Oleh : Raavi Ramadhan )*

Bekas petinggi FPI, Munarman, digelandang polisi karena tersangkut kasus terorisme. Masyarakat mendukung penuh penangkapan ini karena ia telah berkali-kali membuat ulah dan meresahkan masyarakat. Baik dengan statement-nya yang kontroversial, maupun perbuatannya yang sering membuat geleng kepala.

Satu per satu petinggi FPI masuk ke dalam bui. Setelah Rizieq Shihab yang terperosok kasus kerumunan, pembohongan hasil tes swab, dan penolakan karantina mandiri, menyusul Munarman yang ditangkap oleh aparat. Ia didakwa pasal terorisme karena terbukti menghadiri baiat yang dihadiri oleh anggota kelompok teroris yang beraifiliasi dengan ISIS.

Penangkapan Munarman bukan hanya hasil dari kabar burung, tetapi merupakan hasil penyelidikan selama beberapa bulan. Juga ada saksi-saksi yang memberatkan, di antaranya mantan anggota FPI yang memang melihat sosok Munarman saat acara baiat tersebut. Munarman benar-benar datang dan menyatakan dukungannya pada kelompok teroris.

Masyarakat mendukung penuh ketegasan polisi dalam menangkap Munarman. Karena memang terbukti selama ini ialah yang menjadi otak di balik keganasan FPI. Munarman adalah penulis skenario yang membuat FPI terlihat galak, dan pelaksananya adalah Rizieq Shihab. Jadi yang diingat oleh publik adalah Rizieq, bukan Munarman, karena memang ia yang lebih terkenal.

Mengapa banyak yang bersyukur saat Munarman ditangkap? Pertama, ia terkena kasus terorisme. Jika dibiarkan saja maka akan berbahaya karena mengganggu kedaulatan negara. Terorisme adalah kejahatan terstruktur yang sangat mengerikan, karena bisa jadi akan ada pengeboman, penembakan, dan perusakan tempat umum.

Jika ada yang diam-diam menghadiri baiat maka sama saja mendukung kelompok teroris. Aksi diam Munarman bukan berarti emas, melainkan sarana untuk menjebloskannya ke penjara. Karena ketika ia melindungi keberadaan organisasi teroris, maka sama saja dengan memperbolehkan mereka untuk tetap eksis di Indonesia. Juga membiarkan kejahatan oleh kelompok teroris dilaksanakan.

Apalagi setelah Munarman ditangkap, ada penggeledahan di kantor FPI, dan ditemukan bubuk yang ternyata bahan peledak. Walau ia menyangkal dan menyebut bahwa itu hanya pembersih toilet, tetapi ketika diperiksa, benar bahwa bubuk itu adalah salah satu bahan pembuat bom.

Sudah terpampang nyata bahwa FPI adalah organisasi teroris. Untuk apa menyimpan bahan pembuat bom di kantor FPI? Sangat mencurigakan dan bisa jadi mereka merencanakan aksi makar dan penyerangan yang lebih ganas lagi, setelah ada pengeboman di Makassar beberapa saat lalu.

Bukti lain bahwa Munarman mendukung aksi terorisme adalah ketika rekening FPI dibekukan, beberapa saat lalu. Saat diperiksa arus masuk dan keluar transferan, maka ada uang masuk dari rekening luar negeri yang mencurigakan. Setelah dilihat, ternyata pemiliknya adalah pria yang terbukti mendukung organisasi teroris internasional. 

Bayangkan ketika Munarman tidak segera dicokok, maka FPI tidak akan mandek begitu saja. Saat tidak ada yang mengkomando bekas anggota FPI, maka Neo FPI akan menguap bagai genangan air di musim panas. Karena walau ormas ini sudah dibubarkan, tetapi masih saja memiliki ribuan mantan anggota yang bisa beraksi secara diam-diam.

Aksi gerilya ini yang akan berbahaya, karena anggota Neo FPI cenderung menurut pada sang komandan. Saat Rizieq Shihab tidak ada, maka tongkat komando dialihkan ke Munarman. Ketika Munarman dibui, maka Neo FPI akan kocar-kacir karena tidak ada yang berani memegang tampuk kepemimpinan, bahkan Aziz Yanuar sekalipun. 

Penangkapan Munarman malah membuat masyarakat bahagia karena mereka tahu bahwa sebenarnya ia yang menjadi otak di balik keganasan FPI. Ia juga tersangkut kasus terorisme, sehingga memang harus merenungi kesalahannya di dalam penjara. Munarman dan Rizieq sama-sama dibui dan semoga setelah ini keadaan Indonesia aman tanpa teroris.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Bogor

Mantan tokoh ormas Front Pembela Islam (FPI), Munarman, ditangkap Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri di Perumahan Modern Hills, Cinangka-Pamulang, Tangerang Selatan, Banten pada Selasa (27/4/2021).

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan mengatakan, petinggi organisasi masyarakat (ormas) Front Pembela Islam (FPI), Munarman sedang dibawa ke Polda Metro Jaya untuk diperiksa. Seperti diketahui, Munarman ditangkap tim Densus 88 di kediamannya di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan, Selasa sore.

“Yang bersangkutan saat ini akan dibawa ke Polda Metro Jaya untuk dilakukan pemeriksaan,” ujar Ramadhan.

Berdasarkan penjelasan Divisi Humas Polri, Munarman ditangkap karena terkait dengan aksi terorisme di sejumlah kota. Munarman diduga terlibat dalam pembaitan di UIN Jakarta, Medan, dan juga Makassar. Dia disebut berperan dalam membuat jaringan JAD dan ISIS di Indonesia. Munarman saat ini dibawa ke Polda Metro Jaya untuk pemeriksaa lebih lanjut.

Sementara itu ditempat terpisah, Kapolres Jakarta Pusat, Komisaris Besar Hengky Hariadi, mengatakan bahwa penggeledahan dilakukan di bekas Sekretariat FPI di Jalan Petamburan III, Jakarta Pusat. Saat digeledah, aparat tim gabungan Polri menemukan serbuk putih di dalamnya.

“Baru dapat konfirmasi dari dalam, bahwa ada serbuk putih yang mencurigakan,” ujar Hengki.

Kabag Penum Divisi Humas Polri, Kombes Ahmad Ramadhan mengungkapkan alasan Densus 88 Antiteror Polri melakukan penangkapan terhadap mantan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI), Munarman.

Ahmad menyebut penangkapan itu terkait dengan rangkaian proses Baiat diduga ke jaringan teroris yang dilakukan di Jakarta, Makassar, Sulawesi Selatan dan Medan, Sumatera Utara.

“Jadi terkait dengan kasus Baiat di UIN Jakarta kemudian juga kasus Baiat di Makassar dan ikuti Baiat di Medan,” ujar Ahmad di Gedung Humas, Jakarta Selatan.

Sementara itu, Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Timur akan melanjutkan sidang kasus kerumunan massa di Petamburan, Jakarta Pusat dan Megamendung, Kabupaten Bogor dengan terdakwa Rizieq Shihab pada Senin (17/5/2021).

Humas PN Jakarta Timur Alex Adam Faisal mengatakan, agenda sidang pada Senin mendatang adalah pemeriksaan ahli dari terdakwa atau penasihat hukum. “Agenda (sidang) pemeriksaan ahli epidemiologi dan ahli bahasa,” kata Alex dalam keterangannya. Alex menyebutkan, sidang pada Senin mendatang akan dimulai pukul 13.00 WIB.

PN Jakarta Timur menggelar sidang lanjutan kasus kerumunan massa di Petamburan dan Megamendung dengan terdakwa Rizieq Shihab pada hari ini. Agenda sidang adalah pemeriksaan ahli. Dua ahli hadir, yakni ahli hukum tata negara Refly Harun dan ahli hukum kesehatan M Nasser.

Sidang kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa. Dalam kasus di Petamburan, Rizieq didakwa menghasut pengikutnya untuk menghadiri acara pernikahan putri keempatnya yang dibarengi dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 14 November 2020.

Acara yang dihadiri sekitar 10.000 orang tersebut menyebabkan kerumunan. Padahal, pemerintah saat itu sedang menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk menekan penularan Covid-19.

Firza Ahmad )*

Rizieq Shihab dan Munarman yang sama-sama jadi pentolan FPI akhirnya bernasib serupa, harus bertanggungjawab atas perbuatannya di depan meja hijau. Saat Rizieq terbelit kasus kerumunan, Munarman terkena pasal terorisme. Penangkapan Munarman menunjukkan bahwa penegakan hukum di Indonesia dilakukan dengan seadil-adilnya.

Saat Rizieq Shihab merana di penjara, publik sempat bertanya-tanya mengapa sobat karibnya Munarman bisa melenggang bebas di luar. Padahal ia disebut-sebut sebagai otak FPI, sedangkan Rizieq hanya sebagai corong alias yang menyebarkan paham ekstrimisme.

Namun dugaan publik langsung dipatahkan ketika Munarman digelandang oleh polisi. Ia diduga sebagai pendukung terorisme, karena pernah beberapa kali menghadiri baiat kelompok teroris yang berafiliasi dengan ISIS, salah satunya di Makassar. Penangkapan ini sekaligus menunjukkan bahwa ia tidak sesakti itu, dan Munarman hanya WNI biasa yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan majelis hakim.

Penangkapan ini bukan sekadar dari hasil tuduhan, melainkan berdasarkan keterangan beberapa saksi yang merupakan anggota FPI. Saat dicokok, Munarman sengaja ditutup matanya agar tidak mengetahui siapa yang menangkapnya. Karena dikhawatirkan jika ia tahu dan menginformasikan ke laskar FPI, akan ada kerusuhan yang terjadi.

Munarman pantas dihukum karena menghadiri baiat teroris. Meski bukan ia yang membaiat, tetapi ia tetap dinyatakan bersalah. Karena membiarkan sebuah tindak kejahatan adalah sebuah kejahatan juga, karena sama saja ia membantu para teroris untuk tetap eksis di Indonesia.

Hukuman yang menanti Munarman tidak main-main, karena ada ancaman penjara seumur hidup. Penyebabnya adalah ia terkena 2 pasal sekaligus di UU nomor 5 tahun 2018 tentang terorisme. Munarman didakwa melanggar pasal 14 juncto pasal 7 dan pasal 15 juncto pasal 7.

Jika Munarman diancam hukuman seberat itu sudah sangat pantas. Pertama, terorisme adalah kejahatan yang susah diampuni, karena kekejamannya sudah melewati batas. Kedua, jika ia tidak dihukum berat, maka dikhawatirkan akan cepat bebas dan mengulangi lagi perbuatan jahatnya.

Ancaman hukuman ini dianggap setara dengan kejahatannya. Apalagi ketika diadakan penggeledahan di markas FPI, ditemukan bubuk yang ternyata bahan peledak. Barang bukti itu makin menunjukkan bahwa FPI adalah organisasi teroris dan Munarman adalah sosok di balik kegarangan ormas ini, yang sayangnya saat ini sudah tak berkutik bagai ayam sayur. Setelah FPI dibubarkan oleh pemerintah.

Pasca penangkapan Munarman, Rizieq makin ketakutan di dalam penjara. Ia tak bisa berkonsultasi, karena Munarman adalah salah satu dari tim kuasa hukumnya. Sementara Rizieq masih menanti sidang-sidang selanjutnya dan hanya bisa berdoa semoga dipertemukan dengan Munarman.

Sementara itu, Rizieq masih harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dan diancam hukuman minimal 6 tahun penjara. Penyebabnya adalah ia menolak isolasi mandiri pasca bepergian dari luar negeri, sehingga melanggar UU kekarantinaan. Kedua, Rizieq berbohong mengenai hasil tes swab, sehingga menyebabkan 80 orang kena corona, termasuk dokter yang merawatnya.

Kesalahan Rizieq yang paling fatal adalah ia nekat mengundang 10.000 orang dalam pesta pernikahan putrinya. Acara itu tentu mengundang kerumunan dan sebagian tamu undangan tidak memakai masker. Klaster petamburan terbentuk dan menyebabkan banyak orang kena corona, termasuk pejabat KUA yang menikahkan putrinya.

Jangan heran ketika Rizieq didakwa pasal berlapis, karena ia memang melanggar banyak peraturan dan tidak mengindahkan protokol kesehatan. Mau tak mau ia menunggu jadwal persidangan selanjutnya, dengan atau tanpa kehadiran Munarman di sisinya.

Munarman dan Rizieq sama-sama bersalah, walau kasusnya berbeda. Rizieq melanggar protokol kesehatan dan UU kekarantinaan, sedangkan Munarman terbelit pasal terorisme. Keduanya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di dalam penjara dan semoga bui mengubah mereka agar sama-sama tidak arogan.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Bogor

Aparat Penegak Hukum telah menangkap mantan Sekretaris Umum (Sekum) Front Pembela Islam, Munarman. Ia ditangkap di rumahnya dengan dugaan menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme.

Penangkapan Munarman terjadi sekitar pukul 15.00 pada hari Selasa (27/4/2021). Munarman langsung dibawa ke Polda Metro Jaya untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ia tiba di Polda Metro Jaya malam harinya sekitar pukul 19.55 WIB. Memakai baju koko putih dengan tangan diborgol dan mata tertutup kain hitam.

Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes, Ahmad Ramadhan, menyampaikan alasan penangkapan Munarman karena dirinya terindikasi terlibat dalam baiat teroris di tiga kota.

“(Ditangkap terkait) baiat di UIN Jakarta, kemudian juga kasus baiat di Makassar, dan mengikuti baiat di Medan,” Ucap Ahmad Ramadhan.

“Baiatnya kalau Makassar (ke) ISIS. Kalau Jakarta belum kami terima, Medan juga belum,” tambahnya.

Ditempat terpisah, Kadiv Humas Polri, Irjen Argo Yuwono, menyebut bahwa Munarman bermufakat melakukan aksi terorisme. Munarman juga diduga menyembunyikan informasi prihal terorisme.

“Munarman diduga menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme, bermufakat jahat untuk melakukan tindak pidana terorisme, dan menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme,” jelas Argo.

Persidangan kasus kerumunan di Petamburan dengan terdakwa Rizieq Shihab kembali digelar Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Kamis (22/4/2021) pagi. Humas PN Jakarta Timur Alex Adam Faisal menjelaskan bahwa sidang itu rencananya beragendakan pemeriksaan saksi dari pihak Jaksa Penuntut Umum (JPU). “Akan ada 4 orang saksi yang dihadirkan,” ujarnya.

Alex menjelaskan selain perkara 221 tentang kasus kerumunan Petamburan, Pengadilan Negeri Jakarta Timur juga akan menggelar sidang untuk kasus 222 dan 226 pada sore harinya. Kasus nomor 226 adalah kasus kerumunan Megamendung, Kabupaten Bogor dengan terdakwa Rizieq Shihab.

Sementara itu, perkara nomor 222 merupakan kasus dugaan pelanggaran kekarantinaan kesehatan di Petamburan untuk lima terdakwa eks pentolan FPI, yakni Haris Ubaidillah, Ahmad Shabri Lubis, Ali Alwi Alatas, Idrus Alhabsy, dan Maman Suryadi.

Pada sidang yang digelar pekan lalu, pihak JPU menghadirkan 11 saksi untuk kasus kerumunan di Megamendung, Jawa Barat. Dalam kesempatan itu kedua kubu saling mencecar saksi untuk menggali keterangan soal kasus kerumunan yang menjerat eks Pimpinan FPI Rizieq Shihab.

Sementara, Densus 88 Antiteror Polri masih memeriksa mantan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman sebagai tersangka dugaan tindak pidana terorisme.

“Penyidik densus 88 Antiteror Polri masih terus melakukan pendalaman dan pengembangan tentunya terkait keterlibatan aksi aksi terorisme yang dilakukan oleh Munarman di beberapa wilayah di Indonesia,” kata Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan di Mabes Polri

Menkopolhukam Mahfud MD menegaskan, penetapan pentolan FPI Habib Rizieq Shihab sebagai tersangka adalah murni urusan pidana.

Mahfud menolak anggapan penetapan Habib Rizieq sebagai tersangka itu dianggap sebagai tindakan kriminalisasi ulama.

“Penangkapan dan serta penetapan Rizieq Shihab sebagai tersangka itu soal pidana. Tak ada kaitannya dengan kriminalisasi ulama,” kata Mahfud.

Bahkan menurut Mahfud, narasi kriminalisasi ulama yang kerap diteriakkan segelintir pihak itu menyesatkan. Karena ia menganggap pemerintah tidak pernah melakukan kriminalisasi ulama.

Justru tokoh-tokoh agama yang diseret ke jalur hukum itu murni karena perbuatannya yang melanggar.

Ia menyebut salah satu contoh yakni nama Abu Bakar Baasyir yang harus menjalani hukuman lantaran melakukan tindak terorisme.

Di sisi lain, Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Luqman Hakim, mengatakan keterlibatan Munarman dalam jaringan terorisme merupakan fenomena memprihatinkan. Ini menunjukkan jaringan radikalisme dan terorisme sudah menyusup kemana-mana.

“Kedamaian dan ketertiban masyarakat. Karena itu, Luqman menilai Densus perlu memproses siapapun yang diduga terlibat terorisme dengan dasar bukti permulaan yang cukup,” pungkasnya.

Polri mengungkapkan mantan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman ditangkap karena terafiliasi dengan jaringan teroris Jamaah Ansharut Daullah (JAD) atau ISIS Indonesia.

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Hengky Haryadi mengemukakan bahwa Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror memiliki alat bukti bahwa Munarman terlibat dengan jaringan teroris tersebut. “Jadi dia ditangkap di wilayah Tangerang Selatan terkait jaringan ISIS ya,” kata Hengky, Selasa (27/4/2021).

Secara terpisah, Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol Ahmad Ramadhan mengatakan bahwa Munarman terkait dengan jaringan teroris JAD Makassar dan JAD Jakarta. Penangkapan Munarman, kata Ramadhan, adalah pengembangan dari kasus terorisme sebelumnya yang telah diungkap Polri di wilayah Makassar dan Jakarta. “Jadi setelah mengembangkan kasus terorisme di Makassar dan Jakarta kemarin, akhirnya dia ini (Munarman) ditangkap ya,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol. Argo Yuwono mengatakan tim Densus 88 telah menangkap mantan Sekretaris Umum FPI Munarman pada hari ini Selasa (27/4/2021) sekitar pukul 15.30 WIB di rumah pribadinya di Perumahan Modern Hills Cinangka-Pamulang, Tangerang Selatan.

Dia mengungkapkan Munarman ditangkap terkait kasus dugaan tindak pidana menginisiasi gerakan terorisme di Indonesia. Menurut Argo, Munarman diduga menggerakkan orang lain, bermufakat jahat dan menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme.

Sementara itu, Tim kuasa hukum membantah Munarman terlibat jaringan teroris Islamic State of Irak and Suriah (ISIS). Munarman disebut membaiat seseorang di Makassar yang terafiliasi dengan ISIS.

“Bahwa terhadap tuduhan keterlibatan klien kami dengan ISIS, sejak awal klien kami dan ormas FPI telah secara jelas membantah keras,” kata tim kuasa hukum Munarman, Hariadi Nasution, dalam keterangan tertulis, Rabu, 28 April 2021.

Menurut Hariadi, Munarman telah tegas menyatakan tindakan ISIS tidak sesuai dengan keyakinannya. Munarman justru memperingatkan masyarakat luas terkait bahaya situs-situs dan ajakan yang mengarah pada aksi terorisme.

Munarman ditangkap di kediamannya Perumahan Modern Hills, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, sekitar pukul 15.30 WIB, Selasa, 27 April 2021. Munarman diperiksa terkait kasus pembaiatan di beberapa lokasi.

Di antaranya, pembaiatan di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Makassar, dan Medan. Penangkapan Munarman merupakan pengembangan dari penangkapan sejumlah teroris di Jakarta dan sekitarnya.

Munarman juga bakal dikorek soal potensi dugaan keterlibatan dengan jaringan teroris tertentu. Munarman ditahan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Narkoba Polda Metro Jaya. Selama penahanan, penyidik Densus 88 akan memeriksa Munarman secara intensif. (*)

Oleh : Firza Ahmad )*

Bekas Sekretaris Umum FPI Munarman akhirnya ditangkap polisi karena terlibat terorisme pada selasa (27/4). Aksi Polisi ini dianggap sudah tepat sebagai bentuk implementasi pemberantasan paham radikal dan teror.

Eks Sekretaris Umum (sekum) Front Pembela Islam (FPI) Munarman, telah diamankan oleh pihak kepolisian, ditangkapnya Munarman tersebut rupanya terkait dengan tindak pidana terorisme. Hal tersebut telah dibenarkan oleh Kapolsek Tanah Abang, AKBP Singgih Hermawan.

Sebelumnya Munarman sempat muncul ketika ada temuan benda yang mencurigakan, benda tersebut bertuliskan ‘FPI Munarman’ ditemukan di warung yang berlokasi daerah Limo, Kota Depok Jawa Barat.

Benda mencurigakan tersebut merupakan sebuah kaleng yang dibungkus menggunakan kertas. Saat penemuan, tim gegana dikerahkan untuk langsung bergerak cepat ke lokasi dan melakukan pengecekan.

Munarman berkilah. Ia mengatakan tidak berkaitan dengan benda mencurigakan yang bertuliskan ‘FPI Munarman’.

Sementara itu, Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Hengki Haryadi menuturkan, bahwa mantan Sekum FPI tersebut ditangkap sebagai seorang tersangka atas dugaan keterlibatan tindak pidana terorisme.

Ia menuturkan, bahwa saat ini Polres Jakarta Pusat dibantu aparat TNI tengah memberikan bantuan pengamanan terhadap tim Densus 88 yang tengah melakukan penggeledahan di sekitar markas FPI yang berada di Petamburan.

Sementara itu, Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes (Pol) Ahmad Ramadhan mengatakan, mantan Sekretaris umum FPI tersebut akan dibawa ke Polda Metro Jaya untuk dilakukan pemeriksaan.

Ramadhan menjelaskan, alasan ditangkapnya Munarman adalah karena dugaan keterlibatan kasus Baiat di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. Selain itu, Munarman juga terlibat dalam kasus Baiat di Makassar dan Medan.

Dirinya melanjutkan, pihak kepolisian juga telah mengungkap sejumlah barang bukti berupa hasil penggeledahan yang dilakukan oleh Densus 88 Antiteror di bekas markas FPI.

Penggeledahan ini dilakukan berkaitan dengan penangkapan eks Sekretaris Umum FPI Munarman terkait dengan kasus kegiatan baiat kepada Negara Islam di Irak dan Suriah atau ISIS yang dilakukan di Jakarta, Makassar dan Medan.

Dalam kesempatan konferensi pers, Ramadhan mengatakan bahwa pihak kepolisian menemukan beberapa tabung berisi serbuk yang dimasukkan dalam botol, dimana serbuk tersebut mengandung nitrat yang sangat tinggi jenis aseton. Kemudian ditemukan pula beberapa botol plastik yang berisi cairan TATP (triacetone triperoxide).

Pihak Kepolisian juga mengatakan bahwa TATP merupakan bahan kimia yang sangat mudah terbakar. Bahan peledak yang menggunakan cairan kimia tersebut tergolong sebagai “high explosive” atau berdaya ledak tinggi.

Ramadhan menilai, temuan sejumlah bahan peledak ini mirip dengan barang bukti yang disita ketika polisi melakukan penangkapan teroris di Condet, Jakarta Timur dan Bekasi, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Bahan peledak tersebut nantinya akan didalami oleh penyidik dari Densus 88 Polri.

Selain bahan-bahan peledak, eks markas FPI tersebut juga didapati menyimpan beberapa atribut organisasi masyarakat, lalu ada pula sejumlah dokumen.

Pihak kepolisian juga telah membawa tiga kotak berwarna putih berukuran besar untuk kemudian dibawa dari Sekretariat Markas FPI dengan menggunakan sebuah minibus menuju Mabes Polri. Sejumlah aparat kepolisian pun terlihat mengawalnya.

Berdasarkan keterangan kepolisian, Munarman diduga telah menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme, bermufakat jahat untuk melakukan tindak pidana terorisme dan menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme.

Sebelumnya, pada awal Februari 2021 lalu, pihak kepolisian telah mengatakan, jika Munarman terbukti terlibat dalam pembaiatan massal kepada ISIS, maka jangan harap Munarman bisa lari dari hukum.

Dugaan keterlibatan Munarman juga diperkuat oleh salah satu terduga teroris dari Jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang juga merupakan simpatisan Front Pembela Islam (FPI) Ahmad Aulia mengatakan, bahwa ada pimpinan FPI pusat yang hadir dalam baiat massal kepada ISIS.

Ahmad mengatakan, dirinya berbaiat kepada Daulatul Islam memimpin Daulatul Islam Abu Bakar Al Baghdadi. Saat deklarasi FPI mendukung Daulatul Islam pada Januari 2015 dirinya berbaiat pada saat itu bersama dengan 100 orang simpatisan dan laskar FPI.

Ia mengaku, bahwa baiat massal ini dilaksanakan di Markas FPI yang berada di Makassar Sulawesi Selatan. Dirinya juga mengklaim bahwa Munarman hadir pada pembaiatan masal tersebut.

Keputusan untuk menangkap Munarman tentu keputusan yang tepat, apalagi setelah adanya pengakuan dari eks anggota FPI dan telah ditemukannya bahan peledak di markas eks FPI.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Bogor

Persidangan kasus kerumunan di Petamburan (perkara nomor 221/Pid.B/2021/PN.Jkt. Tim) dengan terdakwa Rizieq Shihab Shihab diwarnai perdebatan perihal mekanisme sidang. Sekitar satu jam lebih pihak yang beracara disibukkan dengan gangguan fasilitas penunjang guna persidangan virtual.

Keberatan atas mekanisme sidang virtual pada mulanya disampaikan oleh Munarman cs selaku penasihat hukum Rizieq Shihab. Ia mengatakan sidang virtual membatasi hak-hak hukum yang semestinya diperoleh oleh Rizieq selaku kliennya. Sementara majelis hakim, jaksa penuntut umum, dan penasihat hukum beracara secara fisik di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Munarman menganggap dalih penularan Covid-19 atas pelaksanaan sidang secara virtual tidak dapat dibenarkan seutuhnya. Menurut dia, protokol kesehatan bisa diterapkan dengan menghadirkan terdakwa ke muka persidangan. Munarman mengatakan kerumunan hanya terjadi di luar ruang persidangan.

Protes Munarman CS menyebabkan kegaduhan dan kekisruhan, sehingga majelis hakim menunda persidangan untuk memberikan waktu kepada tim IT memperbaiki fasilitas yang digunakan untuk persidangan virtual. Pihak Rizieq merasa keberatan ketika ada seorang jaksa yang menghampiri hakim guna melakukan suatu pembicaraan di tengah proses jeda sidang. Pihak pengacara mencurigai pembicaraan tersebut.

Sebagaimana diketahui, akhirnya sidang berujung ricuh, diawali ketika Habib Rizieq meninggalkan persidangan secara virtual dari Rutan Salemba cabang Bareskrim Polri lantaran permohonannya untuk dihadirkan langsung di muka persidangan ditolak.

Tim kuasa hukum Rizieq Shihab yang hadir langsung di Pengadilan Negeri Jakarta Timur berteriak-teriak ke arah Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan Majelis Hakim. Mereka melakukan walkout karena kecewa persidangan diputuskan tetap digelar secara virtual.

Munarman salah satu kuasa hukum berteriak “Tidak ada sidang pakai kamera sama kursi sama tembok”. Sementara itu tim kuasa hokum lainnya, Djudju Purwantoro berteriak “Ini negara hukum, negara hukum, bukan negara rezim!”.

Atas sikap Munarman cs di ruang siding PN Jakarta Timur yang menimbulkan ricuh tersebut. mendapatkan perhatian dan reaksi banyak pihak.

Pegiat media sosial eko Kunthadi melalui akun twitter pribadinya mengatakan, sidang Rizieq Shihab yang berujung ricuh menandakan, bahwa eks pentolan FPI itu dan laskar hingga pengacara kerjaannya selalu membuat keributan.

“Rizieq. Laskar. Sampai pengacaranya. Kerjanya selalu bikin onar,” tulis Eko Kuntadhi pada akun twitter pribadinya.
Tak hanya itu, Eko Kuntadhi juga mempertanyakan seruan revolusi akhlak yang digaungkan Rizieq Shihab tersebut.

“Hasil revolusi akhlak yang diteriakkan oleh mereka yang dipertanyakan akhlaknya,” sindirnya.

Sementara itu, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI), Petrus Selestinus mengomentari sidang pembacaan dakwaan kasus Rizieq Shihab yang berujung rusuh mengatakan bahwa aksi Munarman cs sudah intoleran dan merendahkan martabat dan kehormatan peradilan, profesi hakim, jaksa dan profesi advokat itu sendiri.

“Menunjuk ke arah majelis hakim dengan narasi atau diksi yang tidak patut yang ditujukan kepada majelis hakim dan jaksa penuntut umum untuk bersidang dengan tembok sesungguhnya tidak hanya sekedar tindakan contempt of court atau sekedar merendahkan martabat dan kehormatan badan peradilan dan keadilan itu sendiri, tetapi juga mereka telah memanfaatkan arena persidangan untuk aksi “intoleransi” dan “radikal” terhadap kekuasaan badan peradilan,”.

Menurut Petrus Munarman cs telah bertindak melanggar kewajiban sebagai advokat yaitu kewajiban untuk tetap berpegang teguh pada kode etik profesi dan peraturan perundang-Undangan. Karena itu, dia meminta Mahkamah Agung dan Dewan Kehormatan Organisasi Advokat harus melakukan tindakan hukum dan administrasi terhadap Munarman cs.

Bahkan Petrus menilai tindakan Rizieq dan Munarman cs sudah masuk kategori tindak pidana seperti dimaksud dalam pasal 207, 212, 214, 217 dan 218 KUHAP juncto 217 dan 218 KUHAP.
Karena itu, kata dia, sebaiknya ketua Pengadilan Negeri Jakarta Timur dan organisasi advokat harus segera melakukan langkah-langkah penindakan terhadap Munarman cs dengan melaporkan kepada polisi dari aspek pidana.

Selain itu, Munarman juga perlu dilaporkan ke Dewan Kehormatan Organisasi Advokat dan Mahkamah Agung RI dari aspek tindakan administrasi.
“Sehingga kepolisian harus segera melakukan tindakan kepolisian terhadap Rizieq Shihab dan Munarman dkk. Khusus kepada Munarman dkk, Mahkamah Agung berwenang untuk mengawasi, menindak bahkan memecat Munarman dkk selaku advokat,” katanya
Jadi memang revolusi akhlak yang didengungkan tidak hanya sebatas jargon saja. Adab dan akhlak tetap perlu dijaga, apalagi di pengadilan. Setuju.?