Kementerian Kesehatan buka suara soal izin yang diberikan pada AstraZeneca dari MUI dan BPOM. Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan menyambut baik keputusan kedua lembaga itu. Seperti diketahui, AstraZeneca telah mengantongi izin emergency use authorization dari Badan POM serta MUI mengeluarkan fatwa vaksin bisa digunakan dalam keadaan darurat. “Menyambut baik keputusan Badan POM rekomendasi vaksin AstraZeneca untuk Didistribusikan dan digunakan. Dia juga menyatakan pemerintah terus mewujudkan vaksinasi aman dan halal terus dilakukan.

Sementara itu, MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) telah resmi menetapkan fatwa dibolehkan menggunakan vaksin AstraZeneca untuk vaksinasi covid-19. Hal tersebut menjadi dasar bahwa jangan ada lagi keraguan dari masyarakat untuk divaksinasi covid-19. “Fatwa tersebut ditetapkan melalui nomor 14 tahun 2021 tentang Hukum Penggunaan Vaksin Covid-19 Produk AstraZeneca yang selanjutnya tanggal 17 Maret 2021 fatwa tersebut diserahkan kepada pemerintah untuk dijadikan panduan,” kata Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam Sholeh pada Konferensi Pers secara virtual, Jumat (19/3) di Jakarta. Penggunaan vaksin covid-19 produksi AstraZeneca, pada saat ini, dibolehkan karena ada kondisi kebutuhan yang mendesak yang menduduki kondisi darurat.

Disisi lain, Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan (BPOM) sempat menangguhkan distribusi vaksin AstraZeneca di Indonesia. Namun kini vaksin sudah bisa digunakan. Alasannya? Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari BPOM, Lucia Rika Andalusia mengatakan Badan POM dan sejumlah ahli telah melakukan evaluasi terkait AstraZeneca. “Hasil evaluasi uji klinik secara keseluruhan AstraZeneca dua dosis interval 8-12 minggu total 23.745 subyek aman dan ditoleransi dengan baik,”. Dia menambahkan penggunaan vaksin AstraZeneca merangsang pembentukan antibodi pada dewasa dan lansia. Dengan teter antibodi untuk dewasa 32 kali dan lansia mencapai 21 kali.

Berdasarkan kesimpulan otoritas kesehatan Uni Eropa, vaksin AstraZeneca aman secara ilmiah. WHO pun menyarankan semua negara dapat menggunakan vaksin AstraZeneca karena manfaatnya lebih besar dari kerugiannya. Semoga bermanfaat (*)

Oleh : Made Raditya )*

Pemerintah mendatangkan vaksin lagi ke Indonesia. Kali ini yang didapat adalah vaksin Astrazeneca. Vaksin ini dijamin aman karena mendapatkan izin darurat oleh BPOM. Mengapa izinnya darurat? Karena jika prosedurnya seperti biasa, akan menunggu lama. Padahal program vaksinasi nasional diharap bisa lekas selesai, agar pandemi cepat usai.

Vaksin adalah harapan terbesar untuk mengakhiri pandemi. Karena setelah semua warga negara Indonesia mendapatkan vaksin, akan terjadi herd immunity dan kita semua bisa bebas corona. Pandemi akan berakhir dan kehidupan bergulir seperti dulu lagi. Perekonomian bisa naik kembali, karena daya beli masyarakat juga naik.

Pemerintah telah mendapatkan 1.113.600 dosis vaksin Astrazeneca yang akan disuntikkan pada vaksinasi nasional. Vaksin buatan Inggris ini sudah mendapatkan izin darurat dari BPOM. Menurut Penny Lukito, kepala BPOM, keamanan, mutu, dan khasiat vaksin tersebut telah dicek BPOM dan prosesnya telah disetujui untuk special access.

Mengapa izinnya darurat? Karena jika pada keadaan normal, izin BPOM baru keluar setelah 30 hari kerja. Padahal jika menunggu selama itu, jadwal program vaksinasi nasional akan molor. Oleh karena itu izin darurat diperbolehkan, karena pada masa pandemi ini kita berpacu dengan waktu. Semua WNI harus divaksin agar bebas corona secepatnya.

Meski izin BPOM tersebut darurat, tetapi vaksin AstraZeneca telah melalui proses uji sampling, untuk meyakinkan aspek mutunya. Jadi izin tersebut tidak diberi sembarangan, melainkan sudah sesuai dengan prosedur. Hanya saja jalur yang dilalui adalah jalan pintas, sehingga izin lekas keluar dan bisa disuntikkan kepada masyarakat.

Vaksin AstraZeneca dikenal ampuh karena memiliki efikasi lebih dari 70%. Efikasi adalah tingkat kemanjuran dari suatu vaksin. Namun walau efikasinya hanya sekitar 70%, sudah cukup ampuh dalam memerangi serangan corona. Buktinya, vaksin ini dipesan oleh banyak negara lain, sehingga dipercaya oleh banyak orang di seluruh dunia.

Efek samping dari vaksin AstraZeneca juga sangat minim. Hampir sama seperti efek dari sebuah suntikan vaksin lain, yakni rasa sakit dan memar pada bekas injeksi, gatal, demam, pusing, mual, dan nyeri otot. Oleh karena itu, jika seseorang divaksin maka diharap untuk mendapat izin dari kantornya untuk pulang, karena butuh istirahat untuk mengatasi efek samping tersebut.

Berbeda dari vaksin Sinovac, vaksin AstraZeneca bukan terbuat dari virus covid-19 yang dilemahkan. Melainkan dikembangkan dengan platform vektor adenovirus. Yakni memodifikasi virus yang menginfeksi simpanse secara genetik. Meski vaksin ini dari rekayasa genetik, tetapi tidak berbahaya, karena sudah dijamin keamanannya oleh BPOM.

Owen Jenkins, Duta Besar Inggris untuk Indonesia berharap vaksin AstraZeneca akan membantu Indonesia untuk mencapai kekebalan kelompok, dan ikut mensukseskan program vaksinasi nasional. Dukungan dari Duta Besar sangat penting, karena menunjukkan kepeduliannya terhadap masyarakat Indonesia. Juga menampakkan persahabatan yang erat antara Inggris dan Indonesia.

Meski nanti kita mendapatkan jatah untuk divaksin, akan tetapi jangan lalai sedikitpun. Tetaplah menjaga protokol kesehatan, seperti pakai masker, rajin cuci tangan, dan jaga jarak. Perhatikan juga kebersihan masker, karena hanya boleh dipakai maksimal 4 jam. Jadi pastikan Anda memiliki setidkanya selusin masker kain, atau sekotak besar masker sekali pakai.

Jaga pula higienitas dan imunitas. Karena pandemi baru berakhir saat kekebalan kelompok terbentuk, dan itu butuh waktu sekitar 12 bulan lagi. Disiplin dalam menerapkan protokol itu wajib, karena kita tidak mau kena corona lalu mati merana.

Vaksin AstraZeneca telah mendapat izin darurat BPOM dan kedatangannya akan mensukseskan program vaksinasi nasional. Efikasi vaksin ini mencapai 70% dan cukup ampuh dalam melawan corona. Tetaplah menaati protokol kesehatan, agar tidak terjangkit oleh virus covid-19.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini