suaratimur.id – Aksi Demonstrasi Penolakan Kebijakan Otonomi Khusus (Otsus) dan Kebijakan Pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) di Papua secara umum berlangsung kondusif. Hal tersebut menjadi keberhasilan pihak aparat keamanan dan jajaran terkait melalui beberapa teknis antisipasi dan pengajuan syarat yang dilakukan terhadap pendemo sebelum hari pelaksanaan berlangsung.

Meskipun begitu, di beberapa titik masih terdapat kericuhan kecil yang secara sigap berhasil diantisipasi dan dikendalikan oleh aparat kepolisian. Untuk diketahui bahwa dalam merespon aksi ini, aparat keamanan menurunkan sebanyak 2000 personil gabungan yang disiagakan di beberapa tempat.

Massa Aksi Langgar Larangan Long march

Seperti yang dijelaskan sebelumnya oleh Kapolresta Jayapura Kota, Ajun Komisaris Besar (AKBP) Victor Dean Mackbon, bahwa pihak kepolisian sejak awal menolak adanya aksi demonstrasi karena beberapa syarat yang diajukan tidak dapat dipenuhi oleh koordinator aksi, yakni Petisi Rakyat Papua (PRP). Namun begitu, jika memang aksi tetap dilaksanakan karena merupakan hak warga negara dalam menyuarakan pendapat sesuai undang-undang. Pihak kepolisian akan menfasilitasi massa aksi dengan menyediakan kendaraan truk untuk bertemu dengan pihak DPR Papua ataupun memfasilitasi titik penyampaian aspirasi, seperti di Perumnas Waena II dan Jalan Biak Abepura. Namun secara tegas pihak kepolisian melarang keras adanya long march dari titik manapun. Jika masih terdapat kegiatan tersebut, maka akan segera ditindak tegas.

Sebuah narasi pemberitaan muncul dari media online Jubi.id menyatakan bahwa massa yang tergabung dalam Petisi Rakyat Papua (PRP) dihadang, dipukul, ditangkap, dan ditembaki gas air mata oleh aparat keamanan di depan Gapura Universitas Cenderawasih Abepura dan Kampus USTJ. Koordinator lapangan aksi, Gerson Pigai menjelaskan bahwa pihak kepolisian menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa yang mulai bergerak sejak pagi dari titik aksi expo menuju Abepura. Hal yang sama juga dirasakan oleh pengunjuk rasa dari titik USTJ yang akan bergerak keluar kampus dari pukul 06:58 WIT. Sementara di titik lingkaran, aksi yang dimulai pukul 06.15 WIT dihadang di titik keluar jalan Biak Lingkaran. Sedangkan pengunjuk rasa di Titik Sentani Pos 7 atas mulai bergerak 06.54 WIT dipukul mundur ke halaman kampus Walterpos, Sentani.

Seluruh kejadian tersebut memiliki satu keterkaitan sebab, yakni pelarangan adanya long march yang sebelumnya telah disampaikan oleh pihak kepolisian namun tidak diindahkan oleh massa peserta aksi. Merasa terpojok, beberapa perwakilan massa justru membuat keterangan kepada sejumlah wartawan peliput berupa tuduhan bahwa pihak kepolisian bertindak represif. Padahal sebelumnya sudah jelas dikatakan oleh pihak kepolisian bahwa larangan long march untuk mencegah agar tidak mengganggu situasi kamtibmas. Jika terjadi suatu hal yang melawan petugas, maka akan terdapat langkah tegas dari kepolisian.

Waspada Unggahan Foto Hoaks dari Massa Aksi untuk Memprovokasi Masyarakat

Namun, seperti tak ingin kehilangan momentum dalam hari kegiatan aksi, sejumlah oknum dari PRP kemudian mengunggah konten lama berisikan foto demonstran yang terluka. Dalam narasinya, mereka menuduh pihak kepolisian bertindak represif. Padahal foto yang diunggah adalah kejadian lama.

Menanggapi hal tersebut, Kapolresta Jayapura Kota AKBP Victor Dean Mackbon   membantah bahwa hal tersebut termasuk hoaks yang sengaja dilempar oleh massa aksi untuk memprovokasi masyarakat. Foto tersebut merupakan file lama yang diunggah ulang oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Pihaknya juga sudah memastikan dengan mengecek postingan tersebut serta akan dilakukan penyelidikan lebih lanjut terhadap akun media sosial Facebook yang menyebarkan foto hoaks tersebut. Dalam unggahan tersebut disebut terdapat massa aksi terluka di wilayah expo, namun kenyataannya di wilayah tersebut tidak terdapat massa yang melakukan aksi dan juga tidak dilakukan pembubaran paksa oleh aparat.

Kapolres kembali mengimbau kepada masyaraka agar tidak cemas dan mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan menyebarkan berita bohong atau hoaks.

Ditemukan Bendera Bintang Kejora, Aksi Ditunggangi Kelompok Separatis

Salah satu kekhawatiran berikut dengan antisipasi yang telah dilakukan oleh aparat sebelumnya, menemui kenyataan. Dalam aksi yang berfokus pada penolakan Otsus dan Kebijakan DOB tersebut Polisi mengamankan adanya bendera bintang kejora di Sorong Papua Barat. Bendera tersebut diamankan saat massa melakukan long march dari depan lampu merah Remu menuju kantor DPRD Kota Sorong.

Massa aksi penolakan DOB di Timika juga menyusupkan poin tuntutan referendum dalam aksinya.

Situasi Terkendali, Massa Aksi Berangsur-angsur Membubarkan Diri

Secara keseluruhan aksi yang dilaksanakan di berbagai titik tersebut dinyatakan kondusif oleh aparat kepolisian. Kepala Bidang Humas Polda Papua Kombes Pol. Ahmad Musthofa Kamal menyatakan bahwa aksi unjuk rasa yang berlangsung di sejumlah daerah tersebut berlangsung aman.

Pada sejumlah wilayah di Provinsi Papua berlangsung aksi unjuk rasa penolakan Daerah Otonomi Baru (DOB) yang dilakukan oleh massa yang mengatasnamakan Petisi Rakyat Papua (PRP), KNPB Baliem di Kabupaten Jayawijaya dan Fopera di Kabupaten Paniai. Polda Papua dan Polresta Kota Jayapura telah melakukan patroli dan penyekatan serta razia di beberapa titik untuk mengantisipasi berkumpulnya massa yang lebih banyak. Personel gabungan masih melakukan pengamanan di titik-titik kumpul massa. Di beberapa daerah massa telah membubarkan diri dengan tertib.

Sekali lagi, bahwa beredarnya video, foto dan narasi yang mengatakan adanya bentrokan antara aparat keamanan TNI dan Polri dengan massa di lapangan. hal tersebut tidak benar. Kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dengan menyebarkan berita yang belum tentu benar atau hoaks.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)