Oleh : Muhamad Yasin )*

Provokasi yang dilakukan oleh Bahar bin Smith menuai kecaman karena ia mengaku sebagai pemuka agama tetapi malah melakukan tindakan negatif. Masyarakat menolak ceramahnya karena bernada dendam kesumat dan tidak mencerminkan ahkhlak terpuji.

Bahar bin Smith adalah tokoh yang menjadi kontroversi karena pernah dibui setelah melakukan kekerasan pada pihak yang lemah. Selain itu, ia juga dikenal karena selalu berceramah dengan nada keras dan memprovokasi masyarakat untuk mengikuti pemikirannya.
Padahal yang diceramahkan hanyalah kebencian demi kebencian yang bisa berbuah petaka.
Provokasi Bahar bin Smith terus dilakukan, seolah-olah lupa ia pernah merasakan pahitnya kehidupan di dalam penjara. Salah satu ceramahnya yang viral karena ia mengancam semua orang yang berurusan dengan Rizieq Shihab dan mengutuk mereka. Selain itu, ia juga sering berceramah dan menjelek-jelekkan pemerintah.

Masyarakat tentu menolak provokasi Bahar bin Smith karena ia membela orang yang salah. Bagaimana bisa warga sipil diajak untuk pro Rizieq Shihab padahal ia bersalah dalam kasus pelanggaran protokol kesehatan dan UU kekarantinaan? Rizieq bukanlah orang suci yang harus dibela mati-matian.

Selain itu, sudah banyak yang muak karena Bahar bin Smith hanya mengulang tema ceramah dengan nada penuh provokasi dan kebencian terhadap pemerintah. Mengapa ia segitu bencinya terhadap pemerintahan Indonesia padahal hidup di Indonesia? Seakan tiada rasa terima kasih telah diizinkan untuk tinggal di negeri ini. Jika ia tak suka di Indonesia mengapa tidak pergi saja jauh-jauh?

Sebagai pemuka agama ia jelas mengecewakan karena gagal berceramah dengan baik. Bagaimana bisa ceramah hanya dipakai sebagai alat provokasi? Sehingga warga yang tidak tahu apa-apa malah ikut-ikutan membenci pemerintah. Ini sudah gila namanya.

Oleh karena itu wajar jika ceramah Bahar bin Smith banyak dihentikan oleh aparat keamanan. Jangan sampai provokasinya malah memecah-belah masyarakat dan membuat kekacauan di Indonesia. Jika ini yang terjadi maka berbahaya karena tatanan sosial akan rusak dan situasi jadi runyam.

Jika Bahar bin Smith terus melakukan aksinya dan memprovokasi di sana-sini maka tak mustahil ia ditolak oleh banyak orang, seperti ketika akan ceramah di Manado dan ia dilarang untuk menginjakkan kaki di sana. Penyebabnya karena ceramahnya dinilai bernada provokatif. Bisa jadi ia ditolak juga di banyak daerah lain gara-gara ulahnya sendiri.

Selain penolakan, bisa jadi Bahar bin Smith juga terancam penjara lagi jika terus melanjutkan aksinya. Penyebabnya karena ia dinilai membuat kerusuhan dan menghancurkan perdamaian di masyarakat. Ia bisa tersangkut pasal 160 tentang penghautan dan terancam hukuman maksimal 6 tahun penjara.

Seharusnya jika ia mengaku sebagai pemuka agama maka ceramahnya penuh dengan kedamaian, karena inti dari agama adalah anti kekacauan dan kekerasan. Ceramah yang baik adalah yang bisa memberi kesejukan di hati pendengarnya dan bukan sebaliknya. Bukankah ia seharusnya memahaminya tetapi malah menolak konsep itu mentah-mentah.

Masyarakat menolak provokasi Bahar bin Smith dan berusaha agar kalangan lain tidak terpengaruh olehnya. Mereka mengingatkan agar tidak percaya akan kata-kata pria berambut gondrong tersebut, karena memang tidak berdasarkan kenyataan, tetapi hanya berdasarkan dendam pribadi. Jangan ada lagi yang jadi korbannya.

Provokasi dari Bahar bin Smith sangat memalukan karena sebagai orang yang mengaku sebagai pemuka agama, malah melakukan hal yang dilarang agama. Bukankah Nabi bersabda berkatalah baik atau diam? Janganlah berbuat kekacauan dan memprovokasi masyarakat karena hanya akan merusak tatanan sosial di negeri ini.

)* Penulis adalah warganet/ kontributor Citizen Journalism

Jakarta — Ketua Cyber Indonesia, Husin Shihab bereaksi keras atas pernyataan pendakwah, Bahar bin Smith bahwa jika ulama Arab tak datang ke Indonesia, maka Jenderal Dudung masih menyembah pohon.

Husin Shihab menyindir keras bahwa Bahar bin Smith memang dasarnya adalah orang bodoh sehingga mengeluarkan pernyataan tak berguna yang dapat memprovokasi umat. “Bahar ini bahlul, buta sejarah Islam,” kata Husin Shihab melalui akun Twitter pribadinya pada Jumat, 17 Desember 2021.

Husin Shihab mengatakan, ada yang mencatat awal penyebar Islam di Nusantara bukanlah Arab, tapi China. Oleh sebab itulah, Sekretaris Jenderal Komite Pemberantasan Mafia Hukum ini meminta Bahar bin Smith untuk jangan main klaim.

“Karna Bahar ini memang dasarnya orang bodoh keluarlah statement yang gak berguna yang dapat memprovokasi umat. Bahaya statement model begini!” katanya. Diberitakan sebelumnya, Bahar bin Smith menyindir Jenderal Dudung terkait kedatangan ulama Arab di Indonesia.

Adapun dalam video tersebut, nampak Bahar bin Smith tengah menyampaikan ceramahnya di atas panggung di hadapan sejumlah orang. Ia menyinggung soal “Jenderal Baliho” yang merangkul Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan memusuhi ormas Islam. Lebih lanjut, Bahar bin Smith menyebut bahwa jika tidak ada ulama atau habaib yang datang dari Arab ke Indonesia, maka Jenderal Dudung masih menyembah pohon. “Kalau tidak ada para ulama, para habaib yang datang dari Arab ke Indonesia, si Dudung masih nyembah pohon,” ujarnya.

Sementara itu, Pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda geram dengan Habib Bahar bin Smith. Abu Janda geram lantaran Bahar bin Smith menghina KSAD Jenderal TNI Dudung Abdurachman. Diketahui, sebuah video ceramah Habib Bahar bin Smith yang menyebut jika ulama Arab tidak datang ke Indonesia maka Jenderal Dudung Abdurrachman masih menyembah pohon viral di media sosial.

“maap ya, pagi pagi saya mau luapin emosi….

saya gak terima jendral TNI dihina hina sama gondrong biadab sampah masyarakat (emoji marah)

si bangsad bilang: kalo bukan karena arab, jend.dudung masih nyembah pohon.

WOI GOBLOG! kalo bukan karena jend.dudung, umat kau masih nyembah baliho!

Disisi lain, Cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU) Zuhairi Misrawi menyayangkan perkataan Bahar itu tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan umatnya untuk menjaga diri dari kata-kata kotor dan taat pada pemimpin sebagaimana anjuran Alquran.

“Karena itu, saya memandang apa yang disampaikan Bahar bin Smith bukan cerminan akhlak Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan kita untuk menjaga diri dari kata-kata kotor dan taat pada pemimpin sebagaimana anjuran Alquran. (*)

Jakarta — Nama Bahar bin Smith akhir-akhir ini menjadi sorotan setelah ceramah kontroversialnya yang dianggap menghina Presiden Joko “Jokowi” Widodo, 17 November 2018 yang lalu di Batu Ceper, Tangerang. Gara-gara kasus ini, Bahar dilaporkan sejumlah pihak ke kepolisian karena dianggap menghina Presiden Jokowi.

Menilik sepak terjangnya, ternyata bukan kali ini saja Bahar bin Smith dilaporkan ke polisi. Ia sudah beberapa kali berurusan dengan penegak hukum lantaran ceramahnya yang selalu berbau provokasi serta aksi koboinya di jalan, antara lain :

  1. Terlibat penyerangan jemaah Ahmadiyah dan kerusuhan Koja.
    Sebelas tahun lalu atau tepatnya pada 2010, Bahar bin Smith terlibat dalam kasus penyerangan jemaah Ahmadiyah di daerah Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Pada tahun yang sama, Bahar kembali terjerat kasus hukum. Kali ini ia terindikasi terlibat dalam kerusuhan Koja karena adanya sengketa lahan di makam Mbah Priok di Jakarta Utara.

  1. Pernah merusak kafe
    Saat memasuki bulan Ramadan, Bahar biasanya melakukan sweeping di beberapa tempat hiburan di Ibu kota. Dia bersama kelompoknya pernah melakukan penyerangan ke Cafe The Most di Pesanggrahan, 2012 lalu. Bahar memimpin pasukannya melakukan perusakan dan penganiayaan di cafe tersebut.

Dihimpun dari berbagai media, aksi perusakan itu ternyata sudah dilakukan dua minggu sebelum kejadian dilangsungkan. Karena itu diduga dia sengaja melakukan tindakan pelanggaran hukum.

  1. Ditangkap saat konvoi dan diketahui membawa pedang
    Tak lama setelah penyerangan ke Cafe The Most, Bahar ditangkap saat tengah konvoi di jalan. Ia digiring oleh kepolisian dengan bukti senjata tajam (pedang) yang ia bawa.

Dalam kasus tersebut, Bahar dijerat Pasal 170 KUHP tentang perusakan. Ia juga dijerat Pasal 2 Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951.

  1. Menghina Jokowi saat ceramah
    Setelah berbagai kasus yang menimpanya, Bahar tampaknya tidak pernah jera. Ia kembali dilaporkan setelah video ceramahnya yang menyebut Jokowi sebagai banci dan mengatakan haid, beredar.

“Kamu kalau ketemu Jokowi, kamu buka celananya jangan-jangan haid Jokowi itu, kayanya banci itu,” ujar Bahar dalam video yang diunggah di YouTube.

  1. Menantang Jokowi, Tito dan Luhut
    Bahar tidak hanya sekali menghina dan memojokkan pemerintah dan aparat di dalam ceramahnya. Hinaan itu bisa dilihat di video yang diunggah akun Pembela Habib.

Dalam potongan video tersebut, Bahar mengungkapkan dirinya tidak takut dengan aparat hukum maupun presiden dalam menyampaikan kebenaran. Bahkan, ia sedikit memprovokasi dengan menantang pemerintah.

“Muka-muka kayak Tito (Kapolri) kita ketawain saudara-saudara. Apalagi saya, muka kayak Hello Kitty, muka boleh imut-imut begini, nyali mau diadu, ayo. Setan aja saya makan, apalagi Jokowi sama Luhut,” ujar Bahar dalam video tersebut.

  1. Melanggar PSBB (sekarang PPKM)
    Pada Selasa (19/5/2020), Bahar kembali dipenjara karena dinyatakan melanggar syarat asimilasi yaitu memprovokasi masyarakat serta melanggar PSBB (sekarang PPKM).
  2. Aniaya sopir taksi online
    Bahar kemudian kembali dilaporkan oleh seorang sopir taksi online bernama Ardiansyah atas kasus yang sama yaitu penganiayaan yang dilakukan pada September 2018. Bahar mengaku memukul Ardiansyah karena telah menggoda istrinya. Namun, hal tersebut dibantah Ardiansyah. Atas perbuatannya, hakim menjatuhkan vonis tiga bulan penjara kepada Bahar dengan Pasal 351 KUHP ayat 1 juncto Pasal 55. Sedangkan untuk dakwaan primer yakni Pasal 170 tak terbukti. (*)