Oleh : Made Raditya )*

Pemerintah Indonesia tengah berusaha memperbaiki regulasi investasi di Indonesia. Regulasi tersebut rupanya menarik minat investor dari luar negeri untuk berinvestasi di Indonesia, khususnya di bidang otomotif.
Dalam mengembangkan industri otomotif, tentu saja pemerintah Indonesia perlu menekankan agar terjadi transformasi menuju teknologi hijau. Sehingga perlu adanya kerjasama untuk merealisasikan transformasi tersebut.

Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang, memastikan Chery motor selaku otomotif asal China akan berinvestasi di Indonesia mulai tahun 2022. Total investasi yang akan digelontorkan oleh Chery juga tidak main-main, yakni sebesar 1 miliar US Dollar atau setara dengan Rp 148 triliun. Rencananya, investasi itu akan dikucurkan dalam 4 tahap hingga tahun 2028. Agus juga mengatakan bahwa di tahun 2022, Chery akan mulai memproduksi kendaraan jenis SUV terlebih dahulu.

Agus juga menyebutkan, bukan hanya 1 atau 2 mobil Chery yang diproduksi di Indinesia, melainkan 9 mobil sekaligus hingga 2028. Nantinya, sebagian dari mobil buatan Chery Indonesia itu juga akan dipasarkan ke mancanegara dan Indonesia diproyeksikan bakal menjadi hub ekspor Chery khusus pasar Asia Tenggara. Kemudian, dalam 4 tahap pengembangan hingga 2028, pabriknya akan memproduksi 9 model dengan proporsi bagi pasar ekspor.

Tidak hanya itu, Chery rupanya juga mendukung investasi hijau yang tengah digadang-gadang oleh Indonesia, di mana, PT Chery Motor Indonesia akan bersiap untuk memproduksi kendaraan listrik. PT Chery Motor Indonesia, Tao Yong menuturkan, pabrik ini nantinya tidak hanya berfungsi untuk produksi mobil combustion engine, tapi kami juga merencanakan untuk membangun pusat riset dan pengembangan, pusat produksi suku cadang, serta produksi kendaraan listrik.

Dipilihnya Indonesia sebagai destinasi tentu saja bukan tanpa alasan, Chery beralasan bahwa Indonesia merupakan salah satu basis produksi kendaraan listri. Pemerintah Indonesia juga terus fokus dalam mendukung elektrifikasi yang menjadi salah satu ketertarikan Chery untuk memproduksi kendaraan listrik di Tanah Air.

Tao berujar, pada awalnya pihaknya juga memiliki teknologi mesin diesel, tetapi dirinya menganggap bahwa hal itu sudah ketinggalan zaman. PT Chery justru menilai mesin bensin masih masuk akal dan mobil listrik adalah hal yang lebih baik dan lebih mudah. Jadi nantinya perusahaan akan berfokus pada mesin bensin dan mobil listrik.

Chery juga telah berkomunikasi secara intens dengan Kemenperin dan menyatakan komitmennya untuk menjadikan Indonesia sebagai hub ASEAN dan bagian dari ekspor global perusahaan tersebut. Pada tahun 2022, secara bertahap Chery akan mulai memproduksi SUV dengan total sembilan model dan di antaranya untuk kebutuhan ekspor.

Selain Chery, Indonesia juga berhasil mengantongi komitmen investasi dari dua raksasa otomotif asal Jepang, yakni Toyota dan Mitsubishi. Di mana kedua jenama tersebut telah menyatakan persetujuannya untuk melakukan penambahan modal di Indonesia.

Pada kesempatan pertemuan bersama para pimpinan perusahaan otomotif di Jepang, Mitsubishi Motor Company (MMC) telah berkomitmen untuk menggelontorkan investasi sebesar Rp 10 triliun yang akan direalisasikan mulai 2022 hingga 2025.

Selanjutnya, Toyota Motor Corporation (TMC) juga akan menambah investasi di Tanah Air sebesar Rp 27,1 triliun untuk lima tahun ke depan (2022-2026). Sehingga, dari sepasang korporasi tersebut didapat total Rp 37,1 triliun modal yang akan ditaman di dalam negeri.

Pemerintah Indonesia mengapresiasi serta mendukung realisasi komitmen tersebut, serta berharap kepada Mitsubishi untuk mempercepat program produksi kendaraan teknologi KBL berbasis baterai atau EV Keycar di Indonesia. Selain itu, diharapkan bisa terus mengekspor kendaraan jenis SUV dari Indonesia ke pasar Australia dalam waktu satu tahun ke depan.

Kepada Toyota, pemerintah juga berharap agar pabrikan tersebut juga terlibat dalam mendukung upaya peningkatan penggunaan komponen lokal di Indonesia, khususnya komponen dari industri kecil dan menengah. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan investasi juga memiliki dampak pada berkembangnya ekonomi di sektor kecil dan menengah. Jika raksasa otomotif itu menggunakan komponen dari Indonesia, sudah bisa dipastikan akan banyak pengusaha lokal yang mengalami peningkatan pemasukan.

Ketertarikan investor asing di Indonesia tentu saja harus didukung dan difasilitasi. Karena investasi tersebut akan memiliki dampak jangka panjang bagi peningkatan ekonomi nasional. Di sisi lain, penambahan modal untuk mengembangkan usaha juga akan berdampak pada terserapnya tenaga kerja. Bagaimana tidak, Industri otomotif nasional telah berhasil menyerap 38 ribu tenaga kerja, serta melibatkan lebih dari 1,5 juta tenaga kerja di sepanjang rantai nilai industri tersebut, termasuk di IKM bidang komponen.

Indonesia merupakan negara yang strategis untuk menjadi basis industri otomotif, khususnya dalam upaya merealisasikan kendaraan listrik yang dinilai ramah lingkungan. Hal ini tentu saja tidak bisa dilakukan tanpa adanya investasi, sehingga diperlukan investasi dari industri otomotif dari berbagai negara agar investasi hijau dapat terealisasikan.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Dian Ahadi )*

Pemerintah terus berkomitmen untuk meningkatkan arus investasi di Indonesia. Dengan banyaknya investasi di Indonesia, maka pemulihan ekonomi yang sebelumnya terdampak pandemi Covid-19 dapat berjalan maksimal.

Salah satu upaya yang dapat mendorong pemulihan ekonomi adalah Investasi. Pertumbuhan investasi di kuartal I/2021 tercatat sebesar Rp 219,7 triliun atau tumbuh 2,3 persen secara tahunan. Komitmen pemerintah untuk mengakselerasi reformasi struktural ini disambut secara positif oleh lembaga pemerintah, mitra pembangunan dan berbagai lembaga internasional.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan, transformasi ekonomi dari ekonomi berbasis komoditas menuju yang berbasis pada nilai tambah yang lebih tinggi dan dapat mendorong pemulihan pasca pandemi.
Berdasarkan penilaian atas ketahanan ekonomi Indonesia dan proses pemulihan yang berkelanjutan, Bank Dunia mendukung pendanaan sebesar 800 juta US Dollar untuk reformasi kebijakan investasi dan perdagangan Indonesia serta membantu mempercepat pemulihan dan transformasi ekonomi.

Pendanaan ini akan dioperasikan melalui dua pilar. Pilar pertama bertujuan untuk mempercepat investasi dengan membuka lebih banyak sektor untuk investasi swasta, khususnya investasi langsung dan mendorong investasi swasta dalam energi terbarukan. Pilar kedua, mendukung reformasi kebijakan perdagangan untuk meningkatkan daya saing dan pemulihan ekonomi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan akses dan keterjangkauan komoditas pangan pokok dan bahan baku serta untuk memfasilitasi akses ke input manufaktur.

Program ini juga merupakan salah satu perwujudan dari Kemitraan Indonesia dan Bank Dunia sebagaimana tertuang dalam Kerangka Kerja Kemitraan Pemerintah Indonesia dan Bank Dunia Tahun 2021-2025. Kerangka Kerja Kemitraan ini mengidentifikasi penguatan daya saing dan ketahanan ekonomi sebagai jalur utama untuk menghilangkan kemiskinan dan meningkatkan kemakmuran.

Sementara itu Bank Indonesia meyakini, investor optimis dengan prospek pemulihan ekonomi domestik dan iklim investasi di Indonesia. Hal ini ditandai netto investasi langsung pada kuartal I 2022 sebesar 4,5 miliar dolar AS. Meski demikian, ketidakpastian pasar keuangan global karena meningkatnya ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina dan rencana percepatan normalisasi kebijakan moneter negara maju mungkin masih menjadi faktor penentu.

Transaksi modal dan finansial pada kuartal I 2022 ini defisit 1,7 miliar dolar AS, lebih rendah dibanding defisit 2,2 miliar dolar AS pada kuartal IV 2021. Salah satu penyebabnya yaitu defisit pada transaksi modal dan finansial meskipun di sisi lain transaksi berjalan menikmati surplus. Jumlah defisit transaksi modal dan finansial sebesar 1,7 milyar dolar AS pada kuartal I 2022 lebih tinggi dibanding capaian surplus pada neraca transaksi berjalan yang sebesar 0,2 miliar dolar AS, sehingga NPI kembali defisit seperti Kuartal IV 2021.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, dalam publikasi Laporan NPI di Jakarta menyebutkan, NPI pada kuartal I 2022 tetap baik dan mampu menopang ketahanan eksternal. Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat mempengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat kebijakan guna menjaga stabilitas perekonomian, serta melanjutkan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas terkait guna memperkuat ketahanan sektor eksternal.
Sedangkan cadangan devisa hingga akhir Maret 2022 tercatat sebesar 139,1 miliar dolar AS atau secara dengan pembiayaan 7,0 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pertumbuhan ekonomi tahun 2023 ditargetkan bisa mencapai 5,3 hingga 5,9 persen. Untuk mencapai target tersebut, konsumsi dan investasi akan menjadi penopang utama.
Ditargetkan, konsumsi bisa kembali tumbuh di atas 5 persen, meningkat dari tahun 2021 sebesar 2 persen. Sementara investasi di 2022 ditargetkan tumbuh di 6,1 persen. Target tersebut lebih baik dari pada masa pandemi tahun lalu, di mana investasi turun sampai 3,8 persen.

Sri menuturkan, Kinerja di Bidang Investasi dan Perdagangan, transformasi di sektor manufaktur baik itu industri mesin, elektronik, alat komunikasi kimia dan hilirisasi mineral menjadi sangat penting untuk menjadi roda bagi pemulihan ekonomi. Namun yang perlu untuk terus ditingkatkan adalah kesadaran ekonomi hijau, di mana nilai ekonomi yang berasal dari karbon dan teknologi energi terbarukan akan menjadi sumber atau diandalkan menjadi sumber pertumbuhan yang baru.

Saat ini masih terdapat ketimpangan investasi yang cukup besar di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. Ketimpangan tersebut bisa ditutup dengan cara mendorong investasi yang lebih berkelanjutan, khususnya di bidang energi terbarukan. Investasi berkelanjutan menjadi penting karena hal ini dapat menciptakan lapangan kerja yang berdampak pada ekonomi lokal.

Masyarakat diminta untuk tidak alergi dengan investasi, karena bertujuan positif untuk meningkatkan kesejahteraan. Dengan adanya peningkatan investasi ini, maka kesejahteraan rakyat diharapkan dapat terus meningkat dan Indonesia dapat terhindar dari ancaman resesi global.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi institute

Oleh : Alfisyah Dianasari )*

Aktivitas dan iklim investasi yang ada di Indonesia memang benar-benar bagus, pasalnya sudah berkali-kali selalu menembus target capaian tahunan. Hal itu membuktikan kondisi kesehatan fundamental ekonomi Tanah Air bahkan sangat menonjol jika dibandingkan dengan negara lainnya.

Presiden Joko Widodo sempat memberikan target kepada angka capaian investasi tahunan yang ada di Indonesia, yakni dengan mematok pada angka Rp 856 triliun. Namun ternyata hasilnya sungguh sangat luar biasa lantaran saat ini, setidaknya investasi pada tahun 2021 yang telah diperoleh oleh Indonesia tersebut bahkan sudah melebihi target dan menembus angka Rp 901 triliun.

Tentunya dengan capaian target investasi tahunan yang telah terjadi, Eko Listiyanto selaku Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyatakan bahwa hal tersebut pantas sekali mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. dengan adanya capaian itu, tentu citra positif Bangsa ini menjadi semakin bagus karena memang dinilai menjadi salah satu negara yang mampu bangkit dari krisis setelah pandemi COVID-19 melanda.

Hal tersebut tidak bisa dipungkiri lagi lantaran negara-negara lain, bahkan yang termasuk dalam kategori negara maju sekalipun justru sampai saat ini masih harus terus terpuruk dan berjuang dengan gejolak COVID-19 yang menyerang mereka. Sehingga para investor memandang kalau dalam hal ini Indonesia menjadi negara yang sangatlah menonjol dan memiliki proyeksi cerah ke depannya, maka akan sangat menguntungkan untuk menanamkan modal di Tanah Air.

Selain dari penanganan pandemi COVID-19 yang memang dirasa sudah sangat efektif dan berhasil, kebijakan lain dari Pemerintah juga dianggap sangatlah berpihak pada para investor. Eko Listiyanto menambahkan bahwa pengesahan UU Ciptaker menjadi dalah satu senjata pamungkas Indonesia untuk benar-benar menarik para investor.

Faktor lain yang membuat investor lebih memilih untuk menanamkan modal mereka di Tanah Air menurut Eko Listiyanto ini adalah karena adanya pertumbuhan pada sektor konsumsi masyarakat yang langsung meroket dan memang belakangan sangat bagus sekali. Bukan tanpa alasan, pasalnya salah satu hal sangat penting yang menjadi standar penilaian para pemodal adalah mereka akan melihat bagaimana pertumbuhan konsumsi masyarakat pada suatu negara, dan sekali lagi, jika dibandingkan dengan negara lain Indonesia memang paling menonjol.

Lebih lanjut, Eko Listiyanto juga menjelaskan bahwa dengan adanya pertumbuhan konsumsi masyarakat yang signifikan, maka secara tidak langsung juga mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi dalam wilayah atau negara tersebut sedang bagus. Maka tentu saja hal itu akan sangat menguntungkan pihak investor lantaran mereka tidak perlu susah payah memasarkan atau mendistribusikan produk mereka, justru produk itu kemungkinan besar akan langsung didatangi oleh konsumen dengan sendirinya.

Membahas mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia pascapandemi COVID-19, Mohammad Faisal selaku Direktur Eksekutif CORE Indonesia (Center of Reform on Economics) pada kesempatan lain juga mengutarakan bahwa memang pertumbuhan ekonomi Tanah Air sangatlah melonjak dengan kencang pada tahun 2021. Hal itu mengindikasikan bahwa memang secara fundamental ekonomi Bangsa ini sangatlah bagus karena dapat bertahan setelah dihantam krisis pada 2020 dan berbalik arah menunjukkan performa yang sangat positif setelah dua kuartal berlalu.

Bahkan pada tahun 2020 saja, Indonesia juga sudan mencetak prestasi yang baik lantaran target capaian investasi juga sempat menembus rancangan, yang mana seharusnya ditargetkan hanya Rp 817,2 triliun, namun justru mampu mencapai Rp 826,3 triliun. Padahal kala itu masih terjadi pandemi namun para investor seakan benar-benar memiliki harapan tinggi bagi kemajuan ekonomi Tanah Air.

Ketahanan untuk menghadapi sebuah krisis dan bahkan mampu membalikkan keadaan seperti itulah merupakan salah satu kriteria terbaik para pemodal untuk bisa menanamkan dana mereka lantaran pertumbuhan masa depan yang akan terjadi pasti akan menjadi jauh lebih baik lagi. Bahkan isu ancaman inflasi dan juga resesi yang saat ini tengah menghantui dunia, khususnya di Amerika Serikat (AS) dan juga Eropa saja menurutnya Mohammad Faisal masih cukup jauh untuk berdampak pada Indonesia.

Memang akibat gejolak makroekonomi dunia yang saat ini terjadi, Indonesia sendiri sempat merasakan dampaknya, namun Direktur Eksekutif CORE ini menegaskan kalau ternyata kondisi dampak yang diterima oleh Tanah Air sama sekali tidaklah parah, tidak seperti negara-negara lainnya. Pertimbangan tersebut juga kemudian membuat pihak Bloomberg menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang minim terhadap ancaman resesi dunia, yang mana hanya berdampak sekitar 3 persen saja.

Setelah mengetahui data rilisan resmi dari pihak Menteri Investasi bahwa Indonesia mampu melampaui target tahunan investasi di tahun 2021, maka untuk target selanjutnya pada tahun 2022 ini akan lebih ditingkatkan lagi menjadi Rp 1.000 triliun. Proyeksi atau target tersebut dinilai bukanlah menjadi penghambat karena jika elihat bagaimana melesatnya pertumbuhan ekonomi Nusantara yang terus menerus mengalami pembaikan sejauh ini.

Salah satu Ekonom dari Bank Permata, Josua Pardede juga menyatakan bahwa prospek jangka panjang yang dimiliki oleh Indonesia memang masih sangatlah bagus. Dengan banyak kebijakan Pemerintah yang terus pro terhadap segala aktivitas ekonomi mulai dari ranah global dan juga ranah domestik, hal itu akan terus dipantau oleh para investor dan terus menjadikan sentimen positif untuk mereka bisa menanamkan modal.

Mulai dari tata kelola negara yang baik karena mampu bangkit setelah dihantam pandemi COVID-19, yang bahkan kebangkitannya melebihi negara maju lainnya, sampai pada beragam kebijakan dari Pemerintah yang memang sangat menguntungkan untuk melakukan aktivitas bisnis hingga ketahanan yang telah teruji dari ancaman inflasi serta resesi dunia, maka tak heran target investasi yang telah dikeluarkan terus melebihi ekspektasi.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Fika Rahma )*

Perekonomian Indonesia kedepannya diyakini masih resilien dalam menghadapi krisis global. Di sisi lain, Pemerintah terus berupaya maksimal memberikan kepastian hukum melalui penyederhanaan regulasi, sehingga investasi di Indonesia masih positif kedepannya.

Iklim investasi yang terjadi di Indonesia juga masih dipandang positif karena memang sejauh ini stabilitas kondisi perekonomian di Tanah Air sama sekali tidak bisa diremehkan begitu saja. Bahkan di tengah gejolak sentimen negatif pada makroekonomi dunia, nyatanya Pemerintah masih terus membuktikan keberhasilannya dengan menjadikan Indonesia sebagai negara yang tahan banting sehingga sama sekali tidak terpengaruh.

Presiden Direktur dari BNP Paribas Asset Management, Priyo Santoso menyatakan jika prospek ke depan dari investasi di Indonesia akan sangat cerah. Hal tersebut dikarenakan peran yang telah dilakukan oleh Pemerintah dengan memberlakukan reformasi ekonomi pada beberapa tahun terakhir hingga mampu membawa kembali stabilitas perekonomian di Tanah Air. Salah satu langkah yang telah dilakukan oleh Pemerintah dalam reformasi ekonomi di Indonesia adalah dengan mempermudah proses perizinan usaha.

Priyo Santoso juga menyatakan bahwa kondisi stabilitas makroekonomi yang ada di Indonesia ini jauh melebihi kondisi ekonomi negara maju lainnya, karena bisa tetap terjaga meski di tengah gempuran ancaman inflasi serta resesi dan juga terus menegangkan konflik geopolitik di Eropa yang membuat sejumlah komoditas harganya langsung meroket akibat stoknya menjadi langka.

Lebih lanjut, pihak analis dari BNP Paribas Asset Management juga menambahkan kalau saat ini yang tengah menjadi trend investasi di masyarakat dunia adalah beberapa sektor seperti ESG atau jika diuraikan adalah sektor lingkungan, sosial dan juga tata kelola perusahaan, maka dari itu para analis ini berharap supaya trend ESG tersebut bisa menular kepada masyarakat Indonesia.

Konflik geopolitik utamanya adalah yang terjadi di Rusia dan Ukraina, yang mana sebenarnya bermula dari pengumuman operasi militer yang diberikan oleh Vladimir Putin dengan meledakkan beberapa kota di Ukraina seperti Jyiv, Odessa, Mariupol hingga Kharkiv. Hal tersebut kemudian memancing sanksi yang diberikan oleh Amerika Serikat (AS) dan Eropa untuk melumpuhkan ekonomi dan perdagangan yang dilakukan di Rusia.

Kemudian upaya penanganan krisis tidak hanya dilakukan oleh Pemerintah saja, namun menurut Presiden Direktur tersebut kebijakan moneter yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) mengenai pengaturan suku bunga acuan dan juga likuiditas menjadi kunci penting pula untuk terus menjaga kestabilan yang dimiliki oleh nilai tukar Rupiah. Tentunya pihak BI dan juga Pemerintah akan terus bersinergi dalam upayanya mengendalikan laju inflasi global sehingga antusiasme yang dimiliki oleh para pelaku pasar terus bagus.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Lebih lanjut, Bahlil Lahadalia menambahkan bahwa Pemerintah juga terus memberikan sejumlah insentif kepada perusahaan untuk bisa melakukan ekspansi termasuk juga memberikan fasilitas relokasi investasi negara lain.menambahkan bahwa Pemerintah juga terus memberikan sejumlah insentif kepada perusahaan untuk bisa melakukan ekspansi termasuk juga memberikan fasilitas relokasi investasi negara lain.

Di sisi lain, terdapat pula rilisan data dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang menunjukkan bahwa hingga akhir bulan Desember tahun 2021 lalu saja masyarakat Indonesia sendiri terlihat sudah mulai lebih sadar akan pentingnya melakukan investasi. Hal tersebut ditunjukkan dari meningkatnya para pelaku pasar yang mulai berinvestasi pada reksa dana hingga mencatatkan kenaikan sampai 92 persen atau sekitar 6,8 juta masyarakat jika dibandingkan dengan tahun 2020 silam.

Jika ditelisik lebih lanjut, bahkan dana kelolaan yang saat ini tengah dikelola oleh salah satu manajemen keuangan, yakni BNP Paribas saja juga terus mengalami pertumbuhan bahkan hingga 5 kali lipat per akhir Mei 2022 hingga mencapai angka Rp 5,5 triliun. Maka tak heran bahwa iklim investasi di Indonesia sendiri memang sangatlah menarik.

Bukan hanya pada sektor instrumen investasi reksa dana saja, namun antusiasme para pelaku pasar di Tanah Air untuk mulai aktif dalam aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia juga terus menerus bertambah setiap harinya. Hal tersebut kemudian memicu beberapa startup baru dengan bisnis baru bermunculan seperti pada bagaimana berfokus untuk memberikan edukasi khususnya untuk para pemula yang hendak terjun di dunia investasi saham.

Masyarakat sudah mulai sadar betapa pentingnya melakukan investasi karena kondisi ancaman inflasi seperti sekarang ini terus berhembus ditambah dengan upaya yang dilakukan oleh Bank Sentral AS, The Fed dengan menaikkan suku bunga acuan demi segera memberantas adanya inflasi, yang mana sedikit-banyak nantinya juga akan mempengaruhi bagaimana BI bertindak. Maka sangat penting untuk memiliki sejumlah dana cadangan yang aman di masa mendatang.

Adanya krisis yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina, juga membuat kenaikan yang cukup signifikan pada beberapa sektor komoditas andalan Indonesia di IHSG seperti batu bara, emas hingga sektor energi seperti minyak dan gas. Kenaikan yang dimiliki oleh komoditas andalan tersebut tentunya masih terus berpotensi secara positif ke depannya dan mampu menarik para pelaku pasar dalam berinvestasi.

Pemerintah tetap berkomitmen kuat untuk menjaga keperkasaan pasar Tanah Air dalam menghadapi makroekonomi dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Di sisi lain Pemerintah, juga terus menjamin keberadaan investasi Indonesia, sehingga investor diharapkan tidak ragu untuk mengembangkan usahanya di Indonesia.

)* Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa Institute

Oleh : Aulia Hawa )*

Indonesia diyakini memiliki prospek investasi yang cerah. Keunggulan tersebut tercermin dari kepastian hukum melalui Undang-Undang Cipta Kerja, adanya insentif bagi pelaku usaha, hingga jaminan pemerintah kepada investor. Bahkan, sejumlah kalangan meyakini Indonesia akan kuat dalam menghadapi ancaman resesi ekonomi yang saat ini mulai melanda.

Kondisi perekonomian Indonesia memang agak tergoncang karena efek pandemi, dan krisis terjadi secara global. Namun pemerintah tidak tinggal diam atau menyerah dengan cara menambah hutang ke IMF (International Monetary Fund). Investasi menjadi jurus andalan untuk menyelamatkan negeri ini, dan pemerintah berusaha keras agar para penanam modal asing percaya dan mau berbisnis di Indonesia.

Untuk meyakinkan para penanam modal asing maka dilakukan berbagai pendekatan. Salah satunya adalah dengan memaparkan bahwa investasi di Indonesia memiliki prospek yang sangat bagus. Yuliot Tanjung, Deputi Bidang Pengembangan Iklim Penanaman Modal BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) menyatakan bahwa pemerintah berupaya meningkatkan investasi di Indonesia.

Yuliot melanjutkan, strategi pertama untuk menaikkan investasi di Indonesia adalah dengan kebijakan pengembangan investasi hijau. Kedua dengan transformasi ekonomi dan industri hilirisasi sumber daya alam (SDA). Sedangkan yang terakhir adalah dengan kolaborasi pengusaha usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) dengan penanam modal asing dan lokal.

Dalam artian, ketiga strategi ini amat mumpuni untuk menaikkan tingkat investasi di Indonesia. Dengan investasi hijau maka akan banyak pengusaha asing yang tertarik, karena tren bisnis saat ini bukan industri besar, tetapi investasi hijau alias yang selaras dengan alam. Makin banyak masyarakat internasional yang sadar akan pemanasan global dan beralih ke industri hijau.

Investasi hijau adalah bisnis kerja sama yang ramah bumi dan tidak menambah emisi udara maupun membolongi ozon. Salah satu contohnya adalah industri mobil listrik. Di Indonesia fokusnya bukan ke pabrik mobil listrik, tetapi pada baterainya, karena bisa menyuplai ke berbagai produsen kendaraan listrik di dunia. Sudah dibangun pabrik baterai mobil listrik di Batang, Jawa Tengah dan makin berkembang berkat investasi.

Hilirisasi sumber daya alam adalah peningkatan nilai tambah SDA, dan harganya bisa naik drastis jika diolah kembali. Contoh dari potensi investasi di bidang ini adalah industri pengolahan rumput laut. Rumput laut diolah menjadi nori (lembaran rumput laut) dan diekspor ke Jepang dan negara Asia Timur lainnya.

Para investor juga tertarik karena sumber daya alam di Indonesia melimpah, tak hanya yang ada di daratan tetapi juga di lautan. Masih banyak SDA lain seperti kopi, kelapa, yang bisa diolah dan diekspor. Hasil kerja sama penanaman modal ini akan saling menguntungkan dan mendatangkan keuntungan, termasuk bagi masyarakat.

Dengan contoh-contoh dari industri di atas maka sudah jelas investasi di Indonesia menguntungkan. Selain itu, hasil produksinya tak hanya diekspor, tetapi juga dipasarkan di dalam negeri. Para investor juga yakini karena Indonesia masih menjadi pasar yang menjanjikan.

Ketika pemerintah menggencarkan investasi maka akan optimis meraih target realisasi investasi tahun 2022 yang sebesar 1.250 Triliun rupiah. Target ini memang besar, tetapi BKPM optimis akan mencapainya. Berkaca dari target realisasi investasi tahun 2021 yang awalnya dipatok 900 Triliun rupiah dan nominal yang dicapai adalah 901 triliun rupiah.

Pemerintah terus berupa maksimal untuk meningkatkan realisasi investasi sesuai target, baik dari segi promosi promosi, regulasi, dan pemanfaatan sumber daya alam. Berbagai fasilitas ini merupakan keunggulan yang mungkin tidak ada apabila dibandingkan dengan negara lain, sehingga diharapkan dapat meningkatkan minat investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Alfisyah Dianasari )*

Kunjungan kerja yang dilakukan oleh Presiden Joko Widodo ke Abu Dhabi untuk bertemu dengan para investor asal Uni Emirat Arab (UEA) diyakini akan berdampak positif. Dengan adanya ajakan investasi tersebut, pengusaha asing diharapkan akan tertarik untuk mengembangkan usahanya di indonesia.

Pada 1 Juli 2022, Presiden RI, Joko Widodo tiba di Abu Dhabi dan melakukan pertemuan dengan Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Sheikh Mohammed bin Zayed bin Sultan Al Nahyan. Pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda besar yang kiranya akan dilakukan oleh kedua negara dan juga tentunya membahas mengenai kerja sama.

Salah satu fokus bahasan dan saat ini memang tengah digencarkan oleh Pemerintah RI adalah bagaimana caranya sesegera mungkin kembali mampu menggerakkan roda perekonomian di Tanah Air pascapandemi Covid-19. Untuk itu, faktor investasi menjadi hal yang sangatlah krusial dalam pembahasan tersebut sehingga Presiden Jokowi langsung mengawali agendanya di Abu Dhabi untuk berjumpa dengan para investor asal UEA.
Sebagaimana keterangan pers yang dilakukan oleh Presiden Jokowi, bahwa Uni Emirat Arab akan menjadi negara terakhir yang dikunjungi setelah agenda KTT G-7 di Jerman.

Di sisi lain, Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan sebelumnya juga sempat mengadakan pertemuan dengan Presiden UEA. Luhut mengatakan kalau UEA bersedia untuk melakukan investasi mereka pada proyek strategis Tanah Air, yakni pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan. Tidak tanggung-tanggung, dana yang dikeluarkan oleh investor mencapai 20 miliar US Dollar.

Hubungan diplomasi yang telah terjalin dengan Indonesia dan UEA sendiri sudah kuat sejak dulu. Bahkan pada November 2021 lalu Presiden Jokowi didampingi sejumlah Menteri termasuk Menko Perekonomian Airlangga Hartarto juga telah mengadakan pertemuan di Abu Dhabi dan membahas hal yang sama, yakni strategi investasi yang bisa menguntungkan kedua belah pihak negara.

Saat itu, pertemuan bilateral menghasilkan kesepakatan bahwa memang UEA sendiri akan terus meningkatkan kerja sama mereka di Indonesia berupa perdagangan dan juga investasi. Terlebih memang sudah dibuat kesepakatan antara kedua negara dalam perjanjian Indonesia-UEA Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE-CEPA) pada September 2021, dimana kedua negara sangat mengharapkan agar kesepakatan tersebut dapat dilaksanakan dan berjalan tanpa kendala serta selesai tepat waktu.

Dalam perjanjian CEPA terdapat kesepakatan yang telah disetujui antara Indonesia dengan Uni Emirat Arab, yakni peningkatan kerja sama perdagangan bahkan hingga tiga kali lipat serta meningkatkan peringkat investasi yang dilakukan oleh UEA ke Indonesia dari yang sebelumnya berada pada posisi 25.

Menko Airlangga menyatakan kalau seluruh kerja sama di bidang investasi demi memulihkan roda perekonomian negara akan benar-benar dimaksimalkan oleh Pemerintah, terlebih setelah disahkannya UU Cipta Kerja yang membuat seluruh proses layanan perdagangan serta investasi asing untuk masuk ke Tanah Air menjadi lebih mudah, sehingga pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19 akan dengan segera terealisasi.

Beberapa sektor yang diharapkan oleh Menko Perekonomia RI dapat dibantu dengan maksimal oleh Uni Emirat Arab adalah sektor kesehatan, pengembangan ekonomi hijau yang berkelanjutan, kerja sama di sektor energi terbarukan, ritel dan infrastruktur pelabuhan, jalan tol, kerja sama di bidang teknologi digtal serta di bidang industri pertahanan.

Dalam industri pertahanan sendiri, UEA telah sepakat untuk membangun kerja sama protokol pengembangan sebagaimana ditandatangani langsung oleh Menteri Pertahanan Prabowo Subianto. Kerja sama akan berfokus pada pengembangan industri pertahanan diantara kedua negara, yakni dengan meningkatkan keselarasan perencanaan strategis, perumusan kebijakan untuk penelitian hingga produksi bersama. Selain itu, terdapat pula ketentuan dalam rumusan kerja sama tersebut mengenai program offset nasional, perizinan teknologi, penyediaan bakat internasional serta investasi SDM.

Mengenai kerja sama dalam industri pertahanan sendiri, pada bulan Februari lalu Menhan Prabowo Subianto juga pernah meneken kesepakatan, yang berisi bahwa kedua negara saling sepakat untuk mengunjungi pejabat angkatan bersenjata dengan tujuan saling bertukar informasi. Selain itu ada kesepakatan untuk bersama-sama meningkatkan kapasitas dan pengembangan SDM di bidang pertahanan, termasuk mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi di industri pertahanan.

Nilai investasi serta perdagangan yang telah dilakukan oleh UEA ke Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sebagai contoh nilai investasi pada periode tahun 2017 hingga 2021 mencapai 189,8 juta US Dollar dengan menangani sebanyak 484 proyek. Kemudian untuk nilai perdagangannya sendiri, sepanjang tahun 2020 mencapai angka 2,9 miliar US Dollar. Kemudian untuk periode bulan Januari hingga Agustus 2021 nilainya sudah mencapai 2,4 miliar US Dollar padahal masih belum genap satu tahun.

Presiden Joko Widodo akan terus menjalin hubungan baik dengan seluruh negara di dunia, termasuk salah satunya adalah UEA karena selama ini kerja sama bilateral yang sudah terjalin dengan baik. Pihak UEA sendiri pun akan membantu meningkatkan perekonomian dengan melakukan investasi ke Tanah Air pada proyek-proyek unggulan bangsa ini.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Aulia Hawa )*

Indonesia menjadi negara yang mendukung pada kemudahan berinvestasi, baik dari segi regulasi, sumber daya, hingga insentif bagi pengusaha. Kemudahan tersebut mendorong banyak negara asing untuk berkomitmen berinvestasi di Indonesia.

Pernahkah Anda melihat suatu produk bermerek luar negeri tetapi ternyata made in Indonesia? Sebenarnya hal ini tidak mengagetkan lagi karena sejak era orde baru, sudah banyak investor di negeri ini. Mereka membangun pabrik dan bekerja sama di Indonesia dan memasarkan produknya di sini juga, selain di negara-negara lain.

Dalam rangka memulihkan perekonomian negara maka pemerintah makin menggencarkan investasi di Indonesia. Penyebabnya karena jika makin banyak penanaman modal asing maka makin banyak pula devisa negara. Indonesia bisa pulih dari efek pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama lebih dari 2 tahun.

Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia, menyatakan ada 10 negara yang akan berinvestasi di Indonesia. Di antaranya Korea Selatan, Inggris, RRC, Singapura, dan lain sebagainya. Jadi tidak benar jika ada isu yang menyebutkan bahwa hanya ada monopoli 1 negara yang akan melakukan penanaman modal di negeri ini.

Isu bahwa ada monopoli dari 1 negara amat kejam karena tidak berdasarkan fakta, dan oknum menyebarkannya dengan sengaja karena tak suka melihat kedekatan Indonesia dengan negara itu. Apalagi mereka bisa mengaitkannya dengan isu penjajahan. Padahal investasi bukanlah penjajahan terselubung, tetapi bentuk kerja sama bisnis yang setara dan jelas saling menguntungkan.

Bahlil menambahkan, nilai investasi juga tidak main-main nominalnya. Hongkong menanamkan modalnya sampai 1,5 M Dollar Amerika, sedangkan Singapura malah lebih dari 3 M Dollar Amerika. Hal ini menandakan kepercayaan mereka amatlah besar ke Indonesia dan beranggapan bahwa investasi sangat menguntungkan.

Banyaknya negara asing yang berkomitmen dalam berinvestasi di Indonesia karena pertama, pemerintah memberi regulasi yang jelas dan melindungi para penanam modal, melalui UU Omnibus Law Cipta Kerja. Dalam UU itu ada klaster investasi yang mempersilakan investor untuk masuk dan mempermudah untuk perizinan usaha.

Kedua, jaminan untuk berinvestasi di Indonesia diberi langsung oleh Presiden Jokowi. Hal ini yang membuat para pengusaha asing yakin dan ingin menanamkan modalnya di negeri ini. mereka rela mengeluarkan banyak uang karena percaya akan garansi dari sang presiden.

Yang ketiga, Indonesia dikaruniai Tuhan YME dengan kekayaan alam dan bahan tambang yang melimpah, dan bisa diolah menjadi barang jualan yang menguntungkan. Dengan sistem kerjasama maka investor bisa ikut mengolahnya dan ada bagi hasil.

Indonesia juga memiliki sumber daya manusia yang cukup banyak karena jumlah warganya lebih dari 200 juta orang. SDM yang rata-rata lulusan S1 membuat pengusaha asing mau menjadikan mereka pegawai yang andal dan mau diajari untuk bekerja dengan benar.

Jumlah penduduk juga jadi alasan mengapa investor mau menanamkan modal di Indonesia, karena makin banyak rakyatnya, makin besar juga pasarnya. Ketika ada investor yang membuka pabrik sepatu di Indonesia maka sudah jelas marketnya yakni rakyat Indonesia sendiri. Apalagi masyarakat negeri ini dikenal agak konsumtif sehingga jadi pasar yang menggiurkan.

Banyaknya negara asing yang berinvestasi di Indonesia adalah hal yang sangat baik karena mereka percaya akan berbagai keunggulan yang ada di Indonesia dibandingkan negara lain. Masyarakat pun diharapkan ikut mendukung program pemerintah dalam meningkatkan investasi yang akan membuka kesempatan kerja yang lebih luas.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Aldia Putra )*

Investasi merupakan motor pengembangan perekonomian Indonesia secara nasional, meski demikian realisasi investasi di Indonesia jangan sampai hanya terpusat di pulau Jawa saja, tetapi juga merata di wilayah yang lain demi terwujudnya pemerataan pembangunan yang bersifat indonesia sentris.

Pemerintah Indonesia terus berkomitmen untuk mendorong pembangunan yang bersifat Indonesia-sentris. Sejalan dengan ini, pemerataan investasi juga terus dikedepankan.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia pernah mengungkapkan, bahwa Presiden Joko Widodo telah memerintahkan dirinya agar membangun Indonesia tidak boleh membangun satu wilayah tertentu, harus Indonesia-sentris, sehingga yang dibangun haruslah dari Aceh sampai Papua.

Menteri Investasi tersebut juga memaparkan, dari target investasi sebesar Rp 1.200 triliun pada tahun 2022, pada kuartal I telah terealisasi sekitar Rp 283 triliun. Di luar Jawa 52 persen dan di Jawa 48 persen. Adapun provinsi dengan realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) terbesar adalah Riau, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.

Bahlil juga menegaskan bahwa investasi yang datang ke Indonesia tidak hanya berasal dari satu negara saja. Masih ada Singapura, Hongkong, Tiongkok, Amerika, Korea Selatan. Sehingga tidak benar ketika ada informasi yang berhembus mengatakan bahwa Indonesia hanya dikuasai satu negara saja.

Di samping aspek ketenagakerjaan dan lingkungan, kolaborasi dengan pelaku usaha lokal sampai pada level UMKM menjadi salah satu persyaratan Kementerian Investasi bagi para calon investor yang akan menanamkan modalnya di Indonesia. Bahlil juga sempat menuturkan mengenai penyusunan peta peluang investasi untuk proyek prioritas strategis nasional.

Dengan adanya peta peluang investasi tersebut, investor tentu dapat lebih mudah menetapkan keputusannya dengan proyek yang strategis. Tentu saja investasi tidak boleh terpusat pada daerah Jawa, harus ada pemerataan investasi daerah. Oleh karena itu dengan adanya peta peluang investasi tersebut, harus ada keterlibatan pengusaha lokal daerah.

Berdasarkan kajian dengan informasi yang komprehensif, peta peluang investasi proyek prioritas strategis ini diharapkan dapat membantu promosi investasi Indonesia menjadi lebih tepat sasaran serta mempermudah pengambilan keputusan para investor untuk terlibat dalam berbagai proyek di daerah.

Hal ini rupanya mendapatkan dukungan dari anggota DPR Komisi VI Nusron Wahid, ia mendukung Kementerian Investasi untuk secara aktif mendatangkan investasi ke daerah-daerah yang sebenarnya punya potensi ekonomi namun belum begitu dilirik oleh investor. Nusron menuturkan, kementerian investasi mesti menggali potensi investasi di berbagai daerah dan membuat investor berminat untuk menanamkan modal di Indonesia.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Ikhsan Ingatubun mengapresiasi sejumlah langkah yang akan dilakukan Kementerian Investasi dalam meningkatkan investasi di dalam negeri, terlebih yang melibatkan sektor UMKM. Salah satunya adalah pendirian OSS (Online Single Submission) untuk pelaku usaha mikro dan kecil, ini tentu saja bisa menjadi salah satu upaya mengharmonisasi proses perizinan di pusat dan daerah.

Ikhsan berharap, di samping mendorong sinergi pusat dan daerah, Kementerian investasi juga dapat membantu mempermudah proses perizinan untuk UMKM dalam menjalankan usahanya. Sebab selama ini, aspek perizinan berusaha terutama untuk pelaku UMKM kerap menjadi kendala.

Lebih lanjut Ikshan juga menambahkan agar kolaborasi antara investor dengan pelaku UMKM dapat dipermudah melalui ketentuan ataupun kebijakan di lapangan dari Kementerian Investasi yang mendukung semua pihak. Ikhsan menilai, langkah ini bisa menjadi salah satu pendorong untuk merealisasikan target investasi. Tidak hanya memperhatikan keterlibatan pelaku usaha daerah, Kementerian Investasi juga memaksimalkan penanaman modal di daerah-daerah terutama luar Jawa.

Pemerintah Indonesia optimis bahwa Sulawesi, Sumatra dan Kalimantan memiliki potensi yang tinggi. Ketiga daerah tersebut perlu tetap dioptimalkan agar dapat menjadi tujuan investasi yang menjanjikan. Keunggulan dari daerah ini tentu saja luas lahannya. Misalnya, Kalimantan yang luas wilayahnya hampir tiga kali lipat dari Jawa. Selain itu, terdapat pula sumber daya alam berupa pertambangan di Maluku, Sulawesi dan Kalimantan.
Indonesia memiliki beragam hal yang mampu menarik investor, tentu saja pemerataan investasi dan pembangunan di Indonesia harus merata demi terwujudnya pembangunan yang Indonesia-sentris.

)* Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa Institute

Oleh : Bayu Pramudya )*

Acara Indonesia Night Davos yang diadakan di Swiss beberapa waktu yang lalu, tidak hanya memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia internasional namun juga efektif menarik minat para investor, khususnya di bidang pariwisata. Minat investor asing tersebut diharapkan dapat meningkatkan kompetisi pariwisata Indonesia di mata dunia.

Indonesia adalah negara yang terkenal akan sektor pariwisatanya, terutama Bali yang sejak dulu jadi tujuan berlibur bagi para turis asing. Namun sayang adanya pandemi mengguncang sektor turisme karena kunjungan jadi sepi, sejak ada larangan penerbangan internasional. Ketika pandemi mulai mereda maka sektor pariwisata kembali bergeliat tetapi butuh modal untuk membangunnya kembali.

Modal yang didapat tanpa harus berhutang bisa menggunakan jasa investor. Oleh karena itu pemerintah terus mengadakan Indonesia Night Davos, acara tahunan di ajang World Economic Forum. Acara yang diadakan di Swiss ini menampilkan pentas kebudayaan Indonesia mulai dari tari-tarian, lagu daerah, kuliner dan lain sebagainya.

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa fokus pada Indonesia Night Davos 2022 adalah kebudayaan Papua. Sebab masa depan Indonesia ada di bagian timur. Alam dan hutan Papua masih bagus, sehingga bisa jadi tempat wisata yang menarik. Selain itu, Papua punya kekayaan tambang dan sumber Energi Baru Terbarukan (EBT).
Energi baru terbarukan ini yang bisa menarik minat investor karena menjadi energi di masa depan. Jika ada EBT maka tak tergantung akan persediaan minyak bumi dan fosil. Selain itu akan lebih ramah lingkungan karena tidak mengandung emisi tinggi.

Selain itu, investor akan tertarik untuk mengembangkan sektor pariwisata di Papua karena di Raja Ampat sudah menjadi buah bibir para turis. Mereka bisa mengembangkan wisata yang serupa, yang bisa jadi tempat diving atau sekadar berenang sambil menikmati eksotisme alam Papua.

Para turis bisa menikmati paronama alam Papua yang indah dan sejenak keluar dari rutinitas kerja yang membosankan. Mereka dapat menikmati keindahan Bumi Cendrawasih yang masih hijau, seolah-olah berpetualang di alam fantasi. Keelokan Papua sangat bisa dijual dan menjadi magnet bagi para wisatawan asing.

Untuk membuat konsep tempat wisata yang berstandar internasional dan disukai turis mancanegara tentu butuh modal. Oleh sebab itu butuh investor yang akan dengan senang hati menanamkan modalnya dan membuat pariwisata di Papua makin baik.

Dalam Indonesia Night Davos ditampilkan kebudayaan Indonesia sehingga para investor akan tertarik untuk menanamkan modalnya. Selain tertarik akan Papua, mereka bisa juga berinvestasi di daerah lain yang potensial. Mereka takjub karena Indonesia sangat luas dan punya kekayaan kultur yang berbeda-beda, dan ini sangat unik serta bisa dijual jadi paket pariwisata yang menarik.

Para artis yang menghibur di Indonesia Night Davos 2022 antara lain Novia Bachmid dan Edo Kondologit. Terlebih Edo sebagai putra asli Indonesia Timur amat bangga karena bisa menyanyi dan menghibur para penonton. Sekaligus memperkenalkan keelokan budaya Indonesia dan khususnya Papua.

Jika sudah terhibur maka investor akan mencari tahu lebih lanjut bagaimana sebenarnya kebudayaan dan keelokan alam di Indonesia. Penyebabnya karena kebanyakan mereka hanya tahu Bali, dan belum paham bahwa ada daerah lain di negeri ini yang potensial. Jika sudah paham maka akan tertarik untuk menanamkan modalnya.

Promosi Indonesia di luar negeri mampu untuk memperkenalkan keanekaragaman dan pariwisata di mata dunia. Dengan adanya kegiatan tersebut, investor diharapkan akan tertarik, sehingga pariwisata dalam negeri dapat berkembang serta bersaing dengan negara lainnya.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Khandar Ardhana )*

Pemerintah terus berupaya memperbaiki iklim investasi untuk mempermudah investor menanamkan modalnya di Indonesia. Dengan adanya peningkatan investasi maka pemulihan ekonomi maupun keberlanjutan Proyek Strategis Nasional akan dapat segera terwujud.

Indonesia adalah negeri yang sangat potensial karena memiliki banyak kekayaan alam dan sumber daya manusia yang melimpah. Akan tetapi potensi ini belum sepenuhnya diberdayakan. Terlebih ketika pandemi Covid-19, sektor ekonomi dan sektor-sektor lain langsung terpukul karena daya beli masyarakat menurun drastis. Untuk memperbaiki ekonomi maka pemerintah tetap melanjutkan proyek strategis nasional.

Proyek strategis nasional tetap dilanjutkan di masa pandemi karena akan bermanfaat ke depannya, tak hanya 1-2 tahun tetapi bisa sampai puluhan tahun. Proyek ini adalah program yang diadakan di masa pemerintah Presiden Jokowi dan membangun berbagai infrastruktur di seluruh Indonesia. Sumber pendanaan proyek ini dari APBN dan juga kerjasama pemerintah dan badan usaha.

Kerjasama pemerintah dan badan usaha berarti pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta, dalam hal ini adalah investor. Keberadaan investor dalam proyek strategis nasional tentu amat membantu karena pengusaha tersebut mau menggelontorkan banyak uang demi membangun jalan tol, jembatan, jalan raya, dan infrastruktur lain. Kerjasama ini tentu saling menguntungkan, jadi investor mau jadi rekanan pemerintah.

Atas dasar tersebut, pemerintah terus menggenjot investasi, terutama investasi asing. Penyebabnya karena semakin banyak investasi asing tentu makin banyak pula devisa negara. Dana tersebut digunakan untuk membangun negeri, salah satunya dengan proyek strategis nasional.

Untuk meningkatkan investasi maka pemerintah mengimplementasikan UU Cipta Kerja yang memiliki klaster investasi, sehingga para investor dipermudah untuk masuk ke Indonesia. Implementasi UU ini tidak hanya di DKI Jakarta, Surabaya, atau kota-kota besar lainnya. Namun juga di kota/kabupaten lain di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

UU Cipta Kerja memang perlu diimplementasikan sehingga tak hanya berlaku di atas kertas, tetapi juga di lapangan. Salah satu tujuan dibentuknya UU ini adalah mempermudah datangnya investasi ke Indonesia.
Jika investasi ditingkatkan maka akan lebih banyak lagi investor dalam kerjasama pemerintah dan badan usaha.
Efeknya, akan mendorong pembangunan proyek strategis nasional. Proyek-proyek ini akan sukses dan yang menikmati hasilnya adalah rakyat, karena mereka akan mendapatkan infrastruktur yang baru dan mulus.

Dalam pembangunan proyek strategis nasional memang membutuhkan banyak dana, terlebih proyeknya tidak hanya di Jawa, tetapi juga di Sumatera dan pulau-pulau lain. Dana yang dibutuhkan tentu tidak sedikit. Oleh karena itu butuh keberadaan investor yang akan menanamkan dana sehingga proyek-proyek ini akan berhasil.

Jika proyek strategis nasional terlaksana dan berhasil maka akan terlihat hasilnya. Jalan-jalan tol akan terbangun sehingga akan mempercepat waktu tempuh perjalanan dan menguntungkan masyarakat. Selain itu, rakyat juga terbantu karena tak lagi mengalami fase kekeringan saat kemarau. Penyebabnya karena pemerintah telah membangun bendungan-bendungan, sehingga cadangan air yang bisa digunakan saat musim panas.

Pemerintah memilih untuk membuat sistem kerjasama dengan pihak swasta dan investor. Penyebabnya karena jika hanya mengandalkan hutang maka akan sulit ke depannya, karena hutang negara akan menumpuk. Dengan adanya investor maka akan melancarkan proyek strategis nasional.

Proyek strategis nasional harus sukses dan tetap dilanjutkan prosesnya di masa pandemi. Penyebabnya karena proyek ini berguna bagi seluruh rakyat Indonesia, tak hanya sekarang tetapi juga di masa depan. Oleh karena itu pemerintah menggencarkan investasi agar berbagai program tersebut dapat terealisasi sesuai jadwal.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute