Oleh : Moses Waker )*

Otonomi khusus sangat didukung oleh masyarakat Papua karena telah memberi banyak manfaat. Di antaranya beasiswa untuk para pelajar dan mahasiswa dan dana untuk membangun infrastruktur di Bumi Cendrawasih. Oleh karena itu, warga sipil Papua menyetujui perpanjangan otsus di tahun 2021, karena sudah merasakan manfaatnya.

Tahun 2021 adalah saat yang krusial karena ada perpanjangan otsus. Program ini akan terus diperpanjang hingga 20 tahun ke depan, karena masyarakat Papua telah merasakan banyak manfaatnya, yakni pembangunan Jalan Trans Papua dan infrastruktur lain. Selain itu, mereka mendukung otsus karena ada aturan bahwa Gubernur dan Wakilnya harus orang asli Papua, sehingga mereka bisa membangun daerahnya sendiri.

Arkaleus Dowansiba, salah satu tokoh pemuda Manokwari, mendukung perpanjangan otsus karena setiap program pemerintah tujuannya baik. Tidak mungkin pemerintah membuat program yang merugikan masyarakat. Dalam artian, ia mewakili suara warga Papua tentang otsus dan turut merasakan manfaat dari program ini.

Arkaleus melanjutkan, ia menolak provokasi yang mengganggu keamanan, ketenangan, dan kedamaian. Dalam artian, otsus jangan sampai diganggu oleh pihak-pihak yang ingin mengusiknya. Jangan sampai ada provokasi, sehingga masyarakat sipil ikut-ikutan menolak otsus jilid 2, karena mereka yang akan rugi sendiri.

Saat otsus jilid 1, dana yang dikeluarkan pemerintah mencapai 1,2 trilyun (per 20 tahun) dan diprediksi akan lebih besar lagi untuk otsus jilid 2. Jadi ketika progam ini dihentikan, pembangunan di Papua bisa terganggu. Jangan sampai hal ini menyebabkan kondisi Papua menjadi tertinggal dengan daerah lain, karena kurangnya dana.

Otsus telah memberi banyak manfaat dan yang paling viral adalah Jalan Trans Papua. Jalan ini membuat mobilitas masyarakat jadi lebih cepat, sehingga mereka bisa menghemat  waktu tempuh saat akan menuju distrik lain. Saat mobilitas lancar, otomatis distribusi juga lancar, sehingga akan membantu bisnis dari para pengusaha Papua.

Bayangkan jika otsus dihentikan begitu saja, maka jalan Trans Papua akan terhambat pembangunannya. Karena jalan ini baru 95% selesai. Sebuah proyek akan sangat nanggung saat dihentikan begitu saja, hanya karena masalah pendanaan yang terhenti. Karena otsus tidak diperpanjang lagi.

Jika otsus tidak diperpanjang, bagaimana nasib anak-anak Papua? Mereka tidak bisa melanjutkan sekolah dan kuliah karena tidak ada lagi beasiswa otsus. Sekolah dan perpustakaan yang perlu dipugar juga bisa terbengkalai karena ketiadaan dana otsus. Sehingga otsus harus dilanjutkan, agar mereka bisa jadi anak cerdas.

Otsus memang bermanfaat dan warga Papua mendukung perpanjangannya, tetapi diharap ada evaluasi agar program ini berjalan lebih baik lagi. Hendrik Krisifu, Dekan Fakultas Hukum Universitas Cendrawasih menyatakan bahwa jika otsus memiliki kekurangan, maka semua pihak seharusnya sama-sama memperbaiki. Dalam artian, jangan hanya pemerintah yang disalahkan.

Semua pihak mulai dari pemerintah daerah, tetua adat, hingga masyarakat sipil seharusnya bekerja sama untuk memperbaiki otonomi khusus. Misalnya jika ada penyelewengan, maka warga bisa langsung melaporkan. Atau ketika masyarakat membutuhkan fasilitas baru, maka bisa minta dibangun dengan dana otsus. Keterbukaan ini akan membuat evaluasi otsus berhasil.

Jika ada kolaborasi, maka otsus jilid 2 akan berjalan dengan lancar. Sehingga di Papua akan makin maju dan tak lagi identik dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Papua memiliki potensi yang sangat besar, sehingga pembangunan di sana wajib dilakukan sebaik mungkin.

Otsus Papua telah memberi banyak manfaat bagi masyarakat di Bumi Cendrawasih. Perpanjangan otsus sangan disambut baik, dan program ini harus dievaluasi lagi agar bisa berjalan dengan lancar. Masyarakat sangat bersyukur atas dana otsus sehingga wilayah Papua makin maju.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Gorontalo

Oleh : Moses Waker )*

Kebijakan Otonomi Khusus merupakan titik temu, jalan tengah untuk memperkuat integrasi Papua sekaligus jembatan untuk meniti perdamaian dan membangun kesejahteraan di Tanah Papua. Rakyat Papua dan Papua Barat pun mengapresiasi kelanjutan Otsus yang selama ini telah memiliki banyak manfaat.

Otsus masih berlangsung sesuai UU Nomor 21 tahun 2001 tentang otonomi Khusus Papua. Sejauh ini, sejak dilaksanakan selama 20 tahun besaran dana otsus untuk Papua mencapai Rp 126,9 triliun yang difokuskan terutama 30% untuk sektor Pendidikan dan 15% untuk sektor kesehatan dan Gizi.

Dengan besaran dana Otsus tersebut menunjukkan komitmen Pemerintah RI untuk membangun Papua dan Papua Barat, dari sisi sumber daya manusia maupun infrastruktur.

Melalui Otsus, Orang Asli Papua juga menjadi syarat sebagai kepala daerah berdasarkan pasal 12 pada UU 21 Tahun 2001 tentang otonomi khusus bagi Provinsi Papua, Gubernur dan Wakil Gubernur wajib orang asli Papua.

Wakil Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo menjelaskan, banyak mahasiswa Papua mendapatkan beasiswa belajar dari dana otsus. Kemudian pemuda Papua yang berhasil masuk dinas kepolisian juga tentara, dari sisi biaya pendidikan itu berasal dari dana otsus.

Bahkan, berbagai lembaga adat, lembaga keagamaan di Papua sejatinya-pun menikmati dana otsus. Sehingga, jika ada penolakan dari penerima dana otsus jelas tidak fair dan salah.

Sayangnya, berbagai kelebihan itu, tidak disosialisasikan dengan baik oleh pemerintah provinsi. Meski ada kekurangan, dalam kurun waktu 20 tahun sampai saat ini, kehadiran otsus memberi manfaat yang begitu besar yang difokuskan untuk empat program prioritas.

Seperti, aspek pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat. Hal tersebut menjadi bukti, bahwa perhatian pemerintah pusat ke Papua begitu besar.

Karena itu, Ia meminta agar pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat, untuk lebih terbuka dalam menyampaikan data apa saja manfaat dari dana Otsus dan digunakan untuk apa saja.

Dalam kesempatan webinar, Thomas Eppe meminta kepada pemerintah provinsi Papua dan Papua Barat agar membuka data. Terkait tolak otsus, pemerintah daerah seolah-olah diam, membuat situasi seolah memaksa pemerintah pusat berhadapan langsung dengan masyarakat Papua.

Mestinya, pemerintah provinsi Papua dan Papua Barat membuka data ke publik, terkait dengan apa saja yang telah dilakukan otsus di Papua. Dari 2002 sampai 2020, buka data-data ke publik di Papua maupun nasional apa saja pencapaian Otsus.

Pemerintah provinsi Papua selaku perwakilan pemerintah pusat, harus berani membuka data-data itu supaya tidak terkesan menggiring Papua melawan pemerintah pusat.

Hal tersebut perlu dilakukan, supaya rakyat Papua tidak termakan dengan adanya agitasi politik oleh kelompok kontra pemerintah yang menolak kebijakan otsus. Agitasi politik tersebut hanya bisa dilawan dengan data dan informasi yang benar yang bisa diakses oleh publik secara memadai.

Ia menyatakan, banyak sekali dampak positif dari otsus selama 18 tahun, misalnya banyak mahasiswa yang mendapatkan biaya pendidikan dari otsus. Banyak polisi dan tentara yang merupakan OAP dan direkrut menjadi aparat, dimana biaya perekrutan dan pelatihannya dibiayai oleh Otsus, hal inilah yang tidak pernah dibuka kepada publik.

Menurut Thomas, pemerintah provinsi kurang lihai dalam menggunakan instrumen sosialisasi, seperti media sosial. Sehingga berbagai manfaat otsus tidak tersampaikan. Padahal, dana otsus sudah dirasakan hingga desa-desa, distrik dan masyarakat juga menyambut positif.

Musalnya, ada program bahwa keluarga yang memiliki anak usia dibawah 4 tahun, mendapat anggaran tiap bulan dan dibayarkan dua kali dalam setahun. Jika kebijakan ini bisa diperluas ke semua Kabupaten kota,

Pada kesempatan berbeda, Billy Mambrasar selaku staf khusus Milenial Presiden Jokowi, mengajak masyarakat Papua, dan generasi muda Papua, untuk tidak mudah terpengaruh oleh agitasi politik dan hoaks dari kelompok tertentu tanpa melihat utuh manfaat dari otonomi khusus. Agitasi kelompok yang menolak otsus, perlu dilawan dengan berita positif Papua.

Billy juga mengakui bahwa dirinya termasuk pemuda asli Papua yang menerima beasiswa otsus, tanpa adanya otsus maka dirinya tidak bisa bersekolah.

Otonomi Khusus daerah papua terbukti telah memberikan manfaat bagi rakyat Papua, dengan adanya kebijakan tersebut tidak sedikit anak muda Papua yang dapat menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.

) *Penulis adalah Mahasiswa Papua tinggal di Gorontalo

Oleh : Rebecca Marian )*

Rencana perpanjangan otonomi khusus tahun 2021 mendatang mendapat dukungan dari berbagai tokoh publik. Mereka sudah merasakan hasil otsus jilid 1, yakni kemajuan di bidang infrastruktur, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. Masyarakat di Bumi Cendrawasih makin meningkat kemampuan finansialnya.

Saat ini Papua menjadi tujuan wisata berkat keindahan alamnya dan Raja Ampat menjadi jujugan bagi turis mancanegara. Mereka mau mengunjungi wilayah timur Indonesia karena dianggap eksotis dan memancarkan kecantikan daerah yang natural. Bisnis pariwisata jadi lancar berkat adanya Bandara Internasional Sentani, yang dibangun lewat dana otsus.

Tak hanya untuk pembangunan infrastruktur, namun dana otonomi khusus yang mencapai 126 trilyun rupiah juga disalurkan ke bidang lain. Anggaran sebesar itu dibagi ke dana pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, agama, dan sebagainya. Jadi, di Papua tak hanya memiliki bangunan modern, tapi juga masyarakat yang cerdas berkat beasiswa otsus.

Banyak tokoh publik yang menyetujui otonomi khusus di Papua, seperti Fadli Zon. Menurut politisi yang jadi ketua tim pemantau otsus, program ini dinilai sudah berhasil dalam memajukan masyarakat di Bumi Cendrawasih. Selain itu, otsus adalah affirmative action yang bisa menjadikan rakyat Papua bangkit dari ketertinggalan. Jadi di sana tidak ada gap dengan di Jawa.

Jika dulu di Papua identik dengan wilayah timur yang sepi, hanya berupa hutan, dan masyarakatnya kurang modern, namun saat ini berbeda. Berkat dana otsus sudah banyak pembangunan yang memajukan Bumi Cendrawasih. Bahkan pekan olahraga nasional akan dilangsungkan di Papua, dan warga di sana akan bangga karena wilayahnya jadi sorotan.

Warga asli Papua juga merasakan dampak positif otsus. Ketua PKK Dobonsolo (Sentani, Jayapura), Martina Randongkir mendukung perpanjangan otsus, karena bertujuan mensejahterakan rakyat di Bumi Cendrawasih. Kebijakan ini cukup berhasil, namun harus ada evaluasi agar lebih baik lagi ke depannya. Juga akan diadakan optimalisasi kebijakan kampung.

Evaluasi dana otsus memang perlu dilakukan agar program ini berjalan lebih baik lagi. Misalnya untuk dana otsus pada bidang pendidikan, ada pula beasiswa untuk melanjutkan ke sekolah kejuruan, tak hanya ke sekolah negeri. Selain itu, tak hanya bangunan sekolah yang dibangun, tapi juga mencari pengajar berkualitas, melalui program guru SM3T.

Thomas Sapanfo, Wakil Bupati Asmat juga berpendapat bahwa otsus memiliki dampak yang positif. Karena selain memberi beasiswa bagi para putra Papua, ada program khusus bagi mereka yang telah lulus SMA. Para pemuda bisa mendaftar jadi tentara, dan seluruh biaya mulai dari perekrutan sampai pelatihan. Mereka bisa mewujudkan mimpi jadi penjaga wilayah NKRI.

Menurut Thomas, seharusnya ada sosialisasi tentang keberhasilan program otsus. Tayangan itu tak hanya disiarkan di Papua, tapi juga di seluruh wilayah Indonesia. Jadi, seluruh rakyat akan tahu bahwa program ini sudah berhasil, dan mereka akan mendukung perpanjangan otsus. Karena sudah terbukti memajukan Papua di berbagai bidang.

Sosialisasi tentang keberhasilan otonomi khusus sangat diperlukan karena saat ini ada oknum yang menolak perpanjangan otsus. Entah apa penyebabnya, namun keberadaan mereka cukup meresahkan. Sehingga wajib didekati dan dibina, agar mereka tahu bahwa otsus memiliki dampak positif di Papua, dan akhirnya sepakat untuk menyetujui perpanjangan program ini.

Perpanjangan otonomi khusus hendaknya dilihat sebagai sesuatu yang positif, karena program ini terbukti memajukan Papua. Baik dalam infrastrukturnya, maupun ekonomi, pendidikan, dan bidang yang lain. Rakyat Papua makin makmur dan tidak merasa dianaktrikan, karena sudah diperhatikan betul oleh pemerintah pusat. Pembangunan di Indonesia barat dan timur jadi merata.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta

Oleh : Rebecca Marian )*

Otonomi Khusus (Otsus) bagi Papua dan Papua Barat merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dilanjutkan sebagai salah satu upaya membantu pemerintah provinsi Papua untuk mendukung berbagai birokrasi pembangunan di daerah. Seperti pembangunan infrastruktur, kesehatan, pendidikan dan perekonomian masyarakat lokal di Tanah Papua.

Pdt Albert Yoku S.Th selaku mantan Ketua Sinode di Tanah Papua selaku Ketua FKUB Kabupaten Jayapura menyatakan bahwa Otsus merupakan anugerah Tuhan atau berkat yang diberikan dan sebagai upaya yang harus ada pemerataan terhadap semua pemerintah di Papua.

            Albert menegaskan, Otsus ini merupakan maksud baik dari pemerintah untuk orang asli Papua, sehingga harus tetap dilanjutkan, hanya perlu dievaluasi perjalanannya selama ini sehingga kedepannya bisa lebih bermanfaat lagi.

            Sementara itu Ketua PGGP Provinsi Papua Pdt MPH Mauri S.Th yang juga wakil Ketua 3 PGGI mengatakan bahwa Otsus juga menjadi landasan dalam membangun demi kemakmuran dalam membangun demi kemakmuran rakyat di pelosok tanah air terlebih khususnya di tanah Papua. Sehingga hal ini perlu mendapatkan dukungan dalam implementasinya.

            Otsus Papua terbukti dapat membawa kesejahteraan rakyat Papua, hal tersebut dibuktikan dengan mudahnya 40 orang putri daerah Papua untuk mengikuti pendidikan Kowad di Bandung.

            Dalam garis besar Otsus telah memberikan dampak seperti peningkatan pendidikan, perbaikan infrastruktur, kesehatan yang telah dirasakan langsung oleh masyarakat papua. Dan sekarang jalur lapangan kerja akan dipermudah sehingga akan memperkecil angka pengangguran di Papua/Papua Barat.

            Pada kesempatan berbeda ketua pegunungan tengah di Wamena Sem Kogoya menjelaskan bahwa Otsus Papua memiliki dampak positif. Jika terdapat isu tentang penolakan Otsus Jilid 2 oleh oknum tertentu, yang ternyata mereka menjadi bagian dari elit politik tertentu untuk memecah belah pemuda dan masyarakat Papua.

            Dirinya bersama warga pegunungan mengaku akan selelu berusaha semaksimal mungkin menghalau rencana aksi demo agar tidak terjadi lagi di Jayapura.

            Tentu saja masyarakat Papua jangan sampai keliru menilai Otsus, apalagi sampai terpengaru oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk menolak kehadiran program otsus.

            Jika otsus memiliki kekurangan, tentu harus dicari penyebabnya dan perbaiki bersama-sama. Dengan begitu manfaat dari program otsus ini akan dapat lebih dirasakan oleh masyarakat.

Billy Mambrasar selaku staf khusus Presiden Joko Widodo pernah mengatakan, hasil survey dengan sampel 500 kalangan milenial Papua, mereka berpandangan bahwa otsus merupakan proses dan perlu perbaikan yang terus-menerus. Misal penggunaan anggaran yang harus diperbaiki.

            Ia menyebut otsus merupakan proses membangun jiwa raga. Karena itu, hal baik yang sudah didapat dari otsus, seperti pada sektor pendidikan yang merupakan investasi sumber daya manusia, terus ditingkatkan. Di sisi lain, dirinya sepakat bahwa agar semakin baik, perlu dengarkan aspirasi dari AOP agar otsus bisa berjalan lebih baik.

            Sementara itu, Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Benny Irwan, menyampaikan hingga saat ini belum ada perubahan Kebijakan Umum Otsus untuk Papua. menambahkan, dana otsus yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang akan berakhir pada 2021. Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan, pengalokasian dana otsus tetap akan dilanjutkan. Berdasarkan Undang-undang nomor 21/2001 tentang otsus disebut masa berlaku dana otsus Papua berakhir pada 2021.

            Pembahasan RUU Otsus saat ini masih berlangsung, targetnya pembahasan tersebut akan selesai pada Oktober 2020 sehingga dapat dibahas bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Mengenai besaran alokasi dana otsus Papua yang setara 2% dari total dana alokasi umum (DAU) nasional. Benny menjelaskan hal tersebut belum ditentukan.

            Amanat UU Otsus Nomor 21 tahun 2001, dana otsus setara 2% dan berlaku selama 20 tahun. Dana Otsus diberitakan sebagai konsekuensi pemberitaan status otonomi khusus. Adapun fokus penggunaannya untuk mendukung perbaikan kesehatan, pendidikan, serta kesejahteraan di Papua dan Papua Barat.

            Otsus Papua terbukti telah menjadikan Papua dan Papua barat menjadi provinsi yang mengalami kemajuan, tentu akan disayangkan apabila maksud baik dari pemerintah tidak dilanjutkan hanya karena provokasi dari pihak yang ingin memecah persatuan di wilayah Papua.

)* Penulis adalah mahasiswa papua tinggal di Jakarta

Oleh : Abner Wanggai )*


Otonomi khusus di Papua akan diperpanjang tahun 2021. Masyarakat Papua sangat mendukung otsus jilid 2, karena program khusus dari pemerintah ini terbukti memakmurkan rakyat di bumi cendrawasih. Sudah banyak pembangunan di Papua berkat adanya otonomi khusus.
Otsus adalah program yang dimulai sejak 2001 dan berlaku selama 20 tahun. Program ini mendapat payung hukum dari UU nomor 21 tahun 2001 dan diubah jadi perpu no. 1 tahun 2008. Seluruh rakyat Papua senang dengan adanya otsus karena mendapatkan bantuan berupa uang dari pemerintah pusat. Selain itu ada jaminan penghormatan HAM di Papua.
Akan ada otsus jilid 2 di Papua mulai tahun 2021. Perpanjangan otsus ini sangat didukung oleh rakyat Papua. Karena mereka menikmati infrastruktur yang dibangun dari dana otsus. pemerintah pusat mengucurkan uang sampai trilyunan rupiah demi kesejahteraan rakyat di bumi cendrawasih. Jadi, tidak ada ketimpangan pembangunan antara Jawa dan Papua.
Dalam otsus Papua, tidak hanya uang yang diberikan, namun juga ada kewenangan khusus yang diberikan kepada rakyat Papua. Di antaranya, seluruh pemimpin (walikota, gubernur, dll) harus dijabat oleh warga asli Papua. Jadi warga di sana bisa memimpin daerahnya sendiri karena sudah tahu bagaimana karakter masyarakatnya dan juga budayanya.
Bani Tabuni, Kepala Suku Pegunungan Tengah Papua, menyatakan bahwa otsus adalah solusi kesejahteraan masyarakat sebagai bentuk hadirnya negara. Dalam artian, pemerintah berusaha membuat masyarakat Papua sejahtera dan mengecap kehidupan yang maju, dengan membangun bumi cendrawasih. Papua bukan lagi provinsi yang terpinggirkan.
Semua rakyat Papua menyambut baik otonomi khusus jilid 2 karena sudah ada bukti nyata saat ada program otsus jilid 1. Banyak Rumah Sakit dan Puskesmas yang dibangun di Papua. Jadi masyarakat tidak perlu pergi jauh untuk berobat. Petugas kesehatan juga diterjunkan langsung ke masyarakat untuk memberi obat dan melakukan pemeriksaan.
Infrastruktur juga dibangun di Provinsi Papua dan Papua Barat. Ada jalan Trans Papua yang membentang sepanjang 4.330 KM dari Sorong ke Merauke. Masyarakat sangat menikmati fasilitas jalan ini, karena bisa menghemat waktu dan tenaga. Mereka tak perlu lagi melintasi hutan belantara ketika bepergian. Bahkan diklaim kualitas jalannya hampir sama dengan di Eropa.
Pembangunan infrastruktur lain juga dilakukan di Papua, dengan adanya 3 Pelabuhan baru di Raja Ampat, yakni di Waigeo Utara, Kofiau, dan dermaga wisata Kota Waisai. Pelabuhan ini bisa mendukung pariwisata di Raja Ampat, karena jadi tempat traveling internasional. Wisatawan juga bisa ke sana melalui Bandara Internasional Sentani yang sudah sangat modern.
Masyarakat juga mendukung otsus jilid 2 karena ada kemudahan akses pendidikan di Papua. Banyak sekolah dibangun dengan fasilitas dan pengajar yang cukup. Murid-murid juga diberi beasiswa, bahkan bisa kuliah di luar negeri. Jadi tidak ada lagi anak yang putus sekolah atau bahkan buta huruf karena tidak mengenyam pendidikan sama sekali.
Ketua DPD PMT Provinsi Papua Ali Kabiay menyatakan bahwa otsus perlu diperpanjang karena pembangunan di segala bidang di wilayah Papua masih diperlukan. Terutama untuk pembangunan SDM, kesehatan, dan ekonomi, kesejahteraan, dan lainnya. Otsus adalah program yang bagus, jadi tidak boleh dihentikan begitu saja.
Dengan perpanjangan otsus maka diharap bisa memberantas masalah kesehatan di Papua seperti penyakit malaria dan mencegah penularan corona. Pembangunan infrastruktur di Papua yang belum tuntas akan diselesaikan. Jadi tidak ada proyek yang mangkrak.
Masyarakat sangat mendukung otsus jilid 2 karena di otsus 1 sudah banyak kemajuan di bumi cendrawasih. Sekarang sudah ada jalan trans Papua, Rumah Sakit, Puskesmas, dan infrastruktur lain untuk kemajuan Papua. Otsus jilid 2 akan membawa lagi kemajuan di Papua.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Jakarta