Oleh : Cindy Ramadhani )*

Tingginya angka pasien Corona belakangan ini membuat masyarakat ketakutan karena mereka tidak ingin tertular. Untuk melindungi segenap warga negara Indonesia, maka pemerintah mempercepat program vaksinasi nasional, agar cepat selesai dan membentuk herd immunity. Ketika keadaan ini tercapai maka kondisi pandemi bisa dinyatakan berakhir.

Vaksinasi adalah cara paling efektif dalam memerangi Corona. Ketika program vaksinasi nasional dimulai pada awal tahun 2021, maka masyarakat bersorak gembira karena akan mendapatkan kekebalan dari Corona. Apalagi program ini digratiskan oleh pemerintah, sehingga tidak akan memberatkan warga yang kondisi keuangannya agak goyah saat pandemi.

Oscar Primadi, Sekretaris Jendral Kementrian Kesehatan menyatakan bahwa vaksinasi penting dalam mengendalikan pandemi covid-19. Percepatan vaksinasi juga sangat penting dalam rangka menurunkan laju penyebaran virus yang saat ini tengah meningkat.
Dalam artian, saat ini vaksinasi sangat penting di tengah ganasnya penyebaran Corona varian delta.
Oscar menambahkan, tiap orang wajib mendapatkan vaksinasi dengan 2 kali suntikan (dalam interval 14 hari). Jika sudah divaksin dan masih tertular maka hanya mendapat gejala ringan dan akan cepat sembuh. Dalam artian, vaksinasi tidak akan percuma karena melindungi diri dari rasa sakit ketika diserang oleh virus covid-19.

Oleh karena itu percepatan vaksinasi terus digenjot oleh pemerintah, karena jangan sampai ada kematian massal akibat penyebaran Corona varian delta. Presiden Jokowi menginginkan agar pada akhir juli ada 1 juta vaksinasi dan pada bulan agustus 2021 ada 2 juta dosis vaksinasi per hari. Semua pihak harus bekerja keras untuk meraihnya.

Vaksinasi harus digenjot karena kita berburu dengan waktu. Ganasnya Corona varian delta telah membuat setidaknya 40.000 orang terjangkiti oleh virus covid-19. Ketika banyak yang sudah divaksin, maka mereka tidak akan tertular dan jumlah pasien Corona akan menurun. Sehingga kita bisa bebas dari status pandemi secepatnya.

Percepatan sangat penting karena pada tahap awal, Kementrian Kesehatan mentargetkan program vaksinasi nasional akan selesai setelah 18 bulan. Tetapi Presiden Jokowi ingin agar selesai dalam 12 bulan saja. Semua pihak mulai dari Kemenkes, nakes, tim satgas covid, dan aparat bahu-membahu untuk mewujudkannya.

Untuk mempercepat vaksinasi, maka pemerintah akan mendapatkan vaksin dari Sinopharm pada juli 2021. Stok vaksin amat penting karena jangan sampai ada antrian panjang dari WNI yang ingin diinjeksi, tetapi ternyata persediaan sudah habis. Pemerintah selalu bergerak cepat untuk mengamankan stok agar semua mendapatkan vaksin sampai 2 kali.

Selain itu, segenap pihak juga mendukung pemerintah pemercepatan vaksinasi. Jika pada awalnya vaksinasi hanya dilakukan di Puskesmas, maka saat ini diselenggarakan juga di RS yang ditunjuk. Pendaftarannya juga via online sehingga praktis, sekaligus untuk membatasi orang yang akan disuntik, karena untuk menghindari terbentuknya kerumunan.

TNI dan Polri juga men-support vaksinasi dengan menyelenggarakan acara ini untuk masyarakat umum secara gratis. Vaksinasi massal biasanya dilakukan di tanah lapang atau stadion, untuk memperbanyak orang yang akan diinjeksi. Sehingga makin banyak pula yang sudah mendapatkan kekebalan atas Corona.

Tentu vaksinasi massal harus sesuai dengan protokol kesehatan. Pemilihan tempat yang luas seperti GOR untuk menjaga protokol physical distancing, dan semua pihak mulai dari yang akan vaksin sampai nakesnya wajib pakai masker. Saat akan masuk arena juga wajib cuci tangan terlebih dahulu.

Percepatan vaksinasi merupakan target pemerintah agar kita semua selamat dari bahaya Corona. Ketika semua orang sudah divaksin maka akan mendapat imunitas dan kemungkinan kecil tertular, sehingga angka pasien Corona akan turun dengan drastis.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh: Candra Angriawan )*

Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, bertujuan untuk membatasi mobilitas masyarakat, mengatur kegiatan seluruh sektor di masyarakat dan mencegah lonjakan Covid-19. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan mendukung kebijakan pemerintah tersebut agar penerapannya dilapangan bisa berjalan lancar dan penyebaran Covid-19 bisa diminimalisir.

Patuh pada aturan serta disiplin dalam penerapan protokol kesehatan adalah kunci utama dalam upaya memerangi serta menekan penyebaran virus Covid-19. Selain itu, peran aktif masyarakat agar mematuhi aturan-aturan pelaksanaan PPKM adalah modal utama dalam upaya pengendalian pandemi Covid-19.

PPKM Darurat adalah sebuah solusi yang coba ditawarkan oleh pemerintah dalam upaya perlindungan terhadap hajat hidup masyarakat banyak. Kebijakan PPKM ini menjadi tidak berguna jika hanya digerakan oleh pemerintah saja. Setiap lapisan masyarakat harus ikut andil dalam menyukseskan PPKM Darurat ini, demi menekan jumlah infeksi Covid-19 di Indonesia.

Kasus Covid-19 diprediksi masih akan terus naik dalam beberapa hari kedepan. Meski demikian, pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi untuk mencegah lonjakan kasus virus corona. Salah satunya, dengan menerapkan kebijakan PPKM darurat di Jawa dan Bali mulai 3-20 Juli 2021. Masyarakat diminta untuk membatasi mobilitas selama periode PPKM darurat tersebut.

Lonjakan kasus Covid-19 yang terjadi di Indonesia saat ini mengalami kenaikan yang mencapai 21.095 kasus pada 26 Juni 2021 lalu merupakan rekor tertinggi dalam sehari yang pernah dialami Indonesia. Kenaikan ini membuat rumah sakit mulai terisi penuh dan membuat banyak pasien yang tidak mendapat ruang untuk perawatan. Selain itu, kesediaan tabung oksigen tidak mencukupi kebutuhan pasien juga menjadi permasalahan utama dari lonjakan kasus ini.

Menurunnya tingkat kesadaran masyarakat dalam penerapan protokol kesehatan, menjadi pemicu dari lonjakan kasus ini. Selain itu, masuknya varian baru Covid-19 (varian delta) dan lainnya juga mempengaruhi tingginya lonjakan kasus ini. Kondisi ini tentu memprihatinkan bagi kita semua. Demi mengatasi lonjakan kasus yang semakin meningkat pemerintah bergerak cepat untuk menekan Covid-19. Yakni dengan memperketat PPKM Darurat dan disiplin protokol kesehatan.

Masalah lain dalam pelaksanaan PPKM darurat saat ini adalah adanya perilaku masyarakat membeli kebutuhan dalam jumlah banyak karena takut akan suatu hal (panic buying). Fenomena sosial ini sebenarnya adalah suatu yang berulang kali terjadi sepanjang pandemi Covid-19. Padahal jika kita lihat dilapangan, kondisi persediaan kebutuhan pokok masih sangat banyak beredar di pasaran maupun toko-toko yang tersebar diseluruh tempat.

Ketakutan akan kehabisan bahan pokok adalah sebuah ketakutan yang tidak masuk akal. Harusnya kita bisa mengatasi ketakutan-ketakutan ini dengan informasi-informasi yang benar yang bisa kita cari di beberapa media mainstream. Hal Ini penting demi menjaga informasi yang masuk agar kebenarannya teruji sehingga tindakan-tindakan yang kita lakukan tetap dalam koridor benar baik dalam mata hukum dan sosial masyarakat.

Sementara berbagi informasi yang tidak menyesatkan juga sangat penting hari ini. Mengingat tingkat minat baca masyarakat Indonesia yang sangat rendah, diharapkan kita semua yang sudah mengerti arti penting patuh protokol kesehatan dan dapat mengedukasi kelompok-kelompok yang pemahamannya masih belum mampu memahami kondisi ini.

Pemberlakuan PPKM darurat ini sangat penting demi menekan angka lonjakan Covid-19 di Indonesia. Pembatasan kegiatan ini diharapkan mampu kembali menimbulkan kesadaran masyarakat. Peran aktif masyarakat dalam mematuhi aturan-aturan dalam pelaksanaan PPKM adalah modal utama dalam upaya pengendalian pandemi Covid-19 ini.

PPKM Darurat adalah sebuah solusi yang coba ditawarkan oleh pemerintah dalam rangka upaya perlindungan terhadap hajat hidup masyarakat banyak. Kebijakan PPKM ini menjadi tidak berguna jika hanya digerakan oleh pemerintah saja. Setiap lapisan masyarakat harus ikut andil dalam menyukseskan PPKM Darurat ini, demi menekan jumlah infeksi Covid-19 di Indonesia. Patuh akan aturan dan pembatasan serta disiplin dalam penerapan protokol kesehatan adalah kunci utama dalam upaya memerangi dan menekan penyebaran virus Covid-19.

Disiplin terhadap diri sendiri merupakan tonggak awal keberhasilan kita dalam perang melawan Covid-19 ini. Setalah mampu mendisiplinkan diri sendiri barulah kemudian kita bisa mengajak masyarakat sekitar untuk turut serta bersama untuk hidup disiplin dan pada akhirnya diharapkan mampu menang melawan Covid-19 dan hidup normal seperti semula.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Bogor, Jawa Barat

Oleh : Suharso )*

Jumlah pasien Covid-19 yang naik terus membuat status Indonesia menjadi diserang lonjakan kasus positif. Pasalnya, pasien covid lebih tinggi daripada tahun lalu. Oleh karena itu, jika ingin selamat dari Covid-19, maka tidak ada pilihan lain kecuali menaati protokol kesehatan 5M dan mengikuti program vaksinasi nasional.

Pandemi belum juga berakhir dan keadaan jadi makin parah. Baru saja minggu lalu pasien Covid-19 12.000 per orang, saat ini sudah naik jadi 21.342 kasus. Bahkan di DKI Jakarta per hari ada lebih dari 9.000 orang yang kena Covid-19. Lonjakan ini tentu memusingkan karena RS penuh oleh pasien covid, sementara yang isolasi mandiri di rumah pun tak kalah banyaknya.

Lonjakan pasien sudah diprediksi oleh para epidemiolog di Indonesia, karena mereka melihat masyarakat yang tidak disiplin saat libur lebaran. Ada yang nekat mudik dan ada pula yang berwisata tanpa menaati protokol kesehatan. Akibatnya lebih dari 14 hari kemudian, mereka tertular Covid-19 karena mobilitas yang tinggi dan berkerumun seenaknya.

Untuk mencegah terkena Covid-19 gelombang 2 maka kita harus menaati protokol kesehatan 5M dan vaksinasi. Karena berkaca dari beberapa bulan lalu, ada lonjakan pasien covid karena tidak menaati protokol kesehatan physical distancing, menghindari mobilitas, dan menghindari kerumunan. Kondisi ini makin diperparah dengan menyebarnya Covid-19 varian delta yang berasal dari India.

Beda dengan varian alfa, delta lebih ganas dan membuat orang yang kena virus covid-19 merasakan gejala yang lebih parah, karena ia 2 kali menyerang lebih dahsyat. Pasien merasa pusing berat, lemas, lidah pahit, dan diare. Covid-19 delta bisa menular hanya dengan berpapasan dengan OTG, tak heran kita wajib stay at home dan jangan keluar rumah kecuali untuk hal yang penting.

Taati protokol kesehatan 5M: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan. Banyak dokter yang menyarankan untuk memakai masker ganda, yakni masker medis di dalam dan maske kain di luar. Tujuannya agar makin kuat menyaring droplet dari OTG. Kita harus makin waspada karena siapa saja bisa jadi suspect OTG.

Untuk mengurangi mobilitas masyarakat maka pemerintah mencanangkan PPKM mikro lagi dan para pekerja 75% work from home, sementara anak-anak masih sekolah online. Alex K Ginting, Kabid Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 menyatakan bahwa pemerintah daerah harus mengawasi PPKM mikro agar berlangsung dengan baik, tujuannya agar mempertahankan zona hijau.

Dalam artian, mulai dari sekecil RT/RW harus mengawasi warganya untuk menghindari kerumunan. Jika ada hajatan besar-besaran, langsung lapor saja agar dibubarkan oleh tim satgas covid, karena mereka jelas melanggar protokol kesehatan.

Selain menaati protokol kesehatan, masyarakat juga diminta untuk vaksinasi. Jangan pilih-pilih, jika yang ada AstraZeneca maka jangan beralasan mencari vaksin Sinovac. Kedua jenis vaksin ini sama manfaatnya untuk meningkatkan kekebalan tubuh pada virus covid-19. Efikasinya sama-sama tinggi.

Setelah vaksinasi maka bisa selfie lalu diunggah ke media sosial. Tujuannya agar para followers mau juga divaksinasi, karena mereka melihat bahwa tidak ada efek samping sama sekali pasca vaksin. Dengan mengkampanyekan vaksinasi maka kita turut membantu program pemerintah untuk mensukseskan program vaksinasi nasional dan mempercepat terbentuknya kekebalan kelompok.

Menaati protokol kesehatan dan vaksinasi adalah cara untuk menghindari Covid-19 dan jangan sepelekan penyakit ini, karena varian delta lebih berbahaya dan mematikan. Taati protokol kesehatan, tak hanya 3M tetapi juga 5M. Vaksinasi juga wajib dilakukan, apalagi injeksi ini gratis 100%. Jangan lengah sedikitpun agar tidak kena Covid-19.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Deka Prawira )*

Aparatur Sipil Negara (ASN) dilarang keras untuk mengambil cuti yang berdekatan dengan hari libur nasional. Tanggal merah juga ada yang digeser sehari, agar tidak disalahgunakan untuk mendapatkan ekstra cuti. Semua ini dilakukan agar mengurangi mobilitas masyarakat dan semoga bisa mengurangi jumlah pasien Corona.

Protokol kesehatan 5M terdiri dari memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan yang paling penting adalah mengurangi mobilitas. Masyarakat masih ada yang masih bandel dengan bepergian ke sana-kemari tanpa ada tujuan yang penting. Padahal mobilitas massal sudah terbukti meningkatkan jumlah pasien Corona.

Terbukti pasca libur lebaran, jumlah pasien Covid naik dari 8.000 jadi 12.000 orang per hari. Ini adalah hal yang menyedihkan karena jika banyak yang sakit dikhawatirkan akan banyak yang kehilangan nyawa. Sehingga pemerintah dengan tegas menerapkan PPKM mikro lagi dan menggeser tanggal merah, serta melarang para ASN untuk mengambil cuti yang dekat hari libur.

Kesepakatan untuk perubahan hari libur nasional dan cuti bersama tertuang dalam SKB Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja, Menteri PAN dan Reformasi Brokrasi, nomor 712, 1, dan 3 tahun 2021 Tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama.

Hari libur nasional yang digeser adalah libur tahun baru Islam 1433 hijriyah, semula tanggal 10 agustus (selasa) digeser jadi 11 agustus (rabu). Sedangkan cuti bersama yang dihapus adalah tanggal 24 desember.

Pergeseran dan penghapusan libur ini juga diiringi dengan larangan bagi para ASN untuk mengajukan cuti dekat-dekat dengan hari libur. Mengapa harus ASN? Karena mereka adalah abdi negara sehingga wajib taat pada aturan negara. Diharap warga sipil akan mengikuti jejak para ASN karena kebanyakan mereka jadi role model di masyarakat. Jadi, pemerintah patut diapresiasi karena melakukan trik agar semua orang menuruti aturan.

Jadi, ketika idul adha 2021 nanti para ASN tidak boleh mengajukan cuti beberapa hari sebelum atau setelahnya. Begitu juga dengan jelang libur tahun baru islam, cuti juga dilarang keras. Jika ada ASN yang nekat maka sanksi akan menanti, tergantung dari jenis pelanggarannya. Ini bukanlah siksaan tetapi justru harus diapresiasi, karena pemerintah memperhatikan kesehatan rakyatnya dan tak mau mereka kena Corona dalam perjalanan.

Larangan cuti dimaksudkan agar tidak ada yang memanfaatkannya untuk mudik, karena saat lebaran kemarin tidak boleh pulang kampung, jadi diganti dengan momen idul adha. Bukannya kejam, tetapi pelarangan ini justru demi keselamatan mereka sendiri. Karena kasus Corona sedang naik drastis, sehingga pergerakan masyarakat massal saat mudik akan memperparah keadaannya.

Begitu juga dengan ASN dan warga sipil yang ingin traveling dengan memanfaatkan hari kejepit (senin tanggal 9 agustus 2021). Mereka tak bisa cuti seperti biasanya. Karena memang ditakutkan akan melakukan liburan ke luar kota, karena ada 4 hari libur (sabtu, minggu, senin, selasa).

Jika liburnya digeser rabu maka mustahil akan cuti senin dan selasa sekaligus, karena izinnya tidak akan pernah diberikan saat masa pandemi. Kepala dinas dan kepala kantor harus bertindak tegas dan menolak tiap permintaan cuti bagi para karyawannya. Daripada diperbolehkan lalu pulang dan masuk kantor lagi sambil membawa virus Covid-19, lalu menularkannya ke seluruh rekan kerja.

Larangan cuti dan pergeseran tanggal merah harus diapresiasi karena pemerintah ingin agar keadaan aman terkendali. Jangan malah dilanggar dengan sengaja, karena pelarangan ini demi keamanan bersama. Pandemi makin menggila dan sebaiknya kita berada di rumah saja.

Jangan mengeluh saat gagal cuti panjang untuk liburan karena masih ada waktu untuk traveling atau mudik, nanti ketika pandemi sudah selesai. Justru sekarang kita ingin agar pandemi lekas diakhiri dengan tidak bepergian jauh dan menaati protokol kesehatan.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Kasus Covid-19 di Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, melonjak usai libur Lebaran 2021 selama sepekan terakhir. Per hari Minggu (6/6/2021), terdapat 25 kasus Covid-19 dan terdapat dua pasien Covid-19 meninggal dunia.

Sebelumnya, pada Kamis (3/6/2021) terdapat 7 kasus baru Covid-19, 5 kasus pada Jumat (4/6/2021) dan 4 kasus pada Sabtu (5/6/2021).

Juru Bicara Satgas Covid-19 Kabupaten Bangkalan, Agus Sugianto Zain mengatakan, penambahan kasus hari Minggu merupakan yang terbesar usai libur Lebaran.

Agus menyebut, penyebab terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di Bangkalan diduga karena adanya budaya Lebaran Ketupat. Tradisi ini selalu dilakukan masyarakat Bangkalan meski pandemi Covid-19 belum usai.

“Ini diduga karena budaya Lebaran Ketupat yang kemudian dipengaruhi juga oleh banyaknya PMI (pekerja migran Indonesia),” kata Agus, Minggu (6/6/2021).

Menurut Agus, mayoritas pekerja migran atau tenaga kerja Indonesia (TKI) yang pulang ke Jawa Timur, mayoritas berasal dari Bangkalan.

“Jadi, indikator ini yang diduga jadi penyebab. Jadi, ada klaster keluarga dan transmisi lokal yang penyebab melonjaknya kasus Covid-19 di Bangkalan,” katanya.

Agus menjelaskan, butuh kerja ekstra untuk memberi kesadaran agar masyarakat tetap patuh terhadap protokol kesehatan. Di sisi lain, jumlah SDM di Bangkalan juga terbatas serta postur APBD untuk penanganan Covid-19 juga minim.

“Kami keterbatasan tenaga juga, APBD kami beda jauh dengan Surabaya,” kata Agus.

Menurutnya, masih banyak masyarakat yang menganggap kebal dengan virus corona hingga abai dengan protokol kesehatan, serta mengabaikan kondisi kesehatan mereka sendiri.

“Ini kan menyangkut perilaku, tentang nilai-nilai kesehatan. Artinya ketika sakit parah, masyarakat baru datang ke rumah sakit,”.

Imbas dari melonjaknya kasus Covid-19 di Bangkalan, dua fasilitas pelayanan kesehatan di Bangkalan, yakni Puskesmas Arosbaya dan Puskesmas Tongguh ditutup. Hal itu dikarenakan terdapat 29 tenaga kesehatan yang bertugas di puskesmas tersebut terjangkit Covid-19. Di sisi lain, kata Agus, juga ada beberapa tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19 meninggal dunia.

Usai libur Lebaran, kasus Covid-19 tertinggi di Bangkalan terjadi di Kecamatan Arosbaya dan saat ini berstatus zona merah Covid-19. Namun, di 17 kecamatan lain di Bangkalan, kasus Covid-19 masih terkendali.

“Kecamatan Arosbaya ini memang tinggi masyarakat yang terpapar virus Covid-19 ini, akumulasi pasca libur Lebaran kemarin karena memang tradisi kumpul keluarga, kemudian dipengaruhi juga oleh PMI yang datang ke kampungnya, kini paling tinggi Bangkalan di Arosbaya,” kata Agus.

Saat ini, Pemkab Bangkalan sudah dibantu Pemprov Jatim melakukan swab dan tracing di lapangan. Ia berharap masyarakat bersedia mengikuti semua anjuran pemerintah agar kasus Covid-19 di Bangkalan bisa ditekan dan tidak meluas.

Berdasarkan data akumulatif per tanggal (6/6/ 2021), jumlah yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Bangkalan sebanyak 1.779 orang. Kemudian, jumlah pasien sembuh 1.520 orang, pasien Covid-19 meninggal 180 orang, dan kasus Covid-19 aktif 79 orang. (**)

Oleh : Abdul Rahman )*

Kasus Corona makin menggila beberapa minggu ini, karena ada lonjakan pasien di berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari Kudus, Madura, hingga Jakarta, menjadi zona merah bahkan hitam. Masyarakat diminta untuk lebih waspada dan meningkatkan kedisiplinan dalam menaati protokol kesehatan, agar tidak tertular Corona.

Kapan pandemi akan berakhir? Sepertinya pertanyaan ini agak sulit dijawab, karena masih banyak pasien covid di Indonesia. Menurut data tim satgas covid, per hari bisa 5.000 orang yang terinfeksi Corona, sehingga total pasien ada 2,5 juta orang. Angka ini tentu mengerikan, karena bisa-bisa penduduk Indonesia berkurang secara drastis.

Kenaikan jumlah pasien Corona terjadi di beberapa tempat, di antaranya Jakarta Timur, Kudus, dan Madura. Pada wilayah itu, diklaim sebagai zona merah, bahkan hitam, saking banyaknya pasien covid. Mirisnya, mereka sakit karena kecerobohannya sendiri dan lalai dalam menjaga protokol kesehatan, juga tidak menjaga imunitas tubuh dan higienitas lingkungan.

Di daerah Kayu Putih, Jakarta, ditemukan klaster Corona baru, dari warga dalam lingkungan 1 RT. Tepatnya di RT 011, RW 009, Kelurahan Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur. Diduga 22 orang saling tertular Corona dari OTG karena kongkow di Taman Pintar dan tidak mematuhi protokol kesehatan. Penularan seperti ini sangat miris karena terjadi di ruang publik, sehingga banyak orang yang berkontak dengan mereka.

Untuk mengantisipasi, maka perlu dilakukan tracing, siapa saja yang telah kontak dengan 22 orang tersebut. Namun bisa jadi agak sulit, karena taman adalah fasilitas umum, sehingga tidak tercatat siapa saja yang melintas dekat dengan pasien Corona. Jadi mereka perlu memiliki kesadaran diri, jika pernah melewati taman tersebut, harus tes ke laboratorium, minimal rapid test (karena tes swab biayanya cukup tinggi).

Selain di Jakarta Timur, Kudus juga masuk dalam wilayah yang berbahaya, dan diklaim sebagai zona hitam. Penyebabnya karena terjadi lonjakan pasien Corona, bahkan dalam sehari 40 orang meninggal dunia. Kengerian terjadi di kota muria ini karena langsung di-lockdown untuk mencegah mobilitas masyarakat.

Banyaknya pasien Corona di Kudus terjadi karena klaster wisata, dan di sana memang ada tempat berziarah yang sayangnya masih tetap dibuka untuk publik, padahal masih masa pandemi. Setelah banyak pasien Corona di Kudus, maka proses tracing juga agak sulit, karena mayoritas pengunjung tempat wisata berasal dari luar kota. Sehingga lagi-lagi mereka diminta untuk tes rapid secara mandiri.

Di Madura, tepatnya daerah Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, terjadi juga kenaikan jumlah pasien Corona. Menurut data tim satgas covid, ada 58 orang yang terkena Corona di Bangkalan, sementara di Sampang ada 8 orang, Pamekasan ada 3 orang, dan di Sumenep 25 orang.

Kenaikan jumlah pasien Corona terjadi pasca libur lebaran, dan diduga mereka yang terkena Corona karena nekat mudik atau tidak disiplin dalam melaksanakan protokol kesehatan. Saking banyaknya pasien, ruangan di RSUD Kabupaten Bangkalan sampai full dan menolak pasien baru. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Humas Tim Satgas Covid Bangkalan Agus Sugianto Zain.

Dari bebagai kasus di daerah ini masyarakat diminta untuk terus waspada, jangan sampai tertular Corona. Apalagi virus covid-19 sudah bermutasi menjadi beberapa varian, sehingga lebih dahsyat dalam menularkan Corona dan efek terburuknya menyebabkan seseorang meninggal dunia. Kita tentu tidak ingin kehilangan nyawa gara-gara virus yang kecil tapi mematikan ini.

Disiplin dalam melaksanakan protokol kesehatan harus dilaksanakan, dan memakai masker tak hanya saat di perjalanan, tetapi di kantor juga harus dipakai. Sebelum menyentuh sesuatu sebaiknya mencuci tangan atau memakai hand sanitizer, dan yang paling penting jangan membuat kerumunan dan hindarilah massa seperti di dalam pasar atau tempat umum lain.

Mengurangi mobilitas juga jadi poin penting dalam pencegahan Corona. Semua protokol kesehatan wajib dilakukan, agar tubuh tidak tertular virus covid-19. Jangan lelah untuk melakukannya, dan tetap menjaga higienitas dan imunitas tubuh, agar selalu sehat dan bebas dari segala jenis kuman, bakteri, dan virus.

)* Penulis adalah Mahasiswa IAIN Kendari