Oleh : Namira Rizkiana )*

Program vaksinasi nasional amat penting karena jadi salah satu usaha untuk mempercepat berakhirnya pandemi. Percepatan program ini dilakukan sesuai dengan instruksi Presiden Jokowi, agar bisa selesai dalam 12 bulan. Masyarakat juga mendukungnya karena mereka ingin bebas corona.

Naiknya jumlah pasien corona membuat miris karena RS nyaris full. Sehingga dikhawatirkan akan terjadi penularan lagi, pada OTG di luar sana. Untuk mengatasi hal ini dibutuhkan 2 hal yakni disiplin dalam menaati protokol kesehatan 5M dan vaksinasi. Sehingga program vaksinasi nasional harus sukses 100%, agar kita semua tak lagi dihantui oleh virus covid-19.

Pada awalnya, para dokter memperkirakan bahwa program vaksinasi nasional selesai dalam 18 bulan. Namun Presiden Jokowi merasa bahwa durasinya terlalu lama, sehingga targetnya selesai dalam 12 bulan saja. Percepatan dibutuhkan agar pemulihan dampak corona (terutama di bidang ekonomi) berlangsung dengan lebih lancar dan cepat selesai.

Untuk mempercepat program vaksinasi nasional, maka pemerintah mencanangkan program vaksinasi mandiri. Jadi, para pekerja bisa mendapatkan suntikan vaksin dengan dikoordinir dari kantor, tentu di bawah kendali Kementrian Kesehatan. Sehingga mereka bisa divaksin lebih cepat dan memperpendek antrian vaksin di Puskesmas pada program vaksinasi nasional.

Selain itu, didirikan sentra vaksinasi covid-19 pada bulan maret 2021 di Istora Senayan Jakarta. Sentra ini memberi daya dukung demi lancarnya proses vaksinasi. Sentra ini merupakan kolaborasi Kementrian Kesehatan, Kementrian BUMN, Indonesia Healthcare Corporation, dan Pemerintah Provinsi Jakarta.

Menteri BUMN Erick Thohir menyatakan bahwa percepatan vaksinasi nasional harus dilakukan demi mewujudkan Indonesia sehat sesegera mungkin. Dalam hal ini, kolaborasi dan sinergi antara lembaga pemerintah dan daerah harus berjalan dengan cepat dan strategis. Ini momen krusial agar kita semua bisa mempercepat program Indonesia sehat.

Erick menambahkan, sentra vaksinasi covid-19 akan mempermudah akses publik serta mempercepat dan memperluas cakupan vaksinasi program pemerintah. Ke depannya, sentra vaksinasi bersama covid-19 akan hadir di kota-kota lain yang butuh percepatan. Data peserta akan diperoleh berdasarkan pendaftaran dan pendataan berbasis teknologi dari Kementrian BUMN, Kementrian Kesehatan, dan peserta umum yang berbasis komunitas.

Dalam artian, di daerah rawan seperti Kudus, Madura, dan kota/kabupaten lain yang berstatus zona merah, bahkan hitam, akan memiliki sentra vaksinasi dengan standar dan fasilitas yang sama. Sehingga mereka yang merupakan warga sipil yang tidak mendapatkan vaksinasi mandiri, bisa mendapatkan vaksin di sentra itu tanpa harus bingung mendaftar ke mana.

Selama ini warga sipil masih menunggu giliran vaksin dan biasanya baru berangkat ke Puskesmas terdekat, ketika ada undangan dari RT. Namun ketika belum ada undangan, mereka harus menunggu dan ketika proses, agak mengkhawatirkan. Karena siapa tahu berkontak dengan OTG dan akhirnya positif corona.

Namun ketika sudah ada sentra vaksinasi seperti di Jakarta, mereka bisa mendaftar dan datanya tercatat di digital saver, sehingga akan lebih mudah untuk mendapatkan vaksin. Selain itu, pendataan digital juga memudahkan pencatatan, agar tidak ada warga yang mendapatkan vaksin lebih dari 2 kali atau bahkan belum disuntik sama sekali.

Segala upaya mulai dari mendirikan sentra vaksinasi sampai program vaksinasi mandiri dijalankan oleh pemerintah, agar memperkecil jumlah pasien corona. Sehingga kita semua bebas dari kungkungan virus covid-19 dan masa pandemi dinyatakan berakhir. Pemercepatan program vaksinasi nasional wajib didukung oleh rakyat dan jangan sampai ada yang menolak divaksin.

Vaksin corona sangat aman dan halal, oleh karena itu kita semua wajib divaksin, agar mempercepat program vaksinasi nasional. Ketika semua sudah divaksin maka akan terbentuk kekebalan kelompok yang bisa mengakhiri masa pandemi. Kita bisa beraktivitas seperti biasa, tanpa takut akan corona.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Kebijakan pemerintah untuk bisa mengatasi masalah pandemi Covid-19 memang terus diusahakan. Salah satunya dengan program vaksinasi Covid-19 yang kini tengah masuk dalam tahap pertama yang pemberian vaksinnya bagi para tenaga kesehatan.

Dengan vaksinasi ini diharapkan akan bisa membawa bangsa Indonesia keluar dari krisis yang dampak multidimensi-nya kini dirasakan masyarakat luas terutama di bidang kesehatan secara umum dan di bidang perekonomian dan sosial. Hal itu terungkap saat digelar diskusi melalui Webinar Sesion ICF – Geliat Politik bertajuk “Dukung Vaksinasi Covid-19, Jangan Kendor Protokol Kesehatan”.

Dalam diskusi tersebut sejumlah narasumber seperti Saiful SH selaku pengamat kebijakan publik dan Jubir Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tirmidzi meminta masyarakat untuk mendukung kebijakan vaksinasi Covid-19 yang kini dijalankan pemerintah sebagai upaya keluar dari krisis akibat pandemi Covid-19.

“Pastinya pemerintah berupaya membebaskan masyarakat dari masalah pandemi ini. Salah satunya dengan program imunisasi atau vaksinasi Covid-19 sebagai upaya untuk menanggulangi krisis kesehatan akibat Covid-19 sehingga dapat juga diartikan sebagai upaya menanggulangi krisis ekonomi akibat Covid-19 dan seyogianya apa yang di usahakan pemerintah ini didukung oleh semua lapisan masyarakat demi kebaikan bersama,” tutur Saiful.

Ditambahkannya, usaha pemerintah dengan mendatangkan beragam vaksin Covid-19 dari mulai produksi Sinovac, Novavac, Covax/Gavi, Astrazeneca, dan Pfizer sebanyak 181 juta dosis pastinya telah dipertimbangkan pemerintah demi kebaikan masyarakatnya.

“Oleh sebab itu, yang bisa dilakukan masyarakat adalah dengan mendukung program tersebut dan melakukan peningkatan pengawasan pendistribusian untuk mencegah terjadinya tindakan koruptif yang memanfaatkan kebijakan ekonomi pada saat krisis akibat Covid-19,” lanjutnya.

Siti Nadia Tirmidzi juga menilai pemerintah pasti akan memberikan edukasi dan penyuluhan terkait masalah vaksin ini sehingga masyarakat luas bisa menerima program yang dijalankan pemerintah itu.

“Namun begitu, kita juga terus mengimbau masyarakat untuk tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan sebelum dan sesudah vaksinasi ini. Karena disiplin dalam penerapan protokoler kesehatan oleh masyarakat dengan program 3 M dan 3 T itu penting untuk bisa kembali memulihkan kondisi kesehatan dan perekonomian di masyarakat,” tandas Siti. (*)

Oleh : Dodik Prasetyo )*

Vakinasi nasional menjadi fokus pemerintah pada tahun 2021. Program ini harus berhasil 100% agar segera terbentuk kekebalan kelompok, sehingga makin banyak yang bebas corona dan kita bebas dari fase pandemi. Vaksinasi harus dilaksanakan dengan optimal dan secepat mungkin, agar semua rakyat Indonesia sehat.

Vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin ke dalam tubuh manusia agar ia kebal terhadap penyakit tertentu. Program vaksinasi nasional dilaksanakan di Indonesia sejak awal tahun 2021, dan orang yang pertama kali mendapatkannya adalah Presiden Jokowi.
Jadi semua kalangan masyarakat bisa menontonnya dan melihat bahwa tidak ada efek negatif dari vaksinasi, sehingga meningkatkan kepercayaan terhadapnya.
Pemerintah berusaha optimal dalam melaksanakan program vaksinasi. Salah satu caranya adalah memperpendek antrean, karena permasalahan di Indonesia bukanlah kekurangan stok vaksin. Melainkan jumlah penduduk yang banyak (lebih dari 220 juta orang). Jika dikalkulasikan, maka vaksinasi nasional baru selesai 18 bulan setelah januari 2021.

Akan tetapi, Presiden Jokowi tidak mau menunggu selama itu, karena ingin pandemi segera berakhir dan kita bisa menggenjot perekonomian lagi. Akhirnya untuk mengatasi hal itu, dibuatlah jalur vaksinasi mandiri. Para pegawai bisa mendapatkan vaksin dan dikoordinir oleh kantor, jadi antrian makin pendek. Karena mereka tak usah menunggu undangan vaksinasi di Puskesmas.

Walau dikoordinir kantor, tetapi masih dalam pengawasan Kementerian Kesehatan. Jadi dipastikan tidak ada kesalahan saat vaksinasi mandiri. Semua prosedur mulai dari lokasi sampai tenaga kesehatan yang menyuntikkan, sudah diatur oleh Kemenkes. Vaksin didapatkan dari distributor Bio Farma dan pegawai tinggal menunggu giliran disuntik (biasanya di RS Swasta).

Bagi vaksinator alias tenaga medis yang menyuntikkan vaksin, wakil Menteri kesehatan Dokter Harbuwono menyatakan bahwa sudah ada 31.000 nakes yang disiapkan untuk program vaksinasi nasional di seluruh Indonesia. Persiapan vaksinator sangat penting, karena tugas mereka maha penting, untuk menginjeksi vaksin dengan cepat dan aman. Sehingga dibutuhkan nakes yang profesional dalam bekerja.

Untuk vaksinasi nasional, pemerintah sudah menyiapkan beberapa jenis vaksin. Yang pertama kali didatangkan adalah vaksin Sinovac dari RRC. Vaksin ini sudah mendapatkan izin dari BPOM dan berstatus halal MUI, karena terbuat dari virus yang dilemahkan. Sehingga masyarakat terutama yang muslim tidak usah takut akan kehalalannya, walau ia berasal dari RRC.

Sementara vaksin lain yang juga datang stoknya adalah AstraZeneca. Vaksin ini berasal dari Inggris dan efikasinya malah lebih tinggi dari Sinovac, yakni lebih dari 70%. Vaksin AstraZeneca juga sudah berstatus halal, dan masyarakat diharap tidak usah takut saat divaksin. Juga tidak mempertanyakan apakah yang diinjeksi vaksin Sinovac atau AstraZeneca, karena sudah dijamin MUI.

Kehalalan vaksin memang jadi pertanyaan sebagian masyarakat. Namun jika sudah halal MUI, tentu tak usah diragukan. Karena sekarang adalah masa pandemi yang genting, sehingga vaksinasi adalah kewajiban. Jangan hiraukan ocehan kaum anti vaksin yang ngotot bahwa vaksin itu bahaya atau haram, karena buktinya umat yang mau beribadah ke Mekkah disyaratkan oleh pemerintah Saudi, harus divaksin corona.

Setelah vaksinasi, maka masyarakat diharap jangan lalai. Tetaplah menjaga protokol kesehatan dan meningkatkan imunitas dengan makan 4 sehat 5 sempurna. Juga menjaga higienitas lingkungan dan tubuh. Vaksinasi memang meningkatkan kekebalan, tetapi kita tidak boleh mengabaikan protokol, agar tetap sehat.

Program vaksinasi nasional digarap dengan serius oleh pemerintah Indonesia. Sehingga semua WNI mendapatkan haknya untuk disuntik dan bisa bebas corona. Ketika semua orang sudah divaksin, maka herd immunity akan terbentuk dan kita bisa mengakhiri masa pandemi secepatnya.

)* Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI)

Oleh : Alfisyah Dianasari )*

Program vaksinasi nasional di Indonesia dipuji oleh organisasi kesehatan internasional WHO. Pujian ini patut diapresiasi, karena membuktikan bahwa program ini berhasil dilakukan di seluruh wilayah NKRI. Vaksinasi sudah tersebar sampai ke Indonesia timur seperti Papua dan injeksinya dilakukan oleh tenaga medis profesional.

Saat vaksin corona sudah ditemukan, lalu mendarat di Indonesia, maka pemerintah merancang vaksinasi nasional dengan sangat cermat, agar program ini berhasil 100%. Selain digratiskan, vaksinasi dijamin aman dan tidak menimbulkan efek samping apapun. Vaksin juga sudah mendapat sertifikat halal MUI, sehingga masyarakat akan tenang saat mendapatkan suntikannya.

Program vaksinasi nasional di Indonesia dipuji oleh World Health Organization (WHO). N Paranietharan, perwakilan WHO untuk Indonesia, menyatakan bahwa Indonesia berhasil menunjukkan langkah tegasnya untuk mempercepat dan memaksimalkan program vaksinasi nasional. Indonesia lebih maju daripada negara berkembang lain dalam hal vaksinasi.

Untuk masalah vaksinasi, Indonesia memang lebih bergerak cepat daripada negara tetangga, seperti Malaysia. Jika di negeri kita vaksinasi nasional dimulai di pertengahan januari, maka di negeri jiran baru dilakukan di akhir februari 2021. Apalagi vaksin digrtiskan 100%, sehingga mat memudahkan WNI yang banyak terkena dampak pandemi dan keadaan finansialnya bermasalah.

Paranietharan melanjutkan, vaksin dari COVAX semoga bisa membantu suksesnya vaksinasi nasional. Memang Indonesia mendapatkan vaksin AstraZeneca dari COVAX sebagai lembaga aliansi global pengadan vaksin. Sehingga vaksin AstraZeneca hadir mendampingi vaksin sinovac yang lebih dulu datang di Indonesia dan akan menambah persediaan vaksin di negeri ini.

Program vaksinasi nasional memang menjadi fokus pemerintah pada tahun 2021. Pada awalnya, para ahli memperkirakan program ini akan berlangsung selama 18 bulan. Mengingat penduduk Indonesia yang lebih dari 220 juta orang, sehingga antriannya sangat panjang. Namun Presiden Jokowi menginstrusikan agar vaksinasi dipercepat menjadi 12 bulan, agar pandemi bisa lekas berakhir.

Akhirnya dikeluarkanlah izin untuk vaksinasi mandiri, di mana para karyawan bisa mendapatkan suntikan vaksin yang dikoordinir kantor dan di bawah kendali kementrian kesehatan. Sehingga mereka lebih cepat mendapatkan vaksin dan tidak usah mengantri untuk diinjeksi, seperti WNI lain. Jika ada 2 jalur vaksinasi, maka program ini diperkirakan lebih cepat selesai.

Mengapa progam vaksinasi nasional harus cepat selesai? Pertama, jika tidak segera dilakukan, akan berbahaya. Karena jumlah pasien corona akan makin meningkat dan jika tidak terselamatkan, akan mengurangi jumlah penduduk. Kedua, jika banyak yang sakit maka akan berakibat buruk pada tenaga kesehatan, karena energi mereka terkuras dan akhirnya beresiko untuk tertular corona.

Sedangkan yang ketiga, pandemi berkepanjangan akan berefek negatif bagi perekonomian Indonesia. Karena daya beli masyarakat menurun drastis selama pandemi. Sehingga pemercepatan vaksinasi nasional harus dilakukan secara cermat, dan penduduk yang tidak mau divaksin harus membayar denda 100 juta rupiah atau mendapat hukuman kurungan 1 tahun lamanya.

Sikap tegas pemerintah ini yang dipuji oleh WHO, karena berani mendatangkan vaksin Sinovac lebih cepat, dan efikasinya cukup tinggi. Bayangkan jika Presiden Jokowi tidak cepat-cepat mengambil vaksin ini, bisa-bisa akan kehabisan stok karena produksinya masih agak terbatas. Kecepatan keputusan dan kecermatan progam inilah yang membuat Indonesia menjadi percontohan bagi program vaksinasi negara lain.

Apresiasi WHO terhadap program vaksinasi nasional di Indonesia membuat nama negara kita terangkat di dunia internasional, karena terbukti sukses dalam melawan corona dan serius dalam menjalankan vaksinasi pada seluruh rakyatnya. Indonesia menjadi pioner dalam vaksinasi, jika dibandingkan dengan negara tetangga. Karena berani lebih cepat dalam membeli vaksin Sinovac dan merancang program vaksinasi nasional sebaik-baiknya.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Depok

Oleh : Raza Rahardian )*

Program vaksinasi corona nasional harus berhail 100%, jika kita ingin keluar dari fase pandemi. Oleh karena itu pemerintah meminta agar pers berperan dalam kampanye vaksinasi, karena media memiliki pengaruh yang besar kepada masyarakat. Selain itu, kaum milenial juga diharap ikut mendukung vaksinasi, agar program ini berhasil.

Ketika vaksin Sinovac sudah mendarat di Indonesia, maka masyarakat bersorak gembira, karena ada harapan baru untuk mengakhiri pandemi covid-19. Vaksinasi sudah dimulai sejak pertengahan januari, dan akan dilakukan secara bertahap. Rencananya program ini akan dilakukan selama setahun, karena jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 220 juta jiwa, sehingga harus mengantri giliran suntik.

Untuk mensukeskan vaksinasi corona nasional, maka pemerintah meminta para wartawan untuk ikut berperan serta. Karena mereka adalah ujung tombak penyebaran berita di masyarakat, sehingga wajib mendukung program ini. Berita yang disajikan harus selalu pro vaksinasi corona.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly menyatakan bahwa pers harus tetap mampu memainkan peran penting dan positif dalam menyampaikan informasi ke publik. Salah satunya terkait program vaksinasi covid-19. Ia juga memohon dukungan pers untuk menjelaskan ke masyarakat bagaimana pentingnya vaksin.

Persa sangat berperan penting dalam mensukseskan vaksinasi corona, karena masyarakat akan percaya keampuhan vaksin ketika membaca berita tentang keberhasilan program ini. Vaksin Sinovac terbukti efektif dalam menolak virus covid-19, dan sudah lolos uji BPOM. Serta mendapatkan sertifikat halal MUI. Jadi pers jangan malah memberitakan hal yang sebaliknya.

Kemudian, Yasonna juga meminta agar pers tidak ikut menyebarkan hoax tentang vaksin corona, karena akan menyesatkan masyarakat. Dalam artian, kekuatan media sangat dahsyat, sehingga jangan sampai salah tulis dan hanya menyalin berita palsu dari situs luar negeri. Saat media menulis tentang hoax, maka masyarakat akan takut divaksin.

Hal ini sangat mengerikan karena jika program vaksinasi corona gagal, tidak akan terbentuk herd immunity alias kekebalan kelompok. Padahal menurut dokter Wiku Adisasmito, juru bicara Tim Satgas Covid, kekebalan kelompok sangat penting agar kita semua bebas dari pandemi. Dalam artian, pers jangan asal menulis hoax hanya karena tergiur click bait.

Selain pers, kaum milenial juga mendukung vaksinasi corona. Karena selain wajib disuntik, mereka juga bisa berkampanye untuk mensukseskan program ini. Kaum milenial sangat kreatf dalam membuat campaign di media sosial dan hasilnya akan ada banyak orang yang mau divaksin. Karena mereka percaya akan efektivitas vaksin Sinovac.
Kaum milenial bisa berkampanye di media sosial seperti Twitter dan Instagram dan membuat konten positif mengenai vaksinasi corona nasional.
Konten bisa berupa poster, tweet dan ajakan untuk mau divaksin kepada netizen di seluruh Indonesia. Selain itu juga ada meme dan kreasi lain yang berisi ajakan untuk vaksinasi.
Ada pula twibbon alias pigura yang membingkai foto profil kaum milenial, yang tersedia di situs resminya. Kaum milenial ramai-ramai mengedit foto dengan twibbon berisi tulisan tentang ajakan untuk divaksin. Sehingga teman-teman FB-nya akan mau juga mensukseskan vaksinasi corona nasional.

Kaum milenial merasa bangga dan berani divaksin, karena ingin sehat dan bebas dari virus covid-19. Karena jika pandemi terus-terusan berjalan, akan sangat susah. Sekolah dan kuliah harus online dan minim interaksi secara langsung. Sehingga akan menurunkan kemampuan sosialisasi.

Pers dan kaum milenial sama-sama berperan penting dalam mensukseskan vaksinasi corona nasional. Mereka paham bahwa program ini sangat penting untuk mengeluarkan masyarakat Indonesia dari fase pandemi yang menyakitkan, karena ada herd immunity. Semoga vaksinasi ini 100% berhasil dan kita semua bebas corona.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Media

Oleh : Adiba Kinsasa )*

Sebentar lagi kita akan menjalani vaksinasi corona. Program yang berlaku nasional ini wajib dijalankan oleh seluruh WNI, termasuk para santri. Mereka rela divaksin karena yakin bahwa kandungannya aman dan halal. Para santri juga siap berkampanye demi mensukseskan vaksinasi nasional.

Vaksinasi corona gelombang 1 sudah dimulai sejak pertengahan januari 2021. Program ini wajib berjalan dengan lancar, agar semua orang sehat dan. Kita tentu ingin segera bebas dari kungkungan pandemi dan hidup dengan aman, tanpa takut terinfeksi virus covid-19. Sehingga jalan satu-satunya adalah dengan vaksinasi.

Namun sayang di media sosial dan grup WA beredar video hoax yang berisi adegan para santri yang pingsan, dan narasinya berisi berita bahwa mereka tepar pasca kena vaksin corona. Padahal setelah ditelusuri, video itu dibuat tahun 2018, dan santri itu hanya kelelahan setelah divaksin difteri.

Hoax ini sangat menyesatkan, seolah-olah vaksin itu berbahaya. Padahal para santri selama ini bersedia divaksin dan menunggu giliran dengan sabar. Lagipula, vaksin baru diberi tanggal 13 januari ke Presiden Jokowi, baru ke para tenaga medis, dan WNI lain. Sehingga mustahil jika ada video yang beredar, sebelum presiden divaksin.

Padahal seluruh santri se-Indonesia sudah siap untuk divaksin, karena mereka yakin akan kehalalannya. Status halal vaksin Sinovac juga sudah dikeluarkan oleh MUI, sehingga tidak bisa diganggu-gugat. Vaksin ini halal karena tidak mengandung gelatin babi atau zat lain yang haram. Sehingga MUI menjamin kehalalan dan keamanannya.

Vaksin bagi kalangan santri sangat penting karena mereka tinggal di pondok yang memiliki banyak sekali murid. Sehingga agak susah untuk melakukan physical distancing, walau semua wajib pakai masker. Dalam kondisi ini, maka vaksin diperlukan untuk mencegah penularan corona, karena siapa tahu ada OTG dalam lingkungan pondok.

Bayangkan jika tidak ada vaksin, maka virus covid-19 akan cepat sekali menular dalam 1 pondok. Memang bisa dilakukan penutupan dan penyemprotan disinfektan, namun para santri yang pulang kampung bisa saja jadi OTG, dan malah menularkan ke keluarganya di rumah. Maka rantai penularan corona akan semakin panjang.

Para santri rela divaksin karena sebagai bentuk ketaatan terhadap pemerintah, dan hal itu juga diajari oleh para kiai. Ketaatan ini memang diwajibkan karena dengan taat, akan tercipta keamanan, ketertiban, serta kemakmuran. Dengan taat vaksin, maka selain menuruti anjuran pemerintah, juga menyehatkan diri sendiri.

Santri yang divaksin akan kebal corona dan dia tidak bisa berstatus OTG, serta menularkan ke orang lain. Vaksinasi adalah cara untuk menyayangi nyawa sendiri dan orang lain, agar tidak ada lagi penularan corona. Para santri sudah teredukasi dengan baik dan tidak mudah terkena hoax tentang vaksin corona.

Mereka paham bahwa vaksinasi corona memiliki proses yang mirip dengan vaksinasi lainnya, misalnya hepatitis atau MMR. Prosesnya hanya disuntik lalu vaksin akan bekerja dalam tubuh, dan memperkuat imunitas. Dengan catatan, saat diinjeksi tubuh santri harus dalam keadaan sehat, dalam artian tidak demam, flu, batuk, serta tensi dan gula darahnya normal.

Santri dan segenap kiai juga mengkampanyekan keamanan dan kehalalan vaksin corona pada segenap masyarakat. Sehingga mereka makin percaya bahwa vaksin ini tidak akan membahayakan. Karena para santri yang saleh sudah tahu bahwa vaksin Sinovac halal MUI, dan masyarakat jadi percaya akan status halalnya.

Vaksinasi corona di kalangan pesantren didukung penuh, baik oleh para santri maupun kiai dan ustadz. Mereka paham bahwa vaksinasi adalah satu-satunya cara agar tidak ada penularan virus covid-19. Sehingga semua orang sehat, bebas corona, dan bisa mengakhiri masa pandemi sesegera mungkin.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Alfisyah Dianasari )*

Vaksinasi corona nasional adalah program yang sangat penting, karena akan ada penyuntikan ke lebih dari 200 juta orang WNI. Pemerntah mempersiapkan imunisasi ini dengan sebaik-baiknya. Tujuannya agar berhasil 100% dan pandemi akan segera berakhir, serta kita bisa beraktvitas secara normal.

Ketika vaksin Sinovac mendarat di Indonesia, masyarakat sudah heboh karena tidak sabar dengan imunisasi corona. Mereka makin bersorak ketika Presiden Jokowi menggratiskan imunisasi ini untuk seluruh WNI. Karena jika harus membayar, maka harganya berkisar 600.000 rupiah untuk 2 kali suntik, sementara masyarakat banyak yang kemampuan finansialnya menurun.

Namun untuk menunggu jadwal imunisasi masyarakat harus bersabar, karena prioritas pertama yang disuntik adalah para tenaga kesehatan. Penyebabnya karena mereka lebih beresiko untuk terpapar corona di Rumah Sakit. Selain itu, pemerintah masih menyiapkan program imunisasi untuk seluruh WNI, agar berjalan lancar.

Persiapan vaksinasi ini mencakup banyak hal. Juru bicara tim satgas penanganan covid-19 dokter Wiku Adisasmito menyatakan bahwa pemerintah sedang menyiapkan roadmap imunisasi corona, yang digarap oleh Kementrian Kesehatan dan kementrian lain yang tergabung dalam komite. Semoga roadmap cepat selesai agar imunisasi benar-benar siap.

Dokter Wiku melanjutkan, roadmap akan jadi peta konkrit dalam imunisasi corona nasional. Nantinya akan dilihat dari skala prioritas. Daerah yang berzona hitam dan merah diberi vaksinasi terlebih dahulu, karena jumlah pasien covidnya paling banyak. Sedangkan daerah dengan zona jingga, kuning, dan hijau akan menyusul.

Persiapan sebelum program imunisasi dimulai sangat penting. Karena sambil menunggu vaksin yang dipesan dari Pfizer dan perusahaan lain datang, rencana pemberian vaksinasi harus benar-benar matang. Penyebabnya karena, pertama jumlah penduduk Indonesia ada lebih dari 200 juta orang, jadi roadmap harus dibuat berdasarkan azas keadilan, agar semua WNI mendapatkan vaksin itu.

Kedua, pemberian vaksin tidak bisa disuntikkan begitu saja. Karena karakter tiap vaksin berbeda-beda. Untuk vaksin Sinovac bisa disimpan di suhu 3 hingga 8 derajat celcius, sehingga butuh pengadaan alat pendingin agar vaksin tidak mati dalam perjalanan. Ketersediaan pendingin di lokasi terpencil juga harus dipikirkan, dan juga pasokan listriknya.

Sedangkan untuk vaksin Pfizer, suhu yang dibutuhkan malah lebih dingin lagi. Ia harus disimpan dalam ruangan minus 70 derajat celsius atau setara suhu di kutub utara. Masalah pendingin ini yang agak membuat pusing, karena pengadaannya tentu butuh dana yang tak sedikit. Untung akhirnya pihak Pfizer bersedia meminjamkan alat pendingin vaksin kepada pemerintah.

Setelah masalah pendingin teratasi, maka yang perlu diperhatikan adalah jadwal imunisasi. Kementrian Kesehatan mengirimkan SMS ke masyarakat untuk pemberitahuan kapan harus disuntik vaksin corona. Mereka harus mau diimunisasi, agar tubuhnya kebal dari serangan virus covid-19.

Pengaturan tempat vaksinasi juga perlu dipikirkan, karena lokasinya harus luas agar masyarakat tetap bisa menjaga jarak minimal 1 meter. Mereka juga harus pakai masker dan jangan ada yang melepasnya saat mengobrol. Juga wajib mencuci tangan sebelum masuk ruangan.

Walau sudah divaksin, namun masyarakat tetap harus menjaga protokol kesehatan dan jangan merayakannya dengan melepas masker sembarangan. Penyebabnya karena bisa jadi mereka berstatus orang tanpa gejala sebelum disuntik vaksin corona. Kita masih harus menjaga diri dari kemungkinan terburuk dan jangan lalai sedikit pun.

Imunisasi corona nasional menjadi PR pemerintah tahun 2021, karena ada lebih dari 200 juta orang yang disuntik. Jumlah vaksin yang didatangkan terus bertambah, dan roadmap imunisasi segera dibuat oleh Kemenkes dan kementrian lain yang terkait. Semoga vaksinasi corona berjalan dengan lancar dan kita semua berhasil keluar dari pandemi.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Depok