Oleh : Muhammad Yasin )*

Penerapan moderasi keberagamaan menjadi salah satu solusi yang sangat penting untuk bisa mengantisipasi segala kemungkinan terjadinya konflik atau gesekan secara horizontal di masyarakat, utamanya mengenai isu SARA.
Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia secara hakekat pasti memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain. Jangankan dari berbeda negara, bahkan perbedaan saja bisa didapatkan pada masyarakat dalam negara yang sama, seperti contohnya adalah Indonesia. Justru sebenarnya sudah sejak dulu ragam latar belakang kebudayaan yang dimiliki oleh seluruh masyarakat Tanah Air menjadi kekuatan Bangsa ini.

Maka dari itu pula para pendiri Bangsa menggunakan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang isinya menggaungkan supaya seluruh masyarakat mampu untuk tetap bersatu dan bersaudara meski di tengah perbedaan. Akan tetapi tidak jarang pula, perbedaan menjadi salah satu permasalahan utamanya mengenai konflik atau gesekan secara horizontal.

Biasanya yang sangat sering menimbulkan gesekan secara horizontal tersebut adalah ketika terjadi perbedaan dalam hal-hal yang sangat sensitif seperti pada Suku, Agama, Ras dan Antar golongan (SARA). Terbukti bahwa beberapa kejadian terjadi ketika masyarakat merasa berbeda secara paham agama kemudian justru menimbulkan perpecahan.

Dengan potensi adanya gesekan ketika sudah menyangkut SARA tersebut, kemudian tidak disia-siakan oleh kelompok tertentu, utamanya mereka kaum radikal yang akan menunggangi atau bahkan terus menerus berusaha untuk menciptakan suatu konflik di tengah masyarakat demi tercapainya tujuan tertentu dari mereka.

Untuk itu, hal yang menjadi sangat penting untuk dipahami dan juga dimiliki oleh seluruh masyarakat Indonesia demi bisa terus menjaga keutuhan NKRI adalah dengan menerapkan moderasi beragama sebagai solusi untuk mampu mengantisipasi potensi atau risiko konflik yang terjadi secara horizontal tersebut.

Betapa pentingnya moderasi beragama, bahkan Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko langsung memberikan sebuah imbauan kepada seluruh guru agama di Indonesia. Beliau menyatakan agar supaya para guru tersebut mampu untuk jauh lebih meningkatkan kewaspadaannya mengenai ancaman radikalisme yang berujung pada sifat intoleran, yang mana belakangan terus merebak dan juga mengancam.

Imbauan yang diberikan langsung oleh Moeldoko tersebut menyusul adanya perilisan data mengenai survey yang menunjukkan bahwa ternyata memang sekolah dan juga para siswa memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi akan paparan paham-paham kelompok radikal dan juga nantinya sangat berpotensi untuk berujung pada tindak intoleransi.

Dalam hal ini, posisi yang dimiliki oleh para guru, khususnya guru agama menurut Moeldoko adalah posisi yang memiliki peran sangatlah strategis lantaran mereka berfungsi sebagai ujung tombak dalam hal pendidikan dan juga berurusan langsung dengan para siswa yang notabene adalah generasi penerus Bangsa dalam hal pendidikan secara formal. Sehingga pendidikan dengan mengajarkan moderasi beragama memang harus benar-benar terus digaungkan.

Lebih lanjut, KSP tersebut menyatakan bahwa pendidikan beragama yang terdapat dalam lembaga seperti sekolah seharusnya memang menggunakan pendekatan atau metode pembelajaran yang secara komprehensif sehingga jangan sampai berkutat pada hal-hal yang sifatnya doktrin dan juga simbol yang normatif saja.

Bagaimana tidak, pasalnya Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat itu memaparkan bahwa jika sistem pendidikan beragama di sekolah masih terkungkung dalam hal-hal yang sifatnya doktrin dan normatif saja, maka bukan tidak mungkin ke depannya justru akan mencetak generasi yang justru hanya mampu untuk berpikir dengan satu arah saja sehingga sama sekali tidak terbuka.

Bayangkan bagaimana jadinya jika para siswa hanya memiliki kemampuan berpikir namun pada satu arah saja, maka tentu sangatlah besar kemungkinan mereka sulit sekali dalam menerima perbedaan yang sifatnya niscaya dalam kehidupan sosial manusia, sehingga ketika mereka terbiasa untuk tidak menerima perbedaan maka yang dikhawatirkan adalah konflik horizontal akan dengan sangat mudah terjadi.

Padahal justru dalam kehidupan sosial anak di sekolah itu sama saja menjadi salah satu miniatur dalam kehidupan Berbangsa dan Bernegara lantaran mereka pasti akan menemui banyak sekali perbedaan latar belakang dari kawan-kawannya. Maka dari itu, lembaga pendidikan seperti sekolah juga memiliki posisi yang sangatlah penting dalam mengajarkan para generasi penerus Bangsa mengenai betapa pentingnya kemajemukan dan juga memiliki tenggang rasa kepada orang lain, sehingga tumbuh kembang dari watak sang anak mengenai sikap bertoleransi sangatlah diasah di sekolah.

Pendidikan anak dengan pola pikir yang terbuka menjadi hal yang sama sekali tidak bisa dianggap remeh dalam hal ini. Maka dalam hal pendidikan keagamaan khususnya, seharusnya mampu untuk lebih mengakomodasi substansi dari agama itu sendiri dan juga tentunya dengan menggunakan perspektif yang universal. Para guru agama bisa membekali anak didik mereka dengan beberapa hal terkait toleransi antar umat beragama, mengajarkan para siswa mengenai kebaikan, akhlak dan budi pekerti hingga sifat jujur.

Dengan menerapkan metode pembelajaran yang terbuka dan mengutamakan adanya moderasi beragama, maka pria yang juga pernah menjabat sebagai Panglima TNI tahun 2013-2015 itu mengungkapkan kalau para siswa nantinya pasti akan memiliki karakter yang jauh lebih terbuka pada ideologi dan tidak memiliki pemikiran yang sempit dan mudah diadu domba.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute