Oleh : Abner Wanggai )*

Kelompok separatis di Papua wajib dibasmi karena menjadi sumber konflik bagi masyarakat. Keberadaan mereka sangat meresahkan, karena sering membuat kekejaman yang di luar batas kemanusiaan, bahkan tak jarang membunuh warga sipil. Pemberantasan KKB menjadi agenda wajib, agar rakyat Papua bisa hidup damai.

Permasalahan pelik di Papua terjadi karena teror dari KKB, yang merupakan organisasi bersenjata di bawah OPM. Mereka berdua sama-sama ingin mewujudkan Papua merdeka, dengan cara kekerasan. Walau dengan membeli senjata api ilegal yang mahal harganya, tetapi masih dilakukan, karena mereka menganggap Papua adalah wilayah yang terjajah.

Tentu mereka salah besar karena jika Papua (dulu Irian Jaya) menjadi provinsi di Indonesia, bukanlah wilayah yang ditindas. Karena buktinya warga asli Bumi Cendrawasih sangat cinta NKRI dan mereka tidak mau jika diajak memberontak dan membentuk Republik Federal Papua Barat, serta mengibarkan bendera bintang kejora.

Torius Tabuni, pengamat Papua, menyatakan bahwa konflik di Papua sudah berkepanjangan, dan memburuknya karena ada provokasi dari kelompok separatis. Ditambah lagi, kelompok separatis merambah ke 2 hal, yakni politik dan kontak senjata. Mereka menggunakan keduanya untuk membuat suasana makin rusuh.

Torius menambahkan, sebenarnya saat masa damai, kehidupan di Distrik-Distrik di Papua sama saja dengan di desa lain (di Jawa atau wilayah lain). Akan tetapi, kelompok separatis membuat image bahwa Papua tidak aman, karena sering ada konflik, dll. Sehingga orang luar akan takut masuk ke Bumi Cendrawasih, padahal wilayah ini menyimpan kekayaan alam yang eksotis.

Kelompok separatis makin mengganas ketika dicap sebagai teroris. Selain membuat hoaks tentang Papua dan provokasi di media sosial, mereka juga beraksi di dunia nyata. Data statistik menunjukkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun, ada lebih dari 118 kasus yang dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata. Angka ini sangat miris karena lebih dari 10 kali kasus dalam setahun.

Dalam artian, hampir tiap bulan ada saja kekerasan yang dibuat oleh KKB. Misalnya ketika mereka menembaki pekerja Istaka Karya, atau meneror wilayah di sekitar pertambangan di Tembagapura. Pasalnya, KKB merasa bahwa tanah yang dijadikan kompleks pertambangan adalah milik mereka, padahal sudah ada perjanjian resmi antara perusahaan tambang dengan pemerintah Indonesia. Sehingga KKB tidak bisa mengklaim begitu saja.

Kasus lain yang terjadi akibat kekejaman KKB adalah penembakan mobil milik aparat. Padahal mereka ingin memberi sembako kepada masyarakat, tetapi malah mendapatkan teror dari kelompok separatis tersebut. Mungkin saja KKB mengira mereka sedang mengadakan patroli keliling.

Tak berhenti begitu saja, teror lain juga terjadi di Bumi Cendrawasih, ketika KKB merusak tower milik perusahaan telekomunikasi. Ketika itu terjadi, maka otomatis sinyal HP hilang sama sekali, karena tidak ada menara pemancarnya. Padahal sinyal internet sangat dibutuhkan oleh murid-murid yang sedang melakukan pembelajaran jarak jauh.

KKB juga tega membakar gedung sekolah dan mereka makin merusak masa depan anak-anak Papua, dengan membunuh 2 orang guru. Betapa kejamnya KKB karena memutus harapan bocah-bocah di Bumi Cendrawasih untuk menuntut ilmu. Apakah mereka tidak tahu bahwa kebohohan hanya akan membawa ke kesesatan dan kesengsaraan? Justru saat KKB anti sekolah, mereka akan mudah dikibuli oleh orang lain.

Oleh karena itu, pemberantasan KKB dilakukan dengan lebih gencar. Satgas Nemangkawi yang terdiri dari pasukan TNI dan Polri melacak KKB hingga ke markasnya. Mereka bertempur dengan gagah berani dan ingin mewujudkan perdamaian di Papua. Tak hanya itu, dalam waktu dekat Densus 88 akan diterjunkan juga untuk membantu, karena KKB sudah diklaim sebagai organisasi teroris.

Semoga dengan penambahan pasukan ini akan memberantas KKB dengan lebih cepat. Perlakuan tegas terukur pada KKB diperbolehkan, karena mereka sudah mengganggu kedaulatan negara. Juga jadi sumber konflik masyarakat di Papua.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal membenarkan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) membakar Gedung SD Jambul, SMP Negeri 1, SMA 1 Beoga dan rumah guru di Distrik Beoga Kabupaten Puncak, Kamis (8/4) kemarin. Hal itu diketahui setelah mendapatkan laporan dari masyarakat setempat.

“Mendapat informasi tersebut, personel gabungan Polsek dan Polres mendatangi TKP dan melihat bangunan Gedung SD Jambul, SMP N 1 dan SMA 1 Beoga serta rumah guru telah hangus terbakar,” ujar Musthofa Kamal saat dikonfirmasi, Jumat (9/4) kemaren.

Menurut Musthofa Kamal, diperkirakan para pelaku dari kelompok Sabinus Waker. Kelompok ini sebelumnya diduga juga melakukan penembakan terhadap seorang guru hingga meninggal dunia. Untuk saat ini pihak kepolisian masih melakukan pengejaran terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata.

“Saat ini personel gabungan masih melakukan pengejaran terhadap Kelompok Kriminal Bersenjata yang melakukan pembakaran,” katanya. Untuk situasi di Distrik Beoga, kata Musthofa Kamal, saat ini masih bisa dikendalikan oleh personil di lapangan. Kemudian pihaknya akan mengambil langkah-langkah penegakkan hukum terhadap para pelaku.

Disisi laian, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) mengakui pihaknya telah menembak seorang guru sekolah dasar (SD) bernama Oktavianus Rayo (43) di wilayah Boega, Kabupaten Puncak, Papua pada Kamis (8/4). Juru Bicara OPM, Sebby Sambom mengatakan kelompoknya menembak mati guru tersebut lantaran mereka yakin korban adalah mata-mata TNI-Polri.

Sementara itu, polisi sendiri mengklaim telah berhasil mengidentifkasi pelaku penembakan tersebut. Saat ini, kata dia, pihaknya bakal melakukan pengejaran dan penindakan. “Berdasarkan hasil penyelidikan yang intensif, pelaku penembakan sudah terdentifikasi,” kata Kasatgas Nemangkawi, Brigjen Roycke Harry Langie dalam video telekonferensi bersama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Senin (12/4).

Selanjutnya, Kepala Humas Satgas Nemangkawi Komisaris Besar M Iqbal Alqudussy mengatakan tudingan guru yang jadi korban penembakan adalah alasan klasik kelompok bersenjata di Papua. “Buktinya apa Bapa Oktovianus dan Bapa Yonathan itu intel? Itu semua hanya alasan klasik mereka untuk menggiring opini publik supaya aksi teror mereka dimaklumi,” kata Iqbal dalam keterangan tertulisnya seperti dilansir dari Antara.

Menurut Iqbal, membunuh, membakar, dan menembaki masyarakat sipil pendatang, kemudian melakukan mempublikasikannya di sosial media sebagai kebanggaan, dan menyangkal bahwa korban sipil tersebut merupakan masyarakat tidak bersalah. Hal tersebut kini telah menjadi modus komunikasi Kelompok Separatis Bersenjata di Papua.

Iqbal juga mengatakan merampok uang dilakukan kepada pendatang karena kini KKB tidak kebagian dana Otonomi Khusus (Otsus) dari pemerintah daerah. Akibat larangan tegas Kemendagri kepada kepala daerah yang menyalahgunakan dana Otsus Papua.

“Almarhum Bapa Oktovianus dan Bapa Yonathan ini hanya guru yang tinggal di sini dengan niat mulia mencerdaskan anak-anak Kabupaten Puncak, Papua. Siapapun yang berhati nurani pasti tidak akan membenarkan penembakan keji tersebut,” ujar Iqbal.

KKB juga diduga membakar tiga sekolah yang terletak di wilayah tersebut usai insiden penembakan. Pembakaran, diduga dilakukan oleh KKB pimpinan Nau Waker alias Tidak Jadi. Nau Waker sendiri telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) yang diterbitkan oleh Polres Mimika. Dia diduga terlibat dalam sejumlah kasus kejahatan yang di wilayah itu. (*)

Oleh : Moses Waker )*

Kelompok kriminal bersenjata (KKB) selalu meresahkan masyarakat Papua. Mereka pantas dibasmi karena mengambil perdamaian di Bumi Cendrawasih dan meneror dengan berbagai cara. Masyarakat juga antipati dengan KKB, karena mereka sudah bertindak jauh di luar batas, dengan nekat mengambil nyawa saudara sesukunya sendiri.

Papua sering muncul dalam berita, sayangnya yang ditonjolkan adalah pemberontakan dari kelompk kriminal bersenjata, sebuah geng yang merupakan bagian dari OPM. Mereka selalu melakukan kekerasan di Papua dan menggunakan senjata api sebagai beda untuk menakut-nakuti masyarakat. Padahal senpi itu jelas ilegal dan mereka tidak berhak untuk menggunakannya, karena tak memiliki surat izin resmi.

Keganasan KKB makin menjadi dan bahkan mereka berani menggunakan warga sipil untuk tameng hidup, saat ada adu tembak dengan anggota TNI. Aparat berusaha keras agar mereka tertangkap dan membubarkan diri, agar perdamaian di Papua tetap abadi dan tidak ada lagi korban selanjutnya. Mereka telah melakukan berbagai tindakan kriminal sehingga wajib ditangkap.

KKB makin terdesak ketika aparat menguasai salah satu markas mereka di daerah Yugura, Nuda. Pasukan KKB pimpinan Egianus Kogoya sudah kehilangan kebebasan untuk menyerang. Hal ini dituturkan oleh Kepala Satgas Humas Newangkawi Kombes M Iqbal Alqudussy.

Keberhasilan aparat untuk menguasai markas KKB merupakan sebuah prestasi besar. Karena pasukan KKB makin menciut dan bingung harus bersembunyi di mana lagi. Ruang gerak mereka makin terbatas saat markasnya diduduki oleh petugas. Lambat laun, semua anggota mereka akan tertangkap dan akhirnya KKB bisa hilang dari Bumi Cendrawasih.

Kombes Iqbal melanjutkan, sebenarnya sudah banyak anggota dan simpatisan KKB yang menyerahkan diri ke aparat dan kembali ke NKRI. Dalam artian, sebenarnya mereka sudah lelah bergerilya selama puluhan tahun dan sadar atas kesalahannya. Bahwa kemerdekaan Papua adalah hal yang mustahil dan pemerintah Indonesia sudah begitu baik kepada seluruh warga di Bumi Cendrawasih.

Ketika ada anggota KKB yang bertobat, maka ia tidak usah takut akan dibui. Karena ia sudah menyerahkan diri dan berjanji akan setia kepada Indonesia. Justru ketika ia dengan rela menyerahkan diri, akan menjadi informan yang sangat penting. Jadi aparat akan tahu di mana saja markas KKB dan siapa saja tokoh di balik keganasan mereka.

Pemberantasan KKB wajib dilakukan, karena mereka telah melakukan berbagai tindakan di luar batas. Pertama, KKB pernah menyandera pilot dan penumpangnya, juga mengancam agar mereka tidak mengangkut anggota TNI maupun polri. Penumpang pesawat juga dicurigai sebagai aparat, padahal mereka adalah warga sipil biasa.

Kedua, KKB terlalu sering mengadakan baku tembak. Korbannya mulai dari mobil milik negara yang membawa logistik, warga sipil yang sampai kehilangan nyawa, sampai aparat yang ditembak seusai menjalankan ibadah pagi. semua kekejian mereka membuat KKB makin dibenci karena tega menembak saudara sesukunya sendiri, dan mereka menuduh bahwa korban adalah apart, padahal bukan.

Untuk memberantas KKB, maka perlu diadakan operasi di lapangan yang lebih intensif. Tak hanya di daerah yang rawan konflik seperti di Intan Jaya, tetapi juga wilayah lain mulai dari Jayapura, Fakfak, sampai Merauke. Di sana tetap saja ada potensi kerusuhan yang ditimbulkan oleh KKB, oleh karena itu sebaiknya jumlah petugas yang berjaga terus ditambah.

Pemberantasan KKB wajib dilakukan agar tercipta perdamaian di Papua. Masyarakat di Bumi Cendrawasih tentu tidak ingin hidupnya terus dikungkung dalam ketakutan akibat teror KKB. Mereka wajib dibubarkan hingga ke akarnya, agar tidak ada lagi berita tentang kekejaman KKB di Papua.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Gorontalo

Anggota Komisi I DPR RI, Bobby Adhityo Rizaldi mendukung wacana redefinisi kelompok kriminal bersenjata (KKB) dan kelompok separatis bersenjata (KSB) di Papua. Bobby menilai KKB atau KSB tersebut lebih layak disebut sebagai pelaku terorisme.

Itu dikatakannya, mengingat sepak terjang kelompok itu selama ini. Termasuk terhadap warga sipil, seperti penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok itu beberapa waktu lalu.

“Saya setuju dan mendukung wacana ini. Kelompok bersenjata di Papua, apakah disebut KKB atau KSB, sejatinya adalah para pelaku atau terduga pelaku terorisme. Mereka melakukan teror, menebar ancaman, menyandera, membunuh, menyiksa dan menculik warga sipil, dengan motif politik. Maka, mereka adalah teroris,” kata Bobby.

Hal senada disampaikan Wawan Purwanto bahwa Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sejajar dengan organisasi terorisme. Sehingga KKB harusl ditindak tegas.

“KKB pada dasarnya sejajar dengan organisasi teroris yang menjadi musuh bersama dan harus ditindak tegas,” kata Deputi-VII Bidang Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN), Wawan Hari Purwanto dalam keterangan tertulis.

Ia mengatakan, pengkategorian KKB sebagai organisasi teroris tak lepas dari berbagai tindakan yang selama ini dilakukan. Menurutnya, KKB acap kali melakukan ancaman dan tindak kekerasan terhadap aparat keamanan serta masyarakat dengan menggunakan senjata api yang berakibat jatuhnya korban jiwa
maupun kerugian harta benda.

KKB dan OPM adalah 2 organisasi pengacau yang merusak perdamaian di Papua. Keinginan mereka untuk memisahkan Bumi Cendrawasih dari Indonesia membuat banyak kekacauan, bahkan sampai menimbulkan korban dari warga sipil. KKB bahkan berani menantang TNI dan Polri untuk perang terbuka, menunjukkan kecongkakan mereka.

Papua adalah wilayah yang diberkahi keindahan alam, mulai dari pegunungan menghijau hingga lautan yang bersih. Namun sayangnya keindahan ini berpotensi dirusak oleh kelompk separatis, yakni OPM dan KKB. Kelompok kriminal bersenjata sebagai afiliasi OPM selalu mengacaukan Papua dan meneror masyarakat agar mereka mau diajak memberontak.

Selain memprovokasi masyarakat, KKB juga bersikap sombong dengan menantang TNI dan Polri untuk perang terbuka. Tantangan itu tercantum dalam selebaran yang diedarkan di seputar Intan Jaya, oleh KKB, sebagai propaganda untuk warga sipil Papua. Wakapolda Papua Brigjen Matius Fakhiri menegaskan bahwa TNI dan Polri tidak takut dengan tantangan mereka.

Hanya saja Brigjen Matius khawatir akan ada korban dari warga sipil Papua, jika nanti benar-benar ada perang terbuka. Selain itu, jika nanti ada tindakan yang tegas dan terukur untuk pihak KKB, jangan sampai beritanya dipelintir oleh pers dan malah dipolitisasi. Dalam artian, beliau memilih untuk lebih berhati-hati dan tidak termakan gertakan dari KKB.

Brigjen Matius menambahkan, di Intan Jaya memang rawan dan beberapa kali KKB ketahuan mengacau di sana. Oleh karena itu, beliau akan menambah jumlah personel di sana, untuk berjaga-jaga. Penambahan aparat juga diperlukan, agar ada rasa aman yang tercipta di hati masyarakat sipil.

Masyarakat tidak takut akan ancaman KKB, karena mereka yakin akan kemampuan anggota Polri dan TNI. KKB memang punya senjata api ilegal dan bisa mengoperasikannya, tapi untuk masalah strategi masih kalah dengan aparat. Sehingga diprediksi jika perang terbuka benar-benar terjadi, malah KKB yang akan kalah dan menanggung malu.

KKB memang selalu melancarkan propaganda, tujuannya agar masyarakat mau diajak untuk mengikuti gerakan separatis. Berbagai propaganda mereka tebarkan, mulai dari ajakan perang terbuka, hingga isu SARA. Propaganda tentang SARA berisi hoax bahwa pemerintah Indonesia akan memberantas ras melanesia. Tentu hal ini salah besar dan tidak dipercayai oleh masyarakat.

Masyarakat selalu percaya dan setia pada NKRI karena mereka sudah berkali-kali disakiti oleh KKB. Kelompok separatis ini selain membuat propaganda, juga sering bertindak ngawur. Mereka pernah menembaki pekerja di Intan Jaya, membakar pesawat, hingga tega membunuh warga sipil. Dengan alasan warga itu adalah aparat yang menyamar, padahal bukan.

Pemberantasan KKB menjadi prioritas, karena selain sering melakukan kekerasan, mereka juga tega merenggut kebebasan para remaja. Dari sekian anggota KKB, ada ABG putus sekolah yang direkrut jadi penembak baru, dengan iming-iming senjata api. Sehingga masa depan mereka suram karena diajak bergerilya, padahal seharusnya belajar di bangku sekolah.

Banyak orang yang rindu kedamaian di Papua, tidak hanya warga sipil yang ada di sana, tapi juga yang tinggal di wilayah lain. KKB adalah kelompok pengacau, dan OPM sebenarnya dibenci oleh masyarakat. Ide untuk memerdekakan diri sangat salah, karena masyarakat di Bumi Cendrawasih sangat nasionalis dan cinta NKRI. Sehingga mereka tidak mau jika diajak mengibarkan bendera bintang kejora.

Masyarakat berharap KKB segera dibubarkan, agar tercipta perdamaian di Papua. Mereka sudah lelah diteror kelompok bersenjata ini, karena ada banyak kekacauan yang ditimbulkan olehnya. Pendekatan secra persuasif tidak ampuh lagi, karena kebencian KKB sudah mengakar. Sehingga pemberantasan KKB dengan cara spartan dilakukan, agar mereka kapok dan bubar dengan sendirinya.

Oleh : Abner Wanggai )*

Kelompok kriminal bersenjata (KKB) makin menggila dengan melakukan penyerangan lagi di kawasan Intan Jaya, Papua. Pemerintah tidak pernah takut akan ancaman mereka, karena hanya gertak sambal. Untuk apa berkompromi dengan organisasi separatis dan penghianat? KKB wajib diberantas dan akan bernasib naas pada waktunya.

KKB adalah organisasi di bawah OPM yang terkenal karena kekejamannya. Mereka tak segan melakukan kekejian, baik kepada aparat maupun warga sipil Papua. Semua ancaman dilakukan, karena mereka berkeyakinan untuk bersatu membentuk Negara Federal Papua Barat dan ingin keluar dari NKRI. Sehingga indonesia dianggap sebagai musuh.

Warga di Distrik Sagupa, Kabupaten Intan Jaya, lagi-lagi terganggu oleh ulah KKB. Tanggal 8 februari 2021, mereka terpaksa mengungsi, setelah ada tindak pidana yang dilakukan oleh kelompok separatis tersebut. Sebanyak 600 orang berlindung di sebuah gereja, untuk menghindari serangan dan tembakan dari KKB.

Pemerintah bertindak cepat dengan mengutus lebih banyak aparat untuk terjun ke Intan Jaya. Mereka boleh melakukan tindakan tegas dan terukur, demi menjaga keamanan dan kedamaian warga. Tindakan ini diperbolehkan, karena KKB selalu beraksi di Intan Jaya, sampai 5 kali. Sehingga meresahkan masyarakat di sana.

Deputi V KSP Jaleswari Pramodhawardani menyatakan bahwa keamanan warga di sana adalah tanggung jawab pemerintah. Jadi, Bupati intan Jaya dan sejumlah pejabat lain diminta untuk kembali ke sana dan tidak memimpin dari Nabire. Dalam artian, suasana sudah kondusif dan mereka diharap kembali, agar rakyat juga merasa aman dan tak lagi mengungsi.

Pemerintah pusat tidak akan berkompromi dengan KKB. Serangan yang mereka lakukan, baik di Intan Jaya maupun daerah lain, diyakini hanya sebaga gertak sambal. Pemerintah tidak akan menyerahkan Papua dan mereka gagal untuk mendirikan Negara Papua Barat, hanya karena teror dari KKB.

Selama ini KKB dan OPM belum diberantas 100% karena mereka bertindak licik, dengan bersembunyi di tengah pegunungan dan hutan liar. Faktor alam yang susah dilewati, menyebabkan penangkapan belum selesai. Namun aparat bertindak dengan sebaik-baiknya. Sehingga KKB bisa diberantas dan Bumi Cendrawasih kembali aman.

Sementara itu, Intan Jaya terkenal di mata publik karena relatif sering diganggu oleh KKB. Penyerangan di sana dilakukan, karena KKB menuntut agar otonomi khusus dan penambangan hasil bumi di Papua dihentikan. Sehingga mereka meneror masyarakat agar dipenuhi keinginannya.

Jika menggunakan logika, bagaimana bisa mereka menolak otonomi khusus? Padahal tak setiap provinsi menikmatinya, karena ada jatah dana khusus bagi daerah yang berstatus Otsus. Justru Otsus digunakan pemerintah daerah Papua dan Papua Barat, untuk membangun berbagai fasilitas. Seperti jembatan, gedung sekolah, stadion, jalan raya, dan lain-lain.

Bagaimana bisa KKB menolak kemajuan berkat dana Otsus? Padahal anggarannya dinaikkan, sehingga uang milyaran tersebut digunakan untuk membangun Papua, sehingga makin modern dan tidak lagi identik dengan keterbelakangan. Sungguh aneh jika mereka menolak kemajuan, karena kebodohan hanya akan menyengsarakan.

Otsus akan tetap dilanjutkan di Papua walau di bawah ancaman KKB. Aparat akan bertindak sangat tegas dan mengamankan segala program pemerintah, termasuk otonomi khusus. Karena pemerintah berharap tidak ada ketimpangan kemajuan antara Indonesia bagian timur dan barat. Sehingga mengutamakan azas keadilan.

KKB yang melakukan kekejian berkali-kali, harus dibinasakan secepatnya. Karena mereka selalu curiga bahwa seseorang itu mata-mata, padahal ia hanya warga sipil biasa. Mereka juga mengancam kelancaran Otsus Papua. Sehingga keberadaannya makin meresahkan. Aparat wajib menggulung mereka sampai habis, ke akar-akarnya, agar warga Papua aman dan damai.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

Oleh : Sabby Kosay )*

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) merupakan duri dalam daging yang selalu memprovokasi masyarakat dan menghambat pembangunan di Papua. Masyarakat pun mendukung TNI/Polri untuk menumpas kelompok tersebut yang selalu bertindak keji dan melanggar hukum secara nyata.

Kelompok Kriminal Bersenjata di Papua memang sudah sepatutnya ditumpas, Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso sempat menuturkan bahwa kelompok separatis tersebut bisa lebih berbahaya jika didiamkan. Bisa saja Papua lepas dari Indonesia.

Lebih lanjut, jenderal bintang 3 komando pasukan khusus (kopassus) tersebut mengatakan, saat ini yang dilakukan KKB dan kelompok separatis lain yang ada di Papua terus berupaya menyeret asing untuk masuk ke Papua. Caranya dengan membuat keonaran, memunculkan kerusuhan. Disaat yang sama, mereka terus berkampanye tentang kemerdekaan di luar negeri.

Sutiyoso menjelaskan bahwa KKB tidak bekerja sendirian, melainkan adan kelompok lainnya yang aktif menuntut kemerdekaan. Ia membeberkan, ada Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang memiliki angkatan perang bernama Tentara Nasional Papua Barat (TNPB). Mereka melakukan berbagai kejahatan kemanusiaan untuk mencapai cita-citanya, yakni berpisah dari NKRI.

Di luar negeri sudah ada ULMWP (United Liberation Movement for West Papua) yang terus berkampanye dan mencari dukungan negara-negara lain dan bergerilya ke PBB dengan isu HAM.

Upaya kelompok-kelompok tersebut untuk merdeka dilakukan dengan berbagai cara. Gangguan keamanan yang mereka lakukan itu bertujuan menyeret keterlibatan pihak asing untuk masuk ke Papua. Apalagi mereka menyadari perjuangan mereka tidak mungkin terwujug tanpa melibatkan pihak asing.

Pada kesempatan berbeda, Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw mencatat, KKB di wilayah Kabupaten Intan Jaya telah melakukan sedikitnya 23 kali teror penembakan dan kasus-kasus kekerasan lainnya sepanjang 2020.

Paulus menegaskan, banyaknya aksi kekerasan yang dilakukan oleh KKB di wilayah Intan Jaya, Papua menunjukkan bahwa kelompok tersebut merupakan kumpulan orang yang paling banyak melakukan pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Berdasarkan laporan intelijen, sejak Oktober 2019 sejumlah kelompok KKB mulai bergeser dari wilayah timur intan jaya seperti puncak Ilaga, Puncak Jaya, Tolikara, bahkan Lanny Jaya ke wilayah sekitar Sugapa. Bahkan sebagian dari kelompok tersebut sempat memasuki wilayah Tembagapura Mimika pada Februari 2020.

Mereka semua bergabung memasuki wilayah tersebut untuk menyiapkan logistik yang akan mereka siapkan untuk bertempur di wilayah Tembagapura yang mereka nyatakan sebagai medan perang, tetapi juga mereka terus mencari amunisi dan senjata api yang mereka rampas dari anggota TNI Polri.

Paulus juga berharap akan adanya keterlibatan Pemerintah Kabupaten Intan Jaya untuk dapat mengajak KKB agar mau berdialog guna mengakhiri segala bentuk kekerasan di wilayahnya.

Di penghujung tahun 2020 Polres Mimika mengungkap kasus kekerasan penembakan oleh KKB mengalami peningkatan dan menjadi kasus yang paling menjadi perhatian paling menonjol di sepanjang 2020.

Tercatat beberapa KKB melakukan aksi teror penembakan di Tembagapura hingga teror penembakan di kantor pusat Administrasi PT Freeport Indonesia di Kuala Kencana yang terjadi pada 30 Maret 2020. Dalam peristiwa tersebut, seorang warga negara asing (WNA) asal Selandia Baru, Graeme Thomas Wall, tewas.

Aksi tersebut juga sempat membuat warga yang tinggal di distrik Tembagapura meminta untuk dievakuasi ke Timika.

Kapolres Timika AKBP I Gusti Gde Era Adhinata mengatakan kasus teror penembakan yang dilakukan KKB meningkat lantaran KKB di daerah pegunungan menggabungkan kelompoknya dan melakukan aksi teror di daerah Tembagapura. Kondisi ini membuat mereka lebih intens melakukan aksi-aksi penembakan.

Pihaknya juga berharap pada tahun 2021 kasus tindak kekerasan bisa berkurang dengan kerja sama semua pihak untuk menciptakan keamanan dan kedamaian di tanah Papua.

Aksi kekerasan KKB yang belum lama terjadi adalah tewasnya seorang warga yang ditembak mati atas tuduhan menjadi mata-mata TNI-Polri. Usai menembak warga bernama Boni, KKB lantas mengirim surat yang ditujukan kepada TNI-Polri. Dalam surat tersebut, KKB mengaku telah menembak warga sipil yang tinggal di sekitar perbatasan antara Distrik Sugapa dan Distrik Homeyo.

Pada Januari 2021 lalu, personel Yonif Raider 400/BR Prada Agus Kurniawan gugur dalam kontak senjatan dengan KKB, korban meninggal akibat tembakan di bagian punggung.

Tindakan dari KKB tentu saja sudah tidak bisa ditolerir, sehingga pemerintah khususnya BIN, Kementerian Pertahanan dan TNI Polri perlu menumpas KKB demi menjaga keutuhan NKRI.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

Oleh : Timotius Gobay )*

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) merupakan kelompok separatis yang selalu bertindak brutal terhadap rakyat Sipil. Kali ini, KKB kembali berulah dengan membunuh seorang warga sipil di Intan Jaya Papua, sehingga masyarakat mendukung penuh TNI/Polri untuk memberantas kelompok tersebut.

Peristiwa penembakan di Papua kembali terjadi, Kelompok Kriminal Bersenjata Papua telah mengirimkan surat kepada TNI Polri melalui seorang pastor bernama Yustinus Rahangyar.
Dalam surat tersebut KKB Papua di Intan Jaya mengklaim telah menembak seorang warga bernama Boni Bagau di perbatasan Distrik Sugapa dan Distrik Homeyo.

Pastor Yustinus Rahangiyar dan keluarga korban melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Sugapa. Keluarga korban atas nama Wilem Bagau berharap agar jenazah Boni dimakamkan di Kampung Agapa Intan Jaya.

Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol AM Kamal menyebutkan pertemuan antara keluarga korban, tokoh agama dan TNI Polri dilakukan di Ruangan Pastoran Kampung Bilogai Distrik Sugapa.

Kamal menjelaskan, dalam pertemuan tersebut, Pastor Yustinus Rahangiyar membawa sebuah surat dari KKB Papua pimpinan Undius Kogoya yang ditujukan kepada TNI Polri yang berada di Kabupaten Intan Jaya, bahwa telah terjadi penembakan terhadap masyarakat bermarga Bagau

Dari hasil pertemuan tersebut orang tua korban atas nama Gad Bagau meminta agar korban dikuburkan di Kampung Agapa, mengingat situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan apabila diambil atau dibawa ke Distrik Sugapa maupun Distrik Homeyo.

Kama menjelaskan bahwa informasi yang diterima, KKB menembak warga sipil karena mencurigai korban sebagai mata-mata apparat keamanan TNI Polri. Kami masih melakukan penyelidikan terkait dengan laporan penembakan tersebut.

Sebelumnya, Kapolda Papua, Irjen Paulus Waterpauw, mengatakan KKB merupakan sekelompok orang yang sering bergerombol dan melakukan gangguan keamanan. Waterpauw menegaskan bahwa dirinya selalu mengkategorikan KKB sebagai free man. Hidupnya hanya melakukan kekerasan, menakutkan semua orang, mengancam semua orang dengan senjata.

Pada Pertengahan 2020 lalu, sedikitnya dua petugas medis tim gugus tugas Covid-19 ditembak oleh KKB di Kabupaten Intan Jaya, Papua. Satu orang korban meninggal dalam kejadian tersebut.

Tenaga medis tersebut tergabug dalam tim gugus tugas Covid-19 dan mengemban amanah mulia. Sebelumnya Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sempat berulah dengan membakar satu unit pesawat komersil milik PT MAF di Intan Jaya, Papua.
Aksi brutal tersebut dimulai dengan adanya penembakan terhadap beberapa pesawat sipil termasuk beberapa hari yang lalu dilakukan penembakan terhadap pesawat helikopter PT Freeport Indonesia dan saat ini dilakukan pembakaran pesawat MAF.

Sebelumnya, KKB juga telah menembak warga sipil sinak, Kabupaten Puncak, Papua. Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III Kolonel CZI IGN Suriastawa mengakui adanya insiden penembakan yang dilakukan KKB dengan korban 2 warga sipil, dimana seorang diantaranya meninggal dunia.

Kedua korban yakni Amanus Murib mengalami kondisi kritis, sementara Atanius Murib meninggal dunia.

Aksi kriminal tersebut diduga bermotif intimidasi dari KKB kepada masyarakat, karena aksinya selama ini tidak mendapat dukungan dari warga setempat serta berbagai upaya memutarbalikkan fakta dengan menuduh aparat keamanan sebagai pelakunya.

Pemutarbalikan fakta dan playing victim melalui media massa selalu menjadi trik dari kelompok pro KKB dan pendukungnya di dalam dan luar negeri untuk menyudutkan pemerintah Indonesia.

Selain menyerang masyarakat sipil, KKB juga tidak segan menyerang aparat keamanan, pada 22 Januari lalu, dua prajurit TNI dari Yonif R 400/BR meninggal dunia setelah mendapatkan serangan tembakan dari kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua.

Dua korban yang meninggal dunia tersebut atas nama Pratu Roy Vebrianto dan Pratu Dedi Hamdani.

Menurut informasi, Pratu Roy ditembak dari jarak 200 meter, sedangkan Pratu Dedi ditembak saat melakukan pengejaran kepada KKB yang menembak Pratu Roy.

Kedua prajurit tersebut juga ditembaki secara membabi buta dari arah ketinggian di hutan yang terletak di antara kampung sugapa lama dan kampung Hitadipa.

Keduanya sempat hendak dilarikan ke Rumah Sakit di Timika untuk mendapatkan pertolongan. Tetapi naas, keduanya meninggal dunia dalam perjalanan menuju Timika Papua.

Kelompok separatis seperti KKB tentu saja harus mendapat perhatian serius dari pemerintah, sehingga siapapun yang menentang dan mencabik-cabik keutuhan NKRI, harus dibabat sampai akar-akarnya. Jangan sampai kelompok seperti KKB terus berkeliaran dan menebar teror di tanah Papua.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Gorontalo

Oleh: Abner Wanggai )*

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua terus meneror dan melukai masyarakat, tidak terkecuali anggota TNI/Polri. kali ini korban datang dari Batalyon Infanteri Raiders 400 yang mengkibatkan satu personel TNI tersebut gugur. Masyarakat pun mengutuk kekejaman KKB Papua tersebut yang tidak mengindahkan rasa kemanusiaan.

Permasalahan pandemi ini agaknya tak cukup membuat pusing pemerintahan hingga rakyatnya. Kini datang lagi kepelikkan serta intimidasi pihak KKB yang seolah tak ada habisnya. Intimidasi yang diwujudkan dengan beragam kekerasan, bentrok hingga jatuh korban.

Ketenangan serta angin segar diwaktu lalu ini seolah tak ada artinya. Deklarasi jika Papua telah menjadi wilayah NKRI, nyatanya masih diingkari oleh kelompok separatis tersebut. Masih ingat Beni Wenda? Ya, pentolan OPM yang mengatasnamakan HAM bersembunyi dibalik ketiak orang asing. Setelah membuat cukup banyak kekacauan.

Tak terhitung lagi berapa kerusuhan yang digelar. Mulai dari pembakaran hingga pembantaian. Bahkan, ratusan nyawa melayang percuma. Tak hanya warga sipil atau asli Papua. Para pendatang hingga TNI-POLRI banyak yang gugur di sana.

Demi apa? Mempertahankan keamanan, ketenangan serta menggegam erat Papua sebagai bagian dari ibu pertiwi. Pun dengan beragam konsolidasi, perjanjian hingga aneka pertemuan. Namun, pengingkaran demi pengingkaran selalu mereka lakukan kembali.

Menimbulkan gonjang-ganjing serta bentrok disana-sini. Masyarakat merasa diintimidasi, warga asli yang mendiami pulau hitam ini seolah tak lagi punya tempat pijakan. Mereka juga perangkat pemerintahan, TNI-POLRI bak musuh yang kudu dibasmi.

Lantas, masihkah KKB ini berhak menyebut telah mengedepankan HAM? Pantaskah jika semua harus dibayar mahal, dengan nyawa sekalipun?
Berita duka berikut datang kembali dari personil batalyon infanteri Raider 400. Atau yang biasa disebut Banteng Raiders. Yang mana datang dari Kodam IV Diponegoro. Lagi-lagi pahlawan negara ini gugur saat terjadinya bentrokan dengan pihak KKB.

Prajurit elite yang diketahui bernama Prada Agus Kurniawan, gugur. Tepatnya di daerah Titigi, Sugapa di Kabupaten Intanjaya, Papua. Diberitakan jika bentrok senjata ini terjadi di hari Minggu siang. Sekitar 10 Januari 2021 waktu setempat.

Prada Agus mengalami luka tembak saat kejadian tersebut berlangsung. Jenazah kemudian dievakuasi menuju Timika guna diterbangkan menuju kampung halaman. Dengan menggunakan helikopter milik TNI-AU.
Prada Agus bukanlah korban satu-satunya dalam bentrok yang baru-baru ini terjadi. Bahkan, sekitar November 2020 lalu seorang prajurit Yonif Raider 400/BR. Juga dikabarkan mangkat saat kejadian ini berlangsung.

Pasukan berikut ditengarai ditugaskan sebagai satuan pengamanan perbatasan mobile RI-Papua Nugini. Yang mana telah mulai diberangkatkan dari markas asal di Srondol, Kota Semarang Jawa Tengah. Tepatnya pada tanggal 25 Agustus lalu tahun 2020.

Duka mendalam tentu tak hanya dirasakan pihak sanak-famili. Negara hingga aparatur pemerintahan serta rakyat Indonesia juga merasakan kehilangan. Prajurit yang berjuang di garda terdepan didaerah perbatasan harus meregang nyawa.

Kekejian pihak separatis semacam KKB ini agaknya tak kenal rasa takut. Mereka terus mengirimkan sinyal-sinyal kejahatan. Tak peduli dengan keselamatan. Seolah mengancam, jika apa yang mereka ingini tak diwujudi maka siap membasmi siapapun yang menghalangi.

Yang demikian ini sudah masuk dalam tindak kejahatan kelas tinggi. Oknum-oknum yang selalu mengatasnamakan HAM, nyatanya membuat keonaran hingga menyuguhkan rasa sakit tak terperi. Apa yang mereka inginkan seharusnya telah jelas terpampang jawabannya. Kenapa ngotot?

Baku hantam, baku tembak hingga banyak saudara kita yang gugur di pulau hitam. Seolah menjadi tumbal, berdirinya negeri separatis. Lantas, apakah pemerintah tinggal diam? Tidak!

Pemerintah kini masih mati-matian menyusun strategi. Mulai dari pendekatan, hingga langkah lain yang mungkin saja mampu menciptakan suasana yang kondusif lagi. Namun, jika hal demikian ini agaknya tak mampu membantu. Tentunya KKB wajib dibasmi.

Mengutuk kekejaman kaum separatis ini belum cukup. Jika harus dibandingkan dengan banyaknya pihak yang jadi korban. Komplotan-komplotan macam ini perlu diburu. Mereka perlu dijejali empati, simpati hingga rasa cinta. Yang harusnya tetap ada di setiap sanubari.

Sehingga, kesadaran dan toleransi tercipta sedari dini. Namun, jika empati ini telah musnah berganti dendam. Hilang sudah hati nurani. Dan nyawa yang telah pergi tak ada artinya lagi.

KKB serta aneka kelompok separatis memang harusnya diburu. Yang begini tentu meresahkan warga asli maupun pendatang. Sebab mereka tak memiliki rasa takut sekalipun, bahkan saat kematian menjelang.

Akhir kata, turut berduka cita atas gugurnya prajurit pahlawan bangsa. Yang mana pengorbanan mereka tak tergantikan oleh apapun. Semoga pemerintah segera bisa membumihanguskan kelompok-kelompok tak berperikemanusiaan ini.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

Oleh : Timotius Gobay )*

Kelompok Kriminal Bersenjata merupakan musuh negara dan masyarakat yang selalu menghambat berbagai program pembangunan. Kelompok tersebut seringkali terlibat aksi keji dengan menembaki masyarakat sipil. Publik pun diminta mewaspadai tindakan brutal mereka, termasuk mewaspadai penyelundupan senjata api.

Polisi mengungkap oknum di komite nasional Papua Barat (KNPB) dalam memasok senjata api untuk kelompok kriminal bersenjata (KKB). Pelaku tersebut menjabat sebagai sekretaris organisasi.

Pelaku atas nama Naftali Tipagau alias Niel Tipagau (25). Selama ini dia bertugas untuk mencari amunisi dan senjata api untuk KKB.

            Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpaw di Kota Jayapura mengatakan, tersangka juga aktif dalam organisasi KNPB dengan jabatan sebagai sekretaris umum wilayah Kabupaten Intan Jaya.

            Dia juga dinilai aktif melakukan propaganda dengan mengangkat isu-isu pelanggaran HAM yang dilakukan aparat keamanan di media sosial. Naftali juga mendukung upaya penolakan otsus Papua dan mogok sipil nasional 2021.

            Pelaku berhasil diamankan petugas pada Senin 4 Januari 2021 pukul 17.30 WIT di depan kampus Universitas Yapis Jayapura tanpa perlawanan. Saat ini Naftali diamankan di Mapolda Papua.

            Paulus berujar, tersangka dijerat dengan pasal 1 Ayat (1) UU Darurat No. 12 Tahun 1951 Jo Pasal 55 KUHP.

            Dirinya juga menuturkan bahwa saat ini Kabupaten Nabire menjadi jalur utama penyelundupan senjata api ilegal ke wilayah pegunungan Papua.

            Sejak awal 2020, aparat keamanan berhasil menggagalkan transaksi jual beli senjata api ilegal dan amunisinya di Nabire.

            Pada 25 Januari 2020 lalu, saat itu petugas kepolisian melakukan penindakan terhadap transaksi pembelian amunisi yang dilakukan NT bersama Paulus Tebay.

            Pada saat dilakukan penindakan, aparat gabungan berhasil membekuk Paulus Tebay beserta barang bukti amunisi cal 9 mm sebanyak 20 butir dan uang tunai sebesar Rp 1.110.000.

            Lalu pada 21 Oktober 2020, Tim Gabungan TNI dan Polri menangkap anggota Brigade Mobil (Brimob) Bripka JH terkait penyelundupan senapan M16 dan M4, di Nabire.

            Saat itu, tim juga menemukan satu pucuk senjata laras pendek jenis Glock yang dimiliki tersangka DC pada 22 Oktober lalu.

            Adapun MJH beberapa kali mendapat bayaran dari tugasnya membawa 7 pucuk senjata ini. Totalnya MJH menerima uang yang nilainya mencapai Rp 155 juta.

            Setelah dikonfirmasi mengenai penyelundupan tersebut, Kapolres Nabire AKBP Kariawan Barus mengaku bahwa dirinya belum mengetahui pasti alasan mengapa Nabire saat ini menjadi jalur utama penyelundupan senjata api ilegal di Papua.

            Ia menilai, keberadaan Nabire sebagian daerah transit bagi lima kabupaten yang ada di sekitarnya, yaitu Paniai, Deiyai, Dogiyai, Intan Jaya dan Mimika.

            Menurutnya, banyak kabupaten di wilayah adat Mepago, sangat bergantung kepada Nabire karena distribusi logistik seluruhnya berasal dari daerah tersebut.

            Selain itu, pintu masuk ke Nabire yang bisa diakses melalui jalur udara, laut dan darat dari Manokwari, Papua Barat, dianggapnya juga mempermudah masuknya senjata api ilegal ke Nabire.

            Kariawan menuturkan, memang ini menjadi kepedulian pihaknya karena logistik termasuk bahan pokok ke atas juga banyak dari sini. Akses ke Nabire juga bisa diakses melalui jalur darat, laut dan udara. Nah, ini yang harus diperketat.

            Pengungkapan kasus penjualan senjata api dari Filipina ke Papua dan terungkap di Nabire pada 6 November 2020, dipastikan untuk memperkuat keberadaan KKB di Intan Jaya.

            Hal ini dikarenakan polisi telah memeriksa riwayat perjalanan YZ atau Jhon sebagai pembeli senjata api.

            YZ sendiri kini terus dikejar oleh kepolisian dan telah dimasukkan ke dalam daftar pencarian orang (DPO) atas kasus jual beli senjata api ilegal.

            Hubungan YZ dengan KKB di Intan Jaya pun hingga kini belum dapat dipastikan karena belum cukup informasi mengenai dirinya.

            Ia memastikan bahwa YZ sering melakukan perjalanan dengan rute Nabire – Intan Jaya. 

            Dari pengungkapan kasus tersebut, diketahui jika telah terjadi transaksi jual beli senjata di Sanfer, Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara antara RB dan YZ.

            Kemudian MS dan SS berperan sebagai kurir yang membawa 12 pucuk senjata api di dalam 2 karton.

            Penyelundupan senjata api tentu saja tindakan yang ilegal dan berbahya bagi keutuhan NKRI, penegak hukum perlu memberikan tindakan tegas kepada siapapun yang menyelundupkan senjata bagi kelompok kriminal bersenjata.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal Gorontalo