Oleh : Firza Ahmad )*

Bekas Sekretaris Umum FPI Munarman akhirnya ditangkap polisi karena terlibat terorisme pada selasa (27/4). Aksi Polisi ini dianggap sudah tepat sebagai bentuk implementasi pemberantasan paham radikal dan teror.

Eks Sekretaris Umum (sekum) Front Pembela Islam (FPI) Munarman, telah diamankan oleh pihak kepolisian, ditangkapnya Munarman tersebut rupanya terkait dengan tindak pidana terorisme. Hal tersebut telah dibenarkan oleh Kapolsek Tanah Abang, AKBP Singgih Hermawan.

Sebelumnya Munarman sempat muncul ketika ada temuan benda yang mencurigakan, benda tersebut bertuliskan ‘FPI Munarman’ ditemukan di warung yang berlokasi daerah Limo, Kota Depok Jawa Barat.

Benda mencurigakan tersebut merupakan sebuah kaleng yang dibungkus menggunakan kertas. Saat penemuan, tim gegana dikerahkan untuk langsung bergerak cepat ke lokasi dan melakukan pengecekan.

Munarman berkilah. Ia mengatakan tidak berkaitan dengan benda mencurigakan yang bertuliskan ‘FPI Munarman’.

Sementara itu, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Hengki Haryadi menuturkan, bahwa mantan Sekum FPI tersebut ditangkap sebagai seorang tersangka atas dugaan keterlibatan tindak pidana terorisme.

Ia menuturkan, bahwa saat ini Polres Jakarta Pusat dibantu aparat TNI tengah memberikan bantuan pengamanan terhadap tim Densus 88 yang tengah melakukan penggeledahan di sekitar markas FPI yang berada di Petamburan.

Sementara itu, Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes (Pol) Ahmad Ramadhan mengatakan, mantan Sekretaris umum FPI tersebut akan dibawa ke Polda Metro Jaya untuk dilakukan pemeriksaan.

Ramadhan menjelaskan, alasan ditangkapnya Munarman adalah karena dugaan keterlibatan kasus Baiat di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Selain itu, Munarman juga terlibat dalam kasus Baiat di Makassar dan Medan.

Dirinya melanjutkan, pihak kepolisian juga telah mengungkap sejumlah barang bukti berupa hasil penggeledahan yang dilakukan oleh Densus 88 Antiteror di bekas markas FPI.

Penggeledahan ini dilakukan berkaitan dengan penangkapan eks Sekretaris Umum FPI Munarman terkait dengan kasus kegiatan baiat kepada Negara Islam di Irak dan Suriah atau ISIS yang dilakukan di Jakarta, Makassar dan Medan.

Dalam kesempatan konferensi pers, Ramadhan mengatakan bahwa pihak kepolisian menemukan beberapa tabung berisi serbuk yang dimasukkan dalam botol, dimana serbuk tersebut mengandung nitrat yang sangat tinggi jenis aseton. Kemudian ditemukan pula beberapa botol plastik yang berisi cairan TATP (triacetone triperoxide).

Pihak Kepolisian juga mengatakan bahwa TATP merupakan bahan kimia yang sangat mudah terbakar. Bahan peledak yang menggunakan cairan kimia tersebut tergolong sebagai “high explosive” atau berdaya ledak tinggi.

Ramadhan menilai, temuan sejumlah bahan peledak ini mirip dengan barang bukti yang disita ketika polisi melakukan penangkapan teroris di Condet, Jakarta Timur dan Bekasi, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Bahan peledak tersebut nantinya akan didalami oleh penyidik dari Densus 88 Polri.

Selain bahan-bahan peledak, eks markas FPI tersebut juga didapati menyimpan beberapa atribut organisasi masyarakat, lalu ada pula sejumlah dokumen.

Pihak kepolisian juga telah membawa tiga kotak berwarna putih berukuran besar untuk kemudian dibawa dari Sekretariat Markas FPI dengan menggunakan sebuah minibus menuju Mabes Polri. Sejumlah aparat kepolisian pun terlihat mengawalnya.

Berdasarkan keterangan kepolisian, Munarman diduga telah menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme, bermufakat jahat untuk melakukan tindak pidana terorisme dan menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme.

Sebelumnya, pada awal Februari 2021 lalu, pihak kepolisian telah mengatakan, jika Munarman terbukti terlibat dalam pembaiatan massal kepada ISIS, maka jangan harap Munarman bisa lari dari hukum.

Dugaan keterlibatan Munarman juga diperkuat oleh salah satu terduga teroris dari Jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang juga merupakan simpatisan Front Pembela Islam (FPI) Ahmad Aulia mengatakan, bahwa ada pimpinan FPI pusat yang hadir dalam baiat massal kepada ISIS.

Ahmad mengatakan, dirinya berbaiat kepada Daulatul Islam memimpin Daulatul Islam Abu Bakar Al Baghdadi. Saat deklarasi FPI mendukung Daulatul Islam pada Januari 2015 dirinya berbaiat pada saat itu bersama dengan 100 orang simpatisan dan laskar FPI.

Ia mengaku, bahwa baiat massal ini dilaksanakan di Markas FPI yang berada di Makassar Sulawesi Selatan. Dirinya juga mengklaim bahwa Munarman hadir pada pembaiatan masal tersebut.

Keputusan untuk menangkap Munarman tentu keputusan yang tepat, apalagi setelah adanya pengakuan dari eks anggota FPI dan telah ditemukannya bahan peledak di markas eks FPI.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Bogor

Oleh : Zakaria )*

Penangkapan anggota teroris membawa fakta baru. Mereka pernah dibaiat di markas organisasi massa terlarang. Fakta ini menunjukkan bahwa sudah benar ormas tersebut dilarang beredar di Indonesia, karena berafiliasi dengan teroris dan menyebarkan ajaran radikalisme.

Radikalisme dan terorisme adalah paham yang mengerikan, karena selalu memaksakan kehendak dan pendapatnya. Mereka ingin mendirikan negara khilafiyah dan menolak mentah-mentah pancasila. Padahal sejak tahun 1945 sudah jelas bahwa dasar negara Indonesia adalah pancasila dan kita adalah negara demokratis, bukan negara khilafiyah.

Terorisme dan radikalisme adalah PR besar pemerintah pada awal 2021 ini. Dalam triwulan pertama, sudah ada 2 kasus terorisme yang memakan nyawa, yakni pengeboman di Makassar dan penyerangan Mabes Polri di kawasan Kenayoran Baru, Jakarta Selatan. Teroris makin menggila dan nekat menyerang Mabes yang merupakan markas polisi.

Dari kedua peristiwa tragis ini, polisi makin mengetatkan pengamanan. Baik di kantor polisi, rumah ibadah, maupun fasilitas umum lain. Penyebabnya karena di tempat-tempat itu merupakan sasaran empuk pengeboman atau penyerangan teroris. Di sana ada banyak orang yang bisa jadi korban dan menunjukkan kekuatan mereka.

Akan tetapi, polisi tidak tinggal diam. Densus 88 antiteror lebih intensif melakukan penangkapan teroris. Akhirnya tertangkaplah 4 tersangka yang melakukan terorisme di Makassar. Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan menyatakan bahwa tersangka teroris melakukan baiat di markas FPI yang sekarang dijadikan organisasi terlarang.

Kombes Pol Ahmad melanjutkan, baiat dilakukan oleh Basri dan Abu Bakar Al-Baghdadi. Teroris yang melakukan pengeboman adalah anggota JAD (Jamaah Ansharut Daulah). Organisasi teroris itu berbasis di Filipina dan diduga masih dalam jaringan ISIS. Dalam artian, sudah jelas bahwa aksi terorisme ini direncanakan dan jaringannya sudah internasional.

Baiat adalah proses untuk anggota teroris dalam berjanji setia kepada organisasinya. Jika sudah dibaiat, maka otaknya ‘dicuci’. Dalam artian, anggota teroris dipengaruhi agar ia percaya bahwa negara ini zalim dan pejabatnya adalah toghut yang wajib dibasmi. Terorisme adalah cara mereka untuk berjihad dalam mencapai surga.

Pemikiran yang sangat melenceng ini yang harus diluruskan. Anggota teroris yang sudah tertangkap harus melakukan program deradikalisasi dan membersihkan kembali otaknya dari pemikiran yang ekstrim dan radikal. Karena cara berpikir mereka sangat mengerikan, sampai menghalalkan pembunuhan demi mencapai keinginannya.

Penangkapan teroris selanjutnya ada di daerah Condet, Jakarta Timur. Di kediaman teroris berinisial HH, ditemukan atribut FPI berupa jaket, bendera, dan buku. Fakta ini tidak terlalu mengejutkan masyarakat, karena mereka sejak awal sudah menduga bahwa FPI berafiliasi dengan organisasi teroris. Buktinya, Munarman sebagai petinggi FPI pernah menghadiri baiat organisasi teroris.

Kombes Yusri Yunus, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya menyatakan bahwa kolerasi antara ormas terlarang (FPI) dengan organisasi teroris masih dalam penyelidikan oleh tim penyidik Densus 88. Dalam artian, penyelidikan masih terus berlanjut untuk mengetahui siapa dalang sebenarnya yang menggerakkan para anggota teroris dan apakah benar mereka memanfatkan FPI di Indonesia.

Dengan fakta-fakta ini, maka pembubaran FPI sudah dirasa sangat tepat. Karena mereka menolak pancasila sebagai dasar negara. Juga berafiliasi dengan organisasi teroris. Apalagi FPI dan teroris sama-sama membenci pemerintah dan ingin mengganti konsep negara menjadi kekhalifahan.

Baiat anggota teroris pada organisasi terlarang seperti ISIS membuat masyarakat makin waspada, karena diam-diam banyak anak muda yang direkrut oleh mereka. Masih dalam dugaan bahwa ISIS bekerja sama dengan FPI untuk memuluskan niatnya di Indonesia. Polisi berusaha keras untuk menyelesaikan kasus ini dan mencegah kasus terorisme terulang kembali.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Bogor