Oleh: Rebecca Marian )*

Ulah kelompok separatis teroris (KST) memang tidak bisa dimaafkan, kelompok tersebut secara brutal membunuh warga sipil dan membakar Bandara Ilaga. Mereka juga membakar satu unit pesawat rusak yang parkir di Apron Bandara Aminggaru Ilaga.
Berita terkait pembakaran pesawat tersebut telah dibenarkan oleh Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Arm Reza Nur Patria.

Menurut Reza, tindakan tersebtu tentu sangatlah tidak bertanggung jawab dan menyebabkan instabilitas di Kabupaten Puncak dan pada akhirnya akan mengganggu proses pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah.

Sementara itu, Kapolda Papua, Irjen Mathius D Fakhiri, menyebutkan sempat terjadi aksi baku tembak.

Saat kejadian, aparat keamanan yang berada di Kota Ilaga melihat kepulan asap tebal dari arah Bandara Aminggaru. Selanjutnya, dilakukan pemantauan menggunakan drone dan didapati beberapa fasilitas bandara dalam keadaan terbakar.

Fakhiri menuturkan aparat keamanan gabungan telah menuju ke lokasi kejadian, hingga akhirnya terjadi kontak senjata selama 1 jam.

Polisi mengatakan kontak tembak antara aparat TNI-Polri dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Bandara Ilaga yang terjadi selama 1 jam tersebut, terjadi pada pukul 17.40 WIT. Aparat kepolisian saat itu tengah mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) pembakaran sejumlah fasilitas di bandara yang diduga dilakukan oleh KKB.

Dirinya mengatakan beberapa fasilitas yang dibakar oleh KKB ialah tower/ATC Bandara Aminggaru, ruang tunggu bandara, perumahan perhubungan udara, dan kios milik warga sekitar.

Fakhiri menyebutkan, KST di Kabupaten Puncak Papua tidak hanya membakar fasilitas Bandara Ilaga, Kabupaten Puncak, tetapi juga membakar 3 rumah dinas milik Dinas Perhubungan Puncak, serta 1 unit rumah warga.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal mengatakan, objek yang diserang KKB adalah tower atau air traffic control (ATC) di Bandara Aminggaru Ilaga dengan cara dibakar.

Kamal menjelaskan identifikasi lokasi-lokasi yang terbakar tersebut dilihat dari gambar kamera pesawat tanpa awak (drone) yang diterbangkan di sekitar bandara.

Perwira menengah ini menuturkan, kabar kebakaran tersebut pertama kali diketahui dari adanya kepulan asap hitam yang terlihat di Kota Ilaga.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TNPB) sendiri sempat menabuh genderang perang dengan aparat TNI-Polri. Bahkan beberapa telah memilih untuk melakukan lokasi perang di wilayah Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua.

Juru Bicara TPNB-OPM Sebby Sambom mengatakan lokasi tersebut dipilih karena diklaim jauh dari jangkauan warga sipil.

Pasca pembakaran tower yang dilakukan oleh KST, aparat TNI-Polri menyisir Bandara Ilaga, dalam penyisiran tersebut aparat menemukan dua jenazah korban aksi kebrutalan kelompok teroris. Akibat pembakaran tower bandara tersebut, operasional bandara terpaksa ditutup sementara.

Kasatgas Humas Operasi Nemangkawi Kombes M Iqbal Alqudusy mengatakan, kedua korban telah diidentifikasi. Mereka yakni Nelius Kogoya dan Petena Murib.

Iqbal menyebut KST tidak hanya membakar tower di Bandara Aminggaru. Mereja juga menembak anggota TNI-Polri yang tengah berupaya mengamankan lokasi.

Tim Satgas Nemangkawi masih memburu KST tersebut. Kelompok teroris itu ternyata telah menembak 6 orang. Mereka merupakan warga sipil, akni Habel Halenti, yang tewas ditembak saat berada di Distrik Omukia. Kemudian satu keluarga kepala desa berjumlah lima orang di kawasan Eromaga, Ilaga. Lal ada pula Kepala Desa Nipurlena Petianus Kogoyoa yang turut serta menjadi korban.

Iqbal juga mengatakan, warga dari 10 kampung yang ada di sekitar Eromaga memutuskan untuk mengungsi ke arah Kunga. TNI-Polri, masih mengejar pelaku penembakan warga Eromaga yang diduga bagian dari KKB Talenggeng.

Terbakarnya Bandara ini tentu saja mengganggu akses transportasi, apalagi pesawat yang mendarat tidak hanya membawa penumpang tetapi juga kebutuhan pokok. Akibatnya aktifitas di bandara untuk sementara dihentikan sehingga berdampak pada sulitnya masyarakat untuk mendapatkan pasokan sembako.

Aksi brutal KST yang membunuh warga sipil dan Membakar Bandara rupanya berdampak pada berbagai sektor, mulai dari keamanan sampai ketersediaan logistik. Pemerintah tentu perlu melakukan pengamanan sampai kondisi di bandara benar-benar kondusif dant terkendali, selain itu KST yang terbukti melancarkan aksi teror harus ditangkap untuk mendapatkan hukuman yang setimpal.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Aksi Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah dinilai oleh sejumlah pihak semakin keterlaluan. Terakhir mereka diketahui melakukan penyerangan dan pembakaran pesawat jenis twin otter milik Mission Aviation Fellowship (MAF), di Kampung Pagamba, Distrik Biandoga, Intan Jaya pada 6 Januari lalu. Padahal pesawat ini sering dipakai oleh para misionaris termasuk para pendeta untuk mengunjungi jemaat di kampung-kampung pedalaman.

Melihat situasi ini, Akademisi dari Universitas Cenderawasih (Uncen) Papua, Marinus Yaung mengutuk aksi KKB itu. Dia menjelaskan bahwa pesawat yang sengaja dibakar oleh kelompok teroris OPM tersebut merupakan milik misionaris MAF yang mendedikasikan dirinya untuk mengajarkan agama di wilayah-wilayah terpencil di Papua.

“Apa mau mereka? Ini adalah perjuangan yang bodoh. Para misionaris adalah salah satu profesi yang dilindungi oleh hukum humaniter dan konvensi internasional PBB tentang perang. Jadi mereka harus dilindungi oleh kelompok yang berkonflik,” ujar Marinus Yaung.

Bahkan ia sempat geram karena peristiwa tersebut seolah dibenarkan oleh Jaffrey Bomanak dan Sebby Sambom yang merupakan tokoh dari pihak TPNPB OPM. “Ini adalah catatan kelam dari kelompok biadab. Alasan apa TPNPB OPM menyerang misionaris? Tindakan bodoh sedang dipertontonkan, namun yang lebih bodoh adalah pembelaan dari Jeffrrey dan Sebby,” pungkasnya.

Sementara itu ditempat terpisah, Presiden Persekutuan Gereja-Gereja Baptis West Papua, Socratez S. Yoman menganggap bahwa pembakaran pesawat milik misionaris tersebut sama seperti sedang mencoba membunuh kehidupan bagi Papua. Dirinya tegas mengutuk aksi kelompok separatis itu.

“Pembakaran pesawat MAF yang diisikan para misionaris adalah perlawanan terhadap keagungan Tuhan. Saya mengecam perlakuan yang dilakukan oleh kelompok TPNPB itu,” tegas Socratez S. Yoman.

Lanjut Yoman, pendekatan kedamaian yang dibawa para misionaris menjadi satu-satunya harapan bagi Papua dihancurkan juga oleh kelompok separartis. “Biadab, mereka adalah kelompok biadab yang tidak memakai otak dalam setiap tindakannya. Misionaris itu harapan bagi Papua, mereka menyebarkan ilmu dan firman Tuhan untuk kedamaian tanah Papua, kenapa diteror?,” tutupnya.