Oleh : Made Raditya )*

Indonesia sukses menggelar Bali Democracy Forum ke 14 yang digelar di Bali. Masyarakat pun mengapresiasi kepiawaian Pemerintah dalam menggelar acara internasional tersebut meskipun di tengah Pandemi Covid-19.
Bali Democracy Forum adalah acara yang diadakan di Bali dan dihadiri oleh perwakilan-perwakilan dari negara Asia Pasifik. Forum ini pertama kali diselenggarakan tahun 2008 dan diinisiasi oleh Indonesia. Pembahasan saat Bali Democracy Forum biasanya berkutat pada demokrasi, hak asasi manusia, kesetaraan, dan mutual respect.

Tahun 2021 ini merupakan pertemuan Bali Democracy Forum ke-14 dan diadakan di Pulau Dewata tanggal 9 desember 2021. Ketika masih pandemi, maka forum ini diadakan secara hybird alias sebagian virtual dan sebagian langsung. Para perwakilan duta besar asing datang ke Bali (setelah sebelumnya mengunjungi Jakarta) dan pembicaranya hadir via online.

Penyelenggaraan secara hybird dilakukan karena ada pembatasan di beberapa negara tetangga, tetapi tidak mengurangi kemeriahan Bali Democracy Forum. Sejak awal pandemi kita sudah biasa online meeting sehingga pertemuan secara virtual juga tak masalah.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi membuka Bali Democracy Forum dan menjelaskan temanya, yakni Democracy for Humanity Advancing Economic and Social Justice During the Pandemi. Tema ini sangat relevan dengan situasi saat ini dan merupakan lanjutan dari pertemuan Bali Democracy Forum tahun lalu, yakni Democracy and Covid-19 Pandemic.

Menteri Retno melanjutkan, Bali Democracy Forum dihadiri oleh 355 perwakilan dari 95 negara di kawasan Asia Pasifik. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres hadir dan menjadi sosok istimewa. Selain itu juga ada Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken.

Masyarakat mendukung suksesnya Bali Democracy Forum mengingat pentingnya misi acara ini, yakni menegakkan demokrasi. Paham demokrasi menjadi penting karena bisa menyuarakan kebutuhan rakyat tetapi tidak bablas menjadi liberal.

Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Teuku Faizasyah menyatakan bahwa dalam Bali Democracy Forum, negara-negara peserta akan berkolabrasi menghadapi efek pandemi Covid-19. Ada 3 bahasan penting pada pertemuan tahun ini yakni mengatasi kemiskinan, ketidaksetaraan, dan inklusivitas.

Teuku melanjutkan, di tengah berbagai tantangan yang muncul akibat pandemi, demokrasi sebagai salah satu tata pemerintahan atau pilihan sistem pemerintahan diharapkan tetap dapat memberikan yang terbaik bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat di bidang ekonomi dan sosial.

Dalam artian, penyelenggaraan Bali Democracy Forum masih ada di masa pandemi karena mengkampanyekan demokrasi sebagai sistem untuk menyehatkan perekonomian. Saat masih ada Corona kita tidak bisa diam saja. Melalui sistem demokrasi maka rakyat boleh bersuara dan mendukung pemerintah dalam mengembalikan lagi kesehatan finansial Indonesia.

Ketika Bali Democracy Forum diadakan maka setelah dibuka oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, dilanjutkan dengan pandangan dari pihak expert dan dilanjutkan dengan diskusi. Diharap setelah diskusi akan muncul solusi untuk bekerja sama mengatasi dampak pandemi.

Bali Democracy Forum wajib didukung karena bukan sekadar acara kumpul-kumpul, melainkan bisa membentuk citra positif Indonesia sebagai negara yang benar-benar menerapkan sistem demokrasi di negerinya. Pertemuan dengan banyak perwakilan anggota lain juga penting karena bisa mengawali kolaborasi sehingga ada kerja sama yang bagus untuk menangani Corona.

Walau masih pandemi tetapi Bali Democracy Forum tetap diselenggarakan, mengingat pentingnya acara ini. Saat forum internasional ini dilakukan maka akan tercetus kerja sama yang baik antar perwakilan negara-negara di Asia Pasifik, terutama untuk mengatasi dampak pandemi global. Masyarakat mendukung acara ini karena sangat baik untuk masa depan Indonesia.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Putu Prawira )*

Bali Democracy Forum adalah ajang tahunan yang digelar di Pulau Dewata, yang mempertemukan negara-negara di Asia yang berazas demokrasi. Meski di tengah pandemi, Indonesia siap menyelenggarakan acara internasional ini sesuai dengan protokol kesehatan, sehingga patut untuk diapresiasi.

Sejak tahun 2008, di Pulau Dewata diselenggarakan Bali Democracy Forum, dan diadakan per tahun. Tujuan acara ini untuk memperkuat kapasitas demokrasi dan institusi demokrasi dengan diskusi lintas negara (Asia). Perwakilan dari negara-negara lain (datang dengan senang hati, karena bisa beraudensi sekaligus menikmati keindahan alam Bali.

Tahun 2021 masih pandemi tetapi Indonesia tetap menggelar Bali Democracy Forum, pada tanggal 9 Desember di Nusa Dua. Topik pada pertemuan tahun ini adalah membahas dampak pandemi Corona terhadap kemanusiaan. Hal ini dijelaskan oleh Teuku Faizasyah, Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik.

Teuku melanjutkan, meski di tengah pandemi, Bali Democracy Forum tetap diselenggarakan karena memakai sistem hybird. Maksudnya adalah sebagian peserta datang langsung ke lokasi dan sebagian mengikutinya secara virtual. Hal ini bisa meminimalisir resiko karena ruang pertemuan tidak penuh, sehingga bisa jaga jarak. Apalagi saat ini marak Corona varian omicron sehingga harus makin waspada.

Selain itu, semua peserta dan panitia pakai masker dan mematuhi protokol kesehatan lain. Semua orang juga harus melakukan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) sebelum mendatangi Bali Democracy Forum, sehingga meminimalisir resiko terbentuknya klaster Corona baru. Pengetatan protokol kesehatan sangat penting untuk keamanan bersama.

Indonesia menyelenggarakan Bali Democracy Forum karena acara ini sangat penting. Temanya memang hampir sama dengan tahun lalu, tetapi kali ini lebih fokus ke aspek kemanusiaan terhadap dampak pandemi, terhadap upaya untuk memajukan keadilan ekonomi dan keadilan sosial.

Bali Democracy Forum diciptakan untuk membantu mewujudkan terbentuknya tata bangun demokrasi yang kokoh di kawasan, melalui praktik berbagi pengalaman dan praktik terbaik dengan menganut prinsip-prinsip persamaan, saling pengertian, dan menghargai.

Teuku melanjutkan, tema Bali Democracy Forum penting karena pandemi menyebabkan keterpurukan ekonomi dan sosial yang besar pada masyarakat di seluruh dunia. Dengan demikian, hal itu berdampak pada sistem demokrasi untuk bisa menjadi salah satu sistem pemerintahan yang efektif menjalankan fungsi pemerintahan.

Intinya adalah di tengah berbagai tantangan yang muncul di tengah pandemi, demokrasi sebagai salah satu tata kelola pemerintahan atau pilihan sistem pemerintahan diharapkan tetap memberikan yang terbaik sesuai dengan pemenuhan dasar kebutuhan manusia di bidang ekonomi dan keadilan sosial.

Pandemi memang tak hanya berlaku di Indonesia tetapi juga di dunia. Apalagi di kawasan Asia, dampaknya juga terasa, terutama di bidang ekonomi. Dampak pandemi bisa mengerikan jika tidak ada kerja sama antar negara. Sehingga Bali Democracy Forum penting untuk mewujudkan kerja sama dan solidaritas antar negara Asia.

Jika ada kerja sama maka dampak pandemi, terutama di bidang kemanusiaan, akan tidak terlalu terasa.Misalnya negara yang sudah bisa memproduksi vaksin Corona akan memprioritaskan negara lain yang jadi anggota Bali Democracy Forum. Selain itu, negara lain yang butuh bantuan obat-obatan, APD, alat kesehatan, atau yang lain, akan segera mendapatkan paket bantuan.

Bali Democracy Forum adalah ajang yang sangat bagus untuk mempererat persahabatan antar negara di kawasan Asia. Meski masih pandemi tetapi acara ini tetap diselenggarakan karena manfaatnya banyak, dan mengusung tema mengatasi dampak pandemi di bidang kemanusiaan. Publik tak usah takut karena Bali Democracy Forum diadakan sesuai dengan protokol kesehatan yang ketat.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini