Jakarta — Saat ini Indonesia masuk ke dalam fase di mana angka kejadian COVID-19 tidak meningkat. Seluruh masyarakat Indonesia diimbau untuk tetap waspada terhadap ancaman gelombang ketiga pandemi COVID-19, terutama saat hari raya natal dan tahun baru (Nataru).

Mobilisasi masyarakat harus dikendalikan semaksimal mungkin sehingga lonjakan kasus tidak terjadi. Bulan Juli lalu telah terjadi kasus kematian akibat COVID-19 terbanyak sepanjang pandemi melanda Indonesia.

Sebanyak 32.061 kasus kematian selama periode 1-29 Juli. Jumlah itu empat kali lipat lebih banyak dibandingkan Juni 2021 dengan total 7.913 kasus kematian.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI drg. Widyawati MKM mengatakan pemerintah telah memberlakukan pembatasan mobilitas melalui Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk mencegah penularan COVID-19.

“Masyarakat jangan sampai melupakan kejadian di bulan Juli yang menyebabkan banyak kematian akibat COVID-19. Patuhi protokol kesehatan jangan sampai lengah,” katanya, Sabtu (27/11) di Jakarta.

Untuk mencegah terjadinya gelombang ketiga pandemi COVID-19 pun pemerintan menerapkan PPKM Level 3 dari tanggal 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022.

Upaya itu dilakukan untuk melindungi masyarakat dari penularan COVID-19. Jangan sampai kebebasan sesaat ketika Nataru menyebabkan kasus COVID-19 kembali naik. Akibatnya akan berdampak buruk bukan dari sisi kesehatan saja tapi perekonomian jadi tidak berjalan.

“Masih ada masyarakat yang terpapar COVID-19 walaupun sangat kecil. Jadi tetap laksanakan 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak), dan hindari kerumunan, serta kurangi mobilitas,” ucap drg. Widyawati.

Pemerintah juga melakukan percepatan kegiatan vaksinasi untuk meningkatkan herd immunity. Masyarakat diimbau tidak memilah-milah jenis vaksin karena semua jenis vaksin yang disediakan pemerintah adalah vaksin terbaik.

Tidak hanya pemerintah, upaya dari masyarakat pun berperan penting untuk menghindari gelombang ketiga pandemi COVID-19 di Indonesia.

“Kalau masyarakat peduli dan disiplin protokol kesehatan, maka COVID-19 ini bisa dicegah dan tidak terjadi gelombang ketig,” tutur drg. Widyawati. (*)

Jakarta — Munculnya varian baru Corona Micron dari Botswana Afrika Selatan menjadi perhatian besar dunia. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah meningkatkan status Omicron menjadi variant of concern (varian yang mengkhawatirkan).

Ada 16 negara yang melaporkan bahwa varian Omicron telah terdeteksi di sana. Negara tersebut terdiri dari negara Afrika bagian selatan yaitu Afrika Selatan, Botswana, Namibia, Zimbabwe, Lesotho dan Eswatini. Negara di Afrika bagian timur yaitu Mozambique, Malawi, Zambia. Lalu negara Afrika bagian tengah yaitu Angola. Kemudian enam negara sisanya adalah Jerman, Belgia, Inggris, Israel, Australia, dan Hong Kong.

Melihat fakta itu, pemerintah Indonesia langsung sigap menetapkan sejumlah upaya pencegahan agar varian Omicron tidak masuk ke Tanah Air. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan ada empat kebijakan penting yang diberlakukan sebagai upaya pencegahan tersebut.

Pertama, melarang masuk Warga Negara Asing (WNA) yang memiliki riwayat perjalanan selama 14 hari kesebelas negara seperti Afrika Selatan, Botswana, Lesotho, Eswatini, Mozambique, Malawi, Zambia, Zimbabwe, Angola, Namibia, dan Hong Kong. Pelarangan tersebut akan berlangsung selama 14 hari.

Kedua, Warga Negara Indonesia (WNI) yang pulang ke Indonesia dan memiliki riwayat perjalanan dari negara-negara pada poin pertama akan dikarantina selama 14 hari.

Ketiga, pemerintah akan meningkatkan waktu karantina bagi WNA dan WNI pelaku perjalanan dari luar negeri selain kesebelas negara yang masuk daftar tadi, menjadi 7 hari dari sebelumnya 3 hari.

Masyarakat pun diimbau untuk terus disiplin menerapkan protokol kesehatan agar penyebaran kasus Covid-19 yang sudah mulai terkendali di Indonesia bisa terus turun.

“Kita perlu terus meningkatkan protokol kesehatan dan penggunaan PeduliLindungi, percepatan vaksin juga penting, vaksin tetap efektif dan harus terus digerakkan. Utamanya menjelang Nataru, kita harus mengambil langkah antisipasi,” tutur Luhut.

Hal yang berbeda namun sama maksudnya, juga disampaikan oleh Ketua UKK Infeksi & Penyakit Tropis IDAI Anggraini Alam mengatakan pelaksanaan PTM di tengah ancaman gelombang 3 dan varian omicron adalah dengan harus melaksanakan protokol kesehatan.

Meski terdengar klise namun efektivitas mencegah penularan covid-19 sangat efektif. “Vaksinasi bukan satu-satunya hal yang bisa mencegah infeksi covid-19. Jadi protokol kesehatan ini kita pegang secara disiplin. Mudah-mudahan dengan adanya pandemi ini membuat anak dan orang tua lebih disiplin,” pungkasnya. (*)

Oleh : Feby Lestari )*

Pembelajaran tatap muka (PTM) sudah dimulai lagi dalam beberapa bulan terakhir. Peserta didik maupun staf pengajar pun diwajibkan menerapkan disiplin ketat Prokes untuk menyukseskan PTM sekaligus mencegah munculnya kluster baru Covid-19.

Pandemi membuat kehidupan kita berubah drastis dan akhirnya diberlakukan kebijakan stay at home. Anak-anak juga sekolah di rumah, apalagi mereka belum mendapatkan vaksinasi karena mayotritas berusia 12 tahun ke bawah. Jadi selama setahun lebih, masih belajar jarak jauh via Zoom.

Selama sekitar sebulan ini kurva pasien Corona menurun dan keadaan stabil, banyak daerah yang berstatus zona hijau. Situasi ini membuat pelonggaran aturan sehingga anak-anak boleh sekolah offline seperti biasanya. Mereka juga gembira karena sudah amat rindu dengan bapak ibu guru serta kawan-kawannya.

Akan tetapi PTM bisa jadi bencana saat banyak yang tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Di Kabupaten Buleleng, Bali, Tim Satgas Penanganan Covid-19 menemukan guru dan murid yang tidak menaati protokol kesehatan saat PTM. Jarak antar siswa berdekatan dan masker mereka dilepas, begitu juga dengan sang guru yang menurunkan masker.

Wakil Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Buleleng sekaligus Kapolres, AKBP Adrian Pramudianto, langsugn menegur guru dan murid yang lalai dalam menerapkan protokol kesehatan. Mereka langsung cepat-cepat mengenakannya kembali dan berjanji untuk tidak mengulanginya.
Sedangkan di Jawa Barat ada kenaikan kasus Corona sebanyak 20%. Hal ini sangat aneh karena sebelumnya jumlah pasien Covid terus menurun. Setelah diselidiki, ternyata penyebabnya adalah PTM, yang bisa jadi diadakan tanpa mengindahkan protokol kesehatan.

Ketidakdisiplinan dalam menaati protokol kesehatan amat disayangkan, apalagi mereka yang menyandang status guru. Seharusnya bapak dan ibu guru memberi teladan dengan mengenakan masker dan Prokes lain, karena guru wajib digugu dan ditiru. Namun ketika mereka melepas masker maka otomatis muridnya juga melepasnya, sungguh miris.

Jangan sampai PTM malah jadi bencana karena menaikkan jumlah pasien Corona di Indonesia. Sebab jika nanti ada kenaikan kasus, maka bisa naik level lagi jadi PPKM level 4 dan zona merah, sehingga sekolah terpaksa ditutup. Para murid juga gigit jari karena jenuh sekolah online, dan semua itu karena kesalahan mereka sendiri yang malas-malasan pakai masker.

Kita masih wajib menaati protokol kesehatan saat PTM, tentunya juga di rumah. Penyebabnya karena ada ancaman serangan Corona gelombang ketiga, yang diprediksi oleh para epidemiolg, pada akhir tahun 2021 atau awal tahun 2022. Daripada merana karena Corona, lebih baik disiplin pakai masker dan menerapkan poin-poin lain dalam Prokes.

Selama PTM yang wajib dilakukan adalah mengenakan masker dan tidak boleh dilepas, baik saat di kelas maupun di kantor guru. Malah yang disarankan memakai masker ganda, yakni masker kain dan masker sekali pakai, untuk meningkatkan daya filtrasi udara.

Selain itu para murid wajib menjaga jarak saat di kelas, oleh karena itu daya tampung maksimal 50% saja. Sehingga pembelajaran tatap muka maksimal 3 kali seminggu, karena masuknya bergiliran. Para murid dan guru juga wajib cuci tangan di temapt yang disediakan dan menyediakan hand sanitizer. Mereka juga tidak boleh bergerombol seperti dulu, ketika belum masa pandemi.

Saat PTM mulai dipraktikkan di banyak sekolah, harus diiringi dengan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan, seperti memakai masker, mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, menjaga jarak, dan menghindari keramaian. Upacara untuk sementara diliburkan agar tidak ada kerumunan dan guru serta murid harus sama-sama disiplin dalam menerapkan Prokes.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Lisa Pamungkas )*

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) secara terbatas memang sesuatu hal yang cukup mendesak untuk segera diimplementasikan. Oleh sebab itu, kepatuhan terhadap Protokol Kesehatan Menjadi harga mati yang harus selalu dijaga.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi mengungkapkan, perkuliahan tatap muka terbatas akan berbeda situasinya dengan saat sebelum pandemi. Nadiem mengingatkan bahwa banyak hal yang harus dipatuhi mahasiswa dalam menerapkan protokol kesehatan yang ketat selama berada di Kampus.

Pelaksanaan PTM terbatas mengikuti pengaturan yang tertulis dalam SKB 4 Menteri tentang panduan penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19. SKB tersebut mencantumnkan hal-hal yang harus dilakukan oleh semua warga satuan pendidikan selama memaksimalkan pelaksanaan PTM terbatas, khususnya protokol kesehatan seperti mencuci tangan dengan air mengalir atau hand sanitizer, menjaga jarak, serta menerapkan etika batuk/bersin secara baik dan benar.

Kini PTM telah dijalankan di sekolah-sekolah terutama pada sekolah yang berada di wilayah PPKM level 1-3. Interaksi pembelajaran yang selama masa pandemi covid-19 ini hanya mengandalkan PJJ atau pembelajaran daring kembali tatap muka.

PTM ini mutlak diperlukan mengingat adanya potensi learning loss akibat pembelajaran yang tidak maksimal selama pelaksanaan pembelajaran secara daring. Tapi perlu ditekankan pula bahwa PTM yang berjalan selama ini tidak sama dengan pembelajaran normal.

PTM atau pembelajaran secara luring di masa pandemi ini merupakan PTM terbatas, di mana terdapat panduan pembelajaran dan juga protokol kesehatan yang harus dijalankan agar tidak terjadi kluster penuaran covid-19 di sekolah.

Mengutip Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pauddikdasemen di Masa Pandemi Covid-19 dari laman Kemendikbudristek, panduan protokol kesehatan yang berjalan di sekolah yang memberitahukan PTM terbatas adalah sebagai berikut.

Sebelum Pembelajaran

  1. Sarana, prasarana hingga lingkungan satuan pendidikan perlu dilakukan disinfeksi.
  2. Memastikan ketersediaan cairan disinfektan, sabun cuci tangan, air bersih di setiap fasilitas cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan cairan pembersih tangan.
  3. Memastikan ketersediaan masker dan atau masker tembus pandang serta cadangannya.
  4. Memastikan alat pengukur suhu seperti thermo gun dapat berfungsi dengan baik.
  5. Melakukan pemantauan kesehatan warga satuan pendidikan, suhu tubub dan mengkaji kondisi fisik siapapun yang ada di lingkungan sekolah, seperti adakah gejala batuk, pilek, sakit tenggorokan dan atau sesak nafas.

Setelah pembelajaran

  1. Melakukan disinfeksi sarana, prasarana dan lingkungan satuan pendidikan.
  2. Memeriksa ketersediaan sisa cairan disinfektan, sabun cuci tangan dan cairan pembersih tangan.
  3. Memerriksa sisa masker dan/atau masker tembus pandang cadangan.
  4. Memastika thermogun dapat berfungsi dengan baik.
  5. Melapirkan hasil pemantauan kesehatan warga satuan pendidikan harian kepada dinas pendidikan, kantor wilayah kementerian agama provinsi dan kantor kementerian agama kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.

Perlu diketahui, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memaparkan strategi yang akan dilakukan untuk mencegah cluster covid-19 di sekolah yang sudah melakukan pembelajaran tatap muka (PTM). Hal tersebut disampaikannya dalam konferensi pers secara virtual.

Dikatakannya, pemerintah akan mengubah yang tadinya surveilance passive care finding menjadi active case finding. Dengan demikian, pemerintah secara aktif akan mencari kasus. Budi menuturkan, pihaknya akan menentukan di tingkat kabupaten/kota berapa jumlah sekolah yang melaksanakan pembelajaran tatap muka, dari situ akan diambil 10% untuk sampling, kemudian dari 10% ini akan dibagi alokasinya berdasarkan kecamatan.

Alokasi berdasarkan kecamatan tersebut dilakukan, karena para epidemiolog telah mengatakan bahwa penularan lebih berpotensi terjadi antarkecamatan. Karena itu wilayaaha epidemiologis per kecamatan harus mendapatkan pengawasan secara ketat.

Pemerintah kemudian akan melakukan pengujian PCR terhadap sampel 30 siswa dan 3 pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) per sekolah. Dari pengujian itu, apabila ditemukan kasus positif di sekolah di bawah satu persen, maka pembelajaran tatap muka akan tetap berjalan normal untuk anggota kelas yang tidak terpapar. Tes tersebut akan dilakukan terhadap kontak erat yang terbukti positif.

Langkah-langkah penerapan protokol kesehatan serta testing merupakan langkah konkrit untuk memastikan bahwa surveilance itu dilakukan di level paling kecil. Dan jika terbukti ada penularan masif, maka hanya sekolah tersebut yang akan ditutup. Sekolah dengan protokol kesehatan yang baik akan tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Agung Priyatna )*

Displin Prokes dan vaksinasi mampu menyukseskan fase adaptasi kebiasaan baru di masa pandemi Covid-19. Ketaatan terhadap imbauan tersebut diharapkan mampu menjaga warga tetap produktif namun aman dari penularan virus Corona.

Apakah Anda sudah lelah dengan pandemi? Memang selama 2 tahun ini, kita tidak hanya harus menjaga fisik dari serangan corona, tetapi juga mental. Penyebabnya karena makin takut untuk kena virus Covid-19 maka tingkat stress juga makin tinggi. Akibatnya, daya tahan tubuh menurun dan ini sangat buruk karena malah bisa tertular, ketika seseorang tidak menaati prokes.

Presiden Jokowi menyatakan bahwa masa pandemi belum tahu kapan berakhirnya, karena virus Covid-19 tidak bisa benar-benar pergi dari seluruh dunia. Oleh karena itu di masa adaptasi kebiasaan baru, semua orang mulai dari dewasa, anak-anak, ibu hamil, dll harus menaati protokol kesehatan dan mendapatkan vaksinasi. Dalam artian, vaksinasi adalah proteksi sehingga kita tidak mudah tertular corona.

Apalagi vaksinasi sudah digratiskan dan berstatus halal MUI, jadi tidak ada alasan untuk menolaknya. Saat akan naik kendaraan seperti pesawat terbang syaratnya harus menunjukkan kartu vaksin di aplikasi Peduli Lindungi. Bukan tak mungkin hal ini juga berlaku saat akan naik bus, angkot, kereta malam, dll. Jadi vaksin adalah kewajiban.

Presiden Jokowi melanjutkan, meski sudah divaksin, masyarakat harus menaati prokes dengan ketat. Dalam kehidupan sehari-hari, prokes ketat menjadi kebiasaan baru. Dalam artian, kita semua sudah terbiasa menjalankan prokes tetapi ada saja yang melanggarnya. Jadi semua orang tertib dan tidak melepaskan masker, agar aman dari serangan virus Covid-19.

Walau sudah divaksin masih harus memakai masker dan menjalani prokes ketat, karena masih ada sedikit kemungkinan untuk tertular, saat kondisi badan tidak fit. Apalagi herd community belum terbentuk karena baru 30% WNI yang divaksin, sementara untuk mendapatkan kekebalan kelompok yang bisa menghalau corona, syaratnya adalah minimal 75%.

Prokes yang dijalankan adalah yang 10M, bukan 3M atau 5M. Jadi selain memakai masker, harus mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari keramaian, menjaga higienitas lingkungan dan imunitas tubuh, mengganti baju, dll. Semua dilakukan agar benar-benar bersih dan bebas corona. Gaya hidup sehat juga dilakukan, seperti lebih sering makan sayur dan buah serta berolahraga.

Menaati prokes ketat juga menjadi kunci suskes PTM (pembelajaran tatap muka). Pemerintah memutuskan untuk memberbolehkan PTM karena para guru sudah divaksin dan berbagai daerah sudah masuk PPKM level 1-3 alias keadaan sudah membaik. Sehingga para murid boleh sekolah seperti biasa dan bersosialisasi dengan lingkungannya.

Namun PTM tentu dengan banyak syarat.Saat anak-anak sudah mulai masuk sekolah maka wajib pakai masker dan membawa hand sanitizer. Mereka juga tidak boleh bergerombol dan bermain seperti biasa. Pembelajaran juga tidak diadakan full, tetapi gantian alias hanya 50% murid yang masuk kelas. Sementara sisanya bergiliran untuk sekolah online.

Pada masa adaptasi kebiasaan baru, PTM juga tidak memperbolehkan kantin dibuka karena takut ada kerumunan siswa, pun penjual makanan di depan sekolah juga harus menjaga jarak. Hal ini dimaksudkan agar semuanya aman dan tidak muncul klaster sekolah.
Vaksinasi adalah cara untuk terhindar dari corona. Ditambah dengan ketaatan mematuhi prokes, maka kita bisa aman dari serangan penyakit mematikan ini. Semua orang wajib meningkatkan kewaspadaan di masa adaptasi kebiasaan baru. Selain itu, PTM sudah diperbolehkan tetapi dengan prokes yang ketat.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Doni Indrayana )*

Percepatan vaksinasi dan Prokes 5M merupakan upaya efektif untuk mencegah penyebaran Covid-19. Masyarakat pun diminta untuk selalu mematuhi hal tersebut guna menjaga tren positif pengendalian pandemi virus Corona sekaligus mengakselerasi Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Dua tahun ini, Corona menjadi penyakit yang paling ditakuti, karena semua orang tidak mau jadi pasiennya lalu memiliki kemungkinan terburuk alias meninggal dunia. Semua orang sibuk menjaga kesehatan, mulai dari minum rebusan herbal, madu, susu, hingga makan sayur dan buah. Cara-cara ini juga diiringi dengan kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan dan vaksinasi, agar tubuh kuat dan tidak mudah tertular virus covid-19.

Vaksinasi adalah salah satu ikhtiar untuk terhindar dari Corona. Setelah disuntik vaksin maka tubuh akan memiliki kekebalan tubuh yang lebih bagus, dan ketika banyak yang diinjeksi maka akan terbentuk kekebalan kelompok. Herd immunity ini yang diinginkan oleh pemerintah, karena bisa melawan ganasnya Corona.

Oleh karena itu pemerintah mempercepat vaksinasi agar kekebalan komunal lekas terbentuk. Dari target 1 juta suntikan, dinaikkan jadi 3 juta suntikan tiap hari, dan Kemenkes berusaha keras untuk memenuhinya. Banyak pihak yang membantu pemecepatan vaksinasi seperti BIN yang melaksanakan vaksinasi massal dan vaksinasi door to door, sehingga target bisa tercapai hanya dalam waktu 12 bulan. Diharap awal tahun 2022 kita sudah punya kekebalan kelompok.

Ganip Warsito, Ketua Tim Satgas Penanganan Covid menyatakan bahwa vaksin dan masker bagaikan payung di kala hujan. Payung tak bisa menghentikan lajunya air tetapi bisa melindungi agar tetap kering. Hal itu serupa dengan vaksinasi dan penggunaan masker saat pandemi. Corona tak akan hilang, tetapi jika kit disiplin pakai masker dan telah melakukan vaksinasi, akan lebih terproteksi.

Ganip menambahkan, vaksinasi akan mencegah pemburukan jika terpapar Corona alias hanya gejala ringan, lalu lekas sembuh. Dalam artian, vaksinasi meman tidak mencegah 100% virus covid-19, apalagi penyakit ini terus bermutasi. Namun kita tetap wajib vaksin untuk melindungi tubuh dari kemungkinan terburuk. Lagipula vaksinnya gratis, sudah halal MUI, dan memiliki nomor BPOM, jadi legal dan aman.

Selain itu, masyarakat yang sudah divaksin juga masih harus pakai masker untuk mencegah penularan Corona melalui droplet. Jangan lengah sedikitpun karena harus menegakkan kedisiplinan untuk menangani Corona. Lagipula masker harganya terjangkau dan bisa dibeli di minimarket maupun online shop.

Prokes 5M tetap harus dijaga agar tidak kena Corona dari sisi mana saja. Selain memakai masker, mencuci tangan atau memakai hand sanitizer juga wajib dilakukan. Baik saat baru datang ke suatu tempat maupun pulang ke rumah. Jika perlu langsugn cuci tangan lalu sekalian mandi dan keramas serta berganti baju, setibanya di rumah, agar benar-benar higienis.

Hindari juga kerumunan seperti di pasar dan caranya dengan belanja setelah subuh, jadi masih relatif sepi. Alternatif lain adalah dengan belanja via online shop atau aplikasi tukang sayur, sehingga tidak perlu keluar rumah untuk membeli bahan mentah. Praktis, aman, dan hemat bahan bakar, dan Anda bisa menyetok untuk beberapa hari sehingga tidak usah pergi lagi untuk belanja di luar.

Untuk mencegah Corona maka pemerintah menggencarkan vaksinasi nasional dan diadakan vaksinasi door to door agar mencapai target yang diberikan oleh Presiden Jokowi. Selain vaksinasi, maka ikhtiar lain untuk mencegah tersebarnya virus covid-19 adalah dengan protokol kesehatan 5M. Selalu taati prokes, jaga imunitas dan higienitas lingkungan, agar benar-benar bebas dari Corona.

)* Penulis adalah kontributor Forum Literasi Publik Banten

Oleh : Aulia Rahman )*

Vaksinasi dan disiplin Prokes merupakan upaya efektif untuk memutus rantai penularan Covid-19. Masyarakat diimbau untuk menaati kebijakan tersebut guna mempercepat pemulihan ekonomi.
Pemerintah telah menjalankan program vaksinasi nasional sejak Januari 2021. Upaya ini merupakan salah satu langkah memulihkan kesehatan masyarakat Indonesia. Pemulihan kesehatan juga berdampak bagi pemulihan ekonomi dan kembalinya produktifitas masyarakat seperti semula.

Perlu diketahui pula bahwa Indonesia menempati peringkat ke-13 dunia dalam layanan vaksinasi. Untuk Akselerasi, tahapan dan alur vaksinasi diringkas. Observasi pascasuntikan vaksin cukup 30 menit. Tak hanya sekali Presiden RI Joko Widodo mengatakan bahwa vaksin adalah game changer di tengah pergulatan pengendalian Covid-19. Segala protokol kesehatan (prokes), strategi pembatasan sosial dan kebijakan karantina tidak akan pernah cukup bila tidak kunjung terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menuturkan, vaksinasi itu membuat pembentukan herd immunity secara cepat dengan risiko yang paling rendah. Herd Immunity bisa terbentuk secara alamiah, tetapi akan memerlukan waktu panjang setelah begitu banyak orang terinfeksi, dalam sebaran yang luas, yang akan menimbulkan korban besar.

Vaksinasi sendiri merupakan prosedur pemberian suatu antigen penyakit, biasanya berupa virus atau bakteri yang dilemahkan atau sudah mati, bisa juga hanya bagian dari virus atau bakteri. Tujuannya adalah untuk membuat sistem kekebalan tubuh mengenali dan mampu melawan saat terkena penyakit tersebut.

Sebenarnya, sistem kekebalan tubuh mengenali dan mampu melawan saat terkena penyakit tersebut. Tetapi, infeksi virus corona memiliki risiko kematian dan daya tular yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan cara lain untuk membentuk sistem kekebalan tubuh, yaitu dengan cara vaksinasi.

Jika vaksinasi ini diberikan secara masal, tentu akan mendorong terbentuknya kekebalan kelompok alias herd immunity dalam masyarakat. Artinya, orang yang tidak bisa mendapatkan vaksin, misalnya bayi baru lahir, ataupun penderita penyakit kelainan imun tertentu, bisa mendapatkan perlindungan dari orang-orang di sekitarnya.

Dari kacamata ekonomi kesehatan, vaksinasi adalah metode pencegahan yang efisien. Katakanlah vaksin seharga 900 ribu rupiah, maka kita bisa mencegah diri dari penularan penyakit. Dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan apabila terkena Covid-19 yang rata-rata perawatannya memerlukan 9-10 hari, biaya vaksinasi tentu lebih efisien. Apabila kita bekerja sehari mampu menghasilkan 500 rubu maka kita bisa kehilangan potensi penghasilan 5 juta akibat dirawat karena Covid-19.

Komite Penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi Nasional (KPCPEN) dibentuk dalam rangka percepatan penanganan Covid-19 serta pemulihan perekonomian dan transformasi ekonomi nasional. Sementara itu, Protokol Kesehatan (prokes) adalah elemen yang sangat penting selama masih ada pandemi Covid-19. Prokes tetap jalan terus meski program vaksinasi sudah berjalan seperti saat ini.

Sudah lebih dari satu tahun masyarakat menjalankan prokes selama pandemi. Harapanya, masyarakat sudah lebih memahami pentingnya prokes sebagai cara agar tidak menambah kasus Covid-19. Tentu saja sangat penting bagi pemerintah dan kalangan pebisnis untuk merujuk pada prokes secara ketat demi memastikan keamanan dan kesehatan masyarakat.

Selain itu, kedisiplinan dalam menerapkan protokol kesehatan tentu akan mempercepat pemulihan kesehatan dan kebangkitan ekonomi nasional. Tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa protokol kesehatan masih wajib dilakukan meski sudah mendapatkan vaksin.

Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik dari Departemen Mikrobiologi FK Universitas Gadjah Mada (UGM), dr R Ludhang Pradipta R., M. Biotech, SpMK, mengatakan ada kemungkinan untuk terinfeksi virus corona sebelum atau sesudah vaksinasi. Oleh karena itu, dengan melakukan tindakan pencegahan disertai vaksinasi merupakan langkah perlindungan tubuh yang tepat.

Menurut beliau, hal tersebut dikarenakan vaksin membutuhkan waktu dan belum memiliki cukup waktu untuk memberikan perlindungan maksimal bagi tubuh. Ludhang juga mengingatkan, vaksin bukanlah obat yang efeknya dapat terasa setelah dua jam penyuntikan. Setelah vaksinasi, tubuh tetap membutuhkan waktu beberapa minggu untuk membangun kekebalan tubuh.

Ludhang juga mengungkapkan, tantangan yang harus dihadapi oleh mereka yang sudah mendapatka vaksin adalah, tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan 5M, yakni Mencuci Tangan, Menggunakan Masker, Menjaga Jarak, Menghindari Kerumunan dan Membatasi Mobilitas.

Vaksinasi diperlukan guna memberikan kekebalan hingga mencapai herd immunity, sedangkan protokol kesehatan harus dipatuhi karena hal tersebutlah yang menjadi ikhtiar untuk terhindar dari paparan virus Covid-19. Keduanya tentu harus dijalani secara selaras agar nantinya banyak pelaku ekonomi yang menjalankan usahanya sehingga perekonomian menjadi pulih kembali.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Adelia Rahmawati )*

Penanganan pandemi Covid-19 membutuhkan kerja sama semua pihak. Salah satu cara tersebut adalah tetap disiplin Prokes dan ketaatan PPKM sebagai salah satu solusi mencegah kematian akibat Covid-19.

Sejumlah provinsi di Indonesia masih mencatat angka kematian covid-19 yang tinggi, hal tersebut dikatakan oleh Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito. Kendati mayoritas penyumbang tertinggi masih ada di Pulau Jawa-Bali, yang merupakan wilayah PPKM level 4, Prof Wiku meminta kepada pemerintah daerah setempat agar tetap waspada.

Dalam kesempatan konferensi pers, Wiku mengatakan, meski Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta tetap masih menjadi penyumbang tertinggi kenaikan kematian, tetapi waspada juga dengan Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Riau, Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan yang turut jadi penyumbang tertinggi kenaikan kasus kematian mingguan. Angka tersebut mestinya menjadi alarm kepada pemerintah daerah setempat karena sebagian besar kabupaten/kota di provinsi tersebut tidak menjalani PPKM level 4.

Adapun secara rinci, 10 provinsi dengan kenaikan kematian tertinggi adalah Jawa Tengah yang mengalami kenaikan sebanyak 825 kasus, Jawa Timur dengan kenaikan 586 kasus, DKI Jakarta dengan kenaikan 510 kasus dan Kalimantan Timur yang mengalami kenaikan sebanyak 189 kasus. Lalu ada DIY yang naik sebanyak 136 kasus dari pekan sebelumnya, Riau dengan 58 kasus, Bali dengan 53 kasus, Sulawesi Selatan dengan 48 kasus, Kalimantan Tengah dengan 44 kasus dan Sumatera Selatan dengan kenaikan 43 kasus.

Wiku juga mengungkapkan, jumlah kematian akibat Covid-19 pada Juli 2021 ini menjadi angka tertinggi sepanjang pandemi. Kematian akibat Covid-19 pada dua minggu terakhir mengalami pertambahan lebih dari 1.000 kasus setiap hari. Bahkan pada 27 Juli 2021 lalu, tercatat sebanyak 2.069 kematian dalam sehari.

Sementara itu, jumlah total kematian yang tercatat sejak awal Juli hingga 28 Juli 2021 tercatat sebanyak 30.168 kasus. Wiku menuturkan, angka kematian tersebut sangatlah tinggi, mengingat pada bulan Juni lalu, angka kematian tertiggi yaitu 7.913. Wiku juga menekankan, masih terjadinya peningkatan kasus kematian akibat Covid-19 perlu terus dievaluasi.

Oleh karenanya pemda dan masyarakat diharapkan dapat mendukung pencegahan potensi kematian akibat Covid-19. Pemda juga dapat selalu memantau kondisi RS di wilayah masing-masing.

Kemudian, pemda juga diminta melakukan antisipasi kenaikan kasus Covid-19 dengan memastikan ketersediaan oksigen, obat-obatan, tempat tidur RS dan tenaga kesehatan yang bertugas. Hal tersebut tentu dapat meningkatkan kecepatan dan ketepatan pelayanan sehingga kematian dapat dihindari.

Sementara itu untuk masyarakat, bila masuk dalam golongan yang mengalami gejala Covid-19 sedang atau berat, berusia di atas 45 tahun, menderita komorbid dan atau tidak punya tempat memadai untuk isolasi mandiri, kami mohon untuk tidak melakukan isolasi mandiri secara sendirian.

Wiku menganjurkan untuk memanfaatkan tempat isolasi terpusat yang tersedia oleh pemerintah, perawatan di tempat isolasi terpusat dipantau langsung oleh tenaga kesehatan, baik tanda vital, pola gejala, pola makan dan obat-obatan sehingga jika terjadi perburukan bisa langsung mendapatkan penanganan.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengajak masyarakat untuk tetap menjalankan protokol kesehatan seperti mengenakan masker, mencuci tangan, hingga menjaga jarak. Penerapan protokol kesehatan tersebut merupakan cara yang paling ampuh untuk mencegah penularan virus covid-19, khususnya sejumlah varian baru yang telah masuk ke Indonesia.

Untuk mengantisipasi agar varian baru virus corona tidak menyebar lebih luas, Kementerian Kesehatan akan lebih intens dalam melakukan genome sequencing di sejumlah daerah-daerah yang terpantau telah terdeteksi ditemukan varian baru tersebut. Sehingga pihaknya bisa melakukan langkah-langkah isolasi atau langkah-langkah karantina yang tepat agar virus mutasi baru tidak cepat menyebar ke daerah-daerah lain.

Kita tak dapat mengelak bahwa nyatanya ketertiban masyarakat dalam menaati protokol kesehatan akhir-akhir ini agak menurun. Kemungkinan turunnya kesadaran kepatuhan terhadap protokol kesehatan tersebut karena jenuhnya masyarakat saat terhadap pandemi.
Mengurangi mobilitas dan menjauhi kerumunan merupakan langkah kecil yang bisa kita lakukan untuk berperang melawan pandemi, hal ini harus dilakukan daripada terbaring di Rumah Sakit yang saat ini tengah kelabakan mencari oksigen.

Penerapan PPKM Level 4 dengan diiringi kepatuhan terhadap prokes tentu akan menjadi formula dalam mengurangi angka kematian terhadap Covid-19. Jika kebijakan tersebut benar-benar dipatuhi oleh masyarakat.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Depok

Juru Bicara (Jubir) Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia masih efektif melawan varian baru dari virus corona.

Diketahui, saat ini terdapat varian baru Covid-19 yang masuk ke Indonesia. Diantaranya, varian Delta atau varian B.1.617.2 dan Alpha atau varian B.1.1.7.

“Masih sangat efektif dan WHO masih merekomendasikan untuk percepat vaksinasi,” jelas dia.

Adapun selain ketersediaan vaksin yang terus dipercepat kedatangannya, pemerintah juga memperbanyak sentra vaksinasi untuk mempercepat laju penyuntikan vaksin. Selain itu, kerjasama dengan swasta, BUMN serta organisasi masyarakat juga menjadi strategi mempercepat vaksinasi.

“Bekerjasama dengan swasta, BUMN serta organisasi masyarakat untuk membuka pos vaksinasi termasuk seperti pelaksanaan vaksinasi di mall atau pusat perbelanjaan,” imbuhnya.

Agar pelaksanaan vaksinasi semakin efektif, Nadia juga menekankan masyarakat yang sudah divaksin untuk tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan.

Terlebih vaksin saja dinilai tidak cukup untuk mencegah penularan Covid-19, melainkan harus dipadukan dengan protokol kesehatan yang disiplin.

Protokol kesehatan masih diperlukan lantaran saat ini belum semua masyarakat mendapatkan vaksinasi Covid-19. “Vaksin tidak cukup di masa pandemi harus tetap prokes dan masih banyak orang yang tidak vaksin,” imbuhnya.

Guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan meski sudah divaksin serta meningkatkan partisipasi masyarakat agar mau divaksin, pemerintah kini terus melakukan edukasi kepada publik.

“Kami tetap edukasi bahwa vaksin memberikan perlindungan terhadap gejala berat sampai dengan 95% dan dari Kematian sampai dengan 98%,” tutur Nadia.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, mulai awal bulan depan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 ditargetkan dapat mencapai 1 juta dosis per hari.

“Bapak Presiden meminta agar kalau bisa awal bulan depan sudah dicapai satu juta. Dan tolong dipastikan digerakkan semua komponen baik itu komponen melalui vaksinasi pemerintah daerah maupun juga komponen vaksinasi melalui TNI dan Polri,” kata Budi dalam Keterangan Pers yang disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (21/6).

Lebih lanjut, pihaknya terus bekerjasama dan berkomunikasi dengan pihak TNI/Polri untuk target 1 juta vaksinasi per hari di bulan depan.

Berdasarkan data yang dikutip dari website resmi Kementerian Kesehatan per 21 Juni 2021 pukul 12.00 WIB, laju vaksinasi secara nasional yaitu total vaksinasi dosis pertama ialah 57,18% atau 23,07 juta penerima dan dosis kedua 30,34% atau 12,24 juta penerima.

Total target sasaran vaksinasi dari tenaga kesehatan, lansia dan petugas publik sebanyak 40,34 juta penerima.
Sementara itu, berdasarkan data covid19.go.id, hingga 30 Juni 2021 sekitar 41 juta masyarakat Indonesia telah menerima vaksin. Namun apakah mereka yang telah menerima vaksin, tidak akan terpapar lagi? Jawabannya perlu diketahui oleh kita semua, “Mengapa Setiap Orang Harus Divaksin?” Dan “Jangan Kendor Prokes Setelah Vaksinasi COVID-19”.

Mengapa Setiap Orang Harus Divaksin?

Setelah Anda menjalankan prokes (protokol kesehatan) 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas) dalam keseharian maka divaksin merupakan upaya terbaik berikutnya yang dapat dilakukan untuk pencegahan penularan infeksi virus Corona. Vaksin COVID-19 disuntikkan untuk mendorong tubuh membentuk antibodi yang berguna dalam melawan infeksi virus corona.

Meski begitu, dibutuhkan waktu sebelum antibodi terbentuk hingga akhirnya dapat berfungsi dengan maksimal. Umumnya, antibodi terbentuk dalam satu bulan setelah vaksin corona dosis pertama. Namun, kinerja antibodi baru akan maksimal pada 28-35 hari setelah suntikan kedua vaksin corona.

Jangan Kendor Prokes Setelah Vaksinasi COVID-19!

Di wilayah Jabodetabek dan beberapa kota lainnya di Indonesia telah mulai dilaksanakan vaksinasi bagi masyarakat umum. Namun, ada hal yang perlu diingat bagi setiap orang yang telah menerima vaksin COVID-19 yaitu semangat disiplin menjalankan prokes 5M tidak boleh kendor. Walau telah menerima vaksin, risiko terpapar COVID-19 tetap saja ada. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh kita semua dan keluarga yang telah mendapatkan vaksin, antara lain : Perhatikan Reaksi dari Vaksin untuk Tubuh Anda ; Redakan Efek Samping Vaksin ; Tetap Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan ; Tiada Hari Tanpa Vitamin C dan D3. (*)