Oleh : Syafrudin Pratama *)

Pemerintah kembali mengingatkan kepada masyarakat, bahwa vaksin booster harus dilakukan untuk menjaga imunitas terhadap pandemi Covid-19. Saat ini banyak masyarakat yang tidak bisa masuk ke area publik seperti mal dikarenakan belum mendapat vaksin booster atau vaksin Covid-19 dosis ketiga. Hal tersebut membuat status di aplikasi PeduliLindungi berwarna kuning atau bahkan hitam.

Menanggapi hal tersebut, Budi Gunadi Sadikin selaku Menteri Kesehatan memastikan aturan tersebut sudah ditetapkan dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri, sebagai syarat masuk ke tempat umum atau syarat melakukan perjalanan. Budi kembali mengingatkan masyarakat yang belum vaksin booster dapat memiliki risiko dirawat di rumah sakit lebih besar puluhan kali lipat karena infeksi Covid-19.

Kemudian, orang yang hanya divaksinasi satu dosis punya risiko 20 kali lipat dirawat di rumah sakit, dan orang yang sudah divaksin dua dosis atau vaksin lengkap tetap punya risiko dirawat 10 kali lipat dibanding orang yang belum vaksin booster. Oleh sebab itu, penulis mengajak masyarakat untuk tidak ragu mendapatkan vaksinasi booster demi mencegah gejala berat Covid-19, ditambah masyarakat tidak perlu membayar uang sepeser pun.

Sebagai informasi, per 26 Juli 2022 total vaksin Covid-19 dosis 1 dan 2 mencapai 169,8 juta atau 81,5 persen dari target 208 juta penduduk yang divaksinasi. Sedangkan vaksin booster atau vaksin dosis ke-3 baru mencapai 54 juta atau 26,8 persen dari total sasaran 208 juta penduduk.

Selanjutnya, sebagai bagian dari penelitian, University of Surrey membuat peta antigen dari varian terbaru virus penyebab Covid-19. Peta tersebut memungkinkan tim untuk mengidentifikasi dan mengukur dampak setiap varian Covid-19 pada sistem kekebalan tubuh.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kekebalan akan menurun 20 pekan setelah vaksinasi. Namun, vaksin booster ketiga dari Pfizer-BioNTech membantu sistem kekebalan untuk mengidentifikasi dan menetralisir 20 varian yang berbeda.

Dr. Daniel Horton selaku pakar virologi veteriner di University of Surrey menjelaskan bahwa munculnya Covid-19, disrupsi yang ditimbulkannya serta dampak mematikannya pada kehidupan sehari-hari menunjukkan betapa pentingnya bagi komunitas ilmiah untuk bekerja sama dalam mengidentifikasi dan mengkarakterisasi penyakit menular dengan cepat.

Penelitian yang dilakukan dalam pemetaan berbagai varian tersebut merupakan bagian dari upaya kolaboratif 90 juta pound atau sekitar 1,3 triliun rupiah untuk mengatasi penyakit zoonosis di Eropa. Penelitian tersebut dilakukan dalam kolaborasi antara Pirbright Institute, University of Surrey, Imperial College di London, dan Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA). Mereka mencoba untuk memahami bagaimana respon imun individu berusia 70 sampai 89 tahun yang telah menerima vaksin Pfizer-BioNTech.

Vaksin Pfizer ini bekerja dengan memicu sistem kekebalan tubuh yang akan membuat protein berbentuk Y, yang dikenal sebagai antibodi yang dapat menempel pada protein lonjakan (spike protein) yang ditemukan di permukaan virus corona. Jika seseorang terinfeksi Covid-19, antibodi yang mengikat protein lonjakan akan mencegah virus menempel dan memasukin sel manusia, sehingga membantu melindungi dari penyakit yg lebih parah.

Antibodi juga bertindak sebagai “suar” yang akan memperingatkan sistem kekebalan tubuh untuk membantu melawan infeksi. Oleh karena itu, informasi tersebut dapat membantu kita untuk memahami apakah risiko infeksi, rawat inap, dan kematian meningkat dengan berkurangnya kekebalan atau varian baru.

Dengan demikian, penulis berpendapat bahwa vaksin booster memiliki peran yang sangat penting dalam menekan perkembangan paparan Covid-19. Bagi masyarakat yang belum mendapat vaksin booster, sebaiknya jangan ragu untuk segera melakukan vaksin booster demi menjaga kekebalan tubuh terhadap paparan Covid-19.

Senada dengan penulis, pemerintah juga telah merencanakan vaksinasi Covid-19 booster kedua atau dosis keempat. Mohammad Syahril selaku juru bicara Kementerian Kesehatan mengatakan bahwa program vaksin Covid-19 keempat kemungkinan akan diberlakukan jika pandemi berlangsung dalam jangka waktu panjang.

Namun demikian, program booster kedua atau vaksin keempat tersebut baru akan diberlakukan setelah mendapatkan arahan dari Komite Penasehat Ahli Imunisasi Nasional (ITAGI). Sehingga saat ini belum dapat diputuskan dalam waktu dekat.

Program booster kedua atau vaksin keempat tersebut belum diberlakukan menimbang bahwa masyarakat di Indonesia belum sepenuhnya menerima vaksin dosis pertama dan kedua. Oleh sebab itu, penulis mengajak masyarakat untuk segera melakukan vaksinasi dosis pertama dan kedua serta menyelesaikan vaksinasi dosis ketiga untuk meningkatkan antibodi di tengah gelombang Covid-19 yang baru.

Untuk itu pemerintah telah meminta kepada TNI, Polri, serta Pemerintah Daerah untuk kembali mendorong kebijakan vaksinasi dan juga tracing. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah kenaikan kasus secara meluas sekaligus mempersiapkan langkah-langkah mitigasinya.

Penulis berharap masyarakat tidak abai terhadap vaksinasi booster, karena dengan melakukan booster dapat mencegah paparan Covid-19 lebih baik dan apabila terpapar pun lebih mudah untuk penyembuhan. Saat ini masih banyak masyarakat yang enggan melakukan booster karena mereka meyakini bahwa sudah cukup hanya dengan vaksinasi dosis pertama dan kedua. Padahal, dengan melakukan vaksinasi booster masyarakat akan mendapat kekebalan tubuh yang jauh lebih baik dibandingkan hanya dua kali vaksinasi.

Dengan mematuhi protokol kesehatan dan pemakaian masker kembali di ruang terbuka serta melakukan pola hidup sehat yang diikuti dengan program vaksinasi, maka diharapkan dapat menangkal dan memutus rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia sehingga pandemi Covid-19 dapat segera berakhir.

Apabila masyarakat menjaga protokol kesehatan dan segera mendapatkan vaksin booster, akan sangat membantu pemerintah dalam menangani Covid-19 agar tidak semakin tersebar luas. Walaupun tidak sepenuhnya menghilang, setidaknya Covid-19 di Indonesia tidak bertambah banyak dan besar harapan akan berubah status pandemi menjadi endemi.

*Penulis adalah kontributor Trilogi Institute