Oleh : Dodik Prasetyo )*

Virus corona yang bermutasi di India sudah masuk ke Indonesia. Masyarakat diminta untuk lebih waspada, karena jangan sampai terkena virus tipe ini yang jauh lebih ganas. Tetaplah jaga imunitas, higenitas, dan patuhi protokol kesehatan. Tujuannya agar kita tidak terkena virus covid-19 dari varian apapun.

Saat pandemi belum usai, muncul berita mutasi ganda virus corona di India, pasca upacara ritual mandi bersama di sungai Gangga yang tidak mematuhi protokol kesehatan, para korban berguguran. Mutasi ganda mengakibatkan virus ini jauh lebih menular. Naiknya jumlah pasien covid di negeri hindustan membuatnya dijuluki sebagai tsunami corona, saking banyaknya pasien.

Menurut dokter Dyah Novita Anggraini, mutasi ganda terjadi karena ada 2 mutasi sekaligus pada 2 tempat yang berbeda, pada virus yang sama. Mutasi ganda ini dinamakan E48Q dan L452R terjadi di area utama protein spike virus. Sedangkan protein spike adalah bagan virus yang bertugas menyerang tubuh manusia, sehingga virus jenis ini lebih berbahaya dariapada corona biasa.

Berita buruknya, mutasi virus corona ini telah sampai di Indonesia, karena ada warga negara India yang terlanjur masuk via bandara. Meski mereka telah dideportasi, tetapi ada kemungkinan mutasi virus ini bisa menyebar. Apalagi situasi bandara yang ramai dan ketika ada yang lalai tidak memakai masker, bisa tertular dari mereka.

Mutasi virus corona diklaim lebih berbahaya karena 2 kali lebih menular, tak heran disebut dengan mutasi ganda. Dokter S Chandra menerangkan bahwa gejala jika terkena virus covid-19 tipe ini adalah diare, tangan dan kaki berwarna kebiruan, ruam, sakit perut, dan brain fog. Jadi ketika Anda terkena salah satu gejala ini, segera periksakan diri ke dokter.

Jangan malah takut ke Rumah Sakit karena takut tertular corona. Justru setelah bertemu dengan dokter dan dites swab, kita bisa tahu apakah terkena virus covid-19 (dari varian manapun). Jika hanya isolasi mandiri, akan kurang maksimal, karena tidak mengkonsumsi obat yang bisa menekan penyebaran virus ke seluruh tubuh.

Pengobatan pada virus corona hasil mutasi harus segera dilakukan, karena ia beraksi jauh lebih ganas dan menyebabkan kematian. Apalagi virus ini tidak terdeteksi di tes PCR, harus tes swab antigen yang hasilnya lebih akurat. Lebih baik Anda berkorban uang lebih banyak untuk melakukan tes swab, daripada menderita karena corona jenis baru ini.

Kali ini kita benar-benar melakukan pepatah lama ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’. Jangan pernah lupakan protokol kesehatan seperti rajin cuci tangan atau menyemprot dengan hand sanitizer, menjaga jarak minimal 2 meter, dan memakai masker. Belilah masker disposable sekaligus beberapa lusin, jika tidak sempat mencuci masker kain.

Masker ini bisa juga dibawa saat perjalanan, sehingga saat ada teman atau orang lain yang tak pakai masker, Anda bisa menawarkan sehelai padanya. Dengan pemberian sederhana ini, Anda sudah berusaha memutus mata rantai penyebaran corona. Karena menurut dokter Reisa Brotoasmoro, efektivitas penggunaan masker baru terjadi ketika minimal 75% orang di 1 tempat memakai masker.
Selain itu, tetaplah jaga higienitas tubuh dan lingkungan, baik di dalam maupun luar rumah.
Imunitas juga wajib ditingkatkan dengan mengkonsumsi air mineral (tetap 8 gelas sehari walau di bulan puasa), makan buah dan sayuran, dan berolahraga ringan minimal seminggu sekali.
Kita harus lebih meningkatkan imunitas dan kedisiplinna dalam menaati protokol kesehatan, karena mutasi virus corona dari India sudah masuk ke Indonesia. jangan kendor sedikitpun dan melupakan masker, walau sudah diinjeksi vaksin corona. Ingatlah bahwa pandemi belum berakhir dan mencegah lebih baik daripada mengobati.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Pemerintah Indonesia mulai 25 April 2021 melarang Warga Negara India atau warga negara asing yang sempat singgah di India, masuk wilayah Indonesia.

Airlangga Hartarto selaku Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) mengatakan, larangan itu bentuk upaya pencegahan penyebaran Covid-19 serta masuknya varian baru Virus Corona pasca terjadinya lonjakan kasus di India.

Dalam keterangan yang disampaikan pada Jumat (23/4/2021) siang secara virtual, Airlangga menyebut Pemerintah Indonesia akan menyetop pemberian visa untuk warga asing yang pernah tinggal dan atau mengunjungi India dalam waktu 14 hari terakhir.

“Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menghentikan pemberian visa bagi orang asing yang pernah tinggal dan atau mengunjungi wilayah India dalam kurun 14 hari,” katanya.

Tapi, kebijakan larangan masuk Indonesia tersebut tidak berlaku untuk Warga Negara Indonesia yang sempat singgah di India.

“Bagi WNI yang akan kembali ke Indonesia dan pernah tinggal atau mengunjungi India dalam 14 hari terakhir tetap diizinkan masuk dengan protokol kesehatan yang diperketat,”.

Sebelumnya, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito mengungkapkan, ada sejumlah Warga Negara India yang masuk Indonesia hari Rabu (21/4/2021) positif terinfeksi Virus Corona berdasarkan pemeriksaan PCR, di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Sejumlah negara diantaranya Hong Kong, Selandia Baru, Pakistan, Arab Saudi, UAE, Kanada, AS, Inggris, Australia dan Singapura sudah lebih dulu melarang orang dari India masuk wilayahnya. (*)

Oleh : Zakaria )*

Pemerintah resmi melarang masuknya Warga Negara India ke Indonesia seiring lonjakan kasus Covid-19 di negara tersebut. Langkah itu perlu mendapat apresiasi publik dalam rangka mengantisipasi kejadian serupa terulang di Indonesia. 

Berita mengejutkan datang dari India, dimana ketika negara tersebut sempat menyatakan hampir menang melawan pandemi Covid-19 dengan prevalensi kasus 11 ribu kasus. Kini Negeri tersebut mengalami lonjakan kasus sebanyak 300 ribu kasus, kenaikan kasus ini tentu saja membuat rumah sakit kewalahan dalam menerima pasien.

Terkait lonjakan kasus di negeri bombay tersebut, pemerintah Indonesia mengambil langkah terkait melonjaknya kasus Covid-19 di India. Kini pemerintah tengah menyetop pemberian visa kepada WNA yang pernah tinggal atau mengunjungi India dalam kurun 14 hari terakhir.

Keputusan ini diumumkan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto yang juga merupakan Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional. Awalnya, Airlangga berbicara tentang kasus harian Corona di India, yang menembus angka 300 ribu.

Hari ini, beberapa negara juga mulai melakukan pelarangan atau restriksi masuk perjalanan dari India. Airlangga menyebut negara yang melarang  di antaranya Hong Kong, Selandia Baru, Pakistan, Arab Saudi, Inggris, Singapura dan Kanada.

Berdasarkan hasil pencermatan tersebut, pemerintah juga telah memutuskan untuk menghentikan pemberian visa bagi orang asing yang pernah tinggal dan/atau mengunjungi India dalam kurun waktu 14 hari.

Lantas bagaimana dengan WNI dari India yang ingin kembali ke Indonesia? untuk hal tersebut, pemerintah masih membuka pintu, namun protokolnya lebih ketat.

Dirinya menjelaskan, sejumlah titik kedatangan dibuka. Mulai dari pelabuhan hingga bandara.

Pertama, titik kedatangan yang dibuka adalah pelabuhan udara Bandara Soekarno-Hatta, Juanda, Kualanamu, kemudian Sam Ratulangi, kemudian pelabuhan laut Batam, Tanjung Pinang, dan Dumai. Sedangkan untuk batas darat, Entikong, Nunukan dan Malinau.

Setelah itu, WNI tersebut diwajibkan melakukan karantina selama 14 hari. Karantina ini akan dilakukan di hotel khusus.

Bagi yang menjalani karantina selama 14 hari, dan akan dilakukan tes PCR sampai menunjukkan hasil negatif maksimum 2×24 jam sebelum keberangkatan dan hari pertama kedatangan dan hari ke-13 pascakarantina akan kembali PCR test.

Pengetatan protokol kesehatan untuk semua moda transportasi ini berlaku mulai 25 April 2021. Kebijakan ini bersifat sementara dan akan terus dikaji ulang.

Sebelumnya diberitakan, India mencetak rekor dunia untuk jumlah kasus harian virus Corona (Covid-19) tertinggi selama dua hari berturut-turut. Lebih dari 332 ribu kasus Corona tercatat di negara ini dalam 24 jam terakhir.

Kementerian Kesehatan di India juga menunjukkan rekor baru untuk tambahan kematian dalam sehari. Setidaknya ada 2.263 kematian tercatat dalam 24 jam terakhir.

Meski demikian, Airlangga mengatakan bahwa masyarakat Indonesia tidak perlu khawatir karena kondisi kedua negara berbeda. 

Dirinya menilai bahwa Indonesia memiliki posisi yang berbeda dengan India, hal ini disebabkan karena perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia saat ini relatif terkendali. Menurutnya, perkembangan kasus di Tanah Air mengalami perbaikan sejak pemberlakuan PPKM Mikro.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menyatakan penerbangan reguler dari India ditutup. Sedangkan penerbangan kargo masih diperbolehkan.

Pihaknya mengatakan, tidak ada penerbangan reguler. Kargo masih dimungkinkan, itu pun akan dilakukan secara selektif. Karena bagaimanapun juga, Indonesia masih memerlukan pergerakan kargo dari India. Salah satu di antaranya adalah vaksin Covid-19.

Dirinya menjelaskan, pada prinsipnya penerbangan dari India akan dibatasi. Kemenhub siap menjalankan surat edaran tentang pembatasan warga negara asing dari India.

Budi berujar, memang ada kecenderungan akan adanya pergerakan, oleh karena itu pemerintah memiliki sikap untuk melakukan skrining secara selektif terhadap penerbangan di India di antaranya membatasi penerbangan.

Tingginya lonjakan yang terjadi di India tentu membuat Indonesia harus menentukan sikap untuk menyetop moda transportasi antar manusia dari India ke Indonesia maupun sebaliknya.

Selain itu pemerintah juga masih memberikan kesempatan kepada WNI di India yang ingin pulang ke Indonesia, tentunya dengan pengetatan protokol kesehatan yang ketat serta berbagai fasilitas selama masa karantina.

Dari kejadian di India, kita bisa belajar bahwa protokol kesehatan adalah sesuatu yang tidak boleh diabaikan. Selain itu pemerintah juga tidak ingin Indonesia mengalami hal serupa seperti yang dialami oleh India.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Dodik Prasetyo )*

Meski tempat wisata dan tempat ibadah telah dibuka, bukan berarti masyarakat abai terhadap penerapan protokol kesehatan, apalagi status pandemi belum berakhir dan vaksinasi belum mencapai target. Masyarakat perlu belajar dari penambahan kasus Covid-19 di India yang angkanya tiba-tiba melesat akibat warga negaranya lengah menerapkan Prokes.

Perihal antisipasi lonjakan Covid-19, sepertinya kita perlu belajar pada negara India, dimana India tengah dilanda gelombang kedua Covid-19. Kejadian tersebut bahkan digambarkan seperti tsunami.

Worldometer menunjukan data bahwa jumlah kasus positif Covid-19 di India sudah berhasil tembus hingga 15,06 juta kasus. India kini menjadi negara dengan kasus Covid-19 terbesar kedua di dunia. Posisi tersebut sebelumnya ditempati oleh Brazil, dan peringkat pertama masih dipegang oleh Amerika Serikat (AS) dengan 32,4 juta kasus.

Meledaknya kasus Covid-19 di India disinyalir karena masyarakat di sana semaking abai dalam menerapkan protokol kesehatan. Beberapa bulan terakhir terjadi pesta pernikahan besar-besaran di India. Banyak masyarakat tidak mengenakan masker ketika keluar dari rumah.

Selain itu, banyak pula masyarakat yang berkumpul untuk mengikuti kampanye politik tanpa menggunakan masker dan jaga jarak. Beberapa negara bagian India memang melakukan pemilihan umum daerah (pilkada) seperti di daerah Tamil Nadu.

Adapun, ritual keagamaan yang diikuti oleh banyak masyarakat India. Ritual tersebut adalah ritual menghapus dosa dengan mandi di sungai Gangga. Dalam ritual ini banyak masyarakat yang tidak menggunakan masker dan tidak menjaga jarak.

Seorang Urologist di Coimbatore India, Senthil. Mengatakan bahwa orang-orang di India menjadi sangat terlena, dan bertindak seolah-olah virus corona telah hilang, di mana hal tersebut merupakan hal yang absurd.

Saat ini, India mengalami gelombang infeksi virus corona yang lebih buruk daripada yang pertama dan skala penyebarannya semakin buruk.

Senthil mencontohkan, penyebaran yang semakin buruk tersebut ada di daerah Tamil Huda, di mana hanya butuh waktu 15 hari untuk mencapai tingkat infeksi tertinggi yang pernah dicapai negara bagian india itu yang memberikan tekanan pada rumah sakit. Bahkan di kota-kota besar negara bagian lainnya, rumah sakit sudah hampir penuh.

Para pakar di India menyebut bahwa lonjakan kasus ini kemungkinan disebabkan karena adanya Corona varian baru yang lebih cepat menular. Hal ini diperburuk dengan banyaknya warga India yang tidak lagi khawatir akan bahayanya virus tersebut.

Setelah ritual keagamaan di sungai atau Kumbh Mela, dan dilaksanakan dalam beberapa hari. Kebanyakan dari peserta ritual ini tidak menerapkan protokol kesehatan saat mandi bersama di Sungai Gangga, India.

Akibat tsunami kasus Covid-19 tersebut, mayat-mayat bertumpuk di luar rumah sakit pemerintah India, Raipur. Ini disebabkan karena banyaknya pasien Corona yang tidak mampu bertahan dan akhirnya meninggal. Namun, karena jumlahnya yang terlalu banyak, tidak mungkin bisa dikremasi dengan cepat.

Parahnya, sejumlah rumah sakit di India mengalami kesulitan untuk mendapatkan pasokan oksigen hingga membuat banyak pasien Corona tak bisa terselamatkan. Menurut seorang politisi lokal di kotamadya Vasai Virar, Maharashtra, ia membuat permohonan publik untuk membantu mengatasi kekurangan oksigen tersebut.

Selain pasokan oksigen, jumlah bed di rumah sakit untuk menangani pasien Corona juga terbatas. Di New Delhi bahkan hanya memiliki bed atau tempat tidur kurang dari 100 di seluruh RS.

Kondisi ini menyebabkan banyak warga India mengeluh soal kurangnya jumlah tempat tidur di RS, tabung oksigen, hingga obat-obatan.

Kekhawatiran yang lebih besar adalah bahwa dalam 24 jam terakhir, angka positivity rate meningkat menjadi sekitar 30 persen dari sebelumnya 24 persen. Kasus-kasus meningkat sangat cepat.

Meskipun sejauh ini telah lebih dari 108 juta orang telah divaksinasi, hal ini rupanya belum cukup untuk menghentikan gelombang kedua Covid-19.

Padahal Januari lalu, Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan menyebutkan bahwa negaranya berhasil mencapai herd immunity.

Sebagian besar pakar meyakini, munculnya gelombang kedua Covid-19 India muncul akibat mereka merasa puas diri usai kasus Coronya sempat turun drastis.

Dari kasus ini tentu kita belajar bahwa protokol kesehatan masih harus tetap digalakkan, meski mengalami penurunan prevalensi dan berjalannya program vaksinasi, hal ini dikarenakan status pandemi Covid-19 belum berakhir.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini