Oleh : Saby Kosay )*

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua menghalalkan berbagai cara untuk mewujudkan pemisahan diri dari Indonesia. Terakhir, gerombolan tersebut terindikasi merekrut anak-anak untuk ikut bertempur melawan aparat penegak hukum.

Papua identik dengan keindahan alamnya dan juga sumber tambangnya berupa tembaga berkualitas tinggi. Namun sayangnya Papua juga terkenal akan KST (Kelompok Separatis dan Teroris) yang menjadi pengacau dan mencemarkan nama baik Bumi Cendrawasih. Kelompok pemberontak ini sudah berkali-kali melakukan aksi yang merugikan masyarakat dan sampai mengancam nyawa.

Mirisnya lagi, anggota KST tak hanya dari para pemuda dan kaum tua tetapi juga anak-anak Sekolah Dasar. Hasil penyelidikan dari Polres Intan Jaya menyatakan bahwa anak-anak SD direkrut oleh KST lalu ‘menghilang’ dan tiba-tiba muncul ke publik. Namun mereka datang sambil membawa senjata api dan mencoba untuk menembak rakyat sipil.

Ditengarai kelompok yang merekrut anak-anak tersebut adalah Sabius Waker cs. Mereka sudah beberapa bulan ini menculik anak usia pelajar lalu dilatih untuk jadi kader baru. Dikatakan menculik karena orang tua anak SD tersebut tidak tahu bahwa anak-anaknya dilatih jadi anggota KST.

Masyarakat mengecam aksi KST yang keterlaluan karena merekrut anak SD jadi penembak dan pemberontak. Meski yang diambil adalah anak putus sekolah, tetapi tetap saja mereka belum cukup umur karena memang usianya belum 17 tahun. Anak-anak seharusnya belajar di rumah, jika memang sudah tak bersekolah.

Jika pentolan KST tertangkap maka bisa terkena pasal penculikan anak di bawah umur dan mendapat hukuman setimpal. Perlu ada penegasan dan penegakan hukum bagi KST terutama yang jadi perekrut anak-anak SD. Pasalnya ulah mereka sudah keterlaluan, dan membuat orang tua anak itu juga kehilangan.

Bagaimana bisa anak SD yang masih polos malah dibujuk dan dijadikan kader baru? Alasan KST selalu sama: regenerasi, karena memang dengan cara ini anggota mereka tidak akan habis termakan usia. Namun tetap saja amat kejam karena anak SD sudah putus sekolah malah diajak untuk memberontak dan melukai orang lain.

Apalagi anak-anak SD yang belum dewasa diajari untuk memberontak, yang jelas melanggar hukum. Tidak dapat dibayangkan bahwa anak-anak yang masih berada di usia sekolah justru diajari untuk mengokang senjata api, membedakan jenis-jenis pistol, membidik panah, dan melakukan aksi teror dan kekerasan lainnya. Pelajaran ini belum waktunya dan memang haram karena mereka bukan aparat yang berwenang untuk melakukannya.

Orang tua di Papua perlu mengawasi anaknya dengan ketat agar tidak terbujuk oleh rayuan KST. Jika memang anak-anaknya tidak ke sekolah karena alasan biaya atau yang lain, maka diarahkan untuk belajar sendiri. Dengan begitu mereka akan sibuk dan tidak akan mau ketika dibujuk oleh KST dan dijadikan kader baru.

Para orang tua juga wajib memberi pengertian kepada anak-anaknya, bahwa KST adalah penghianat negara karena ingin memberontak. Jangan mau berurusan dengan KST karena mereka adalah pelaku kriminal yang harus dijauhi. Anak-anak pun wajib diberikan pemahaman menyeluruh bahwa Papua bagian dari Indonesia selamanya.

Aksi KST merekrut anak-anak untuk melakukan kekerasan diusia dini merupakan perbuatan bejat yang tidak dapat dibenarkan. Masyarakat pun mendukung TNI/Polri untuk tidak ragu menindak tegas kelompok tersebut.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

Oleh : Moses Waker )*

KST makin berulah dengan menyerang warga sipil sampai ada korban jiwa. Penegakan hukum terhadap KST harus dilakukan seadil-adilnyaagar Papua bisa maju tanpa ada gangguan dari kelompok separatis.
Kelompok separatis dan teroris (KST) bagai penyakit menahun di Papua. Pasalnya, mereka sudah ada sejak era orde baru. Pemberantasan KST menjadi agenda wajib oleh prajurit TNI, karena mereka berani mengganggu kedaulatan Indonesia dan mengajak rakyat Papua untuk membelot.

Dalam menjalankan aksinya, KST tak segan untuk menggunakan senjata tajam sampai senjata api. Seperti pada peristiwa tragis di Kampung Kago, Distrik Ilaga, Puncak, Papua yang dilakukan pada awal Maret 2022 lalu. Penyerangan terjadi dan memakan 8 korban jiwa. Mereka adalah pekerja di sektor komunikasi yang akan memperbaiki tower BTS.

KST terus diburu pasca penyerangan tersebut. Pasalnya, bukan kali ini saja mereka melakukan penyerangan di Bumi Cendrawasih. Beberapa hari sebelumnya mereka menembak prajurit TNI di Distrik Beoga, Papua, dan menyebabkan Pratu Heriyanto tertembak di bagian leher.

Penegakan hukum terhadap KST harus dilakukan demi keamanan masyarakat Papua. Jika mereka masih bercokol maka masyarakat akan merasa ketakutan saat beraktivitas karena khawatir kena peluru nyasar. Selain itu, maka KST wajib ditangkap agar pembangunan di Papua terus berlanjut.

KST memang sudah terbukti mengganggu pembangunan di Papua. Mereka nekat menembak 8 pekerja yang akan memperbaiki tower BTS, padahal benda itu sangat penting sebagai penunjang komunikasi. Jika towernya tetap rusak maka masyarakat tidak jadi maju, karena komunikasi terhambat dan tidak bisa menggunakan internet.

Padahal sinyal internet sangat dibutuhkan karena para murid kembali melakukan pembelajaran jarak jauh. Mereka wajib membuka gadget untuk sesi zoom atau menyimak PR yang dikirim via WA. Jika KST menggagalkan perbaikan tower maka mereka tidak ingin masyarakat Papua maju di bidang pendidikan.

Selain itu, KST juga mengganggu pembangunan jalan trans Papua. Jalan ini memang belum 100% selesai karena rutenya sangat panjang. Namun anggota KST mengancam keselamatan para pekerja di jalan trans papua sehingga mereka harus dikawal oleh aparat keamanan.

Penegakan hukum terhadap KST harus dilakukan seadil-adilnya. Tujuannya agar pembangunan di Papua terus berlanjut. Jika tidak ada gangguan KST maka pembangunan jalan trans papua dan infrastruktur di Bumi cendrawasih akan lancar tanpa takut akan ancaman dari mereka.

KST bisa terancam hukuman 20 tahun penjara, bahkan seumur hidup. Penyebabnya karena mereka melakukan pembunuhan berencana terhadap 8 orang pekerja perusahaan komunikasi. Hukuman seberat ini dirasa pantas karena perbuatan mereka memang sangat merugikan. Selain membuat keluarga korban sedih, mereka juga menghambat pembangunan di Papua.

Padahal pemerintah sedang gencar-gencarnya membangun Papua agar ada pemerataan di seluruh Indonesia. Oleh karena itu seluruh anggota KST wajib ditangkap agar modernisasi berjalan dengan lancar. Pembangunan dilakukan demi kemajuan rakyat, bukan untuk kepentingan lain seperti yang mereka tuduhkan.

Walau operasi Nemangkawi diubah namanya menjadi damai cartenz tetapi bukan berarti KST dibiarkan secara bebas. Mereka tetap wajib ditangkap ketika terbukti melakukan penyerangan, karena meresahkan dan mengganggu keamanan warga sipil. Prajurit TNI terus siaga agar rakyat Papua aman.

Penegakan hukum terhadap KST wajib dilakukan agar masyarakat tidak terganggu karenanya. KST sudah bertindak di luar batas dengan membunuh warga terus-menerus tanpa alasan yang jelas. Selain itu, mereka juga menghambat pembangunan di Bumi Cendrawasih, baik di bidang telekomunikasi maupun bidang pendidikan. Jadi wajar jika KST diadili agar menyadari kesalahannya.

)* Penulis adalah Mahasiswa Papua tinggal di Yogyakarta

Oleh : Rebecca Marian )*

Kelompok separatis dan teroris (KST) telah menjadi sumber konflik yang menyengsarakan rakyat dan menghambat pembangunan Papua. KST wajib diberantas karena juga menghambat pembangunan di Bumi Cendrawasih.

Papua adalah wilayah paling timur Indonesia yang terkenal akan beberapa hal: sebagai venue PON XX tahun lalu, sebagai tempat wisata yang eksotis (Raja Ampat dan Puncak Jaya Wijaya), dan lain sebagainya. Akan tetapi Papua juga dikenal sebagai tempatnya KST sebagai kelompok pemberontak. Sayang sekali jika ada citra negatif seperti ini, karena bisa menutupi beribu kebaikan lain di Bumi Cendrawasih.

Pemberantasan KST terus dilakukan untuk mengamankan masyarakat. Keselamatan warga diutamakan karena mereka terbukti berkali-kali melakukan penyerangan. Saat ada masyarakat sipil yang meninggal akibat ulah KST, maka mereka beralasan bahwa itu karena korban adalah mata-mata, padahal tidak sama sekali.

KST jelas menyengsarakan rakyat karena warga jadi tidak bisa bebas beraktivitas, terutama jika mereka sedang ‘turun gunung’ alias keluar dari markasnya. Masyarakat takut akan diserang karena dari beberapa kejadian lalu, selalu ada korban jiwa. Mulai dari anak sekolah, guru, sampai petugas kesehatan, semua jadi korban serangan KST yang sangat brutal.

Atas dasar tersebut, aparat keamanan selalu menjaga warga agar tidak terkena serangan KST. Memang saat ini ada strategi baru yakni dengan pendekatan kesejahteraan. Operasi Nemangkawi pun diganti menjadi operasi Damai Cartenz. Akan tetapi damai bukan berarti membiarkan KST. Justru KST harus ditangkap agar ada kedamaian di tengah masyarakat.

KST ditangkap karena ia menjadi sumber konflik. Liciknya, kelompok separatis ini merayu warga sipil yang masih polos untuk bergabung. Atau mereka mencari dana dan akhirnya mengemplang dana desa untuk dijadikan modal membeli senjata api ilegal. Konflik jelas terjadi karena ada pertentangan antara yang pro KST dan kontra. Mereka yang terayu oleh KST wajib disadarkan bahwa kelompok ini terlarang dan tidak boleh didukung.

Penangkapan KST jadi agenda wajib bagi aparat keamanan di Papua, karena mereka uga menghambat pembangunan di Papua. Saat ada pembuatan jalan trans Papua maka KST melakukan penyerangan terhadap pekerja proyek. Sehingga para pekerja harus dikawal oleh aparat, agar aman dari tembakan KST.

Selain itu, KST juga menghambat pembangunan di bidang pendidikan, karena mereka menembak para guru dan membakar gedung sekolah. Padahal jika tidak ada pendidikan, anak-anak Papua bisa suram masa depannya. Mereka jelas salah karena pendidikan sangat penting, agar orang asli Papua terus maju dan menjadi calon pemimpin selanjutnya.

Sungguh tidak habis pikir, mengapa KST menghambat pembangunan? Padahal jika ada pembangunan infrastruktur, yang menikmati fasilitasnya adalah rakyat. Sungguh aneh ketika mereka menuduh Indonesia menjajah Papua, karena jika menjajah tentu tidak akan ada jembatan dan jalan raya yang representatif.

Ketika ada anggota KST yang ditangkap maka itu adalah hal yang wajar karena mereka memang bersalah. Masyarakat tidak usah menghiraukan tuduhan pihak luar yang bilang bahwa ini adalah pelanggaran HAM, karena justru KST yang melanggar hak asasi warga sipil dengan menembak sembarangan. Jika KST membunuh masyarakat maka sudah masuk ke kasus pembunuhan berencana.

KST terus menyengsarakan rakyat dengan menyerang membabi-buta sampai ada korban jiwa. Bukan hanya masyarakat sipil, mereka juga nekat menembak aparat keamanan. Pemberantasan KST didukung penuh oleh rakyat Papua, karena mereka terbukti menghambat pembangunan di Bumi Cendrawasih dan tidak mau ada kemajuan di sana.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Oleh : Timotius Gobay )*

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua berulah lagi dengan melakukan penyerangan sampai 2 kali ke aparat dan membawa korban jiwa. Serangan-serangan mereka juga menghambat pembangunan dan kemajuan Papua.

Selama ini Papua dikenal dengan wisatanya yang eksotis seperti Raja Ampat. Akan tetapi faktor keamanan juga menjadi pertimbangan apakah turis mau mengunjungi Bumi Cenderawasih apa tidak. Pemerintah berusaha keras mengamankan Papua dan mengenyahkan KST serta OPM, agar tidak mengganggu keamanan.
Keberadaan KST amat mengganggu, tak hanya bagi wisatawan asing tetapi juga bagi masyarakat sipil Papua. Gangguan KST membuat pembangunan terhambat karena jika tak ada turis maka tak ada uang untuk pemerintah daerah dan akhirnya dana untuk pembangunan jadi terlalu minim.

KST juga dikecam karena selalu melakukan tindak kekerasan. Mereka melakukan penyerangan dan pada tanggal 26 januari 2022 malah nekat menyerang aparat sampai 2 kali dan mengakibatkan 3 korban jiwa.

Kapendam XVII Cendrawasih Kolonel Inf Aqsha Erlangga menyatakan bahwa serangan KST dilakukan ke Pos Koramil Gome, Satgas Kodim Yonif Raider 408. Serangan dilakukan 2 kali dan korban jiwanya adalah Serda Rizal, Pratu Tuppal Baraza, dan Pratu Rahman. Sementara Pratu Rahman luka-luka.

Kekejian KST benar-benar membuat masyarakat geram karena nekat menyerang pos Koramil sampai 2 kali. Jika yang diserang adalah pos aparat keamanan, berarti menantang dengan sengaja. KST bersikap sombong dan langsung melarikan diri pasca penyerangan.

Ketika ada kekejian KST maka perlu ada penyisiran lagi sehingga mereka tidak bisa seenaknya. Prajurit TNI berani diserang, apalagi rakyat sipil. Betapa kasihannya warga jika KST masih bercokol di Bumi Cenderawasih.

Keberadaan KST juga menghambat kemajuan di Bumi Cenderawasih. Buktinya adalah ketika jalan Trans Papua masih dalam masa pembangunan, para anggota KST malah mengganggu pekerja dengan sengaja. Gangguan ini tentu merepotkan dan mengancam nyawa para pekerja, oleh karena itu aparat juga diterjunkan ke sana untuk mengamankan.

Alangkah gilanya KST ketika menghambat pembangunan jalan trans Papua. Padahal jalan ini demi kelancaran mobilitas rakyat di Bumi Cenderawasih, sehingga mereka bisa menggunakan jalan darat tanpa tergantung oleh transportasi udara yang sangat mahal. KST tidak pernah berpikir sepanjang itu, mereka hanya tahu cara menembak dengan membabi-buta.

Bukan kali ini saja ada serangan KST karena mereka juga pernah menembak ke aparat keamanan, padahal aparat sedang mendistribusikan bantuan sembako. Ini adalah bukti lain bahwa KST mengganggu kemajuan di Papua karena tidak ingin rakyat mendapatkan bantuan dari pemerintah.

KST tidak bisa berpikir panjang, mengapa aparat yang mengirim bantuan malah ditembaki? Padahal yang akan menerima bantuan adalah orang asli Papua yang notabene saudara mereka sendiri. Bagaimana bisa mereka memimpin jika hanya bisa emosi tanpa mengedepankan kecerdasan?

Aparat keamanan juga selalu menjadi sasaran KST karena merepresentasikan pemerintah. Padahal tentara dan polisi adalah sahabat rakyat dan tugas mereka adalah mengamankan warga sipil sekaligus mendukung pembangunan di Bumi Cenderawasih.

Otomatis ketika KST menyerang aparat maka sama saja menghambat pembangunan karena kinerja jadi tidak maksimal saat melakukan proteksi pada sebuah proyek. Padahal pembangunan itu demi kemajuan Papua, tetapi seolah-olah KST tidak mau dimajukan. Stagnasi amat berbahaya karena bisa membuat Papua tertinggal dari provinsi lain.

Oleh karena itu semua pihak kompak dalam melawan KST. Tak hanya aparat keamanan tetapi juga tokoh masyarakat dan warga sipil. Tujuannya agar KST dan OPM lekas bubar dan tak lagi mengganggu kelancaran pembangunan di Papua.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Gorontalo

Jakarta — Pemerintah resmi menetapkan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua sebagai teroris. Atas dasar itu, penegakan hukum pun kini menggunakan Undang-Undang Terorisme. “Kalau memang sudah digolongkan dalam kelompok terorisme tentunya menggunakan UU itu,” tutur Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Rusdi Hartono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, beberapa waktu yang lalu.

Menurut Rusdi, penegakan hukum sesuai UU terorisme tidak hanya menyasar ke KKB Papua saja. Namun juga pihak-pihak yang terafiliasi dengan kelompok tersebut.

“Semua telah teridentifikasi, ada beberapa kelompok menggangu daripada rasa aman dan damai masyarakat Papua. Kelompok-kelompok ini sudah teridentifikasi oleh aparat keamanan, jadi kelompok-kelompok ini telah teridentifikasi,” jelas dia.

Adapun terkait pelibatan tim Densus 88 Antiteror Polri dalam penanganan KKB Papua, lanjut Rusdi, masih dalam proses kajian staf operasi Polri.

“Ketika mereka diberikan label terorisme dikenakan UU Pemberantasan Terorisme,” Rusdi menandaskan.

Pada kesempatan yang sama, dia menegaskan bahwa TNI-Polri berupaya menciptakan kedamaian di Tanah Papua dengan menjaga seluruh masyarakat yang ada. Kepada kelompok apa pun yang mengganggu, maka akan tegas diterapkan penegakan hukum.

“Prinsipnya tentunya negara tidak boleh kalah dengan kelompok-kelompok ini,” tutur Rusdi.

Rusdi mengaku telah menerima informasi terkait niatan OPM yang berusaha melawan penetapan terorisme dari pemerintah. Baik dengan melaporkan ke PBB hingga bermaksud mengkampanyekan bahwa Indonesia negara teroris.

“Baru isu-isu saja kan. Yang penting sudah kita antisipasi semua, TNI-Polri dan juga dibantu dengan instansi yang lainnya. Masyarakat juga di sana berupaya menciptakan, berupaya menciptakan Papua yang damai, Papua yang aman,” jelas Rusdi. (*)

Oleh : Janet Theresia )*

Kelompok Separatis Teroris (KST) di Papua selalu menebar teror kepada masyarakat sipil Papua. Rakyat mendukung Pemerintah untuk tegas memberantas gerombolan tersebut.

Dandim 1715 Yakuhimo Letkol Inf. Christian Irreuw menyatakan pelaku penyerangan terhadap Koramil Suru-suru adalah Kelompok Separatis Teroris (KST) pimpinan Tendius Gwijangge. Menurut dia, sudah ada informasi KST akan melakukan penyerangan terhadap kodim dan pos-pos TNI sehingga pihaknya memerintahkan kepada personel untuk bersiaga dan meningkatkan patroli.

Irreuw mengatakan, aksi tersebut diduga dilakukan jelang 1 Desember 2021 yang dijadikan sebagai ulang tahun Papua Merdeka. Dirinya mengaku belum ada laporan lengkap tentang kronologi tertembaknya dua prajurit yang menyababkan salah seorang di antaranya gugur.

Tercatat pada pukul 06.00 WIT, KST menyerang dan menembaki Koramil Suru-suru yang merupaka koramil persiapan. Baku tembak tersebut terjadi hingga pukul 12.00. Dua prajurit, termasuk seorang diantaranya yang gugur pada hari Minggu 21/11/2021 berhasil dievakuasi dari Dekai, Ibu Kota Kabupaten Yakuhimo ke Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Evakuasi dilakukan dengan pesawat yang dimiliki Semuwa Air.

Setelah tiba di Sentani, Jenazah Sertu Ari Baskoro diterbangkan ke Surabaya, selanjutnya ke kampung halamannya di Kendal, Jawa Tengah. Sementara itu, Kapten Inf. Arviandi yang menjabat Komandan Koramil Suru-suru akan dirawat di RST Marthen Indey Jayapura. Ia menjelaskan bahwa kedua korban merupakan angota Iskandar Muda Banda Aceh.

Sebelumnya, KST juga meneror karyawan PT Delarosa di Kampung Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua. Penembakan terjadi pada Selasa 17 November sekitar pukul 05.00.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal mengatakan, Saksi berinisial J bangun pagi untuk mempersiapkan masak, lalu melihat ke arah tangki minyak solar pabrik produksi pengaspalan yang berjarak 200 meter dari basecamp dalam keadaan terbakar.

Saksi tersebut memberitahukan kepada karyawan perusahaan itu. Selanjutnya korban atas nama Rerung (56) dan satu orang lainnya yakni JS berlari keluar dengan membawa ember menuju lokasi kebakaran. Saat berlari sejauh 65 meter dari basecamp, tiba-tiba terdengar bunyi letusan senjata api lebih dari satu kali dari arah timbunan batu kerikil. Tembakan tersebut mengenai kaki kanan korban.

Setelah beberapa menit, saksi berinisial JS dan karyawan lainnya mengevakuasi korban ke arah basecamp sambil menunggu bantuan dan karyawan lainnya membantu memadamkan api yang menyala di tangki solar pabrik produksi pengaspalan.

Tim gabungan yang dipimpin Kabag Ops Polres Nduga Iptu Bernadus ICK tiba di lokasi kejadian pukul 08.50 WIT. Petugas pun langsung melakukan olah TKP penembakan. Selain itu, korban juga dirujuk ke Kabupaten Mimika untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

KST seperti tidak berhenti melakukan berbagai pelanggaran HAM di Papua. Di Intan Jaya KST membakar sejumlah rumah warga yang tinggal di Distrik Sugapa, Intan Jaya, Papua pada 2 November 2021 lalu. Dalam peristiwa pembakaran tersebut tercatat tidak ada korban jiwa.

Pada kesempatan berbeda, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD meminta kepada TNI-Polri untuk lebih berhati-hati dalam operasi militer melawan KST di Intan Jaya Papua.

Mahfud juga meminta agar aparat TNI-Polri dapat melakukan tindakan terukur agar tidak terjadi korban masyarakat sipil. Sebenarnya, seperti masyarakat tahu bahwa TNI-Polri sudah sangat berhati-hati dalam melindungi warga sipil yang ada di Papua.

KST sendiri merpakan kelompok yang kerap bergerombol dan mengganggu keamanan di Papua. Kehidupan para anggota KST sendiri hanya melakukan kekerasan, menakut-nakuti masyarakat dengan teror serta ancaman senjata.

Kekejaman yang telah ditorehkan KST tentu tidak dapat ditolerir, apalagi mereka juga merusak fasilitas milik negara seperti Bandara dan Puskesmas. Sehingga anggota KST patut dihadapkan pada proses hukum untuk mendapatkan ganjaran yang setimpal.

KST juga sering mengganggu masyarakat untuk membuktikan eksistensinya, gangguan keamanan dari KST juga menghambat proses pembangunan di Papua.Pemerintah tentu tidak boleh tinggal diam, melalui TNI-Polri, Indonesia harus bisa menjaga kedaulatan NKRI dari segala ancaman teror termasuk teror yang dilancarkan oleh KST.

)* Penulis adalah Mahasiswa Papua tinggal di Bandung

Oleh : Alfred Jigibalom )*

Masyarakat mengutuk aksi keji Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua yang terus melakukan aksi sadis menjelang Natal. Aksi tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan beribadah, namun juga menimbulkan trauma dan ketakutan masyarakat Papua.

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua terkenal keji dalam mewujudkan impiannya untuk membuat negara sendir. Akibat impiannya yang tidak masuk akal tersebut, mereka menghalalkan segala cara, termasuk kekerasan. Apalagi jelang ulang tahun OPM tanggal 1 Desember, KST makin menampakkan diri di ruang publik (karena punya tradisi turun gunung) dan kumat lagi alias menembak dan menyerang sana sini.

Salah satu korban KST adalah Sertu Ari Baskoro yang secara tragis kehilangan nyawa, setelah diserang oleh anggota KST di Yahukimo, Papua. Peristiwa berdarah ini terjadi tanggal 20 november 2021 pagi. Beliau gugur saat sedang belanja kebutuhan sehari-hari di kios terdekat dengan menggunakan speedboat.

Dandim 1715 Yahukimo Letkol Inf Cristian Irreuw menyatakan bahwa pelaku penyerangan Sertu Ari baskoro adalah KST pimpinan Tendius Dwijangge. Dalam peristiawa itu, tak hanya Sertu Ari yang jadi korban, tetapi juga Kapten Inf. Arfiandi, hanya saja ia mengalami luka dan nyawanya selamat.

Letkol Inf Cristian Irreuw melanjutkan, ia sudah menduga ada serangan KST karena jelang ulang tahun OPM, sehingga para prajurit berjaga-jaga. Akan tetapi anggota KST yang menyerang cukup banyak. Mereka menembaki anggota satuan BKO Apter Koramil Persiapan Suru-Suru dan baku tembak terjadi sampai pukul 12.00 WITA.

Masyarakat mengecam serangan KST yang nekat menyerang anggota TNI, dan sampai mengambil nyawa aparat. Mengapa mereka tega menembak padahal tugas TNI adalah menjaga rakyat? Namun malah dimusuhi dan diserang habis-habisan, seperti sedang berperang.

Padahal KST dan OPM yang salah karena ngotot ingin membelot dan hal ini melanggar hukum di Indonesia, tetapi malah menembak seenaknya sendiri. apa akal sehatnya dipakai? Buat apa merdeka jika hanya bisa menyerang orang lain tetapi tidak punya kecakapan dalam memimpin? Seharusnya mereka sadar diri lalu menyerahkan dengan sukarela ke aparat.

Masyarakat selalu antipati terhadap KST karena bukan kali ini saja melakukan penyerangan terhadap aparat. Para prajurit TNI dan Polri dianggap sebagai musuh, karena mempresentasikan pemerintah Indonesia. Padahal seharusnya KST yang malu karena jadi cecunguk dan dikibuli dengan angan-angan manis tentang kemerdekaan, yang belum tentu realistis.

Perayaan ulang tahun bagi OPM dan KST adalah momen untuk unjuk gigi dan menunjukkan kehebatannya, padahal kesombongan itu mematikan dan suatu saat mereka pasti tertangkap semuanya. Sehingga KST dan OPM bisa menghilang, tak hanya di Papua tetapi juga di seluruh dunia. Pasalnya ada anggota mereka yang masih bermukim di luar negeri.

Pengamanan makin diperketat di Papua jelang ulang tahun OPM, terutama di wilayah Yahukimo. Jangan sampai ada serangan lagi yang merugikan, baik pada aparat maupun warga sipil. Penjagaan wajib diperketat, apalagi Yahukimo memiliki kondisi geografis yang unik. Ada sebagian yang wilayahnya di perbukitan, tetapi ada di daratan rendah, sehingga aparat harus makin siaga.

KST mungkin menang dalam menguasai medan karena asli orang Papua tetapi aparat tidak tinggal diam. Satgas Nemangkawi makin rajin menyisir dan mencari markas mereka, karena memang ada banyak markas KST. Sehingga diharapkan makin banyak anggotanya yang tertangkap di dalam markas.

Penembakan terhadap prajurit TNI di Yahukimo, Papua, adalah hal yang miris. Tak heran masyarakat langsung mengecam aksi tersebut. KST patut diburu karena mereka akan merayakan ulang tahun OPM dengan cara yang sangat ekstrim, yakni penyerangan.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali

Oleh: Alfred Jigibalom )*

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua menggunakan segala macam cara guna mewujudkan cita-citanya, salah satunya dengan menebar hoaks dan provokasi. Masyarakat diharapkan untuk selalu mewaspadai setiap aksi KST Papua.

Hoaks adalah hal yang berbahaya karena bisa meracuni pemikiran banyak orang, sehingga mereka terpengaruh dan akhirnya melakukan hal-hal yang negatif. Bahaya hoaks ini yang dimanfaatkan oleh KST, sehingga mereka meyebarkan berita palsu serta memprovokasi warga di Bumi Cendrawasih. Apalagi hoaks bisa dengan mudah di-share di media sosial, dan mereka mengetahui serta memanfaatkannya yag sayang sekali untuk tujuan negatif).

Salah satu hoaks yang santer terdengar adalah berita tentang pembakaran rumah warga di Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. Oleh KST dinarasikan bahwa pelakunya adalah aparat. Padahal itu hanya bohong alias hoaks, karena tidak mungkin aparat yang menjadi sahabat rakyat malah melakukan tindakan yang negatif seperti itu.

Danrem 172/PWY Brigen TNI Izak Pagemanan memastikan bahwa berita pembakaran di Kiwirok dan penangkapan KST adalah hoaks. Tidak benar jika ada peristiwa tersebut, seperti yang ada di media sosial. Dalam artian, KST memelintir dan membuat berita palsu, serta menuduh aparat agar masyarakat memusuhi mereka.

Pembakaran yang dilakukan oleh aparat adalah hoaks karena justru KST yang melakukannya, di Kiwirok dan Yahukimo. Bahkan yang dibakar bukan hanya rumah warga, melainkan fasilitas umum dan gedung sekolah. Namun sayang sekali mereka malah lempar batu sembunyi tangan dan menuduh pihak lain sebagai pelakunya.

Akibat ulah KST, maka ada kerugian material yang sangat besar, oleh karena itu mereka masih menjadi buronan hingga saat ini. Satgas Nemangkawi bekerja keras untuk menangkap para anggota kelompok separatis tersebut, agar tidak menebar kekacauan baik di dunia nyata maupun dunia maya. KST sudah benar-benar meresahkan dan wajib diburu.

Masyarakat juga diminta untuk tidak mempercayai jika ada berita yang sensasional di media sosial, karena bisa jadi itu hanya hoaks. Ketika ada tuduhan bahwa aparat melakukan hal negatif, maka jangan terbakar emosi dan men-share berita tersebut. Akan tetapi, cek dulu kebenarannya, bisa via website atau bertanya langsung pada yang bersangkutan.

Konfirmasi sangat diperlukan karena jika masyarakat asal share, akan sangat fatal akibatnya. Jangan malah jadi penebar hoaks dan menyebabkan banyak orang jadi ikut-ikutan antipati terhadap aparat. Padahal aparat adalah sahabat rakyat dan tidak tega untuk melakukan hal yang negatif seperti pembakaran, justru banyaknya jumlah aparat di Papua adalah untuk menjaga masyarakat sipil.

Pasalnya, bukan kali ini saja KST menyebar hoaks dan provokasi di media sosial. Beberapa waktu lalu mereka pernah membuat berita palsu yang menyatakan bahwa keberadaan aparat di Papua adalah untuk memberantas ras melanesia. Padahal ini jelas salah, karena justru aparat datang untuk membantu rakyat dan melindungi mereka dari keganasan KST.

Oleh karena itu kita wajib memakai logika dan jangan bersumbu pendek ketika ada hoaks yang menyebar di media sosial. Pikirkan terlebih dahulu, apakah itu benar atau bohong belaka? Jangan sampai semuanya jadi runyam dan KST tertawa karena banyak yang terjebak provokasi.

Masyarakat, khususnya yang tinggal di Papua, harap waspada akan hoaks yang ada di media sosial. KST amat licik dengan menebar informasi palsu dan menarasikan bahwa aparat datang untuk merugikan, padahal hal ini sama sekali salah. Jangan asal percaya hoaks dan periksa terlebih dahulu kebenarannya, agar tidak terprovokasi oleh KST.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali

Oleh : Rebeca Marian )*

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua merupakan sumber konflik Papua. Keberadaan pelu ditumpas habis karena tidak saja menimbulkan korban jiwa namun juga menghambat pembangunan di Papua.
Kelompok Separatis Teroris (KST) ditengarai menjadi biang kerok penembakan Pesawat Smart Air yang hendak mendarat di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang. Ulah brutal KST tersebut mengakibatkan sayap pesawat di sebelah kiri berlubang. Saat pesawat hendak terbang kembali ke Oksibil, pesawat mengalami serangan tembakan berulang.

Diketahui pesawat Smart Air yang terbang dari Timika Menuju Kiwirok yang dipiloti oleh Guntardi tersebut membawa bahan makanan dan juga tiga orang penumpang dari aparat keamanan. Belum diketahui dari kesatuan atau instansi mana maupun identitas dari ketiga aparat keamanan yang ikut dalam pesawat. Saat ini pesawat sudah dilaporkan kembali ke Oksibil Ibukota Pegunungan Bintang.

Kol Arm Reza Nur Patria selaku Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih menuturkan belum mendapat informasi terkait keberadaan aparat keamanan di dalam pesawat yang mendapatkan serangan tembakan tersebut.

Sementara itu, Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNB-OPM) Sebby Sambom menuturkan, pesawat tersebut ditembak karena diketahui membawa personel TNI.

Jika selama ini KST menyatakan berjuang untuk melepaskan Papua dari NKRI, aksi tersebut nyatanya hanya membuat masyarakat takut, kenyataannya rakyat sipil menjadi korban kekerasan dan penembakan.

Sebelumnya, Kapolda Papua, Irjen Paulus Waterpauw, mengatakan KST merupakan sekelompok orang yang sering bergerombol dan melakukan gangguan keamanan. Paulus menegaskan bahwa dirinya selalu mengkategorikan KST sebagai free man. Hidupnya hanya melakukan kekerasan, menakutkan semua orang, mengancam semua orang dengan senjata.

Tentu saja kekejaman yang dilakukan KST yang dulu disebut KST tidak bisa ditolerir lagi. Negara juga harus segera berbuat atau bertindak. Agar korban jiwa di kalangan masyarakat Papua tidak lagi berjatuhan, negara harus bertindak tegas dan terukur.

Ketika negara bertindak tegas dan anggota KST menyerah, mereka harus dihadapkan ke proses hukum untuk mempertanggungjawabkan aksi kekerasan bersenjata yang meraka lakukan selama ini. Sebaliknya, jika tindakan tegas negara direspons dengan serangan bersenjata yang mematikan oleh KST, tidak salah juga jika prajurit TNI-Polri pun melancarkan serangan balasan atas nama bela negara dan melindungi segenap tumpah darah.

Eksistensi KST di Papua dengan semua aksi bejadnya selama ini pasti menimbulkan rasa takut yang tak berkesudahan bagi warga setempat. Tidak salah jika warga Papua meradang dan mengekspresikan kecemburuan mereka terhadap saudara-saudaranya sebangsa dan setanah air di wilayah lain yang boleh menikmati dinamika kehidupan normal tanpa rasa takut oleh serangan dadakan dari KST.

Dengan adanya kekejaman yang sudah jelas melanggar HAM, tentu saja negara wajib hadir dengan tujuan yang jelas, yakni melindungi warga Papua agar bisa menjalani kehidupan dengan normal, tanpa dibayang-bayangi teror dan ketakutan. Ketika Papua kembali damai dan kondusif tanpa konflik yang melibatkan senjata api, pemerintah bisa dengan tenang melanjutkan pembangunan di Bumi Cenderawasih

Memerangi dan membebaskan Papua dari beragam teror dan kejahatan kemanusia oleh KST merupakan wujud nyata bagi negara untuk melindungi hak dasar masyarakat Papua. KST memang tidak henti-hentinya menyuarakan narasi untuk berpisah dari NKRI, kelompok tersebut juga menghalalkan segala cara seperti membuat kerusuhan, membakar fasilitas umum hingga melakukan penyerangan kepada aparat keamanan.

Perlu kita ketahui bahwa PBB telah menolak rencana referendum Papua, dan memutuskan bahwa Papua dan Papua Barat merupakan bagian dari Indonesia yang tidak bisa diganggu gugat. Keputusan tersebut disampaikan oleh Duta Besar/wakil tetap Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Dian Triansyah Djani di Jenewa.

KST telah secara nyata menjadi sumber konflik bagi Papua, mereka kerap melakukan penyerangan untuk menunjukkan eksistensinya. Keberadaan kelompok tersebut juga telah secara nyata mengacaukan kedamaian masyarakat sipil yang tinggal di Papua.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Oleh : Thomas Tabuni )*

Kelompok Separatis dan Teroris (KST) Papua merupakan provokator rakyat yang harus diberantas. Keberadaan KST Papua selama ini hanya menimbulkan konflik berkepanjangan di Papua. 

Papua dan Papua Barat adalah provinsi paling timur di Indonesia. Walau lokasinya amat jauh dari Jakarta, tetapi tidak terpinggirkan pembangunannya. Malah di era pemerintahan Presiden Jokowi, otonomi khusus dilanjutkan dan modernisasi terus dilakukan. Hasilnya antara lain Jembatan Youtefa, Jalan Trans Papua, dll.

Sayang sekali eksotisme Papua yang sudah tersaput cantik oleh modernisme ini tidak pernah dianggap oleh KST (kelompok separatis dan teroris- dulu istilahnya kelompok kriminal bersenjata). Mereka tetap saja melakukan penyerangan, utamanya terhadap rakyat sipil. Penyebabnya karena warga ada yang tidak mau diprovokasi untuk meninggalkan NKRI dan menyebrang ke Republik Federal Papua Barat.

Sejak era orde baru, KST Papua memang sudah ada dan diibaratkan organisasi teroris ini adalah kaki-tangannya. Alasan mereka selalu sama: tuntutan untuk memerdekakan diri karena ingin mandiri dan tidak ada pemerataan pembangunan di Indonesia. Papua yang dulu dikenal dengan istilah Irian Jaya, menjadi terkenal berkat organisasi ini (yang sayangnya menjadi bad popularity).

Untuk memperlancar aksinya maka KST melakukan teror dengan berbagai cara. Mulai dari membakar sekolah, menyerang pemukiman, bahkan yang lebih parah lagi mereka dengan sengaja membunuh dari warga sipil, aparat, hingga para guru dan tenaga kesehatan. Sangat miris karena mereka menyerang pihak-pihak yang berjasa besar bagi masyarakat di Papua.

KST juga mulai melek tenologi dan memanfaatkan media sosial untuk menebar racun secara psikologis. Mereka tahu bahwa banyak warga Papua yang aktif di sosmed, terutama Facebook. KST akhirnya memprovokasi masyarakat dan membuat hoaks serta foto palsu. Tujuannya agar masyarakat terpengaruh dan akhirnya berbalik memusuhi aparat, serta menyebarkannya ke teman-teman di dunia maya.

Salah satu provokasi yang disebar oleh KST adalah hoaks tentang pemusnahan ras melanesia di Papua. Seperti yang kita ketahui, di Bumi Cendrawasih mayoritas dihuni oleh ras tersebut. Jika masyarakat bersumbu pendek maka akan mudah terpengaruh. Namun syukurlah mereka tidak mempercayainya, dan diharap memperingatkan yang lain agar tidak mudah untuk terprovokasi.

Oleh karena itu KST wajib diberantas agar tidak menyebarkan provokasi-provokasi selanjutnya. Jangan sampai gara-gara hasutan, situasi jadi runyam, dan terpantik permusuhan antar warga. Bahkan sebuah provokasi bisa memicu peperangan antar suku yang membahayakan.

Satgas Nemangkawi sebagai tim yang khusus dibentuk dalam memberantas KST makin rajin dalam melakukan patroli. Mereka biasanya menyatroni Kabupaten Puncak, karena di sana masih rawan konflik. Masyarakat harus dijaga angan sampai ada serangan KST yang bisa menyebabkan korban luka-luka, bahkan korban jiwa.

Selain itu, Satgas Nemangkawi juga mencari di mana saja markas KST, karena mereka tak hanya punya 1 markas. Jika sudah ketemu maka akan mudah untuk menangkap karena di sana berkumpul banyak anggota KST. Mereka bisa dibekuk dan dimasukkan ke dalam bui, agar tak lagi meresahkan masyarakat.

KST adalah organisasi teroris yang berbahaya karena terus memprovokasi masyarakat, agar mereka mau memisahkan diri dari Indonesia. Mereka dengan liciknya memanfaatkan dunia maya untuk menyebar hoaks dan provokasi. Oleh karena itu KST wajib diberantas oleh Satgas Nemangkawi dan aparat lain, hingga ke akarnya, agar tidak mengacaukan masyarakat Papua.

)* Penulis adalah Mahasiswa Papua tinggal di Banjarmasin