Oleh : Aldia Putra )*

Kenaikan kasus Covid-19 yang salah satunya disebabkan oleh subvarian Omicron yakni BA.4 dan BA.5 harus diwaspadai bersama. Seluruh pihak harus mampu meningkatkan gotong royong dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan dan juga melakukan vaksinasi dosis lengkap termasuk booster.

Pemerintah saat ini tengah benar-benar berupaya untuk meminimalisasi dan sebisa mungkin segera mengakhiri atau memutus mata rantai persebaran subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 agar Indonesia mampu terbebas dari pandemi Covid-19. Namun upaya itu semua tentu harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat secara serempak.

Beberapa hal bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mendukung suksesi Pemerintah tersebut, yakni tentunya dengan kembali menerapkan protokol kesehatan secara ketat sembari meningkatkan vaksinasi dengan dosis lengkap termasuk booster.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Banyumas, Arif Sugiono menyatakan bahwa perlu adanya peningkatan kehati-hatian di seluruh masyarakat serta pihaknya akan terus memantau bagaimana karakteristik yang dimiliki oleh subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 ini. Berkaca dari pengalaman penanganan Omicron beberapa waktu yang lalu, dirinya berharap bahwa karakter subvarian baru ini kurang lebih mirip, yakni memiliki tingkat mortalitas dan juga hospitalitas yang rendah.

Lebih lanjut, Arif juga memberikan imbauan kepada seluruh masyarakat supaya kejadian masuknya subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 ini kemudian tidak sampai menyebabkan lonjakan pandemi Covid-19 di Indonesia kembali meningkat secara signifikan seperti pada beberapa waktu silam. Untuk itu masyarakat hendaknya terus menggalakkan protokol kesehatan serta memperkuat imunitas tubuhnya dengan melakukan vaksin di fasilitas kesehatan terdekat.

Senada dengan pernyataan Arif, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria juga mengaku bahwa sangat penting bagi seluruh masyarakat bisa kembali menjalankan protokol kesehatan dengan sangat ketat demi bisa mencegah penularan Covid-19 varian baru ini.

Terlebih, Ahmad Riza menambahkan bahwa belakangan sudah mulai ada pelonggaran yang sangat mudah ditemui di masyarakat terkait penerapan protokol kesehatan. Selain itu sudah mulai ada beberapa acara yang bahkan dihadiri oleh banyak sekali orang seperti terselenggaranya konser musik yang berarti risiko potensi penularan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 menjadi sangat tinggi.

Meski begitu, bukan berarti Wakil Gubernur DKI Jakarta ini melarang adanya kegiatan seperti konser. Justru dirinya menyatakan bahwa akan melakukan berbagai persiapan supaya bisa meminimalisasi risiko penularan dengan mempersiapkan adanya fasilitas, sarana hingga tenaga kesehatan. Seluruh upaya tersebut dilakukan bersama dengan pihak Kemenkes.

Tidak bisa dipungkiri pula bahwa kunci utama dalam pengendalian subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 ini adalah seluruh masyarakat Indonesia sendiri. Karena apabila masyarakat masih terus abai dan tidak mengindahkan protokol kesehatan serta masih belum secara penuh melakukan dosis vaksinasi, maka penularan akan terus terjadi.

Sementara itu, sebelumnya diketahui bahwa awal mula masuknya subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 di Indonesia ini dikarenakan penemuan adanya 4 kasus yang teridentifikasi di Bali sebagaimana keterangan langsung dari Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. Maka dari itu pihak Kemenkes saat ini masih terus melakukan monitoring mengenai bagaimana varian Covid-19 terbaru ini dan dugaan sementara dikatakan bahwa varian terbaru ini mampu menghindari imunitas yang dibentuk oleh vaksin dan penularannya cepat.

Belakangan memang diketahui bahwa kasus Covid-19 perlahan kembali meningkat di Indonesia. Namun berbeda dengan peningkatan yang terjadi pada beberapa periode lalu, kali ini peningkatan tersebut disebabkan oleh munculnya varian baru dan sama sekali bukan karena adanya liburan atau perayaan hari raya besar. Dengan adanya dugaan sementara tersebut, Menkes Budi Gunadi tetap mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak mudah panik dan tetap menerapkan protokol kesehatan dengan ketat
Semua pihak diminta untuk mewaspadai tren kenaikan kasus positif akibat adanya varian Covid-19, dengan selalu taat Prokes dan mengikuti vaksinasi lengkap hingga booster. Dengan semangat gotong royong tersebut, lonjakan kasus Covid-19 dapat dihindari dan pemulihan ekonomi dapat terus berlanjut.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Raditya Rahman )*

Kasus Covid-19 terus mengalami penurunan, utamanya pasca libur panjang Idul Fitri. Kendati demikian, seluruh komponen masyarakat diminta untuk terus bergotong royong dalam menjaga tren positif Covid-19 dengan selalu taat Prokes agas transisi pandemi ke endemi dapat segera terwujud.

Indonesia terus mengalami penurunan kasus positif Covid-19 yang ditandai dengan kurva yang terus melandai. Hal tersebut merupakan sebuah bukti nyata dari kerja keras seluruh masyarakat yang juga turut mensukseskan program-program Pemerintah mulai dari taat prokotol kesehatan sampai pada melakukan vaksinasi sehingga pengendalian pandemi bisa berhasil seperti sekarang ini.

Menurunnya kurva penularan Covid-19 diharapkan tidak serta merta membuat masyarakat menjadi lengah dan menganggap kalau seolah pandemi sudah hilang atau lenyap begitu saja. Maka dari itu Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito menyatakan dengan tegas kepada seluruh masyarakat supaya tren baik ini harus terus dapat dipertahankan.

Apabila semua masyarakat bisa terus bersinergi menjaga stabilitas pengendalian pandemi Covid-19, maka bukan tidak mungkin seluruh aktivitas sosial dan juga perekonomian dalam negeri perlahan akan terus bangkit dan menjadi kembali produktif seperti sedia kala.

Keberhasilan Indonesia untuk mengendalikan pandemi dengan menekan angka penularan sampai pada titik seperti sekarang ini, bahkan dikatakan oleh Prof Wiku sangat patut untuk dicontoh oleh berbagai negara lain. Pasalnya masih terdapat beberapa negara yang terus berjuang dan masih melakukan lockdown di wilayah mereka karena tingkat penularan Covid-19 yang tinggi.

Bukti konkret dari keberhasilan penanganan pandemi di Tanah Air bahkan juga telah teruji pada waktu masyarakat banyak melaksanakan mudik dan juga liburan Lebaran. Faktanya, ternyata sama sekali tidak ada kenaikan penularan Covid-19 yang signifikan, bahkan kian hari angka penularan tersebut semakin melandai.
Tentunya apabila dibandingkan dengan periode liburan atau hari raya pada setidaknya 2 tahun belakangan ini, hal tersebut sangat berbanding terbalik karena pada waktu itu secara signifikan tingkat penularan Covid-19 di masyarakat langsung meningkat.

Jika semisal semua negara juga bisa melakukan pengendalian pandemi sebaik yang telah ada di Indonesia, maka nantinya status pandemi dari Covid-19 ini akan dicabut oleh World Health Organization (WHO) sehingga perlahan tentunya segala aktivitas bisa kembali normal. Akan tetapi nyatanya, keberadaan pandemi atau bahkan virus itu sendiri masih ada sehingga bukan menutup kemungkinan masih terdapat potensi risiko penularan.

Selain itu, ditambahkan oleh Prof Wiku bahwa potensi risiko keterjangkitan manusia terhadap Covid-19 juga masih ada karena terdapat kemungkinan faktor lain seperti misalnya keberadaan varian virus yang baru sehingga kekebalan atau imunitas manusia akan kembali diuji. Maka dari itu pesan penting disampaikan olehnya bahwa masyarakat masih harus bermawas diri untuk menjaga adanya risiko keterjangkitan tersebut.

Setidaknya terdapat tiga kunci utama yang bisa dijadikan patokan bagi masyarakat supaya mampu mempertahankan landainya kurva penularan Covid-19 ini. Poin pertama adalah terletak pada kebiasaan untuk terus menjaga perilaku pola hidup yang bersih dan juga sehat. Jadi jangan sampai hidup bersih sehat ini hanya ada pada saat pandemi saja, namun memang seharusnya menjadi pola hidup utama masyarakat.

Lebih lanjut, masyarakat sendiri juga harus memiliki kesadaran diri untuk melakukan pengetesan apabila memiliki riwayat bahwa dirinya berisiko yakni telah mendatangi keramaian atau bepergian jarak jauh, termasuk juga apabila merasa memiliki gejala Covid-19. Kemudian poin terakhir adalah pada kesadaran diri masyarakat untuk segera melakukan isolasi mandiri apabila memang telah terkonfirmasi positif, atau bisa langsung menuju ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Kepedulian masyarakat untuk ikut berperang melawan pandemi Covid-19 menjadi modal utama kesuksesan pengendalian Covid-19. Dengan adanya kesadaran untuk selalu taat Prokes dan mengikuti imbauan Pemerintah, kasus Covid-19 diharapkan dapat terus ditekan demi percepatan pemulihan perekonomian.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Rahmat Siregar )*

Penyebaran paham intoleran merupakan salah satu ancaman bagi bangsa Indonesia karena menjadi pintu masuk seseorang untuk melakukan aksi teror. Masyarakat diharapkan terus meningkatkan kewaspadaan dan gotong royong untuk membendung paham intoleran.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, akar timbulnya radikalisme dan terorisme yang kerap terjadi di dunia maya adalah karena adanya sikap intoleran. Untuk itu, dirinya menegaskan tentang pentingnya narasi dalam melawan propaganda paham intoleran.

Boy mengungkapkan bahwa kita perlu mengingatkan kepada para anak muda atau generasi milenial agar tidak menyalahgunakan internet atau media sosial. Apalagi saat ini, kelompok jaringan teroris telah merambat ke penggunaan media sosial dengan narasi yang mereka buat.

Dalam unsur upaya pencegahan di dunia maya maupun media massa, BNPT mengmbangkan program Wadah Akur Rukun Usaha Nurani Gelorakan NKRI atau kerap disebut Warung NKRI. Dalam program ini, BNPT melibatkan multipihak, baik pemerintah, masyarakat dan akademisi. Oleh karena itu, BNPT mengharapkan Warung NKRI dapat menjadi wadah silaturahmi dan komunikasi dengan harapan membangkitkan rasa nasionalisme.

Sebagai informasi, warung NKRI merupakan satu di antara program BNPT yang melibatkan seluruh elemen bangsa dan lapisan masyarakat dalam menggiatkan dialog wawasan kebangsaan yang kaya akan nilai toleransi, persatuan dan gotong royong.

Dirinya mengungkapkan, kenapa program tersebut diberi nama warung, ternyata program tersebut merupakan sebuah game changer. Konsep warung NKRI sebagai sarana edukasi untuk masyarakat dalam melakukan penguatan nilai luhur bangsa yang hari ini menghadapi tantangan dengan lahirnya virus radikal intoleran.

BNPT mengharapkan ideologi kekerasan yang sengaja dibawa pihak tertentu untuk menimbulkan disintegrasi tidak memiliki tempat lagi. Harapannya Warung NKRI dapat dilakukan diskusi yang mendiseminasikan nilai Pancasila sebagai pendekatan lunak dalam mencegah paham terorisme.

Boy Rafli mengatakan, dalam rangka memperkuat ketahanan bangsa Indonesia, program Warung NKRI ini dibuat. Dirinya mengatakan, pada aspek ideologi jangan sampai masyarakat terpengaruh dengan ideologi yang berbasis kekerasan, seperti ideologi radikal terorisme.

Boy juga pernah mengatakan bahwa Teroris itu punya kecenderungan yang kuat sebagai intoleran. Untuk itu harus dibangun semangat dalam berempati dan bangun pengertian satu sama lain dan saling menghargai.

Kemudian ketahanan dalam menangkal virus radikal dan terorisme juga datang dari tokoh agama yang selalu mengajarkan pentingnya moderasi beragama. Moderasi beragama merupakan konsepsi yang dapat membangun sikap toleran dan rukun guna memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Perlu diketahui bahwa jumlah penduduk Indonesia didominasi oleh kelompok produktif yaitu anak muda yang masuk dalam kategori generasi Milenial dan Z. Hal ini tentunya bisa menjadi bom waktu di kemudian hari, apabila para anak muda ini justru terjerembab dalam ideologi radikalisme dan terorisme.

BNPT melihat bahwa sumber ketahanan agar tidak terpengaruh oleh paham radikal dan terorisme sewajarnya dapat hadir pertama kali dari lingkungan keluarga dan kemudian dari lingkungan pendidikan yaitu sekolah.

Selain bijak dalam mengakses media sosial, upaya pencegahan dan penanggulangan intoleransi dan radikalisme dapat dilakukan melalui peningkatan wawasan kebangsaan, keagamaan dan sosial politik. Boy juga mengingatkan kepada generasi muda, agar jangan sampai melupakan jati diri bangsa. Perlu pemahaman kuat terkait perjuangan sejarah bangsa untuk dapat dicerna, hayati dan amalkan.

Intoleransi serta radikalisme dapat mengancam demokrasi dan menghambat pembangunan di Indonesia. Generasi muda yang mewakili seperempat dari 270 juta penduduk Indonesia, sangat rentan terhadap ujaran kebencian dan pesan radikal.

Wakil Presiden Ma’ruf Amin sempat menyesalkan adanya praktik intoleransi yang sudah sampai pada sikap tidak mau bersahabat, duduk bersebelahan atau melakukan aktivitas bisnis dengan kelompok atau individu yang berbeda agama atau keyakinan. Ia juga khawatir jika intoleransi ini dibiarkan akan berbahaya dan merusak keutuhan bangsa Indonesia.

Paham intoleransi di Indonesia tidak boleh diberi ruang, karena pembiaran terhadap paham tersebut akan berdampak buruk bagi kemajuan serta rasa persatuan bangsa. Masyarakat juga perlu mengetahui bahwa perjuangan merebut kemerdekaan tidak hanya dilakukan oleh satu suku saja, tetapi ada banyak suku yang turut serta berjuang mempertahankan kemerdekaan NKRI.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Intitute

Oleh : Edy Kurnia )*

Pandemi Covid-19 masih terjadi dan telah berdampak pada berbagai sektor kehidupan. Masyarakat pun diimbau untuk meningkatkan gotong royong sebagai kunci dalam mengatasi pandemi Covid-19.

Presiden RI Joko Widodo menyampaikan bahwa implementasi nilai-nilai Pancasila berupa gotong royong seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan merupakan kunci utama dalam penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Presiden dalam kesempatan pidatonya pada Dies Natalis ke-67 di Univesitas Katolik Parahyangan (Unpar) di Pusat Pembelajaran Arntz-Geise (PPAG) Unpar, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Tak hanya itu, semangat gotong royong juga terlihat hingga ke masyarakat yang saling bantu dalam menghadapi pandemi.

Jokowi menambahkan, bahwa kita memiliki apa yang namanya gotong royong, Pancasila kita ada di situ. Negara besar tidak memiliki, mereka tidak mempunyai bahwa rakyat di desa, rakyat di RT, rakyat di RW mau memberikan rumahnya untuk isolasi, untuk karantina. Yang berpunya mau memberikan sembako kepada yang baru kesusahan karena pandemi.

Dalam menghadapi pandemi, pemerintah juga terus mengakselerasi pelaksanaan vaksinasi. Total dosis vaksinasi Covid-19 secara nasional telah mencapai 297,5 juta dosis dan saat ini ada 30 provinsi yang telah mencapai target vaksinasi di atas 70%. Presiden menegaskan, capaian tersebut bukanlah sesuatu yang mudah terutama mengingat tantangan geografis yang dimiliki oleh Indonesia.

Jokowi berujar, Menyuntikkan 297 juta kali ke 17 ribu pulau, 514 kabupaten dan kota, 34 provinsi, bukan barang yang mudah. Ada yang harus naik perahu, ada harus naik sepeda motor untuk naik ke gunung dan hal tersebut tentu saja bukan sesuatu yang mudah. Dirinya juga sangat mengapresiasi TNI dan Polri yang memberikan dukungan penuh dalam rangka vaksinasi ini. Jokowi mengatakan bahwa Vaksinasi di Indonesia berhasil menduduki nomor 4 di dunia setelah Cina, Brazil dan Amerika.

Di samping tantangan pandemi, disrupsi teknologi dan revolusi industri 4.0 juga telah menyebabkan ketidakpastian global semakin meningkat. Kompleksitas masalah global tersebut ditambah juga dengan kelangkaan energi, pangan, hingga kontainer yang menyebabkan distribusi logistik terganggu.

Selain itu, kenaikan inflasi yang terjadi hampir di semua negara juga telah menjadi sebab akan naiknya harga produsen yang berimbas pada kenaikan harga konsumen juga. Untuk itu, Presiden menegaskan pentingnya kepemimpinan global.

Pada kesempatan berbeda, Penanganan Covid-19 di Kelurahan Wates, Kecamatan Magelang Utara, mendapatkan apresiasi Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito saat menggelar program mlaku-mlaku tilik kampung. Sigit melihat semangat gotong-royong dan rasa kepedulian antartetangga yang tinggi di kampung tersebut, sehingga penyebaran virus corona bisa dikendalikan.

Sigit mengatakan, masyarakat Kota Magelang sudah sangat cerdas, Meski di tengah pandemi dan zaman semakin sulit, tapi masih bisa bergotong-royong menangani pandemi yang memang masih menjadi musuh kita bersama. Menurut Sigit, salah satu strategi terbaik untuk mencegah penyebaran Covid-19 adalah kedisiplinan masyarakat. Setelah itu, barulah peran pemerintah dalam mendorong semangat agar senantiasa menggelorakan protokol kesehatan.

Dirinya juga mengingatkan, di tengah pandemi yang belum usai ini, masyarakat dihimbau untuk tidak bepergian kecuali untuk kepentingan mendesak, seperti mencari nafkah yang menuntut untuk keluar rumah. Pada kesempatan tersebut, Sigit melakukan penanaman cabe secara simbolis di lahan pertanian milik warga RW 01.

Kunjungan yang dilakukan oleh Wali Kota tersebut mendapatkan apresiasi dari Lurah Wates Ravi Pagas Makalosa. Dirinya mengatakan, melalui program mlaku-mlaku tilik kampung ini, Bapak Wali Kota dan pejabat pemkot sudah berkenan meninjau 13 RW dan 84 RT yang ada di Wates, hal ini merupakan sebuah kebanggaan tersendiri, sehingga pihaknya jadi bersemangat untuk menerapkan protokol kesehatan.

Semangat gotong royong juga sempat digelorakan oleh Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang mengusung program jogo tonggo atau menjaga tetangga. Di mana lingkungan terkecil di RT harus memiliki sikap saling peduli terhadap tetangga yang lain. Misalnya dalam bentuk bantuan makanan kepada masyarakat yang tengah menjalani isolasi mandiri.

Gotong royong adalah semangat yang harus dijaga utamanya saat pandemi, semangat gotong royong ini akan menghasilkan sikap saling peduli antar warga sehingga ketika warga di suatu wilayah membutuhkan pertolongan, maka warga yang lain bisa langsung memberikan bantuan.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Anindya Putri )*

Dampak Corona memang sangat dahsyat sehingga pemerintah berupaya mengatasinya. Namun, kerja sama yang baik antara masyarakat, tim satgas Covid, dan pihak-pihak lain akan sangat membantu pemerintah, sehingga penanganan Covid bisa dilakukan dengan lebih cepat. Masyarakat mau bergotong royong, agar mempercepat penanganan pandemi.

Selama 16 bulan pandemi, banyak yang merasa tersiksa karena dikejar-kejar ketakutan akan Corona. Virus Covid-19 yang berukuran kecil telah membuat perubahan besar pada kehidupan masyarakat, terutama perekonomian. Pemerintah bekerja karas agar pandemi tidak membuat Indonesia terjeblos dalam inflasi atau krisis ekonomi jilid 2.

Untuk mengatasi dampak pandemi maka semua pihak wajib untuk bergotong royong. Kerja sama dibutuhkan karena pemerintah tidak mungkin berjalan sendiri dalam menangani dampak Corona. Kekompakan seluruh elemen masyarakat akan meringankan dampak pandemi dan membuat siksaan ini cepat selesai.

Arnod Sahite, Wasekjen DPP KSPSI menyatakan bahwa saat ini terjadi krisis kesehatan yang hebat sehingga tidak boleh saling menyalahkan. Namun menghimpun seluruh energi positif bangsa untuk bersatu dan kompak hadapi situasi bersama. Kolaborasi positif dimulai dari komitmen internal untuk mendukung semua upaya pengatasan pandemi.

Kerja sama antara elemen masyarakat memang sangat diperlukan untuk mengatasi dampak pandemi. Warga sipil mendukung pemerintah dengan menaati aturan saat PPKM darurat dan mengurangi mobilitas dengan ikhlas. Pasalnya mereka menyadari bahwa pergerakan massa bisa menaikkan kasus Corona di Indonesia, sementara jumlah pasien sempat melonjak hingga lebih dari 30.000 orang per harinya.

Untuk mengurangi jumlah pasien Corona maka masyarakat juga menuruti protokol kesehatan 10 M. Mereka tertib memakai masker, menjaga jarak, dan menaati poin pada protokol yang lainnya, karena sadar bahwa hal ini akan membantu pemerintah dalam mengatasi Corona. Peraturan ini dibuat untuk masyarakat sendiri, agar terhindar dari bahaya virus Covid-19, sehingga wajib ditaati.

Presiden Jokowi berujar bahwa semua pihak harus berkolaborasi dan saling gotong-royong dalam mengatasi pandemi dan pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Semua pihak wajib saling membantu untuk mengatasi ujian maha berat ini. Kerja keras pemerintah tidak mungkin berhasil tanpa dukungan masyarakat.

Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, nakes, tim satgas Covid, dan pihak lain sangat dibutuhkan untuk menghantam Corona. Pasalnya, jika hanya pemerintah yang bergerak akan sangat sulit. Misalnya ketika ada kewajiban untuk menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Namun ada warga yang nekat menggelar pesta besar dan akhirnya membentuk klaster Corona baru.

Jika ada banyak kasus seperti ini maka akan sangat berbahaya karena jumlah pasien Corona akan terus naik. Oleh karena itu, masyarakat diharap tertib dan menuruti semua aturan dari pemerintah. Jika ada yang melanggar maka jangan ragu untuk melapor via telepon ke tim satgas, dan akan ada aparat yang langsung membubarkan kerumunan tersebut.

Selain itu, masyarakat juga bahu-membahu dalam mengatasi dampak Corona dengan berkegiatan sosial. Banyak perusahaan besar maupun kecil yang berderma dengan cara mengirim paket makan untuk para pasien yang sedang isolasi mandiri di rumah. Sehingga mereka bisa lekas sehat tanpa bingung bagaimana cara membeli nasi bungkus.

Masyarakat juga sadar dan saling bantu, jika ada yang isolasi mandiri maka akan ditolong dengan memberi suplemen, vitamin, susu, dll. Sehingga imunitas pasien akan naik dan lekas sehat. Gerakan saling bantu masih digaungkan agar tidak ada cerita pilu ketika ada pasien yang isolasi mandiri lalu meninggal karena kelaparan dan tidak punya stok obat di rumahnya.

Kolaborasi antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat sangat penting untuk menyelesaikan pandemi. Jangan hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah, tetapi masyarakat juga bisa saling bantu dengan memperhatikan tetangga yang sedang isolasi mandiri. Kerja sama ini akan mempercepat penanganan pandemi dan kita semua bisa bebas Corona.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Kukuh Hadipramono )*

Vaksinasi gotong royong wajib kita dukung, karena program ini baik sekali. Jika ada 2 jalur vaksinasi, akan mempercepat vaksinasi nasional. Sehingga makin banyak yang punya kekebalan tubuh dalam melawan corona. Kita semua akan sehat dan pandemi bisa berakhir. Sehingga akan bisa hidup normal dan semangat bekerja seperti dulu.

Program vaksinasi nasional adalah program pemerintah agar seluruh masyarakat mendapatkan suntikan vaksin corona secara gratis. Vaksin yang diinjeksi adalah dari Sinovac, AstraZeneca, dan beberapa jenis lain. Akan tetapi, halangan dalam program ini adalah jumlah WNI yang sangat banyak (225 juta orang), sehingga antriannya sangat lama. Diprediksi akan baru selesai dalam 18 bulan.

Untuk mempercepat antrian vaksinasi, maka dibuatlah jalur vaksinasi gotong royong. Karyawan bisa mendapatkan vaksin dari kantornya. Jika ada 2 jenis program, maka masyarakat bisa lebih cepat mendapatkan vaksin dan perkiraan antrian selesai dalam 12 bulan. Sehingga kita akan lekas mendapatkan herd immunity dan masa pandemi dinyatakan berakhir.

Shinta Kamdani, Wakil Ketua KADIN menyatakan bahwa skema vaksinasi gotong royong akan dimulai april 2021. Harus menunggu dari pemerintah, karena penyedianya adalah Bio Farma. Sudah ada 17.500 perusahaan yang mendaftar ke KADIN dan diperkirakan 8,6 juta karyawan akan mendapatkan vaksin dari jalur ini. Ada pula yang mengajak anggota keluarganya.

Shinta melanjutkan, ada beragam perusahaan yang mengajukan vaksinasi gotong royong. Mereka bergerak di bidang manufaktur, transportasi, properti, dll. Ada pula UMKM yang mendaftar. Dalam artian, banyak perusahaan yang sudah sadar pentingnya vaksinasi gotong royong, sehingga mereka sukarela mendaftar. Selain itu, vaksinasi ini tetap gratis, karena biayanya ditanggung oleh perusahaan.

Walau mendaftarnya ke KADIN, tetapi koordinatornya tetap dari Kementrian Kesehatan. Karena memang ia yang berwenang melakukan vaksinasi di Indonesia. Kemenkes akan mengatur bagaimana distribusi vaksin dari BioFarma ke RS yang ditunjuk sebagai tempat vaksinasi, nakes yang jadi vaksinator, pengaturan suhu penyimpanan vaksin, dll.

Vaksinasi gotong royong wajib didukung karena akan membuat makin banyak WNI mendapatkan vaksin dengan lebih cepat. Mereka tak harus menunggu lama untuk mendapatkan SMS dari Kemenkes dan mengantri di Puskesmas. Namun hanya perlu mengantri sebentar saat mendapatkan vaksinasi gotong royong, karena rekan kerja sekantor hanya sedikit.

Keamanan vaksinasi mandiri juga tidak usah diragukan. Walau jalurnya beda dari program vaksinasi nasional, tetapi syarat dan standarnya sama. Untuk vaksinasi gotong royong, akan memakai vaksin Sinopharm dan Moderna. Vaksin Sinopharm disimpan dalam suhu 2-8 derajat celcius, sedangkan Moderna disimpan dalam suhu minus 20 derajat celcius.

Rencananya, tempat penyimpanan vaksin Moderna akan dipinjamkan. Sehingga tidak akan menambah anggaran untuk membeli cold storage baru. Sehingga pihak perusahaan tinggal mengikuti prosedur dari KADIN dan Kementrian Kesehatan dan membayarkan vaksin tersebut.

Pembayaran vaksin dari perusahaan merupakan wujud kepedulian para CEO, karena mereka memikirkan kesehatan karyawan. Karena sebenarnya karyawan juga aset perusahaan. Sehingga layak mendapatkan fasilitas kesehatan, termasuk vaksin corona.

Jika semua pekerja bebas corona, maka kantor akan aman dari serangan virus covid-19. Para karyawan akan berkarya dengan lebih produktif. Akibatnya, omzet perusahaan juga naik. Sehingga tidak ada ruginya ketika pemimpin perusahaan membayar vaksin untuk para pekerjanya.

Vaksinasi gotong royong merupakan jalan agar semua WNI divaksin dengan lebih cepat. Karena jika seluruh masyarakat mengandalkan jalur vaksinasi nasional, butuh waktu minimal 18 bulan. Namun jika ditambah dengan jalur mandiri alias gotong royong, perkiraan maksimal antrian hanya 12 bulan. Sehingga kita bisa bebas dari masa pandemi lebih cepat.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

JAKARTA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) dr Lia G Partakusuma menyampaikan bahwa saat ini Pemerintah terus melakukan vaksinasi terhadap masyarakat, guna melawan penularan virus Covid-19 di Indonesia.

Secara nasional total sasaran vaksinasi di Indonesia adalah sebanyak 181.554.465 orang. Ratusan juta orang yang divaksinasi itu terdiri dari SDM kesehatan, petugas publik dan lansia.

“Vaksinasi ini harus dilakukan sebagai salah satu upaya pencegahan Covid-19,” kata dr Lia yang juga Direktur RSUP Persahabatan, Jakarta dalam virtual talkshow “Dukung Vaksinasi Nasional dan Gotong Royong”, Rabu (24/3/2021).

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) itu juga mengatakan bahwa pelaksanaan vaksinasi yang sedang dilakukan oleh Indonesia saat ini, sudah diatur dalam regulasi Permenkes No 10 tahun 2021 tentang Pelaksanaan vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Covid-10.

Ada lima merk vaksin Covid-19 yang saat ini digunakan di Indonesia, yaitu Sinovac, navavax, Covax/Gavi, AstraZeneca dan Pfizer. Vaksin tersebut juga sudah dilakukan uji klinis terhadap 1.600 orang relawan di Bandung.

“Selain uji klinis, MUI juga mengeluarkan fatwa untuk penggunaan vaksin AstraZeneca adalah diperbolehkan,” ujarnya.

Oleh karena itu kata dr Lia, vaksinasi Covid-19 ini harus disepakati bersama sebagai upaya pencegahan dan dengan semangat gotong royong.

Inggar Saputra, Insure Institute mengatakan semangat kebangsaan yang mengandung nilai-nilai gotong-royong yang mampu mendorong percepatan vaksinasi Covid-19 nasional.

“Vaksinasi gotong royong yang akan dilakukan oleh dunia usaha ini merupakan modal utama untuk bersatu melawan penyebaran Covid-19, tentunya dengan semangat nilai-nilai Pancasila,” kata Inggar.

Juru Bicara Indonesia Care Forum (ICF), Rakisa mengatakan virtual talkshow yang digagas berkolaborasi denan SMI ini tidak lain adalah karena terjadi infodemik, yakni di mana informasi berlimpah terkait vaksinasi Covid-19, termasuk upaya disengaja memajukan agenda suatu kelompok tertentu.

Infodemik ini kata dia tidak kalah berbahaya dengan pandemik itu sendiri karena banyak terdapat informasi-informasi tidak tepat dan hoaks yang bisa menggiring opini publik terhadap vaksinasi.

“Informasi-informasi hoaks ini jelas dapat mempengaruhi program vaksinasi dalam penanganan pandemi. Oleh karena itu dibutuhkan literasi yang berasal dari sumber informasi yang tepat,” kata Rakisa. []