Oleh : Zainudin Zidan )*

Facebook telah menetapkan daftar hitam bagi Ormas maupun individu yang dianggap berbahaya. Salah satu tokoh dan Ormas tersebut adalah Front Pembela Islam (FPI) dan Rizieq Shihab.

Media Sosial Facebook diketahui memiliki sebuah daftar hitam yang berisi nama orang maupun organisasi di Indonesia yang dianggap berbahaya. Di dalam daftar tersebut terdapat nama organisasi yang telah dibubarkan oleh pemerintah Front Pembela Islam dan pentolannya Rizieq Shihab.

Daftar hitam facebook tersebut diungkap pertama kali oleh media Amerika Serikat The Intercept. Media tersebut sebenarnya berisi sekitar 4000 nama orang dan organisasi di dunia yang dianggap berbahaya oleh Facebook.

Hingga saat ini facebook tidak memberikan alasan kenapa pihaknya menysun daftar tersebut dan apa pertimbangan yang digunakan oleh perusahaan media sosial milik Mark Zuckerberg tersebut.

Daftar hitam facebook tersebut digunakan untuk menyensor konten dan akun yang berafiliasi dengan organisasi atau orang yang masuk dalam daftar tersebut. Facebook sendiri tidak pernah transparan terkait dengan daftar itu dan bagaimana daftar hitam tersebut disusun.

Dokumen setebal 100 halaman tersebut disusun ulang The Intercept berdasarkan daftar asli milik Facebook. Di dalamnya organisasi dan orang disusun dalam struktur nama, kategori, kawasan tempat orang/organisasi, tipe organisasi, afiliasi dan pihak yang menetapkan orang/organisasi tersebut dalam kategori berbahaya.

Daftar hitam tersebut juga memiliki kategori lain, yakni label pelaku teror. Dalam label tersebut nama organisasi asal Indonesia yang muncul adalah Mujahidin Indonesia Barat (MIB), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), Majelis Mujahidin Indonesia, Jamaah Anshorut Tauhid dan Hilal Ahmar Society Indonesia.

Perlu kita ketahui, bahwa Facebiik selama bertahun-tahun melarang penggunanya berbicara secara bebas tentang orang dan kelompok yang dikatakan mempromosikan kekerasan. Pembatasan tersebut tampaknya ditelusuri kembali ke tahun 2012, ketika menghadapi kekhawatiran yang meningkat di kongres dan PBB tentang perekrutan teroris secara online.

Facebook kemudian menambahkan daftar larangan pada standar komunitasnya pada kolom “organisai dengan catatan teroris atau aktivitas kriminal kekerasan”. Brian Fishman selaku Direktur Kebijakan Facebook untuk kontraterorisme dan organisasi berbahaya mengatakan bahwa perusahaan merahasiakan daftar tersebut karena ini adalah ruang permusuhan.

Brian menambahkan, Facebook tidak ingin teroris, kelompok kebencian atau organisasi kriminal ada di platform media sosial facebook. Hal itulah yang menyebabkan pihaknya melarang mereka dan menghapus konten yang memuji, mewakili atau mendukung mereka.

Facebook sendiri memiliki sebuah tim yang terdiri dari 350 spesialis di Facebook yang berfokus untuk menghentikan organisasi-organisasi berbahaya dan organisasi yang dinilai dapat memunculkan ancaman.

Kita tidak perlu terlalu heran jika FPI ataupun Rizieq Shihab masuk ke dalam daftar hitam facebook, hal tersebut dikarenakan kiprahnya yang terkenal meresahkan. Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif curiga, jika hal tersebut merupakan campur tangan dari pemerintah. Maarif menduga kalau pemerintah sudah membisiki Facebook supaya mencegah postingan yang berkaitan dengan FPI maupun Rizieq.

Tentu saja hal tersebut tidak masuk akal, yang memblokir adalah facebook sebagai perusahaan yang memiliki kuasa atas hal tersebut. Mana sempat Jokowi membisiki facebook, apalagi urusan di Indonesia masih banyak. Sehingga sudah sepatutnya FPI melancarkan protesnya ke Facebook, bukan ke pemerintah.

Atau sekalian saja FPI dan berbagai organisasi yang memiliki keterikatan dengan ex ormas tersebut, tidak perlu memakai FB, lagian facebook itu kan produk buatan orang kafir. FPI dan dedengkotnya juga kerap menyuarakan anti asing, tapi ternyata ketika akses FB dimasukkan ke dalam daftar hitam, mereka muntab. Tentu saja dimasukkannya FPI dan sebagian orang yang dianggap berbahaya ke dalam daftar hitam, semestinya bisa membuat FPI dan kawan-kawan untuk berkreasi dengan membuat aplikasi media sosialnya sendiri.

Mungkin amarah FPI dan kawan-kawan disebabkan karena facebook dinilai sebagai media sosial yang mampu menggalang dukungan dari netizen. Namun, mereka tidak sadar bahwa penyebar kebencian di facebook juga kelak akan dibenci juga.

Satu hal yang harus kita sepakati, bahwa Facebook memiliki standar komunitas yang harus kita patuhi sejak pertama kali kita memiliki akun facebook, dan facebook berhak memberikan sanksi berupa teguran hingga pemblokiran.

Masuknya FPI dan Rizieq Shihab ke dalam daftar hitam facebook sepertinya bukan perkara yang terlalu urgent, hal ini justru bisa menjadi momentum bagi masyarkat agar berhati-hati dalam bersosial media.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Banyumas

Ummat Muslim Indonesia tidak begitu suka terhadap ormas radikal, hal ini berdasarkan survey yang telah dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI) dengan didukung UN Women dan Wahid Foundation. Surevey tersebut merupakan bagian dari program UN Women yang didukung pemerintah Jepang bertajuk ‘Perempuan Berdaya, Komunitas Damai Indonesia 2017-2018’.

Salah satu poin survei menghasilkan data muslim yang anti terhadap organissi msyarakat yang tergolong radikal sebanyak 51,7 persen. Sementara itu, yang tidak menentukan sikap sebanyak 39,2 persen dan yang pro-ormas radikal hanya sebanyak 9,0 persen.

Front Pembela Islam (FPI) disebut sebagai salah satu ormas radikal. FPI masuk kategori tersebut bersama ISIS, Jamaah Islamiyah, Al-Qaedah, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), DI/NII, Jamaah Anshar Daulah (JAD), dan Laskar Jihad.

Menyikapi hal tersebut, peneliti Lesperssi, Jim Peterson, mengatakan bahwa para stakeholder negeri ini harus mewaspadai potensi ancaman yang muncul pasca pembubaran eks ormas FPI. Metode perjuangan mereka pasti akan berubah seiring berubahnya status hukum eks ormas tersebut. Para aktor keamanan nasional perlu mewaspadai penyebaran faham radikal oleh eks ormas FPI. Potensi syi’ar radikal eks ormas FPI itu ada dan real.

“Stakeholder negeri ini harus mewaspadai potensi ancaman pasca pembubaran eks ormas FPI. Metode perjuangan pasti akan berubah seiring berubahnya status hukum eks ormas tersebut. Para aktor keamanan nasional perlu mewaspadai penyebaran faham radikal oleh eks ormas FPI. Potensi syi’ar radikal eks ormas FPI itu ada dan real”, ujar Jim Peterson.

Imam Besar eks Front Pembela Islam ( FPI) Habib Rizieq Shihab berpotensi terseret kasus hukum serius yang baru.

Sebelumnya, Rizieq Shihab terseret kasus pelanggaran protokol kesehatan dan kasus swab RS UMMI Bogor.

Habib Rizieq Shihab pun divonis 4 tahun penjara.

Terbaru, Habib Rizieq Shihab bakal terseret kasus dugaan terorisme yang menjerat Munarman.

Diketahui, Eks sekretaris FPI ini ditangkap lantaran diduga terkait dengan jaringan terorisme.

Jaksa Penuntut Umum meminta Polri melengkapi berkas Munarman.

Yakni menyertakan Habib Rizieq Shihab dan eks petinggi lainnya dalam kasus Munarman.

JPU Minta Rizieq dan Eks Ketum FPI Diperiksa Terkait Kasus Terorisme Munarman, berkas perkara dugaan kasus terorisme yang melibatkan Munarman ternyata dikembalikan lantaran Jaksa Penuntut Umum (JPU) meminta Polri turut memeriksa Rizieq Shihab, eks ketum FPI Sobri Lubis dan eks petinggi FPI lainnya.

Demikian disampaikan oleh Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes pol Ahmad Ramadhan.

Ia menyatakan berkas Munarman sejatinya telah dikembalikan JPU kepada Bareskrim untuk diperbaiki sejak beberapa pekan lalu.

Pengungkapan kasus dugaan terorisme di Front Pembela Islam (FPI) diharapkan tidak berhenti pada penangkapan Munarman. Polisi diminta segera menangkap mantan anggota FPI lain yang diduga terpapar radikalisme.

“Ini adalah yang sangat besar, keberadaan yang sangat besar. Bukan hanya pada titik penangkapan Munarman tapi lebih besar lagi bagaimana hal itu memberikan efek deteren bagi kelompok-kelompok atau simpatisan pada tindakan ekstrimisme, dan itu sebagian ada di FPI,” kata peneliti institute for security and strategic studies (ISESS) Bambang Rukminto.

Bambang mengatakan banyak terduga teroris yang memanfaatkan nama FPI untuk beraksi. Polisi diminta segera mengungkap terduga teroris yang bersembunyi di balik nama FPI.

Senada, Ketua bidang Hukum dan HAM, PP Pemuda Muhammadiyah , Razikin menganggap, langkah pemerintah yang secara resmi membubarkan organisasi masyarakat (Ormas) Front Pembela Islam (FPI) diyakini sudah melalui kajian yang komprehensif.

Razikin pun memandang, langkah pemerintah yang melarang seluruh aktivitas FPI merupakan langkah yang tepat. Karena dia melihat, ormas yang didirikan Habib Rizieq Shihab ini sendiri semakin ke sini, semakin memperlihatkan berbagai tindakan yang melanggar hukum. “Saya melihat FPI sendiri menumpang dalam fasilitas demokrasi dengan melabrakan prinsip-prinsip dasar dari demokrasi itu sendiri,” pungkasnya.

Front Pembela Islam (FPI) terlibat dalam berbagai pemberitaan terkait aksi terorisme. Hal tersebut dimulai usai penangkapan simpatisan maupun mantan anggotanya oleh aparat penegak hukum. Sementara, proses hukum belum bisa membuktikan kaitannya. Terlebih, ada banyak organisasi yang bisa jadi pintu aksi teror.

FPI banyak disorot lantaran sejumlah pihak yang diduga sebagai simpatisannya atau mantan anggotanya diringkus oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri.

Namun demikian, hingga saat ini pihak kepolisian belum mengkonfirmasi secara utuh mengenai keterkaitan ormas terlarang itu dengan rentetan penangkapan yang dilakukan oleh Polri. Mereka hanya menyatakan bahwa masih melakukan pendalaman.

Menyikapi hal tersebut, peneliti Lesperssi, Jim Peterson, mengatakan bahwa keterlibatan berbagai tokoh maupun anggota organisasi terlarang FPI patut dijadikan perhatian. Mekanisme due process harus diawasi secara ketat, mengingat tingkat sensitifitas kasus tersebut. Lembaga penegak hukum perlu meyakinkan publik bahwa proses penegakan hukum berjalan sesuai dengan rambu-rambu yang berlaku, sehingga tidak dipolitisir oleh pihak-pihak tertentu.

“Keterlibatan tokoh maupun anggota FPI patut dijadikan perhatian. Mekanisme due process harus diawasi secara ketat, mengingat sensitifitas kasus tersebut. Lembaga penegak hukum perlu meyakinkan publik bahwa proses penegakan hukum berjalan sesuai dengan rambu-rambu yang berlaku, sehingga tidak dipolitisir”, ujar Jim Peterson.

Pengungkapan kasus dugaan terorisme di Front Pembela Islam (FPI) diharapkan tidak berhenti pada penangkapan Munarman. Polisi diminta segera menangkap mantan anggota FPI lain yang diduga terpapar radikalisme.

“Ini adalah yang sangat besar, keberadaan yang sangat besar. Bukan hanya pada titik penangkapan Munarman tapi lebih besar lagi bagaimana hal itu memberikan efek deteren bagi kelompok-kelompok atau simpatisan pada tindakan ekstrimisme, dan itu sebagian ada di FPI,” kata peneliti institute for security and strategic studies (ISESS) Bambang Rukminto

Bambang mengatakan banyak terduga teroris yang memanfaatkan nama FPI untuk beraksi. Polisi diminta segera mengungkap terduga teroris yang bersembunyi di balik nama FPI.

“Terorisme atau simpatisan ekstrimisme itu banyak sekali, di FPI pun tidak semuanya juga mempunyai paham ekstrimisme atau terorisme,” ujar Bambang.

Polisi juga diminta menggencarkan penangkapan eks anggota FPI yang terpapar radikalisme. Penangkapan diyakini bisa menimbulkan efek jera bagi mantan anggota FPI lain yang sudah terpapar radikalisme namun belum tertangkap.

“Jangan sampai yang semula hanya simpatisan pada gerakan sosial yang dilakukan FPI kemudian semakin besar kebenciannya kepada pemerintah, kepada kepolisian, ini yang mengarah kepada ekstrimisme,” tutur Bambang.

Oleh : Raavi Ramadhan )*

Bekas petinggi FPI, Munarman, digelandang polisi karena tersangkut kasus terorisme. Masyarakat mendukung penuh penangkapan ini karena ia telah berkali-kali membuat ulah dan meresahkan masyarakat. Baik dengan statement-nya yang kontroversial, maupun perbuatannya yang sering membuat geleng kepala.

Satu per satu petinggi FPI masuk ke dalam bui. Setelah Rizieq Shihab yang terperosok kasus kerumunan, pembohongan hasil tes swab, dan penolakan karantina mandiri, menyusul Munarman yang ditangkap oleh aparat. Ia didakwa pasal terorisme karena terbukti menghadiri baiat yang dihadiri oleh anggota kelompok teroris yang beraifiliasi dengan ISIS.

Penangkapan Munarman bukan hanya hasil dari kabar burung, tetapi merupakan hasil penyelidikan selama beberapa bulan. Juga ada saksi-saksi yang memberatkan, di antaranya mantan anggota FPI yang memang melihat sosok Munarman saat acara baiat tersebut. Munarman benar-benar datang dan menyatakan dukungannya pada kelompok teroris.

Masyarakat mendukung penuh ketegasan polisi dalam menangkap Munarman. Karena memang terbukti selama ini ialah yang menjadi otak di balik keganasan FPI. Munarman adalah penulis skenario yang membuat FPI terlihat galak, dan pelaksananya adalah Rizieq Shihab. Jadi yang diingat oleh publik adalah Rizieq, bukan Munarman, karena memang ia yang lebih terkenal.

Mengapa banyak yang bersyukur saat Munarman ditangkap? Pertama, ia terkena kasus terorisme. Jika dibiarkan saja maka akan berbahaya karena mengganggu kedaulatan negara. Terorisme adalah kejahatan terstruktur yang sangat mengerikan, karena bisa jadi akan ada pengeboman, penembakan, dan perusakan tempat umum.

Jika ada yang diam-diam menghadiri baiat maka sama saja mendukung kelompok teroris. Aksi diam Munarman bukan berarti emas, melainkan sarana untuk menjebloskannya ke penjara. Karena ketika ia melindungi keberadaan organisasi teroris, maka sama saja dengan memperbolehkan mereka untuk tetap eksis di Indonesia. Juga membiarkan kejahatan oleh kelompok teroris dilaksanakan.

Apalagi setelah Munarman ditangkap, ada penggeledahan di kantor FPI, dan ditemukan bubuk yang ternyata bahan peledak. Walau ia menyangkal dan menyebut bahwa itu hanya pembersih toilet, tetapi ketika diperiksa, benar bahwa bubuk itu adalah salah satu bahan pembuat bom.

Sudah terpampang nyata bahwa FPI adalah organisasi teroris. Untuk apa menyimpan bahan pembuat bom di kantor FPI? Sangat mencurigakan dan bisa jadi mereka merencanakan aksi makar dan penyerangan yang lebih ganas lagi, setelah ada pengeboman di Makassar beberapa saat lalu.

Bukti lain bahwa Munarman mendukung aksi terorisme adalah ketika rekening FPI dibekukan, beberapa saat lalu. Saat diperiksa arus masuk dan keluar transferan, maka ada uang masuk dari rekening luar negeri yang mencurigakan. Setelah dilihat, ternyata pemiliknya adalah pria yang terbukti mendukung organisasi teroris internasional. 

Bayangkan ketika Munarman tidak segera dicokok, maka FPI tidak akan mandek begitu saja. Saat tidak ada yang mengkomando bekas anggota FPI, maka Neo FPI akan menguap bagai genangan air di musim panas. Karena walau ormas ini sudah dibubarkan, tetapi masih saja memiliki ribuan mantan anggota yang bisa beraksi secara diam-diam.

Aksi gerilya ini yang akan berbahaya, karena anggota Neo FPI cenderung menurut pada sang komandan. Saat Rizieq Shihab tidak ada, maka tongkat komando dialihkan ke Munarman. Ketika Munarman dibui, maka Neo FPI akan kocar-kacir karena tidak ada yang berani memegang tampuk kepemimpinan, bahkan Aziz Yanuar sekalipun. 

Penangkapan Munarman malah membuat masyarakat bahagia karena mereka tahu bahwa sebenarnya ia yang menjadi otak di balik keganasan FPI. Ia juga tersangkut kasus terorisme, sehingga memang harus merenungi kesalahannya di dalam penjara. Munarman dan Rizieq sama-sama dibui dan semoga setelah ini keadaan Indonesia aman tanpa teroris.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Bogor

Berikut adalah beberapa dasar maupun pertimbangan kenapa ormas FPI tidak boleh melakukan aktifitasnya lagi. Hal ini dijelaskan oleh Wakil Menkumham, Eddy Umar Syarif.

Alasan pertama adalah untuk menjaga eksistensi ideologi dan konsensus dasar bernegara, yaitu Pancasila, UUD RI 1945, keutuhan NKRI dan Bhinneka TUnggal Ika, telah diterbitkan UU No 17 Tahun 2013 tentang Ormas, sebagaimana telah diubah dengan UU No. 16 Tahun 2017 tentang penetapan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang perubahan UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Ormas menjadi UU.

Alasan kedua, isi anggaran dasar FPI bertentangan dengan Pasal 2 UU Nomor 17 Tahun 2013 tentnag Ormas sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 16 tahun 2017 tentang penetapan Perppu Nomor 2 Tahun 2017 tentang perubahan atas UU Nomor 17 tahun 2013 tentang Ormas menjadi UU.

Alasan ketiga, keputusan Mendagri Nomor 01-00-00/010/D.III.4/VI/2014 tanggal 20 Juni 2014 tntang surat keterangan terdaftar atau SKT FPI sebagai ormas, berlalu sampai tanggal 20 Juni 2019 dan sampai saat ini FPI belum memenuhi persyaratan untuk memperpanjang SKT tersebut. Oleh sebab itu, secara de jure terhitung mulai 21 Juni 2019, FPI dianggap bubar.

Alasan keempat, pengurus dan atau anggota FPI maupun yang pernah bergabung dengan FPI berdasar kan data sebanyak 35 orang terlibat tindak pidana tertentu (tipidter), dan 29 orang di antaranya telah dijatuhi pidana. Selain itu, 206 orang terlibat berbagai tindak pidana umum lainnya dan 100 di antaranya telah dijatuhi pidana.

Selain itu, Eddy Umar Syarif juga mengatakan bahwa Pemerintah secara resmi melarang seluruh kegiatan yang mengatasnamakan Front Pembela Islam (FPI). Hal tersebut tertuang berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 6 Menteri.

“Memutuskan, menetapkan keputusan Mendagri, Menkumham, Menkominfo, Jaksa Agung, Kepala BIN, dan Kepala BNPT, tentang larangan kegiatan, penggunaan simbol dan atribut, serta penghentian kegiatan FPI,” ujar Umar.

Mantan petinggi Front Pembela Islam (FPI), Munarman, ditangkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri di rumahnya di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan.

Penangkapan Munarman disebut terkait kegiatan baiat terhadap Negara Islam di Irak dan Suriah atau NIIS/ISIS yang dilakukan di Jakarta, Makassar, dan Medan. Munarman kemudian dibawa ke Mapolda Metro Jaya untuk diperiksa lebih lanjut.

”Jadi, terkait dengan kasus baiat di UIN Jakarta, kemudian juga kasus baiat di Makassar, dan mengikuti baiat di Medan. Jadi, ada tiga hal tersebut,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan.

Kuasa hukum Munarman, Azis Yanuar, mengatakan, tuduhan polisi bahwa Munarman terlibat terorisme terlalu dini. Bahkan merupakan fitnah. Menurut Azis, selama ini pihak kepolisian tidak pernah melakukan pemanggilan pada Munarman terkait dugaan tindak pidana terorisme.

“Karena dari pembuktian beliau belum pernah dipanggil untuk permasalahan apa pun,” kata dia. Polisi temukan bahan-bahan peledak Saat Munarman dibawa ke Mapolda Metro Jaya, Densus 88 Antiteror kemudian melakukan penggeledahan di rumah Munarman serta bekas markas FPI di kawasan Petamburan, Jakarta.

Dari Petamburan, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa bahan-bahan peledak. Bahan yang ditemukan di antaranya botol-botol berisi serbuk dan cairan peledak TATP. Menurut keterangan kepolisian, TATP adalah bahan kimia yang sangat mudah terbakar.

Oleh : Firza Ahmad )*

Sejumlah terduga pelaku teror terindikasi terkait dengan Ormas terlarang FPI. Masyarakat mendukung pengusutan tuntas keterlibatan FPI dengan jaringan teror tersebut.

Front Pembela Islam telah menjadi ormas yang tidak lagi memiliki izin, artinya secara de jure ormas ini sudah tidak terdaftar. Meski demikian ideologi yang dianut masih tersisa dan tidak menutup kemungkinan, eks anggota FPI akan mengulang kebrutalan seperti tahun tahun sebelumnya.

Pengamat politik Prof Dr Hermawan Sulistyo mengatakan kepolisian harus menelusuri adanya anggota dan mantan anggota FPI yang terlibat jaringan terorisme. Upaya penelusuran ini tentu saja bertujuan untuk mencegah agar terorisme tidak semakin meluas dan bertambah.

Kepala Pusat Riset Ilmu Kepolisian dan Kajian Terorisme Universitas Indonesia yang juga merupakan ketua harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Benny Mamoto mengungkap ada sekitar 37 anggota FPI yang pernah tersangkut terorisme. Mereka tergabung dalam kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Melihat banyaknya anggota dan mantan anggota FPI yang terlibat terorisme, tentu saja pemerintah tidak boleh lengah dan harus segera melakukan kajian, apakah FPI tersebut masuk ke dalam jaringan terorisme dan apabila terbukti, tentu saja patut untuk tidak mendapatkan izin operasional.

Dugaan keterlibatan FPI terhadap kelompok teroris memang tidak bisa dianggap sepele. Apalagi setelah muncul pengakuan dari Syaiful Basri seorang teroris yang mengaku sebagai mantan anggota Laskar Front Pembela Islam (FPI) pada tahun 1998. S

Dirinya juga mengetahui rencana pembuatan bom yang dilakukan Husein Hasni dan Zulaimi Agus. Mantan anak buah Habib Rizieq tersebut mengaku ingin ledakkan SPBU karena penangkapan terhadap Rizieq Shihab.

Selain itu, Syaiful juga ikut dalam acara sumpah ikrar setia kepada para ulama dan tidak berkhianat kepada kelompok Habib Husein Hasni yang dilakukan di salah satu mushola dekat UIN Tangerang Selatan, Banten.

Kemudian, Syaiful membeli dan menyiapkan bahan campuran peledak berupa arang bersama Naufal atas perintah Bambang Setiono. Adapun, tujuan pembuatan bahan peledak sasarannya adalah pom bensin Pertamina milik Cina pipa gas di Jalan Raya Bogor.

Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk teror agar negara merasa rugi sebagai wujud proses ditangkapnya Rizieq Shihab

Bahkan, dirinya turut serta dalam kegiatan survei di lokasi sasaran peledakan yaitu pipa gas daerah jalan raya bogor bersama bambang dan naufal.

Selain Syaiful, berapa terduga teroris yang ditangkap di Jakarta jua mengaku sebagai simpatisan FPI. Pihak Densus 88 Antiteror akan mengalami pengakuan tersebut.

Brigjen Rusdi Hartono selaku Karo Penmas Divisi Humas Polri mengatakan, Densus 88 akan menyelesaikan masalah terorisme tersebut.

Sebelumnya, Densus 88 Antiteror telah menangkap sejumlah teroris pasca bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makasar, Sulawesi Selatan. Penangkapan itu dilakukan di beberapa tempat, diantaranya di Jakarta, Bekasi dan Tangerang Selatan.

Setidaknya ada lima orang yang ditangkap terkait jaringan teroris. Setelah diperiksa polisi, empat teroris tersebut membuat pengakuan yang mengejutkan.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Yusri Yunus menyampaikan, keterkaitan antara terduga teroris dengan FPI masih ditelusuri juga lewat barang bukti, yang didapatkan saat operasi penangkapan.

Penyidik juga menelusuri keterkaitan para terduga teroris dengan bom yang terjadi di Gereja Katedral Makassar. Pasalnya, di kediaman terduga teroris sendiri, ditemukan lima bom aktif dengan jenis daya ledak yang besar.

Selain itu, salah seorang tersangka teroris bernama Ahmad Junaidi, mengatakan bahwa dirinya aktif mengikuti pengajian-pengajian dari mantan pimpinan FPI.

Kemudian, terduga teroris lain bernama Bambang Setiono, mengatakan bahwa dirinya telah menjadi simpatisan FPI sejak desember 2020 lalu. Bambang mengaku membuat bahan peledak dari sukabumi dan merencanakan penyerangan ke SPBU dengan bom molotov.

Rencana ini tentu saja terlewat berani, apalagi yang diserang adalah SPBU yang notabene menyediakan bahan pokok berupa bahan bakar..

Mungkin, tidak ada kaitan antara FPI secara organisasi dengan kelompok terorist, meski demikian keduanya sama-sama kerap menjadikan suasana bangsa menjadi runyam.

Tentu saja siapapun yang membuat bom untuk membuat onar hingga mencari perhatian pemerintah, tak lain dan tak bukan, dirinya adalah teroris yang tengah kesepian dan mencari anggota baru. )* Penulis adalah warganet tinggal di Bogor