Oleh : Raavi Ramdhan )*

Munculnya organisasi massa yang meresahkan seperti FPI, membuat masyarakat resah. Pasalnya mereka selalu membuat onar dan menentang banyak kebijakan pemerintah. Bahkan juga mencaplok tanah milik negara seenaknya sendiri. Daripada mengacau lagi, lebih baik ormas nakal itu dibubarkan saja.

Indonesia adalah negara yang multi budaya dan multi agama. Namun sayangnya, sejak tahun 1998, perdamaian antar umat dirusak oleh organisasi massa yang sering bertindak di luar batas. Mereka ngotot mengganti ideologi negara dengan sistem kekhalifahan, dan bersikap radikal. Bahkan sangat intoleran dan menolak pluralisme.

Masyarakat dibuat resah dengan keberadaan FPI dan ormas lain, karena melakukan ceramah dengan isi yang kasar dan penuh kebencian. Apalagi ceramah itu dilakukan di acara keagamaan. Penghasutan tak seharusnya dilakukan oleh mereka yang mengaku sebagai ulama, karena seharusnya mereka menjalankan hadis nabi yang berbunyi: berkatalah baik atau diam.

Pemerintah bersikap tegas agar masyarakat tak lagi diganggu oleh ormas yang bermasalah. Mahfud MD, Menko Polhukam, menyatakan bahwa pemerintah melarang aktivitas FPI dan menghentikan semua kegiatannya. Karena mereka tak punya legal standing¸ baik sebagai ormas maupun organisasi biasa.

Faktanya, FPI memang tak punya izin, karena perpanjangan legalitas ormas tersebut ditolak sejak tahun 2019. Menteri Dalam Negri Tito Karnavian dan Menkopolhkam Mahfud MD tidak pernah memberi izin pada mereka, sehingga surat keterangan perpanjangan organisasi tak berlaku lagi. Sehingga FPI bisa dikatakan ilegal, dan jika ia membuat kegiatan, boleh saja dibubarkan.

Masyarakat bersorak gembira melihat ketegasan pemerintah dalam membubarkan FPI. Karena mereka sudah pusing dengan keberadaan ormas tersebut yang makin meresahkan. FPI melampaui kewenangan polisi dengan melakukan sweeping pada warung makan, di bulan ramadhan. Padahal mereka tidak berhak untuk melakukannya, dan bertindak bagaikan preman.

Selain itu, FPI dan ormas lain dianggap menghancurkan kerukunan antar umat dengan keyakinan yang berbeda. Tingkah anggotanya sangat melampaui batas, dengan melakukan sweeping di Mall dan tempat keramaian yang memajang dekorasi natal. Tindakan mereka sangat intoleran dan melukai hati masyarakat yang sedang merayakan natal.

Apa mereka lupa kalau di Indonesia ada 6 agama yang diakui negara? Jika mereka ngotot untuk mendirikan negara kekhalifahan, maka keluar saja dari Indonesia. Karena sejak merdeka tahun 1945, kita sudah kompak dengan prinsip bhinneka tunggal ika. Namun FPI dan ormas pengacau lain tidak pernah mengakui perbedaan yang ada di masyarakat.

Sulaiman Haikal dari kumpulan aktivis reformasi 98 menyatakan bahwa pembubaran FPI wajib dilakukan, karena mengancam keutuhan bangsa Indonesia. Penyebabnya karena sifat intoleran mereka, maka perdamaian dan kerukunan di negeri ini akan hancur-lebur. Dalam artian, jika dibiarkan akan sangat berbahaya, karena masa depan Indonesia jadi rusak.

Sulaiman melanjutkan, ormas yang meresahkan sangat berbahaya karena radikal dan melakukan aksi terorisme. Mereka juga merekrut generasi muda sebagai kader baru, untuk menyebarkan radikalisme dan separatisme. Bahkan ormas ini juga menggaet para wanita. Padahal hal ini berbahaya, karena anak-anak mereka akan dididik jadi radikal juga dan anti nasionalisme.

Oleh karena itu, pembubaran FPI sangat didukung, baik oleh warga sipil maupun aktivis 98. Mereka sudah lelah dengan tingkah ormas itu dan konco-konconya yang berbuat onar dan melakukan hate speech. Namun ketika ditindak, malah berakting playing victim dan meminta simpati masyarakat.

Ketika FPI dan ormas lain yang bermasalah akhirnya dibubarkan, bukan berarti pemerintah main hakim sendiri. Karena FPI adalah organisasi massa yang tidak berizin, karena perpanjangan legalitasnya ditolak sejak tahun 2019. Masyarakat malah gembira ketika mereka dibubarkan, karena tak ada lagi yang melakukan sweeping dan bertindak intoleran.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Parung Bogor

Oleh : Deka Prawira )*

Demonstrasi yang dilakukan oleh FPI dan ormas lain pada 18 Desember 2020 menunjukkan fakta baru. Polisi menangkap sejumlah anggota ormas tersebut, karena akan berunjuk rasa sambil membawa celurit, senjata tajam lain, bahkan ganja. Penemuan ini makin membuat masyarakat geram dengan FPI dan menuntut pembubarannya.

FPI adalah organisasi massa yang lahir tahun 1998. Sejak berdiri, selalu ada kontroversi di tiap langkah yang dilakukan oleh ormas ini. Sudah berkali-kali mereka dicerca masyarakat karena melakukan tindakan ekstrim seperti sweeping tanpa aturan, berpidato dengan nada hate speech, dan memaksakan kehendak untuk mengubah ideologi pancasila jadi khilafiyah.

Ketika anggot FPI, PA 212, dan ormas lain berunjuk rasa di depan Istana Negara, 18 desember lalu, mereka menuntut Rizieq Shihab dibebaskan. Anehnya, mereka berjanji akan melakukan demo dengan damai. Namun saat dilakukan pemeriksaan, ada anggota FPI yang ketahuan membawa senjata tajam, seperti celurit, pedang katana (samurai), dan senjata jenis lain.

Untuk apa berdemo sambil bawa celurit dan katana? Penemuan ini membuat masyarakat makin antipati dan mengecap FPI sebagai organisasi massa preman. Padahal mereka berjanji untuk membela umat. Namun bertingkah seperti orang barbar dan seenaknya sendiri. FPI mengaku sebagai pembel umat namun malah bertindak kasar, brutal, dan main hakim sendiri.

Terlebih, saat demo kemarin, ada anggota FPI yang membawa ganja, padahal narkoba itu jelas dilarang oleh negara. Untuk apa demo sambil bawa cannabis sativa? Citra FPI sebagai ormas yang membela umat langsung rusak, karena ternyata diisi oleh para pecandu narkoba yang hobi teler. Polisi yang menangkap anggota FPI itu langsung heran karena tak menyangka.

Pembubaran FPI menjadi permintaan masyarakat kepada pemerintah, karena mereka sudah bertindak di luar batas. Pertama, mereka ngotot meminta pemerintah membebaskan Rizieq Shihab, padahal ia jelas bersalah. Untuk apa membela orang yang melanggar 2 pasal sekaligus (pasal tentang hate speech dan kekarantinaan)? Jika membela orang yang salah, maka tujuan ormas ini sangat melenceng.

Kedua, anggota FPI membawa celurit dan senjata lain. Hal ini melanggar Undang-Undang nomor 12 tahun 1951. Karena mereka membawa senjata tajam dan menggunakannya untuk hal negatif. Jika membawa celurit, maka sudah diduga mereka akan melawan polisi yang berjaga saat demo. Padahal polisi hanya melaksanakan tugas, namun mereka anggap musuh, karena representasi dari pemerintah.

Penemuan senjata tajam ini membuktikan bahwa polisi benar. Ketika peristiwa baku tembak di Jalan Tol Jakarta-Cikampek KM 50, maka ditemukan barang bukti berupa pistol dan senjata tajam lain, yang dibawa oleh anggota FPI. Namun mereka berdalih bahwa itu bohong. Dengan penemuan celurit dan pedang, maka FPI ketahuan suka bawa senjata tajam.

Wacana pembubaran FPI sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Terlebih, izin ormas ini ternyata tidak diperpanjang oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian maupun Menko Polhukam Mahfud MD. Jadinya, ormas ini dianggap liar karena tidak berizin. Karena FPI berbuat seenaknya sendiri dan tak mau menaati aturan di Indonesia.

Masyarakat malah merasa senang ketika FPI dibubarkan, karena mereka ngotot mengubah Indonesia jadi negara khilafiyah. Padahal sejak merdeka, NKRI berideologi pancasila dan tidak bisa diubah oleh siapapun. Jika FPI masih ngotot, maka mereka bisa digolongkan sebagai separatis, karena seenaknya mengubah dasar negara.

Bubarkan FPI secepatnya karena mereka selalu membuat onar dan merusak perdamaian di Indonesia. FPI juga gagal paham dan tidak bisa menghayati bhinneka tunggal ika, karena mereka intoleran dan bersikap sinis terhadap umat lain. Organisasi ini bertindak seperti preman dan masyarakat selalu antipati terhadapnya.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Pekanbaru