sumbangannya berkurang, gara-gara pandemi yang melanda Indonesia.

Sumber dana KST memang masih diselidiki dan ketika mereka tertangkap, ada bukti transfer dari Lekagak Telenggen, untuk dibelikan senjata api. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Humas Satgas Damai Cartenz AKBP Arief Fajar. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan dan penyidikan, dan polisi berusaha menangkap siapa penyumbang dana utama untuk KST.

Namun pengamat politik Al Chairi meragukan siapa penyumbang-penyumbang KST, karena bisa jadi mereka terpaksa melakukannya, karena takut kehilangan nyawa. Jika memang penyumbang terungkap maka seharusnya mereka lapor ke aparat keamanan. Bukannya terus menyumbang, karena ini justru menyuburkan aksi KST di Papua.

Motif ekonomi KST memang masih ditelusuri, apakah benar mereka semakin merana di hutan, atau penyumbangnya mulai mengundurkan diri satu-per satu. Yang jelas mereka merasakan sendiri sengsaranya bergerilya sehingga untuk sekadar minum air putih harus meminta ke penduduk setempat.
Lebih baik KST bertobat dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi, daripada menenteng senjata api, kelaparan dan akhirnya merampok harta warga sipil dengan brutal. Sudah saatnya aparat keamanan tegas menindak kelompok yang terbukti tidak memiliki komitmen untuk memajukan sesama rakyat Papua.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

Oleh : Rebecca Marian )*

Aksi teror Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua telah merugikan masyarakat sipil bumi cendawasih. Kekerasan tersebut tidak saja menimbulkan banyak rakyat sipil kehilangan nyawa, namun juga trauma mendalam bagi korban dan keluarganya.

KST mencoreng nama Papua karena membuat image bahwa wilayah tersebut kurang aman. Hal ini bisa merugikan karena berpengaruh buruk pada sektor pariwisata hingga investasi. Selain itu, masyarakat sipil juga dirugikan karena ketika ada KST, mereka tidak bebas beraktivitas di luar rumah. Banyak yang takut terkena peluru nyasar dan jadi korban jiwa gara-gara kedatangan kelompok pemberontak tersebut.

Rocky, pengamat konflik dari Menara Institute Papua, menyatakan bahwa sudah saatnya pemerintah memastikan keamanan di Papua, mengingat masyarakat setempat sangat dirugikan saat KST berbuat ulah. Setiap aksi yang dilakukan pasti berdampak pada layanan transportasi udara dan terhambatnya distribusi logistik, salah satunya di Kenyam. Hal itu merugikan masyarakat karena minim pasokan bahan makanan.

Rocky melanjutkan, Papua harus bebas dari teror KSP agar pembangunan dan roda ekonomi dapat berjalan dengan baik. Pengamanan di Bandara Kenyam juga wajib ditingkatkan karena menjadi pusat transportasi logistik di Nduga. Hal ini juga wajib dilakukan di bandara lain seperti di Nabire, Wamena, dan lain sebagainya.

Teror yang dilakukan KST jelas merugikan dari segi ekonomi dan rakyatlah yang jadi korbannya. Bayangkan jika minim pasokan bahan makanan, maka mereka menderita karena kelaparan. Kondisi geografis Papua yang sebagian perbukitan dan pegunungan memang tergantung dari transportasi udara, sehingga jika layanan di bandara terganggu gara-gara KST, rakyatlah yang paling dirugikan.

Selain itu, warga Papua yang berprofesi sebagai pedagang juga dirugikan karena pasokan belanjaan dari daerah lain jadi terhambat. Bisnisnya jadi macet karena permintaan barang tinggi sementara stoknya habis. Hal ini akan berpengaruh negatif karena bisa-bisa para pedagang akan kehilangan pembeli yang kecewa.

Jika ada serangan KST di Papua daratan maka masyarakat juga dirugikan karena kegiatan mereka terganggu. Para pedagang jadi takut untuk berjualan di pasar, akibatnya roda ekonomi tidak berjalan. Padahal hal ini sangat berbahaya karena akan merugikan bagi sang pedagang maupun bagi perekonomian Papua, karena tidak ada perputaran uang.

Selama bulan Juni ini KST sudah 5 kali melakukan aksi di Papua. Di antaranya penyerangan terhadap tukang ojek di Distrik Ilaga, penembakan pesawat di Bandara Kenyam, Kabupaten Nduga, dan penyerangan aparat di Kabupaten Jayawijaya. KST juga jadi buronan karena melakukan penyerangan di Pos Ramil Kiwirok, sampai menembak pedagang di Kabupaten Deiyai.

Jika ada serangan terus-menerus maka akan ada banyak kerugian yang diderita masyarakat. Selain dari segi ekonomi, kerugian juga ada dari sisi psikis. Rakyat jadi takut untuk sekadar keluar rumah karena trauma mendengar suara tembakan dan tidak mau terkena peluru nyasar. Mereka sudah berpikiran negatif gara-gara serangan KST.

Oleh karena itu KST wajib diberantas agar tidak merugikan masyarakat sipil. Rakyat sangat mengapresiasi langkah Satgas Damai Cartenz yang dengan tekun dan berani untuk melakukan pengejaran dan penangkapan anggota KST. Mereka ingin agar KST segera dimusnahkan agar Papua menjadi daerah yang damai.

Teror yang dilakukan oleh KST sangat merugikan masyarakat, terutama dari segi ekonomi. Oleh sebab itu, KST wajib diberantas agar tidak menimbulkan kerugian yang besar di kemudian hari.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Oleh : Abdul Razak )*

Badan Intelijen Negara (BIN), TNI, Polri, dan instansi keamanan lainnya berusaha maksimal untuk mencegah aksi teror selama Ramadhan. Masyarakat mendukung berbagai upaya tersebut, agar kenyamanan beribadah tidak terusik oleh aksi brutal kelompok radikal.

Menjelang bulan suci Ramadhan, Pemerintah terus lakukan pengamanan demi menciptakan Ramadhan damai dengan berbagai macam upaya pencegahan aksi teror. Dengan hadirnya bulan suci tersebut, tentu semua pihak akan berharap tidak ada lagi berbagai macam upaya teror yang mampu menebar ketakutan masyarakat luas sehingga mereka enggan untuk melakukan aktivitasnya.

Karena tidak hanya mencoreng kesucian bulan Ramadhan, namun tentu dengan adanya tindakan terorisme juga akan menggerogoti negara serta menghancurkan perdamaian yang selama ini sudah tercipta. Maka dari itu upaya untuk pemberantasan tindak terorisme terus dilakukan. Dinyatakan oleh Irjen Pol Istiono selaku Kapolda Bangka Belitung bahwa jajarannya akan terus meningkatkan kewaspadaan untuk bisa melawan aksi terorisme jelang Ramadhan.

Tidak hanya dari pihak Polri saja, namun operasi gabungan bersama dengan pihak TNI dan BIN juga akan sangatlah membantu. Patroli gabungan harus sering dilakukan guna benar-benar mampu mencegah adanya tindakan terorisme dalam bentuk apapun.
Beberapa hal bisa bisa diupayakan adalah dengan mencegah terjadinya kerumunan yang terlalu masif, karena selain masih dalam kondisi pandemi Covid-19, tentu kerumunan merupakan sasaran paling empuk sasaran aksi teror. Kemudian hal lain yang harus dilakukan adalah dengan terus menyusuri dan meningkatkan kewaspadaan di tempat-tempat tertentu yang salama ini dianggap sangat rawan dengan adanya tindak terorisme.

Upaya tersebut dilakukannya dengan melakukan berbagai bentuk pengamanan mulai dari rumah ibadah, pusat perbelanjaan hingga tempat-tempat wisata yang terus ditingkatkan pengawasan serta pengamanannya. Lebih lanjut, dirinya menyatakan bahwa seluruh masyarakat jangan sampai terlena dan menganggap kalai serangan kelompok teroris seolah memanglah tidak ada, seluruh pihak harus terus tetap waspada.

Bisa dikatakan pula sebenarnya Ramadhan tahun 2021 lalu termasuk relatif aman, namun bukan berarti kita bisa langsung akan menganggap kalau tahun ini juga begitu dengan sama sekali tidak bermawas diri dan waspada. Para aparat juga terus melakukan penjagaan supaya ancaman pengeboman atau serangan apapun yang menimbulkan ketakutan massal bisa dihindari, termasuk salah satunya adalah tindakan sweeping sembarangan yang mungkin saja dilakukan oleh ormas tertentu.

Pemerintah akan menjamin bahwa kelancaran peribadatan Umat Muslim selama Ramadhan benar-benar terlaksana. Maka dari itu kondusivitas dan stabilitas keamanan harus terus dijaga dengan ketat. Salah satu langkah nyata sebagai bentuk pencegahan adanya tindakan terorisme telah dilakukan oleh Densus 88 Antiteror yang berhasil meringkus 6 anggota teroris yang diduga terlibat dalam organisasi ISIS pada tanggal 21 Maret 2022 lalu.

Perlu disampaikan pula bahwa jaringan pergerakan terorisme saat ini tidak hanya sekedar secara terang-terangan saja, melainkan mereka juga banyak masuk dan memberikan berbagai macam propaganda melalui media sosial. Jadi tidak hanya sekedar di dunia nyata, namun pergerakan mereka cukup masif dilakukan di dunia maya yang banyak sekali diakses oleh masyarakat dengan mudah. Maka dari itu masyarakat sendiri harus terus meningkatkan kewaspadaan mereka, terutama ketika mencerna sebuah informasi yang bisa saja adalah hoaks.

Keberlangsungan keamanan negara bahkan bukanlah tanggung jawab pemerintah dan jajaran aparat saja, melainkan itu adalah tanggung jawab kita bersama. Kewaspadaan dan rasa nasionalisme harus terus digaungkan melalui berbagai macam jalan, termasuk adalah melalui media sosial dan teknologi informasi lainnya. Karena strategi lama dalam upaya pencegahan terorisme mungkin bisa saja akan ketinggalan jaman apabila kita tidak mengikuti kemajuan di era digital seperti sekarang ini.

Peran dari kewaspadaan masyarakat sendiri juga bisa sangat membantu upaya pemerintah ini. Karena masyarakat bisa langsung melaporkan apabila menemui unggahan-unggahan tertentu yang berkonotasi ajakan terorisme ataupun ajaran-ajaran yang menyimpang dan mengarah pada radikalisme. Berbagai macam hal yang mencurigakan tersebut ketika langsung dilaporkan oleh masyarakat, maka akan jauh lebih cepat tertangani bahkan mungkin sebelum mereka melancarkan aksinya.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Kenia Ayu )*

Masyarakat mengapresiasi penurunan aksi teror sepanjang 2021 sebagai bukti sinergitas TNI, Polri, Badan Intelijen Negara (BIN) dengan masyarakat. Namun demikian, setiap pihak diharapkan tidak terbuai dengan fakta tersebut karena hingga saat ini penyebaran paham radikal masih terus terjadi.

Radikalisme dan terorisme berbahaya karena bisa menghancurkan Indonesia. Kita tentu masih ingat tragisnya Bom Bali, Bom Sarinah, dan pengeboman lain yang dilakukan oleh kelompok teroris. Mereka melakukan tindak kekerasan sampai mengambil nyawa orang, dan terorisme adalah kejahatan besar karena terstruktur dan korban maupun pelaku bisa sama-sama tewas dengan mengenaskan.

Pengeboman adalah ciri khas serangan dari kelompok teroris. Mereka mengamuk karena meminta konsep negara diganti jadi khalifah. Padahal mereka sama sekali tidak berkontribusi saat zaman penjajahan dan ketika era kemerdekaan juga tidak membantu sama sekali.

Ada kabar gembira bahwa kita sudah melawan terorisme dengan ketat. Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa serangan teroris pada tahun 2021 menurun lebih dari 50%, jika dibandingkan dengan tahun 2022. Dalam artian, serangan dari kelompok teroris makin diminimalisir dan tidak ada tragedi yang memakan sampai puluhan korban jiwa seperti saat peristiwa bom bali.

Jenderal Sigit menambahkan, menurunnya serangan teroris karena Densus 88 antiteror melakukan tindakan preventif, dengan penangkapan teroris di berbagai wilayah di Indonesia. Dalam artian, memang lebih baik mencegah daripada mengobati dan tindakan pencegahan dengan penangkapan jauh lebih efektif.

Beberapa kali ada berita penangkapan terduga teroris dan publik kaget karena tak menyangka bahwa yang ditangkap terlibat kasus terorisme dan radikalisme, seperti pada saat seorang lengajar ditangkap karena menjadi pengurus badan amal yang ternyata dananya untuk kegiatan terorisme. Penangkapan bagi aparat keamanan sangat wajar karena sudah ada penyelidikan terlebih dahulu dan mereka menjamin bahwa tak akan salah tangkap.

Ketika ada penangkapan maka terlihat bahwa kelompok teroris dan radikal pandai sekali menyamar dan membaur di masyarakat dengan liciknya. Sehingga saat penangkapan, banyak yang tidak percaya. Padahal ia telah melakukan kejahatan besar dengan mendukung terorisme.

Penangkapan demi pencegahan terorisme memang boleh dilakukan. Hal ini bukan kecurigaan atau paranoid, tetapi sebuah tindakan preventif demi keselamatan rakyat Indonesia yang dilaksanakan oleh semua stakeholder keamanan, baik TNI, Polri, maupun BIN. Jika ada penangkapan maka sudah pasti ia bersalah dan tak bisa berkelit, dan masyarakat jangan membelanya karena teroris umumnya menggunakan topeng demi menarik simpati masyarakat.

Tindakan pencegahan dilakukan demi keselamatan bersama. Bayangkan jika teroris dibiarkan saja. Berapa banyak bangunan yang akan rusak? Jika itu sebuah gedung maka bisa dibangun ulang tetapi ketika di dalamnya ada banyak orang, bisa mengancam nyawa dan korban jiwa tidak bisa hidup lagi.

Oleh karena itu seluruh aparat keamanan makin gencar dalam melakukan tindakan pencegahan. Selain meneliti per kasus dan menginterogasi tersangka, maka juga dibantu oleh intelijen agar ada pencerahan, separah apakah jaringan terorisme di Indonesia?

Penyelidikan tentang keterkaitan jaringan terorisme memang harus dilakukan sejak ada pengakuan dari saksi kunci yang menyatakan bahwa Munarman juga terlibat jaringan teroris MILF di Filipina. Kasus ini terus diselidiki karena jangan sampai kelompok tersebut malah jadi penyuplai bahan bom dan senjata api ke teroris Indonesia.

Tindak pencegahan terorisme dilakukan oleh Aparat keamanan demi keamanan rakyat. Mereka wajib dilindungi agar tidak terkena serangan teroris. Penyelidikan juga terus dilakukan agar terkuak siapa dalang di balik serangan terorisme di Indonesia.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Alfred Jigibalom )*

Masyarakat mengutuk aksi keji Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua yang terus melakukan aksi sadis menjelang Natal. Aksi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan beribadah, namun juga menimbulkan trauma dan ketakutan masyarakat Papua.

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua terkenal keji dalam mewujudkan impiannya untuk membuat negara sendir. Akibat impiannya yang tidak masuk akal tersebut, mereka menghalalkan segala cara, termasuk kekerasan. Apalagi jelang ulang tahun OPM tanggal 1 Desember, KST makin menampakkan diri di ruang publik (karena punya tradisi turun gunung) dan kumat lagi alias menembak dan menyerang sana sini.

Salah satu korban KST adalah Sertu Ari Baskoro yang secara tragis kehilangan nyawa, setelah diserang oleh anggota KST di Yahukimo, Papua. Peristiwa berdarah ini terjadi tanggal 20 november 2021 pagi. Beliau gugur saat sedang belanja kebutuhan sehari-hari di kios terdekat dengan menggunakan speedboat.

Dandim 1715 Yahukimo Letkol Inf Cristian Irreuw menyatakan bahwa pelaku penyerangan Sertu Ari baskoro adalah KST pimpinan Tendius Dwijangge. Dalam peristiawa itu, tak hanya Sertu Ari yang jadi korban, tetapi juga Kapten Inf. Arfiandi, hanya saja ia mengalami luka dan nyawanya selamat.

Letkol Inf Cristian Irreuw melanjutkan, ia sudah menduga ada serangan KST karena jelang ulang tahun OPM, sehingga para prajurit berjaga-jaga. Akan tetapi anggota KST yang menyerang cukup banyak. Mereka menembaki anggota satuan BKO Apter Koramil Persiapan Suru-Suru dan baku tembak terjadi sampai pukul 12.00 WITA.

Masyarakat mengecam serangan KST yang nekat menyerang anggota TNI, dan sampai mengambil nyawa aparat. Mengapa mereka tega menembak padahal tugas TNI adalah menjaga rakyat? Namun malah dimusuhi dan diserang habis-habisan, seperti sedang berperang.

Padahal KST dan OPM yang salah karena ngotot ingin membelot dan hal ini melanggar hukum di Indonesia, tetapi malah menembak seenaknya sendiri. apa akal sehatnya dipakai? Buat apa merdeka jika hanya bisa menyerang orang lain tetapi tidak punya kecakapan dalam memimpin? Seharusnya mereka sadar diri lalu menyerahkan dengan sukarela ke aparat.

Masyarakat selalu antipati terhadap KST karena bukan kali ini saja melakukan penyerangan terhadap aparat. Para prajurit TNI dan Polri dianggap sebagai musuh, karena mempresentasikan pemerintah Indonesia. Padahal seharusnya KST yang malu karena jadi cecunguk dan dikibuli dengan angan-angan manis tentang kemerdekaan, yang belum tentu realistis.

Perayaan ulang tahun bagi OPM dan KST adalah momen untuk unjuk gigi dan menunjukkan kehebatannya, padahal kesombongan itu mematikan dan suatu saat mereka pasti tertangkap semuanya. Sehingga KST dan OPM bisa menghilang, tak hanya di Papua tetapi juga di seluruh dunia. Pasalnya ada anggota mereka yang masih bermukim di luar negeri.

Pengamanan makin diperketat di Papua jelang ulang tahun OPM, terutama di wilayah Yahukimo. Jangan sampai ada serangan lagi yang merugikan, baik pada aparat maupun warga sipil. Penjagaan wajib diperketat, apalagi Yahukimo memiliki kondisi geografis yang unik. Ada sebagian yang wilayahnya di perbukitan, tetapi ada di daratan rendah, sehingga aparat harus makin siaga.

KST mungkin menang dalam menguasai medan karena asli orang Papua tetapi aparat tidak tinggal diam. Satgas Nemangkawi makin rajin menyisir dan mencari markas mereka, karena memang ada banyak markas KST. Sehingga diharapkan makin banyak anggotanya yang tertangkap di dalam markas.

Penembakan terhadap prajurit TNI di Yahukimo, Papua, adalah hal yang miris. Tak heran masyarakat langsung mengecam aksi tersebut. KST patut diburu karena mereka akan merayakan ulang tahun OPM dengan cara yang sangat ekstrim, yakni penyerangan.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali

Oleh : Moses Waker )*

Masyarakat mengecam serangan teror Kelompok Separatis dan Teroris (KST) jelang pelaksanaan Pekan Olah Raga Nasional (PON) XX di Papua. Masyarakat pun mendukung tindakan tegas TNI/Polri terhadap kelompok tersebut.
Jelang PON XX, keamanan makin diperketat agar tidak ada kerusuhan yang mengganggu pembukaannya. Aparat makin rajin berjaga dan mengantisipasi, agar tidak ada anggota KST maupun KNPB yang akan mengacaukan acara. PON XX harus berhasil 100% dan tidak boleh dibubarkan karena ulah kelompok separatis.

Untuk pertama kalinya, PON diselenggarakan di Papua. Tak heran masyarakat begitu antusias dan ingin agar acara ini berlangsung dengan lancar. Pemilihan Papua sebagai tuan rumah adalah sebuah anugerah, karena warga di Bumi Cendrawasih dipercaya oleh pemerintah pusat.
Namun sayang jelang pembukaan PON tanggal 2 Oktober 2021, ada beberapa ancaman, baik dari KST (kelompok separatis dan teroris) maupun KNPB (Komite Nasional Pembebasan Papua Barat). Mereka diprediksi akan mengacaukan PON, karena mencari perhatian dari dunia internasional. Penyebabnya karena ingin memerdekakan diri lalu ingin mendapat dukungan dari negara lain.

Serangan pertama dilakukan oleh KNPB yang melakukan demonstrasi pada Agustus lalu. Unjuk rasa yang berlangsung di Jayapura berlangsung ricuh, karena ada pendemo yang nekat memukul aparat. Acara ini langsung dibubarkan oleh petugas, karena melanggar PPKM level 4, dan memang demo saat pandemi tidak diperbolehkan. Sebelum PON, aktivitas apapun yang berbahaya, termasuk unjuk rasa, harus dicegah secepatnya.

Selain KNPB, KST juga berulah kembali dengan menyerang Posramil di Maybrat. Dalam peristiwa tragis itu 4 orang prajurit TNI gugur dalam tugasnya. KST bertindak licik dengan menyerang pada dini hari sehingga ada korban jiwa. Masyarakat langsung mengecam KST dan berharap agar mereka lekas dibubarkan, dan ditangkap para anggotanya oleh Satgas Nemangkawi.

Untuk mengantisipasi agar KST maupun KNPB tidak membuat ulah lagi jelang PON XX, maka diadakan berbagai strategi. Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal menyatakan bahwa Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Papua mengantisipasi setiap kemungkinan terburuk dan menjaga agar tidak ada kerusuhan pra maupun pasca PON XX.
Kombes Ahmad melanjutkan, ancaman utama di Papua adalah gangguan dari KST, dan perlu juga diantisipasi demo yang ditunggangi KNPB. Mereka ingin menggagalkan atau membuat rusuh saat PON XX diselenggarakan. Akan ada antisipasi dengan program simulasi sistem pengamanan kota.

Dengan simulasi tersebut maka diharap keadaan di Papua dan Papua Barat akan makin kondusif. Razia akan dipersering dan penjagaan akan diperketat, sehingga meminimalisir resiko. Jangan sampai anda anggota KST yang lolos lalu mengacaukan lomba-lomba saat PON XX berlangsung.

Razia sangat penting karena untuk mencegah adanya anggota KST yang berkeliaran di jalanan maupun di dekat arena PON XX. Jangan sampai mereka bisa keluyuran lalu membuat teror di tengah masyarakat, dan mengganggu persiapan pembukaan PON. Segala gangguan harus diantisipasi, agar nanti PON XX berjalan dengan lancar.

Selain KST, kita juga mewaspadai akan ada demo selanjutnya. Masalahnya, unjuk rasa ini memprotes kebijakan pemerintah tetapi akhirnya dibonceng oleh KNPB. Padahal mereka bisa saja memprovokasi lalu mengajak pendemo yang sedang emosi, untuk ikut memerdekakan Papua. Sangat melenceng dari tujuan unjuk rasa pada awalnya.

Serangan KST patut dijadikan peringatan, agar jangan sampai ada peristiwa selanjutnya, yang bisa mengganggu persiapan PON XX. Aparat makin ketat dalam berpatroli, agar nantinya PON berjalan tanpa kendala. Keselamatan para atlet dan offisial dari provinsi lain harus diutamakan.

PON XX tinggal beberapa minggu lagi dan para aparat di Papua makin rajin melakukan razia. Tujuannya agar tidak ada kelompok teroris yang ingin mengacaukan acara ini. Ketika Papua ditunjuk sebagai tuan rumah, maka aparat berkomitmen penuh agar lomba ini terselenggara dengan baik.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali