Oleh  : Dian Ahadi  )*

Kasus hepatitis akut yang saat ini banyak menyerang anak-anak diyakini tidak terkait dengan Covid-19. Kendati demikian, masyarakat diimbau selalu waspada dengan segera memeriksakan penyakit ke rumah sakit apabila ditemui indikasi gejala penyakit tersebut.

Kasus hepatitis akut yang banyak menyerang anak anak-anak telah melanda berbagai negara, termasuk Indonesia. Kasus tersebut kini telah banyak menjadi pemberitaan media massa dan banyak sekali diperbincangkan oleh publik. Bahkan tidak sedikit diantara masyarakat yang kemudian memiliki persepsi bahwa seolah memang Hepatitis Akut itu masih ada kaitannya dengan pandemi COVID-19.

Dugaan-demi dugaan terus saja terjadi karena memang sejauh ini masih belum bisa dipastikan dengan jelas kira-kira apa penyebab dari adanya penyakit Hepatitis Akut yang secara tiba-tiba menyerang sejumlah anak-anak di beberapa negara tersebut. Sejumlah dokter dan akademisi kesehatan pun mulai banyak angkat bicara, tidak terkecuali  pihak Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Pihak RSCM akhirnya memutuskan untuk turut bersuara dan menjelaskan mengenai Hepatitis Akut ke publik. Hal itu disebabkan sebelumnya telah ada 3 orang pasien anak-anak yang diduga telah terkena Hepatitis Akut pertama di Indonesia yang kemudian meninggal ketika dibawa ke Rumah Sakit tersebut. Direktur Utama RSCM dr Lies Dina Liastuti menyatakan dengan tegas bahwa terdapat 14 kasus total mengenai dugaan Hepatitis Akut namun para pasien bahkan beberapa diantaranya sama sekali sebelumnya belum terpapar oleh Covid-19. 

Bukan hanya menjawab banyak persepsi liar dari publik yang menghubungkan antara Hepatitis Akut dengan Covid-19, namun beberapa diantara masyarakat juga masih beranggapan bahwa salah satu penyebab terjadinya Hepatitis Akut ini lantaran pemberian vaksinasi Covid-19. Sontak anggapan tersebut juga ditepis dengan tegas oleh dr Lies karena nyatanya dari seluruh pasiennya, beberapa bahkan sama sekali mereka belum pernah melakukan vaksinasi Covid-19.

Meski menyatakan bahwa tidak ada kaitan antara Hepatitis Akut dengan paparan Covid-19 ataupun vaksinasi Covid-19, namun dr Lies juga menyatakan bahwa masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai Hepatitis Akut ini karena fakta di lapangan menyatakan bahwa baik itu pasien yang sudah ataupun belum terpapar, baik itu pasien yang sudah atau belum mendapatkan vaksin Covid-19, nyatanya mereka juga tetap terjangkit Hepatitis Akut.

Senada dengn sanggahan yang dilakukan oleh dr Lies, Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Riris Andomo Ahmad menyatakan bahwa memang Hepatitis Akut ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan vaksinasi Covid-19. Lebih lanjut, dirinya menambahkan bahwa memang tidak mengherankan apabila masyarakat langsung menyangkut pautkan antara pemberian vaksinasi Covid-19 dengan Hepatitis Akut lantaran pada pasien pengidapnya ditemukan Adenovirus.

Perlu diketahui, bahwa Adenovirus justru merupakan vektor yang menyebabkan manusia memiliki kekebalan dari serangan virus Covid-19 dan digunakan untuk merk vaksin tertentu. Selain itu mengenai Adenovirus ini sendiri juga sejatinya masih sebuah hipotesis karena hanya ditemukan pada beberapa kasus pengidap Hepatitis Akut saja sehingga tidak bisa lantas dipukul rata semuanya.

Saat ini Hepatitis Akut sendiri sudah sangat banyak menyebar di berbagai wilayah, bahkan membuat World Health Organization (WHO) menetapkan status Hepatitis Akut ini sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Namun beberapa pihak juga sudah menegaskan bahwa sama sekali tidak ada kaitan antara Hepatitis Akut dengan penderita Covid-19 sebelumnya ataupun disebabkan oleh pemberian vaksinasi Covid-19. Masyarakat pun diminta tetap tenang dan mewaspadai gejala penyakit tersebut agar dapat mencegah jatuhnya korban jiwa.

)* Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa Institute 

Oleh : Agung Suwandaru )*

Seluruh masyarakat pelaku perjalanan mudik Lebaran 2022 jangan sampai menjadi lengah dan tidak menerapkan protokol kesehatan. Faktanya, risiko penularan COVID-19 masih ada dan pandemi belum berakhir sepenuhnya.

Keputusan diperbolehkannya melakukan perjalanan mudik Lebaran tahun 2022 ini telah dibuka oleh Pemerintah. Meski masyarakat memang telah diperbolehkan untuk melakukan perjalanan mudik, namun terdapat sebuah pesan penting yang disampaikan oleh Satgas Covid-19 bahwa seluruh pemudik diharapkan untuk sama sekali tidak lengah dan terus menaati protokol kesehatan.

Ketua Bidang Komunikasi Satgas Covid-19, Hery Triyanto menyatakan bahwa meski telah lebih dari 60 persen populasi masyarakat di Indonesia sudah melakukan vaksinasi secara lengkap, namun bukan berarti risiko penularan Covid-19 sama sekali hilang dan tidak ada, melainkan risiko tersebut masih saja bisa terjadi. Untuk itu sama sekali kita tidak diperbolehkan lengah dan merasa bahwa semua akan pasti aman tanpa menerapkan Prokes.

Justru poin penting untuk setidaknya bisa meminimalisasi seluruh risiko penularan tersebut adalah dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat. Di samping itu juga telah melakukan vaksinasi hingga dosis ketiga atau booster. Hal tersebut dikarenakan memang sampai saat ini pun Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri masih belum mengumumkan status baru dan mencabut status pandemi, yang mana berarti pandemi masih belum berakhir meski sudah sangat terkendali dan kurvanya melandai.

Terdapat sebuah data dari hasil survey Serologi yang telah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada akhir Maret 2022 menyatakan bahwa ternyata sudah sekitar 99,3 persen masyarakat di Jawa dan Bali telah memiliki imunitas terhadap Covid-19. Tentu kabar ini menjadi kabar yang sangat baik dan tugas kita hanya perlu untuk menjaga keadaan terus seperti itu.

Namun ternyata ditambahkan oleh Hery bahwa terbentuknya imunitas yang sudah cukup besar dalam sebuah populasi masyarakat tersebut sama sekali tidak bisa menjamin bahwa kita berarti telah kebal dari penularan Covid-19. Berkaca dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, yakni selalu ada lonjakan kasus baru dengan varian baru setelah libur Lebaran, ketika masyarakat bisa menjaga Prokes dengan ketat maka hal tersebut diharapkan tidak akan terulang.

Imbauan kepada masyarakat untuk tidak lengah dan terus mawas diri juga dinyatakan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate yang menyatakan bahwa jangan sampai kita kemudian menganggap remeh dan sama sekali tidak waspada. Selain itu kebiasaan untuk menggunakan masker dengan benar, terus rajin mencuci tangan hingga menghindari jarak dari kerumunan hendaknya harus terus dijaga.

Beberapa kegiatan yang patut diwaspadai oleh masyarakat tatkala mudik Lebaran 2022 adalah kegiatan silaturahmi yang tentu akan melibatkan banyak interaksi bahkan hingga kepada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Ditambah dengan masyarakat yang mungkin baru saja selesai melakukan perjalanan jauh dan mengunjungi fasilitas umum yang kepadatannya tinggi. Tentunya itu akan sangat berpotensi untuk menjadi risiko penularan bagi kita apabila kita tidak waspada.

Perkiraan peningkatan para pemudik khususnya di tahun ini akan sangat membludak bahkan hingga sekitar 85,5 juta orang yang tentu angka tersebut bukanlah angka yang sedikit. Sehingga jangan sampai kita justru yang niat awalnya adalah kebaikan, yakni menjalin hubungan persaudaraan dengan warga di kampung, namun justru mendatangkan marabahaya bagi mereka.

Kebijakan Pemerintah yang memperbolehkan masyarakat untuk melaksanakan mudik Lebaran hendaknya disikapi dengan penuh tanggung jawab dengan selalu taat Prokes. Dengan adanya kepatuhan masyarakat tersebut, ledakan kasus Covid-19 pasca Idul Fitri diharapkan tidak terulang kembali.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Edi Jatmiko

Pemerintah Indonesia terus melaksanakan berbagai cara untuk memulihkan perekonomian yang terdampak pandemi Covid-19. Berbagai upaya Pemerintah itu mendapat apresiasi dari Bank Dunia karena menganggap Indonesia mampu mengoordinasikan segenap sumber daya secara efektif agar dapat keluar dari krisis ekonomi.

Pandemi yang terjadi selama dua tahun membuat seluruh dunia kena krisis, termasuk Indonesia. Selain krisis kesehatan juga krisis di bidang ekonomi. Penyebabnya karena daya beli masyarakat menurun karena mereka lebih memprioritaskan untuk kebutuhan pokok daripada yang sekunder dan tersier.
Pemerintah langsung bergerak cepat dalam mengatasi perekonomian agar tidak terjadi resesi atau krisis ekonomi Jilid 2 yang amat parah seperti yang terjadi tahun 1998 lalu.
Berbagai program dicanangkan agar kondisi finansial negara dan juga masyarakat kembali stabil.
Berkat berbagai usaha yang dilakukan maka ada hasilnya. Satu Kahkonen, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste menyatakan, “Dalam dua tahun, seluruh dunia memiliki problem yang sama dalam mengatasi penyebaran Corona.
Pemerintah Indonesia berhasil mengkoordinasikan sumber daya kesehatan, bantuan sosial, di seluruh negeri dalam menghadapi pandemi.”
Dalam artian, pemerintah dianggap cukup berhasil dalam menangani dampak Corona, tak hanya di bidang kesehatan tetapi juga ekonomi. Bantuan sosial diberikan tidak hanya ke masyarakat yang membutuhkan tetapi juga ke pengusaha Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Mereka layak diberi bantuan karena memang usahanya lesu akibat dampak pandemi.

UMKM mendapatkan Bansos berupa cash sebesar 2,4 juta rupiah yang dibagi ke beberapa periode saat pemberiannya. Diharap bantuan ini bisa digunakan untuk menambah modal sehingga mereka bisa membuka tokonya kembali dan mendapatkan keuntungan. Pemerintah diuji karena turut memikirkan nasib UMKM, karena memang merekalah tulang punggung perekonomian negara.

Sembilan puluh persen pedagang di Indonesia adalah berlevel kecil dan menengah sehingga dianggap sebagai tulang punggung perekonomian negara. UMKM wajib dibantu agar bisa lanar berdagang sehingga roda perekonomian bisa berjalan dengan lancar. Bank dunia mengapresiasi tindakan ini karena Bansos yang diberikan dalam bentuk modal produktif sehingga tidak habis begitu saja.

Bank Dunia juga mengapresiasi pemerintah Indonesia karena memberikan bantuan ke UMKM, tak hanya dalam bentuk Bansos tetapi juga pelatihan yang bisa diikuti gratis. Terutama pelatihan jualan online, karena faktanya masih ada pedagang yang gagap teknologi. Jika sudah mahir jualan di media sosial dan marketplace maka otomatis omzet dan keuntungannya naik banyak.

Selain itu, Bansos juga berdampak positif pada bidang perekonomian karena ada efek domino positif. Jika UMKM dibantu maka mereka bisa buka lapak lagi dan ada yang membeli barangnya, sehingga perekonomian berjalan lagi. Roda ekonomi memang harus dilancarkan lagi karena jika berhenti sama sekali, maka akan terjadi krisis ekonomi yang amat parah.

Pemerintah juga dipuji karena memberikan bantuan tak hanya ke masyarakat dan pedagang di jawa tetapi juga di seluruh Indonesia. Bantuan juga diberikan langsung ke rekening sehingga langsung bisa dimanfaatkan. Hal ini juga untuk mencegah terjadinya pungli yang dilakukan oleh para oknum nakal.

Pemerintah memang berkomitmen untuk selalu menolong rakyat yang sedang kesusahan. Oleh karena itu, apresiasi dari bank dunia amat dipuji karena berarti mereka memperhatikan Indonesia.

Pujian dari bank dunia menunjukkan langkah cepat pemerintah dalam mengatasi pandemi, terutama di bidang ekonomi. Memang bidang ini perlu untuk dibenahi agar tidak terjadi krisis yang mengerikan seperti pada tahun 1998 lalu. Apresiasi dari bank dunia terjadi karena pemerintah memberi bantuan yang tepat sasaran dan juga adil.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Abdul Karim )*

Pemerintah terus menggencarkan program vaksinasi kepada masyarakat. Vaksinasi diyakini efektif untuk membentuk antibodi lebih tinggi untuk melawan Covid-19.
Kita sudah melalui pandemi selama dua tahun. Dalam waktu yang berat ini harus sabar dalam menghadapi cobaan dan tetap menjaga protokol kesehatan. Selain itu juga wajib vaksinasi agar imunitas tubuh naik sehingga tidak mudah tertular Corona. Apalagi virus ini terus bermutasi dan varian omicron terbukti lebih cepat menular daripada varian lain, sehingga vaksinasi amat penting.

Program vaksinasi nasional telah dimulai dan pemerintah terus menggenjot agar cepat selesai. Penyebabnya karena makin banyak yang divaksin maka makin cepat kita memiliki herd immunity di seluruh Indonesia, sehingga kondisi pandemi dan lekas dapat diakhiri.
Di banyak daerah sudah mulai terbentuk herd immunity. Survey dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menyatakan, “Antibodi terhadap Corona yang didapatkan oleh warga yang tinggal di wilayah aglomerasi lebih tinggi dibandingkan kabupaten atau kota lainnya.”

Temuan ini didapatkan dari survey seroprevalensi pada november hingga desember 2021. Seroprevalensi yang dimaksud adalah penelitian yang dilakukan untuk menghitung jumlah individu dalam suatu populasi yang menunjukkan hasil positif untuk penyakit tertentu berdasarkan spesimen serologi atau serum darah.

Iwan Ariawa, anggota tim pandemi Fakultas Kesehatan Masyarakat UI menyatakan, “Seroprevalensi atau sero survei dilakukan berdasarkan wilayah aglomerasi sebanyak 9 provinsi, 47 kabupaten/kota, dan wilayah aglomerasi yang terdiri dari 25 provinsi dan 53 kabupaten/kota. Sampelnya dari 92,8% penduduk.”

Iwan menambahkan, “Wilayah aglomerasi memiliki proporsi penduduk dengan antibodi yang lebih tinggi yakni 90,8% dibanding dengan wilayah non aglomerasi yakni 83,2%. Sedangkan di wilayah aglomerasi lebih banyak penduduk yang sudah divaksin daripada belum.“
Dalam artian, jika di wilayah aglomerasi masyarakatnya memiliki antibodi yang lebih tinggi maka berarti sudah mulai terbentuk herd immunity. Penyebabnya karena mayoritas warga sudah divaksin. Sehingga di satu wilayah yang berdekatan, antibodinya akan lebih tinggi. Jika dibandingkan dengan di wilayah non aglomerasi.

Hal ini membuktikan keampuhan vaksin Corona. Setelah setahun digalakkan program vaksinasi nasional maka antibodi masyarakat lebih tinggi, terutama di wilayah aglomerasi. Posisinya yang berdekatan membentuk kekebalan komunal sehingga tiap orang terlindungi dari Corona.

Dengan adanya hasil survey ini maka kita merasa lega karena ada harapan bahwa pandemi akan berakhir lebih cepat. Sehingga kita bisa beraktivitas dengan normal tanpa takut Corona. Tentunya tetap dengan mematuhi protokol kesehatan.

Walau herd immunity belum 100% di seluruh Indonesia, karena syaratnya harus punya cakupan vaksinasi minimal 75%, tetapi kita tetap optimis. Saat ini cakupan vaksinasi baru sekitar 50% tetapi akan terus digenjot. Hal ini dilakukan agar target dari pemerintah tercapai, yakni 100% vaksinasi setelah 18 bulan dari suntikan pertama di awal program vaksinasi nasional, berarti nanti di bulan september 2022.

Untuk mencapai target cakupan vaksinasi maka banyak pihak yang menyukseskan program vaksinasi nasional dengan mengadakan vaksinasi massal. Jadi, vaksinasi tidak hanya dilakukan di RS dan puskesmas. Namun juga di tempat umum seperti tanah lapang dan aula universitas.

Vaksinasi warga di kawasan aglomerasi terbukti memberi antibodi tubuh yang lebih tinggi untuk melawan Corona. Oleh karena itu, segeralah divaksin jika belum, karena kita harus punya imunitas kuat di masa pandemi. Jarak antar vaksin maksimal 6 bulan dan setelah itu baru menunggu undangan untuk suntik booster.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Nofri Fahrozi )*

Kedatangan virus Covid-19 varian Omicron membuat jumlah pasien Corona terus melonjak. Kita patut mewaspadainya agar tidak ada ledakan kasus dengan selalu taat protokol kesehatan dan tertib vaksin.
Beberapa bulan ini kita sedang mengalami fase tenang.
Walau pandemi masih ada tetapi jumlah pasien Corona menurun drastis hingga di bawah 200 orang per hari. Akan tetapi kedatangan virus Covid-19 varian Omicron memporak-porandakannya, karena menurut data tim satgas penanganan Covid, jumlah pasien lebih dari 500 orang per hari atau hampir 3 kali lipatnya.

Pemerintah berusaha agar keadaan ini bisa dikendalikan, sebab jika dibiarkan saja, dikhawatirkan akan terjadi serangan Corona gelombang ketiga. Jangan sampai badai ketiga ini merusak semuanya dan membuat tragedi seperti yang terjadi di India beberapa waktu lalu, karena kematian massal.

Juru bicara vaksinasi Kementrian Kesehatan dokter Siti Nadia Tarmidzi menyatakan bahwa prediksi lonjakan pasien Corona terjadi pada pekan kedua februari 2022. Dalam artian, kita harus bersiap-siap menghadapi yang terburuk. Jangan sampai semuanya terlambat sehingga Corona, terutama varian Omicron, menyebar luas di seluruh Indonesia.

Virus Covid-19 varian Omicron memang patut diwaspadai karena bisa menular 3 kali lebih cepat daripada Corona varian lain. Dilaporkan oleh tim satgas penanganan Covid-19, saat ini jumlah pasien Covid varian Omicron totalnya lebih dari 500 orang, padahal kasus Omicron pertama terdeteksi pada awal Januari 2022..

Untuk mencegah penularan virus Covid-19 varian Omicron sekaligus menghindarkan dari ledakan kasus Corona maka masyarakat harus menaati protokol kesehatan lebih ketat. Apalagi saat ini anak sekolah sudah masuk 100%, sehingga mereka (dan orang tuanya) wajib mengenakan masker saat di luar rumah. Jangan sampai gara-gara banyak yang tidak tertib protokol kesehatan, terjadi serangan ketiga Corona dan sekolah diliburkan lagi.

Selain memakai masker, masyarakat juga harus rajin mencuci tangan (atau memakai hand sanitizer), menjaga jarak, dan mengurangi mobilitas. Terutama pada aturan jaga jarak, jangan berkerumun dan ketika ada rapat usahakan ada jarak minimal 1 meter antar kursi.
Kapasitas tempat juga diisi maksimal 50% dan usai acara semuanya dibersihkan dan disemprot disinfektan.
Patuhi juga aturan lain seperti mengurangi mobilitas dan jangan nekat traveling apalagi ke luar negeri, apalagi laporan pasien Covid varian Omicron ditemukan dari mereka yang habis bepergian dari luar negeri. Daripada merana karena Corona, lebih baik menahan diri untuk sementara. Patuhi juga aturan vaksinasi sampai 2 dosis dan sabar menunggu booster pada tahun ini.

Pemerintah juga mengantisipasi ledakan kasus Corona dengan menyiapkan Rumah Sakit khusus. Ketika ada kenaikan kasus Covid maka pasien biasa dengan pasien Corona tidak bisa dicampur dalam 1 lokasi karena khawatir akan terjadi penularan di sana.

Rumah Sakit khusus tersebut juga dilengkapi dengan tabung oksigen, ventilator, APD, dan peralatan kesehatan lain. Kelengkapan perangkat medis harus disiapkan sejak dini karena jangan sampai ketika ada lonjakan kasus Corona, pasien sampai berebut tabung oksigen karena stoknya tidak mencukupi.

Para tenaga kesehatan juga diminta untuk lebih tabah dan menyiapkan fisik karena ada prediksi serangan Corona gelombang ketiga. Mereka sudah divaksin ketiga alias booster terlebih dahulu. Selain itu nakes juga dibantu oleh relawan sehingga meringankan tugasnya.

Kita patut mewaspadai adanya serangan Corona gelombang ketiga gara-gara virus Covid-19 varian Omicron. Jangan sampai teledor dan akhirnya terjadi kerugian fatal akibat persiapan yang kurang. Tetap taati protokol kesehatan agar tidak tertular Corona varian apa saja.

)* Penulis adalah warganet/ Kontibutor Citizen Journalism tinggal di Palembang

Oleh : Abdul Kadir )*

Pemerintah melaksanakan berbagai cara dalam pengendalian Covid-19, mulai dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berlevel, karantina, hingga pemerataan vaksin. Masyarakat pun mendukung berbagai upaya yang tengah dilakukan oleh pemerintah demi pemulihan ekonomi nasional.

Mewabahnya pandemi Covid-19 memang meluluhlantakkan beragam sektor. Baik dari kesehatan sendiri, hingga sektor ekonomi. Setidaknya, mulai dari masyarakat kalangan atas hingga lapisan bawah ikut tergempur dampaknya. Bahkan, kondisi ekonomi sempat terpuruk hingga mati suri.

Kurang lebih dua tahun, Indonesia bergelut dengan varian virus bernama Covid-19. Angka ekspansi Corona yang sebelumnya hanya beberapa kasus saja, ternyata begitu cepat merebak. Banyak orang-orang yang terpapar hingga fasilitas kesehatan penuh dan kekurangan tenaga medis.

Belum lagi lonjakan angka yang terus naik di berbagai wilayah di Indonesia. Namun, respon pemerintah dianggap cukup baik. Penutupan-penutupan pintu masuk seperti bandara, hingga moda transportasi lainnya segera dilakukan. Adanya pemberlakuan karantina sesaat setelah seseorang dinyatakan positif juga terus jadi prioritas.

Penambahan armada kesehatan, dosis obat hingga penyediaan ruang perawatan tambahan juga diupayakan. Dampaknya meluas hingga ke sistem ekonomi. Sektor pariwisata mandek hingga pendapatan negara berkurang. UMKM hingga perusahaan besar banyak yang bangkrut dan gulung tikar.

Akhirnya pemerintah berinisiatif memberikan stimulus dana. Adanya stimulus ini dinilai mampu mengganjal kesulitan yang dialami masyarakat Indonesia. Hingga upaya yang kini makin diprioritaskan ialah pemberian vaksin demi terbentuknya herd immunity.

Bersyukur, upaya vaksin ini menunjukkan hasil yang signifikan. Adanya penurunan angka penyebaran Covid-19 membuat masyarakat mulai menata kembali hidup. Terlebih pemberlakuan PPKM berlevel ikut menyumbang keberhasilan yang nyata. Kabar baiknya ialah, Covid-19 yang terkendali diprediksi membuat ekonomi Indonesia bakal tembus di angka 5 persen tahun 2022.

Menurut Lembaga Riset ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Indonesia menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2022 bakal meningkat dengan capaian antara 4 hingga 5 persen. Proyeksi ini diklaim memang lebih rendah ketimbang proyeksi pemerintah. Namun, masih lebih baik dari pada penasaran proyeksi sebesar 3,6 sampai 4 persen tahun 2021.

Mohammad Faisal yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif CORE, mengaminkan hal tersebut. Dirinya menilai jika tahun 2022 pertumbuhan ekonomi yang membaik dipengaruhi oleh beberapa hal. Utamanya ialah upaya pengendalian Covid-19 yang bagus. Kendati adanya varian baru yang dianggap masih mengkhawatirkan.

Ia juga memaparkan jika pengendalian yang baik ini mampu membuat mobilitas dalam kondisi recovery atau pulih. Mobilitas yang pulih tentunya membuat industri hingga kegiatan ekonomi mampu bertahan. Khususnya jika RI tidak mengulang peristiwa darurat terkait Covid-19, ketika varian Delta mereka sekitar pertengahan tahun 2021.

Faktor lain yang turut mempengaruhi pelemahan ekonomi tahun 2022 mendatang ialah Isu BBM. Dimana pemerintah berencana menghapus bahan bakar jenis pertalite juga premium. Kemungkinan lain yang bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi ialah harga LPG, kelistrikan hingga Iuran BPJS kesehatan ikut melonjak.

Faisal menambahkan jika kenaikan harga dapat berpotensi menggerus daya beli warga. Yang dinilai masih mendominasi PDB RI. Sebab, konsumsi rumah tangga tetaplah dinilai yang paling besar. Sejalan dengan hal tersebut, angka inflasi diproyeksikan bakal melejit.
Terlebih, jika kenaikan harga dilakukan secara berbarengan. Prediksi Faisal ini ialah, inflasi akan berasa dua kali lipat ketika harga naik terlaksana serempak. Idealnya, jika inflasi naik dua kali lipat namun tidak diiringi dengan pendapatan yang seimbang, otomatis daya beli masyarakat ikut anjlok. Belum lagi adanya arahan defisit fiskal secara ketat di tahun mendatang.

Kendati beragam tantangan datang silih berganti. Tentu yang menjadi fokus saat ini ialah pulihnya keadaan masyarakat yang paling utama. Sebab, kondisi yang makin pulih akan ikut meningkatkan keadaan ekonomi nasional.

Asumsinya ialah, sektor-sektor yang sebelumnya sempat mati suri perlahan terbuka kembali. Aktivitas ekonomi berjalan bertahap seiring upaya pengendalian pemerintah atas Covid-19. Adanya peningkatan aktivitas inilah yang nantinya mampu mendongkrak stabilnya pendapatan masyarakat. Sehingga, sedikit banyak daya beli masyarakat kembali pada tempatnya.

Maka dari itu, seluruh upaya yang telah dilakukan pemerintah setidaknya dalam dua tahun terakhir hendaknya didukung penuh. Sebab, dukungan dan kolaborasi yang apik dari masyarakat dan pemerintah mampu mewujudkan perbaikan ekonomi lebih cepat. Apalagi, jika menilik capaian-capaian selama 2021 yang masih menunjukkan harapan. Kini, saatnya terus maju dan bangkit ikut mensukseskan upaya pengendalian Covid-19 oleh pemerintah, terlebih dengan Omicron yang masih meresahkan.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Jakarta — Pemerintah terus mengimbau masyarakat agar disiplin menerapkan protokol kesehatan (Prokes) guna mencegah lonjakan kasus COVID-19. Penerapan prokes ketat harus dilakukan imbas mulai menyebarnya varian baru virus corona, yakni Omicron.

Karena itu, jelang Tahun Baru 2022, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian melarang adanya kegiatan yang berpotensi menimbulkan kerumunan seperti pawai hingga pesta kembang api pada malam Tahun Baru. Hal itu untuk menantisipasi melonjaknya kasus COVID-19 pada periode ini.

“Selama Natal dan Tahun Baru tidak boleh berkeliaran, tidak ada perayaan-perayaan, pawai-pawai, arak-arakan, pesta kembang api, alun-alun ditutup dan sebagainya,” ujar Tito, Senin, 27 Desember 2021.

Kegiatan tersebut, jelasnya, berpotensi menimbulkan kerumunan sehingga harus ditiadakan. Namun, Mendagri menyebut kegiatan restoran maupun mal masih dibolehkan dengan syarat menerapkan prokes ketat.

“Restoran 75 persen, mal 75 persen, penerapan PeduliLindungi berjalan terus,” tuturnya.

Tito juga meminta agar kepala daerah mengeluarkan peraturan kepala daerah yang memuat sanksi dalam penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di wilayah masing-masing sebagai upaya langkah pencegahan.

Selain itu, tambahnya, persiapan lainnya untuk pencegahan lonjakan COVID-19 di akhir tahun yakni seperti penguatan perbatasan, kemudian percepatan vaksinasi. (*)

Oleh : Dian Ahadi )*

Kendati telah dilaporkan penurunan kasus Covid-19, agaknya masyarakat tak boleh lengah. Masyarakat pun diminta untuk menerapkan Prokes ketat saat momentum libur akhir tahun karena pandemi Covid-19 belum usai.

Pandemi Covid-19 memang telah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Bahkan, disejumlah daerah level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) juga ikut diturunkan. Namun, kewaspadaan akan pandemi ini tentunya tidak boleh berkurang. Namun harus tetap diperketat.

Pemerintah memang terus memperluas cakupan vaksinasi, namun demikian hal itu tidak dapat dijadikan dasar masyarakat untuk lengah menerapkan Prokes. Apalagi menyusul berita terkini adanya varian baru yakni Omicron. Varian virus dengan kode B.1.1.529 tersebut dilaporkan pertama kali pada WHO dari wilayah Afrika Selatan. Tepatnya ialah 24 November 2021 lalu.

Berdasarkan bukti yang didapatkan, varian ini mengindikasikan perubahan yang dinilai merugikan pada epidemiologi Covid-19. Sehingga, pihak TAG-VE menyarankan kepada WHO agar menetapkan jenis ini sebagai varian of concern (VOC). Akhirnya WHO merilis kabar terkait virus ini dengan nama Omicron.

Kabarnya nama ini diambil dari huruf ke-limabelas dalam alfabet asal Yunani. VOC disebut-sebut sebagai varian tertinggi dari virus Corona. Alhasil, penularan, gejala penyakit hingga risiko infeksi ulang mampu mempengaruhi kinerja vaksin. Sebelumnya, dilaporkan jika varian yang cepat menyebar diklasifikasikan menjadi, Beta, Alpha, Delta serta Gamma juga masuk dalam kategori tersebut.

Omicron juga diklaim mengalami mutasi yang sangat banyak ketimbang varian lainnya. Bahkan, beberapa diantaranya cukup mengkhawatirkan, karena dampak potensial ke arah pandemi. Meski kasus di Indonesia belum banyak ditemukan. Tak ada salahnya selalu aware dengan segala kemungkinan yang ada.

Demi mengantisipasi hal ini pemerintah kian menggencarkan Prokes ketat kepada seluruh masyarakat Indonesia. Kabar terbaru menyebutkan adanya peraturan resmi, dimana PPKM level 3 dibatalkan namun diganti dengan sejumlah aturan diantaranya ialah sebagai berikut.

Pemberlakuan ketat arus pelaku perjalanan masuk dari luar negeri. Termasuk para pekerja migran Indonesia atau PMI sebagai langkah antisipasi tradisi pulang kampung atau mudik Nataru. Turut memaksimalkan hingga memperbanyak penggunaan dan penegakan aplikasi PeduliLindungi. Baik untuk fasilitas publik seperti fasilitas umum, tempat wisata, restoran, pusat perbelanjaan hingga fasilitas ibadah.

Kemudian, pembatasan kegiatan masyarakat mulai tanggal 24 Desember hingga 2 Januari tahun 2022. Bahkan bagi seni budaya hingga sektor olahraga yang berpotensi menimbulkan sejumlah penularan Covid-19 yang akan dilakukan tanpa penonton. Serta bukan merupakan perayaan Natal serta tahun baru atau menimbulkan kerumunan dapat diterapkan Prokes dan dihadiri maksimal 50 orang.

Adanya penutupan alun-alun mulai akhir bulan (31 Desember 2021) hingga awal tahun 1 Januari 2022. Dimulainya pemberlakuan sebuah rekayasa hingga antisipasi aktivitas pedagang kaki lima, yang berada di pusat keramaian agar tetap mematuhi Prokes juga menjaga jarak.

Bagi masyarakat yang hendak melakukan perjalanan akan dikenakan beberapa peraturan. Diantaranya dengan Larangan bagi orang untuk bepergian jarak jauh dengan status belum divaksin. Setiap orang yang akan pergi jauh wajib vaksin dua kali serta melakukan rapid antigen tes satu kali dua puluh empat jam
Kemudian, apabila ditemukan pelaku perjalanan dengan kategori pertama dan ternyata positif Covid-19, maka diwajibkan untuk isolasi mandiri. Bisa pula isolasi di tempat yang telah dipersiapkan oleh pihak pemerintah. Dan sejumlah aturan lainnya.

Dalam hal ini tentunya, pemerintah ingin sekali memaksimalkan perlindungan atas COVID-19 kepada seluruh warganya. Tak dipungkiri, pandemi ini sebelumnya memang terasa begitu cepat, awal mula hanya satu-dua kasus saja. Kemudian menyebarluas dan sulit dikendalikan.

Kendati demikian, jika menilik ke belakang tentu kondisi sekarang sudah jauh lebih baik. Meski masih harus terus berjibaku dengan virus mematikan ini, pemerintah tetap akan memberikan upaya terbaiknya. Demi kelangsungan hidup yang aman.

Maka dari itu, jika pemerintah telah mengerahkan segala kemampuannya. Otomatis kita selaku warga negara yang baik wajib mematuhi protokol kesehatan secara ketat. Jangan sampai pembiaran-pembiaran ataupun keteledoran terjadi, dimana hal ini justru akan menjadi sebuah bom waktu yang akan sulit dihentikan.

Pembatalan PPKM Level 3 serentak diharapkan dapat dimaknai secara bijak oleh masyarakat. Tak salah menikmati liburan Natal serta tahun baru, namun tetap jaga Prokes ketat demi kebaikan bersama. Ingat, tetap waspada virus Covid-19 belumlah usai.

)* Penulis adalah mahasiswa universitas Pakuan Bogor

Oleh : Nur Halimah )*

BIN terus memperluas cakupan vaksinasi door to door kepada masyarakat. Strategi tersebut dilaksanakan guna mengejar target 3 juta suntikan perhari sekaligus mengantisipasi lonjakan Covid-19 menjelang Nataru.

Jelang akhir tahun kita wajib waspada akan klaster Corona baru akibat kerumunan dan mobilitas massal. Jika ada 2 hal ini maka bisa memicu lonjakan kasus covid di Indonesia. Padahal keadaan sudah relatif aman dan jumlah pasien per harinya ‘hanya’ 500-an orang. Kita wajib waspada agar tidak ada lagi kenaikan kasus dan bisa keluar secepatnya dari status pandemi.

Salah satu cara untuk mencegah lonjakan kasus Corona adalah dengan vaksinasi door to door. Vaksinasi yang diinisiasi oleh Badan Intelijen Negara (BIN) dilakukan dengan mendatangi langsung ke masyarakat atau dilakukan tidak di Rumah Sakit dan Puskesmas, tetapi tempat lain.

BIN Sulawesi Utara (Sulut) menggelar vaksinasi door to door di Mall, tepatnya di Mantos 3, Star Square, dan Megamall. Vaksinasi sengaja dilakukan di pusat perbelanjaan agar mencapai target 25.500 orang yang sudah divaksin di Sulawesi Utara. Kepala BIN daerah Sulut Laksma TNI Adriansyah menyatakan bahwa pengunjung mall yang belum divaksin tak usah khawatir tak bisa masuk mall karena bisa memanfaatkan gerai vaksinasi di sana.

Laksma TNI Adriansyah melanjutkan, vaksinasi di dalam Mall dilakukan untuk mencapai minimal 70% vaksinasi sehingga terbentuk kekebalan kelompok. Selama ini baru 21.000 jiwa yang sudah divaksin dan sisanya akan dikebut, terutama jelang libur akhir tahun.
Pengebutan vaksinasi jelang libur akhir tahun memang dilakukan sebagai proteksi. Sehingga jika sampai ada kerumunan di tempat umum seperti taman kota dan kebun binatang, semua pengunjung akan telindungi karena sudah divaksin. Mereka memiliki kekebalan tubuh yang tinggi sehingga tidak akan tertular Corona.

Vaksinasi door to door yang dilakukan di dalam Mall sangat diapresiasi masyarakat karena tempat itu sering dikunjungi sehingga memudahkan banyak orang untuk mendapatkan vaksin. Sebelum berbelanja mereka bisa mendapatkan vaksinasi dan pulang-pulang lega karena bisa shopping sambil meningkatkan imunitas tubuh. Situasi Mall yang rileks juga mengurangi ketegangan saat disuntik.

Ketika ada vaksinasi di dalam Mall maka masyarakat tidak usah pergi ke Rumah Sakit atau Puskesmas. Lagipula, antrian di dalam Mall lebih lega sehingga bisa mendapatkan lebih banyak masyarakat yang mau disuntik daripada di dalam Puskesmas yang ruangannya jauh lebih sempit. Jika tempatnya luas maka bisa menjaga protokol kesehatan jaga jarak.

Vaksinasi di dalam Mall juga jadi simbiosis mutualisme. Pengunjung mall naik dan mendapatkan keuntungan karena pasca disuntik mereka jadi jajan di foodcourt dan tempat parkirnya lebih penuh sehingga menambah pendapatan. Sedangkan penyelenggara vaksinasi bisa mendapatkan ruangan yang jauh lebih lapang, ber-AC pula.

Pemberian vaksinasi sangat penting karena bisa meningkatkan imunitas tubuh sehingga meminimalisir penularan Corona. Apalagi saat ini virus covid-19 sudah bermutasi jadi varian omicron yang lebih ganas. Sehingga vaksinasi jadi proteksi, agar tidak terkena Corona varian apa saja.

Vaksinasi door to door yang diadakan di dalam pusat perbelanjaan sangat diapresiasi oleh masyarakat, karena lebih mendekatkan warga sipil pada injeksi vaksin yang masih gratis. Ketika ada vaksinasi di dalam mall maka masyarakat akan tertarik dan mau mengantri, dan tidak usah mendaftar di RS atau Puskesmas seperti dulu.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

JAKARTA — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti sejumlah perbaikan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. Ketua DPR RI Puan Maharani menilai keberhasilan penurunan kasus Corona di Indonesia berkat kontribusi semua pihak, termasuk upaya nyata penanganan Covid-19 oleh pemerintah. Adapun hal yang disoroti WHO adalah angka positivity rate Corona di Indonesia yang kini berada di angka 6,6 persen, padahal Juni hingga Agustus angkanya masih tinggi. Angka positivity rate Corona di Indonesia saat ini nyaris menyentuh batas aman 5%.

“Keberhasilan penurunan kasus Corona di Indonesia buah dari gotong royong seluruh elemen bangsa, termasuk dari masyarakat yang mau bekerja sama terhadap setiap kebijakan pemerintah mengenai penanganan Covid-19,” kata Puan, Jumat (10/9/2021) yang lalu. Angka positivity rate 6,6% menunjukkan penularan Corona di Indonesia sudah jauh lebih baik daripada puncaknya di pertengahan Juni sampai Agustus di mana angka positivity rate menyentuh hingga 30%.

Puan mengatakan, penurunan kasus Covid-19 tidak terlepas dari penanganan yang baik oleh pemerintah. “Tentunya keberhasilan ini juga atas kerja keras jajaran pemerintah dan patut kita beri apresiasi,” ucap perempuan pertama yang menjabat sebagai Ketua DPR RI itu. Puan pun menilai, penanganan Corona yang optimal di setiap daerah ikut berpartisipasi mendukung penurunan kasus Covid-19 secara nasional. Koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah juga dianggap mempercepat pengendalian pandemi Corona. “Pemerintah mengambil peranan yang besar dalam upaya menekan laju kasus Corona.

Selain itu, koordinasi yang terjalin apik antara daerah dengan pusat menjadi kunci sehingga kebijakan di tingkat nasional dijalankan secara optimal di daerah,” sebut Puan. Menurut mantan Menko PMK itu, penanganan Covid-19 yang baik di Indonesia juga berkat andil instansi dan lembaga terkait seperti TNI/Polri, Kejaksaan, perguruan tinggi dan akademisi, LSM, hingga DPR atau DPRD dalam hal pengawasan kebijakan dan anggaran. Puan mengatakan, keberhasilan didapat atas kerja besar bersama.

“Kebijakan PPKM yang menuntut kolaborasi seluruh pihak punya andil besar dalam penurunan kasus Covid-19. Apalagi berdasarkan data WHO, seluruh provinsi di Indonesia sudah mencapai minimal target testing 1 per 1.000 populasi sepekan, ini pencapaian yang baik,” jelasnya. “Tapi kita masih punya PR untuk memperbaiki kasus kematian Covid-19 yang masih tinggi di 5 daerah di tanah air,” sambung Puan.

Penurunan kasus Corona di Indonesia sempat membuat Malaysia heran, karena lebih cepat dibandingkan tren kasus di negaranya. Puan sendiri juga ikut menyampaikan keberhasilan penanganan pandemi Covid-19 Indonesia saat menghadiri konferensi Ketua Parlemen Dunia di Wina, Austria. “Dalam berbagai forum di Fifth World Conference of Speakers of Parliament (5WCSP), saya menjelaskan keberhasilan Indonesia menekan lonjakan kasus Corona didukung oleh keterlibatan seluruh elemen masyarakat,” ungkap Cucu Proklamator Bung Karno itu.

Kepada para Ketua Parlemen Dunia, Puan menjelaskan masyarakat Indonesia tertib menjalankan pembatasan pergerakan. Sementara pemerintah melakukan testing, tracing, dan treatment, serta vaksinasi massal secara efektif. “Vaksinasi bukan cara satu-satunya dalam penanganan pandemi Covid-19. Semua harus dilakukan secara bersamaan, termasuk tracing, treatment dan pembatasan mobilitas saat terjadi lonjakan kasus,” tutup Puan. (*)