suaratimur.id – Ragam upaya dari misi panjang kelompok separatis di Papua tak henti-hentinya dilakukan melalui berbagai manuver. Seperti halnya sebuah organisasi yang memiliki perencanaan dan agenda, tindakan manuver yang mereka lakukan dilaksanakan beragam dengan waktu yang tak berpola. Bahkan, dalam beberapa waktu terakhir tindakan yang dilakukan tak hanya berwujud gangguan keamanan, namun sudah menargetkan korban jiwa dari beberapa wilayah yang berbeda dan acak.

Masih kita ingat adanya aksi demonstrasi penolakan kebijakan pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) beberapa waktu lalu di sejumlah daerah. Kelompok separatis secara sengaja menunggangi dengan turut serta mengikuti aksi namun memiliki misi akhir penyampaian pesan kemerdekaan. Kemudian, beberapa aksi penyerangan yang dilakukan tak hanya bersifat balas dendam atas terbunuhnya anggota kelompoknya yang sebenarnya sudah terlihat polanya, namun lebih dari itu serangan sengaja dilakukan terhadap warga sipil di beberapa wilayah secara bergantian. Secara tersirat mereka seperti sedang menunjukkan pesan keberadaannya dan meminta pemerintah untuk waspada terhadap pergerakannya.

Kelompok Separatis Lancarkan Hoaks Isu Senjata Pemusnah Massal

Dalam sebuah pemberitaan dari kantor berita Inggris Reuters disebutkan bahwa hampir 2.500 mortir dari Serbia dibeli Badan Intelijen Negara (BIN) kemudian dimodifikasi untuk menumpas kelompok separatis Papua. Sumber pemberitaan tersebut diperoleh dari sebuah lembaga riset bernama Conflict Armament Research (CAR) yang berbasis di London, Inggris. Namun, Reuters sebagai media yang memberitakan tak dapat secara independen mengonfirmasi aspek-aspek tertentu dari laporan CAR, termasuk apakah BIN telah menerima kiriman tersebut.

Menjawab tuduhan tersebut, BIN melalui Deputi II Bidang Intelijen Dalam Negeri, Mayjen TNI Edmil Nurjamil membantah laporan dari CAR. Menurutnya, pihaknya tak memiliki peralatan tersebut. Mortir yang dimaksud adalah milik TNI yang juga telah diakui oleh Pangdam di wilayah Papua. Dalam pemberitaan media online Kompas.com 1 Desember 2021, Pangdam Cenderawasih kala itu, Mayjen Ignatius Yogo Triyono membenarkan bahwa pasukannya menembakkan mortir di Kiwirok.

Pengamat Intelijen dan Keamanan, Stanislaus Ryanta turut menyorot adanya tudingan BIN menggunakan mortir dari Serbia di Papua. Menurutnya tudingan tersebut menyesatkan masyarakat. Tugas BIN adalah mengumpulkan informasi, bukan melakukan operasi militer. Informasi soal penggunaan mortir jelas tudingan kejam dengan strategi disinformasi yang menyesatkan. Dirinya tidak heran dengan adanya hoaks yang beredar. Pasalnya, para simpatisan dan pendukung separatisme di Papua beberapa waktu lalu juga menyebarkan video suntingan yang bermaksud menyudutkan pemerintah Indonesia.

Secara Teknik, tudingan tersebut merupakan strategi dari kelomok separatis untuk mendapatkan simpati yang disebut active measures. Yakni suatu strategi perang politik yang dalam sejarahnya dulu pernah digunakan Uni Soviet pada dekade 1920an. Strategi propaganda dengan menyebarkan disinformasi biasa digunakan oleh kelompok separatis di mana pun di dunia. Skenarionya yakni menyebarkan informasi palsu yang menyudutkan pemerintahan sah. Pihak pendukung separatisme di Papua sudah terbiasa menyebarkan propaganda dan hoaks untuk menyudutkan otoritas negara dan mencari dukungan dunia internasional.

Menggunakan Hoaks untuk Berkelit dari Kesalahan

Strategi penggunaan hoaks juga ternyata dijadikan kelompok separatis, selain untuk memicu keresahan publik, juga sebagai media untuk berkelit dari kesalahan yang pernah dilakukan. Sejumlah rentetan kejadian pernah menjadi jejak yang tak terlupakan dalam manuver kelompok separatis tersebut.

Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III pernah meluruskan hoaks tentang tewasnya tiga wanita di Kabupaten Puncak Papua yang ditembak aparat militer Indonesia. Kabar tersebut beredar dari pemberitaan sebuah media online partisan. Kabar yang ternyata hoaks tersebut sengaja disebarkan oleh kelompok separatis Papua. Secara tegas, Kepala Penerangan (Kapen) Kogabwilhan III Kolonel Czi IGN Suristiawa mengatakan, tidak ada kejadian seperti yang diberitakan. Kelompok separatis OPM yang didukung oleh front politik dan klandestin di antaranya jurnalis, media dan pegiat media sosial secara aktif menyebarkan hoaks untuk menyudutkan pemerintah. Apabila teroris OPM membakar sekolah, membunuh guru dan menebar teror lain, pendukung mereka tidak komentar apa-apa. Hoaks tersebut juga turut disebarkan oleh aktivis pro Papua merdeka dengan tujuan memfitnah tim gabungan TNI-Polri.

Dalam menjalankan aksinya, setidaknya terdapat 2 media online dimana pimpinan dan redakturnya sangat intens berhubungan dengan sosok Veronica Koman sebagai influencer. Setiap propaganda yang dimuat media pendukung kelompok separatis OPM, selalu menjadi bahan kicauannya di twitter. Penggalangan opini melalui hoaks dibuat untuk menarik perhatian publik, Pendukung separatis OPM juga menyebar fitnah terkait hancurnya Gereja Kingmi yang bertujuan memprovokasi jemaat gereja, baik lokal, nasional, maupun internasional. Salah satu faktor strategi hoaks dilancarkan adalah karena terdesaknya posisi kelompok separatis.

Di lain kesempatan, juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-OPM (TPNPB-OPM) Sebby Sambom juga menyebarkan isu yang menyebutkan bahwa TNI-Polri melempar bom ke perkampungan penduduk di Papua. Dalam tuduhannya, aparat dengan kekuatan penuh dilengkapi dengan pasukan khusus bernama Pasukan Setan menyerang perkampungan penduduk lokal di Ilaga. Terdapat 40 kali serangan udara dari TNI-Polri. Serangan tersebut diklaim menggunakan helikopter. Menanggapi hal tersebut, Kasatgas Humas Nemangkawi Kombes Pol Iqbal Alqudusy menegaskan, bahwa kabar tersebut adalah hoaks. Dirinya mengimbau agar masyarakat tidak mempercayai informasi tersebut. Untuk diketahuti bahwa Sebby Sambom adalah juru bicara yang sudah tidak diakui lagi oleh TPNPB.

Sebelumnya Sebby Sambom juga sempat mengklaim bahwa aparat keamanan TNI-Polri telah menewaskan remaja berusia 17 tahun. Padahal, nyatanya dua anggota Kelompok Separatis Papua yang tewas dalam kontak senjata dengan TNI-Polri dipastikan telah berusia dewasa. Hal tersebut dibenarkan oleh Kapolres Mimika AKBP I Gustri Era Adinata. Sebby secara sengaja telah menebar hoaks soal tewasnya remaja berusia 17 tahun, untuk memunculkan kesan negatif terhadap TNI-Polri.

Masyarakat Papua Agar Tak Mudah Terhasut Pernyataan Kelompok Separatis

Sebagai cara dan upaya untuk melancarkan misinya, sudah pasti segala hal dilakukan oleh kelompok separatis untuk menarik perhatian pemerintah, bahkan hingga dunia internasional. Sebagai masyarakat yang melek informasi dan media, menjadi tanggung jawab kita semua untuk mampu bersikap kritis serta memperhatikan sepak terjang kelompok separatis dalam bermanuver. Sehingga ke depan tidak ada pihak yang termakan isu murahan oleh kelompok pembelot yang telah mengusik kedamaian bumi cenderawasih tercinta.

__

Agus Kosek

(Pemerhati Masalah Papua)

Oleh : Reza Kurniawan )*

Pemerintah melalui Badan Intelijen Negara (BIN) terus mengoptimalkan vaksinasi di masa pelonggaran masker. Upaya ini ditempuh untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat demi terwujudnya percepatan pemulihan ekonomi.

Vaksinasi telah terbukti efektif dalam upaya penanganan pandemi Covid-19, hal ini dibuktikan dengan melandainya kasus Covid-19 pasca pemerintah mengizinkan masyarakat untuk mudik. Meski demikian Masih ada beberapa wilayah yang belum sepenuhnya mendapatkan vaksin secara intensif.

Badan Intelijen Negara (BIN) telah mengintensifkan vaksinasi Covid-19 di lima kabupaten/kota di Kalimantan Timur untuk mengejar rasio capaian vaksin serta pemulihan ekonomi. Lima wilayah itu adalah Berau, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Kutai Barat dan Mahakam Ulu.

Kepala BIN Daerah Kalimantan Timur Brigjen TNI Danny Koswara mengungkap capaian vaksinasi di Kalimantan Timur tergolong baik untuk dosis pertama, yakni sebesar 100,95% dari target. Sementara untuk dosis kedua tercatat 88,11 persen dan dosis ketiga 25,99 persen.

Danny berujar, untuk dosis kedua dan ketiga memang masih harus dikejar. Caranya yakni mengintensifkan kegiatan vaksinasi di wilayah yang banyak daerah dengan kategori 4T (terjauh, terpencil, terluar dan terdalam) agar capaian dosis kedua dan ketiganya dapat mengalami kenaikan secara cepat.

Lebih lanjut Danny menuturkan bahwa pemenuhan target vaksinasi sangatlah penting meskipun kasus Covid-19 semakin terkendali. Dirinya menjelaskan bahwa kini masyarakat bisa dengan leluasa beraktivitas usai pemerintah melakukan pelonggaran.

Danny juga menjelaskan, berkat vaksinasi yang pemerintah gencarkan selama dua tahun terakhir, pandemi menjadi semakin terkendali dan pelonggaran aktivitas sosial semakin luas. Hal ini tentu saja harus kita syukuri dengan cara melanjutkan vaksinasi hingga tuntas ke dosis ketiga, sehingga kekebalan komunal bisa semakin meningkat.

Saat ini pemerintah telah memperbolehkan masyarakat untuk melepas maskernya saat berada di ruangan terbuka. Selain itu warga yang telah divaksinasi booster tidak perlu melakukan tes antigen serta PCR.

Danny memaparkan, pemerintah akan memberikan pelonggaran sesuai dengan hasil asesmen berbagai parameter pandemi. Karena pemerintah juga menginginkan pemulihan perekonomian masyarakat berlangsung dengan baik. Karena itulah BIN mendukung upaya tersebut dengan meningkatkan capaian vaksinasi.

Perlu diketahui Vaksin Booster atau yang dikenal sebagai penguat vaksin merupakan dosis vaksin tambahan yang bertujuan untuk memberikan perlindungan ekstra terhadap penyakit karena efek dari beberapa vaksin yang dapat menurun seiring waktu.

Vaksin booster umum diberikan pada infeksi virus seperti tetanus, difteri dan pertusis (DtaP) yang membutuhkan booster setiap 10 tahun. Pemberian vaksin booster akan membantu sistem kekebalan mengingat virus penyebab penyakit. Jika tubuh kembali terpapar virus tersebut, antibodi dapat mengenali dan membunuhnya sebelum menyebabkan kerusakan.

Sebelumnya, Irjen Pol Fadil Imran selaku Kapolda Metro Jaya menyebutkan, 60 persen angka kematian akibat Covid-19 disebabkan karena pasien belum menjalani vaksinasi Covid-19.

Selain itu, penyebab kematian Covid-19 lainnya adalah pasien yang merupakan lansia dan memiliki riwayat penyakit bawaan. Hal tersebut disampaikan Fadil ketika meninjau langsung percepatan akselerasi vaksin dengan video conference bersama Presiden RI Joko Widodo di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang.

Dia juga mengajak masyarakat yang belum vaksin atau belum menjalani vaksinasi secara lengkap untuk segera melakukan vaksinasi.
Juru Bicara Satgas penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito mengatakan kekebalan yang ditimbulkan vaksin memang memiliki banyak peran dalam mencegah keparahan gejala, perawatan di rumah sakit, hingga kematian.

Vaksinasi sendiri merupakan prosedur pemberian suatu antigen penyakit, biasanya berupa virus atau bakteri yang dilemahkan atau sudah mati, bisa juga hanya bagian dari virus atau bakteri. Tujuannya adalah untuk membuat sistem kekebalan tubuh mengenali dan mampu melawan saat terkena penyakit tersebut.

Selain itu, vaksinasi juga bertujuan untuk mendorong terbentuknya herd immunity atau kekebalan kelompok. Hal ini penting dikarenakan ada sebagian orang yang belum atau tidak dapat divaksin seperti orang yang mengidap autoimun, anak-anak, dan lain sebagainya.

Apa yang dilakukan oleh BIN merupakan langkah konkrit dalam upaya menekan pertambahan jumlah kasus, jika angka Covid-19 semakin melandai, tentu saja ekonomi di Indonesia akan semakin pulih, tempat wisata dan pusat perbelanjaan akan semakin ramai.
Langkah yang ditempuh oleh BIN patut mendapatkan dukungan karena keberadaan vaksin telah menjadi bukti bahwa pemerintah tidak tinggal diam selama pandemi Covid-19.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Pencanangan vaksinasi khusus untuk anak usia 12-18 Tahun resmi dimulai, Sabtu (17/7).
Di Kota Palangkaraya, pelajar SMP dan SMA menerima vaksin di SMAN 1  Kota Palangkaraya.

Vaksinasi tersebut diselenggarakan oleh Badan Intelejen Negara ( BIN ) daerah Kalimantan Tengah yang bekerjasama dengan Dinkes Provinsi Kalteng, Polda dan Korem 102 Panju Panjang.

Sasaran vaksinasi pertama diberikan kepada pelajar SMA 1 dan SMP 3 Kota Palangkaraya dan dalam pelaksanaannya pelajar ini dibantu oleh petugas RS TNI dan Biddokkes Polda Kalimantan Tengah.

Jumlah pelajar yang mendapat suntik vaksin dosis pertama ini sebanyak 160 dosis dengan rincian pelajar SMP 3 sebanyak 50 orang dan siswa SMA 1 sebanyak 110 orang. Vaksinasi bagi pelajar dimulai dari siswa/siswi SMP 3 dan SMA 1 Kota Palangkaraya dan akan berlanjut secara bertahap bagi pelajar di sekolah lainnya.

Kepala BIN daerah (Kabinda) Kalteng, Brigjen TNI Sinyo mengatakan, sesuai arahan dan perintah Presiden Joko Widodo, BIN mengawal pelaksanaan vaksinasi kepada pelajar, sehingga hari ini Binda Kalteng Bekerjasama dengan Forkopimda Kalteng melaksanakan vaksinasi kepada pelajar di SMAN 1 Palangkaraya.

“BIN sangat memberikan perhatian serius pada program vaksinasi khusus untuk anak-anak usia 12 sampai 18 tahun, yaitu para pelajar SMP dan SMA yang merupakan generasi penerus dan menjadi tulang punggung bangsa dan negara,” kata Brigjen TNI Sinyo.

Menurutnya, vaksinasi kepada pelajar bertujuan menciptakan ketahanan Herd Imunity generasi muda. Perlu dicermati bahwa terjadi penigkatan kasus penularan Covid-19 di kalangan millenial. Kalangan muda yang terpapar cenderung mengalami masa rawat yang cukup panjang karena belum divaksin.

Acara ini dhadiri langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kalteng, Ahmad Syaifudi, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, Suyuti Samsul, Kabinda Kalteng, Brigjen TNI Sinyo, Kapolda Kalteng Irjen Pol Dedi Prasetyo, Danrem 102 Panju Panjang dan Forkopimda Kalteng.

DENPASAR

Badan Intelijen Negara (BIN) berkomitmen untuk terus terlibat langsung dalam menanggulangi penyebaran wabah Covid-19, karena dapat berdampak bagi ketahanan nasional. Berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2011 tentang Intelijen Negara, BIN merupakan lini terdepan keamanan nasional.

“BIN berkepentingan untuk ikut menjaga dan mengamankan berbagai kebijakan nasional, termasuk pembukaan pariwisata yang aman dari penularan Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan secara konsisten demi pemulihan perekonomian” Deputi Komunikasi dan Informasi BIN, Dr. Wawan Hari Purwanto saat menggelar jumpa pers usai diskusi bertajuk “Persiapan Bali dalam Membuka Jendela Dunia dengan Penerapan Protokol Kesehatan Pada Wisatawan Nusantara” di Sanur, Bali pada Kamis (10/9).

Beberapa upaya yang telah dilakukan diantaranya adalah menjalin kerja sama dengan berbagai Universitas dan lembaga penelitian untuk menemukan Obat dan Vaksin Covid-19, melaksanakan tes rapid maupun Swab kepada masyarakat, hingga melaksanakan kegiatan dekontaminasi di berbagai fasilitas publik. Di tengah situasi krisis akibat pandemi Covid-19 saat ini, BIN juga memiliki tanggung jawab untuk ikut mewujudkan pariwisata nasional yang aman berdasarkan protokol kesehatan bagi wisatawan nusantara dalam rangka pemulihan perekonomian nasional.

Menurutnya, kehadiran BIN bertujuan untuk mendukung kembalinya pertumbuhan pariwisata di tanah air khususnya Bali yang aman berdasarkan protokol kesehatan. Keyakinan wisatawan nusantara bahwa Bali telah dapat dikunjungi harus juga ditunjang oleh keberhasilan Pemerintah Bali dalam mengendalikan laju penularan Covid-19. Beberapa indikator tersebut diantaranya adalah tidak adanya cluster baru Covid-19 di berbagai titik destinasi dan angka kesembuhan yang semakin baik.

Ia mengungkapkan bahwa kehadiran BIN merupakan representasi hadirnya negara dalam mewujudkan pemulihan pariwisata dan perekonomian nasional. Selain itu, BIN juga berupaya memastikan bahwa konsep pariwisata di Bali telah menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan baik sesuai Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Dalam Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019.

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Maret lalu tidak saja berdampak buruk pada sektor kesehatan masyarakat, namun juga menghancurkan sektor pariwisata dalam negeri. Bali sebagai penyumbang terbesar devisa negara dari sektor pariwisata juga ikut terkena imbasnya. Anjloknya Pariwisata di Bali pun mempengaruhi sub sektor lainnya seperti pertanian, transportasi, akomodasi, hingga Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Wawan menyampaikan terpuruknya dunia pariwisata Bali berimbas pada banyak pekerja yang dirumahkan hingga di PHK. Berdasarkan data Pemprov Bali, per Agustus 2020 pekerja yang dirumahkan sebanyak 73.631 orang. Sedangkan yang di PHK 2.667 orang. Sementara dari segi pendapatan, Bali kehilangan Rp 9,7 triliun setiap bulannya. Tekanan berat bagi pariwisata Bali juga tercermin dari kedatangan wisatawan mancanegara ke Bali pada Juni 2020.

“Berdasarkan data BPS Bali kunjungan wisatawan hanya tercatat 32 kunjungan atau turun 99,99 persen dibandingkan dengan kedatangan pada Juni 2019 yang sebanyak 549.516 kunjungan” paparnya.

Wawan mengungkapkan pemerintah berusaha bergerak cepat dan berusaha membangkitkan dunia pariwisata secara bertahap. Saat ini yang sedang berjalan adalah pembukaan wisatawan nusantara atau domestik ke Bali. Pembukaan Bali bagi wisatawan domestik ini tentunya harus diikuti dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, sehingga langkah ini tidak menimbulkan cluster Covid-19 baru.

Pembukaan pariwisata Bali bagi wisatawan domestik merupakan bentuk sinergitas kebijakan Pemerintah, baik Pusat maupun Daerah. Perlu menjadi catatan bahwa hingga saat ini masih berlaku peraturan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor 11 Tahun 2020 tentang Pelarangan Sementara Orang Asing Masuk ke Wilayah Negara Republik Indonesia.

Di sisi lain, belum semua kebijakan negara di dunia yang memperbolehkan warganya untuk berwisata keluar negeri seiring belum meredanya angka penularan Covid-19.

“Kebijakan pembukaan pariwisata Bali yang aman berdasarkan protokol Kesehatan bagi wisatawan domestik yang saat ini berlangung merupakan upaya pemulihan pariwisata dan perekonomian masyarakat Bali. Relaksasi ini tentunya harus diikuti dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan konsisten” jelas Wawan.

Wawan mengingatkan pariwisata Bali yang kembali dibuka bagi wisatawan domestik perlu dilaksanakan secara selektif dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat. Upaya ini dilaksanakan mengingat Bali merupakan ikon pariwisata Indonesia dan internasional, sehingga upaya pemulihan pariwisata tidak boleh mengalami kegagalan karena akan berimplikasi besar bagi reputasi Bali maupun Indonesia.

BIN mengajak semua pihak untuk optimis dan bersinergi menghadapi pandemi Covid-19. Situasi krisis akibat Pandemi Covid-19 bukanlah akhir dari segalanya namun tapal batas untuk terus melakukan inovasi dan terobosan yang tidak linier. Sebagai salah satu terobosan di era Pandemi Covid-19, Kebijakan pemulihan sektor pariwisata aman berdasarkan protokol kesehatan membutuhkan dukungan dari segala pihak baik pelaku pariwisata, masyarakat, pemangku adat, tokoh agama, jurnalis hingga wisatawan itu sendiri. Dengan kembalinya denyut nadi pariwisata domestik yang aman berdasarkan protokol Kesehatan, diharapkan mampu menepis anggapan bahwa Bali bukanlah surga yang hilang.

SUARATIMUR – Menghadapi paham radikal yang telah ditanamkan dalam diri para terpidana pelaku terorisme, BIN memiliki cara paling jitu yang sukses membawa perubahan dan merintegrasi para eks napiter menjadi bermanfaat bagi masyarakst dan keluarganya guna menangkal aksi terorisme lanjutan.

Melalui pembinaan menyeluruh dan consider pada bagaimana menciptakan kembali sosok paling berbahaya tersebut menjadi pribadi yang paling bermanfaat bagi keluarga, masyarakat dan pada akhirnya bagi NKRI.

“Setelah kita bicara panjang lebar, melakukan pendekatan karena tak kenal maka tak sayang, ternyata para Eks Napiter ini baik-baik, ada kesepahaman yang bisa dijalin dan mau kembali ke Ibu Pertiwi, tidak lupa jalan kembali, kemarin itu hanya khilaf,” jelas Deputi VII Badan Inteligensi Negara (BIN) Bapak Dr. Wawan Hari Purwanto sambil tersenyum bangga kearah Paimin seorang eks Napiter yang kini telah kembali ke masyarakat.

Salah satu cara pembinaan oleh BIN terhadap para eks Napiter di Indonesia itu selain melalui pembinaan dan edukasi sehingga memiliki ketrampilan yang dapat bermanfaat bagi kehidupan, juga dengan mengadakan kegiatan bincang hangat seperti dalam acara “Ngopi Bareng Dengan Eks Napiter Bersama) Dr. Wawan Hari Purwanto di Pondok Pesantren Wirausaha Agrobisnis Abdurrahman bin Auf, Desa Bulan, Kec. Wonosari, Klaten.

Dalam acara ini dihadiri oleh para eks Napiter yang sudah memiliki keterampilan dan mendulang keberhasilan agar berbagi pengalamannya di hadapan Bapak Deputi VII BIN, dalam acara juga terdapat sesi pemberian sejumlah bantuan berupa dana pembinaan, serta budidaya ikan dan ternak kambing demi menunjang kehidupan ekonomi para eks Napiter tersebut.

“Tapi setelah ada binaan seperti ini bisa ternyata bisa mandiri, alhamdulillah salah satu contoh eks Napiter yang sukses kita ada mas Paimin, bahkan sekarang beliau sudah bisa membangun wadah binaan dilingkungan tempat tinggalnya,” papar Bapak Wawan menceritakan sosok Paimin sekarang pasca kembali ke masyarakat.

Segala bentuk kesulitan dan kerja keras yang di lakukan oleh BIN kini telah menuai hasil yang sangat baik. Hal ini dapat dilihat dengan kehidupan para Eks Napi Terorisme yang telah mendapatkan pembinaan oleh BIN telah menjadi sosok yang kini justru bermanfaat bagi masyarakat dengan membangun kembali kehidupannya yang baru sebagai masyarakat tentram dan mencintai negerinya.

Paimin, pria yang dulu sempat terjerumus dalam jaringan terorisme setelah terdoktrin dari mengikuti pengajian yang radikal, kini dia hidup tentram bersama istri dan 4 orang anak di kampung halamannya Desa Maron, Kelurahan Karanganyar, Sambung Macan, Sragen, Jawa Tengah dan memiliki usaha peternakan ikan.

“Alhamdulillah sekarang saya bisa kembali menjadi rakyat dan Alhamdulillah juga saya di support oleh masyarakat sekitar kanan kiri (rumah) saya, sampai saya bisa jalankan satu wadah kelompok Peduli Lingkungan Sekitar (PLS) yang kini sudah berjalan empat bulan sukses dan sekarang sudah pada tahapan dinas setempat mau masuk untuk ikut bantu saya.

Ditanya soal harapan kedepannya, Paimin menerangkan bahwa dirinya igin kegiatan binaannya semakin maju dan bisa membantu sektor perekonomian di lingkungan tempat tinggal saya.

Contoh eks Napiter lain yang juga sudah berangsur mendulang kesuksesan adalah Priyatmo alias Mamo yang merupakan mantan narapidana atas kasus kepemilikan senjata yang diselundupkan dari Filipina ke Indonesia melalui Pulau Sebatik, Nunukan, Kalimantan Timur, pada 2011 guna mempersenjatai tentara teroris di Indonesia kala itu. Setelah BIN dengan ketulusan dan kesabaran dalam melaksanakan pembinaan tersebut, kini Priyatmo telah memiliki usaha sendiri melalui program PopWarung dan berbagai usaha lainnya yang berlokasi di Jenawi, Karanganyar.

Ada pula Ustadz Slamet yang kini dipercaya menjabat sebagai mudir dari Pondok Pesantren Baitul Salam.

Keberhasilan para eks Napiter diatas dalam membuka kembali lembaran baru kehidupannya sebagai masyarakat yang lebih baik, hanya beberapa contoh saja dari seluruh keberhasilan program pembinaan yang telah dilakukan BIN.

Sebagaimana yang pernah di tegaskan oleh Deputi VII BIN Dr. Wawan Hari Purwanto, bahwa para eks Napiter seharusnya tidak dikucilkan, bila tidak di rangkul dan di bimbing maka akan sangat berpotensi kembali ke kelompok jaringan teroris.

“Kita juga berharap kepada saudara-saudara kita yang belum kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi bisa jadikan mas Paimin serta rekan eks Napiter lain sebagai contoh,” tambah Bapak Wawan.

Salah satu cara untuk merangkul ala BIN adalah dengan memberikan edukasi serta pelatihan rutin yang kemudian diimplementasikan melalui pemberdayaan usaha kecil menengah (UKM) yang di berikan pada mereka.

Hal ini terbukti sangat berhasil mengingat setelah kesadaran akan perbuatan yang dilakukan oleh para eks napiter selama ini adalah kesalahan besar, tentunya mereka memerlukan kebutuhan guna melanjutkan kehidupan yang lebih baik. Mereka harus mendapatkan kesempatan kedua untuk menjadi insan yang bermanfaat bagi keluarganya dan masyarakat serta NKRI.
Sehingga program pembinaan serta pemberdayaan usaha mikro tersebut juga diakui menjadi langkah terbaik oleh para Eks Napiter.