Oleh : Thomas Tabuni )*

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua merupakan provokator rakyat yang harus diberantas. Keberadaan KST Papua selama ini hanya menimbulkan konflik berkepanjangan di Papua. 

Papua dan Papua Barat adalah provinsi paling timur di Indonesia. Walau lokasinya amat jauh dari Jakarta, tetapi tidak terpinggirkan pembangunannya. Malah di era pemerintahan Presiden Jokowi, otonomi khusus dilanjutkan dan modernisasi terus dilakukan. Hasilnya antara lain Jembatan Youtefa, Jalan Trans Papua, dll.

Sayang sekali eksotisme Papua yang sudah tersaput cantik oleh modernisme ini tidak pernah dianggap oleh KST (kelompok separatis dan teroris- dulu istilahnya kelompok kriminal bersenjata). Mereka tetap saja melakukan penyerangan, utamanya terhadap rakyat sipil. Penyebabnya karena warga ada yang tidak mau diprovokasi untuk meninggalkan NKRI dan menyebrang ke Republik Federal Papua Barat.

Sejak era orde baru, KST Papua memang sudah ada dan diibaratkan organisasi teroris ini adalah kaki-tangannya. Alasan mereka selalu sama: tuntutan untuk memerdekakan diri karena ingin mandiri dan tidak ada pemerataan pembangunan di Indonesia. Papua yang dulu dikenal dengan istilah Irian Jaya, menjadi terkenal berkat organisasi ini (yang sayangnya menjadi bad popularity).

Untuk memperlancar aksinya maka KST melakukan teror dengan berbagai cara. Mulai dari membakar sekolah, menyerang pemukiman, bahkan yang lebih parah lagi mereka dengan sengaja membunuh dari warga sipil, aparat, hingga para guru dan tenaga kesehatan. Sangat miris karena mereka menyerang pihak-pihak yang berjasa besar bagi masyarakat di Papua.

KST juga mulai melek tenologi dan memanfaatkan media sosial untuk menebar racun secara psikologis. Mereka tahu bahwa banyak warga Papua yang aktif di sosmed, terutama Facebook. KST akhirnya memprovokasi masyarakat dan membuat hoaks serta foto palsu. Tujuannya agar masyarakat terpengaruh dan akhirnya berbalik memusuhi aparat, serta menyebarkannya ke teman-teman di dunia maya.

Salah satu provokasi yang disebar oleh KST adalah hoaks tentang pemusnahan ras melanesia di Papua. Seperti yang kita ketahui, di Bumi Cendrawasih mayoritas dihuni oleh ras tersebut. Jika masyarakat bersumbu pendek maka akan mudah terpengaruh. Namun syukurlah mereka tidak mempercayainya, dan diharap memperingatkan yang lain agar tidak mudah untuk terprovokasi.

Oleh karena itu KST wajib diberantas agar tidak menyebarkan provokasi-provokasi selanjutnya. Jangan sampai gara-gara hasutan, situasi jadi runyam, dan terpantik permusuhan antar warga. Bahkan sebuah provokasi bisa memicu peperangan antar suku yang membahayakan.

Satgas Nemangkawi sebagai tim yang khusus dibentuk dalam memberantas KST makin rajin dalam melakukan patroli. Mereka biasanya menyatroni Kabupaten Puncak, karena di sana masih rawan konflik. Masyarakat harus dijaga angan sampai ada serangan KST yang bisa menyebabkan korban luka-luka, bahkan korban jiwa.

Selain itu, Satgas Nemangkawi juga mencari di mana saja markas KST, karena mereka tak hanya punya 1 markas. Jika sudah ketemu maka akan mudah untuk menangkap karena di sana berkumpul banyak anggota KST. Mereka bisa dibekuk dan dimasukkan ke dalam bui, agar tak lagi meresahkan masyarakat.

KST adalah organisasi teroris yang berbahaya karena terus memprovokasi masyarakat, agar mereka mau memisahkan diri dari Indonesia. Mereka dengan liciknya memanfaatkan dunia maya untuk menyebar hoaks dan provokasi. Oleh karena itu KST wajib diberantas oleh Satgas Nemangkawi dan aparat lain, hingga ke akarnya, agar tidak mengacaukan masyarakat Papua.

)* Penulis adalah Mahasiswa Papua tinggal di Banjarmasin 

Oleh : Rebecca Marian )*

Aparat Keamanan dan masyarakat diharapkan terus mengantisipasi serangan teror Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua menjelang pelaksanaan Pekan Olah Raga Nasional (PON) XX . Rakyat Papua pun mendukung tindakan tegas terhadap KST agar Papua tetap damai dan pelaksanaan PON dapat berjalan aman dan lancar.
Pekan Olahraga Nasional (PON) XX akan diselenggarakan di Papua tanggal 2 Oktober 2021. Ketika makin mendekati hari-H maka panitia berusaha agar tidak ada kendala yang menghalangi, baik saat pembukaan maupun penyelenggaraannya. Salah satu yang bisa jadi batu sandungan adalah keberadaan KST yang terang-terangan menentang acara ini sejak awal.

KST memang tidak suka akan berbagai program pemerintah, termasuk PON, karena bagi mereka Papua sedang dijajah. Hal ini amat aneh karena mayoritas warga di Bumi Cendrawasih pro NKRI dan menentang KST. Mereka tidak mau diajak untuk mendirikan Negara Federal Papua Barat, dan menyatakan cinta Indonesia, serta mendukung kesuksesan PON XX.

Untuk menjaga keberhasilan PON XX maka dilakukan berbagai cara, agar tidak ada gangguan dari kelompok teroris. Ketua BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar menyatakan bahwa serangan terorisme saat penyelenggaraan PON adalah sebuah keniscayaan. Pihaknya terus berkoordinasi dengan jaringan intelijen untuk memberi masukan dan meningkatkan kewaspadaan jelang pembukaan PON XX.

Komjen Pol Boy Rafli Amar melanjutkan, Papua adalah daerah yang memiliki keterkaitan dengan ISIS. Hal ini terbukti dengan penangkapan beberapa orang di Merauke pada medio mei 2021. Selain itu, Bumi Cendrawasih juga berkaitan dengan aksi kekerasan yang dilakukan oleh KST. Mereka tak hanya beroperasi di pegunungan tetapi juga daerah lain.

Untuk mencegah serangan KST yang bisa mengacaukan PON XX maka aparat makin ketat dalam pengamanan. Setidaknya 9.000 orang polisi diterjunkan untuk mengamankan PON, tak hanya di sekitar arena pertandingan, tetapi juga di Wisma Atlet sebagai tempat penginapan para tamu kontingen dari provinsi lain. Di bus penjemputan juga ada pengamanan yang ketat.

Selain itu, di sekitar arena PON juga ada tambahan pengamanan dengan memanfaatkan teknologi drone. Dengan pesawat mini ini maka bisa dipantau apakah ada potensi kerusuhan. Jangan sampai saat pembukaan PON ada anak panah yang dilayangan oleh KST, sehingga mengacaukan acara dan membuat malu panitia. Penggunaan drone amat berguna untuk mencegah masuknya anggota KST ke arena PON.

Drone juga dilengkapi dengan kamera bersensor, jadi orang yang masuk dalam blacklist atau dicurigai sebagai anggota KST, bisa ditandai. Lantas panitia dan aparat bisa terjun untuk melakukan tindakan pencegahan. Pesawat mini ini juga bisa dipantau sehingga mencegah terjadinya kerumunan, karena PON XX diselenggarakan saat pandemi.

Cara lain untuk mengamankan PON adalah dengan melakukan razia. Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Rusdi Hartono menyatakan bahwa Polri, TNI, dan instansi lain telah membuat rencana pengamanan. Caranya dengan razia antar wilayah di seluruh Papua. Diharap dengan cara ini maka akan ada pencegahan dari kerusuhan, baik yang dilakukan oleh KST maupun kelompok lain.

Saat razia tentu wajib diperiksa apakah seseorang membawa senjata tajam, senjata api, minuman keras, atau benda-benda berbahaya lainnya. Masyarakat sadar bahwa razia adalah langkah pencegahan dari kerusuhan saat PON diselenggarakan. Oleh karena itu mereka tidak mengeluh saat ada razia di jalanan.

Jelang pembukaan PON XX awal oktober nanti, pengamanan makin ketat dilakukan, di seluruh wilayah Papua. Polisi makin gencar melakukan razia, agar tidak ada anggota KST yang lolos lalu mengacaukan penyelenggaraan PON. Selain itu, pengamanan juga digencarkan, terutama di sekitar arena pertandingan.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

Oleh : Timotius Gobay )*

Masyarakat Papua menolak Keberadaan Kelompok Separatis dan Teroris (KST) karena terus melakukan propaganda untuk membenarkan aksi brutal mereka. Rakyat pun diminta waspada dan ikut melawan kabar bohong yang semuanya berisi hoaks.

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) menghembuskan propaganda agar warga sipil berbalik menjadi pendukung mereka. Masyarakat diminta untuk memakai logika dan mengabaikan propaganda tersebut, karena sama sekali salah. KST memang sengaja membuatnya untuk membuat keadaan seolah-olah ada benturan antara pemerintah dengan rakyat, padahal tidak pernah ada.

Propaganda makin gencar ditiupkan oleh KST, apalagi jelang pelaksanaan PON XX. Tujuannya agar ada perang psikologis antara mereka dengan aparat, dan diharap nantinya warga sipil jatuh simpati kepada OPM dan KST. Padahal propaganda itu salah besar karena hanya hoaks dan kepalsuan yang disebarkan oleh mereka.

Salah satu propaganda yang pernah beredar di tengah masyarakat Papua adalah isu penghabisan ras Melanesia. Pemerintah Indonesia patut dijauhi karena mereka anti dengan orang asli Papua (OAP) yang merupakan ras Melanesia. Propaganda ini sengaja disebarkan dengan tujan ada bentrokan antar suku, karena rata-rata aparat adalah pendatang dari pulau lain.

Selain itu, KST juga menebar propaganda berupa berita tentang aparat yang menembaki banyak warga sipil Papua. Padahal kenyataannya mereka sendiri yang melakukan penembakan keji, bukannya aparat. Bahkan KST tega menjadikan masyarakat yang tidak bersalah sebagai ’tameng hidup’ saat ada adu tembak dengan anggota TNI.

Sebby Sambom, pentolan KST, juga pernah ketahuan menyebarkan propaganda berupa korban baku tembak yang masih remaja. Padahal setelah dicocokkan, pria itu tenryata berusia 35 tahun. Jadi tidak benar jika aparat menembak remaja yang tidak bersalah.
Untuk mencegah menyebarnya propaganda maka BNPT melakukan pendekatan soft approach, sehingga seluruh rakyat Papua memiliki rasa cinta yang tinggi terhadap Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Ketua BNPT Irjen Pol Boy Rafli Amar. Dalam artian, pendekatan yang halus lebih mengena daripada yang keras, karena masyarakat merasa diayomi oleh aparat.

Cara untuk soft approach dilakukan dengan menggunakan pembangunan kesejahteran rakyat Papua, salah satunya dengan otonomi khusus. Ketika dana otsus cair maka akan ada banyak proyek yang berlanjut. Selain itu, anggaran otsus juga dirupakan beasiswa. Sehingga masyarakat sadar bahwa pemerintah amat memperhatikan nasib rakyat Papua, sehingga muncul rasa nasionalisme di dalam dirinya.

Untuk mencegah meluasnya propaganda maka bisa digunakan beberapa cara: pertama, bisa bekerja sama dengan pengelola media sosial. Sehingga ketikaada hoaks dan propaganda yang beredar di sosmed, bisa langsung di-take down karena melanggar standar komunitas. Jika bisa, maka akun milik KST juga dibekukan oleh pengelola sosmed, baik di Facebook maupun Twitter.

Sedangkan yang kedua, untuk mencegah tersebarnya propaganda maka caranya dengan menggandeng ahli IT. Mereka bisa tahu di mana posisi anggota KST saat membuka sosmed, karena tahu IP address-nya. Sehingga bisa dilakukan penelusuran tempat dan bekerja sama dengan aparat, untuk melakukan penangkapan. Jika anggota KST tertangkap maka tidak bisa lagi membuat propaganda yang menyesatkan.

Yang ketiga, masyarakat perlu diedukasi untuk membedakan mana berita asli, mana yang hoaks, dan mana yang propaganda. Sehingga jika ada yang sudah terlanjur menyebar di sosmed dan grup WA bisa dihapus, ketika ketahuan bahwa itu hanya propaganda. Waspadalah ketika ada berita yang menghebohkan dan judulnya click bait, karena bisa jadi itu hoaks yang sengaja dibuat oleh KST.

Untuk melawan KST maka diperlukan berbagai cara, termasuk psikologisnya. Saat mereka melakukan psy war dan menembakkan hoaks dan propaganda, maka aparat mengimbau warga untuk tidak langsung percaya. Silakan cek dulu di Google tentang kebenarannya dan jangan langsung disebar, karena jadinya Anda turut mempopulerkan propaganda tersebut.

)* Penulis adalah Mahasiswa Papua tinggal di Gorontalo

Oleh : Deka Prawira )*

Sebentar lagi PON XX akan digelar dan aparat makin mengetatkan keamanan guna meminimalisasi berbagai ancaman dari Kelompok Separatis dan Teroris (KST). Gerombolan KST adalah kumpulan manusia keji yang tega melukai rakyat hingga mengancam keamanan PON XX.

Pekan Olahraga Nasional (PON) XX baru pertama kali diselenggarakan di Papua dan panitia menjaga betul lomba ini agar benar-benar aman. Pertama, aman dari bahaya Corona karena PON dilaksanakan di masa pandemi. Kedua, aman juga dari gangguan eksternal alias dari ancaman kelompok separatis dan teroris (KST) dan OPM.

Wakil Ketua BIN Letjen TNI (Purn) Teddy Lakshmana Widya Kusuma menyatakan bahwa KST meningkatkan aksi teror dengan tujuan menggagalkan PON XX. Selain itu, mereka ingin menciptakan instabilitas untuk menarik perhatian dunia internasional. Dalam artian, teror yang ditebar bertujuan lain, bukan untuk menakut-nakuti warga tetapi caper ke netizen di seluruh belahan dunia.

Memang PON adalah gelaran nasional tetapi di era teknologi informasi saat ini akan sangat banyak media yang meliput, tak hanya dari Indonesia tetapi juga dari luar negeri. Pasalnya, saat pandemi jarang sekali diadakan lomba olahraga, dan terakhir adalah Olimpiade Tokyo 2020. Ketika ada PON XX maka jurnalis juga berlomba-lomba meliput dan membuat berita terbaik.

Sehingga keadaan ini akan dimanfaatkan oleh KST untuk menarik perhatian dari jurnalis maupun masyarakat yang melakukan live streaming saat PON XX diselenggarakan. Mereka akan sengaja membuat huru-hara sehingga fokus kamera akan terpecah. Tidak lagi melihat pertandingan di arena tetapi berpindah ke kerusuhan yang diadakan dengan sengaja oleh KST.

KST sengaja membuat ulah, terutama di dekat arena pertandingan, karena perhatian dunia internasional sedang tertuju ke lomba olahraga ini. Sehingga jika ada anggota KST yang tersorot jurnalis, mereka berharap netizen dari belahan dunia lain akan bersimpati, lalu mendukung gerakan Papua merdeka.

Sedangkan di luar arena, KST juga membuat kerusuhan di daerah Maybrat. Mereka menyerang Posramil Kisors dan dalam peristiwa naas itu, 4 prajurit TNI meninggal dunia. Adanya korban jiwa tentu membuat masyarakat makin mengecam KST, karena terlalu nekat menembak aparat dan sengaja membuat kekacauan, untuk mengganggu persiapan PON XX.

Hal ini tentu saja sangat berbahaya karena jangan sampai ada pihak luar yang ikut campur untuk mengacaukan PON hanya demi eksistensi mereka. KST memang belum 100% diberantas dan aparat bekerja keras agar mereka tidak membubarkan acara ini, sehingga keamanan akan lebih diperketat. Selain aparat, relawan yang terdiri dari para pemuda asli Papua juga berjaga-jaga untuk mengamankan di sekitar arena pertandingan.

Untuk mencegah masuknya KST ke dekat venue PON maka pengamanan juga dilengkapi dengan drone. Dengan memanfaatkan teknologi maka drone diterbangkan sampai radius 3 KM dan ia dilengkapi dengan kamera, sehingga bisa memantau apakah ada kerusuhan yang disebabkan oleh ulah KST.

Letjen TNI (Purn) Teddy menambahkan, saat ini KST meneror terutama di wilayah Kabupaten Puncak. Di sana memang rawan konflik sehingga penjagaan makin ditingkatkan. Selain itu, dilakukan juga kampanye dari para penduduk yang pro otsus untuk melawan propaganda KST, karena mereka tidak hanya menyerang secara fisik tetapi juga mental. Ini bisa jadi psy war sehingga aparat menyiapkan berbagai strategi jitu.

Penjagaan baik di sekitar arena PON XX maupun di daerah lain makin ditingkatkan, karena ada 4 tempat pusat pertandingan dan tersebar di Papua dan Papua Barat. Untuk itu aparat makin meningkatkan kewaspadaan, jangan sampai ada kericuhan akibat ulah KST, yang cari perhatian pada dunia internasional.

PON XX wajib sukses 100% dan aparat berusaha keras mencegah kegagalannya karena ulah KST. Selama ini kelompok teroris tersebut memang selalu membenci program pemerintah dan bagi mereka PON hanya sebuah gangguan. Oleh karena itu sebelum diteror oleh KST, dilakukan berbagai upaya pencegahan.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Aparat penegak hukum berhasil menangkap 4 orang terkait Kelompok Separatis dan Teroris (KSR) di Kabupaten Yahukimo, Papua.

Menyikapi hal tersebut, Direskrimum Polda Papua, Kombes Faisal Ramadhani, menyatakan bahwa pada awalnya aparat keamanan mengamankan 8 orang, termasuk Kepala Distrik Wusama berinisial EB, di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, pada Jumat (27/8/2021).

“Total ada 8 yang kita amankan dari rumah itu. Namun setelah didalami, 4 orang kita tahan dan ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana, sisanya kita bebaskan,” ujar Kombes Faisal.

Ditempat terpisah, peneliti keamanan dan perbatasan MPPI, Muhammad Irandito, mengatakan bahwa demi keamanan, kedamaian ditanah Papua, kelompok separatis dan teroris (KST) Papua harus ditindak.

“Demi keamanan, kedamaian ditanah Papua, kelompok separatis dan teroris (KST) Papua harus ditindak”, ujar Irandito.

Lebih lanjut, dirinya mengatakan bahwa KST yang terdiri dari OPM, KKB serta TPNPB harus ditindak tegas dan ditumpas habis karena aksinya mengganggu dan menghambat pembangunan di Papua. Pembangunan sangat penting agar Papua tidak ketinggalan dengan daerah lain di Indonesia dan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Papua.

“KST yang terdiri dari OPM, KKB serta TPNPB harus ditindak tegas dan ditumpas habis karena aksinya mengganggu dan menghambat pembangunan di Papua. Pembangunan sangat penting agar Papua tidak ketinggalan dengan daerah lain di Indonesia dan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Papua”, tambahnya

Oleh : Rebecca Marian )*

Kelompok Separatis Teroris (KST) dikabarkan telah kembali membantai 2 warga sipil Papua. Dua warga tersebut tengah bekerja, membangun jembatan di sungai Brazza, Kampung Kribun, Distrik Dekai Kabupaten Yakuhimo, Papua. Masyarakat Papua pun mengutuk aksi brutal kelompok tersebut yang menghambat pembangunan Papua.

KST kembali melakukan aksi brutal. Kasatgas Humas Nemangkawi KBP Ahmad Mustofa Kamal, dalam keterangannya, membenarkan kejadian tersebut. Saat ini, kedua jenazah sedang periksa medis di RSUD Dekai.

Kasus yang terjadi di wilayah hukum Yahukimo itu pun terjadi perhatian utama Satgas gabungan TNI-Polri Nemangkawi. Ahmad menuturkan, Aparat tidak akan tinggal diam dan akan mengusut tuntas sesuai dengan prosedur hukum pelaku pembantaian pekerja PT Indopapua ini. Kepada Warga masyarakat yang memiliki info seputar KST Wilayah Yakuhimo pimpinan Tendius Gwijangge agar tidak segan untuk melapor ke kepolisian terdekat.

Apa yang dilakukan KST memang terbilang kejam, kelompok tersebut membunuh dua orang warga sipil pegawai PT Indo Papua dan jasadnya ditemukan dibakar berrsama satu unit mobil milik PT Indo Papua. Personel Satgas Nemangkawi juga melakukan penyisiran dan pengamanan terhadap karyawan PT. Indo Papua yang masih berada di camp kali yegi, Jalan Trans Papua Dekai Yahukimo, ke kenyam Nduga.

Saat melakukan penyisiran dan pengamanan personel satgas Nemangkawi menggunakan satu unit mobil Hilux singgah di PT Indo Papua, guna mengecek dan membantu evakuasi barang-barang milik karyawan untuk diamankan di tempat pengungsian.

Setelah itu, personel gabungan bergeser untuk melanjutkan perjalanan menuju ke TKP, saat dalam perjalanan menuju TKP, personel Satgas Nemangkawi menghadang satu unit mobil yang mencurigakan yang menuju ke arah kota, kemudian melakukan pemeriksaan terhadap mobil tersebut dan ditemukan tiga buah HP, yang akan diselidik lebih lanjut di Sat Reskrim Polres Yakuhimo.

Personel-pun akhirnya melanjutkan perjalanan, setibanya di TKP Jembatan Kali Braza rombongan mendapatkan serangan tembakan dari arah bukit seberang Kali Brazza, personel Satgas Nemangkawi membalas tembakan dari KKB wilayah Yakukimo.

Tepatnya di pertigaan jalan Trans Papua Dekai Yakuhimo-Tanah Merah, personel satgas Nemangkawi ditembaki dari arah sebelah kanan, sehingga personel Satgas Nemangkawi membalasnya dengan tembakan.

Ketika sudah tidak ada balasan tembakan dari KKB Wilayah Yakuhimo personel melanjutkan perjalanan 100 Meter kedepan terdapat satu pohon yang melintang dan satu unit motor Honda Blade tanpa nopol. Selanjutnya personel memotong kayu untuk membuka jalan dan melanjutkan perjalanan.

Personel Satgas Nemangkawi tiba di kampung kali bele melakukan pengecekan kampung di kali bele selanjutnya personel melanjutkan perjalanan ke camp Kali Yegi.

Setibanya di Kali Yegi, personel Nemangkawi langsung melakukan pengecekan di Camp Kali Yegi untuk mencari Karyawan PT. Indo Papua yang masih berada di Camp Kali Yegi, namun setelah dilakukan pengecekan, penyisiran di sekitar dan membunyikan sirine dengan maksud karyawan keluar dari persembunyian, apabila karyawan bersembunyi di Hutan namun di camp kali yegi tidak terdapat adanya karyawan PT. Indo Papua.

Sekitar 500 meter dari Camp Induk PT. Indo Papua personel Satgas Nemangkawi mendapati para karyawan PT. Indo Papua yang telah menyelamatkan diri di pinggir kali Braza di Rumah warga setempat, kemudian tim mengamankan ke atas kendaraan dan dibawa menuju Mapolres Yakuhimo.

Setelah melakukan evakuasi pekerja PT. Indo Papua, selanjutnya personel Satgas Nemangkawi bergerak menuju kearah kota dan personel beserta para pekerja PT. Indo Papua tiba di Mapolres Yakuhimo.

Personel gabungan akan terus melakukan tindakan tegas terhadap kelompok-kelompok yang mengganggu stabilitas keamanan di Papua. KST memang tidak bisa ditolerir, mereka menggunakan cara keji untuk memisahkan diri dari NKRI dan tidak segan-segan untuk menyerang warga sipil yang tidak bersalah, sehingga apparat TNI-Polri patut memberangus mereka agar Papua menjadi aman dan damai.

Sementara itu Papua tengah menyiapkan event Pekan Olahraga Nasional (PON) XX, di mana event tersebut akan mendongkrak pembangunan Papua dang menggerakkan beragam sector termasuk ekonomi, tentu saja keamanan di Papua harus tetap dijaga agar KST tidak mengacaukan multievent olahraga kebanggaan Indonesia.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Oleh : Putu Prawira )*

Kedamaian di Papua hampir terganggu oleh isu hoax dan provokasi yang sengaja disebar oleh Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua. Mereka memang selalu membuat manuver baru untuk menekan psikologis masyarakat, sehingga publik diharapkan tidak terpengaruh dan tetap tenang menyikapi hoaks dan provokasi KST Papua.

Indonesia terdiri dari banyak suku bangsa dan warna kulit, termasuk Papua. Di Indonesia timur, secara fisik memang berbeda jauh dengan warga asli Jawa atau Sunda. Namun kita selalu menyadari bahwa perbedaan itu indah dan tidak usah dipermasalahkan, karena Bhinneka Tunggal Ika dan berkomitmen menjaga persatuan Indonesia.

Akan tetapi belakangan muncul isu rasisme yang berembus di Papua, ketika ada kericuhan di apartemen di Jakarta Selatan, yang diprotes oleh warga Negara Nigeria. Sehingga peristiwa ini dimanfaatkan oleh KSTyang mendompleng black lives matter. Penyebabnya karena KST merasa bahwa ini adalah kasus rasisme.

Padahal yang terjadi di sini tidak sama seperti di Amerika. Jika di Amerika ada petugas yang dengan kejam menindih seseorang hingga meninggal dunia, maka di Indonesia lain cerita. Tidak bisa disamaratakan apalagi dihubungkan dengan isu rasisme yang ada di negeri Paman Sam, karena tidak apple to apple.

Kakanwi Kemenkumham Jakarta Ibnu Chuldun menerangkan kronologisnya: petugas imigrasi melakukan pengecekan (yang sudah biasa dilakukan secara berkala) di sebuah apartemen di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Ada warga negara Nigeria yang emosi karena tidak mau menunjukkan kartu identitasnya dan izin tinggal sementara (KITAS) sehingga memicu keributan. 

Akhirnya petugas berinisiatif untuk dibawa ke kantor keimigrasian. Namun di dalam kendaraan, WNA tersebut makin emosi dan melawan petugas, lantas ia berteriak, meronta, dan menggigit, sampai petugas memar dan berdarah. Ia bahkan ingin memecahkan kaca mobil dengan vape elektronik. Spontan petugas memeganginya agar ia tidak berulah dan membahayakan seluruh penumpang.

Sampai di kantor imigrasi, sang WNA baru mengaku statusnya sebagai diplomat. Miskomunikasi ini yang membuat pubik terhenyak, karena mengapa ia tak mau bercerita sejak awal? Apa susahnya menunjukkan KITAS? Petugas melakukan pengantaran ke kantor imigrasi karena menjalankan kerjanya, bukan karena rasisme atau penyebab lain.

Isu ini yang dibakar oleh KST dan mereka menggaungkan kembali isu black lives matter. Seolah-olah kekerasan yang terjadi di Amerika dan Indonesia sama saja, sama rasisnya. Padahal tidak sama, karena di Indonesia terjadi karena WNA yang tidak kooperatif, dan pemerintah kita tidak pernah memakai isu SARA saat menegakkan peraturan.

Black lives matter tidak pernah ada di Indonesia, dan masyarakat perlu melihat kasus WNA Nigeria secara utuh. Pemerintah tidak pernah berniat untuk memberangus orang negro maupun warga Papua yang ciri fisiknya mirip, karena sama saja dengan melanggar pancasila. Kita adalah bangsa yang majemuk dan Bhinneka tunggal ika, dan tidak ada perbedaan perlakuan ke semua suku di negeri ini.

Jangan sampai nasionalisme warga sipil jadi terambil gara-gara ulah OPM, karena warga terpengaruh oeh hoax. Kenyataannya,  tidak mau untuk berpisah dari Indonesia. Mereka paham bahwa hoax dan propaganda yang disebarkan, dibuat untuk menekan warga sipil secara psikologis. Namun masyarakat tahu bahwa KST memang selalu ingin mengacau dan mencari perhatian dengan cara negatif.

Hoax dan propaganda yang disebar oleh KST sangat menyebalkan karena mereka selalu menjungkirbalikkan fakta, padahal kenyataannya tidak benar. Masyarakat diminta untuk tidak terpengaruh oleh isu-isu di luar sana, yang disebar oleh KST, karena mereka memang sengaja menciptakannya untuk merusak perdamaian di Bumi Cendrawasih.

)* Penulis adalah Kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Pasca aksi teror yang dilakukan KST Papua belakangan ini, Pemda Yahukimo berencana untuk menutup area penambangan emas ilegal di Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, Papua. Hal ini disampaikan oleh  Bupati Yahukimo, Didimus Yahuliakan.

Didimus menduga, salah satu alasan Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua berulah di wilayahnya karena keberadaan area penambangan emas ilegal tersebut.

“Itu betul sekali, tadi kami sudah putuskan akan menutup sampai batas waktu yang tidak kami tentukan sambil membenahi keadaan di dalam,” ujar Didimus pada hari Rabu (25/8/2021).

Menyikapi hal tersebut, peneliti keamanan Lesperssi, Jim Peterson mengatakan bahwa masyarakat seyogyanya mendukung TNI San Polri didalam menindak tegas berbagai aksi teror yang dilakukan oleh Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua dalam upaya mewujudkan rasa aman di Bumi Cendrawasih. Sehingga pemerataan pembangunan dapat berjalan lancar demi kesejahteraan dan peningkatan SDM ditanah Papua.

“Masyarakat seyogyanya mendukung TNI San Polri didalam menindak tegas berbagai aksi teror yang dilakukan oleh Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua dalam upaya mewujudkan rasa aman di Bumi Cendrawasih. Sehingga pemerataan pembangunan dapat berjalan lancar demi kesejahteraan dan peningkatan SDM ditanah Papua”, ujar Jim.

Lebih lanjut, peneliti yang mengenyam pendidikan magisternya di Australia tersebut mengatakan bahwa selama ini aksi teror KST telah menghambat pembangunan dan kemajuan di tanah Papua.

“Selama ini aksi teror KST telah menghambat pembangunan dan kemajuan di tanah Papua”, tambahnya.

Rentetan kekerasan yang dilakukan oleh Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua sangat mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, aksi kekejaman KST kerap menyasar masyarakat sipil bahkan orang asli Papua (OAP) yang menjadi korban KST sudah banyak berjatuhan.

Menanggapi hal itu, Sekjen Aliansi Mahasiswa dan Milenial Indonesia (AMMI), Arip Nurahman, mengecam tindakan brutal KST Disamping itu, dia juga mempertanyakan suara Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) yang seolah diam melihat aksi kebrutalan yang dilakukan KST terhadap warga sipil.

“Kami mengutuk keras aksi KST yang merusak nilai-nilai kemanusiaan dengan membunuh masyarakat sipil bahkan orang asli Papua. Kita tidak boleh membiarkan KST leluasa melakukan pembunuhan dan menebar teror kepada masyarakat,” ujar Arip dalam keterangannya.

“Di saat seperti ini, kami juga menyayangkan dan mempertanyakan sikap Komnas HAM yang seolah menutup mata melihat kekejaman KST. Padahal kekejaman yang dilakukan teroris KST adalah masalah kemanusiaan,” lanjutnya.

Menurutnya, Komnas HAM sebagai lembaga setingkat lembaga negara yang fokus terhadap masalah kemanusiaan harus intensif bersuara membela hak-hak masyarakat sipil di tanah Papua untuk dapat keluar dari ancaman dan teror yang dilakukan KST.

Sebagai kelompok teroris, KST selalu melakukan cara kekerasan dalam menjalankan misinya. Dia juga mengatakan bahwa selama ini KST kerap meneror dan menanam ketakutan kepada masyarakat. Selain itu, teroris KST juga sangat membahayakan kedaulatan negara.

Pada hari jumat (6/8/2021) lalu, tiga pucuk senjata api dan bahan peledak berhasil diamankan oleh aparat keamanan di lokasi Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua, yaitu di kampung Sasawa Distrik Yapen Barat Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, Jumat.
Polres Kepulauan Yapen menyebutkan, KST Wilayah II Saireri di bawah pimpinan Fernando Worabai teridentifikasi memiliki 15 pucuk senjata api, satu di antaranya merupakan organik milik TNI Polri.

Menyikpai hal tersebut, Kapolres Kepulauan Yapen, AKBP Ferdyan Indra Fahmi, mengungkapkan KST di bawah pimpinan Fernando Worabai merupakan kelompok baru. dengan jumlah kekuatan sampai dengan 30 orang

“Mereka ini kelompok baru, dengan jumlah kekuatan sampai dengan 30 orang,” ujar Ferdyan Indra Fahmi.
Ditempat terpisah, peneliti Lembaga Masyarakat Peduli Perbatasan Indonesia (MPPI), Muhammad Irandito, mengatakan bahwa aksi kekerasan yang dilakukan oleh kelompok separatis dan teroris (KST) Papua telah memakan banyak korban jiwa. KST telah melanggar hak asasi manusia dan telah menimbulkan ketakutan.

Lebih lanjut dirinya mengatakan bahwa aksi teror KST Papua yang kejam dan brutal tersebut telah tergolong sebagai kejahatan HAM. KST telah meresahkan masyarakat serta menghambat pembangunan dan kemajuan Papua. KST selama ini melakukan aksi teror ke masyarakat dengan membunuh warga Papua secara kejam dan membakar fasilitas umum, sehingga KST pantas ditindak tegas dan ditumpas habis karena aksinya melanggar HAM, mengganggu ketertiban dan keamanan, serta menghambat pembangunan dan kemajuan di Papua.

“Aksi teror KST Papua yang kejam dan brutal tersebut telah tergolong sebagai kejahatan HAM. KST telah meresahkan masyarakat serta menghambat pembangunan dan kemajuan Papua”, ujar Muhammad Irandito.