Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw, mengatakan terdapat dua pelajar menjadi korban penembakan orang tak dikenal (OTK) di Sinak, Kabupaten Puncak. Seorang di antaranya meninggal dunia. Penyelidikan kasus penembakan ini akan diserahkan ke Polres Puncak.

“Memang benar ada laporan dua pelajar menjadi korban penembakan OTK (Orang Tak Dikenal) pada hari Jumat (20/11) di Sinak, salah seorang di antaranya meninggal dunia,” kata Kapolda Papua Irjen Pol. Paulus Waterpauw. Karena lokasi yang jauh dan kondisi geografis yang sukar, menurut Paulus, penyelidikan akan membutuhkan waktu.

Penembakan terhadap pelajar ini juga disorot oleh Advokat Papua Kebijakan dan Hak Asasi Manusia (PAK HAM). Direktur PAK HAM, Matius Murib, mengungkapkan penyerangan terhadap dua pelajar Papua, Atanius Murib dan Manus Murib, tidak pernah dapat dibenarkan dengan alasan apapun. Pelaku telah melakukan pelanggaran HAM berat dengan memilih tindakan kekerasan yang mematikan. “Pelaku telah memilih tindakan kekerasan yang mematikan sebagai cara untuk mencapai tujuannya,” kata Direktur PAK HAM Matius Murib.

Matius Murib berkata bahwa mengambil nyawa manusia adalah otoritas Tuhan, dan menyerang Atanius Murib dan Manus Murib, dua siswa lokal, tidak pernah bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Dalam kaitan ini, pelaku telah melakukan pelanggaran HAM berat.

Sebelumnya, Kapen Kogabwilhan III, Kol CZI I.G.N. Suriastawa, mengatakan bahwa KKSB yang menjadi pelaku penembakan terhadap pelajar di wilayah Sinak. Saat ini korban Amanus Murib dalam kondisi kritis, sementara Atanius Murib meninggal dunia.

“Keduanya dilarikan ke Puskesmas Ilaga oleh masyarakat sekitar tempat kejadian. Korban meninggal dunia dengan luka parah sempat ditangani oleh petugas Puskesmas, namun nyawanya tidak tertolong karena terlalu banyak mengeluarkan darah,” kata Suriastawa.

Dari informasi yang beredar dan analisa sementara, dia mengungkapkan, pelaku penembakan diduga KKB. Aksi brutal KKB ini bermotif intimidasi kepada masyarakat karena tidak mendapat dukungan dari warga setempat.

“Aksi KKSB ini bermotif intimidasi kepada masyarakat karena tidak mendapat dukungan dari warga setempat serta sebagai upaya memutarbalikkan fakta dengan menuduh aparat keamanan sebagai pelakunya. Pemutarbalikan fakta dan playing victim melalui media massa selalu menjadi trik dari kelompok pro-KKB dan pendukungnya untuk menyudutkan pemerintah Indonesia,” tutupnya.

Kelompok Kriminal Separatisme Bersenjata (KKSB) di Papua terus melancarkan berbagai penyerangan. Tidak hanya kepada petugas keamanan, kelompok yang berafiliasi dengan OPM ini juga menyerang warga lokal. Maka tidak sedikit masyarakat, yang merasa ketakutan akan kemunculan kelompok kriminal tersebut.

Kondisi ini diutarakan oleh Kabid Humas Polda Papua, Kombes Ahmad Musthofa Kamal. Ia menyebut penyerangan yang dilakukan KKSB tidak hanya mengakibatkan korban luka saja, tetapi juga terdapat korban jiwa. Menurut Kamal, Salah satunya kejadian penembakan terhadap Pdt. Yeremia Zanambani.

Kamal menambahkan, ada video yang diduga merupakan aksi teror dari KKB yang tersebar di media sosial. Video itu semakin membuat masyarakat ketakutkan. “Pada video yang beredar di media sosial, di mana KKB melakukan aksi teror di Bandara Sugapa, dalam video yang berdurasi 5 menit ini masyarakat yang berada di sekitar lokasi berhamburan untuk menyelamatkan diri,” ujar Kamal.

Lanjut Kamal, aksi kelompok separatisme di Papua sudah tidak lagi dapat ditolerir. Mereka sangat kejam melakukan penyerangan. “Kami sangat prihatin dengan aksi kebiadapan KKB dimana telah melakukan pelanggaran HAM, di saat warga ingin hidup damai dan sejahtera di tanah ini KKB telah buat ketakutan dan apa yang mereka lakukan tersebut sudah tidak dapat ditolerir lagi,” tegasnya.

Aksi penyerangan terhadap warga sipil oleh KKSB kembali terulang. Kepala Penerangan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III, Kolonel Czi IGN Suriastawa mengatakan, penembakan terhadap dua warga sipil kembali terjadi dan dilakukan kelompok kriminal bersenjata (KKB). Kedua korban yakni Amanus Murib dalam kondisi kritis. Sementara Atanius Murib meninggal dunia.

Peristiwa itu terjadi di Distrik Sinak menuju Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua. “Dari informasi yang beredar dan analisa sementara, pelaku penembakan diduga KKB. Aksi brutal KKB ini bermotif intimidasi kepada masyarakat karena tidak mendapat dukungan dari masyarakat setempat,” kata Suriastawa.

Suriastawa menambahkan, aksi KKB kepada warga asli Papua ini disinyalir sebagai upaya untuk memutarbalikkan fakta dengan menuduh aparat keamanan sebagai pelakunya.

Oleh : Timoty Kayame )*

Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) kembali melakukan aksi saat turun gunung. Ada 1 nyawa melayang pada peristiwa naas tersebut. Kekejaman KKSB disesali oleh masyarakat, karena mereka tega menembak warga asli Papua. Mereka geram karena KKSB selalu membuat onar dan mengorbankan saudara sesukunya sendiri.

Terjadi tragedi berdarah di Distrik Ilaga. Satu orang meninggal karena kena tembakan anggota kelompok kriminal separatis bersenjata. Korban jiwa bernama Atanius Murib, sementara Amanus Murib sedang kritis. Atanius Murib tidak terselamatkan karena mengeluarkan terlalu banyak darah.

Pusat Penerangan TNI menyatakan bahwa tersangkanya diduga dari KKSB. Karena mereka melakukan intimidasi dan pemaksaan terhadap warga sipil, agar mau mengikuti jejaknya untuk memberontak. Tentu saja masyarakat asli Papua tak mau melakukannya, lalu KKSB marah dan menembak dengan ngawur, karena merasa tidak dapat dukungan dan perlindungan.

Disinyalir hal ini jadi salah satu modus KKSB untuk melakukan drama playing victim. Sehingga mereka mengaku tidak melakukan penembakan dan dunia internasional mengira bahwa tersangkanya adalah anggota TNI, karena mereka punya senjata. Padahal KKSB-lah tersangka sebenarnya, dan mereka punya senapan yang didapatkan dari pasar gelap.

Aksi KKSB selalu jadi sorotan karena mereka selalu menggunakan kekerasan untuk mendapatkan kemauannya. Mereka pamer kemampuan menembak dan bahkan tega membuat tameng hidup dari warga asli Papua, saat akan menyerang aparat. Masyarakat makin antipati dan tidak mau sama sekali mendukung baik KKSB maupun OPM.

Bukan kali ini saja anggota KKSB kumat menembaki dengan brutal. Ada berbagai kejadian lain, mulai dari tragedi Istaka Karya yang memakan korban banyak orang, sampai tingkah mereka yang menembak mobil dinas TNI. Padahal mobil itu datang dengan tujuan memberi bantuan logistik.

KKSB juga bergerilya keluar masuk hutan perawan Papua, dan sayangnya untuk alasan regenerasi, mereka merekrut para remaja. Mereka yang sudah putus sekolah dirayu untuk ikut join dan mendapatkan senjatanya sendiri. Padahal daripada capek dan bergerilya, lebih baik mencari kerja atau berdagang apa saja untuk menyambung hidup.

Selain itu, masyarakat juga diharap waspada agar tidak mengindahkan kampanye KKSB di media sosial. Mereka biasa bergerilya di Facebook dan melakukan provokasi agar seluruh warga Papua mendukung OPM. Karena bagi mereka Indonesia adalah penjajah. Warga Papua tentu tak percaya karena mereka lebih cinta NKRI daripada republik papua barat yang tidak sah.

Masyarakat Papua juga tidak mau untuk diajak mengibarkan bendera bintang kejora sebagai kebanggan dari OPM dan republik Papua Barat. Karena tentu mereka tak mau dianggap mendukung kelompok separatis. Seluruh warga asli Papua sangat cinta dan bangga jadi bagian dari NKRI.

Memang jelang ulang tahun OPM tanggal 1 desember, anggota KKSB memang lebih sering ‘turun gunung’ dan keluar dari sarang persembunyian mereka. Lalu mereka menakut-nakuti masyarakat sipil dengan senjata api dan senjata tajam. Tujuannya agar makin banyak yang ikut merayakan ulang tahun OPM dan mendukung merdekanya Papua.

Aparat semakin berjaga agar tidak ada lagi korban jiwa maupun korban luka akibat serangan KKSB. Mereka lebih ketat dalam berpatroli dan menerjunkan lebih banyak personel. Tujuannya agar mencegah KKSB berbuat onar kembali, sehingga keadaan di Bumi Cendrawasih aman dan damai.

Kekejaman KKSB makin membuat masyarakat marah karena mereka tega menembak saudara sesukunya sendiri, sampai ia terbunuh. Karena merasa intimidasinya kurang kejam. Tingkah KKSB makin ngawur dan berkampanye baik di dunia nyata sampai dunia maya, agar makin banyak warga sipil Papua yang mendukung organisasi papua merdeka.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Palangkaraya

Di wilayah Papua terdapat gerakan separatis seperti OPM dan lainnya yang terus berupaya memisahkan Papua dari bagian integral Indonesia. Mereka ini mengedepankan kekerasan dan berupaya agar Papua bisa merdeka dari Indonesia serta tidak mempunyai masa depan dan hanya akan menambah pembunuhan serta kematian yang merugikan Papua.

Hal ini diutrakan oleh Rohaniawan Franz Magnis Suseno. Dia juga menyebutkan bahwa Papua tidak sama dengan Timor Timur (kini bernama Timor Leste) yang merdeka pada 2002 lalu. Bumi cendrawasih menjadi sah bagian NKRI. Status Papua akan tetap jadi bagian yang sah dan diakui dari Indonesia.

“Yang terus berupaya memisahkan Papua dari Indonesia ini kan tidak paham sejarah. Papua sudah sejak lama menjadi bagian Indonesia. Mereka yang ingin memisahkan ini berafiliasi dengan gerakan separatis. Mereka menggunakan cara-cara kekerasan,” ujar Franz Magnis.

Tokoh Papua, Ramses Ohee, mengatakan semestinya kelompok separatis tidak boleh ada di Papua, karena dapat merusak persatuan dan kesatuan masyarakat. Ramses Ohee bersama dengan Barisan Merah Putih terus memberikan literasi kepada masyarakat untuk menolak kelompok separatis, karena hanya mengancam keutuhan bangsa.

“Kelompok (separatis) tersebut telah memperdaya anak muda Papua sehingga terjadi kekerasan dan kerusuhan di Papua seperti terjadi beberapa waktu yang lalu. Sebaiknya warga Papua tegas menolak mereka,” tegas Ramses Ohee.

Tokoh Muda Papua, Ondo Yanto Eluay, juga sepakat untuk menolak kelompok separatisme di Papua. Ia menilai gerakan separatisme dan aksi demonstrasi yang terus menuntut kemerdekaan Papua ini tidak jelas.

Untuk menguatkan pesan itu, Yanto Eluay telah menginisiasi dan mendirikan Presidium Putra Putri Pejuang Pepera (P5). Menurut dia, P5 dibentuk sebagai bagian dari tanggung jawab moril dari putra putri pejuang Pepera 1969.

“P5 akan dideklarasikan dalam waktu dekat. Bersama para pelaku sejarah dan anak cucunya, kami akan meluruskan sejarah Pepera agar fakta-fakta sejarah tidak lagi dimanipulasi sekelompok orang demi agenda politik mereka, termasuk mereka yang mendukung gerakan Papua merdeka,” ujar Yanto Eluay.

Pemerintah Kota Jayapura terus berkomitmen mengajak masyarakat untuk mewujudkan kota aman dan damai supaya bebas beraktivitas. Hal ini penting untuk menjaga kerukunan dan keutuhan NKRI.

Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, mengatakan siapapun yang tinggal di Tanah Papua wajib menjaga kedamaian agar hidup rukun dengan tidak melakukan tindakan kekerasan dan merusak NKRI. Warga Papua harus menjadi panutan dan teladan bagi masyarakat lainnya.

“Saya mengajak seluruh lapisan komponen masyarakat, mari tolak tindakan anarkis. Kedamaian di Tanah Papua mahal karena harus dibayar dengan korban jiwa. Ini rumah kita. Istana kita, dan honai kita sesuai visi dan misi Pemerintah Kota Jayapura, yaitu bersatu, mandiri, modern, dan berbasis kearifan lokal,” katar Tomi Mano.

Benhur Tomi Mano menilai penting untuk menjaga keamanan ini. Terlebih untuk membantu Pemerintah untuk membangun Papua dan mensejahterakan warga Papua.

Hal itu pun didukung oleh Kapolda Papua, Irjen Pol. Paulus Waterpauw. Dirinya meminta kepada para pemuda dan mahasiswa di Papua membantu aparat keamanan untuk menjaga kedamaian guna melindungi keutuhan NKRI.

“Jadi, saya meminta kepada ade-ade mahasiswa untuk membantu kita aparat keamanan untuk menjaga dan melindungi keutuhan NKRI,” kata Paulus Waterpauw.

Kapolda Papua ini juga mengingatkan kepada mahasiswa untuk mengikuti perkembangan dan situasi terkini, agar jangan terpengaruh dengan berita-berita hoax yang berkembang.

“Saya sampaikan bahwa pendidikan itu suatu hal yang sangat besar. Kalian kemarin ada yang mengikuti teman-teman exodus, terjebak dalam politik praktis karena mereka adalah penyakit yang akan mempengaruhi kalian nanti, sampai mereka pulang ke Papua dan tidak mau kembali ke studi mereka lagi,” tegasnya.

Oleh : Moses Gobai )*

Kedaulatan NKRI di Papua tidak perlu diperdebatkan lagi mengingat wilayah tersebut sejak dahulu merupakan bagian dari Indonesia. Masyarakat pun mendukung upaya Pemerintah dalam menjaga keutuhan NKRI di wilayah tersebut, utamanya dalam memberantas kelompok separatis yang selalu merongrong kewibawaan negara.

Dalam kesempatan dialog, Rumah Nusantara kembali mengangkat tema Gerakan Separatis Papua Merdeka, yang tengah mengancam kedaulatan NKRI. Gerakan separatis yang menjadi musuh bersama bangsa Indonesia tersebut dibahas di Best Western The Lagoon Hoten Manado.

Diskusi ini menghadirkan empat pembicara yakni Kepala Badan Kesbang Pol Sulut Evans Steven Liow, Guru Besar Ilmu Politik di Sulawesi Utara Prof Ishak Pulukadang, Akademisi Unsrat Jhony Peter Lengkong, dan Wakil Koordinator Rumah Nusantara Arcelinocent Emile Pengemanan.

            Dialog ini bertujuan untuk menjamin wilayah Sulut agar menjadi tempat yang aman, damai serta terbuka bagi semua pihak. Kebebasan menyampaikan pendapat tetap dilindungi undang-undang, tetapi tidak ada ruang untuk hal-hal yang dapat mengancam disintegrasi bangsa. Hal ini ditegaskan karena ada kecenderungan dimanfaatkannya ratusan Mahasiswa Papua yang menuntut ilmu di Sulut untuk mengangkat ide yang dapat mengancam disintegrasi bangsa Indonesia. Pada 1 Desember sering dimanfaatkan untuk menggelar aksi-aksi yang mengarah ke disintegrasi bangsa Indonesia.

            Kegiatan yang mengangkat studi kasus teror KKB/KKSB terhadap sesama bangsa menghasilkan kesepakatan bahwa di Sulut memang tak ada gerakan separatis tetapi landasan yang dilakukan oknum-oknum mahasiswa berlandaskan polarisasi gerakan separatis. Pernyataan tersebut sebagaimana ditegaskan oleh Risat Sanger selaku Koordinator Rumah Nusantara.

            Dalam keterangan pers-nya, Risat mengatakan bahwa negara tengah mengungkap fakta sejujurnya tentang penembakan terhadap salah satu tokoh agama. Tetapi masih ada dua kemungkinan, yakni diduga keterlibatan aparat dan diduga ada keterlibatan KKB/KKSB.

            Risat menyampaikan apabila ada keterlibatan KKB/KKSB sebaiknya jangan dilindungi. Sebaiknya perlu melindungi mahasiswa Papua yang diduga diancam oleh oknum gerakan separatis untuk mengikuti unjuk rasa yang mengarah  kepada disintegrasi bangsa Indonesia. Salah satu contohnya adalah harus bergerak cepat dalam merespon apa yang menjadi kebutuhan Mahasiswa Papua.

            Pada kesempatan yang sama Wakil Koordinator Rumah Nusantara Arcelinocent Emile Pangemanan memaparkan banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa resolusi PBB menyatakan bahwa Indonesia sudah melakukan langkah strategi pembangunan nasional. Ini sama saja dengan pemerintah Indonesia dianggap mampu membangun wilayah Papua.

            Kini, dengan munculnya ancaman kejahatan transnasional rupanya telah dimanfaatkan oleh kelompok separatis seperti OPM untuk menyelundupkan senjata bagi mereka.

            Menyikapi hal tersebut pemerintah tidak tinggal diam, namun menjalin kerjasama dengan sejumlah negara tetangga seperti yang ada di Asia Tenggara agar membatasi pergerakan separatis.

            Ia juga menyampaikan bahwa, untuk mencapai Indonesia emas pada tahun 2045 mendatang, maka diperlukanlah peningkatan mutu pendidikan dan kesejahteraan masyarakat agar bisa menumpas habis radikalisme. Hal ini ditujukan supaya paham tersebut tidak memiliki ruang di Indonesia.

            Pada kesempatan berbeda, Kapolda Papua, Irjen Pol. Paulus Waterpauw telah meminta kepada Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Cenderawasih Jayapura untuk dapat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

            Paulus mengingatkan kepada seluruh Mahasiswa untuk dapat mengikuti perkembangan dan situasi yang ada karena konflik Negara – Negara besar untuk saling membantai dan jangan terpengaruh dengan berita-berita hoax yang berkembang.

            Ia menyampaikan kepada para Mahasiswa, bahwa pendidikan adalah sesuatu yang sangat besar. Tuntutlah ilmu setinggi-tingginya sampai ke Negeri China.

            Paulus mengaku bahwa dirinya juga ingin menambah ilmu dalam proses belar supaya dapat mengelola materi yang strategis.

            Dirinya juga mengajak kepada para mahasiswa untuk tetap bersyukur karena masih memiliki orang tua dan harus bangga karena masih bisa menempuh perkuliahan sampai mencapai semester yang tinggi.

            Dirinya mengatakan bahwa pihaknya sangat setuju agar acara perkumpulan untuk bertukar informasi digalakkan agar terwujud kemajuan anak-anak Papua.

            Apalagi dengan adanya pertukaran informasi tentu saja diharapkan akan muncul diskusi yang sehat dengan harapan muncul pula ide-ide brilian yang bisa diterapkan demi kemajuan Papua.

            Persatuan yang terjaga tentu akan menumbuhkan kerukunan dalam kehidupan dan kedamaian dalam bermasyarakat, apabila persatuan bisa terawat dengan baik, maka bukan tidak mungkin akselerasi pembangunan diwujudkan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

            Dalam membangun Papua tentu diperlukan rasa persatuan dan kesatuan, bukan lantas ingin memisahkan diri hanya karena hasutan dari kelompok separatis.  )* Penulis adalah Mahasiswa Papua tinggal di Manado

Aksi Kelompok Kriminal Separatisme Bersenjata (KKSB) terus membuat masyarakat Papua resah. Bukan hanya menciptakan gangguan keamanan saja, bahkan kelompok separatis itu juga mengambil hak masyarakat Papua. Terakhir, mereka berani mengambil dana desa yang diberikan Pemerintah Pusat untuk pengembangan desa.

Bupati Intan Jaya, Natalis Tabuni membeberkan bahwa Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) seringkali mengancam kepala dan sekretaris desa saat mengetahui dana desa sudah cair. Menurut Natalis Tabuni, KKB kemudian meminta dana desa, lalu dana APBN Republik Indonesia itu digunakan untuk membeli senjata dan amunisi.

“KKB ini biasanya setelah mengetahui pencairan dana desa, akan menunggu di perkampungan. Ketika bertemu aparat desa, mereka akan meminta sebagian dana tersebut. KKB ini mengancam dengan senjata kalau tidak diberikan sebagian dana tersebut,” kata Natalis Tabuni.

Situasi ini turut menjadi perhatian para anak muda Papua. Koordinator Solidaritas Papua NKRI, Robert Rolan Ricard, yang berdomisili di Jakarta pun turut memberikan komentar. Ia menyebut kehadiran KKSB di Papua malah akan membuat warga menjadi ketakutan.

“Tanpa banyak disadari oleh masyarakat Papua bahwa Kelompok Kriminal Separatisme Bersenjata (KKSB) merupakan kelompok teroris berdarah dingin. Mereka terus berupaya mencari dukungan yang berkedok perjuangan rakyat. Jangan sampai masyarakat Papua mendukung aksi separatisme di wilayah Papua,” ujar Robert Rolan Richard.

Kepada seluruh masyarakat Papua, Robert mengingatkan agar jangan terpancing dan tetap beraktivitas seperti biasa. “Bagi saudara di Papua lainnya tetap aktivitas seperti biasa, termasuk studi untuk membangun Papua untuk lebih baik,” kata Robert seraya menegaskan Papua sangat setia dengan NKRI.

Oleh : Charles Degei )*

Papua kini menjadi daerah yag maju sejak Presiden Jokowi memimpin Indonesia. Ada berbagai infrastruktur di Bumi Cendrawasih seperti Jalur Trans Papua dan Jembatan Hamadi-Holtekam. Infrastruktur tersebut bukan hanya pajangan, namun benar-benar dibuat untuk kesejahteraan rakyat Papua.

Papua dan Papua Barat dulu identik dengan provinsi yang memiliki banyak hutan perawan dan transportasinya agak sulit, karena faktor alam, sehingga harus menggunakan pesawat terbang. Kondisi ini membuat harga barang di sana jauh lebih mahal daripada di Jawa. Bahkan harga 1 sak semen bisa mencapai 1 juta rupiah, karena biaya angkutnya yang sangat mahal.

Namun saat ini harga semen sudah bisa ditekan jadi setengahnya. Semua ini karena jalanan di Papua sudah dibangun sehingga memudahkan pengangkutan bahan baku. Salah satu jalur utama yang bisa mempercepat jalannya truk yang memuat bahan bangunan dan mempermurah biaya transportasi adalah Jalan Trans Papua.

Jalan Trans Papua dibangun sepanjang 4330 KM, dari Sorong ke Merauke. Pembangunan jalan ini bukan untuk gaya-gayaan, namun pemerintah membuatnya demi kesejahteraan rakyat di Bumi Cendrawasih. Selain untuk menekan biaya pengangkutan dan akhirnya harga barang jadi murah, jalan ini juga mempercepat waktu saat warga sipil Papua akan bepergian.

Warga di Bumi Cendrawasih sangat merasa terbantu setelah jalan Trans Papua diresmikan. Penduduk di Kampung Walarek saat ini hanya butuh waktu sehari semalam (dengan jalan kaki) saat akan menuju ke Elelim, ibukota Kabupaten Yalimo. Dulu sebelum ada jalan ini, mereka butuh waktu hingga sebulan untuk ke sana, karena harus berjalan menerobos hutan lebat.

Dengan adanya waktu tempuh yang singkat antar daerah, maka selain menurunkan harga barang, juga memakmurkan penduduk. Karena mereka tak lagi kesulitan saat akan berangkat berjualan ke kota. Mereka bisa naik mobil bak sambil membawa dagangannya tanpa takut khawatir melewati jalur yang panjang, berkat adanya Jalan Trans Papua.

Begitu juga dengan jembatan Hamadi-Holtekam. Jembatan sepanjang 1328 meter menghubungkan antara Jayapura dengan Skouw. Warna merah pada jembatan ini mempercantik tampilannya dan menjadi obek wisata yang diminati banyak turis, baik lokal maupun asing.

Dari Jayapura, para wisatawan juga bisa menuju perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini dan melihat taman yang sangat cantik. Dengan paduan alam Bumi Cendrawasih yang memukau, mereka terpesona dengan keindahan tanaman di sana. Karena wisata di perbatasan 2 negara amat unik dan lain dari yang lain.

Adanya jembatan cantik Hamadi-Holtekam dan kemudahan akses menuju perbatasan akan menguntungkan masyarakat Papua. Mereka yang bergerak di bidang hospitality akan menangguk uang yang lebih banyak, karena hotel dan motel dipenuhi oleh turis asing. Penjual makanan dan suvenir juga kecipratan rezeki karena selalu diserbu oleh wisatawan.

Selain jembatan dan jalan Trans Papua, infrastruktur lain yang dibangun pemerintah adalah Bandara internasional Sentani. Jika bandara tersebut sudah bertaraf internasional, maka wisatawan asing akan mempercayainya, dan langsung menuju ke sana tanpa transit. Jumlah turis akan meningkat dan bisa menaikkan jumlah devisa bagi pemerintah daerah Papua dan Papua Barat.

Kemampuan finansial masyarakat Papua akan naik karena diuntungkan oleh berbagai infrastruktur yang dibangun oleh pemerintah. Mereka jadi merintis bisnis penginapan, kuliner, oleh-oleh, atau yang lain, dan yakin akan menunjukkan hasil yang baik. Karena sudah ada pangsa pasarnya, yakni wisatawan lokal dan asing.

Infrastruktur yang dibangun di Bumi Cendrawasih seperti Jalan trans Papua, bandara internasional Sentani, dan Jembatan Hamadi-Holketam mampu membuat masyarakat Papua jadi makmur. Karena mereka punya akses jalan yang bagus dan mempersingkat waktu tempuh. Harga barang jadi turun karena bisa diangkut lewat darat, bukan udara seperti dulu.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali

Berbagai upaya aktivis kemerdekaan West Papua seperti United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) yang dipimpin Benny Wenda maupun Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang dipimpin Agus Kossay yang terus mempergunakan isu kolonialisme di tanah Papua nampaknya tidak akan berpengaruh signifikan. Dunia internasional jelas mengakui bahwa Papua merupakan bagian dari kedaulatan Indonesia.

Hal itu ditegaskan oleh Direktur Eropa I Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Ida Bagus Made Bimantara. Ia mengungkapkan bahwa hampir seluruh negara di dunia mengakui bahwa Papua bagian integral dari Indonesia. “Hampir 99,5 pemerintah di dunia mengakui dan menghormati keutuhan Indonesia, menegaskan bahwa Papua bagian Indonesia. Hanya satu negara masih mempertanyakan yaitu Vanuatu,” ujar Ida Bagus Made Bimantara.

Sade, sapaan akrab Ida Bagus Made Bimantara, mengatakan bahwa pemerintah bekerja keras menyelesaikan persoalan yang masih ada. Bahkan bertindak tegas kepada tersangka ujaran kebencian terhadap Papua. Bahwa masih ada kendala, tidak bisa dipungkiri. Namun, saat ini kondisi Papua terus semakin baik.

Ketegasan pemerintah Indonesia ini juga disampaikan di Sidang PBB. Diplomat Muda Indonesia, Silvany Austin Pasaribu, mengatakan bahwa rovinsi Papua dan Papua Barat merupakan bagian dari kedaulatan Indonesia yang tidak dapat diganggu gugat sejak 1945 dan secara resmi didukung oleh PBB serta komunitas internasional. Jadi sudah semestinya tidak ada lagi kelompok-kelompok yang berusaha memprovokasi kemerdekaan semu kepada warga Papua.

“Provinsi Papua dan Papua Barat adalah bagian dari Indonesia yang tidak dapat diganggugugat sejak 1945 dan secara resmi didukung oleh PBB dan komunitas internasional sejak beberapa dekade. “(Status) ini adalah final, tidak dapat diubah dan permanen,” kata Silvany.

Pernyataan Silvany ini ditunjukkan kepada negara Vanuatu yang terus berupaya menciptakan kegaduhan di hadapan dunia, perihal kemerdekaan Papua. Ia pun menegaskan bahwa Vanuatu tidak memiliki hak apa pun untuk berbicara atas nama rakyat Papua.

“Anda (Vanuatu) bukan perwakilan dari rakyat Papua dan berhenti mengkhayal menjadi perwakilan mereka,” ucapnya.

Oleh : Moses Kombo )*

Papua sejak dahulu merupakan anak kandung dari Indonesia. Selain ddikuatkan oleh hasil jajak pendapat Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera), pengakuan dari negara lain juga ikut menunjukkan bahwa Papua selamanya bagian tidak terpisahkan dari Indonesia.

Menurut Direktur Eksekutif Wahid Institute Yenny Wahid, ketegangan yang terjadi di Provinsi paling timur Indonesisa tersebut terjadi karena adanya masalah pelanggaran hak asasi manusia. Permasalahan tersebut rupanya memicu kekecewaan orang Papua hingga menggelar aksi turun ke jalan.

Meski demikian, Papua bukanlah anak tiri, melainkan anak kandung dari NKRI sampai kapanpun. Hal ini terbukti dengan banyaknya kebijakan yang bertujuan untuk percepatan pembangunan baik fisik maupun kesejahteraan di tanah Papua.

Ketika mulai menjabat pada bulan Oktober Tahun 2014, Presiden RI Joko Wdodo telah menegaskan bahwa salah satu kebijakan dalam negeri adalah untuk mengembangkan dan membangun infrastruktur di seluruh Indonesia.

Hal ini tentu telah menjadi komitmen yang mendalam bahwa kita tidak akan meninggalkan siapapun, dan perlu merangkul orang-orang yang selama ini merasa telah ditinggalkan dan tidak mendapat perharitan.

Hasil dari pembangunan ini dapat terlihat dari meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dimana pada tahun 2014 skor IPM Papua berada di angka 57 dan meningkat ke angka 60 pada tahun 2018, sedangkan di Papua Barat skor IPM pada tahun 2014 berada di angka 61 lalu meningkat menjadi 64 pada tahun 2018.

Selain itu perhatian khusus pada kualitas kesehatan di Tanah Papua telah terbukti dengan turunnya angka stunting dan naiknya angka harapan hidup penduduk Provinsi Papua dan Papua Barat.

Penurunan angka stunting di Papua yang semula pada angka 40,1% pada tahun 2013 menurun menjadi 32,9% di tahun 2018. Sedangkan di Papua Barat yang semula berada di angka 44,6% di tahun 2013 menuruns menjadi 27,8% pada tahun 2018.

Sementara itu angka harapan hidup di Papua pada tahun 2013 berada di angka 64,74 meningkat menjadi 65,36 pada tahun 2018. Dan di Papua Barat dari 65,14 pada tahun 2013 menjadi 65,15 pada tahun 2018.

Terkait dengan kebijakan Energi, Pemerintah juga menetapkan harga BBM dari Sabang – Merauke berada pada satu angka yang sama.

Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo telah berkomitmen dalam menciptakan perdamaian dan pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat.

Presiden Jokowi juga sempat meminta kebijakan terkait otonomi khusus (otsus) Papua dan Papua Barat agar dikonsultasikan terlebih dahulu dengan seluruh komponen masyarakat setempat.

Hal ini diperlukan guna menemukan rumusan sebuah kebijakan yang terbaik, yang nantinya akan membuat provinsi Papua dan Papua Barat menjadi Provinsi yang semakin maju dan sejahtera.

Salah satu bukti bahwa Papua adalah anak kandung dari NKRI adalah kalimat pembuka bung Karno dimana hampir di setiap Pidato Ir Soekarno yang disiarkan melalui RRI, kalimat dari Sabang sampai Merauke amat kerap dikumandangkan sebagai bukti kedaulatan NKRI.

Asvi Warman Adam selaku sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), dengan atau tanpa daya pikat kekayaan alamnya, Soekarno tetap akan memperjuangkan Papua. Pasalnya, wilayah tersebut berada dalam lingkup kedaulatan nasional.

Terdapat beragam budaya yang tersimpan di Bumi Cenderawasih mulai dari tarian, makanan hingga bahasa. Artinya Papua sangatlah kaya akan warisan nenek moyang.

Beragam budaya yang ada di Papua seperti pesta Bakar Batu, tradisi potong jari, pengantaran mas kawin, tradisi injak piring (Mansorandak), sampai pada alat musik tradisional. Tentu menjadi alasan bagi pemerintah serta masyarakat untuk menjaga Papua sebagai bagian dari NKRI.

Tentu menjadi hal yang penting agar generasi muda Papua dapat mempelajari sejarah integrasi Papua ke dalam NKRI dengan baik dari sumber bacaan yang otentik, bukan dari sumber yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan faktual.

Hal ini tentu menjadi sebuah lompatan besar dan menjadi bukti bahwa pemerintah pusat masih tetap peduli dan memberikan upaya terbaiknya untuk Papua, mulai dari revisi otsus, pembangunan infrastruktur serta pembangunan SDM. Hal ini tentu saja menjadi bukti bahwa Papua merupakan anak kandung dari NKRI.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Bali