Oleh : Zakaria )*

Mantan Eks Sekum FPI, Munarman berhasil dibekuk aparat kepolisian yang diduga terkait terorisme. Sebelumnya, Polisi juga telah menahan eks Pimpinan FPI Rizieq Shihab karena terbukti melanggar Prokes di masa pandemi Covid—19. Masyakarat mendukung pengusutan hukum terhadap para mantan elit FPI tersebut sebagai upaya penegakan hukum yang berkeadilan.

Densus 88 akhirnya menangkap Munarman karena terlibat dalam pembaiatan ISIS. Pihak Densus 88 juga tengah mengumpulkan bukti-bukti hubungan antara teror yang terjadi di berbagai wilayah di Tanah Air dengan peran Munarman. Meski demikian masih terlalu dini untuk disampaikan.

Munarman sendiri diduga menggerakkan orang lain, untuk melakukan tindak pidana terorisme, bermufakat jahat untuk melakukan tindak pidana terorisme dan menembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme.

Pengamat terorisme Ridwan Habib, meyakini bahwa Munarman tidak mungkin ditangkap oleh pihak kepolisian tanpa adanya pertimbangan yang matang. Ia menuturkan bahwa Densus 88 selalu menangkap orang dengan bukti yang kuat, belum pernah ada tersangka yang bebas di pengadilan.

Ia menilai, penangkapan Munarman merupakan bagian dari usaha Densus 88 dalam memenuhi tugasnya di bidang penanggulangan teror di Tanah Air. Publik diminta menunggu status apa yang nantinya disematkan kepada Munarman setelah proses pemeriksaan. Dalam UU No 5 Tahun 2018, Densus 88 memiliki waktu 14 hari pemeriksaan untuk menentukan status Munarman.

Selain itu, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Kepolisian Indonesia (Lemkapi), Edi Hasibuan, juga yakni bahwa Densus memiliki bukti yang cukup dalam menangkap Munarman.

Menurut dia, masyarakat harus memberikan kesempatan kepada penyidik untuk memeriksa Munarman dalam 7 kali 24 jam.

Pada kesempatan berbeda, Pengamat politik Prof Dr Hermawan Sulistyo mengatakan bahwa pihak kepolisian harus menelusuri adanya anggota dan mantan anggota FPI yang terlibat jaringan terorisme. Upaya penelusuran diharapkan dapat mencegah agar terorisme tidak semakin meluas dan bertambah.

Ia menambahkan, pemerintah juga harus dapat menelusuri dan kemudian memotong jalur-jalurnya, termasuk jalur dana.

Sementara itu, Kepala Pusat Riset Ilmu Kepolisian dan Kajian Terorisme Universitas Indonesia yang merupakan Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Benny Mamoto, mengungkap ada sekitar 37 anggota FPI yang pernah tersangkut kasus terorisme. Mereka tergabung dalam kelompok jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan Mujahidin Indonesia Timur.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI), Kiki mengingatkan agar pemerintah tidak lengah. Dirinya meminta agar pemerintah dapat segera melakukan kajian, apakah ormas tersebut masuk jaringan terorisme, dan apabila terbukti maka patut dibubarkan.

Kiki prihatin, karena semestinya pemerintah bisa mencegah agar jangan sampai FPI menjadi organisasi teroris. Hal tersebut bisa dilakukan jika kita mempunyai ‘road map’ yang jelas.

Kiki mengatakan, saat ini terjadi perang narasi, terutama yang berkembang di media sosial. Sehingga Pemerintah harus serius dalam menangani hal ini, jangan sampai kalah di medan perang dunia maya.

Sebelumnya, Benny Mamoto mengungkapkan terdapat 37 nama teroris yang memiliki latar belakang anggota FPI atau pernah bergabung dengan FPI. Benny menyebut bahwa salah satu dari daftar nama tersebut terlibat dalam kasus bom bunuh diri di masjid Polresta Cirebon.

Ada juga yang terlibat kelompok teroris JAD, ada pula yang terlibat kelompok teroris MIT Poso. Kemudian ada juga teroris yang mendapatkan senjata dari Filipina selatan.

Jika tidak segera ditindak, tentu saja jaringan ini akan semakin menyebarkan ideologinya kepada masyarakat, agar semakin banyak masyarakat yang mendukung aksi terorisme.

Sebagaimana diberitakan, puluhan tersangka teroris yang masuk dalam jaringan jamaah Ansharut Daulah (JAD) telah bawa ke Jakarta untuk proses lebih lanjut.

Tak lama setelah itu, muncul video salah satu tersangka teroris bernama Ahmad Aulia. Ia blak-blakan mengatakan bahwa dirinya adalah anggota FPI Makassar.

Ia juga memberi keterangan bahwa pada tahun 2015 silam, dirinya dan ratusan anggota FPI lainnya berbaiat kepada ISIS.

Ahmad Aulia juga mengatakan, dalam pembaiatan tersebut, hadir pula Munarman yang merupakan petinggi dari pengurus FPI Pusat.

Aksi tersebut tentu tidak mungkin terjadi apabila tidak ada rencana yang terstruktur, sehingga pengusutaan harus dilakukan untuk mengetahui akar masalah dan keterlibatan dukungan FPI terhadap aksi teror di Indonesia. Tentu kita semua sudah tahu, bahwa FPI pernah menyegel rumah Ibadah, padahal bukan hak mereka melakukan penyegelan tersebut.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Bogor

Oleh : Raavi Ramadhan )*

Teroris makin meresahkan masyarakat dengan membuat kejutan buruk berupa pengeboman dan penembakan. Densus 88 berusaha keras mengusut jaringan teroris, agar kedamaian di Indonesia tidak terusik lagi. Salah satu yang dicurigai terlibat terorisme adalah ormas terlarang yang baru dibubarkan oleh pemerintah, karena mereka punya tujuan serupa yang merugikan pemerintah.

Jaringan terorisme berusaha keras diungkap oleh Densus 88 dan BNPT. Mereka beroperasi secara diam-diam dan bekerja dengan mengejutkan. Tiba-tiba ada pengeboman di Makassar dan dilanjutkan dengan penembakan di Mabes Polri. Semuanya membuat aparat pusing karena mereka melakukan teror secara rahasia dan meresahkan masyarakat.

Untuk mengusut siapa saja yang menjadi anggota jaringan teror, maka butuh usaha khusus. Pasalnya, mereka bekerja secara gerilya dan belum terungkap siapa gembong teroris yang sebenarnya. Ketika ada teroris yang tertangkap, maka anak buahnya akan muncul, dan hal ini sangat memusingkan. Karena ternyata jumlah mereka melebihi perkiraan.

FPI diduga kuat sebagai anggota jaringan teroris. Ini bukanlah fitnah, karena ada beberapa bukti yang menyertai. Pertama, saat ada penangkapan teroris di daerah Condet, Jakarta, ditemukan kartu anggota FPI dan juga atributnya. Mereka juga mengaku sebagai anggota FPI, jadi kartu itu bukanlah palsu.

Kedua, ada bukti berupa video pendek yang menunjukkan bahwa Rizieq Shihab yang saat itu menjabat sebagai pemimpin FPI, mendukung ISIS. Padahal kita tahu sendiri bahwa ISIS adalah organisasi teroris dan memiliki jaringan internasional. Ketika Rizies sendiri mengaku simpatisan ISIS, maka ia mengungkap fakta bahwa ormas terlarang ini masuk dalam jaringan teroris.

Sedangkan yang ketiga, FPI sejak dulu berusaha agar mengubah ideologi Indonesia dan membuat negara khilafiyah. Padahal kita adalah negara demokrasi dan memiliki pancasila sebagai dasar negara. Khilafiyah sangat bersebrangan dengan prinsip-prinsip di Indonesia dan tidak cocok dengan negeri yang pluralis dan punya semangat bhinneka tunggal ika. Karena mereka menolak adanya keberagaman.

Terakhir, saat ada penangkapan terduga teroris sekaligus anggota FPI di Makassar bernama Ahmad Aulia, ia mengaku melihat sosok Munarman saat pembaiatan. Acara itu berada di bawah jaringan ISIS, sehingga kita bisa mengambil kesimpulan bahwa FPI adalah simpatisan ISIS. Buat apa Munarman datang kalau tidak diundang sebagai tamu kehormatan?
Dari sini kita bisa menyimpulkan bahwa FPI terlibat jaringan teroris. Untuk menancapkan pengaruhnya di Indonesia, maka ISIS mengutus para anggota FPI untuk bekerja di lapangan. Merekalah yang akhirnya membuat propaganda dan narasi bahwa pemerintah itu toghut, negeri khilafiyah itu sempurna, dll. Padahal itu semua hanya mimpi di siang bolong.

Meskipun Munarman dan eks pengurus FPI mengelak bahwa mereka terlibat jaringan teroris, tetapi sudah banyak bukti yang disodorkan. Apalagi saat rekening FPI dibekukan oleh pemerintah. Terungkap fakta bahwa ada transferan masuk dari rekening luar negeri, dan ketika ditelusuri, pengirimnya adalah donatur dari berbagai kelompok teroris.

Densus 88 antiteror dan BNPT masih terus berusaha untuk mengungkap semua anggota teroris di Indonesia dan apakah benar pengurus dan anggota FPI termasuk jaringan mereka. Bukti-bukti dan saksi diberikan, agar mereka mau mengakui dan akhirnya bertobat, serta mengakui perbuatannya karena nekat masuk dalam jaringan teroris.

Pengungkapan hubungan antara FPI sebagai ormas terlarang dan organisasi teroris seperti ISIS masih terus dilakukan. Masyarakat mendukung penuh kinerja Densus 88, agar mereka bekerja lebih giat untuk menangkap anggota teroris. Tujuannya agar masyarakat bisa hidup dengan damai, tanpa ada ketakutan teror bom atau serangan teroris yang lain.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Denis Septembedino )*

Pengeboman di sebuah rumah ibadah di Makassar mengguncang banyak orang. Mereka jadi takut saat akan pergi ke tempat publik. Kapolri meminta masyarakat untuk tidak paranoid, karena aparat makin siaga dalam mengamankan setiap tempat umum. Juga ada razia yang lebih intensif untuk mencegah terorisme dan pengeboman kembali.

Pubik dikejutkan dengan peristiwa pengeboman di Makassar. Tragedi ini menjadi perhatian banyak orang, karena dilakukan di sebuah rumah ibadah. Pengeboman mengisyaratkan bahwa teroris masih menancap di Indonesia dan selalu menggunakan tindak kekerasan untuk menakuti masyarakat dan mendapatkan keinginannya.

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu panik setelah ada pengeboman di Makassar. Karena kepolisian sudah menjamin keamanan dan ketertiban masyarakat. Polisi masih melakukan olah TKP dan mendalami siapa pelaku sebenarnya. Sehingga masyarakat diminta untuk tenang dan tidak paranoid.

Jenderal Listyo melanjutkan, Densus 88 antiteror akan terus melakukan penindakan terhadap kelompok teroris. Hal ini termasuk komitmen dari Korps Bhayangkara untuk memberangus jaringannya. Dalam artian, kepolisian selalu serius dalam menangkap tiap pelaku terorisme, sehingga ada pencegahan bagi mereka untuk melakukan radikalisme dan tindakan ekstrim lainnya.

Dalam peristiwa pengeboman kemarin memang kedua pelaku langsung tewas di tempat, karena mereka membawa bom untuk diledakkan, bukan melemparkan. Akan tetapi penelusuran tetap dilakukan dan diduga pelakunya adalah salah satu kelompok teroris yang markasnya ada di Filipina. Jaringannya masuk sampai ke Indonesia dan masih diselidiki siapa saja anggotanya.

Pasca pengeboman di Makassar, tiap rumah ibadah baik di sana maupun wilayah lain makin dijaga dengan ketat oleh aparat. Begitu juga dengan tempat umum lain. Penjagaan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pengeboman kembali. Tempat-tempat itu rawan dijadikan sasaran pengeboman, karena bisa menampung banyak orang.

Pengamanan ini membuat masyarakat lega karena mereka tak lagi waswas untuk pergi ke rumah ibadah. Saat akan berdoa, mereka tenang karena di luar sudah ada aparat yang menjaga dengan siap siaga. Keamanan masyarakat memang jadi prioritas, karena polisi adalah sahabat rakyat. Dalam artian, warga sipil selalu dilindungi agar mereka bisa tenang saat menjalankan aktivitas, termasuk beribadah.

Sementara itu, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono menyatakan bahwa Kepala Densus 88 langsung terbang ke Makassar untuk melakukan penyelidikan intensif terhadap kasus ini. Di sana, beliau dibantu oleh Korwil Densus, dan dibantu oleh Serse Polda dan Polrestabes. Sementara di TKP sudah dipasang police line dan dilakukan penyisiran untuk mendapatkan bukti-bukti yang otentik.

Langkah cepat kepolisian ini membuat masyarakat merasa aman karena mereka dengan sigap menyelidiki kasus pengeboman di Makassar. Memang kasus ini agak susah untuk diselidiki pada awalnya, karena tersangka langsung tewas di tempat (dengan kondisi yang mengenaskan). Namun Densus dan segenap aparat lain bekerja sama untuk menyelidikinya sampai benar-benar tuntas.

Diduga, pengeboman dilakukan karena di Sulawesi pernah ada penyisiran terhadap kelompok teroris. Mereka jadi membalas dendam dan melakukan pengeboman. Apapun alasannya, kekejian seperti ini tak diperbolehkan. Apalagi dilakukan di tempat ibadah yang suci. Kekejaman teroris sungguh membuat masyarakat sedih, karena mereka sudah kehilangan hati nurani.

Masyarakat diharap tidak terpancing dan tetap tenang setelah ada pengeboman di Makassar. Mereka bisa melakukan ibadah dengan khusyuk tanpa dibayang-bayangi kekejaman teroris, karena polisi dengan sigap menjaga di depan rumah ibadah. Terorisme tidak bisa dibenarkan, dan kelompok teroris harus diusut sampai ke akarnya, agar tidak membuat kekacauan di Indonesia.

)* Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)

Oleh: Rahmat Aldebaran )*

Jika FPI kerap melontarkan kalimat provokatif, adakah kemungkinan anggota FPI terlibat dalam jaringan teroris? Hal ini tentu saja perlu diusut secara tuntas, karena rupanya ada beberapa anggota teroris yang mengaku bahwa dirinya juga tergabung dalam FPI.

Ketua Tim Task Force Forum Advokat Pengawal Pancasila (FAPP) Petrus Selestinus meminta Densus 88 perlu melakukan pencekalan dan menahan eks Sekjen Front Pembela Islam (FPI) Munarman.

Pasalnya, Munarman diduga kuat hadir pada saat sejumlah anggota FPI atau eks anggota FPI dibaiat masuk jaringan teroris ISIS di Jalan Sungai Limboto Makassar, Sulawesi Selatan tahun 2015.

Menurut dia, perlu adanya penyelidikan dan penyidikan secara menyeluruh seluruh aktifitas FPI di masa lalu. Petrus menilai, selama 10 tahun terakhir ini ceramah eks pentolan FPI Rizieq Shihab mengandung narasi ancaman kekerasan sehingga menimbulkan suasana teror atau rasa takut di kalangan publik.

Oleh karena itu, sangatlah beralasan hukum jika terdapat Habib Rizieq dan Munarman perlu dilakukan penyelidikan dan penyidikan dengan instrumen UU Nomor 5 tahun 2018 tentang pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.

Selama 10 tahun terakhir ceramah Habib Rizieq di mimbar-mimbar dakwah selalu menebar kebencian dan teror yang menakutkan masyarakat luas yang koheren dengan aksi terduga teroris dari anggota FPI.

Terduga teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Ahmad Aulia, mengakui telah berbaiat kepada kelompok ISIS pimpinan Abu Bakr Al-Baghdadi. Ahmad yang disebut polisi juga merupakan anggota FPI tersebut, berhasil ditangkap pada 6 Januari lalu.

Dirinya menuturkan, ketika itu ia berbaiat bersama ratusan simpatisan dan laskar FPI di markas FPI Makassar yang berada di Jalan Sungai Limboto. Kegiatan baiat tersebut, menurutnya turut dihadiri oleh beberapa pengurus FPI termasuk Munarman.

Ahmad mengakui bahwa dirinya berbaiat bersama dengan 100 orang simpatisan dan laskar FPI. Ia berbaiat dihadiri oleh Munarman selaku Ustaz Basri yang memimpin baiat pada saat itu.

Setelah berbaiat, ia mengaku rutin mengukuti kegiatan taklim FPI Makassar. Dikonfirmasi secara terpisah, eks Sekretaris FPI Sulawesi Selatan (Sulsel), Agus Salim Syam, membantah bahwa bekas markas FPI di Jalan Sungai Limboto dijadikan tempat berbaiat.

Sebelumnya, Polisi juga memastikan bahwa belasan terduga teroris jaringan JAD dari Makassar yang akan dipindahkan ke Jakarta merupakan anggota aktif di Organisasi terlarang FPI.

Belasan tersangka tersebut akan menjalani pemeriksaan lanjutan di Jakarta oleh penyidik Densus 88 Antiteror Polri. Mereka dijadwalkan tiba di Bandara Soekarno Hatta.

Perlu diketahui bahwa Densus 88 Mabes Polri menangkap 26 terduga teroris di Makassar dan Gorontalo. Dari jumlah itu, 19 terduga teroris tersebut merupakan anggota FPI.

Karopenmas DivHuas Polri Brigjen Rusdi Hartono mengatakan, rombongan teroris tersebut ditangkap di sejumlah tempat di wilayah Makassar dan Gorontalo, Sulawesi Selatan.

Totalnya ada 26 tersangka terorisme dari Gorontali dan 19 orang dari Makassar. Tiga diantaranya adalah wanita.

Pengamat Politik sekaligus dosen Universitas Indonesia Ade Armando berpendapat mengenai eksistensi ormas pimpinan Habib Rizieq. Dirinya menganggap FPI bukanlah ormas yang berafiliasi pada ISIS. Namun, FPI merupakan ormas yang memiliki haluan sebagai kelompok teroris. Hal tersebut lantaran, FPI selama ini kerap melakukan kejahatan dan sejumlah teror kepada kelompok minoritas yang ada di tanah air.

Dalam kesempatan itu, Ade Armando juga menjelaskan tentang pengertian dari tindakan terorisme, yakni sekelompok orang yang kerap melakukan kekerasan kepada warga sipil demi terwujudnya tujuan politik ideologis kelompok mereka. Seperti ISIS, Al Qaeda, Jemaah Islamiyah, OPM dll.

Meski tidak sekeras ISIS dalam melakukan penyerangan kepada warga sipil di Irak dan Suriah, tindakan semacam inilah yang ia nilai dalam derajat tertentu tidak berbeda jauh dengan sikap keras FPI yang kerap meresahkan masyarakat.

Jelas sudah bahwa FPI menggunakan kekerasan untuk menyerang warga sipil yang dianggap bertentangan secara ideologis.

Rekam jejak aksi kekerasan yang dilancarkan oleh FPI masih terekam hingga sekarang, pemerintah terkesan kecolongan ketika mengetahui terdapat anggota FPI yang mengaku bahwa dirinya merupakan bagian dari jaringan teroris, tentu saja pembubaran FPI adalah hal yang sudah semestinya dilakukan.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Bandung