Oleh : Reza Pahlevi )*

Kita semua ingin bebas corona secepatnya, oleh karena itu vaksinasi wajib dilakukan. Tujuannya agar kekebalan kelompok segera terbentuk dan pandemi segera berakhir. Masyarakat tak perlu takut akan vaksin, karena sudah terbukti aman, tanpa efek samping, dan memiliki status halal MUI.

Pandemi yang terjadi selama setahun ini bagai menjungkirbalikkan dunia, karena kondisi perekonomian banyak orang jadi menurun drastis. Pegawai maupun pengusaha sama merananya, karena banyak yang dirumahkan sementara daya beli masyarakat juga menurun. Untuk mengatasi derita pandemi, maka program vaksinasi nasional dilakukan dengan sesempurna mungkin.

Mengapa harus vaksin? Karena vaksin terbukti bisa meningkatkan kekebalan tubuh dalam melawan virus covid-19. Apalagi ketika banyak yang kurang diisplin memakai masker. Ketika kita mengenakan masker di tempat umum, sementara berkontak dengan OTG, maka vaksin akan menjadi tameng agar tidak mudah tertular. OTG ada di mana-mana dan tidka terlihat gejala sakitnya, sehingga harus makin waspada.

Dokter Neva Mareza menyatakan bahwa vaksin covid-19 memperkecil kemungkinan terjadinya gejala berat dan komplikasi akibat corona. Jadi, dengan mendapatkan vaksin, tak hanya melindungi diri sendiri, tetapi juga orang lain. Dalam artian, mata rantai penualran corona akan terputus saat semua orang sudah divaksin dan terbentuk herd immunity, sehingga pandemi lekas berakhir.

Dokter Neva melanjutkan, vaksinasi bertujuan membuat imunitas tubuh seseorang mampu mengenali dan dengan cepat melawan virus penyebab infeksi. Tujuan pemberian vaksin covid-19 adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat virus corona. Dalam artian, banyak orang akan terselamatkan nyawanya ketika sudah divaksin, karena lebih kebal dari penyakit yang berbahaya ini.

Oleh karena itu pemerintah menggenjot program vaksinasi nasional dan targetnya dipercepat, dari 18 bulan jadi 12 bulan saja. Sehingga perkiraan pada bulan april 2022 seluruh rakyat Indonesia suah disuntik vaksin dan kita bisa beraktivitas seperti biasa. Seperti masa sebelum pandemi covid-19.

Masyarakat tak perlu takut akan vaksin karena terbukti tanpa efek samping. Setelah diinjeksi, efeknya seperti pada penyuntikan vaksin lain, yakni rasa nyeri yang ringan di lengan, suhu tubuh yang sedikit lebih tinggi dari biasanya, dan mudah mengantuk. Efek seperti ini tidak berbahaya, bukan? Pasca diberi vaksin, kita hanya perlu istirahat yang lebih lama, jika perlu izin 1-2 hari ke kantor.

Orang pertama yang diberi vaksin Sinovac di Indonesia adalah Presiden Joko Widodo. Kita bisa langsung melihat efek apa yang terjadi setelah beliau disuntik, dan ternyata tidak ada apa-apa. Presiden sehat-sehat saja dan bisa beraktivitas seperti biasa. Hal ini menandakan bahwa vsaksin covid-19 terbukti aman dan tidak membuat tubuh manusia jadi kesakitan. Justru vaksin ini akan mencegah seseorang kena penyakit.

Bukti lain keamanan vaksin covid-19 adalah izin BPOM (badan pengawas obat dan makanan). Ketika BPOM sudah turun tangan, maka vaksin ini tervalidasi dan boleh disuntikkan ke seluruh rakyat Indonesia. Izin BPOM diturunkan dengan cepat, karena situasi pandemi sangat mendesak. Namun masyarakat tak perlu khawatir karena sudah ada penelitian sebelum izin diturunkan.

Vaksin covid-19 juga sudah memiliki status halal MUI sehingga masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim bisa lega, karena tahu bahwa vaksin ini tidak mengandung gelatin babi atau bahan non halal lainnya. Pengawasan akan kehalalan vaksin juga dilakukan sejak awal pembuatannya.

Ayo vaksinasi karena kita tentu ingin tubuh sehat dan bebas corona, dan ketika semua orang sudah divaksin, akan terbentuk kekebalan kelompok. Sehingga situasi pandemi bisa cepat diakhiri. Vaksin terbukti aman dan tanpa efek samping, dan memiliki izin BPOM serta sertifikat halal MUI.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Lisa Pamungkas )*

Program vaksinasi nasional benar-benar digenjot oleh pemerintah dan pemilihan vaksinnya juga dilakukan dengan seksama. Vaksin Sinovac dari RRC menjadi pilihan utama karena memiliki efikasi yang tinggi dan sudah bestatus halal. Sehingga masyarakat tidak ragu lagi untuk mendapatkan vaksinasi.

Vaksinasi adalah cara untuk bebas dari corona, agar tubuh mendapatkan kekebalan dan tidak mudah terserang virus yang berbahaya. Saat pertama kali memulai program vaksinasi nasional, pemerintah memutuskan untuk menggunakan vaksin Sinovac dari RRC. Bukan dari pabrikan lain seperti Pfizer.

Masyarakat awalnya agak ragu dengan vaksin Sinovac, apalagi ketika tahu bahwa pabriknya ada di RRC. Namun mereka akhirnya percaya karena MUI sudah mengeluarkan status halal bagi vaksin Sinovac. BPOM juga sudah mengeluarkan izin, sehingga vaksin ini sangat aman bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa Indonesia menyambut baik validasi vaksin Sinovac oleh WHO. Hal ini menegaskan bahwa pemerintah hanya memilih vaksin yang aman, teruji mutunya, dan terbukti khasiatnya. Dalam artian, validasi WHO menunjukkan bahwa pemerintah tidak salah pilih dan telah memutuskan untuk membeli vaksin yang terbaik untuk rakyatnya.

Vaksin Sinovac memang sempat diragukan karena dibuat di RRC, karena di sanalah virus covid-19 bermula. Namun justru itu, peneliti, laboran, dan para profesor di negeri tirai bambu, bekerja keras untuk membuat vaksin corona yang paling ampuh dalam mencegah penularan penyakit berbahaya ini. Karena mereka tidak ingin ada lebih banyak korban yang terinfeksi virus covid-19.

Efikasi vaksin Sinovac juga cukup tinggi, yakni di atas 60%. Tingkat efikasi ini sudah cukup ampuh dalam menangani penularan corona. Sehingga masyarakat yang sudah mendapatkan 2 kali vaksin, akan lebih kebal dari penyakit berbahaya ini. Tentu dengan diiringi kedisiplinan dalam pelaksanaan protokol kesehatan, karena pandemi belum berakhir dan kekebalan kelompok belum terbentuk.

Selain itu, vaksin Sinovac terbuat dari virus covid-19 yang dilumpuhkan. Berbeda dari jenis lain yang terbuat dari bahan sintetis. Sehingga diklaim lebih ekfektif dalam melawan droplet yang membawa penyakit corona, karena saat disuntikkan tubuh akan lebih memiliki kekebalan.

Kelebihan lain dari vaksin Sinovac adalah suhu penyimpanannya yang tidak terlalu ekstrim, yakni 2-8 derajat celcius. Sehingga dengan pendingin yang paling sederhana sekalipun, bisa memuat vaksin ini sampai ke daerah pelosok. Kita juga sudah memiliki cooler box yang biasa digunakan untuk menyimpan vaksin jenis lain, sehingga tidak usah bingung harus membeli perangkat pendingin yang baru.

Menteri Budi Gunadi melanjutkan, masyarakat tidak perlu khawatir, karena semua jenis vaksin baik untuk mencegah penularan corona. Dalam artian, walau mereka akhirnya nanti mendapatkan vaksin AstraZeneca, masyarakat diminta untuk tidak pilh-pilih. Karena jika mereka ngotot ingin mendapatkan vaksin Sinovac, akan butuh waktu lama, padahal vaksinasi berpacu dengan waktu agar kekebalan kelompok cepat terbentuk.

Penyebab dari jenis vaksin lain yang diberikan karena stok vaksin Sinovac amat terbatas dan suplai dari pabrik belum datang. Sehingga pemerintah memutuskan untuk memberikan vaksin AstraZaneca untuk vaksinasi selanjutnya. Vaksin ini juga ampuh dalam menangkis serangan corona dan efikasinya cukup tinggi. Jangan takut karena keduanya sama-sama berkhasiat.

Validasi dari WHO menunjukkan bahwa pemerintah tidak salah pilih dalam memilih vaksin Sinovac, pada program vaksinasi nasional. Karena vaksin ini terbukti ampuh, memiliki efikasi yang tinggi, minim efek samping, dan yang paling penting sudah mendapatkan status halal MUI dan lolos uji BPOM. Masyarakat juga diminta untuk tak pilih-pilih vaksin, agar semua sehat dan bebas corona.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa cikini

Oleh Aditya Akbar)*

Pandemi masih melanda seluruh dunia. Masyarakat diminta untuk jangan terlena dan merasa aman dari corona. Jangan lalai sedikitpun dan mengadakan acara kumpul-kumpul lalu ternyata membuat klaster corona baru. Tetaplah menjaga protokol kesehatan dan meningkatkan imunitas.

Dunia diguncang pandemi covid-19 sejak awal tahun 2020. Setelah lebih dari 12 bulan, masyarakat Indonesia sudah lelah karena bertanya-tanya sampai kapan kondisi ini akan berakhir. Sebagian dari mereka masih kukuh memakai masker saat berada di luar rumah, tetapi sayangnya sebagian yang lain sudah mulai malas-malasan dan melanggar protokol kesehatan.

Padahal pelanggaran protokol kesehatan amat bahaya karena corona bisa mengintai dari mana saja. Presiden Jokowi berpesan pada masyaraka untuk tetap waspada terhadap penularan virus covid-19. Meski sudah ada program vaksinasi nasional dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM mikro), tetapi kita tidak boleh lengah sedikitpun.

Presiden Jokowi menambahkan, kurva pasien covid memang agak melandai karena jumlah orang yang sembuh meningkat sedangkan pasien corona baru agak menurun. Tetapi masyarakat masih harus berhati-hati. Jangan berpuas diri dan jangan merasa aman karena situasi sudah terkendali. Kita tidak boleh menyepelekan virus covid-19.

Pesan dari Presiden Jokowi adalah bentuk perhatian penuh kepada seluruh WNI. Karena beliau melihat sendiri fakta saat sedang blusukan, masih ada saja yang memakai masker tetapi posisinya melorot, sehingga tidak melindungi hidung. Padahal masker harus dikenakan secara pas agar mulut dan hidung tidak terkena droplet dari OTG.

Selain itu, menurunnya jumlah pasien corona memang sebuah kabar bagus, tetapi jumlahnya masih mengkhawatirkan. Menurut data dari Tim Satgas covid, jumlah pasien corona mencapai 4.115 orang per hari, dan ini data per tanggal 1 mei 2021. Jika jumlah pasien sebanyak ini tentu mengkhawatirkan karena bisa jadi jumlah OTG lebih banyak lagi.

OTG-lah yang patut kita waspadai karena ciri-cirinya tidak terlalu nampak secara fisik. Ketika ia sakit, tahu-tahu drop dan saat dites swab ternyata kena corona. Jika imunitasnya tidak bagus, apalagi punya komorbid, maka ia bisa terancam kena resiko paling tinggi yaitu kematian.

Sebenarnya kita tidak usah terlalu curiga bahwa banyak orang yang jadi OTG karena bisa jadi malah kita sendiri yang jadi orang tanpa gejala. Sebagai bentuk proteksi, maka sebaiknya kita inisiatif dan melakukan tes swab karena hasilnya lebih akurat daripada tes rapid, walau harganya lebih mahal.

Ketika hasilnya negatif covid, maka jangan euforia berlebihan. Protokol kesehatan masih wajib dilakukan dan jangan lupa untuk selalu cuci tangan dengan sabun antiseptik dan membawa hand sanitizer saat bepergian. Usahakan untuk membawa alat makan sendiri dan ketika terpaksa berbuka di luar rumah, carilah restoran yang mematuhi protokol kesehatan dan ada jarak antar pengunjung.

Begitu juga dengan pasca vaksinasi. Jangan mentang-mentang sudah disuntik, lalu malas-malasan pakai masker. Vaksin memang meningkatkan kekebalan tubuh terhadap corona, tetapi herd immunity belum terbentuk, sehingga situasi pandemi belum selesai. Tetaplah pakai masker, baik yang kain atau disposable. Lagipula harganya juga murah dan mudah didapatkan di minimarket sekalipun.

Selain mematuhi protokol kesehatan, jaga pula higienitas tubuh dan lingkungan sekitar dan jika perlu semprotkan disinfektan setelah mengepel rumah. Saat di kantor, semprotkan juga cairan itu ke meja, kursi, dan dinding kubikel agar aman dari segala virus dan bakteri. Saat ini disinfektan makin mudah ditemukan di online shop.

Jangan lelah dalam melawan corona dan tetaplah menjaga protokol kesehatan. Kita tidak boleh lalai dan malas-malasan pakai masker, karena pandemi global belum berakhir. Tetaplah menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan rajin mencuci tangan.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Zulkarnain )*

Jagad dunia maya sempat heboh dengan pemberitaan tentang vaksin AstraZeneca di Inggris yang dapat menyebabkan pembekuan darah. Meski demikian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menegaskan untuk tetap menggunakan dan mendistribusikan vaksin AstraZeneca yang terbukti aman digunakan.

Pemerintah optimal dalam mendistribusikan vaksin AstraZeneca. Pendistribusian vaksin tersebut tentu saja bukan tanpa alasan, karena pihak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hingga Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) masih menyatakan bahwa vaksin AstraZeneca aman.

Hal tersebut juga diperkuat dengan adanya keputusan dari organisasi kesehatan dunia (WHO) dan Kelompok Penasehat Strategis Ahli Imunisasi (SAGE) WHO yang menyatakan bahwa vaksin AstraZeneca masih bisa digunakan untuk menjadi pertimbangan.

WHO juga menganggap bahwa manfaat vaksin AstraZeneca lebih besar daripada risikonya dan merekomendasikan agar vaksinasi tetap dilanjutkan.

WHO juga menyampaikan bahwa vaksinasi Covid-19 memang tidak akan mengurangi penyakit atau kematian akibat penyebab lain. Tetapi peristiwa tromboemboli atau pembekuan darah diketahui sering terjadi.

WHO juga menuturkan bahwa setiap kampanye vaksinasi, banyak negara yang rutin melaporkan berbagai kemungkinan efek samping yang terjadi pasca imunisasi. Meski tidak selalu efek samping yang muncul disebabkan oleh kandungan vaksin.

Artinya, bahwa kejadian tersebut terkait dengan vaksinasi itu sendiri. Tetapi menjadei langkah yang baik untuk menyelidikinya. Ini juga menunjukkan bahwa sistem pengawasan berfungsi dan sistem kontrol yang efektif selalu tersedia.

Sementara itu, pemerintah juga merasa optimis bahwasanya 1,1 juta vaksin AstraZeneca yang sudah diterima melalui skema COVAX WHO akan terpakai habis sebelum masa simpan berakhir, yaitu Mei 2021. Pemberian vaksin juga akan diprioritaskan bagi kelompok yang membutuhkan. Hal tersebut diungkapkan oleh dr Siti Nadia Tarmizi selaku juru bicara vaksinasi Covid-19 kementerian kesehatan.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyatakan bahwa vaksin Covid-19 AstraZeneca yang diproduksi oleh SK Bioscience di Kota Andong, Korea Selatan boleh digunakan dalam keadaan darurat meskipun mengandung tripsin yang berasal dari babi.

Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam dalam konferensi persnya mengatakan, Ketentuan hukumnya yang pertama vaksin Covid-19 AstraZeneca hukumnya haram karena dalam tahapan produksi memanfaatkan tripsin yang berasal dari Babi.

Meski demikian, ketentuan hukum yang kedua, penggunaan vaksin Covid-19 produk AstraZeneva pada saat ini hukumnya diperbolehkan.

Asrorun mengungkap lima alasan mengapa vaksin tersebut boleh digunakan dalam keadaan darurat. Pertama, saat ini negara Indonesia tengah dalam kondisi darurat syari, dimana terdapat keterangan dari ahli yang kompeten dan terpercaya tentang adanya bahaya atau risiko fatal jika tidak dilakukan vaksinasi covid-19.

Kemudian, ketersediaan vaksin Covid-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 guna mewujudkan kekebalan kelompok atau herd immunity.

Selain itu, adanya jaminan keamanan penggunaannya oleh pemerintah sesuai dengan penjelasan yang disampaikan pada saat rapat komisi fatwa.

Pada kesempatan berbeda, Lembaga Bathsul Masail Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan bahwa vaksin AstraZeneca yang digunakan di Indonesia adalah suci dan mubah (boleh) digunakan. Bukan karena tidak membahayakan, melainkan juga karena suci.

Keputusan tersebut tertuang dalam hasil Bathsul Masail NU Nomor 1 Tahun 2021 tentang pandangan fikih mengenai penggunaan vaksin AstraZeneca. Bathsul Masail sendiri telah dilaksanakan pada 25 Maret 2021 lalu.

Dalam forum Bahtsul Masail LBM PBNU, AstraZeneca memberikan penjelasan bahwa seluruh proses pembuatan vaksin tidak memanfaatkan bahan yang berasal dari unsur babi. Adapun pemanfaatan tipsin babi dalam proses pengembangan awalnya hanya digunakan untuk melepas sel inang dari wadah yang dilakukan pihak Thermo Fisher sebagai supplier sebelum dibeli oleh Oxford-AstraZeneca.

Dalam pertemuan tersebut, dipaparkan proses produksi vaksin AstraZeneca. Proses pengembangan sel Hex 293 oleh Thermo Fisher memanfaatkan tripsi dari unsur babi yang berfungsi untuk memisahkan sel inang dari pelat atau media pembiakan sel, bukan sebagai campuran bahan atau bibit sel.

Sedangkan tentang najis babi, forum Bahtsul Masail mengikuti pendapat rajih menurut Al-Imam An-Nawawi yang menyatakan bahwa penyucian barang yang terkena najis babi cukup dibasuh dengan satu kali basuhan tanpa menggunakan campuran debu atau tanah.

Merujuk dari beragam perspektif tersebut, tentu saja kita tidak perlu cemas vaksin AstraZeneca, apalagi dalam kondisi darurat seperti saat ini.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Edi Jatmiko )*

Presiden Jokowi menjadi WNI pertama yang disuntik vaksin corona. Setelah injeksi, tidak ada reaksi apa-apa pada beliau. Hal ini membuktikan bahwa vaksin buatan Sinovac aman dan tidak menimbulkan efek samping. Selain itu, vaksin juga sudah mendapat sertifikat halala MUI. Sehingga tidak ada lagi keraguan dalam vaksinasi corona nasional.

Vaksin Sinovac buatan RRC sudah mendarat di Indonesia pada medio desember 2020. Namun baru akan disuntikkan bulan januari, karena menunggu pengetesan BPOM dan fatwa halal MUI. Setelah semuanya selesai, baru boleh disuntikkan ke seluruh WNI, walau kita masih harus menunggu giliran. Karena vaksinasi gelombang pertama baru diprioritaskan untuk tenaga medis.

Presiden Jokowi menjadi orang pertama yang disuntik vaksin corona. Tanggal 13 januari 2021 jam 10 pagi, beliau diinjeksi terlebih dahulu daripada rakyatnya. Menurut presiden, hal ini bukan karena ego atau jabatan. Melainkan justru beliau memberi contoh kepada masyarakat bahwa vaksin corona buatan Sinovac 100% aman.

Vaksinasi pada Presiden Jokowi disiarkan langsung melalui streaming di akun Youtube sekretariat presiden. Siaran ini dimaksudkan agar seluruh WNI melihat proses vaksinasi yang higienis dan aman. Sehingga mereka yakin dan mau disuntik. Buktinya, setelah divaksin, presiden tidak menunjukkan reaksi negatif dan sehat-sehat saja.

Ketika presiden tidak pingsan atau sakit keras setelah divaksin, maka akan menambah kepercayaan masyarakat dan mereka mau diinjeksi. Selama ini memang ada yang ragu dan bahkan termakan hoax, bahwa vaksin corona kurang aman, karena bisa mengubah DNA manusia. Namun berita palsu ini langsung tertepis ketika publik melihat keamanan vaksinasi di istana presiden.

MUI juga sudah memberi fatwa halal pada vaksin Sinovac, setelah melakukan sidang fatwa. Sehingga mayoritas WNI yang merupakan umat muslim bisa bernapas lega, karena vaksin ini benar-benar halal. MUI juga turut mengawasi ketika vaksin masih dalam proses pembuatan. Sehingga mereka yakin bahwa tidak ada gelatin babi yang tercampur di dalam vaksin Sinovac.

Untuk lebih meyakinkan masyarakat, setelah Presiden Jokowi disuntik, maka beberapa pemuka agama juga disuntik vaksin. Mereka memberi contoh kepada jamaahnya, sehingga tidak ada lagi yang takut atau meragukan vaksinasi corona. Sehingga semua WNI akan mau disuntik dan akan mensukseskan program vaksinasi corona nasional.

Menurut dokter Wiku Adisasmito, vaksinasi adalah kunci dalam mengatasi penyebaran corona. Kesuksesan vaksinasi corona nasional sangat penting karena jika semuanya sudah disuntik, akan terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity). Jika semua orang sehat dan bebas corona, maka pandemi akan lekas berakhir dan kita bisa beraktivitas seperti biasa.

Sebagai warga negara yang baik, sebelum menunggu giliran vaksinasi, maka kita bisa mendukung kesuksesan program ini dengan kampanye di media sosial. Saat ini marak twibbon alias semacam pigura yang mengellingi foto pengguna medsos, yang bertuliskan dukungan terhadap vaksin. Foto profil medsos kita bisa diedit seperti itu, agar makin banyak followers yang mengikutinya.

Selain itu, kampanye pro vaksin juga bisa dilakukan dengan menepi berita hoax dan melaporkan akun media sosial yang hobi meng-share berita palsu mengenai vaksin corona. Laporkan saja ke pihak Instagram beramai-ramai, dan akun itu bisa di-take down, sehingga tidak berfungsi lagi. Pembuat hoax vaksin corona adalah kelompok terkejam karena menyebar fitnah.

Kesuksesan vaksinasi corona pada Presiden Jokowi membuat masyarakat kian percaya pada khasiat suntikannya. Seluruh WNI yang menonton siaran langsung penginjeksian tersebut, maupun yang hanya membaca beritanya, akan mau divaksinasi. Sehingga di Indonesia terbentuk herd immunity dan pandemi corona akan segera berakhir.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Edi Jatmiko )*

Presiden Jokowi menjadi WNI pertama yang disuntik vaksin corona. Setelah injeksi, tidak ada reaksi apa-apa pada beliau. Hal ini membuktikan bahwa vaksin buatan Sinovac aman dan tidak menimbulkan efek samping. Selain itu, vaksin juga sudah mendapat sertifikat halala MUI. Sehingga tidak ada lagi keraguan dalam vaksinasi corona nasional.

Vaksin Sinovac buatan RRC sudah mendarat di Indonesia pada medio desember 2020. Namun baru akan disuntikkan bulan januari, karena menunggu pengetesan BPOM dan fatwa halal MUI. Setelah semuanya selesai, baru boleh disuntikkan ke seluruh WNI, walau kita masih harus menunggu giliran. Karena vaksinasi gelombang pertama baru diprioritaskan untuk tenaga medis.

Presiden Jokowi menjadi orang pertama yang disuntik vaksin corona. Tanggal 13 januari 2021 jam 10 pagi, beliau diinjeksi terlebih dahulu daripada rakyatnya. Menurut presiden, hal ini bukan karena ego atau jabatan. Melainkan justru beliau memberi contoh kepada masyarakat bahwa vaksin corona buatan Sinovac 100% aman.

Vaksinasi pada Presiden Jokowi disiarkan langsung melalui streaming di akun Youtube sekretariat presiden. Siaran ini dimaksudkan agar seluruh WNI melihat proses vaksinasi yang higienis dan aman. Sehingga mereka yakin dan mau disuntik. Buktinya, setelah divaksin, presiden tidak menunjukkan reaksi negatif dan sehat-sehat saja.

Ketika presiden tidak pingsan atau sakit keras setelah divaksin, maka akan menambah kepercayaan masyarakat dan mereka mau diinjeksi. Selama ini memang ada yang ragu dan bahkan termakan hoax, bahwa vaksin corona kurang aman, karena bisa mengubah DNA manusia. Namun berita palsu ini langsung tertepis ketika publik melihat keamanan vaksinasi di istana presiden.

MUI juga sudah memberi fatwa halal pada vaksin Sinovac, setelah melakukan sidang fatwa. Sehingga mayoritas WNI yang merupakan umat muslim bisa bernapas lega, karena vaksin ini benar-benar halal. MUI juga turut mengawasi ketika vaksin masih dalam proses pembuatan. Sehingga mereka yakin bahwa tidak ada gelatin babi yang tercampur di dalam vaksin Sinovac.

Untuk lebih meyakinkan masyarakat, setelah Presiden Jokowi disuntik, maka beberapa pemuka agama juga disuntik vaksin. Mereka memberi contoh kepada jamaahnya, sehingga tidak ada lagi yang takut atau meragukan vaksinasi corona. Sehingga semua WNI akan mau disuntik dan akan mensukseskan program vaksinasi corona nasional.

Menurut dokter Wiku Adisasmito, vaksinasi adalah kunci dalam mengatasi penyebaran corona. Kesuksesan vaksinasi corona nasional sangat penting karena jika semuanya sudah disuntik, akan terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity). Jika semua orang sehat dan bebas corona, maka pandemi akan lekas berakhir dan kita bisa beraktivitas seperti biasa.

Sebagai warga negara yang baik, sebelum menunggu giliran vaksinasi, maka kita bisa mendukung kesuksesan program ini dengan kampanye di media sosial. Saat ini marak twibbon alias semacam pigura yang mengellingi foto pengguna medsos, yang bertuliskan dukungan terhadap vaksin. Foto profil medsos kita bisa diedit seperti itu, agar makin banyak followers yang mengikutinya.

Selain itu, kampanye pro vaksin juga bisa dilakukan dengan menepi berita hoax dan melaporkan akun media sosial yang hobi meng-share berita palsu mengenai vaksin corona. Laporkan saja ke pihak Instagram beramai-ramai, dan akun itu bisa di-take down, sehingga tidak berfungsi lagi. Pembuat hoax vaksin corona adalah kelompok terkejam karena menyebar fitnah.

Kesuksesan vaksinasi corona pada Presiden Jokowi membuat masyarakat kian percaya pada khasiat suntikannya. Seluruh WNI yang menonton siaran langsung penginjeksian tersebut, maupun yang hanya membaca beritanya, akan mau divaksinasi. Sehingga di Indonesia terbentuk herd immunity dan pandemi corona akan segera berakhir.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini