Jakarta – Warga DKI Jakarta yang mengatasnamakan Tim Advokasi Korban Banjir DKI Jakarta bersiap menggugat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Mereka mengklaim secepatnya akan melayangkan gugatan kepada Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan karena dianggap merugikan masyarakat akibat banjir di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Diarson Lubis, Sh bersama dua orang dari tim advokasi lainnya yaitu Alvon K. Palma, SH, dan Ridwan Darmawan, SH punya alasan sendiri mengapa melayangkan gugatan tersebut kepada Anies Baswedan. “Gugatan akan dilakukan secepatnya. Alasannya karena ada hak masyarakat yang merasa dirugikan. (Tergantung dengan klasifikasi dari masyarakat yang dirugikan),” ujar Diarson Lubis setahun yang lalu .

Menurutnya, Anies dinilai melakukan perbuatan melawan hukum, di mana yang menjadi parameternya adalah undang-undang dan peraturan-peraturan yang ada. “Perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yg bertentangan atau tidak dilakukan sesuai peraturan yang berlaku, soal yang mana dilanggar kami inventarisasi dengan aduan masyarakat, karena masing-masing kelas berbeda akibat yang ditimbulkan,” tuturnya.

Tim Advokasi juga menyebut beberapa upaya hukum yang dapat ditempuh diantaranya adalah pengajuan gugatan perdata tuntutan ganti rugi bagi para korban banjir melalui mekanisme Class Action. “Ganti rugi belum konkret karena kerugian masing masing kelas berbeda beda, ini baru bisa disimpulkan setelah data final. (Finalisasi data) dilakukan awal minggu depan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Sekelompok orang yang menamakan diri Tim Advokasi Korban Banjir DKI Jakarta, bakal melakukan upaya hukum pada kepada Pemprov DKI termasuk mantan Menteri Pendidikan itu. “Banjir yang terjadi pada 1 Januari 2020 yang lalu, telah mengakibatkan hampir seluruh wilayah dan jalan utama di Jakarta tenggelam,” ujar tim tersebut setahun yang lalu.

“Banjir besar kali ini diduga kuat adalah akibat ketidakmampuan dan kelalaian Pemprov DKI cq Gubernur Anies Baswedan dalam pencegahan dan penanggulangan banjir yang mana juga telah mengakibatkan jatuhnya sejumlah korban jiwa dan kerugian materiil yang sangat besar.” (*)

Bencana banjir yang melanda sejumlah daerah di Provinsi Kalimantan Tengah, direspon secara tanggap oleh Badang Intelejen Negara Daerah (Binda) Kalimantan Tengah. Bahkan Kabinda Kalimantan Tengah Brigjen TNI Sinyo menyambangi langsung salah satu daerah terdampak banjir, yakni Desa Pembuang Hulu l, Kecamatan Hanau, Kabupaten Seruyan.

Selain meninjau kondisi banjir, Kabinda dan Tim juga menyerahkan sejumlah bantuan dan dukungan moril kepada masyarakat yang terdampak banjir, Jumat (3/8/2021).

“Binda Kalimantan Tengah sesuai arahan kepala BIN, selalu hadir di tengah-tengah masyarakat, terutama yang sedang mengalami musibah. Oleh karena itulah, kami hadir di Desa Pembuang Hulu l yang saat ini sedang tertimpa musibah,” uajr Kabinda Kalteng setelah menyerahkan bantuan secara simbolis.

Lebih lanjut pria berpangkat perwira TNI dengan Bintang Satu di Pundak ini menjelaskan, kehadirannya bersama tim diharapkan bisa memberikan dukungan moril bagi masyarakat dalam menghadapi banjir ini.
“Dalam kondisi bencana, dukungan moril dan materil sangat dibutuhkan oleh masyarakat yang terdampak sembari mendukung langkah-langkah penanganan yang terus dilakukan,” ucap Brigjen Sinyo.

Di tempat yang sama, Kepala Desa Pembuang Hulu l Muhamad Firdaus mengatakan, akibat bencana banjir yang terjadi, warga setempat tidak melakukan aktifitas sebagai mestinya.

“Mobilitas warga terhambat karena banjir yang merendam pemukimannya,” jelas Firdaus.

Firdaus juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kabinda Kalteng yang telah memberikan bantuannya.

“Sebagai Kepala Desa dan atas nama warga, kami mengucapkan terima kasih kepada Binda Kalteng yang telah memberikan bantuan dan sumbangannya,” ungkap Firdaus.

Oleh : Zakaria )*

Banjir yang melanda Kalimantan Selatan benar-benar memilukan, karena ketinggian air lebih dari 2 meter. Bencana banjir berstatus tanggap darurat karena debit air terus bertambah. Presiden menginstruksikan semua pihak untuk mengatasi banjir di Banua, agar para pengungsi selamat.

Sejak rabu, 13 januari 2021, Kalimantan Selatan diguyur hujan deras sehingga Sungai Pelaihari meluap. Hal ini mengakibatkan banjir di 7 Kabupaten/ Kota, yakni Kota Banjar Baru, Kota Tanah Laut, Kabupaten Tapin, Kabupaten Banjar, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kabupaten Tabalong, dan Kabupaten Balangan.

Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penaggulangan Bencana memaparkan bahwa ada 27.111 rumah yang terendam bajir dan 127.709 warga yang mengungsi. Karena banjir makin tinggi (lebih dari 2 meter) dan air belum juga surut, maka bencana ini berubah statusnya menjadi tanggap darurat nasional.

Presiden Jokowi memerintahkan berbagai pihak untuk mengirimkan bantuan secepatnya, termasuk Kepala BNPB, Panglima TNI, dan Kapolri. Bantuan yang utama juga termasuk perahu karet, karena sangat dibutuhkan dalam penanganan bencana banjir di Kalimantan Selatan. Beliau juga berkoordinasi dengan Gubernur Kalsel untuk mendapatkan laporan terkini.

Presiden juga mengingatkan masyarakat untuk selalu waspada terhadap bencana alam akibat cuaca ekstrem. Dalam artian, ketika status bencana banjir ditingkatkan jadi tanggap darurat, maka akan ada evakuasi, penyelamatan, pemberian bantuan, dan perlindungan bagi korban sesegera mungkin. Setelah bencana berakhir maka ada pemulihan sarana dan prasarana.

Pemkot Banjarmasin langsung menanggap instruktur Presiden dengan mendirikan posko di 5 kecamatan dan 52 kelurahan. Sementara, warga mengungsi di ruang publik dan disediakan tak kurang dari 1.500 nasi bungkus per hari. Masyarakat sangat butuh bantuan, karena bisa jadi mereka mengungsi tanpa membawa bekal atau uang kontan.

Bantuan juga mengalir dari masyarakat, bahkan dari luar Kalimantan. Sumbangan berupa sembako dan uang sanagt diapresiasi oleh masyarakat Banua, karena sebagai sesama WNI, mereka memberi perhatian. Pemerintah daerah juga membantu koordinasi agar bantuan benar-benar sampai hingga ke tangan para pengungsi.

Kepala Dinas Sosial Banjarmasin Iwan Ristianto menjelaskan bahwa banjir belum bia ditanggulangi, karena masih hujan deras dan ketinggian air sungai bertambah. Bahkan ada daerah yang ketinggian airnya sampai 3 meter. Namun ia memastikan ada dapur umum yang didirikan di tiap kecamatan, agar para pengungsi selamat dan tidak kelaparan.

Dapur umum sangat penting karena pengungsi sangat butuh logistik. Namun perlu diperhatikan lagi, apakah menunya bergizi atau tidak. Pemerintah daerah Kalsel mengatur agar jangan sampai para pengungsi hanya makan mi instan, karena adanya itu. Apalagi di musim hujan dan banjir, mereka mudah masuk angin dan butuh makanan yang layak untuk dikonsumsi.

Selain itu, untuk masalah lokasi pengungsian juga perlu koordinasi yang teliti. Saat ini masih masa pandemi, sehingga tidak boleh ada pengungsi yang tidur berdesakan dalam ruang yang sempit. Protokol kesehatan seperti jaga jarak dan memakai masker harus tetap ditaati, agar semua pengungsi dan tim SAR, serta perwakilan pemda tidak tertular corona.

Para pengungsi juga selalu diingatkan agar rajin cuci tangan. Apalagi saat banjir, mereka mudah terkena diare, dan salah satu pencegahannya adalah perilaku hidup bersih. Cuci tangan bisa mencegah sakit perut, batuk pilek, dan menolak virus covid-19. Koordinator pengungsi juga memastikan mereka semua menaati protokol kesehatan.

Bencana banjir yang terjadi di Kalimantan Selatan membuat pengungsi sedih karena rumah mereka terendam air. Presiden langsung tanggap dan mengutus bawahannya agar membereskan banjir, dan mengrim bantuan sesegera mungkin. Bantuan yang diberi tak hanya berupa sembako, makanan, dan pakaian, namun juga perahu karet untuk evakuasi.

)* Penulis adala warganet tinggal di Bogor