Oleh : Alfisyah Dianasari )*

Masyarakat dan stakeholder terkait diharapkan dapat mewaspadai lonjakan kasus Covid-19 yang dapat menggangu transisi pandemi ke endemi. Dengan adanya kewaspadaan dengan selalu berperilaku sehat, maka ancaman kenaikan kasus Covid-19 setelah libur Lebaran dapat dihindari.

Kasus Corona di Indonesia sudah melandai jika dibandingkan dengan tahun lalu. Jika pada 17 Desember 2021 jumlah pasiennya mencapai 3.750, maka tanggal 16 Mei 2022 ini jumlah pasien hanya 182 orang. Menurunnya kasus Corona menjadi kurang dari 10% jika dibanding dengan 5 bulan lalu adalah sebuah prestasi karena pandemi bisa berakhir lebih cepat dan bertransisi jadi fase endemi.

Endemi adalah keadaan ketika ada suatu penyakit tetapi penyebarannya terbatas di daerah tertentu. Misalnya malaria di Papua dan Papua Barat. Indonesia sudah siap bertransisi ke masa endemi karena ada penurunan kasus Corona. Namun jangan gembira dulu karena semua orang harus tetap disiplin protokol kesehatan dan melakukan vaksinasi. Jika tidak maka akan ada lonjakan kasus Corona yang akan mengganggu transisi ke endemi.

Lonjakan kasus Corona bisa saja terjadi karena saat ini anak-anak sudah sekolah seperti biasa dan orang tuanya bekerja kembali di kantor, tidak lagi work from home. Ketika banyak yang tak disiplin dalam menaati protokol kesehatan dan tak mau vaksin maka bisa terbentuk klaster Corona baru. Bisa dari klaster perkantoran, klaster keluarga, atau klaster sekolah.

Klaster perkantoran bisa terbentuk ketika ruang kerja terlalu sempit sehingga tidak bisa menjaga jarak. Selain itu masyarakat juga patut waspada akan sirkulasi udara dan kebersihan AC atau kipas angin. Penyebabnya karena virus Covid-19 bisa menular lewat udara yang bersih dan ruangan yang sempit. Apalagi jika para pegawai tidak pakai masker, jika 1 saja yang kena Corona tertularlah semuanya, karena mereka juga tidak vaksin.

Penataan tempat di kantor harus diperhatikan agar tidak ada pegawai yang kena Corona dan bisa menyebabkan lonjakan kasus Covid-19, serta menggagalkan transisi ke fase endemi. Selain menjaga jarak per meja atau kubikel, perhatikan juga ventilasi, jendela, dan sirkulasi udaranya. Tiap pegawai juga wajib pakai masker di dalam ruangan, jangan hanya mengenakannya di perjalanan.

Klaster perkantoran wajib diwaspadai karena bisa menular jadi klaster keluarga. Ketika ada satu saja pegawai yang kena Corona karena ketularan oleh orang tanpa gejala, maka ia bisa menularkannya ke seluruh anggota keluarga. Yang paling rawan adalah balita karena mereka belum divaksin dan lansia karena punya komorbid, serta imunitasnya lebih rendah.

Pencegahan sejak dini harus dilakukan agar tidak terjadi klaster keluarga, tujuannya agar tidak ada lonjakan kasus Corona dan menggagalkan transisi ke fase endemi. Selain memakai masker, ayah dan ibu harus mencuci tangan atau pakai hand sanitizer. Saat pulang kerja juga wajib mandi, keramas, dan ganti baju. Baru bisa mencium pipi anak-anaknya. Semua dilakukan agar tidak menularkan Corona.

Perbaiki juga imunitas keluarga dengan rajin minum air putih 2 liter sehari, makan sayur, buah, dan makanan sehat lainnya. Rutinkan juga berolahraga agar seluruh anggota keluarga sehat dan memiliki daya tahan tubuh yang bagus. Pastikan semuanya divaksin sampai 3 kali.

Masyarakat wajib mewaspadai agar tidak terjadi lonjakan kasus Corona di Indonesia. Jumlah pasien Covid-19 memang terus menurun tetapi bisa naik lagi jika banyak orang tidak disiplin dalam menjaga protokol kesehatan. Tetaplah pakai masker dan mematuhi poin lain dalam protokol kesehatan agar tidak kena Corona dan mensukseskan transisi ke fase endemi.

)* Penulis adalah Kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Salah satu upaya yang telah diambil oleh Pemerintah agar tidak terjadi transmisi penularan Covid-19 dari arus balik adalah dengan meningkatkan random testing yang dilakukan di berbagai titik-titik penyekatan.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, Alexander K. Ginting, mengatakan bahwa yang menjadi catatan adalah jika ditemukan kasus Covid-19 positif, maka harus dilakukan isolasi ataupun karantina.

“Hanya menjadi catatan adalah kalau mereka ditemukan positif atau ditemukan bergejala, ini tentu akan harus kita isolasi ataupun dikarantina.”, ujar Alexander.

Alex juga menambahkan, bahwa selain random testing, untuk mencegah penularan sporadis Covid-19 dari arus balik pemudik ini harus diperkuat PPKM mikro dengan strategi mikro lockdown di tingkat RT.

“Dan kemudian kita juga harus bisa memperkuat PPKM skala mikro, di mana di sini strategi mikro lockdown itu harus kita mulai sosialisasikan. Sehingga bagi mereka yang memang bergejala ataupun mereka yang dicurigai rapid test-nya positif, tentu ini tidak semua harus masuk rumah sakit tapi harus bisa kita isolasi di tempat tujuan masing-masing,”tambah alexander.

Tujuan utama pemerintah membuat berbagai kebijakan tersebut adalah agar kasus Covid-19 dimasa arus balik lebaran, tidak seperti di India. Dan juga kasus Covid-19 secara nasional di Indonesia khususnya Pulau Jawa dan Sumatera tidak seperti di Malaysia.

Oleh : Muhammad akbar )*

Setelah lebaran, kita patut mewaspadai lonjakan pasien covid, karena ada sebagian masyarakat yang nekat mudik. Padahal mobilitas massal bisa menyebarkan virus corona. Untuk mengantisipasinya, maka wajib mematuhi protokol kesehatan 5M. Juga tetap menjaga kebersihan badan dan lingkungan serta imunitas tubuh.

Saat ramadhan, masyarakat sudah mendapat larangan keras untuk mudik dan wilayah perbatasan dijaga ketat oleh aparat. Akan tetapi, sebagian orang nekat untuk pulang kampung dan mereka memakai akal kancil, melewati perbatasan di jam dekat maghrib atau sebelum subuh. Karena saat itu petugas sedang istirahat, sehingga pos perbatasan agak longgar.

Terbukti prediksi tim satgas covid-19 benar-benar terjadi, karena setidaknya 7% masyarakat nekat untuk pulang kampung, Lantas mereka dites rapid secara acak dan hasilnya mengejutkan karena setidaknya 4.000 orang positif corona, sehingga harus menyingkir dari jalan dan diisolasi di klinik. Hal ini bisa menyebabkan kenaikan jumlah pasien covid di berbagai wilayah.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta seluruh kepala daerah untuk mengantisipasi sekaligus mencegah kenaikan kasus corona setelah libur panjang hari raya. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mereka harus memperhatikan ketersediaan fasilitas kesehatan di wilayah masing-masing.

Dalam artian, jangan sampai ada Rumah Sakit di suatu wilayah tapi ventilator, APD, dan alat kesehatan lain jumlahnya kurang. Karena pasien corona yang parah tidak bisa disuruh untuk hanya isolasi mandiri di rumah. Ia butuh perawatan yang intensif di Rumah Sakit dan obat-obatan serta alat penunjang harus lengkap.

Budi melanjutkan, Kementrian Kesehatan akan memantau ketersediaan alat kesehatan, kapasitas tempat tidur pasien corona, dan ruangan ICU RS di seluruh daerah. Hal ini akan membantu mengantisipasi penanganan lonjakan kasus corona yang tinggi sekali, yang mungkin terjadi di daerah. Dalam artian, Menteri Kesehatan sudah memprediksi bahwa ada kenaikan pasien corona karena ada yang nekat mudik, lalu berusaha mengantisipasinya.

Mengapa tetap ada kenaikan jumlah pasien covid padahal sudah ada tes rapid di jalanan? Penyebabnya adalah bagi mereka yang tidak kena tes acak dan ternyata OTG, akan menularkan corona di kampung halaman. Mereka tidak sadar kalau sakit dan tahu-tahu keadaannya sudah parah saat terinfeksi.

Begitu juga dengan orang tua dan kerabat di kampung. Jika tidak disiplin pakai masker dan berkontak terus dengan OTG yang datang dari kota, akan bisa tertular juga. Akhirnya ada kenaikan jumlah pasien corona. Hal ini terbukti dari angka pasien covid yang terus naik di seluruh wilayah Indonesia, dan menurut data tim satgas covid-19, jumlah totalnya adalah 1,7 juta orang.

Kita tentu tidak mau jadi pasien corona, bukan? Walau sudah tidak mudik lebaran, akan tetapi jangan lengah untuk pencegahan penularan virus covid-19. Pertama, harus menaati protokol kesehatan 5M secara ketat: memakai masker (sesuai standar WHO), mencuci tangan atau memakai hand sanitizer, menjaga jarak, plus menghindari keramaian serta mengurangi mobilitas.

Yang harus diutamakan adalah protokol menghindari keramaian. Kita harus dengan tegas menolak segala bentuk undangan halal bi halal dan tidak mengadakan open house. Semua rekanan dan tetangga pasti memahami karena saat ini masih masa pandemi. Jadi, walaupun rumahnya bersebelahan, silaturahmi masih via via virtual call.

Kita harus berhati-hati dan jangan sampai terbentuk klaster corona baru pasca lebaran. Karena ada sebagian masyarakat yang nekat mudik dan akhirnya menaikkan jumlah pasien covid. Selain itu, tetaplah berdisiplin pakai masker dan menaati protokol kesehatan lainnya, serta menghindari kerumunan atau tidak membuat keramaian di rumah.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi institute