Oleh : Susi Kusumawardani )*

Banyak negara telah resmi mencoret Indonesia dari daftar zona merah Covid-19. Keputusan tersebut menandakan bahwa penanganan Covid-19 yang dilaksanakan Pemerintah Indonesia mendapat apresiasi dunia.

Kabar gembira dari Tanah air, Indonesia dinyatakan resmi keluar dari kategori ‘red list’ atau daftar zona merah Covid-19 versi Inggris terhitung mulai Senin, 11 Oktober 2021, pukul 04.00 waktu Inggris. Pengumunan tersebut disampaikan oleh Menteri Perhubungan Inggris Grant Shapps pada Kamis, 7 Oktober 2021, pukul 17.00 waktu Inggris.

Duta Besar Indonesia untuk Inggris, Irlandia dan IMO Desra Percaya, mengatakan dikeluarkannya Indonesia dari Kategori ‘red list’ ini merupakan hasil lobi yang dilakukan oleh Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi saat bertemu dengan Menteri Luar Negeri Inggris Liz Truss di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pada 20 September 2021.

Menurut Desra, keputusannya Indonesia dari Kategori ‘red list’ versi Inggris, juga sebagai bentuk pengakuan dari Pemerintah Inggris atas langkah-langkah yang dilakukan Indonesia dalam mengatasi Covid-19 dan kemajuan dalam penanganan wabah virus corona di dalam negeri.

Sebelum pengumuman ini diumumkan oleh Shapss, Desra telah bertemu dengan Duta Besar Sarah Cooke dari Kementerian Luar Negeri Inggris dan memperoleh informasi lebih awal perihal akan dikeluarkannya Indonesia dari kategori ‘red list’. Desra mengatakan, “Komunikasi awal yang diterima dari Duta Besar Cooke ini menunjukkan adanya hubungan baik antara KBRI London dengan Kementerian Luar Negeri Inggris.

Dengan perkembangan baru ini, KBRI London mengimbau kepada masyarakat Indonesia untuk terus memantau kebijakan perjalanan internasional Inggris melalui website resmi Pemerintah Inggris GOV.UK, website dan media sosial KBRI London.

Sementara itu melansir data Satgas Covid-19 pada 12 Oktober 2021, terdapat tambahan 1.261 kasus baru yang terinfeksi Corona di Indonesia. Sehingga total menjadi 4.229.813 kasus positif corona. Sementara itu, jumlah yang sembuh dari kasus Corona bertambah 2.130 orang sehingga menjadi sebanyak 4.065.425 orang.

Sedangkan jumlah orang yang meninggal akibat virus corona di Indonesia bertambah 47 orang menjadi 142.763 orang. Jumlah kasus aktif Covid-19 di Indonesia kini mencapai 21.625 kasus, berkurang 916 kasus aktif dibanding sehari sebelumnya.

Meski sudah melandai dan keluar dari zona merah, pemerintah meminta kepada masyarakat agar memiliki tanggung jawab yang tinggi dan kolektif untuk mematuhi protokol kesehatan. Karena untuk menekan wabah corona, dimulai dari menekan angka penularan.

Untuk itu, pemerintah menekankan pentingnya perilaku 5M yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas. Berdasarkan banyak penelitian, rajin mencuci tangan bisa menurunkan risiko penularan virus, termasuk virus Corona sebesar 35%. Sementara memakai masker bisa mengurangi risiko penularan virus corona hingga 45% kalau memakai masker kain. Sementara jika mengunakan masker medis, risiko penularan berkurang hingga 75%.
Luhut Binsar Pandjaitan selaku Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) mengatakan, saat ini angka positivity rate Indonesia berada di bawah 2%. Hal ini lagi-lagi mengindikasikan penanganan pandemi sudah berjalan baik.

Penanganan Covid-19 yang terkendali itu, terlihat dari kasus konfirmasi covid-19 secara nasional yang sudah berada di bawah 2.000 kasus pada hari ini dan kasus aktif sudah lebih rendah dari 60 ribu.

Selain itu, Luhut mengklaim, jumlah yang ditracing dari hari ke hari terus meningkat. Saat ini proporsi kabupaten/kota di Jawa dan Bali misalya, dengan tingkat tracing di bawah 5 hanya sebesar 36% dari jumlah total. Luhut berujar, ke depannya, testing, tracing, dikombinasikan dengan isolasi terpusat menjadi bagian penting untuk mengidentifikasi secara dini potensi penyebaran kasus covid-19.

Meski demikian, kabat baik ini tentu saja jangan sampai membuat masyarakat terlesa, misalnya dengan sengaja menimbulkan keramaian atau kerumunan di suatu tempat. Luhut menambahkan, kelengahan sekecil apapun yang dilakukan masyarakat, ujungnya bisa menimbulkan peningkatan kasus covid-19 dalam beberapa minggu ke depan.

Indonesia telah melewati gelombang 2 yang telah membuat suasana di Indonesia porak-poranda. Kelangkaan oksigen dalam tabung, penuhnya ruang IGD dan tingginya angka kematian pada pasien terkonfirmasi positif covid, menjadi bukti bahwa virus corona sangatlah berbahaya.

Kini Indonesia berada pada fase yang terkendali, bed di ruang ICU mulai banyak yang kosong, kelangkaan oksigen juga tidak terjadi lagi. Tentu saja hal ini harus dijaga dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan supaya Indonesia tidak kembali masuk dalam zona merah.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Insitute

Oleh: Kenia Mei Ayu)*

Pemerintahan Presiden Jokowi dan Wakilnya KH Ma’ruf Amin diapresiasi oleh banyak pihak. Selain mampu menanggulangi pandemi Covid-19 secara maksimal, Jokowi-Ma’ruf juga terus melanjutkan berbagai pembangunan nasional yang berorientasi pada kemajuan Indonesia, dari Aceh hingga Papua.

Jika masyarakat ditanya, siapakah presiden favorit sejak era orde lama hingga saat ini? Jawabannya pasti Presiden Jokowi. Beliau adalah satu-satunya presiden yang paling dicintai rakyat, karena memang selalu merakyat dan mendengarkan keluh-kesah rakyatnya. Saking cintanya, ketika beliau datang ke pemukiman warga, langsung diserbu dan diminta untuk berfoto bersama.

Pemerintahan Presiden Jokowi beserta wakilnnya KH Ma’ruf Amin memang dianggap berhasil karena meraih berbagai prestasi. Apresisi pun diberikan kepada pemerintah. Mardani H Maming, Ketua BPP HIPMI meyatakan bahwa ada kemajuan peningkatan dalam indeks kemudahan berusaha dalam pemerintahan Jokowi-KH Ma’ruf Amin. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah memajukan perekonomian dan investasi.

Pemerintah memang mengambil keputusan besar ketika meresmikan Omnibus Law UU Cipta Kerja. Publik memang agak kaget dengan UU ini karena baru kali ini ada peraturan yang langsung mengubah hampir berbagai sektor di Indonesia. Namun akhirnya mereka mengerti, karena UU ini juga membuat progress positifdi bidang ekonomi dan investasi.

Ketika ada UU Cipta Kerja maka investasi dipermudah, sehingga membuat banyak penanam modal asing untuk masuk ke Indonesia. Mereka tertarik karena tidak lagi direpotkan akan birokrasi yang melelahkan. Saat banyak investor maka otomatis banyak proyek dan pabrik baru, sehingga butuh karyawan dan otomatis juga mengurangi tingkat pengangguran di Indonesia.

Apresiasi juga patut diberikan karena pemerintah terbukti memajukan finansial di Indonesia. Ketika banyak proyek dan banyak yang jadi karyawan maka otomatis daya beli masyarakat naik dan menggerakkan lagi roda perekonomian di negeri kita. Terbukti UU ciptaker menciptakan efek domino yang positif. Semua jadi terungkit berkat UU sapujagat ini.

Perekonomian memang sedang dinaikkan lagi karena di masa pandemi sempat agak oleng. Untuk memperkuat finansial negara maka dibuatlah stimulasi-stimulasi, termasuk UU Ciptaker. Beberapa kalimat dalam UU itu terbukti dahsyat dan menjadi obat dari masa suram.

Wusabek Wantik, Sekretaris Umum Barisan Merah Putih Papua juga mengapresiasi pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres KH Ma’ruf Amin. Dalam 2 tahun ini, masyarakat Papua benar-benar merasakan efek dari pembangunan, dan kemajuan ini berkat perhatian dari pemerintah pusat. Dalam artian, saat ini pemerintah sudah bertindak adil dengan memajukan daerah yang jauh sekalipun seperti Papua.

Pemerataan pembangunan memang menjadi fokus pemerintahan Jokowi-KH Ma’ruf Amin. Pasalnya, sejak masa orde lama, modernisasi di Indonesia kurang merata. Namun sejak tahun 2019 pembangunan terus digenjot, sehingga dari Sabang sampai Merauke mendapatkan keadilan untuk memiliki infrastruktur yang sama dan kokoh. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah mempraktikkan pancasila.

Papua juga menjadi fokus karena memang ia bagian dari Indonesia. Berbagai pembangunan dibuat di Papua dan Papua Barat, mulai dari jalan trans Papua, Jembatan Youtefa, Bandara Internasional Sentani, sampai Stadion Lukas Enembe. Infrastruktur ini dibuat demi kemudahan mobilitas masyarakat, dan stadion bisa dipakai untuk berolahraga sehingga mereka makin sehat.

Pemerintahan Presiden Jokowi dan Wapres KH Ma’ruf Amin diapresiasi oleh masyarakat dan para tokoh, karena memang banyak sekali progress dalam 2 tahun terakhir. Warga sipil tambah makmur dan mereka tertolong berkat Omnibus Law UU Cipta Kerja, karena ada klaster investasi yang membuat masuknya banyak penanam modal asing. Berbagai infrastruktur juga dibangun secara merata, sampai ke Papua.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Edi Cahyadi )*

Indeks Nikkei edisi terbaru menempatkan Indonesia posisi teratas se-Asia Tenggara (ASEAN) dalam pemulihan Covid-19. Prestasi ini diharapkan mampu terus ditingkatkan, sehingga Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dapat terus dilaksanakan.
Tak terasa sudah hampir 2 tahun kita melewati hari-hari di masa pandemi. Bulan Maret 2020 adalah awal dari episode buruk karena ditemukan kasus Covid pertama di Indonesia dan perlahan jumlah pasien melonjak. Untuk memulihkan masyarakat dan mencegah terjadinya kematian massal, maka pemerintah melakukan berbagai cara, agar semuanya terbebas dari bahaya corona.

Usaha-usaha pemerintah sudah membuahkan hasil karena penanganannya sangat baik. juru bicara tim satgas penanganan Covid dokter Wiku Adisasmito menyatakan bahwa penanganan pandemi gelombang kedua di Indonesia lebih baik, jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Buktinya adalah lonjakan kasus hanya ada selama 2 bulan.

Memang selama pertengahan tahun 2021 terjadi kenaikan jumlah pasien corona, hingga lebih dari 50.000 pasien per hari. Namun akhirnya kasus bisa ditekan secara perlahan, sehingga jumlah pasien menurun drastis. Menurut data tim satgas Covid, per tanggal 10 oktober 2021, hanya ada 789 pasien pada hari itu. Jumlah ini patut disyukuri karena yang kena corona tidak sampai 1.000 orang.

Sementara itu, di DKI Jakarta, terjadi zero mortality alias tidak ada yang meninggal dunia akibat corona. Sedangkan di 15 provinsi lainnya juga semua pasien sembuh total dan tidak ada yang sampai kehilangan nyawa. Hal ini adalah sebuah prestasi karena menunjukkan kinerja pemerintah yang sangat serius menangani corona di Indonesia.

Prestasi Indonesia amat patut dipuji karena tidak mudah untuk menjadi yang nomor 1 dalam penanganan corona di Asia Tenggara. Sementara RRC yang dulu pernah berada di posisi nomor wahid, harus berpuas diri karena ada di urutan nomor 9.

Naiknya posisi Indonesia menjadi nomor 1 adalah buah dari kesabaran dan ketegasan pemerintah. Pertama, memang kita tidak melakukan lockdown, tetapi hanya pembatasan mobilitas dengan program PSBB yang dilanjutkan dengan PPKM level. Buktinya program ini juga ampuh dalam menggebuk corona, karena jumlah pasien juga turun drastis, karena jika tidak ada pergerakan massal maka virus tidak akan menyebar.

Kedua, pemerintah mencanangkan protokol kesehatan yang saat ini disempurnakan menjadi 10M. Masyarakat akhirnya menjadi terbiasa untuk mencuci tangan, membawa hand sanitizer, menjaga jarak, dan terutama memakai masker. Selain itu mereka juga mengganti baju pasca bepergian, menjaga kebersihan lingkungan, meningkatkan imun, dan melakukan poin dalam prokes lainnya.

Sedangkan strategi yang ketiga adalah vaksinasi. Program vaksinasi nasional sudah berjalan selama 7 bulan dan lebih dari 50% penduduk sudah divaksin. Apalagi vaksin digratiskan 100%, lolos uji BPOM, dan sudah halal MUI, sehingga masyarakat tidak ragu lagi untuk diinjeksi vaksin.

Vaksinasi yang dilakukan juga ada yang bersistem door to door, sehingga nakes yang mendatangi langsung ke perkampungan atau perumahan. Warga tinggal tertib mengantri untuk disuntik, dan mereka tak perlu mengeluarkan dana untuk transportasi ke tempat vaksinasi.

Banyak strategi pemerintah dalam menekan angka pasien corona di antaranya vaksinasi, vaksinasi door to door, PPKM, dan prokes 10M. Semua ini sudah memberi hasil yang positif karena akhirnya Indonesia menjadi negara nomor 1 dalam penanganan Covid,se-Asia Tenggara. Prestasi ini tidak boleh membuat kita jumawa, tetapi harus dipertahankan, agar jumlah pasien Covid terus menurun.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh: Kurnia Sandi*

Budi Gunadi Sadikin selaku Menteri Kesehatan (Menkes) mengatakan pemerintah sedang melakukan pembicaraan dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta enam perusahaan farmasi terkait keinginannya untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat pembuatan vaksin dunia.

Budi mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Reuters, Indonesia akan memulai inisiatif tersebut dengan memprioritaskan pembelian Vaksin Covid-19 dari perusahaan yang mau membagikan teknologi yang digunakannya dalam pembuatan vaksin dan mendirikan fasilitas di tanah air.

Ia mengatakan, pihaknya telah bekerja sama dengan WHO untuk menjadi salah satu pusat manufaktur global untuk Mrna. Budi juga menambahkan bahwa dirinya telah melobi langsung Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam perjalanan awal bulan ini ke Eropa.

WHO telah menunjuk Afrika Selatan sebagai lokasi pertama dan Budi mengatakan bahwa secara logis Indonesia harus menjadi yang kedua.

Pusat transfer teknologi yang baru merupakan bagian dari strategi WHO dalam mendistribusikan produksi vaksin secara lebih luas secara global. Selain itu, hal ini merupakan bagian dari strategi badan PBB tersebut untuk meningkatkan kapasitas negara-negara berkembang agar dapat membuat vaksin generasi baru, seperti vaksin moderna dan pfizer yang berbasis asam nukleat Mrna, yang dianggap dapat dengan cepat beradaptasi dalam menangani varian virus baru.

Seorang pejabat senior WHO kepada Reuters mengatakan upaya untuk mengembangkan basis produksi vaksin Covid-19 di Afrika Selatan akan fokus pada upaya untuk meniru vaksin Moderna. Namun realisasi proyek tersbeut masih terhambat karena proses negosiasi yang terjadi dengan perusahaan di AS masih mengalami kebuntuan.

Budi mengatakan, Indonesia tertarik untuk membangun keahlian dalam menciptakan vaksin Mrna, serta mengembangkan jenis viral vector shot seperti yang diproduksi oleh AstraZeneca.

Salah seorang Juru Bicara WHO mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara dari 25 negara berpenghasilan rendah dan menengah yang menyatakan minatnya untuk menjadi tuan rumah pusat vaksin. Namun dirinya menolak untuk mengatakan apakah Indonesia menjadi kandidat utama terkait hal tersebut.

Budi mengatakan, Indonesia berada di posisi yang tepat untuk mengekspor vaksin ke seluruh dunia, terutama karena Indonesia adalah negara berpenduduk mayoritas Muslim terbesar di dunia dan dapat menjamin vaksin halal.

Indonesia telah bergulat dengan salah satu wabah Covid-19 terparah di Asia dan telah mencatat lebih dari 4,1 juta infeksi dan 139.000 kematian. Para ahli kesehatan masyarakat mengatakan angka sebenarnya kemungkinan beberapa kali lebih tinggi.

Tingkat infeksi dan kematian di Tanah Air telah menurun tajam dalam beberapa minggu terakhir. Namun, jumlah penerima vaksin 2 dosis saat ini baru mencapai 25% dari target populasi 208 juta orang.

Akibatnya pemerintah masih harus melakukan upaya untuk menggalakkan program vaksinasi di masa mendatang, terutama karena kemungkinan harus memberikan suntikan booster.

Budi mengatakan perusahaan farmasi nasional sedang berdiskusi dengan produsen dan pengembang vaksin Anhui, Walvax, Sinovac, Genexine, Arcturus Therapeutics dan Novavax. Pembicaraan menurutnya berkiasar dari isi dan penyelesaian, dasar hingga produksi hulu dan penalitian dan pengembangan. Pihaknya juga membuka peluang yang sama juga kepada AstraZeneca dan juga Pfizer.

Sementara itu, Bambang Heriyanto selaku Sekretaris Perusahaan BUMN Farmasi Bio Farma, membenarkan pembicaraan tersebut tengah berlangsung. Menurutnya, langkah pertama adalah berkolaborasi dalam transfer teknologi. Ia menjelaskan dibutuhkan dua atau tiga tahun untuk membangun fasilitas produksi yang beroperasi secara penuh.

Budi mengatakan Indonesia akan menggunakan influence-nya sebagai bagian dari negara-negara kelompok G-20 mulai Desember nanti untuk mempromosikan keamanan kesehatan global dan mempersiapkan pandemi berikutnya setelah virus corona, juga dikenal sebagai SARS-Cov-2.

Tentu saja Indonesia akan mendapatkan banyak mnfaat dengan menjadi pusat vaksin global, termasuk transfer pengetahuan dan teknologi dari produsen vaksin besar.

Transfer teknologi dari perusahaan pengembang vaksin tentu akan menjadikan Indonesia dapat bertumbuh menjadi negara produsen vaksin. Sehingga dapat mendorong Indonesia untuk mandiri dalam mewujudkan kemandirian vaksin.

Upaya tersebut patut kita dukung demi pemerataan vaksin secara global dan juga transfer pengetahuan dan teknologi yang akan kita dapatkan. Apalagi dunia Internasional telah menganggap bahwa Indonesia telah sukses dalam menangani gelombang kedua Covid-19 yang disebabkan oleh keganasan varian delta.

)* Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara

Oleh : Agung Priyatna )*

Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat terbukti mampu menurunkan Zona Merah di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini tentu patut disyukuri karena membuktikan bahwa kebijakan PPKM berjalan sesuai harapan.
Sejak awal Juli PPKM diberlakukan dan terus diperpanjang hampir tiap pekan. Rasanya selalu kaget saat pemerintah mengumumkan perpanjangan program ini. Penyebabnya karena ada sedikit harapan bahwa PPKM bisa dihentikan, karena adanya pembatasan mobilitas dan aturan-aturan lain yang ketat.

Namun kita harus bersabar dan siap menerima keputusan saat PPKM diperpanjang. Penyebabnya karena program ini sukses menurunkan zona merah di berbagai wilayah di Indonesia. Berdasarkan data tim satgas penanganan Covid, Indonesia saat ini masuk ke dalam wilayah zona kuning. Dalam artian, kasus Corona sudah terkendali sehingga makin sedikit wilayah yang berstatus zona merah.

Menurut data tim satgas penanganan Covid, saat ini hanya ada 5 wilayah yang berstatus zona merah. Padahal di akhir bulan lalu, ada 7 provinsi yang termasuk dalam zona merah. Kita juga berharap progress makin positif sehingga bisa berubah status lagi menjadi zona hijau, yang relatif situasinya lebih aman daripada zona kuning atau oranye.

Berkurangnya wilayah yang termasuk zona merah amat disyukuri karena menunjukkan kerja keras pemerintah dalam menangani Corona. Termasuk PPKM yang menjadi salah satu ‘senjata’ ampuh untuk menurunkan jumlah pasien Covid. Program ini memang sengaja dirancang untuk mengamankan kasus Covid di Indonesia, agar tidak terjadi pandemi berkepanjangan yang bagaikan mimpi buruk.

Keampuhan PPKM dalam menggebuk Corona terjadi karena: pertama, program ini membatasi mobilitas masyarakat. Pada awal periode PPKM, bahkan penjagaan dilakukan sangat ketat oleh aparat. Di tengah kota maupun perbatasan dijaga dengan disiplin dan ada penyekatan sehingga mobil dan sepeda motor dilarang untuk melaju, serta disuruh untuk putar balik.

Jika ada pembatasan mobilitas maka berpengaruh positif pada turunnya jumlah pasien Covid yang menyebabkan hilangnya status zona merah pada suatu daerah. Penyebabnya karena pergerakan massal memang terbukti menaikkan kasus Corona di suatu daerah dan virus Covid-19 makin menyebar ke mana-mana. Juga banyak OTG yang keluyuran.
Lantas bagaimana jika seandainya para OTG tak pakai masker? Tentu akan makin banyak kasus, dan seandainya PPKM tidak diperpanjang, akan menjadi bencana besar. Akan terjadi penularan Corona di mana-mana dan kemungkinan terburuk adalah kematian massal. Seperti yang terjadi di India. Kita tentu tidak mau terperosok dalam tragedi ini, bukan?

Oleh karena itu bersikaplah biasa saja ketika PPKM diperpanjang. Penyebabnya karena program ini terbukti ampuh untuk menurunkan jumlah wilayah yang terkena zona merah di Indonesia dan mengendalikan kasus Covid di Indonesia. PPKM bukanlah sebuah penjara, melainkan cara agar kita semua selamat dari bahaya Corona.
Lagipula semakin lama aturan-aturan dalam PPKM makin dilonggarkan dan makin minim penyekatan, serta diganti dengan aturan ganjil-genap. Anak-anak sekolah di wilayah zona hijau dan kuning juga boleh melakukan pembelajaran tatap muka kembali. Selain itu juga sudah boleh makan di restoran, meski masih dibatasi durasinya dan kapasitas pengunjungnya.

Yakinlah bahwa PPKM ampuh dalam menggebuk Corona dan menurunkan zona merah di Indonesia. Jangan malah protes dengan alasan ini dan itu, karena program ini dibuat demi masyarakat yang sehat dan bebas Corona. Kita tentu ingin keluar dari fase pandemi secepatnya, oleh karena itu wajib menaati segala aturan dalam PPKM.

)* Penulis adalah kontributor lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Kenia Ayu )*

Kesembuhan pasien Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Tren positif ini menunjukkan bahwa kebijakan penanganan Covid-19 efektif, sehingga masyarakat diharapkan untuk selalu taat Prokes dan mengikuti PPKM.

Prof Wiku Adisasmito selaku Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 menyampaikan persentase kesembuhan di Indonesia per tanggal 29 Agustus 2021 berada di angka 91,42% lebih tinggi dibanding dunia yang berada pada 89,36%.

Dalam konferensi pers-nya, Wiku menuturkan bahwa angka kesembuhan Indonesia pernah mencapai persentase tertinggi yaitu 92,08% pada tanggal 3 Juni lalu kemudian selama lonjakan kasus bulan Juli, angka kesembuhannya sempat turun hingga 78,6%.

            Sayangnya persentase kematian di Indonesia masih konsisten berada di atas persentase kematian dunia. Per 29 Agustus 2021 persentase kematian Indonesia berada pada angka 3,2% sedangkan dunia sebesar 2,08%.      Meskipun secara nasional kasus aktif dan kesembuhan Indonesia mengalami perkembangan yang cukup baik. Adapun 19 Provinsi yang menunjukkan jumlah kasus aktif tertinggi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, DIY, Jawa Timur, DKI Jakarta, Papua, Kalimantan Timur dan Bali.

            Sepuluh provinsi tersebut telah menyumbangkan 65% atau lebih dari setengah total kasus aktif di Indonesia. Sedangkan 10 provinsi dengan angka kesembuhan mingguan tertinggi per tanggal 29 Agustus 2021 yaitu Jawa Barat, Jawa Timur DIY, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Bali Sulawesi Selatan, Riau dan Kalimantan Selatan. Kesepuluh provinsi tersebut menyumbangkan 68% dari total kesembuhan nasional.

            Pada kesempatan berbeda, Menteri Komunikasi dan Informatikan (Menkominfo) Johny G Plate mengatakan, terdapat peningkatan kesembuhan pasien covid-19 dalam seminggu terakhir.  Ia mengatakan, pada periode 20 hingga 27 Agustus 2021 rata-rata jumlah pasien sembuh terdapat lebih dari 25.000 orang per hari.

            Johny mengatakan, pemerintah terus berupaya mengendalikan pandemi di Indonesia. Penanganan wilayah luar Jawa-Bali tentu memiliki tingkat kesulitan yang lebih besar. Mengingat, keluasan wilayah dan kelengkapan infrastruktur yang berbeda dengan Jawa-Bali.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informasi, Rosarita Niken Widiastuti mengatakan, hal tersebut dibuktikan dengan berbagai survei yang menunjukkan hal positif mengenai Indonesia. Niken mengatakan, hasil survey yang dilakukan oleh CEO Magazine yang menganalisis 80 negara di dunia. Menunjukkan peringkat Indonesia yang berada pada urutan terbaik keempat setelah Singapura, Inggris dan Polandia dalam penanganan Covid-19.  Hal tersebut menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk baik untuk tujuan berinvestasi.

            Sementara itu, Founder & Chairman MarkPlus, Hermawan Kartajaya merasa, pemerintah sudah melakukan penanganan pandemi covid-19 secara terukur. Selain kerja pemerintah, upaya penanganan covid-19 ini tentu saja memerlukan keterlibatan masyarakat secara aktif sesuai dengan kapasitas masing-masing.

            Pada kesempatan berbeda, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan bahwa pasien Covid-19 berpeluang besar sembuh asal mendapatkan penanganan cepat. Budi juga meminta kepada masyarakat agar tidak menunda atau menghindar dari upaya tracing dan testing jika memiliki kontak erat, apalagi kalau sampai mengalami gejala terpapar.

            Dirinya juga sempat menyayangkan hingga saat ini masih banyak masyarakat yang takut untuk mengikuti testing dan tracing. Dampaknya, terlambat memperoleh penanganan dan akhirnya tidak tertolong karena penyakit itu saat terdeteksi sudah terlanjur parah. Budi juga mengatakan, hingga bulan Agustus 2021, tren perkembangan kasus Covid-19 di DIY relatif menurun. Namun, Budi melanjutkan. Keberadaan virus tersebut kemungkinan masih lama hidup di lingkungan sekitar. 

            Sebelumnya, Budi juga meminta kepada masyarakat agar siapapu yang sudah bergejala Covid-19 maupun terpapar dari pasien Covid-19 agar segera melapor ke rumah sakit, puskesmas atau fasilitas kesehatan agar dites secara cepat.

            Dirinya juga menyarankan kepada masyarakat agar dapat mengukur saturasi oksigen secara mandiri dengan menggunakan oxymeter. Jika menunjukkan angka kurang dari 94% maka segera periksakan ke rumah sakit atau pusat isolasi.

            Pihak Kementerian Kesehatan juga melakukan kajian untuk memfokuskan perawatan pasien kritis bergejala berat di rumah sakit serta mengurangi tingkat kematian. Pihaknya juga mendorong layanan primer baik di puskesmas atau klinik untuk merawat orang-orang yang hanya perlu isolasi atau pengobatan pada tahap dasar.

            Peningkatan angka kesembuhan pasien Covid-19 tentu patut diapresiasi, hal ini membuktikan bahwa pemerintah telah berupaya keras dalam menangani pandemi yang sudah dijalani lebih dari setahun.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh :Lisa Pamungkas)*

Program vaksinasi nasional amat digencarkan oleh pemerintah dan hasilnya kita masuk peringkat ke-4 vaksinasi terbanyak di dunia. Apresiasi wajib diberikan karena menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengendalikan penularan corona dan mempercepat terbentuknya kekebalan kolektif.

Vaksinasi adalah syarat mutlak menuju Indonesia bebas corona. Sejak bulan maret 2021, pemerintah mencanangkan vaksinasi nasional. Program ini besifat wajib dan gratis, sehingga seluruh lapisan masyarakat bisa mendapatkan haknya untuk sehat dan bebas dari seranganv virus Covid-19. Berbagai strategi dilakukan oleh pemerintah agar vaksinasi berhasil 100%.

Pemerintah sangat serius dalam menjalankan vaksinasi nasional dan buah dari program ini mulai tampak setelah beberapa bulan dijalankan. Indonesia meraih peringkat 4 besar dalam vaksinasi Covid terbanyak di dunia, dalam artian banyak penduduknya yang sudah mendapatkan suntikan vaksin Covid-19.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan peringat vaksinasi Indonesia saat ini berada pada posisi 4. Posisi pertama oleh India, kedua Amerika, ketiga Brasil. Kemudian, jika berdasarkan total suntikan Indonesia berada pada peringkat 7. Dengan jumlah total masyarakat yang disuntik yaitu 91,9 juta dosis.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi melanjutkan, sudah ada 58 juta orang di negeri ini yang mendapatkan vaksinasi, sedangkan total vaksin yang sudah diinjeksi ada 90 juta dosis. Sehingga Indonesia masuk ke ranking 9 se-dunia dalam penyuntikan dosis vaksin.
Prestasi ini wajib kita apresiasi karena menunjukkan betapa seriusnya usaha pemerintah dalam mensukseskan vaksinasi dan menghalau corona di Indonesia. jika ada 58 juta WNI yang sudah dinjeksi vaksin Covid, maka hampir mencapai 25% dari total penduduk. Hal ini amat bagus karena kita optimis bisa mencapai 100% vaksinasi pada bulan Februari 2022.

Banyaknya penduduk yang sudah divaksin merupakan hasil dari peningkatan target. Awalnya hanya ada target 1 juta suntikan per hari, tetapi direvisi menjadi 3 juta injeksi per hari. Sehingga kita optimis bahwa vaksinasi nasional akan berakhir lebih cepat dari perkiraan dan bisa membentuk herd immunity, sebagai syarat untuk keluar dari fase pandemi secepatnya.

Untuk mempertahankan prestasi ini maka pemerintah wajib melakukan beberapa strategi lain, agar vaksinasi nasional berhasil 100%. Dalam artian, jangan sampai kecepatan vaksinasi malah melambat dan kita gagal mencapai target 100% vaksinasi hanya dalam 12 bulan. Semuanya wajib dipertahankan dan kalau bisa makin dinaikkan intensitasnya, sehingga program ini berakhir secepatnya.

Strategi pertama adalah dengan membentuk pusat vaksinasi, yang merupakan kerjasama antara Kementrian BUMN dan beberapa perusahaan swasta. Di pusat vaksinasi yang akan dibangun di Jawa Barat dan Jawa Timur, akan dipasok setidaknya 15.000 ampul vaksin, sehingga masyarakat akan bisa diinjeksi di sana. Pusat vaksinasi lapang dan higienis sehingga kita tak akan khawatir saat mengantri giliran disuntik.

Selain itu, pusat vaksinasi juga memiliki data yang valid dan disimpan dalam bentuk digital. Pendataan yang modern ini sangat diperlukan, karena jika dilakukan secara manual akan terlalu lama dan beresiko ada kesalahan. Dengan data digital maka terlihat berapa persen penduduk di daerah tersebut yang sudah divaksin dan tidak ada yang tiba-tiba mengantri lagi untuk giliran injeksi ketiga, karena ada data sebagai buktinya.

Sementara itu, strategi kedua adalah dengan vaksinasi door to door. Dengan datangnya petugas medis langsung di tengah-tengah masyarakat, maka warga yang akan diuntungkan, karena tidak perlu mengantri lama dan menghabiskan ongkos transportasi untuk pergi ke tempat vaksinasi. Vaksinasi door to door dijamin aman dan juga sesuai dengan protokol kesehatan.

Prestasi Indonesia dalam program vaksinasi perlu diapresiasi. Sebagai warga negara yang baik, maka harus mau divaksin dan menjadi duta vaksin walau tidak resmi. Sehingga makin banyak teman yang mau juga disuntik, setelah melihat foto kita pasca vaksin, di media sosial.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh: Halimatussyadiah (Warganet Kota Depok) 

Pekan Olahraga Nasional XX atau PON XX yang diselenggarakan di Papua tahun ini adalah ajang olahraga nasional terbesar yang akan diselenggarakan mulai dari 2 – 15 Oktober 2021 dan lokasi utama penyelenggaraannya adalah di Stadion Lukas Enembe. Hal tersebut menjadi sebuah kebanggaan bagi warga Papua, karena PON XX merupakan ajang yang penting dalam kancah nasional. 

Kita ketahui bersama bahwa kegiatan ini telah ditunda setahun lamanya karena angka kasus Covid-19 masih cukup tinggi di Indonesia dan hal tersebut tentunya memberikan dampak yang buruk jika pemerintah dan masyarakatnya tidak fokus kepada penanganan Covid-19. Tahun ini, pemerintah mengoptimalkan upaya agar PON XX tetap terselenggara dengan berbagai proteksi dari Virus Corona, salah satunya dengan cara melakukan vaksinasi kepada seluruh atlet maupun peserta pendukung lainnya.

Seiring dengan dekatnya pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX pada Oktober mendatang, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terus berupaya untuk mempersiapkan PON XX di Papua. Ajang olahraga ini diyakini mampu menyelaraskan kemampuan Indonesia dalam kancah nasional, juga sebagai ajang unjuk kemampuan para atlet dan menunjukkan bahwa Indonesia tidak kalah dengan atlet-atlet internasional. 

Sementara itu, dengan banyaknya keragaman di Indonesia, PON XX Papua mampu memperkuat kebhinekaan dan keutuhan NKRI, sebab pelaksanaannya melibatkan banyak pihak di seluruh Indonesia. Tak hanya itu, dukungan dari setiap ras, bangsa, suku dan lain sebagainya juga sangat terbentuk dalam kegiatan ini. Terlebih pemerintah juga menekankan terkait keamanan dan kenyamanan di daerah dalam mendukung pelaksanaan PON XX. Maka dari itu, peran aktif masyarakat dibutuhkan untuk menjaga agar situasi tetap kondusif. 

Dukungan sejumlah pihak terus mengalir agar PON XX dapat terlaksana dan berjalan dengan baik. Masyarakat juga terus menyebarkan konten positif di media sosial terkait PON XX dengan rasa nasionalisme karena dengan terlaksananya PON XX bisa menyatukan bangsa Indonesia. Banyaknya dukungan dari sejumlah pihak terkait pelaksanaan PON XX di Papua mendatang, diharapkan seluruh pihak dan masyarakat dapat turut mendukung keberlangsungan PON XX.

Oleh: Halimatussyadiah (Warganet Kota Tangerang Selatan)

Sebagaimana isyarat pemerintah yang berencana ingin memperkuat Otonomi Khusus dengan diberlanjutkannya pada tahap kedua, hal tersebut merupakan sinyal baik bagi warga Papua. Pasalnya, program tersebut memberikan banyak hal positif dan mendorong perubahan signifikan terhadap warga Papua yang kerap kali menjadi korban ketidakadilan.

Di sisi lain, kita pasti telah banyak mendengar hal-hal yang tidak mengenakkan bagi warga Papua melalui media portal online ataupun media sosial, padahal seharusnya perlakuan sesama bangsa Indonesia harus setara karena mereka bagian dari Indonesia juga. Dasar negara kita, Pancasila, juga sudah mengajarkan untuk hidup berbangsa dan bernegara tanpa membeda-bedakan latar belakang budaya.

Maka dari itu, dengan banyaknya keberagaman yang ada di Indonesia mulai dari bangsa, bahasa, suku, agama dan ras tentunya membuat kita semua harus saling menghargai. Dengan adanya program Otonomi Khusus Jilid 2, tentu akan memberikan dampak yang baik, seperti pemerataan pembangunan infrastruktur dan pendidikan yang mumpuni bagi warga Papua. Hal tersebut mendorong kemajuan sektor Indonesia dengan melahirkan generasi muda yang dapat memajukan negeri ini.

Dampak dari Otonomi Khusus Jilid 1 pun telah terbukti memberikan manfaat kepada rakyat Papua. Sudah sepatutnya warga khususnya milenial peduli terhadap perkembangan isu Otsus yang tengah diperjuangkan demi kehidupan yang lebih sejahtera.

Sementara itu, rencana pelaksanaan Otsus Jilid 2 telah didukung oleh segenap masyarakat Indonesia, karena melalui program yang telah berjalan pada Otsus Jilid 1, masyarakat semakin menaruh kepercayaan terhadap pemerintah bahwa program ini akan berjalan sesuai dengan tujuan awal tanpa adanya kecurangan.

Oleh : Dede Sulaiman )*

Pemerintah Indonesia dipuji oleh dunia internasional karena cepat tanggap dalam menangani pandemi Covid-19 dan efeknya. Pengakuan ini sangat membanggakan karena membuktikan bahwa pemerintah bekerja sangat keras untuk meminimalisir dampak negatif pandemi.

Pandemi sudah kita lewati lebih dari setahun dan selama ini pemerintah bekerja sangat keras untuk mengatasi dampaknya, baik di bidang kesehatan maupun perekonomian. Banyak progam yang dilaksanakan untuk mengatasi corona seperti vaksinasi nasional, program pemulihan ekonomi nasional, pemberian bansos, dll. Sehingga rakyat tertolong dan tidak kena corona maupun efek negatifnya.

Kerja keras pemerintah membuahkan hasil yang manis. Wakil Ketua DPR RI M Azis Syamsuddin, setelah bertemu dengan delegasi Partai Buruh Australia, menyatakan bahwa pemerintah Australia memuji pemerintah Indonesia dalam menangani pandemi Covid-19. Dalam artian, pemerintah kita telah gigih dalam memerangi virus agar tidak tersebar dan menurunkan jumlah pasien corona.

M Azis melanjutkan, pemerintah Australia saat ini belum memerangi virus ini secara masif. Mereka akan bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk menangani efek pandemi ini. Diharap kerja sama ini akan membuat jumlah pasien Covid baik di Australia maupun di Indonesia menurun drastis.

Apresiasi dari pihak Australia merupakan hal yang positif karena menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia telah bekerja sangat keras untuk memerangi dampak pandemi. Setelah ada vaksin Sinovac maka Presiden Jokowi memesannya pada akhir tahun 2020. Beliau bergerak cepat untuk mengamankan stok vaksin dan memulai program vaksinasi nasional. Beberapa bulan setelahnya terjadi rebutan vaksin antara beberapa negara lain dan kita tidak ikut-ikutan, karena sudah punya persediaan.

Kemudian, pemerintah juga memutuskan untuk membeli vaksin dari pabrik lain seperti AstraZaneca. Juga memesan vaksin dalam bentuk bulk alias bahan baku dan diolah di Indonesia. Keputusan ini diambil agar kita memiliki persediaan vaksin yang memadai. Pasalnya, produksi vaksin masih terbatas sementara jumlah WNI ada lebih dari 220 juta orang.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menyatakan bahwa pemerintah Amerika memuji Indonesia, dan kepemimpinan Presiden Jokowi saat penanganan pandemi corona dianggap sangat bisa untuk dicontoh. Selain itu, kebijakan presiden dalam bidang fiskal dan moneter juga diapresiasi.

Banyaknya pujian dari pihak luar negeri membuktikan bahwa kerja keras Presiden Jokowi diakui oleh dunia internasional. Misalnya pada program vaksinasi nasional. Semuanya digratiskan 100% sehingga tidak memberatkan rakyat kecil.

Bandingkan dengan keadaan di Singapura yang vaksinnya harus membayar dengan biaya yang cukup tinggi. Pemerintah paham bahwa saat pandemi, keadaan finansial masyarakat agak oleng, sehingga vaksin digratiskan.

Pemerintah memang terus membuat berbagai strategi untuk menangani dampak pandemi Covid. Penyebabnya karena gara-gara virus sekecil itu, hampir semua sektor jadi berantakan, mulai dari kesehatan, pariwisata, sampai ekonomi. Oleh sebab itu vaksinasi digenjot agar kita bisa dalam keadaan herd immunity secepatnya.

Target dari Kementrian Kesehatan adalah vaksinasi nasional bisa selesai dalam waktu 18 bulan, tetapi Peresiden Jokowi meminta agar kalau bisa dipercepat jadi 12 bulan. Caranya dengan membuka jalur vaksinasi mandiri, dan masih gratis karena biaya ditanggung oleh pihak perusahaan.

Selain itu, pada jalur vaksinasi nasional dilakukan secara massal dengan target 1.500 orang per hari per kota/kabupaten, agar semua sudah diinjeksi. Vaksinasi massal tentunya dengan mematuhi protokol kesehatan.

Ketika penanganan corona di Indonesia dipuji oleh dunia internasional maka kita patut bangga karena pemerintah bergerak cepat dalam mengatasi dampak pandemi. Sebagai WNI yang baik, maka kebanggaan itu diwujudkan dalam terima kasih dan menuruti semua program pemerintah. Tujuannya agar penanganan makin terkendali dan jumlah pasien Covid menurun.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini