Oleh : Sabby Kosay )*

Kelompok separatis dan teroris (KST) ditindak dengan tegas oleh aparat, tetapi hal ini malah diapresiasi oleh masyarakat. Pasalnya, mereka sudah terlalu sering melukai, baik warga sipil maupun anggota TNI yang sedang berjaga. Sehingga jika ada tindakan tegas terukur, memang diperbolehkan.

Papua saat ini terkenal oleh beberapa hal: pariwisata, alam yang natural, dan hasil pertaniannya. Akan tetapi ada 1 hal negatif yang membuat nama Bumi Cendrawasih jadi naik di media, yakni OPM dan KST. Mereka kompak ingin merdeka dari Indonesia dan tidak percaya pada hasil pepera (penentuan pendapat rakyat), padahal peristiwa itu sudah terjadi puluhan tahun lalu.

Untuk memperlancar aksinya, maka KST sengaja membuat kerusuhan, baik menjelang ulang tahun OPM tanggal 1 desember, maupun di hari lain. Sudah hampir tak terhitung peristiwa tragis yang mereka lakukan. Mulai dari membakar pesawat, menjadikan warga sipil sebagai tameng hidup, membunuh para pendatang, sampai nekat menembak aparat dengan sniper.

Kelakuan minus KST masih ditambah dengan pembakaran sekolah dan pembunuhan murid serta guru. Hal ini sudah jauh di luar batas kemanusiaan, karena selain menghilangkan nyawa orang yang tak bersalah, juga merusak masa depan anak-anak Papua. Bagaimana mereka bisa belajar dengan nyaman jika tempat dan pengajarnya tidak ada? Sama saja dengan membiarkan warga Papua berkutat dengan keterbelakangan, sedihnya.

Aparat bertindak tegas saat merangsek ke markas KST di daerah Kabupaten Puncak. Meski belum menangkap beberapa pentolan mereka yang jadi DPO seperti Sabius Walker dan Lekagak Telenggen, tetapi manuver Satgas Nemangkawi sudah membuat KST ketakutan. Mereka berlari ke markas lain dan bersembunyi agar tidak terkena muntahan pelor.

Ketika ada operasi penangkapan anggota KST, maka masyarakat mendukung 100%. Mereka tak mempermasalahkannya, karena walau KST sama-sama orang Papua, tetapi kelakuannya sudah merugikan warga sipil di Bumi Cendrawasih. Mereka juga merusak fasilitas umum dan membuat masyarakat ketakutan dan muncul perasaan tidak nyaman saat beraktivitas di luar rumah.

Masyarakat juga men-support ketika aparat melakukan tindakan tegas terukur pada anggota KST. Pasalnya, mereka sudah masuk dalam daftar pencarian orang sehingga wajar ketika ada muntahan pelor yang diluncurkan. Bukan hanya untuk melumpuhkan kaki tetapi juga bagian lain.

Lagipula, tindakan tegas terukur juga sudah diperbolehkan oleh Presiden. Dengan catatan harus sesuai dengan hak azazi manusia, dan para prajurit TNI pasti memahaminya. Mereka pasti tunduk pada perintah Presiden dan tetap membantu masyarakat dalam usaha pemberantasan KST.

Tindakan ini diperbolehkan karena selama ini KST sudah berulang-kali meresahkan masyarakat, dan mereka sampai trauma saat ada anggota kelompok separatis yang lewat. Karena biasanya KST memaksa untuk mengibarkan bendera bintang kejora, menakut-nakuti dengan senjata tajam, sampai mencurigai warga sipil.

Masyarakat selalu dicurigai sebagai intel polisi, sehingga KST sering menembak mereka dengan membabi-buta. Padahal itu hanya fitnah yang keji. Kenyataannya, KST yang paranoid dan selalu merespon berlebihan.

Oleh karena itu, masyarakat selalu mendukung aparat untuk memberantas KST, caranya dengan menjadi informan. Jika ada yang mencurigakan maka bisa langsung menelepon ke markas TNI untuk follow up.
Selain itu, masyarakat juga membantu dengan kampanye di dunia maya. Di akun media sosial ditunjukkan bahwa KST yang bersalah dan tidak ada pelanggaran HAM sama sekali oleh aparat. Papua malah makin aman berkat penjagaan dari TNI dan Polri.

Tindakan tegas aparat terhadap kelompok separatis bersenjata amat didukung oleh masyarakat. Karena KST memang sudah terlalu sering merusak perdamaian di Papua dan bahkan terlalu berani mengutus sniper untuk membunuh aparat. Kelakuan mereka yang sudah di luar batas memang harus dibalas dengan tindakan yang super tegas.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

Oleh: Halimatussyadiah (Warganet Kota Tangerang Selatan)

Adanya Kelompok Separatis dan Teroris (KST) membuat masyarakat semakin resah dengan keadaan di Papua. Pihak KST kerap melakukan propaganda melalui media lokal dan internasional, serta berupaya menggerakkan mobilisasi massa dan demonstrasi dengan mengeksploitasi isu ketimpangan pembangunan, referendum, pelanggaran HAM, dan lain sebagainya.

Tindakan KST sudah tidak bisa ditoleransi lagi, dimana kerap melakukan aksi kejahatan yang meresahkan masyarakat, serta mengakibatkan korban jiwa.

Menurut Pengamat Intelijen dan Militer, Susaningtyas Kertopati bahwa dirinya melihat gerakan separatisme di Papua memiliki jaringan yang sangat fragmented. Artinya, tidak terdapat satu komando yang terstruktur dan setiap kelompok memiliki pimpinan sendiri. Oleh karenanya, butuh penanganan khusus dalam menghadapinya.

Aparat negara tentu telah melakukan upaya-upaya demi menjaga persatuan dan kesatuan Papua. Terbukti dengan berita yang tersebar luas di media online, bahwa aparat terus melakukan pengejaran optimal terhadap kelompok membahayakan tersebut. Aparat juga fokus menyisir kelompok-kelompok teroris KST Papua, selanjutnya dilakukan penumpasan secara total agar tidak lagi mengganggu ketenteraman masyarakat Papua dan mencegah Papua terpecah belah.

Dalam hal ini, dibutuhkan kerja sama antara masyarakat dengan aparat. Dengan adanya kekuatan dari masyarakat dan aparat, maka diharapkan tidak ada lagi tindak kejahatan yang merajalela di Papua. Di sisi lain, kerja sama ini diharapkan dapat mendorong pembangunan Papua yang cepat dan berkelanjutan.

Tentu saja, jika kolaborasi antar kedua belah pihak dilakukan dengan optimal, maka pelaku kejahatan dapat segera ditindaklanjuti oleh aparat keamanan, sehingga kehidupan warga Papua akan lebih sejahtera karena tidak adanya keresahan atau kekhawatiran dalam bekerja maupun beraktivitas. Pemerintah dan aparat keamanan diharapkan tidak ragu dan segera turunkan kekuatan penuh menumpas KST di Papua demi melindungi rakyat Papua.

Oleh : Abner Wanggai )*

Konflik di Papua kerap meninggalkan luka dan korban jiwa. Aksi keji yang dilakukan oleh Kelompok Separatis dan Teroris (KST) tersebut, rupanya menjadi sumber konflik bagi masyarakat di Bumi Cenderawasih.
Bambang Soesatyo selaku Ketua MPR menyatakan pihaknya terus mendukung pemerintah bersama TNI-Polri dan BIN mengambil langkah yang tepat mengatasi konflik di Papua. Pihaknya meminta pemerintah tidak perlu ragu melakukan penindakan terhadap kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Menurut Bamsoet, tindakan pemerintah ini sudah sesuai dengan UU Nomor 5 Tahun 2018 tentang Tindak Pidana Terorisme. Karena pemerintah telah menetapkan KKB sebagai kelompok teroris.

MPR juga sepakat dengan pemerintah yang meningkatkan kinerja intelijen agar dapat diketahui teknik dan cara untuk mengatasi secara menyeluruh persoalan gangguan keamanan di Papua tersebut.

Selain itu, MPR juga meminta pemerintah dan aparat TNI-Polri berkomitmen untuk terus memproses atau melakukan penindakan terhadap KKB yang telah ditingkatkan statusnya menjadi separatis teroris secara tegas.

Pada kesempata berbeda, Torius Tabuni selaku pengamat Papua menilai konflik di Papua telah berkepanjangan dan semakin melebar dari inti permasalahan.

Torius meyakinkan, dalam kehidupan nyata bahwa situasi di Papua tidak semeresahkan apa yang diisukan oleh kelompok separatis.

Ia juga menyatakan bahwa kelompok separatis di Papua sudah mulai merambah dua sektor rawan, yakni pergolakan senjata dan ranah politik. Bahkan ia menambahkan, dinamika yang terjadi di Papua lebih bermula dari eksistensi dan ancaman kelompok separatis itu sendiri.

Dalam kajian Torius, berbagai kelompok separatis selalu mencari cari kelengahan aparat untuk melakukan teror. Torius menemukan fakta, bahwa konflik Papua bukanlah disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan atau faktor rakyat Papua, tetapi lebih dikarenakan oleh kelompok separatis.

Kelompok teroris dan separatis tersebut mencoba mengganggunya dengan melakukan penembakan sehingga ketika terdapat penindakan maka mulai dihembuskan isu tentang pelanggaran kemanusiaan.

Di mata Torius, konflik Papua bisa diselesaikan kelompok separatis agar tidak ikut campur tangan.

Alasannya, setiap pembangunan dan kemajuan yang muncul di Papua, akan dimentahkan oleh asumsi negatif yang terus dimanfaatkan oleh kelompok separatis.

Pada kesempatan berbeda, Kepala Badan Intelijen Keamanan (Kabaintelkam) Polri Komjen Pol Paulus Waterpauw menyatakan tindakan kekerasan dan aksi teror yang dilakukan oleh KKB di tanah Papua sudah mengerikan. Hal itulah yang mendasari pemerintah untuk melabeli KKB sebagai teroris.

Paulus menuturkan bahwa perbuatan KKB sudah sangat mengerikan. Kejahatan-kejahatan yang dilakukan KKB tidak hanya tertuju kepada aparat keamanan tetapi juga menyasar warga sipil, tenaga kesehatan, pendidik hingga pembakaran atau perusakan sejumlah fasilitas umum.

Pada bulan Mei 2021 lalu, KKB juga berulah dengan membakar fasilitas umum, seperti perumahan guru, puskesmas, hingga gedung sekolah di sejumlah wilayah Kabupaten Puncak, Provinsi Papua.

Perusakan fasilitas umum yang dibangun oleh pemerintah tentu saja telah menunjukkan bahwa KKB telah menyatakan perang kepada pemerintah. Pada kesempatan berbeda, Kapolda Papua, Irjen Mathius D Fakhiri, menyebutkan sempat terjadi aksi baku tembak.

Saat kejadian, aparat keamanan yang berada di Kota Ilaga melihat kepulan asap tebal dari arah Bandara Aminggaru. Selanjutnya, dilakukan pemantauan menggunakan drone dan didapati beberapa fasilitas bandara dalam keadaan terbakar.

Fakhiri menuturkan aparat keamanan gabungan telah menuju ke lokasi kejadian, hingga akhirnya terjadi kontak senjata selama 1 jam.

Selain itu, KKB juga menewaskan Habel Halenti, dimana Habel Halenti dinyatakan tewas akibat tembakan di belakang leher. Saat itu Habel sedang bersama rekannya Muhammad Alif yang diketahui selamat dari serangan KKB.

Alif menuturkan, Habel Halenti sempat memohon ampun agar dirinya tidak dibunuh oleh anggota KKB. Namun Habel tetap diserang hingga terdapat luka tembak di lehernya.

Aksi penyerangan yang dilakukan oleh KKB tentu menjadi ancaman yang serius terhadap kedaulatan NKRI dan jalannya program pembangunan di Papua yang tengah digalakkan oleh pemerintah.

Sampai kapanpun, Papua dan Papua Barat akan menjadi bagian dari NKRI, sehingga keutuhan wilayah Indonesia harus tetap dijaga, jangan sampai ada pihak yang merongrong keutuhan bangsa Indonesia, apalagi dengan cara menebar teror dan mengancam keamanan.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Semarang

Peneliti permasalahan Papua dari Makara Strategik Insight, Jim Peterson, mengatakan bahwa hasil observasi yang telah dilakukannya selama kurang lebih 4 bulan di tanah Papua, menunjukkan bahwa aksi teror yang telah dilakukan KST Papua telah meresahkan orang asli Papua (OAP) dan masyarakat pendatang.

OAP dan masyarakat pendatang di papua merasa terteror dengan berbagai aksi kekerasan yang telah menimbulkan korban jiwa, baik dari apkam hingga masyarakat sipil. Berbagai penembakan hingga pembakaran objek vital telah menciptakan rasa takut dan melumpuhkan roda perekonomian disana.

Supply logistik, komunikasi, transportasi hingga sosial budaya disana telah mengalami gangguan. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan KST telah mengkhianati nilai demokrasi masayarakat Papua.

“Aksi teror KST Papua telah meresahkan OAP dan masyarakat pendagang disana. Mereka merasa terteror dengan berbagai aksi penembakan terhadap masyarakat sipil dan apkam. Selain itu, pembakaran obvit telah melumpuhkan roda perekonomian disana. Supply logistik, komunikasi, transportasi hingga sosial budaya disana telah mengalami gangguan.”, ujar Jim.

“Oleh karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan KST telah mengkhianati nilai demokrasi masayarakat Papua”, tambah Jim.

Belakangan diketahui telah terjadi kontak senjata antara KST Papua dengan apkam. Satu anggota KST di Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua ditembak aparat gabungan TNI-Polri. Baku tembak terjadi saat aparat sedang patroli di dekat bandara.

“Sampai malam tadi, tim gabungan masih melakukan penyisiran dan pengejaran kelompok kriminal teroris bersenjata yang membawa rekannya yang tertembak,” kata Kasatgas Humas Nemangkawi, Kombes Iqbal Alqudussy, Selasa (8/6/2021).

Disebutkan, peluru aparat menembus paha teroris KST tersebut. Namun belum ada kepastian tembakan mengakibatkan anggota KST itu meninggal dunia atau tidak.

Oleh : Timotius Gobay )*

Penumpasan anggota Kelompok Separatis dan Teroris (KST) di Papua terus dilakukan oleh aparat, karena tingkah mereka makin lama makin menggila. Setelah tega membakar sekolah dan membunuh guru, anggota KST tega membunuh warga sipil pendatang dan Kepala Desa. Kebiadaban mereka membuat para pentolan KST dijadikan DPO dan masyarakat berharap mereka segera tertangkap. Warga sipil juga bekerja sama agar KST cepat dibekuk.

Pada masa pemerintahan Presiden Jokowi, pembangunan di Papua benar-benar pesat. Setelah ada jembatan Youtefa, ada pula Jalan Trans Papua dan berbagai infrastruktur lainnya. Semua ini demi kesejahteraan rakyat di Bumi Cendrawasih dan menghindari ketimpangan kemajuan antara Indonesia bagian barat dan timur.

Namun sayangnya pembangunan di Papua terancam oleh keberadaan KST, yang dulu bernama KKB. Kelompok separatis ini ketahuan beberapa kali mengganggu proses pembangunan di Jalan Trans Papua, sehingga di sana harus dijaga ketat oleh aparat.

Selain itu, KST juga melakukan teror lain di Papua, yang juga bisa menghambat pembangunan kecerdasan masyarakat. Anggota KST di bawah pimpinan Sabius Walker ketahuan membakar gedung sekolah, dan mereka juga tega membunuh 2 orang guru. Kelakuan KST sungguh ingin menjerumuskan anak-anak Papua, karena mereka bisa gagal menuntut ilmu, saat tidak ada pengajar dan tempat untuk belajar.

KST juga membuat image Papua jadi jelek, karena identik dengan daerah yang rawan konflik dan mengerikan. Sehingga turis lokal dan asing akan takut untuk traveling ke sana. Padahal di Bumi Cendrawasih ada hidden gems berupa Raja Ampat, Puncak Jayawijaya, dan beberapa tempat wisata lain yang cantik dan potensial.

Jika Papua sepi karena turis takut untuk berkunjung, maka akan berpengaruh pada pendapatan pemerintah daerah Provinsi Papua dan Papua Barat. Karena pendapatan dari sektor pariwisata berkurang akibat sepinya peminat. Semua ini gara-gara KST yang mempermalukan warga asli Papua secara tidak langsung.

Oleh karena itu, pemberantasan KST patut dijadikan fokus utama bagi aparat yang bertugas di Papua. Setelah dibentuk Satgas Nemangkawi yang terdiri dari gabungan anggota TNI dan Polri, mereka langsung bergerak cepat untuk memberantas KST hingga ke markasnya. Tujuannya agar anggota organisasi teroris ini cepat tertangkap.

Aparat juga melakukan baku tembak dengan anggota KST di kawasan bandara, tanggal 4 juni 2021. Kontak senjata ini dilakukan setelah mereka tega membunuh seorang kepala desa dan 4 anggota keluarganya. Belum ada keterangan lebih lanjut dari kejadian ini karena masih belum selesai.

Masyarakat sangat miris pada perbuatan anggota KST yang terus melakukan kekejaman, seolah-olah kecanduan untuk membunuh orang lain. Padahal seorang kepala desa tentu berstatus sebagai warga asli Papua, tetapi mereka tega untuk menembak saudara sesukunya sendiri. Sungguh biadab.

Selain aparat, warga sipil juga bekerja sama untuk menumpas KST. Mereka bersinergis dan kompak agar organisasi teroris itu cepat dibubarkan. Komunitas Melanesian Clan menyatakan dukungannya pada aparat untuk terus membasmi KST, karena mereka terus meresahkan masyarakat.

Selain pemuda Papua, ibu-ibu dan elemen masyarakat lain juga mendukung pemberantasan KST. Mereka langsung memberi informasi ketika ada aktivitas yang mencurigakan, sehingga saat ada ancaman KST akan dicegah oleh aparat. Selain itu, warga sipil juga kompak untuk tidak mau bekerja sama maupun menyembunyikan anggota KST dari kejaran aparat.

Ketika ada sinergi dari masyarakat dan aparat, maka kita optimis KST akan lekas dibubarkan. Karena warga sipil mengerti lika-liku daerah Papua dan menjadi informan aparat, ketika mereka melakukan penelusuran untuk menemukan markas KST. Semoga KST segera diberangus agar tidak meresahkan masyarakat.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Gorontalo

Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, Kolonel Czi IGN Suriastawa menyebut aparat gabungan TNI-Polri saat ini tengah melakukan penyisiran ke lokasi-lokasi yang dianalisa sebagai tempat persembunyian Kelompok Separatis Teroris (KST) di sejumlah wilayah di Papua dan Papua Barat.

Hal ini kata Suriastawa lantaran orang-orang yang tergabung dalam KST ini memang mesti diadili sehingga pencarian dan penyisiran terus dilakukan pihaknya.

Diakui Suriastawa selama ini para KST juga kerap melontarkan berbagai informasi hoaks yang menjerumuskan. Namun pihaknya tak ingin menanggapi argumen-argumen atau pernyataan tidak benar yang disampaikan para anggota KST ini.

“Biarkan saja, yang jelas menjadi kewajiban kita menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI, dan melindungi segenap warga negara dari ancaman manapun termasuk KST,” kata dia.

Lagi pula kata Suriastawa banyaknya informasi bohong yang terus disebarkan KST ini juga membuktikan bahwa saat ini mereka memang tengah terdesak. Para KST ini telah terkepung oleh aparat gabungan TNI Polri.

Oleh : Rebeca Marian )*

Kelompok separatis dan teroris (KST) adalah penghianat rakyat karena mereka mengajak dan memaksa warga sipil untuk bergabung dengan Republik Federal Papua Barat. Mereka juga berkeyakinan bahwa Papua harus merdeka dari jajahan Indonesia. Sehingga dikategorikan sebagai penghianat, karena terbukti tidak setia pada negara.

Di Papua, faktor keamanan masih mendapat gangguan dari KST. Mereka dengan gencar melakukan berbagai siksaan kepada warga sipil Papua, mulai dari pamer senjata api sampai ke penembakan yang berujung pembunuhan. Bahkan KST juga nekat menyerang aparat terlebih dahulu, padahal sudah jelas kalah pengalaman dan persenjataan.

KST sudah patut dikategorikan sebagai penghianat karena buktinya memang tidak setia pada negara. Mereka tidak mengakui pemerintah Indonesia dan bahkan bermusuhan dengan anggota TNI dan Polri. Bahkan ketika ada pegawai yang berseragam seperti ASN, juga diincar, karena dianggap sebagai representasi pemerintah.

Sebagai bagian dari OPM, KST sebenarnya bertugas untuk menjaga wilayah Papua, tapi sayang karena mereka berkeyakinan bahwa Papua dijajah oleh Indonesia, mereka jadi menyerang aparat. Sudah terlalu banyak korban dari TNI dan Polri yang gugur karena dibunuh oleh KKB, bahkan mereka menggunakan jasa sniper untuk memenuhi ambisinya.

Oleh sebab itu, KST wajib diberantas hingga ke akarnya karena penghianat akan terus berusaha untuk memberontak dengan segala cara, termasuk kekerasan. Sehingga akan sangat membahayakan posisi warga sipil di Bumi Cendrawasih. Mereka jadi berada di bawah ketakutan dan tak bisa beraktivitas dengan bebas, jika ada ancaman dari KST.

Jika penghianat tidak dibumihanguskan, maka bahaya lain yang mengintai adalah kedaulatan negara terkoyak. Karena bisa-bisa mereka secara sepihak mengklaim kemerdekaan Papua dan meresmikan Republik Federal Papua Barat. Bahayanya adalah KST dengan licik meminta dukungan dari luar negeri dan plating victim.

KST berakting seolah-olah merekalah yang terluka oleh aparat, padahal mereka sendiri yang membuat huru-hara di Papua. Lantas dibuatlah hoax dan konten provokatif, yang isinya berkebalikan dari fakta. Namun netizen dari luar negeri tidak mengeceknya dan berkesimpulan bahwa KST yang terluka. Bisa jadi karena berita yang benar berbahasa Indonesia sedangkan mereka tidak mengerti.

Jika hal ini dibiarkan akan sangat berbahaya karena nama baik Indonesia dipertaruhkan. Oleh karena itu, pertarungan dengan KST tak hanya dilakukan di dunia nyata tetapi juga di dunia maya. Tim siber Polri bisa memantau berita hoax atau konten provokatif mana yang diluncurkan oleh KST lalu meminta Google untuk menghapusnya, karena terbukti itu palsu.

Pemberantasan KST makin intensif dengan mengutus Satgas Nemangkawi untuk meluncur langsung ke Kabupaten Puncak. Di sana memang daerah rawan konflik dan sudah sering ada serangan KST, baik kepada warga sipil maupun aparat. Dalam penyerbuan, ditemukan 1 markas KST dan mereka langsung lari tunggang-langgang.

Sementara ini masih diselidiki markas KST yang lain karena kabarnya ada beberapa markas yang tersebar di pedalaman Papua. Mereka memang sengaja membuat markas yang tersembunyi dari kejaran aparat, karena sudah menguasai medan dan memiliki kamuflase yang bagus. Namun aparat tidak menyerah dan terus mengejar mereka sampai organisasi teroris ini bubar.

Kelakuan KST sudah melewati batas, ketika mereka membunuh banyak warga sipil dan berani menyerang aparat terlebih dahulu, bahkan mengutus sniper untuk melancarkan aksinya. Oleh karena itu, KST wajib diberantas agar tidak merajalela dan menakut-nakuti warga sipil Papua. Jika mereka sudah dibubarkan, maka keadaan di Bumi Cendrawasih akan makin damai.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Oleh: Rebecca Marian )*

Ulah kelompok separatis teroris (KST) memang tidak bisa dimaafkan, kelompok tersebut secara brutal membunuh warga sipil dan membakar Bandara Ilaga. Mereka juga membakar satu unit pesawat rusak yang parkir di Apron Bandara Aminggaru Ilaga.
Berita terkait pembakaran pesawat tersebut telah dibenarkan oleh Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih Letkol Arm Reza Nur Patria.

Menurut Reza, tindakan tersebtu tentu sangatlah tidak bertanggung jawab dan menyebabkan instabilitas di Kabupaten Puncak dan pada akhirnya akan mengganggu proses pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah.

Sementara itu, Kapolda Papua, Irjen Mathius D Fakhiri, menyebutkan sempat terjadi aksi baku tembak.

Saat kejadian, aparat keamanan yang berada di Kota Ilaga melihat kepulan asap tebal dari arah Bandara Aminggaru. Selanjutnya, dilakukan pemantauan menggunakan drone dan didapati beberapa fasilitas bandara dalam keadaan terbakar.

Fakhiri menuturkan aparat keamanan gabungan telah menuju ke lokasi kejadian, hingga akhirnya terjadi kontak senjata selama 1 jam.

Polisi mengatakan kontak tembak antara aparat TNI-Polri dengan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Bandara Ilaga yang terjadi selama 1 jam tersebut, terjadi pada pukul 17.40 WIT. Aparat kepolisian saat itu tengah mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) pembakaran sejumlah fasilitas di bandara yang diduga dilakukan oleh KKB.

Dirinya mengatakan beberapa fasilitas yang dibakar oleh KKB ialah tower/ATC Bandara Aminggaru, ruang tunggu bandara, perumahan perhubungan udara, dan kios milik warga sekitar.

Fakhiri menyebutkan, KST di Kabupaten Puncak Papua tidak hanya membakar fasilitas Bandara Ilaga, Kabupaten Puncak, tetapi juga membakar 3 rumah dinas milik Dinas Perhubungan Puncak, serta 1 unit rumah warga.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal mengatakan, objek yang diserang KKB adalah tower atau air traffic control (ATC) di Bandara Aminggaru Ilaga dengan cara dibakar.

Kamal menjelaskan identifikasi lokasi-lokasi yang terbakar tersebut dilihat dari gambar kamera pesawat tanpa awak (drone) yang diterbangkan di sekitar bandara.

Perwira menengah ini menuturkan, kabar kebakaran tersebut pertama kali diketahui dari adanya kepulan asap hitam yang terlihat di Kota Ilaga.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TNPB) sendiri sempat menabuh genderang perang dengan aparat TNI-Polri. Bahkan beberapa telah memilih untuk melakukan lokasi perang di wilayah Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua.

Juru Bicara TPNB-OPM Sebby Sambom mengatakan lokasi tersebut dipilih karena diklaim jauh dari jangkauan warga sipil.

Pasca pembakaran tower yang dilakukan oleh KST, aparat TNI-Polri menyisir Bandara Ilaga, dalam penyisiran tersebut aparat menemukan dua jenazah korban aksi kebrutalan kelompok teroris. Akibat pembakaran tower bandara tersebut, operasional bandara terpaksa ditutup sementara.

Kasatgas Humas Operasi Nemangkawi Kombes M Iqbal Alqudusy mengatakan, kedua korban telah diidentifikasi. Mereka yakni Nelius Kogoya dan Petena Murib.

Iqbal menyebut KST tidak hanya membakar tower di Bandara Aminggaru. Mereja juga menembak anggota TNI-Polri yang tengah berupaya mengamankan lokasi.

Tim Satgas Nemangkawi masih memburu KST tersebut. Kelompok teroris itu ternyata telah menembak 6 orang. Mereka merupakan warga sipil, akni Habel Halenti, yang tewas ditembak saat berada di Distrik Omukia. Kemudian satu keluarga kepala desa berjumlah lima orang di kawasan Eromaga, Ilaga. Lal ada pula Kepala Desa Nipurlena Petianus Kogoyoa yang turut serta menjadi korban.

Iqbal juga mengatakan, warga dari 10 kampung yang ada di sekitar Eromaga memutuskan untuk mengungsi ke arah Kunga. TNI-Polri, masih mengejar pelaku penembakan warga Eromaga yang diduga bagian dari KKB Talenggeng.

Terbakarnya Bandara ini tentu saja mengganggu akses transportasi, apalagi pesawat yang mendarat tidak hanya membawa penumpang tetapi juga kebutuhan pokok. Akibatnya aktifitas di bandara untuk sementara dihentikan sehingga berdampak pada sulitnya masyarakat untuk mendapatkan pasokan sembako.

Aksi brutal KST yang membunuh warga sipil dan Membakar Bandara rupanya berdampak pada berbagai sektor, mulai dari keamanan sampai ketersediaan logistik. Pemerintah tentu perlu melakukan pengamanan sampai kondisi di bandara benar-benar kondusif dant terkendali, selain itu KST yang terbukti melancarkan aksi teror harus ditangkap untuk mendapatkan hukuman yang setimpal.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sukamta angkat bicara soal kontak tembak antara gabungan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menewaskan dua orang anggota KKB pada Kamis (13/5/2021) di Kabupaten Puncak, Papua.

Menurutnya, jika benar yang dilumpuhkan dalam baku tembak kemarin adalah anggota KKB, maka hal tersebut sudah benar dilakukan oleh TNI. “Kalau yang diburu dan berhasil dilumpuhkan atau ditangkap adalah KKB, itu bagus,” kata Sukamta.

Menurutnya, hal ini semakin menumbuhkan harapan penumpasan KKB dapat segera diselesaikan.

Ia berharap, pemerintah dapat segera menyelesaikan atau menghentikan adanya KKB di Papua. Hal tersebut sangat diperlukan agar pemerintah dapat serius menangani berbagai persoalan yang ada di Papua.

“Kita berharap KKB ini bisa segera diselesaikan dan pemerintah lebih fokus dan lebih serius menangani Papua dengan meningkatkan kesejahteraan seluruh penduduk Papua,” pungasnya.