Oleh : Elisabeth Sukmawati )*

Pemerintah terus mencermati perkembangan virus corona baru varian AY.4.2 yang sedang berkembang di Inggris. Masyarakat pun diminta untuk selalu disiplin Prokes guna mencegah penyebaran varian tersebut berkembang di Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, Kemenkes memonitor ketat varian baru Delta dan varian AY.4.2 tersebut agar tak lolos masuk ke Indonesia dan memicu ledakan kasus.

Melalui Kanal YouTube Perekonomian RI, Budi Mengatakan, Di UK kasus Covid naik padahal vaksinasi sudah 70%. Kenaikan kasus tersebut disebabkan karena adanya varian baru, di Inggris ada sub varian jadi mutasi varian Delta namanya AY.4.2 yang sedang naik di Inggris hal itu yang tengah dimonitor secara ketat.

Budi mengatakan, saat ini, varian Delta dan varian turunannya yaitu AY.2.3 dan AY.2.4 masih mendominasi di Indonesia. Oleh karenanya, pihaknya akan memaksimalkan deteksi varian baru di 12 laboratorium whole genome sequencing (WGS).

Varian AY.4.2 sedang merambah di Singapura. Sehingga strategi utama adalah jangan sampai varian tersebut masuk dan didukung dengan monitor yang ketat. Lebih lanjut, Budi meminta agar mobilitas masyarakat menjelang libur Natal dan Tahun Baru dapata ditekan.

Budi juga mengingatkan kepada masyarakat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama, karena dengan tingginya mobilitas akan berisiko meningkatkan kasus Covid-19. Jangan euforia dengan langsung jalan-jalan, masuk mal, masuk kafe-kafe penuh, karena hal tersebut bisa menyebabkan kenaikan kasus. Kita harus melihat Inggris dan Israel meski di kedua negara tersebut vaksinasi telah mencapai 80 persen, tetapi jika prokes tidak dijalankan maka kasus Covid dapat mengalami peningkatan.

Lebih lanjut, Budi menuturkan, kementerian kesehatan juga memantau kabupaten/kota di Indonesia dalam kurun waktu 4 pekan terakhir. Hasilnya, tercatat 105 kabupaten/kota mengalami peningkatan kasus. Meski angkanya masih dalam kategori tidak mengkhawatirkan, karena masih di bawah batas aman WHO tetapi kita mencoba untuk mengantisipasi secara lebih dini.

Saat ini pemerintah juga berfokus untuk mencegah peningkatan kasus Covid-19 yang berpotensi terjadi pada libur Natal tahun 2021 dan Tahun Baru 2022 mendatang.Budi menambahkan, pengendalian Covid-19 di saat Nataru ini akan sangat mempengaruhi penyelenggaraan berbagai ajang besar yang akan dilaksanakan di tanah air.

Secara tegas Budi mengatakan, pihaknya mencoba mengantisipasi secara lebih dini agar jangan sampai euforia yang berlebihan membuat kita jadi lengah, tidak waspada dan kenaikan kasus di 105 kabupaten/kota ini kemudian menjadi tidak terkontrol karena kenaikannya menjadi sangat tinggi.

Dalam upaya terus mengendalikan pandemi, dari sisi surveilans Menkes memastikan bahwa pelacakan tracing dan pengetesan atau testing terus diintensifkan. Pihaknya juga akan memastikan bahwa semua kontak erat harus dilakukan testing karena di situlah risiko terbesar dari penyebaran virus. Selain kasus konfirmasi, seluruh kontak erat harus dilakukan testingnya. Jadi protokol 3T-nya harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Selain itu, pemerintah juga terus memastikan percepatan program vaksinasi nasional, terutama bagi kelompok masyarakat lanjut usia (lansia) yang memiliki risiko tinggi apabila terpapar Covid-19.

Menkes juga menyampaikan, hinga saat ini cakupan vaksinasi nasional telah mencapai 182 juta dosis. Dari target vaksinasi sebanyak 208 juta penduduk, sebanyak 113 juta orang atau 54 persen telah memnerima vaksinasi dosis pertama dan sekitar 68 juta orang atau 32 persen telah memperoleh dosis kedua.

Terkait ketersediaan obat-obatan dan alat kesehatan untuk penanganan Covid-19, Budi menyampaikan bahwa pemerintah tengah melakukan finalisasi kerjasama dengan Merck, perusahaan farmasi asal Amerika Serikat, untuk mendatangkan obat Molnupiravir ke tanah air.

Perlu kita ketahui bahwa varian AY.4.2 kemungkinan 10 persen lebih menular dibandingkan varian Delta yang paling umum. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur University College London Genetics Institute, Francois Balloux, PhD.

Meski lebih menular namun tidak selalu hal ini diartikan lebih mengkhawatirkan. Apalagi jika seseorang telah mendapatkan vaksin, kemungkinan kekebalan tubuhnya telah dirangsang untuk menjadi lebih kuat.

Kita semua tentu berharap agar prediksi gelombang 3 tidak akan terjadi, namun bukan berarti langkah antisipatif tidak dilakukan. Tentunya protokol kesehatan harus tetap diwujudkan sebagai upaya proteksi diri dan orang sekitar karena pandemi belum berakhir.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Presiden Jokowi menegaskan bahwa penerapan protokol kesehatan secara ketat dan vaksinasi merupakan cara terbaik dalam melindungi diri dari penyebaran Covid-19. Hal tersebut disampaikan Kepala Negara saat mengawali kegiatan kunjungan kerja di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan meninjau kegiatan vaksinasi yang digelar di Jogja Expo Center, Kabupaten Bantul, Jumat (10/09/2021).

“Cara yang terbaik adalah melindungi diri dengan vaksinasi dan juga melaksanakan protokol kesehatan secara ketat,” ucap Presiden dalam keterangannya usai peninjauan.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak delapan ribu peserta dari berbagai kalangan masyarakat akan menerima suntikan vaksin AstraZeneca. Mulai dari penyandang disabilitas, para abdi dalem, lansia, pengemudi ojek daring, hingga masyarakat umum. Presiden Jokowi pun berharap vaksinasi tersebut dapat memberikan perlindungan mereka dalam beraktivitas sehari-hari.

“Kita harapkan dengan vaksinasi ini bisa memberikan perlindungan, bisa memberikan proteksi yang maksimal kepada masyarakat sehingga kita semuanya bisa beraktivitas seperti biasa,” ujar Presiden.

Selain itu, Presiden menyebut bahwa percepatan dan perluasan vaksinasi penting dilakukan sehingga target masyarakat yang telah menerima vaksinasi lebih 70 persen pada akhir tahun 2021 mendatang dapat tercapai dan Indonesia segera mencapai kekebalan komunal.

Presiden juga menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat dan seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan program vaksinasi COVID-19 sebagai bentuk upaya pencegahan dari Virus Corona yang tidak mungkin hilang secara total.

“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat yang sudah antusias untuk vaksinasi. Ini akan memberikan proteksi, memberikan perlindungan kepada kita semuanya karena Covid-19, karena Virus Corona ini, tidak mungkin hilang secara total,” ucap Presiden.

Saat di Yogyakarta, Presiden juga meninjau pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bantul, Kabupaten Bantul. Pelaksanaan vaksinasi itu ditujukan bagi kurang lebih 375 pelajar SLB.

“Yang kita harapkan ini bisa memberikan perlindungan, memberikan proteksi secara maksimal kepada para pelajar SLB,” ujar Presiden usai peninjauan.

Kepala Negara menegaskan, pelaksanaan vaksinasi bagi pelajar ini merupakan upaya perluasan vaksinasi yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 yang diperkirakan tidak dapat hilang sepenuhnya.

“Kita tahu bahwa Covid-19 ini tidak mungkin akan hilang. Oleh sebab itu, kita harus mulai menyiapkan transisi dari pandemi ke endemi dan juga mulai belajar hidup bersama dengan Covid-19,” ujarnya.

Presiden juga mengingatkan semua pihak untuk tidak euforia menyikapi penurunan kasus Covid-19 yang sedang terjadi di tanah air. Semua pihak harus tetap waspada dan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

“Ini penting saya sampaikan agar kita tidak euforia yang berlebihan, senang-senang yang berlebihan, karena kita semuanya, masyarakat harus sadar bahwa Covid-19 selalu mengintip kita, terutama protokol kesehatan harus terus dilakukan, terutama memakai masker,” pungkasnya.

Turut hadir mendampingi Presiden dalam acar tersebut adalah Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih. (**)

Oleh : Abdul Karim )*

Ketika kasus corona makin naik, maka masyarakat harus makin waspada dan disiplin dalam menaati protokol kesehatan. Mereka tidak boleh lupa pakai masker dan menjaga imunitas serta higienitas. Vaksinasi juga wajib dilakukan, agar kekebalan tubuh terhadap virus covid-19 meningkat.

Jumlah pasien corona melonjak menjadi 20.000 orang per hari, padahal minggu lalu hanya 12.000 orang. Di banyak RS, jumlah pasien covid melonjak sampai mereka dirawat di lapangan parkir. Kenaikan yang sangat drastis ini tentu membuat kita ngeri karena takut menjadi pasien berikutnya.

Saat genting seperti ini, kita wajib ingat pepatah ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’. Pengobatan corona selama ini membutuhkan dana yang mahal (jika tidak punya kartu BPJS). Oleh karena itu kita wajib mencegahnya dengan disiplin dalam menaati protokol kesehatan dan mengikuti program vaksinasi nasional.

Protokol kesehatan 5M terus disosialisasikan, karena selama ini yang dikenal baru 3M. Poin pertama dalam protokol yakni memakai masker masih sering dilanggar, padahal corona varian delta lebih ganas dan bisa menular saat berpapasan dengan OTG. Oleh karena itu, banyak dokter yang menyarankan untuk memakai masker ganda, dengan posisi masker medis di dalam dan masker kain di luar.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah membuat percobaan dengan berbagai masker, yakni masker kain, medis, masker tanpa simpul, dan masker ganda. Dari penelitian itu dihasilkan fakta bahwa masker medis memblokir 40,2% droplet dan masker kain 44,3% droplet. Jika dijumlahkan maka hasilnya bisa memblokir lebih dari 80% droplet, sehingga akan aman dari corona.

Selain memakai masker, patuh juga protokol lain seperti mencuci tangan dan menjaga jarak. Penyebabnya karena banyak orang pakai masker tetapi masih bersalaman atau berdekat-dekatan saat menghadiri suatu acara. Padahal kita tidak tahu siapa di antara mereka yang jadi OTG, dan lebih baik mencegah terkena droplet dengan menjaga jarak.

Protokol ke-4 dan ke-5 yakni mengurangi mobilitas dan menjauhi kerumunan juga masih sering dilanggar. Jangan traveling dulu karena kenaikan kasus corona saat ini akibat dari mobilitas masyarakat yang meninggi saat libur lebaran. Jauhi juga kerumunan dan lebih baik belanja via online agar tidak berpapasan dengan banyak orang di pasar.

Di masa pandemi juga dilarang keras untuk mengadakan acara yang mengundang banyak orang, termasuk pesta pernikahan. Kalaupun ada pesta, maksimal tamunya 35 orang dan ada jarak antar kursi tamu. Makanan juga tidak boleh dihidangkan secara prasmanan, tetapi dimasukkan di dalam kotak dan diberikan pada tamu sebagai oleh-oleh. Pasalnya, saat makan bersama otomatis membuka masker dan bisa menularkan corona dari OTG.

Vaksinasi corona juga wajib hukumnya apalagi suntikannya digratiskan 100%. Bandingkan dengan di Singapura yang harus membayar mahal, tetapi tetap laris-manis. Masyarakat Indonesia seharusnya berkaca dari mereka. Ketika ada kesempatan untuk vaksin, baik melalui Puskesmas atau jalur vaksinasi mandiri, wajib diambil demi kesehatan diri sendiri.

Vaksin sudah memiliki status halal MUI dan izin BPOM, sehingga tidak ada keraguan lagi untuk mendapatkannya. Setelah divaksin, kita bisa mempromosikannya di media sosial agar para followers tidak ragu lagi saat akan divaksin. Dengan mempopulekan bahwa vaksin aman, maka kita turut membantu kampanye pemerintah dalam menggalakkan program vaksinasi nasional.

Penanganan corona wajib dilakukan oleh masyarakat demi mendukung pemerintah. Caranya dengan menaati protokol kesehatan 5M dan tetap menjaga higienitas dan imunitas tubuh. Selain itu, vaksinasi juga wajib dilakukan, agar memiliki kekebalan yang tinggi terhadap corona dan mempercepat terbentuknya herd immunity.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Alfisyah Dianasari )*

Naiknya jumlah pasien corona membuat masyarakat makin waspada, karena tidak ada yang mau tertular penyakit berbahaya ini. Masyarakat pun diimbau untuk selalu disiplin Prokes dan mengikuti vaksinasi guna mencegah ledakan Covid-19.

Sudah setahun lebih kita berkutat dengan pandemi dan rasanya mulai lelah karena ingin hidup normal seperti dulu. Namun anehnya banyak yang takut akan corona tetapi malas pakai masker. Ketika tertular virus Covid-19, mereka bilang bahwa ini takdir. Padahal mencegah lebih baik daripada mengobati dan menyalahkan takdir adalah tindakan yang sangat konyol.

Ledakan jumlah pasien corona akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Di DKI Jakarta ada kenaikan jumlah pasien hingga 300%, hingga RS Darurat Wisma Atlet nyaris full. Hal ini tentu mengkhawatirkan, karena takut di ibukota akan naik menjadi zona merah lagi dan akan berpengaruh ke segala sektor, mulai dari ekonomi sampai pariwisata.

Menurut data tim satgas covid, per 10 juni 2021 jumlah pasien corona di Indonesia ada 8.800 orang per harinya. Angka ini tentu sangat mengerikan, karena bulan lalu jumlah pasien baru 5.000 orang per hari. Kenaikan yang hampir 2 kali lipat tentu membuat para nakes dan warga sipil pusing karena dihantui oleh corona.

Untuk mengatasi lonjakan pasien corona, maka salah satu caranya adalah dengan vaksinasi. Jangan takut jika ada undangan dari RT untuk diinjeksi vaksin di Puskesmas, karena seluruh vaksin yang ada di Indonesia sudah halal MUI. Selain itu, vaksin juga memiliki efikasi tinggi dan sangat minim efek samping, paling hanya terasa agak pegal di lengan yang kena suntik.

Jika ada kesempatan untuk vaksinasi mandiri, maka bagaikan rezeki nomplok, karena antriannya sangat pendek. Selain itu, biaya juga ditanggung oleh perusahaan. Sudah gratis, bonus sehat pula.

Jalan lain untuk terhindar dari corona adalah dengan menerapkan disiplin protokol kesehatan 5M. Tak henti-hentinya kita diminta untuk memakai masker, karena selain terhindar dari virus Covid-19, juga mencegah masuknya bakteri dan virus lain. Sehingga tubuh akan lebih sehat.

Mencuci tangan dan membawa hand sanitizer juga terlihat ringan tetapi sering dilupakan. Saat masuk rumah harus mencuci tangan sebelum bercengkrama dengan keluarga, jika perlu mandi keramas dan langsung ganti baju. Sementara menjaga jarak juga wajib dilakukan dan jangan bersalaman atau cipika-cipiki terlebih dahulu.

M yang ke-4 adalah mengurangi mobilitas. Kenaikan jumlah pasien corona bulan juni ini karena ada mobilitas massal bulan lalu, ketika banyak yang nekat mudik atau liburan setelah lebaran. Terbukti pergerakan masyarakat meningkatkan potensi penularan virus Covid-19 dan ketika sudah terlanjur, akan sangat sedih karena malah saling menyalahkan.

Dari protokol kesehatan 5M, yang paling sering dilanggar adalah menghindari kerumunan. Karena masyarakat Indonesia cenderung suka bersosialisasi. Jangan nekat membuat kerumunan dengan menggelar hajatan atau acara serupa, karena kita belum tahu siapa yang berstatus OTG di antara para tamu.

Menghindari kerumunan juga bisa dilakukan dengan belanja saat pasar atau minimarket baru buka, sehingga masih sepi dan aman dari kumpulan massa. Kita harus tahu triknya, agar tidak berkontak dengan banyak orang dan aman dari penularan corona.

Ledakan jumlah pasien corona membuat kita meningkatkan level kewaspadaan, karena resiko terbesar dari terkena virus Covid-19 adalah kematian. Jika masih sayang nyawa, maka harus taat pada protokol kesehatan 5M. Juga menjaga imunitas tubuh dan higenitas lingkungan.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Zakaria )*

Kedisiplinan masyarakat untuk pencegahan corona akhir-akhir ini mulai menurun. Oleh sebab itu, pemerintah akan melaksanakan PPKM mikro lagi, per 1 juni 2021. Juga menginstruksikan kepada semua WNI untuk menaati protokol kesehatan 5M. Tujuannya agar tidak ada yang tertular virus covid-19 dan pandemi bisa segera berakhir.

Tidak ada yang mau terkena corona karena jika sudah tertular, harus isolasi mandiri minimal 2 minggu dan meminum obat berbutir-butir. Namun sayangnya, banyak orang yang tahu keberadaan virus covid-19 tetapi mereka seenaknya sendiri dan melepas masker, karena merasa keadaan sudah aman. Juga mengabaikan protokol kesehatan lain seperti membuat kerumunan dengan sengaja.

Masalah ini masih ditambah dengan kenekatan sebagian pihak yang mudik lebaran secara diam-diam. Hasilnya, angka pasien corona naik, dari 4.000 orang menjadi lebih dari 5.000 orang per harinya. Sedangkan total pasien covid se-Indonesia adalah 1,7 juta orang. Kenaikan ini tentu menyedihkan, karena sudah dilarang mudik tetap dilanggar, dan mereka tak mematuhi protokol kesehatan lainnya.

Ketua Satgas Covid-19 Ganip Warsito menyatakan bahwa strategi untuk membatasi penyebaran virus dan menekan angka penyebaran adalah dengan melanjutkan PPKM (pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat) mikro lagi. Juga meminta masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan dan menerapkan 3T (tracing, testing, and treatment).

Ganip melanjutkan, penerapan PPKM mikro efektif untuk menekan angka penyabaran corona. Karena virus tersebut disebar oleh manusia sehingga yang paling penting adalah membatasi mobilitas banyak orang. Dalam artian, diharap masyarakat bekerja sama dan menaati PPKM mikro, karena semua ini demi kebaikan mereka sendiri.

PPKM mikro yang akan berlaku sejak 1 hingga 14 juni 2021 memiliki aturan seperti ini: pertama, ada pembatasan waktu kerja, dalam artian para pegawai masuk kantor hanya 50% dan sisanya work from home. Sehingga pegawai akan masuk kerja bergantian dan mereka tak membuat kerumunan. Kedua, kerumunan di rumah ibadah juga dihindari, dengan maksimal jamaah hanya 50% yang boleh masuk.

Sedangkan yang ketiga, proses pembelajaran para murid masih sistem online dan kombinasi dengan tatap muka, alias masuk sekolah tidak setiap hari. Sedangkan kakak-kakaknya yang kuliah mulai bisa belajar di kampus dan pembukaan kelasnya akan dilakukan secara bertahap.

Sementara itu, di pusat perbelanjaan juga dibatasi jam bukanya, yakni sampai pukul 9 malam. Untuk restoran masih boleh melakukan layanan delivery order sesuai dengan jam bukanya, dengan syarat harus mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Sedangkan untuk kapasitas restoran juga masih dibatasi, yakni maksimal 50%, untuk menghindari kerumunan.

Selain menerapkan PPKM mikro di 30 provinsi di Indonesia, pemerintah juga memnta masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan, tak hanya 3M tetapi juga 5M. Serta menerapkan 3T untuk mencegah penularan virus covid-19. Pasalnya, kenaikan pasien corona menggelisahkan, dan memang kita lebih baik mencegah daripada mengobati.

Tak hanya tim satga covid yang menerapkan 3T (treatment, tracing, and testing) tetapi warga sipil juga bisa melakukannya. Jika curiga kena gejala corona, maka lakukan testing dengan tes swab mandiri, karena hasilnya lebih akurat daripada rapid. Ketika betul hasilnya reaktif, segera umumkan pada publik, lakukan tracing dengan bantuan orang lain, baru treatment (pengobatan).

Sedangkan protokol kesehatan terbaru, yakni 5M, terdiri dari memakai masker, mencuci tangan (atau memakai hand sanitizer), menjaga jarak, dan ditambah dengan menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. Jangan keluar kota kecuali jika ada urusan penting, dan jangan pula sengaja membuat kerumunan misalnya resepsi pernikahan dengan tamu ribuan orang. Karena jelas melanggar dan bisa ditindak oleh tim satgas covid.

Jangan ada yang keberatan dengan PPKM mikro dan penerapan protokol kesehatan 5M. Karena semua ini demi keselamatan bersama. Jika ada banyak yang melanggarnya, maka jumlah pasien corona akan bertambah, kita berpotensi tertular corona, dan akan menderita sendiri.

)*Penulis adalah warganet tinggal di Bogor

Oleh : Ahmad Baiquni )*

Pandemi covid-19 tidak menghalangi kita untuk tetap berpuasa ramadhan. Namun, ada beberapa penyesuaian dalam pelaksanaan ibadah yang lain. Misalnya salat tarawih dan berbuka puasa bersama. Sebaiknya salat di rumah saja dan buka bersama dengan keluarga inti di dalam rumah sendiri.

Di bulan ramadhan, kuantitas dan kualitas ibadah ditingkatkan. Kita jadi beramai-ramai salat wajib dan sunnah, bersedekah dan mengeluarkan zakat, serta ibadah-ibadah lain. semarak ramadhan makin bertambah ketika semua orang seakan berlomba-lomba untuk mengantarkan takjil ke tetangga dan saudara.

Pandemi covid-19 yang masih melanda dunia membuat suasana ramadhan agak berbeda. Memang kita tetap puasa seperti biasa, tetapi ada beberapa perubahan dalam beribadah, dan harus disesuaikan dengan protokol kesehatan. Tujuannya agar kita tetap bisa mendekat kepada-Nya tanpa takut akan resiko penularan corona.

Penyesuaian yang pertama adalah salat tarawih berjamaah di masjid. Sebaiknya salat ini dilakukan di rumah saja, karena jamaah di masjid bisa menimbulkan kerumunan dan ada potensi menularkan corona. Walau sudah banyak yang pakai masker, tetapi kita tidak bisa menjamin siapa yang melepasnya di dalam masjid. Ketika ternyata ia OTG, akan ada penularan dan jangan sampai wassalam alias berakhir di pemakaman.

Pemerintah bukannya melarang umat muslim untuk salat, tetapi imbauan ini untuk memproteksi mereka dari bahaya penularan corona. Karena lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan? Lagipula, salat tarawih yang dilakukan di rumah bersama keluarga inti juga tetap sah dan berpahala. Janganlah memaksakan diri karena melindungi tubuh dari corona jauh lebih penting.

Selain imbauan untuk salat tarawih di rumah saja, ibadah lain yang ada penyesuaian adalah buka puasa. Sudah umum dilakukan buka puasa bersama rekan kerja, bersama keluarga besar, maupun buka puasa sekaligus reuni teman sekolah/kuliah. Namun jangan sampai buka puasa berakhir dengan bencana karena menimbulkan klaster baru.

Memang kurva pasien corona belakangan agak melandai, tetapi kita masih harus waspada, salah satunya dengan menahan diri untuk tidak mengadakan buka puasa bersama. Saat makan bersama di waktu maghrib, otomatis semua orang membuka masker untuk memasukkan makanan dan minuman. Saat itulah corona bisa mengintai, karena droplet akan tersebar dari salah satu atau banyak peserta buka bersama yang jadi OTG.

Jika ada 1 saja yang jadi OTG maka seluruh pengunjung rumah makan yang jadi tempat buka bersama bisa tertular corona. Korbannya bisa dari konsumen rumah makan tersebut, maupun pegawainya. Apakah Anda mau makan-makan dan buka bersama selama 2 jam tetapi merana selama 14 hari saat isolasi di Rumah Sakit? Jawabannya tentu tidak, bukan?

Selain buka puasa bersama dan salat tarawih di masjid, penyesuaian yang lain adalah ketika sahur. Jika dulu kita bisa sahur sambil berdonasi nasi kotak keliling ke kaum dhuafa alias sahur on the street, maka sekarang jangan lakukan. Bukannya pelit, tetapi mobilitas banyak orang akan membuat penularan corona makin ganas, walau hanya pergerakan di dalam kota.

Jika ingin berdonasi, maka bisa diganti dengan menyumbang ke panti asuhan atau lembaga amil zakat dan sedekah yang terpercaya. Masih banyak cara untuk menambah pahala tanpa harus beresiko kena corona. Sabar saja dan tunggu pandemi usai, baru adakan acara sahur keliling seperti dulu.

Penyesuaian pada beberapa ibadah saat ramadhan seperti salat tarawih di masjid, sahur on the street, dan buka puasa bersama, wajib dilakukan. Lebih baik sahur, berbuka puasa, dan salat tarawih di rumah saja. Tetap berpahala dan mematuhi protokol kesehatan sehingga bebas dari penularan corona.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Dodik Prasetyo )*

Meski tempat wisata dan tempat ibadah telah dibuka, bukan berarti masyarakat abai terhadap penerapan protokol kesehatan, apalagi status pandemi belum berakhir dan vaksinasi belum mencapai target. Masyarakat perlu belajar dari penambahan kasus Covid-19 di India yang angkanya tiba-tiba melesat akibat warga negaranya lengah menerapkan Prokes.

Perihal antisipasi lonjakan Covid-19, sepertinya kita perlu belajar pada negara India, dimana India tengah dilanda gelombang kedua Covid-19. Kejadian tersebut bahkan digambarkan seperti tsunami.

Worldometer menunjukan data bahwa jumlah kasus positif Covid-19 di India sudah berhasil tembus hingga 15,06 juta kasus. India kini menjadi negara dengan kasus Covid-19 terbesar kedua di dunia. Posisi tersebut sebelumnya ditempati oleh Brazil, dan peringkat pertama masih dipegang oleh Amerika Serikat (AS) dengan 32,4 juta kasus.

Meledaknya kasus Covid-19 di India disinyalir karena masyarakat di sana semaking abai dalam menerapkan protokol kesehatan. Beberapa bulan terakhir terjadi pesta pernikahan besar-besaran di India. Banyak masyarakat tidak mengenakan masker ketika keluar dari rumah.

Selain itu, banyak pula masyarakat yang berkumpul untuk mengikuti kampanye politik tanpa menggunakan masker dan jaga jarak. Beberapa negara bagian India memang melakukan pemilihan umum daerah (pilkada) seperti di daerah Tamil Nadu.

Adapun, ritual keagamaan yang diikuti oleh banyak masyarakat India. Ritual tersebut adalah ritual menghapus dosa dengan mandi di sungai Gangga. Dalam ritual ini banyak masyarakat yang tidak menggunakan masker dan tidak menjaga jarak.

Seorang Urologist di Coimbatore India, Senthil. Mengatakan bahwa orang-orang di India menjadi sangat terlena, dan bertindak seolah-olah virus corona telah hilang, di mana hal tersebut merupakan hal yang absurd.

Saat ini, India mengalami gelombang infeksi virus corona yang lebih buruk daripada yang pertama dan skala penyebarannya semakin buruk.

Senthil mencontohkan, penyebaran yang semakin buruk tersebut ada di daerah Tamil Huda, di mana hanya butuh waktu 15 hari untuk mencapai tingkat infeksi tertinggi yang pernah dicapai negara bagian india itu yang memberikan tekanan pada rumah sakit. Bahkan di kota-kota besar negara bagian lainnya, rumah sakit sudah hampir penuh.

Para pakar di India menyebut bahwa lonjakan kasus ini kemungkinan disebabkan karena adanya Corona varian baru yang lebih cepat menular. Hal ini diperburuk dengan banyaknya warga India yang tidak lagi khawatir akan bahayanya virus tersebut.

Setelah ritual keagamaan di sungai atau Kumbh Mela, dan dilaksanakan dalam beberapa hari. Kebanyakan dari peserta ritual ini tidak menerapkan protokol kesehatan saat mandi bersama di Sungai Gangga, India.

Akibat tsunami kasus Covid-19 tersebut, mayat-mayat bertumpuk di luar rumah sakit pemerintah India, Raipur. Ini disebabkan karena banyaknya pasien Corona yang tidak mampu bertahan dan akhirnya meninggal. Namun, karena jumlahnya yang terlalu banyak, tidak mungkin bisa dikremasi dengan cepat.

Parahnya, sejumlah rumah sakit di India mengalami kesulitan untuk mendapatkan pasokan oksigen hingga membuat banyak pasien Corona tak bisa terselamatkan. Menurut seorang politisi lokal di kotamadya Vasai Virar, Maharashtra, ia membuat permohonan publik untuk membantu mengatasi kekurangan oksigen tersebut.

Selain pasokan oksigen, jumlah bed di rumah sakit untuk menangani pasien Corona juga terbatas. Di New Delhi bahkan hanya memiliki bed atau tempat tidur kurang dari 100 di seluruh RS.

Kondisi ini menyebabkan banyak warga India mengeluh soal kurangnya jumlah tempat tidur di RS, tabung oksigen, hingga obat-obatan.

Kekhawatiran yang lebih besar adalah bahwa dalam 24 jam terakhir, angka positivity rate meningkat menjadi sekitar 30 persen dari sebelumnya 24 persen. Kasus-kasus meningkat sangat cepat.

Meskipun sejauh ini telah lebih dari 108 juta orang telah divaksinasi, hal ini rupanya belum cukup untuk menghentikan gelombang kedua Covid-19.

Padahal Januari lalu, Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan menyebutkan bahwa negaranya berhasil mencapai herd immunity.

Sebagian besar pakar meyakini, munculnya gelombang kedua Covid-19 India muncul akibat mereka merasa puas diri usai kasus Coronya sempat turun drastis.

Dari kasus ini tentu kita belajar bahwa protokol kesehatan masih harus tetap digalakkan, meski mengalami penurunan prevalensi dan berjalannya program vaksinasi, hal ini dikarenakan status pandemi Covid-19 belum berakhir.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Pemerintah berusaha mewujudkan Indonesia Sehat mulai Tahun 2021 dengan mewajibkan semua orang yang memenuhi ketentuan agar dapat divaksin Covid-19. Oleh karena itu kampanye dan literasi positif terkait suksesnya program vaksinasi penting dilakukan karena bisa menambah kepercayaan masyarakat tentang pentingnya vaksinasi Covid-19.

Atas latar belakang tersebut, Media Siaran Santri menyelenggarakan live podcast pada (26/1) dalam rangka mengoptimalkan peran kalangan santri  mendukung suksesnya kebijakan vaksinasi nasional pada 2021.

Pemimpin redaksi Media Siaran Santri Hafyz  mengatakan bahwa peran santri di masyarakat sangat penting dalam suksesnya berbagai kebijakan pemerimtah khususnya terhadap program vaksinasi nasional demi Indonesia bebas Pandemi.

“Kami mengajak kaum santri agar  memanfaatkan aplikasi media sosial dan mengakses media publik lainnya secara cerdas dan edukatif guna mensukseskan program vaksinasi Covid-19 demi Keselamatan dan Kemajuan Bangsa, salah satunya demgan memposting konten-konten positip yang menumbuhkan semangat optimisme dan memajukan bangsa ” kata Hafyz.

Sementara itu, Jubir Vaksinasi Nasional dr. Reisa Broto mengajak masyarakat untuk mendukung program penyuntikan vaksin Covid-19 secara nasional oleh Pemerintah demi suksesnya penanganan pandemi Covid-19.

“Dari Istana Kepresidenan Indonesia Saya mengajak Sahabat Siaran Santri agar menjadi garda terdepan dalam mensukseskan kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid 19 dengan mendukung program  vaksinasi nasional. Mari kita hindari berita hoax seputar Vaksinasi.
Dan mari selalu kita menjaga protokol kesehatan dengan pelaksanaan vaksinasi solusi indonesia bebar dari pandemi,” kata dr. Reisa Brotoasmoro dalam video ucapannya.

Lebih lanjut, dokter Wisma Atlet sekaligus alumni lulusan Pesantren Gontor dr. Tan’im mengungkapkan kesediaannya sebagai tenaga kesehatan divaksin  sebagai wujud ikhtiar bersama untuk menghentikan dan menuntaskan masalah pandemi COVID-19 di tanah air.

“Vaksin itu kan upaya kita untuk memerangi COVID-19, dengan ikut serta sebagai tenaga kesehatan berarti mendukung pemerintah untuk mengatasi masalah COVID-19 ini,, untuk otu saya mengajak agar masyarakat luas dapat mematuhi ketentian  yang telah dibuat pemerintah agar nmemudahkan pemerintah menyelesaikan masalah pandemi ini ” kata dr. Tan’im.

Sebelum pelaksanaan live Podcast, media Siaran santri bersama komunitas santri Nusantara konsisten melaksanakan penyebaran konten positif di media sosial demi mendukung dan mensukseskan kedesiplinan menjalankan protokol kesehatan serta program vaksinasi dalam rangka keberhasilan  Penanganan Covid-19.

Setelah bincang online Podcast berlangsung, dilanjutkan dengan pembacaan deklarasi bersama komunitas santri Nusantara sebagai komitmen mendukung Vaksinasi nasional. Adapun beberapa poin deklarasi tersebut sebagai berikut,

Pertama, Siap menjaga Persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila Dan Undang – Undang Dasar 1945 Serta Kebhinekaan.

Kedua, Siap mengoptimalkan peran santri melalui aksi literasi narasi positip mendukung kebijakan vaksinasi nasional demi suksesnya Penanganan Pandemi Covid-19 oleh pemerintah menuju Indonesia yang sehat dan tangguh.

Ketiga , Siap bergotong royong melawan hoaks dan konten negatif di lini media publik seputar vaksinasi guna menumbuhkan kondusifitas dan optimisme terhadap kesuksesan vaksinasi nasional menuju Indonesia bebas Pandemi Covid-19.