Kepala Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengimbau kepada seluruh kalangan agar penegakan disiplin protokol kesehatan harus dilakukan secara komunal dan kolektif, terutama menjelang Idul Fitri 1442 Hijriah. “Ini harus ada upaya bersama dari seluruh pihak, jangan lelah untuk mengingatkan seluruh orang agar terus disiplin. Disiplin ini harus komunal dan kolektif,” ujar Doni pada Forum Merdeka Barat 9, di Jakarta, Rabu (5/5).

Doni menegaskan memang tidak ada jaminan orang yang disiplin protokol kesehatan tidak akan terpapar Covid-19. Seperti halnya dirinya yang terpapar virus SARS-CoV-2 saat menangani gempa di Mamuju, Sulawesi Barat. Namun ia mengingatkan transmisi Covid-19 dapat berpotensi terjadi di tempat-tempat keramaian seperti di transportasi umum, terminal bus dan bandara.

Selain itu, sumber penularan tidak hanya dari penularan langsung secara fisik dari manusia ke manusia. Oleh karenanya, membatasi jarak sosial juga membatasi pertemuan-pertemuan orang menurut Doni adalah langkah yang paling efektif untuk terhindarnya Covid-19.

Sayangnya, penerapan protokol kesehatan tersebut dinilai Doni masih belum optimal. Bukan hanya terjadi di Indonesia namun bahkan di banyak negara negara maju masih banyak yang tidak percaya Covid-19.

Doni memaparkan Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, 17 persen dari seluruh penduduk Indonesia, diperkirakan sekitar 40 juta orang tidak percaya Covid-19. Padahal Covid-19 telah membunuh jutaan orang di seluruh dunia, dan banyak warga Indonesia menjadi korban. Bahkan, persentase kematian orang yang terpapar Covid-19 meninggal sekitar 80 persen merupakan pasien dengan usia di atas 47 tahun.

Doni mengatakan dasar hukum penegakan protokol kesehatan serta larangan mudik yang pertama dari aspek global yakni Salus Populi Suprema Lex Esto atau keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi, pembukaan Undang-undang Dasar 1945, dan hukum agama yang mendahulukan yang wajib daripada yang sunnah. Doni mengatakan, silaturahmi liburan dan aktivitas lainnya sifatnya adalah sunnah. Sementara yang wajib adalah menjaga kesehatan dan menjaga keselamatan jiwa.

Oleh : Dodik Prasetyo )*

Situasi pandemi cenderung semakin serius yang ditandai dengan semakin banyaknya kasus positif Covid-19 di Indonesia. Masyarakat pun diminta sadar dan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan agar tidak semakin banyak lagi orang yang tertular Corona.

Pandemi memang belum berakhir, distribusi vaksin juga belum merata untuk seluruh masyarakan Indonesia, sehingga masyarakat perlu untuk terus diingatkan terkait dengan sense ofe crisis atau kewaspadaan terhadap penyebaran virus covid-19.
Namun demikian, seiring dengan berjalannya waktu, tingkat kewaspadaan masyarakat justru cenderung menurun. Kondisi inilah yang menyebabkan penyebaran virus covid-19 di Indonesia seolah tidak terbendung.

Epidemiolog dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Riris Andono Ahmad menyebutkan, bahwa dengan semakin bertambahnya waktu, sense of crisis akan semakin merendah, sehingga masarakat harus diingatkan, karena ada konsekuensi dari setiap tindakannya.

Hingga akhir Januari lalu, total kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia telah mencapai angka 1.078.314 orang. Bertambahnya angka penularan virus pun diiringi dengan bertambahnya jumlah angka kematian.

Riris menilai, ketika transmisi virus tinggi, maka masyarakat tidak bisa hanya bertumpu pada protokol kesehatan 3M, yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. Protokol Kesehatan 3M menjadi tdak memadai ketika kasus positif Covid-19 berada di angka yang tinggi. Jika kondisi ini yang terjadi, maka masyarakat wajib mengurangi mobilitas agar terhindar dari virus.

Ia juga menegaskan bahwa yang membuat virus menular adalah mobilitas manusia. Semakin tinggi mobilitas, virus akan semakin bisa menular.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian dan Konsultasi Pembangunan Kesehatan (LKP2PK), Ardiansyah Bahar juga mendorong masyarakat agar mendukung semua kebijakan dari pemerintah supaya terhindar dari penularan virus Covid-19.

Ardiansyah mengatakan, bahwa sense of crisis tentu menjadi hal utama yang harus dimiliki oleh masyarakat, mengingat kondisi pandemi yang belum berakhir. Apalagi dengan semakin bertambahnya beban fasilitas pelayanan kesehatan dalam menangani pasien Covid-19.

Menurutnya, pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) adalah upaya untuk mengurangi mobilisasi masyarakat. Kebijakan tersebut harus dipatuhi agar mengurangi risiko penularan.

Dirinya meyakini, jika kebijakan pembatasan mobilitas dijalankan dengan baik, ditambah dengan program vaksinasi yang sukses, tentu hal ini akan berdampak pada penurunan kasus. Namun demikian tentu saja upaya ini harus didukung dengan kedisiplinan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan.

Kabarnya, Indonesia merupakan salah satu negara yang beruntung, karena termasuk dari 40 negara pertama yang bisa melakukan vaksinasi.

Tentu saja masyarakat memiliki peran vital dalam memutus rantai penyebaran Covid-19, jika masyarakat kita patuh dan taat dalam menerapkan protokol kesehatan maka penanggulangan bencana non alam ini akan lebih cepat.

Bagaimanapun juga, protokol 3M dan Vaksinasi adalah 2 agenda yang sama pentingnya untuk menangani pandemi Covid-19.

Epidemiolog Syahrizal Syarif menuturkan, vaksin membutuhkan waktu untuk menciptakan kekebalan tubuh seseorang. Selain itu, tidak mungkin seluruh masyarakat akan dapat langsung divaksinasi karena proses pemberian vaksin akan dilakukan secara bertahap.

Syahrizal mencontohkan, meskipun saat ini terdapat puluhan vaksin, namun dari tahun 1940an, dunia mencatat kemunculan 365 penyakit baru dan hanya satu penyakit yang dapat tereradikasi (musnah) yakni cacar.

Dengan adanya fakta tersebut, Dirinya juga meminta kepada masyarakat untuk tidak perlu khawatir dengan keamanan vaksin, karena hal tersebut merupakan syarat utama dalam pembuatannya.

Pada kesempatan berbeda, wali kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyebutkan bahwa perkembangan kasus pandemi Covid-19 di Kota Pontianak mengalami penurunan serta cenderung melandai. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil screening swab test dan kondisi rumah sakit yang ada di kota Pontianak.

Edi menambahkan, perilaku masyarakat sudah sangat familiar dengan protokol kesehatan. Masyarakat juga sudah memahami bagaimana menjaga imunitas tubuh dengan pola hidup sehat sehingga bisa melawan virus corona. Namun demikian pihaknya terus mengikuti perkembangan kasus Covid-19 di Kota Pontianak dimana mobilitas dan aktifitas masyarakat semakin tinggi. Untuk itu tim satgas covid-19 Kota Pontianak terus melakukan monitoring.

Hal ini diperkuat dengan penuturan Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak Sidiq Handanu yang mengatakan, bahwa rumah sakit yang melayani pasien Covid-19 tingkat huniannya tercatat dibawah 30%.

Tentu saja apa yang terjadi di Pontianak tersebut patut dijadikan contoh terkait ikhtiar untuk terbebas dari ancaman virus corona atau covid-19.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Deka Prawira )*

Jumlah pasien corona melonjak drastis, dan pemerintah sampai 2 kali menerapkan PSBB di awal 2021 ini. Masyarakat juga diminta untuk kooperatif dan tetap menjaga protokol kesehatan. Walau sebentar lagi kita mengantri giliran untuk vaksin corona, tetap wajib pakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak.

Ketika pandemi kita alami hampir setahun lamanya, maka vaksin corona adalah penyelamat. Vaksin Sinovac diklaim memiliki efektivitas lebih dari 90% dan membuat kita bisa kebal dari serangan virus covid-19. Jumlah pasien akan berkurang hingga 0. Jika semua orang di Indonesia disuntik vaksin 2 kali, pandemi bisa segera berakhir. Karena sudah terbentuk kekebalan kelompok.

Namun kita tak boleh leha-leha sambil menunggu giliran vaksin. Semua orang masih harus menaati protokol kesehatan, untuk mencegah penularan corona. Karena menurut Panji Hadisoemarto, epidemiolog Unpad, kekebalan kelompok membutuhkan waktu selama setahun. Jadi tidak boleh mentang-mentang habis divaksin langsung bebas melepas masker.

Amatlah miris ketika beberapa bulan kemarin kedisiplinan masyarakat mulai menurun. Terbukti dari jumlah pasien corona yang melonjak drastis menjadi lebih dari 6.000 orang sehari. Ketika pemerintah memberlakukan 2 kali PSBB sejak januari 2021, jangan dikeluhkan. Karena jika mobilitas tidak dibatasi, akan menambah jumlah pasien corona.

Meskipun angka kesembuhan pasien covid naik, namun banyaknya jumlah pasien baru tentu menyesakkan. Tidak semua pasien boleh isolasi mandiri dan mengkonsumsi obat, karena tergantung daya tahan tubuhnya. Jika tidak dapat kamar di RS, sedangkan ia harus ditunjang dengan ventilator.

Apakah kita mau sakit selama 14 hari dan menahan sesak di dada, hanya gara-gara malas pakai masker? Jangan lupakan fakta bahwa pasien corona tak hanya merasa sesak, tapi juga pusing, sakit mata, sampai delirium (pikirannya tidak sinkron). Setelah sembuh, ia juga masih beresiko karena daya tahan tubuhnya menurun. Jadi masih tetap harus mematuhi protokol kesehatan.

Selain disiplin pakai masker dan rajin cuci tangan, protokol kesehatan lain juga wajib ditaati. Menjaga jarak memang agak susah pada awalnya, namun harus dilakukan demi keamanan dan kesehatan bersama. Jangan mentang-mentang sekolah anak diliburkan untuk sementara, malah lalai dan berjalan-jalan ke Mall atau tempat hiburan lain.

Sabarlah dan tetap di rumah untuk sementara. Saat harus work from home, maka kurangi intensitas keluar rumah. Untuk belanja sayuran dan kebutuhan sehari-hari lain, saat ini sudah ada aplikasi atau toko online yang membuka layanan antar dengan ongkos kirim terjangkau. Jadi Anda tidak usah berdesak-desakan ke pasar, dan mengabaikan physical distancing.

Begitu juga dengan acara hajatan, arisan, dan pesta pernikahan. Ingatlah bahwa pandemi adalah masa prihatin. Tak usahlah membuka tenda dan mengundang ribuan tamu seperti dulu. Menurut standar dari Tim Satgas Covid, boleh saja ada pernikahan tapi tamu maksimal 30 orang. Jangan sampai pasca acara, menimbulkan klaster corona baru, karena nekat mengundang banyak orang.

Ingatlah bahwa menjaga protokol kesehatan tidak hanya penting untuk diri sendiri, tapi juga orang lain. Jangan sampai Anda jadi OTG karena lupa pakai masker dan menularkannya pada anak yang masih kecil. Menjaga protokol kesehatan wajib dilakukan sekeluarga, dan orang tua melakukannya untuk memberi teladan kepada anak-anaknya.

Disiplin menjaga protokol kesehatan wajib dilakukan untuk menjaga kesehatan dan keamanan diri sendiri dan keluarga. Jangan malas pakai masker dan mencuci tangan atau pakai hand sanitizer. Tetaplah jaga jarak dan batasi pertemuan dengan orang lain, jika tidak benar-benar penting. Jika semua orang disiplin menjaga protokol dan sudah divaksin, maka pandemi bisa lekas berakhir.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Deka Prawira )*

Uraian penerapan prokes atau protokol kesehatan mulai digalakkan. Tak hanya mengawali tahun 2021 ini. Namun, tahun sebelumnya sejak pandemi masih menunjukkan taringnya. Bahkan, sejumlah operasi terkait prokes ini makin ditingkatkan.

Menerapkan protokol kesehatan kini bukan hanya sebagai formalitas semata. Namun telah menjadi rutinitas yang wajib dipatuhi saat pandemi masih menyerang. Pandemi yang telah menyelimuti hampir setahun terakhir ini memaksa kebiasaan masyarakat untuk terus mengalami penyesuaian.

Menurut pakar kesehatan masyarakat yakni Dr Hermawan Saputra. Beliau turut mengingatkan jika masyarakat agar semakin disiplin dalam penerapan prokes. Lebih tepatnya pada era adaptasi kebiasaan baru.

Meski sekolah tatap muka hingga sektor lainnya sempat dibuka, namun menilik angka peningkatan COVID-19. Kebijakan pemerintah untuk memberlakukan kelas daring juga PSBB resmi dilakukan. Bahkan PSBB dilakukan dengan skala lebih ketat.

Bahkan, ada pemberian sanksi kepada pihak pelanggar jika secara sengaja melanggar aturan tersebut. Bukan hanya aturan tertulis saja, pihak aparatur negara seperti kepolisian turut mengadakan operasi.

Di beberapa daerah telah diberlakukan operasi masker, hingga jam buka-tutup usaha. Hal ini dimaksudkan agar seluruh pihak mampu menjaga satu sama lain. Dalam menekan angka penyebaran COVID-19. Mengingat ekspansi virus ini cukup cepat sehingga membutuhkan penanganan yang sangat serius.

Penerapan protokol kesehatan ditengarai memiliki cakupan yang luas. Hal ini tentu harus dimulai dari kebersihan diri. Mencuci tangan dengan sabun setiap hendak beraktivitas. Termasuk saat mengakhiri aktivitas tersebut.

Makan makanan yang dimasak dengan benar, memakai masker hingga mengusulkan penyemprotan cairan desinfektan secara berkala. Bahkan, di tempat umum juga diwajibkan melakukan pembatasan sosial. Sehingga, antara orang satu dengan lainnya tidak langsung berkontak.

Hal ini diklaim cukup efektif untuk memerangi Corona. Lebih-lebih dengan adanya program di rumah saja. Agar virus mampu ditanggulangi dengan sempurna. Ditilik dari kasus-kasus yang bermunculan dengan beragam klaster. Membuat pemerintah getol melakukan sejumlah usaha yang nyata.

Klaster-klaster baru yang nyatanya berdampingan dengan keseharian kita. Atau bahkan mungkin beriringan dengan mobilitas sehari-hari. Memang layak diwaspadai, gejala-gejala COVID-19 ini seolah tak bisa diprediksi.

Terlebih OTG alias Orang tanpa gejala yang harus ekstra warning. Sebab, banyak ditemukan penyebaran dengan tipe berikut. Tahu-tahu ketika dites antigen atau PCR sudah positif saja. Bukankah hal ini cukup menakutkan.

Maka dari itu imbauan-imbauan hingga sederet prokes yang diberikan oleh pemerintah, harap bisa dipatuhi. Hal ini demi menjaga diri juga orang-orang yang kita sayangi. Tak menyangkal jika era kebiasaan baru ini terkesan ribet atau merepotkan.

Salah satunya pemakaian masker yang terkadang membuat kondisi pernapasan pengap. Namun segala hal baik dimulai dari yang terkecil dahulu. Diniatkan agar menjadi kebiasaan yang mudah untuk dilakoni.

Jika sudah demikian, sinyalemen otak serta tubuh akan otomatis betkontribusi mendukung kegiatan ini. Alarm-alarm otak secara alami akan mengingatkan kita terkait prokes. Yang mana telah tertanam baik didalam diri.

Bisa jadi kedepan kebiasaan ini membawa banyak keuntungan. Dengan ada atau tidaknya COVID-19, hidup akan menjadi lebih sehat, lebih aware dengan dunia luar. Termasuk waspada menghadapi segala kondisi kesehatan.

Toh, prokes ini diterapkan demi kebaikan bersama. Tak mungkin kan, semua ini dilakukan sendiri. Makanya, kita semua wajib berbenah. Sadar betul atas pandemi yang seolah enggan pergi serta membuat tatanan hidup menjadi tak menentu.

Kendati demikian, pastilah akan selalu ada hikmah disetiap kejadian. Kolaborasi seluruh elemen negara ini diperlukan. Menjaga satu sama lain menjadi suatu hal yang diprioritaskan. Kemungkinan saja masker yang kita kenakan ialah upaya menjaga orang lain dari kita.

Mengingat, kitapun juga berpotensi memularkan, bukan. Stop bersifat egois, negatif thinking hingga asumsi-asumsi salah. Sebab, hal ini dapat memperburuk keadaan. Situasi yang tak kondusif sangat rentan membuat ekspansi COVID-19 meningkat.

Ya, seperti munculnya klaster baru seperti yang telah disinggung diatas. Menyadari jika COVID-19 ini memang mengancam. Ada baiknya bersegera mengubah kebiasaan untuk disiplin prokes. Ingat pepatah, sedia payung sebelum hujan. Lebih baik mencegah daripada mengobati.
Mari bergotong royong melawan COVID-19. Agar penyebaran mampu ditekan dengan cepat, sehingga harapan hidup normal akan segera bisa disongsong kembali. Yakinlah!

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Deka Prawira )*

Imbauan untuk tetap mematuhi prokes atau protokol kesehatan. Meski telah melakoni penyuntikkan vaksin Sinovac. Hal ini ditengarai mampu memberikan dobel proteksi atas tubuh kita.

Kemampuan vaksin Sinovac dari negeri Tirai Bambu. Yang masih disempurnakan dengan menggandeng pihak PT Bio Farma, telah rilis. Penantian panjang serta berliku ini agaknya terbayar sudah. Legalitas hingga uji klinis tahap 3 telah dilampaui secara sempurna.

Pun dengan uji coba penyuntikkan kepada pihak-pihak yang mendukung program vaksinasi berikut. Tak menampik semenjak COVID-19 menyerang, keputusasaan seolah menjadi teman abadi.
Kendati demikian, aneka upaya meredam hingga mengurangi penyebaran virus terus dilakukan. Bantuan dari segi moril dan materiil ikut digelontorkan. Hampir seluruh sektor mendapatkan bantuan tersebut.

Di sektor pendidikan, diwajibkan untuk belajar secara daring alias online. Di bidang kesehatan penambahan alkes hingga tenaga medis, sebagai garda terdepan. Sektor ekonomi, usaha kecil menengah hingga besar. Mulai dari pekerjaan formal sampai non formal, semua tersentuh.

Rasa miris yang berkelanjutan membuat para warga merasa pesimis. Akankah wabah atau pandemi ini bisa segera terhenti. Pasalnya, tatanan ekonomi jua seperti mati suri. Membuat mobilitas menjadi porak-poranda, dan meninggalkan harapan tanpa mampu terwujud.

Namun, pemerintah tak menyerah. Segala macam cara dijajal. Termasuk menghadirkan vaksin Sinovac, yang mana digadang-gadang akan membantu mengatasi COVID-19. Vaksin yang telah lolos uji di beberapa negara seperti Chile, Turki hingga Brasil. Ini memicu peningkatan rasa percaya diri.

Keyakinan atas akan ada pelangi setelah badai, bak sudah didepan mata. Meski mengalami cibir sana-cibir sini, serta beragam tuduhan. Nyatanya, vaksin tetap mampu menunjukkan eksistensinya. Vaksin mampu menghadirkan sejumlah solusi.

Diantaranya ialah mengurangi kesakitan lebih dini dan cepat. Termasuk mengurangi angka kematian akibat virus Corona. Sinovac memiliki cara kerja membentuk antibodi dalam tubuh manusia. Disebutkan jika Sinovac mampu membunuh virus, kendati protein pembungkus tetap ada.

Namun, sejauh ini protein pembungkus virus justru akan terpicu untuk membentuk imunitas yang lebih kuat lagi. Sehingga meski terserang virus COVID-19 lagi, maka tidak akan bisa hidup dalam tubuh seseorang tersebut.

Seperti dilansir sejumlah kanal berita, meski seseorang telah resmi disuntik Sinovac. Bukan berarti bisa leha-leha serta mengabaikan prokes atau protokol kesehatan. Setelah melalui dua kali penyuntikkan, dengan jarak 2 minggu. Vaksin baru akan membentuk antibodi untuk memproteksi diri.

Memang, dikatakan setelah vaksinasi seseorang tak butuh isolasi mandiri. Akan tetapi, tetap wajib mematuhi prokes yang berlaku. Mulai dari pemakaian masker, cuci tangan dengan sabun, pola hidup sehat hingga yang lainnya.

Meski sempat dikabarkan mengalami penurunan. Namun, dengan beragam kondisi yang dinilai tidak kondusif, COVID-19 meledak bagai bom waktu. Yang kemudian memunculkan angka yang fantastis. Menelisik lebih dalam, penyebab melejitnya angka penyebaran ini ialah ketidakdisiplinan atas prokes.

Apalagi penggunaan masker seolah menjadi hal yang sering diremehkan. Masker itu tentunya memang tak dapat secara eksplisit melindungi. Namun, mampu mencegah sehingga menjaga orang lain dari kita. Mengingat, diri kita ini juga bisa berpotensi menularkan, nah!

Daripada mengikuti anjuran yang berlalu lalang di media sosial dan tak jelas juntrungannya. Bukankah lebih baik mengikuti terapan peraturan pemerintah. Yang jelas dan nyata untuk menekan angka ekspansi COVID-19.

Protokol kesehatan sebetulnya telah digalakkan saat COVID-19 menyerang. Namun, sampai saat ini terus mengalami perkembangan. Hingga akhirnya program vaksinasi dengan Sinovac berhasil dirilis. Pengumuman vaksinasipun serentak diberitakan.

Tepatnya ialah tanggal mulai tanggal 13 Januari 2021. Bahkan Presiden Joko Widodo juga telah turut andil menjadi pihak yang divaksinasi. Beliau turut mengimbau agar seluruh elemen masayarakat tanpa kecuali mendukung program ini. Dirinya juga berharap agar masyarakat mampu melihat dari sudut pandang yang lebih positif.

Sehingga program vaksinasi dalam rangka melindungi seluruh warga negara Indonesia dari ancaman COVID-19. Mengingat, persatuan ini tentu bakal menimbulkan hal yang baik pula untuk kedepannya. Yang perlu digarisbawahi ialah, meski vaksinasi telah dilakukan. Protokol kesehatan ini wajib terus dipatuhi. Bahkan demi menggalakkan prokes ini, pihak kepolisian rutin menggelar operasi. Hal ini juga ditujukan kepada masyarakat agar lebih aware lagi dengan kesehatan mereka.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh: Anjar Agustine (Mahasiswa Ilmu Kesehatan Universitas Diponegoro)

Sejak akhir tahun 2019 hingga awal tahun 2021, dunia masih belum terlepas dari pandemi Covid-19. Berbagai upaya untuk menekan jumlah korban Corona ini telah dilakukan oleh berbagai negara, namun masih tidak berhasil mengusirnya. Di sisi lain, banyak peneliti yang berusaha mengembangkan vaksin dari virus ini, tetapi vaksin yang berhasil dibuat dinilai masih belum sepenuhnya dapat menghentikan pandemi ini.

Berbagai negara, termasuk Rusia, Inggris, Cina, Amerika, dan berbagai negara lainnya mengeklaim telah mampu menemukan atau membuat vaksin untuk virus corona ini. Hal tersebut tentu menjadi angin segar bagi masyarakat. Meski disebutkan belum mampu mengatasi pandemi, tetapi bila masyarakat terus berperan aktif dalam vaksinasi dan taat menjalankan protokol kesehatan, maka tidak ada yang tidak mungkin untuk mengakhiri pandemi di Indonesia.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia telah menyiapkan vaksin hasil kerja sama dengan berbagai negara. Pemerintah juga telah mendistribusikan vaksin tersebut pada awal 2021 silam.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menyampaikan bahwa saat ini sudah ada 4 jenis vaksin yang akan siap disebarkan secara massal kepada masyarakat. Vaksin-vaksin ini merupakan hasil kerja sama Indonesia dengan berbagai negara seperti Inggris hingga Cina. Langkah yang diambil pemerintah untuk menyiapkan vaksin dan bahkan membagikannya secara gratis kepada masyarakat merupakan kebijakan yang sangat luar biasa. Penentuan prioritas penerima vaksin pun juga merupakan keputusan yang baik.

Kebijakan dan langkah yang diambil pemerintah untuk mengatasi pandemi ini sebenarnya sudah tepat. Dimulai dengan kebijakan PSBB, bantuan sosial, larangan masuk WNA supaya virus yang bermutasi tak masuk Indonesia, hingga pemberian vaksin gratis. Namun, semuanya kembali kepada masyarakat. Pemerintah hanya bisa mengambil keputusan atau memberikan kebijakan, namun tetap rakyatlah yang menjalankannya.

Dalam mengatasi gelombang penolakan vaksin, pemerintah sendiri telah mengambil langkah yang jelas dan terbuka. Pihak Kementerian Kesehatan menuturkan bahwa pemerintah tengah berusaha memastikan kepada pihak produsen vaksin mengenai kehalalan vaksin. Pemerintah juga menuturkan bahwa pihak kesehatan telah memastikan keamanan vaksin tersebut. Pihak pemerintah juga menuturkan bahwa keamanan vaksin merupakan hal yang sangat penting sehingga pemerintah tidak mungkin sembarangan memberikan vaksin yang tidak aman untuk masyarakat.

Adanya berita dan informasi bohong seperti Covid-19 merupakan hasil propaganda atau konspirasi atau hanya tipuan belaka, juga menjadi penyebab penolakan masih terus terjadi. Sebagai harda terdepan, masyarakat harus ikut menyukseskan kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid-19 dengan mendukung program vaksinasi nasional.

Dalam situasi pandemi seperti ini, kita tidak bisa menyalahkan pemerintah. Tidak ada yang ingin berada dalam kondisi pandemi yang tidak menguntungkan ini. Sebagai masyarakat yang cerdas, hendaknya kita bekerja sama dengan pemerintah dalam mengatasi pandemi ini. Langkah-langkah seperti menaati protokol kesehatan dan menjalankan vaksinasi yang diberikan pemerintah merupakan jalan yang harus kita lakukan demi menghentikan pandemi ini. Sudah sepantasnya seluruh elemen masyarakat mendukung vaksinasi Covid-19 demi keselamatan dan kemajuan bangsa.

Kita juga harus belajar menjadi masyarakat yang mampu memahami berbagai informasi terkait pandemi yang disampaikan pemerintah sehingga tidak mudah terbodohi dengan berita-berita palsu yang menyesatkan.