Oleh : Restu Pertiwi*)

Fenomena kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia semakin meresahkan. Hal ini membuat Zubairi Djoerban selaku Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) meminta Pemerintah agar memperketat kembali penerapan protokol kesehatan penanganan Covid-19 di tengah kenaikan kasus yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir.

Zubairi memahami kondisi psikologis masyarakat Indonesia sudah bosan dengan pengetatan selama dua tahun lebih pandemi Covid-19. Namun, ia mengingatkan penularan virus ini masih sangat fluktuatif dan berpotensi mengalami lonjakan terutama akibat kemunculan varian baru.

Berdasarkan riset data yang penulis temukan, tercatat selama periode 8-14 Juni 2022, jumlah kumulatif kasus konfirmasi Covid-19 sebanyak 4.349 kasus. Sementara pada periode sepekan sebelumnya atau 1-7 Juni 2022, kasus Covid-19 berjumlah 2.687 kasus. Perkembangan jumlah kasus kematian akibat Covid-19 juga menunjukkan tren kenaikan walaupun tidak signifikat. Selama periode 1-7 Juni 2022, kasus kematian Covid-19 berjumlah 33 kasus, lebih rendah dibandingkan data kematian sepekan terakhir yaitu 38 kasus kematian.

Oleh karena itu, penulis mengajak seluruh masyarakat untuk menerapkan kembali protokol kesehatan. Senada dengan penulis, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza juga mengingatkan warga Jakarta untuk kembali patuh, taat, dan disiplin serta bertanggung jawab untuk memperhatikan protokol kesehatan.

Riza berkata, kedisiplinan protokol kesehatan menjadi upaya penting untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 meskipun tingkat kesakitan dan gejala varian Omicron tidak terlalu berat. Per tanggal 15 Juni 2022, kasus aktif di Jakarta mencapai 3.282 kasus.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI, Dwi Oktavia mengatakan, jumlah orang yang menjalani perawatan atau isolasi, berdasarkan hasil penambahan kasus aktif per 15 Juni 2022 sebanyak 576 kasus. Orang yang menjalani perawatan atau isolasi disebut sebagai kasus aktif Covid-19

Oleh karena itu, Dwi menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan vaksinasi booster bagi warga yang telah lengkap mendapatkan vaksin dua dosis. Beliau juga mengatakan, penindakan atas pelanggaran penggunaan masker akan kembali digencarkan. Sanksi atas penindakan tersebut berupa kerja sosial, denda, penghentian sementara kegiatan, hingga pencabutan izin usaha. Menurut penulis, hal tersebut dilakukan agar masyarakat dapat lebih disiplin menerapkan protokol kesehatan dan turut berpartisipasi dalam memutus mata rantai penularan Covid-19.

Dari sudut pandang penulis, adaptasi dengan adanya virus Covid-19 ini bukan berarti kita tidak bisa hidup “normal”. Kita tetap bisa beraktivitas normal hanya dengan tambahan beberapa hal sebagai bagian dari adaptasi. Semua hal baru pasti tidak nyaman, namun terkadang kita harus keluar dari zona nyaman dalam menghadapi situasi ini untuk menjadi lebih baik.

Penulis juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga jarak, memakai masker, dan melakukan tes apabila merasa tidak enak badan. Kita juga harus tetap melacak trend infeksi pada kelompok beresiko, melacak trend “varian of concern” yang bersikulasi dan bisa merebak. Walaupun dilihat dari sudut pandang evolusi virus bisa dikatakan masih jauh dari kata berakhir, kabar baiknya adalah vaksin terus bekerja dengan baik karena sangat signifikan menurunkan tingkat rawat inap di RS, ICU, dan kematian.

Kesimpulan yang bisa penulis sampaikan yaitu dengan bertambahnya kasus baru Covid-19 yang cukup signifikan, kita sebagai masyarakat harus menjalani protokol kesehatan dengan ketat kembali, menjaga pola makan dan kesehatan diri dengan berolahraga. Sehingga kita turut membantu Pemerintah dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 di Indonesia dan harapannya pandemi Covid-19 dapat segera berakhir.

*Penulis adalah kontributor Trilogi Institute

Oleh : Abdul Hamid )*

Masyarkat diharapkan untuk selalu taat Protokol Kesehatan (Prokes) dan terus mengikuti vaksinasi. Dengan ketaatan terhadap kedua hal tersebut maka diharapkan kasus Covid-19 jelang Ramadhan dapat ditekan, sehingga masyarakat dapat beribadah dengan tenang.

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Lagi-lagi kita harus menjalani bulan puasa di tengah pandemi. Kita wajib menjalani semuanya dengan ikhlas dan sabar, meskipun di masa sulit akibat pandemi Covid-19. Pandemi tidak menghalangi tubuh untuk berpuasa. Jika mematuhi protokol kesehatan dan sahur dengan makanan bergizi maka akan terhindar dari kemungkinan penularan Corona.

Menko Manives Luhut B Pandjaitan menyatakan, “Pemerintah akan mengakselerasi vaksinasi lengkap, terutama untuk lansia. Vaksinasi lengkap dan booster untuk mendukung kegiatan di bulan ramadhan dan idul fitri. Masyarakat perlu taat protokol kesehatan (prokes) agar tidak terjadi lonjakan kasus Corona.”
Dalam artian, jelang Ramadhan kita memang harus makin waspada akan Corona. Pasalnya ada beberapa kegiatan di bulan puasa, yang jika dilakukan tanpa menaati protokol kesehatan, akan bisa menaikkan kasus Covid.
Misalnya pasar takjil. Kita tidak bisa melarang para pedagang untuk berjualan es campur atau snack. Akan tetapi perlu diatur agar pengunjung pasar selalu menjaga jarak dan semuanya memakai masker dengan posisi yang benar.

Selain itu, protokol kesehatan harus ditaati saat beribadah. Misalnya ketika salat tarawih. Umat sudah boleh salat berjamaah dan merapatkan saf tetapi semua yang masuk masjid harus mengenakan masker. Mereka juga wajib wudhu terlebih dahulu di rumah, agar meminimalisir kontak di arena keran wudhu. Ketaatan prokes akan membuat penurunan kasus Corona.

Memang saat ini ada penurunan jumlah pasien, dari 26.000-an per hari pada akhir bulan lalu, jadi hanya 11.000 per hari pada pertengahan bulan ini. Akan tetapi kita masih harus meningkatkan kewaspadaan karena angka 11.000 masih cukup tinggi. Jangan sampai ada lonjakan kasus lagi sehingga pandemi entah kapan berakhir.

Menteri Luhut melanjutkan, “Vaksinasi harus dikejar agar tidak terjadi lonjakan kasus dan menaikkan tingkat keterisian Rumah Sakit serta kematian, nanti saat puasa dan idul fitri.” Dalam artian, untuk mencegah penuhnya RS maka cakupan vaksinasi harus dinaikkan. Saat banyak yang vaksin maka akan aman untuk berpuasa karena tubuh punya imunitas tinggi.

Saat ini cakupan vaksinasi di Indonesia baru 50%. Untuk meraih target yang diberi oleh pemerintah, yakni 18 bulan pasca pembukaan vaksinasi nasional (berarti september 2022 karena suntikan pertama pada maret 2021), maka vaksinasi perlu digencarkan.

Sesuai dengan arahan Menteri Luhut maka yang perlu diperhatikan adalah vaksinasi lansia. Untuk itu maka perlu diadakan lagi vaksinasi door to door, karena lansia memiliki kemampuan mobilitas yang terbatas. Dengan begitu mereka semua bisa divaksin tanpa kelelahan saat mengantri untuk disuntik di Rumah Sakit.

Jika semua orang sudah divaksin maka selain kuat berpuasa, akan meyakinkan pemerintah bahwa tahun ini aman untuk mudik. Masyarakat sudah rindu karena hampir 3 tahun tidak pulang kampung. Mereka akan diperbolehkan mudik dengan syarat harus vaksin 2 kali dan menunjukan hasil tes PCR yang negatif.
Untuk menjalankan ibadah puasa dengan sehat dan aman maka semua orang harus menaati protokol kesehatan dan tidak boleh melepas masker. Selain itu, vaksinasi juga penting karena bisa menaikkan imunitas tubuh. Kita bisa beribadah dengan lancar tanpa takut kena Corona.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Syarifudin )*

Kasus Corona naik drastis akibat masuknya Omicron ke Indonesia. Masyarakat diminta untuk tidak panik menghadapi naiknya kasus tersebut dengan selalu taat Prokes dan menghindari kerumunan.

Apakah Anda sudah takut untuk keluar rumah gara-gara kenaikan kasus Corona? Memang sedih sekali ketika 2 bulan lalu keadaan stabil dan kurva pasien Covid menurun tetapi gara-gara masuknya Omicron di januari lalu membuat ledakan jumlah pasien, sehingga yang terinfeksi per harinya di atas 20.000 orang. Situasi ini tentu mencemaskan dan ada yang takut akan datangnya serangan Covid gelombang ketiga, bahkan lockdown.

Presiden Jokowi berpesan ke seluruh masyarakat Indonesia agar tidak panik menghadapi kenaikan kasus Corona. Tetap jaga imunitas, protokol kesehatan, dan kurangi beraktivitas di luar (yang tak diperlukan). Dalam artian, kita tak perlu takut ketularan virus Covid-19 walau Omicron sedang mengganas, karena jika taat protokol kesehatan (dan sudah divaksin) akan selamat.

Protokol kesehatan memang harus diperketat lagi terutama pada poin mengurangi mobilitas. Sedihnya, beberapa minggu ini masyarakat malah asyik traveling, mulai dari ke luar kota bahkan ke luar negeri. Benar saja, mereka akhirnya kena Corona saat perjalanan pulang dan membawa Omicron masuk ke Indonesia.

Padahal Omicron yang harus diwaspadai karena menular 70 kali lebih cepat daripada delta atau varian Corona lainnya. Jika 1 orang menulari 70 orang sementara banyak yang kena Omicron, jelas terjadi penularan massal dan wajar jika terjadi ledakan jumlah pasien Covid di Indonesia.
Tak perlu berlebihan atau paranoid dalam menghadapi Omicron tetapi juga harus tetap waspada. Protokol kesehatan harus dijaga lagi dan jangan lupa untuk pakai masker, bahkan WHO merekomendasikan masker ganda alias masker disposable di dalam dan masker kain di luar. Tujuannya agar memperkuat filtrasi.

Selain memakai masker, masyarakat juga diminta untuk tetap menjaga jarak. Jika kantor sudah full work from office maka harus diperhatikan lagi letak kursi dan meja pegawai, jangan terlalu dekat hingga menempel per kubikel. Selain itu perhatikan juga sirkulasi ruangan dan selalu bersihkan AC serta kipas angin, karena virus Covid-19 bisa menyebar di udara yang pengap dan kotor.

Jaga jarak juga wajib diberlakukan di sekolah-sekolah dan akhirnya pemerintah daerah sepakat untuk mengganti aturan, dari pembelajaran tatap muka (PTM) 100% menjadi hanya 50%. Kebijakan PTM direvisi karena takut anak-anak kena Corona, apalagi murid SD yang kadang lupa untuk mengenakan masker dengan posisi yang benar.

Masyarakat juga harus tetap menjaga jarak saat di ruang publik, dan pengelolanya juga harus disiplin. Saat peraturan menyebutkan bahwa kapasitas maksimal di pusat perbelanjaan atau kafe hanya 50%, jangan malah dilanggar. Penyebabnya karena jika dilanggar maka tentu akan ditegur keras oleh aparat keamanan dan mereka harus membayar denda, serta merelakan tempatnya disegel.

Semua aturan dalam protokol kesehatan dibuat demi keselamatan masyarakat, bukan untuk menentang kebebasan mereka. Sadarilah bahwa saat ini masih masa pandemi sehingga semuanya wajib memakai masker dan menaati poin-poin lain dalam protokol kesehatan.

Masyarakat tak usah takut berlebihan dalam menghadapi lonjakan kasus Corona di Indonesia, gara-gara masuknya Omicron. Tak kan ada lockdown atau aturan yang terlalu ketat. Hanya saja kita wajib untuk tetap waspada dan meningkatkan kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan, menjaga kesehatan tubuh, dan menjalani vaksinasi.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Pekanbaru

Oleh : Muhammad Yasin )*

Masyarakat diminta untuk mewaspadai politisasi kenaikan kasus Covid-19 jelang Ramadhan. Kenaikan kasus Covid-19 murni karena tingginya mobilitas warga dan adanya varian Omicron.

Pandemi sudah kita lalui selama dua tahun dan apakah Anda mulai bosan mengenakan masker atau malah makin menjaga jarak dan mengurangi mobilitas dengan ketat? Memang lama-lama kondisi ini membuat mental lelah karena belum tahu kapan berakhir. Akan tetapi kita harus tetap optimis karena jika semuanya disiplin dalam protokol kesehatan (prokes) dan sudah divaksin, maka herd immunity akan cepat terbentuk dan pandemi bisa berakhir.

Sebentar lagi bulan Ramadhan dan mulai ada selentingan di luar sana, bahwa sudah dua kali selalu ada kenaikan kasus Corona sebelum bulan puasa. Apakah ada sesuatu di baliknya? Isu ini langsung ditangkis oleh juru bicara khsusus vaksinasi Kementrian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi. Menurut dokter Siti, tak ada hubungan antara kenaikan kasus dengan urusan keyakinan dan hari raya.

Dokter Siti menambahkan, dalam dua tahun terakhir memang ada lonjakan kasus Corona sebelum Ramadhan tetapi penyebabnya adalah masyarakat yang meneruskan tradisi untuk ziarah kubur. Rata-rata makam orang tua dan leluhurnya ada di luar kota, sehingga mereka mudik sebelum waktunya. Mobilitas masyarakat yang tinggi ini yang menyebabkan kenaikan kasus Corona.

Keterangan dari dokter Siti ini menampik tudingan kepada pemerintah dan Kementrian Kesehatan. Tidak ada kongkalingkong atau permainan di balik angka pasien Corona yang melonjak. Jangan negative thinking dulu, karena penyebabnya jelas mobilitas warga yang naik. Kesalahan ada di masyarakat yang nekat bepergian padahal jelas masa pandemi yang rawan penularan Corona saat banyak yang melakukan perjalanan jauh.

Apalagi jika kenaikan kasus Corona sebelum Ramadhan dikaitkan dengan larangan mudik. Memang tahun 2020 dan 2021 ada larangan keras untuk mudik dan penyekatan di mana-mana. Akan tetapi belum tentu 2022 ada larangan mudik, karena tergantung dari kasus Corona di Indonesia. Jika sudah menurun dan keadaan dipastikan aman, maka masyarakat boleh pulang kampung, asal mematuhi protokol kesehatan.

Kita harus tetap sabar dan positive thinking, ketika angka pasien Corona naik maka harus makin ketat dalam menjalankan protokol kesehatan. Jangan malah menyalahkan pemerintah karena seharusnya evaluasi. Naiknya kasus Covid di Indonesia karena masuknya varian omicron yang didapatkan dari transmisi luar negeri, bukan karena disengaja.

Agar sebelum Ramadhan tidak ada kenaikan kasus Corona yang meroket maka semua orang harus tetap disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. Terutama pada poin mengurangi mobilitas. Memang berdoa untuk almarhum orang tua atau kakek dan nenek memang baik, tetapi doa bisa dipanjatkan di mana saja. Jangan memaksakan diri untuk mudik dengan tujuan ziarah kubur, karena masih masa pandemi yang sangat rawan.

Selain itu, tak henti-hentinya pemerintah meminta masyarakat untuk tetap memakai masker, bahkan mengenakan masker ganda dengan posisi masker sekali pakai di dalam dan masker kain di bagian luar. Jangan hanya memakai masker saat ada razia, karena masker harus digunakan saat berada di luar rumah, bahkan hanya di teras sekalipun.

Naiknya kasus Corona sebelum Ramadhan bukanlah sebuah konspirasi kesehatan tetapi adalah akibat dari kenaikan mobilitas masyarakat yang beramai-ramai mudik untuk nyekar. Jangan berpikiran negatif dan mengaitkannya dengan permainan pemerintah. Kenaikan ini terjadi murni karena pelanggaran protokol kesehatan, bukan angka yang dibuat-buat untuk nantinya mengekang kebebasan masyarakat.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Raffles Silaban )*

Masyarakat perlu mewaspadai kenaikan kasus Covid-19 di Sejumlah Daerah. Kewaspadaan ini perlu diimplementasikan dengan terus menerapkan Prokes ketat selama beraktivitas.
Meski secara umum kasus terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia menunjukkan pelandaian kasus, Prof. Wiku Adi Sasmito selaku Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 menyatakan bahwa terdapat 5 provinsi yang mencatatkan kenaikan kasus positif tertinggi jika dibandingkan dengan minggu sebelumnya.

Kelima Provinsi tersebut yakni Papua Barat yang mengalami kenaikan sebanyak 100 kasus, DI Yogyakarta naik 77 kasus, DKI Jakarta naik 46 kasus, Sulawesi Tenggara naik 7 kasus dan kepulauan Bangka Belitung naik 5 kasus.

Meski penambahan ini terbilang sedikit, namun masih terhitung besar jika dibandingkan dengan provinsi lain yang tidak mengalami kenaikan kasus, dirinya juga memohon kepada semua gubernur dari kelima provinsi yang mengalami kenaikan pada minggu ini agar segera berkoordinasi dengan bupati dan wali kota di bawahnya untuk mengantisipasi kenaikan kasus pada minggu berikutnya.

Pemerintah daerah juga diminta mengantisipasi adanya kenaikan kasus di minggu berikutnya serta terus meningkatkan pencegahan penularan Covid-19 di wilayahnya. Meski demikian, secara nasional pada minggu ini telah terjadi penurunan kasus Covid-19 sebesar 12,2 % dibandingkan minggu sebelumnya.

Selain itu angka kematian akibat Covid-19 juga mengalami penurunan, bahkan angka penurunan pada minggu ini jauh lebih rendah dari penurunan angka kasus positif yaitu turun hingga 31,7 %.

Sayangnya, masih ada 5 provinsi yang tetap mencatatkan angka kematian di minggu ini. Kelima provinsi tersebut adalah Sulawesi Utara yang mengalami 5 kasus kenaikan kematian, Sumatera Barat naik 3 kasus kematian, Sulawesi Selatan naik 2 kasus kematian, Riau naik 2 kasus kematian dan Kalimantan Barat naik 1 kasus kematian.

Meski jumlah kematiannya sedikit, tetapi kewaspadaan harus tetap dijaga karena satu nyawa pun terhitung sangat berharga jika tujuannya adalah endemik Covid-19, sehingga kematian 1 kasus pun tidak bisa ditoleransi.

Prof. Wiku juga mengungkapkan, 5 provinsi dengan jumlah kasus aktif tertinggi pada pekan ini. Kelima provinsi tersebut yakni Jawa Tengah dengan 1.650 kasus, Papua 1.629 Kasus, Jawa Barat 1.568 kasus, DKI Jakarta 1.536 kasus dan Kalimantan Utara dengan 738 kasus aktif. Dirinya berujar, kepada gubernur dari 5 provinsi ini agar segera berkoordinasi dengan bupati-wali kota yang menjadi penyumbang tertinggi.

Wiku mengingatkan apabila indikator tersebut baik kasus positif, pasien meninggal dan kasus aktif dapat segera diturunkan. Tentunya perkembangan Covid-19 di tingkat nasional akan membaik dan Indonesia akan semakin siap menuju Endemi Covid-19.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikit melaporkan bahwa sebanyak 155 kabupaten atau kota saat ini mengalami kenaikan kasus Covid-19. Dirinya juga mengimbau di mana kewaspadaan perlu dilakukan karena lonjakan kasus sedang terjadi di negeri tetangga (Malaysia) termasuk adanya varian AY.4.2 yang merupakan turunan virus Corona varian Delta B1.167.2 yang bermutasi.

Budi juga mengatakan, bahwa setiap hari pihaknya melakukan 1.500 sampai 1.800 pemeriksaan whole genome sequencing (WGS) setiap hari untuk mendeteksi varian virus baru termasuk varian AY.4.2. Budi juga menegaskan bahwa pihaknya akan menjaga perbatasan, apalagi banyak orang Indonesia yang pulang pergi dari Malaysia baik darat, laut dan udara untuk menahan masuknya virus baru ke Indonesia.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo juga telah meminta kepada para kepala daerah agar tetap berhati-hati dan mewaspadai kenaikan kasus Covid-19 sekecil apapun di wilayahnya. Jokowi menyebutkan bahwa sejumlah daerah di Indonesia sempat mengalami kenaikan kasus virus Corona meskipun jumlahnya sedikit.

Dirinya juga mengingatkan agar semua pihak dapat memaksimalkan penggunaan platform aplikasi pedulilindungi, utamanya di mal, tempat wisata dan pasar-pasar. Dirinya juga meilhat masih ada tempat-tempat tersebut yang belum tersedia QR Code peduliLindungi tetapi tetap beroperasi.

Di sisi lain, Jokowi juga mengingatkan kepada seluruh kepala daerah agar terus mempercepat vaksinasi untuk melindungi rakyat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Dirinya menuturkan bahwa vaksinasi menjadi sesuatu yang penting karena vaksinasi mampu melindungi rakyat dari terpaparnya Covid-19.

Kewaspadaan tidak boleh kendor, kenaikan kasus Covid-19 meski tampak kecil harus tetap diwaspadai karena status pandemi belum berakhir.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Dedi Irawan )*

Masyarakat diharapkan tidak lengah terhadap penurunan kasus Covid-19 yang terjadi belakangan ini. Jika masyarakat lengah dan kendur dalam menerapkan Prokes, maka besar kemungkinan terjadi ledakan Covid-19 seperti yang terjadi di negara lain.
Ada kabar gembira di tengah pandemi ketika kasus Corona diberitakan terus menurun. Dari 50.000 pasien per harinya, pelan-pelan angkanya mengecil jadi 20.000, 10.000, 5.000, dan kini hanya 1.000-an kasus harian. Ini adalah sebuah prestasi besar, karena hanya dalam waktu 2 bulan Corona bisa dikendalikan dengan baik.

Dokter Wiku Adisasmito menyatakan bahwa positivity rate di Indonesia turun hingga tidak sampai 5%. Ini adalah angka yang bagus karena menunjukkan rendahnya penularan Corona di negeri ini. Berarti program-program pemerintah seperti vaksinasi dan PPKM menunjukkan hasilnya, dan masyarakat mulai tenang karena Corona tidak seganas 2-3 bulan lalu.

Namun perlu diingat, saat situasi adem ayem maka ini bisa jadi sebuah marabahaya, karena pada masa tenang bisa jadi ada serangan lagi. Prediksi ahli epidemiologi, pada akhir tahun 2021 ada potensi naiknya gelombang Corona alias serangan yang ketiga. Jadi kita wajib bersiap-siap dan tentu saja berusaha agar hal itu tidak terjadi, karena jika memang iya, efeknya akan sangat mengerikan.

Ketika kurva mulai menurun maka berpotensi akan naik lagi dan sudah ada rumusan yang diteliti oleh para ahli epidemiologi. Oleh karena itu mereka bisa memprediksi serangan Corona gelombang ketiga, karena kenyataannya setelah ada serangan pertama, lalu melandai, ada lagi kenaikan kasus Covid. Jika ini terjadi lagi maka akan sangat memusingkan karena jumlah pasien Covid naik lagi.

Kita tentu tidak ingin berakhir dengan mengenaskan di ranjang RS gara-gara Corona. Oleh sebab itu, masih harus meningkatkan kewaspadaan, walaupun jumlah pasien Covid menurun drastis. Ingatlah saat ini masih masa pandemi sehingga masih ada potensi penularan Corona di Indonesia. Jadi tidak boleh malas pakai masker dan melanggar poin lain dalam protokol kesehatan.

Saat keadaan cukup aman maka kita tidak boleh bersantai lalu mengundang banyak orang untuk pesta barbeque di rumah. Meski judulnya ‘di rumah saja’ tetapi berbahaya karena mengundang orang dari luar. Kita tidak tahu di antara mereka siapa yang jadi OTG dan siapa yang sehat, dan jangan sampai ketularan Corona dari mereka. Sepintas memang seperti paranoid, tetapi di masa pandemi memang harus meningkatkan kewaspadaaan.

Ingatlah bahwa saat ini sudah ada klaster keluarga, yang ditularkan dari klaster perkantoran. Sang ayah kena Corona dari tempat kerja lalu menularkannya juga ke istri dan anak-anaknya. Jika ia tidak ketularan dari rekan kerja maka bisa saja kena Corona saat makan-makan di rumah, yang mengundang banyak orang, karena virus Covid-19 bisa mengintai saat banyak yang melepas masker saat akan menyuapkan hidangan.

Peningkatan kewaspadaan juga bisa dilakukan dengan mandiri, dalam artian kita bisa inisiatif untuk tes rapid secara teratur. Misalnya sebulan sekali atau bahkan 3 kali, jika mobilitas cukup tinggi (karena alasan kesehatan). Setelah screening mandiri dan dinyatakan sehat, maka juga wajib mematuhi prokes 10M. Meski ada di dalam mobil tetap wajib pakai masker, demi keamanan bersama.

Menurunnya kasus Corona di Indonesia membuat kita agak lega tetapi jangan terlena dan ogah-ogahan pakai masker. Prokes masih harus ditaati agar tidak ketularan Corona, dan memang lebih baik mencegah daripada mengobati. Daripada terlanjur sesak nafas karena terjangkiti virus Covid-19, dan berpotensi kehilangan nyawa karena belum mendapatkan vaksin.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Savira Ayu )*

Angka pasien corona di Indonesia sudah turun drastis. Namun kita semua wajib waspada akan datangnya corona gelombang ketiga yang berpotensi kembali terjadi jika masyarakat abai Prokes.

Kita semua bernafas lega karena akhirnya jumlah pasien Covid menurun drastis. Jika 2 bulan lalu mencapai 50.000-an orang per hari, maka sejak agustus 2021 menjadi ‘hanya’ 4.000-an pasien per harinya, alias tidak sampai 10%. Menurunnya angka pasien corona karena kebijakan PPKM yang diberlakukan dengan ketat, sehingga mobilitas jauh berkurang dan penularan virus Covid-19 juga berkurang.

Akan tetapi jangan santai dulu ketika angka pasien corona menurun, karena ada potensi mengalami kenaikan. Para ahli epidemiologi emmprediksi di akhir tahun 2021 bisa terjadi corona gelombang ketiga, karena melihat kurva pasien pada 2 tahun ke belakang. Sehingga bisa diperkirakan, akan ada kenaikan jumlah pasien setelah sebelumnya mengalami penurunan.

Prediksi epidemiologi memang belum terbukti, tetapi tidak ada salahnya berjaga-jaga. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? Lebih baik memperketat prokes dan meningkatkan imunitas tubuh. Daripada sudah terlanjur kena corona lalu menahan sesak di dada selama 2 minggu, lalu mersakan efek after Covid yang membuat badan lemas.

Masa tenang harus membuat kita waspada, karena jika di masa tenang malah berbahaya karena orang merasa corona sudah minggat, padahal pandemi masih belum dinyatakan selesai oleh WHO. Ketika makin sedikit pasien Covid-19 di Rumah Sakit, maka jangan sampai ada pelonggaran protokol kesehatan di masyarakat.

Warga sipil jangan lengah dan melepas masker begitu saja karena makin sedikit yang kena corona. Penyebabnya karena masker adalah proteksi paling penting dari droplet yang membawa virus Covid-19. Bahkan kita masih harus mengenakan masker ganda, sesuai anjuran WHO, dengan posisi masker kain di luar dan masker medis di dalam. Tujuannya agar menaikkan tingat filtrasi droplet menjadi lebih dari 90%.

Selain itu, jangan lupa untuk selalu mencuci tangan, baik ketika sampai di suatu tempat maupun sampai rumah. Saat bepergian jangan lupa pula bawa hand sanitizer untuk berjaga-jaga apabila kesulitan menemukan keran atau wastafel saat akan cuci tangan. Lagipula hand sanitizer harganya tidak terlalu mahal dan bisa dengan mudah didapatkan di minimarket.

Prokes lain yang wajib untuk ditaati adalah menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Jangan datang ke pesta atau acara yang berpotensi mengundang keramaian, karena mereka jelas melanggar prokes. Sanksi dari tim satgas penanganan Covid sudah menanti. Lagipula acara seperti itu jelas berbahaya karena bisa menyebabkan klaster corona baru.

Jangan pula datang ke tempat yang ramai seperti pasar, karena kita tidak tahu berapa persen orang di dalamnya yang memakai masker. Lebih aman untuk belanja via marketplace atau aplikasi tukang sayur. Jika terpaksa harus ke pasar, maka datanglah pagi atau habis subuh, karena relatif masih sepi dan belumterbentuk kerumunan.

Semua tindakan ini dijalankan agar kita semua selamat dari corona, karena jangan sampai masa tenang malah menghanyutkan banyak orang. Saat pasien Covid hanya sedikit maka jangan sampai bersantai dan malas menaati prokes, karena corona masih bisa mengintai diam-diam.

Kita semua wajib waspada akan potensi serangan corona gelombang ketiga yang diprediksi oleh ahli epidemiologi. Jangan sampai gara-gara malas pakai masker dan tidak menaati prokes lain, maka tertular virus Covid-19 dan jadi menderita selama 2 minggu. Tetaplah waspada karena pandemi belum dinyatakan selesai oleh WHO.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Savira Ayu )*

Angka pasien corona di Indonesia sudah turun drastis. Namun kita semua wajib waspada akan datangnya corona gelombang ketiga yang berpotensi kembali terjadi jika masyarakat abai Prokes.

Kita semua bernafas lega karena akhirnya jumlah pasien Covid menurun drastis. Jika 2 bulan lalu mencapai 50.000-an orang per hari, maka sejak agustus 2021 menjadi ‘hanya’ 4.000-an pasien per harinya, alias tidak sampai 10%. Menurunnya angka pasien corona karena kebijakan PPKM yang diberlakukan dengan ketat, sehingga mobilitas jauh berkurang dan penularan virus Covid-19 juga berkurang.

Akan tetapi jangan santai dulu ketika angka pasien corona menurun, karena ada potensi mengalami kenaikan. Para ahli epidemiologi emmprediksi di akhir tahun 2021 bisa terjadi corona gelombang ketiga, karena melihat kurva pasien pada 2 tahun ke belakang. Sehingga bisa diperkirakan, akan ada kenaikan jumlah pasien setelah sebelumnya mengalami penurunan.

Prediksi epidemiologi memang belum terbukti, tetapi tidak ada salahnya berjaga-jaga. Bukankah lebih baik mencegah daripada mengobati? Lebih baik memperketat prokes dan meningkatkan imunitas tubuh. Daripada sudah terlanjur kena corona lalu menahan sesak di dada selama 2 minggu, lalu mersakan efek after Covid yang membuat badan lemas.

Masa tenang harus membuat kita waspada, karena jika di masa tenang malah berbahaya karena orang merasa corona sudah minggat, padahal pandemi masih belum dinyatakan selesai oleh WHO. Ketika makin sedikit pasien Covid-19 di Rumah Sakit, maka jangan sampai ada pelonggaran protokol kesehatan di masyarakat.
Warga sipil jangan lengah dan melepas masker begitu saja karena makin sedikit yang kena corona.
Penyebabnya karena masker adalah proteksi paling penting dari droplet yang membawa virus Covid-19. Bahkan kita masih harus mengenakan masker ganda, sesuai anjuran WHO, dengan posisi masker kain di luar dan masker medis di dalam. Tujuannya agar menaikkan tingat filtrasi droplet menjadi lebih dari 90%.

Selain itu, jangan lupa untuk selalu mencuci tangan, baik ketika sampai di suatu tempat maupun sampai rumah. Saat bepergian jangan lupa pula bawa hand sanitizer untuk berjaga-jaga apabila kesulitan menemukan keran atau wastafel saat akan cuci tangan. Lagipula hand sanitizer harganya tidak terlalu mahal dan bisa dengan mudah didapatkan di minimarket.

Prokes lain yang wajib untuk ditaati adalah menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Jangan datang ke pesta atau acara yang berpotensi mengundang keramaian, karena mereka jelas melanggar prokes. Sanksi dari tim satgas penanganan Covid sudah menanti. Lagipula acara seperti itu jelas berbahaya karena bisa menyebabkan klaster corona baru.

Jangan pula datang ke tempat yang ramai seperti pasar, karena kita tidak tahu berapa persen orang di dalamnya yang memakai masker. Lebih aman untuk belanja via marketplace atau aplikasi tukang sayur. Jika terpaksa harus ke pasar, maka datanglah pagi atau habis subuh, karena relatif masih sepi dan belumterbentuk kerumunan.

Semua tindakan ini dijalankan agar kita semua selamat dari corona, karena jangan sampai masa tenang malah menghanyutkan banyak orang. Saat pasien Covid hanya sedikit maka jangan sampai bersantai dan malas menaati prokes, karena corona masih bisa mengintai diam-diam.

Kita semua wajib waspada akan potensi serangan corona gelombang ketiga yang diprediksi oleh ahli epidemiologi. Jangan sampai gara-gara malas pakai masker dan tidak menaati prokes lain, maka tertular virus Covid-19 dan jadi menderita selama 2 minggu. Tetaplah waspada karena pandemi belum dinyatakan selesai oleh WHO.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Kevin Harahap )*

PPKM yang diberlakukan di luar pulau Jawa dan Bali ampuh dalam menurunkan kasus Corona. Oleh karena itu ketika program ini diperpanjang maka diharapkan dapat dipatuhi demi keselamatan bersama.

Ketika masa PPKM hampir habis, kita khawatir menunggu pengumuman, apakah diperpanjang lagi atau tidak. Saat ada pidato yang mengumumkan perpanjangannya, maka ada yang menyimpan kekecewaan karena berharap program ini dihentikan. Namun lebih banyak lagi yang legowo karena paham, kasus Corona di Indonesia masih cukup menyedihkan, sehingga wajar jika PPKM diperpanjang terus-menerus.

Presiden Jokowi menyatakan bahwa memang ada penurunan tren pasien Covid pada awal Agustus 2021 di Jawa tetapi di luar pulau malah ada kenaikan. Sehingga pemerintah memutuskan untuk memperpanjang PPKM di luar Jawa dan Bali sampai 2 minggu sekaligus, yakni sampai 6 september 2021. Diharap perpanjangan ini bisa mengendalikan kasus Corona.

Menurut data tim satgas Covid, setelah ada perpanjangan PPKM (yang durasinya jauh lebih lama daripada di Jawa), maka ada penurunan jumlah pasien Covid hingga 9,6%, di luar Jawa dan Bali. Hal ini amat bagus karena diharap kasus Corona, baik di luar pulau maupun di Jawa, sama-sama turun. Sehingga jumlah total pasien Covid di Indonesia akan terus mengecil.

Keberhasilan PPKM di luar Jawa-Bali amat disyukuri karena tak sia-sia membatasi mobilitas masyarakat. Mereka juga paham bahwa program ini diberlakukan dengan durasi yang lebih lama daripada di Jawa, karena memang kasusnya pada minggu lalu lebih tinggi daripada di Jawa. Daripada ngotot untuk menghentikan PPKM dan akhirnya kena Corona, lebih baik menaati aturan program ini dan selamat dari bahaya virus Covid-19.

Dengan durasi PPKM di luar Jawa-Bali yang sengaja diperpanjang daripada di Jawa, diharap pasien Corona akan lebih sedikit lagi. Sehingga angka kasus Covid akan terus ditekan, kalau bisa sampai 0% alias tidak ada yang tertular Corona. Penyebabnya karena semua orang disiplin dalam menaati aturan PPKM dan juga menjalankan protokol kesehatan 10M dengan disiplin.

PPKM di luar Jawa-Bali memang sengaja diperpanjang dan lebih ketat aturannya, karena ada perbedaan antara di sana dengan di Jawa. Jika di Jawa ada banyak RS dan pusat kesehatan dengan fasilitas dan tenaga medis yang komplit, maka belum tentu di luar Jawa ada. Kalaupun ada, maka jumlahnya lebih sedikit, sehingga takut pasien akan berebut untuk menggunakan tabung oksigen, ventilator, dll.

Selain itu. Di luar Jawa-Bali ada yang wilayahnya berupa kepulauan, misalnya di NTT dan NTB, sehingga untuk mengendalikan kasus Corona bisa terhalang oleh jarak dan waktu. Sehingga di sana diharap masyarakat lebih menaati aturan PPKM dan tidak hanya memakai masker saat ada petugas yang merazia ke lapangan. Mereka seharusnya sadar dan menaati protokol kesehatan tanpa harus disuruh.

Kedisiplinan adalah kunci dari suksesnya PPKM, baik di Jawa maupun di luar Jawa-Bali. Seharusnya semua orang punya inisiatif untuk memakai masker dan menaati protokol kesehatan 10M, dan sadar bahwa saat ini masih masa pandemi. Sehingga harus lebih menjaga kesehatan dan imunitas tubuh.

PPKM di luar Jawa dan Bali durasinya memang sengaja diperpanjang daripada di Jawa, karena sebelumnya ada sedikit kenaikan kasus Corona. Setelah ada perpanjangan PPKM maka mulai ada penurunan jumlah pasien Covid dan diharap akan lebih turun lagi. Sehingga tidak ada lagi penularan Corona dan semua orang sehat-sehat saja.

)* Penulis adalah Warganet tinggal di Timika