Setiap individu di lingkungan masyarakat seyogyanya mematuhi prokes 5M dan mengikuti program vaksinasi nasional. Sebab dengan mematuhi dan disiplin protokol kesehatan sudah amat berarti di masa sekarang ini. Hal itu dapat dilakukan dengan menggunakan masker dobel, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, serta mengurangi mobilitas harus terus dilaksanakan.

Kemudian saling mengingatkan antar anggota masyarakat yang lengah menjalankan protokol kesehatan juga tak kalah penting. Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Johnny G Plate, dalam arahannya terkait penanganan pandemi covid-19.

Menyikapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Lentera Research Institute (LRI), DR. David Chaniago, mengatakan bahwa disiplin prokes dan vaksinasi covid-19 akan mempercepat kembalinya aktivitas normal masyarakat.

“Disiplin kebijakan Prokes 5M serta urgensi partisipasi aktif dalam program vaksinasi agar masyarakat dapat segera kembali beraktifitas secara normal”, ujar David Chaniago.

Lebih lanjut, dirinya mengatalan bahwa kebijakan publik seperti vaksinasi door to door, vaksinasi pelajar serta disiplin prokes 5M merupakan bagian dari strategi pemerintah pusat didalam menciptakan hert immunity.

Oleh : Diffa Ramadhany )*

Masyarakat diminta untuk tetap menjaga protokol kesehatan (prokes) serta gerakan 5M; memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan serta membatasi mobilisasi, meskipun sudah divaksin. Upaya tersebut merupakan kunci utama untuk mencegah penularan Covid-19.
Gerakan Prokes dan penerapan 5M merupakan kunci penting dalam mengendalikan penularan dan penyebaran virus SAR-Cov-2. Sementera vaksin yang diberikan tidak lantas memberikan kekebalan mutlak terhadap virus tersebut.

Amin Subandrio selaku Kepala LBM Eijkman menyebutkan, mutasi virus covid-19 seperti virus yang lainnya akan terus terjadi. Sehingga perlu keras untuk mencegah mutasi virus dengan memutus mata rantai replikasi atau penyebarannya.

Melalui protokol kesehatan 5M dan meminimalisasi pergerakan masyarakat hingga mendorong terciptanya herd immunity melalui vaksinasi menjadi kunci untuk mencegah mutasi virus corona.

Perihal antisipasi lonjakan Covid-19, sepertinya kita perlu belajar pada negara India Meledaknya kasus Covid-19 di India disinyalir karena masyarakat di sana semakin abai dalam menerapkan protokol kesehatan. Beberapa bulan terakhir terjadi pesta pernikahan besar-besaran di India. Banyak masyarakat tidak mengenakan masker ketika keluar dari rumah.

Selain itu, banyak pula masyarakat yang berkumpul untuk mengikuti kampanye politik tanpa menggunakan masker dan jaga jarak. Beberapa negara bagian India memang melakukan pemilihan umum daerah (pilkada) seperti di daerah Tamil Nadu.

Adapun, ritual keagamaan yang diikuti oleh banyak masyarakat India. Ritual tersebut adalah ritual menghapus dosa dengan mandi di sungai Gangga. Dalam ritual ini banyak masyarakat yang tidak menggunakan masker dan tidak menjaga jarak.

Akibat tsunami kasus Covid-19 tersebut, mayat-mayat bertumpuk di luar rumah sakit pemerintah India, Raipur. Ini disebabkan karena banyaknya pasien Corona yang tidak mampu bertahan dan akhirnya meninggal. Namun, karena jumlahnya yang terlalu banyak, tidak mungkin bisa dikremasi dengan cepat.

Parahnya, sejumlah rumah sakit di India mengalami kesulitan untuk mendapatkan pasokan oksigen hingga membuat banyak pasien Corona tak bisa terselamatkan. Menurut seorang politisi lokal di kotamadya Vasai Virar, Maharashtra, ia membuat permohonan publik untuk membantu mengatasi kekurangan oksigen tersebut.

Selain pasokan oksigen, jumlah bed di rumah sakit untuk menangani pasien Corona juga terbatas. Di New Delhi bahkan hanya memiliki bed atau tempat tidur kurang dari 100 di seluruh RS.Kondisi ini menyebabkan banyak warga India mengeluh soal kurangnya jumlah tempat tidur di RS, tabung oksigen, hingga obat-obatan.

Kekhawatiran yang lebih besar adalah bahwa dalam 24 jam terakhir, angka positivity rate meningkat menjadi sekitar 30 persen dari sebelumnya 24 persen. Kasus-kasus meningkat sangat cepat.

Meskipun sejauh ini telah lebih dari 108 juta orang telah divaksinasi, hal ini rupanya belum cukup untuk menghentikan gelombang kedua Covid-19. Padahal Januari lalu, Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan menyebutkan bahwa negaranya berhasil mencapai herd immunity.

Selain mentaati protokol kesehatan 5M, ada satu senjata yang menjadi upaya meredam penyebaran Covid-19, yakni vaksinasi. Vaksinasi juga wajib dijalani oleh seluruh WNI, apalagi program ini gratis. Selain itu, vaksin corona juga dijamin aman dan halal sebagaimana fatwa yang dikemukakan oleh MUI, sehingga tidak boleh ada keraguan di dalamnya.

Pada kesempatan berbeda, Tokoh Lintas Agama di Semarang juga mendukung akan pelaksanaan vaksinasi. Ketua Majelis Wali Agama Hindu Indonesia Provinsi Jawa Tengah Anak Agung Ketut Darmaja mengatakan bahwa pihaknya juga sangat mendukung program mulia pemerintah tentang vaksinasi Covid-19. Pihaknya juga sudah mensosialisasikan program vaksinasi ini ke seluruh Kabupaten Kota. Provinsi Jawa Tengah, Umat Hindu tidak ada yang menolak.

Vaksin Covid-19 sendiri merupakan vaksin yang diberikan melalui jalur suntikan ke dalam massa otot lengan atas untuk menstimulasi sistem imun atau kekebalan tubuh terhadap virus tersebut. Selain itu Vaksinasi juga berdampak positif untuk sektor ekonomi, karena jika masyarakat memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik untuk melawan penyakit Covid-19, maka kegiatan sosial dan perekonomian masyarakat bisa diadakan kembali seperti sediakala.

Penerapan Prokes 5M dan Vaksinasi adalah 2 hal penting yang harus digalakkan, kedua hal tersebut merupakan strategi efektif untuk menurunkan potensi penularan.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Putu Prawira )*

Kasus baru Covid-19 di Indonesia terus mengalami tren peningkatan seiring adanya varian baru virus Corona. Masyarakat diminta untuk selalu taat Prokes 5M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi) sebagai salah satu kunci utama memutus rantai penularan Covid-19.

Status Pandemi Covid-19 belum berakhir, meningkatnya angka terkonfirmasi dan munculnya varian baru, membuat kita harus benar-benar memperhatikan protokol kesehatan demi meminimalisir kemungkinan penularan Covid-19.

Kelompok Kerja (Pokja) Genetik FKKMK (Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan) Universitas Gajah Mada (UGM) menyebut bahwa Covid-19 varian B.1617.2 atau delta mampu mempengaruhi sistem imun tubuh manusia.

Ketua Pokja Genetik, Gunadi mengatakan, virus varian delta yang ditemukan tersebut, rupanya telah merebak di Kabupaten Kudus Jawa Tengah. Virus tersebut telah ditetapkan oleh WHO sebagai variant of concern (VOC) pada 31 Mei 2021, menimbang dampak besarnya terhadap kesehatan masyarakat.

Gunadi berujar, suatu varian masuk kategori VoC lantaran memenuhi satu atau lebih dari tiga dampak yang ditimbulkan. Meliputi, daya transmisi, tingkat keparahan pasien dan mempengaruhi sistem imun manusia. Dirinya menuturkan, varian delta sementara telah menjadi bukti menimbulkan dua dampak. Yakni, lebih cepat menular dan mampu mempengaruhi respons sistem imun manusia. Ini terbaca lewat kasus di India maupun Kudus dengan transmisinya yang begitu cepat.

Diketahui, varian delta lebih cepat menyebar dibandingkan varian alpha, dimana ternyata varian tersebut memiliki prevalensi 50-60% lebih cepat menular dibandingkan dengan alpha. Gunadi melanjutkan, varian delta ini juga bisa menurunkan respons sistem imun manusia terhadap infeksi Covid-19. Baik yang ditimbulkan oleh infeksi alamiah maupun vaksin.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang melaporkan telah menemukan mutasi virus SARS-Cov-2 varian E484K alias Eek di Indonesia. Perlu diketahui, varian baru tersebut ditemukan setelah melalui pemeriksaan Whole Genome Sequence (WGS) pada bulan Februari 2021.

Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman mengaku khawatir jika mutasi virus corona Eek akan berdampak pada penurunan efikasi alias kemanjuran vaksin virus Corona yang digunakan saat ini.

Kita tahu bahwa Efektifitas penggunaan masker untuk mencegah penularan juga dibuktikan secara uji klinis oleh Perusahaan riset pasar Inggris Yougov, tim dari Klinik Miyazawa di Hyogo dan Universitas Houston-Victoria telah mengumpulkan data melalui model komputer untuk mengetahui bagaimana berbagai faktor mempengeruhi tingkat kematian akibat penyakit covid-19 di berbagai negara. Hasilnya, penggunaan masker wajah menjadi cara paling signifikan dalam mengurangi risiko kematian akibat covid-19.

Pada kesempatan berbeda, Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik dari Departemen Mikrobiologi FK Universitas Gadjah Mada (UGM), dr R Ludhang Pradipta R., M. Biotech, SpMK, mengatakan ada kemungkinan untuk terinfeksi virus corona sebelum atau sesudah vaksinasi.

Kepala LBM Eijkam Amin Soebandrio menyebutkan bahwa varian corona Eek dilaporkan berpotensi menular lebih cepat. Eijkman menyebutkan, mutasinya terjadi di protein spike atau yang sering disebut protein S1. Sehingga mengakibatkan reseptor lebih mengikat pada sel manusia menjadi lebih kuat, yang berimplikasi pada cepat dan banyaknya jumlah penularan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menduga varian Eek memiliki potensi yang mengakibatkan penularan yang lebih masif. Terlebih saat ini ada tiga varian virus corona yang tersebar di Indonesia.

Pada kesempatan belemumnya, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menerbitkan Instruksi Nomo 01/2021 tentang Gerakan Sosialisasi Penerapan Protokol Kesehatan (5M). Instruksi tersebut berisi imbauan untuk mengintensifkan sosialisasi penerapan protokol kesehatan kepada masyarakat. Hal tersebut dikeluarkan sebagai upaya untuk mencegah kasus Covid-19.

Dirinya juga menuturkan bahwa dalam melaksanakan instruksi tersebut, harus melakukan pelaporan secara berkala terkait kemajuan gerakan sosialisasi penerapan protokol kesehatan (5M) kepada Tim Tanggap Darurat Pencegahan Penyebaran Covid-19 Kementerian Agama Republik Indonesia. Mereka juga diwajibkan melaporkan dengan dilampirkan foto atau video melalui laman lapor5m.kemenag.go.id.

Kita tentu perlu belajar dari meledaknya kasus Covid-19 di India, kejadian tersebut disinyalir karena masyarakat di sana semakin abai dalam menerapkan protokol kesehatan. Beberapa bulan terakhir terjadi pesta pernikahan besar-besaran di India. Banyak masyarakat tidak mengenakan masker ketika keluar dari rumah.

Tentu kita semua ingin agar Pandemi segera berakhir, tentu saja kita memiliki peran vital untuk menekan angka terkonfirmasi covid-19, peran vital tersebut adalah kepatuhan kita terhadap peraturan pemerintah untuk terus disiplin dalam mengikuti protokol kesehatan.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo prihatin dengan peningkatan angka kasus positif COVID-19 di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dan meminta semua pihak termasuk anggota Polri dan TNI di wilayah intensif melakukan upaya pencegahan dan pengendalian.

Hal itu dikatakan Kapolri ketika meninjau meninjau pelaksanaan vaksinasi di Kabupaten Kudus, Minggu (6/6/2021).

Disebutkan usai Lebaran 2021, Kabupaten Kudus menjadi wilayah dengan status terkonfirmasi COVID-19 paling tinggi di Jateng. Jumlah terkonfirmasi COVID-19 sebanyak 7.975 orang, sedangkan jumlah orang sembuh 5.918 orang dan meninggal dunia 659 orang.

“Hal ini menjadi perhatian kami. Dengan adanya ketersediaan tempat tidur di tujuh rumah sakit di Kudus yang makin menipis, dari 393 tempat tidur isolasi, sudah terisi 359 tempat tidur (91%). Sementara ruang ICU dari jumlah 41 tempat tidur sudah terisi 38 tempat tidur (92%),” kata Kapolri.

Dengan kondisi tersebut, menurut Kapolri Kabupaten Kudus dalam kondisi yang kurang baik, apalagi terjadi penambahan kasus aktif di wilayah sekitarnya. Untuk itu, semua instansi, termasuk TNI/Polri, bersama-sama menangani COVID-19 di Kudus agar kembali pulih seperti semula.

“Masalah COVID-19, merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah, TNI, maupun Polri, tetapi juga menjadi tanggung jawab semua pihak untuk memutus mata rantai penularan karena keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi. Oleh karena itu, semua pihak harus bergerak bersama,” kata Kapolri.

Kapolri juga menyatakan bahwa pemerintah, TNI, dan Polri saat ini membutuhkan peran serta masyarakat untuk mencegah penularan COVID-19, minimal semua pihak saling mengingatkan untuk disiplin terhadap protokol kesehatan, yaitu 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilisasi).

Terkait dengan upaya tersebut, Polri bersama TNI telah menyiapkan delapan unit water cannon untuk melakukan penyemprotan secara massal di semua tempat di daerah tersebut.

“Water cannon ini akan berjalan selama 3 hari sekali untuk melakukan penyemprotan disinfektan,”.

Selain itu, pola yang akan dilakukan dalam rangka penanganan covid-19 adalah pertama menyehatkan situasi, kedua memberikan wawasan kepada masyarakat, dan ketiga memaksimalkan PPKM Mikro.

Lebih lanjut Kapolri mengatakan telah memerintahkan Kapolda Jawa Tengah untuk lebih fokus menangani enam desa yang terpapar COVID-19, kemudian menerjunkan satu Satuan Setingkat Kompi (SSK) pasukan Brimob guna menjaga desa tersebut. Dengan demikian, tidak ada warga yang keluar kemana pun selama isolasi mandiri ini.

“Semua pasukan, baik dari babinsa, bhabinkamtibmas, Brimob, maupun tenaga kesehatan, semuanya kami floating di Kudus. Dengan harapan, kabupaten Kudus ini kembali seperti semula. Target kami COVID-19 harus hilang dari Kabupaten Kudus,” kata Kapolri.

Sebagaimana diketahui, dalam rangka mendukung peningkatan dan perbaikan sosialisasi program vaksinasi covid-19 guna mempercepat herd immunity, Kapolri bersama Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Ganip Warsito bersama rombongan yang lain tengah melakukan kunjungan kerja penanganan pandemi COVID-19 di sejumlah wilayah di Jateng, seperti Cilacap, Blora, Pati, dan Kudus. (**).

Oleh : Aditya Akbar )*

Virus corona makin mengkhawatirkan karena bermutasi ganda, sehingga cepat sekali menyebar dan menginfeksi manusia. Untuk mencegah agar tidak terkena virus mutasi ini, maka harus menaati protokol kesehatan. Bukan hanya 3M tetapi sampai 5M, yakni memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menjauhi kerumunan.

Setelah ada virus corona jenis B117, maka ada lag varian baru yakni corona mutasi ganda. Virus hasil mutasi ini ditemukan di India dan terbentuk karena masyarakatnya tidak menjaga protokol kesehatan. Mereka nekat melakukan ritual di Sungai Gangga, berdesak-desakan dan tanpa masker, sehingga penyebaran corona menggila. Bahkan dikabarkan ratusan orang langsung meninggal dunia per harinya.

Mutasi virus covid-19 memang berbahaya karena ia bermutasi ganda, dalam artian penyebaran dan penularannya 2 kali lipat. Sedihnya, virus ini sudah masuk ke Indonesia dan ada 2 orang di Tangerang selatan yang terinfeksi. Kita tentu tidak ingin tertular, sehingga harus melakukan protokol kesehatan dengan ketat.

Menurut dokter Devia Putri, protokol kesehatan ditambah, bukan lagi 3M tetapi 5M. Kelimanya adalah: mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak minimal 2 meter, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Kita wajib melakukan semua 5M dan tidak boleh lupa salah satunya, agar aman dari serangan corona mutasi ganda.

Mengapa protokol kesehatan ditambah 2 poin sehingga jadi 5M? Penyebabnya karena masih banyak yang mengabaikan 3M, apalagi 5M. Kalau mereka sudah memakai masker maka menganggap semua akan aman-aman saja, lalu melenggang bebas dan masuk ke dalam pasar. Padahal pengunjung bertumpuk sehingga tidak bisa menjaga jarak.

Menghindari kerumunan sangat penting karena menurut penelitian WHO, virus covid-19 bisa menyebar di tempat yang sempit, kotor, dan pengap. Ketika ada gerombolan orang, maka otomatis udaranya jadi sesak, sehingga amat rawan jadi tempat penyebaran corona. Oleh karena itu, protokol untuk menghindari kerumunan diciptakan, agar menyempurnakan protokol menjaga jarak.

Kerumunan memang rawan dan kita juga jangan sampai membuat klaster baru dengan nekat mengadakan acara yang mengundang banyak orang. Di masa pandemi, pesta pernikahan di KUA atau di rumah saja sudah umum dilakukan, dan tamunya maksimal 35 orang. Itu pun termasuk keluarga sendiri. 

Jangan nekat membuat resepsi besar-besaran dan akhirnya banyak yang terkena corona dengan jenis mutasi ganda, karena kita tidak tahu siapa di antara kerumunan itu yang berstatus OTG. Saat ini semua orang bisa saja berstatus orang tanpa gejala dan orang dalam pengawasan. Bukannya curiga, tetapi bukankah lebih baik mencegah penularan corona dari OTG daripada mengobati?

 Untuk lebih amannya, di acara syukuran pernikahan, makanan dibungkus di dalam kotak dan langsung diserahkan ke tamu sebagai oleh-oleh. Jadi mereka akan mengkonsumsinya di rumah sehingga tidak membuka masker di acara dan aman dari penyebaran corona. Jangan menganggapnya aneh, karena lebih baik melakukannya, daripada makan bersama lalu tertular virus mutasi ganda.

Selain mencegah kerumunan, hindari juga mobilitas yang berlebihan. Jika Anda sudah masuk kantor, maka jangan keluyuran sepulang kerja. Namun langsung masuk rumah lalu mandi, keramas, dan berganti baju. Tujuannya agar mengamankan istri dan anak-anak dari penularan corona saat Anda berkendara, dan jangan sampai mereka terkena virus mutasi ganda.

Begitu juga dengan keluarga di rumah. Anak-anak masih school from home dan mereka dilarang bermain jauh-jauh. Lebih baik diajak untuk berkreasi di rumah saja, karena anak-anak lebih beresiko tertular corona. Istri juga diimbau untuk belanja online agar tidak usah berdesak-desakan di supermarket.

Protokol kesehatan 5M dibuat agar masyarakat aman dari penularan corona. Jangan abaikan fakta bahwa saat ini pandemi masih berlangsung. Apalagi ada virus covid-19 hasil mutasi ganda dan sudah masuk ke Indonesia. Kita harus meningkatkan kewaspadaan, mematuhi protokol kesehatan, menjaga higienitas dan imunitas tubuh.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh: Halimatusya’diyyah (Warganet Kota Tangerang Selatan)

Lebih dari satu tahun pandemi Covid-19 di Indonesia masih belum usai. Pemerintah telah menggaungkan banyak cara untuk menekan penyebaran angka kasus positif Covid-19. Mulai dari kampanye tagar #DirumahAja hingga sosialisasi pencegahan virus dengan Protokol Kesahatan 5M, yaitu memakai masker, mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, serta membatasi mobilisasi dan interaksi.

Telah banyak masyarakat Indonesia yang paham terhadap gejala-gejala Covid-19. Meskipun banyak studi juga mengatakan bahwa Covid-19 dapat terjadi tanpa gejala. Namun demikian, kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan masih naik-turun. Baru-baru ini beberapa media menginformasikan bahwa terdapat potensi munculnya gelombang kedua Covid-19. Oleh karenanya, kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan harus diperkuat kembali.

Hingga saat ini, tsunami Virus Coroan masih menerjang India dengan jumlah kasus sebanyak 22,3 juta, bahkan fasilitas kesehatan yang disediakan kurang dan ruang kesehatan tidak dapat membendung pasien yang terus bertambah. Indonesia harus mampu menjadikan kondisi India saat ini sebagai pelajaran demi mencegah kejadian serupa. Pemerintah dan masyarakat harus selalu waspada dalam melakukan kegiatan, khususnya di luar rumah.

Sementara itu, Indonesia masih masuk ke dalam 10 teratas total kematian akibat Covid-19. Dalam hal ini perlu dilakukan penanaman dalam diri sendiri untuk terus menerapkan protokol kesehatan dan mendukung program pemerintah terkait percepatan penanganan pandemi Covid-19 yang sejak lama digalakkan.

Pemerintah juga telah memfasilitasi masyarakat sebagai opsi untuk melawan penyebaran Covid-19 melalui vaksinasi. Sebagaimana yang telah dilakukan pemerintah, Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 melaporkan setidaknya jumlah penerima vaksinasi dosis pertama kini mencapai 13.340.957 jiwa penduduk Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan imun dalam tubuh.

Meski sudah cukup banyak masyarakat yang menerima vaksin, hal tersebut tidak bisa dijadikan harga mati untuk tidak patuh protokol kesehatan. Virus Corona terus mempertahankan dirinya dengan cara bermutasi. Di samping itu, masyarakat mulai abai terhadap protokol kesehatan.

Dapat dilihat dari bulan Ramadan ini, banyaknya masyarakat yang menunggu buka puasa dengan ramai-ramai berada di suatu tempat tanpa menggunakan masker bahkan tanpa menjaga jarak. Jika dibiarkan terus menerus, maka bisa menjadi ancaman serius bagi bangsa Indonesia.

Masyarakat harus selalu menanamkan dalam diri sendiri bahwa negara ini belum sepenuhnya terbebas dari pandemi Covid-19. Menerapkan protokol kesehatan adalah hal yang wajib bagi seluruh elemen masyarakat Indonesia. Hal tersebut dilakukan demi mencegah penyebaran Covid-19 yang berpotensi bermutasi dan sulit dikendalikan. Jika masyarakat tidak disiplin terhadap 5M, maka pandemi ini akan terus merajalela menjangkiti penduduk Indonesia dan angka kasus Covid-19 akan terus menerus bertambah banyak.

Patuhi segala kebijakan maupun peraturan pemerintah terkait penanganan pandemi Covid-19. Lindungi diri dan keluarga serta orang lain dengan patuh protokol kesehatan 5M.

Pemerintah terus mengoptimalkan penanganan pandemi Covid-19 dengan menggencarkan vaksinasi Covid-19 demi terciptanya kekebalan direktif. Kendati demikian, masyarakat pun diimbau untuk tetap mematuhi Prokes 5M mengingat belum semua orang mendapatkan vaksin Covid-19. Pandemi Covid-19 masih menjadi perhatian masyarakat luas, baik dalam negeri maupun dunia Internasional. Berbagai bidang perlahan-lahan mulai berbenah, terutama masalah Kesehatan melalui program vaksinasi. Pro kontra terkait efektifitas program vaksinasi Covid-19, mengisi diskusi di ruang-ruang publik. Pro kontra tersebut muncul akibat bias informasi dan juga maraknya info hoax yang beredar di tengah-tengah masyarakat.

Berdasarkan keterangan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Dr Ir Penny K Lukito, Efikasi Vaksin Sinovac yang digunakan pemerintah pada Tahap I sebesar 65,3 %. Hal tersebut berdasarkan Hasil analisis terhadap efikasi vaksin CoronaVac dari uji klinik di Bandung dan menunjukkan efek vaksin sebesar 65,3 %. Artinya jika dikalkulasikan secara matematis potensi masyarakat yang sudah divaksin bisa tertular Covid-19 adalah 35%. Dengan demikian masyarakat yang sudah mendapat vaksinasi masih berpotensi untuk tertular Covid-19, sehingga harus tetap menerapkan protokol Kesehatan.

Kemudian, dalam kalkulasi efektifikas program vaksinasi dalam menyelesaikan pandemic covid-19 perlu dikaji capaian program vaksin terhadap jumlah masyarakat yang potensi/rentan terhadap penularan covid-19. Hal ini diperlukan dalam upaya pembentukan herd immunity. Capaian vaksinasi covid-19 dalam upaya membangun herd immunity tidak harus mencapai 100 %, karena cukup 70 % sasaran vaksinasi terhadap masyarakat maka cukup untuk membuat virus covid-19 stres dalam perkembangbiakannya.

Hal tersebut disampaikan oleh ahli bioteknologi dari Universitas Putra Malaysia yaitu Assoc. Prof. Bimo Ario Tejo, PhD. Menurut Prof. Riyanto dalam acara diskusi bertajuk Ada Apa Dengan Vaksin?” pada Minggu 7 Februari 2021. Bimo Ario juga menjelaskan bahwa syarat terjadinya herd immunity adalah apabila angka efikasi vaksin dan jumlah rakyat yang mau divaksin cukup tinggi. “Apabila angka efikasi vaksin terlalu rendah, maka jumlah rakyat yang divaksin harus tinggi, dan juga kebalikannya, apabila angka efikasi vaksin tinggi, maka jumlah rakyat yang divaksin bisa lebih rendah” Bimo Ario menekankan.

Sementara itu, Vaksinasi Covid-19 sudah mulai bergulir tapi penerapan protokol kesehatan tidak boleh kendor. Setelah mendapat vaksin bukan berarti otomatis kebal terhadap virus tersebut dan tidak akan tertular. Banyak ahli menilai protokol yang harus dilakukan tidak cukup hanya menerapkan 3M tetapi harus ditingkatkan menjadi 5M. Harus ada dua lagi tambahan yang wajib dilakukan yakni menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas (2M).

Aestika Oryzaa Gunarto, Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) menilai protokol 2M tersebut sebenarnya bukan hal yang baru. Hal itu sudah sering ditekankan oleh pengambil kebijakan guna mencegah penyebaran Covid-19 sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diterapkan. “Protokol 2M ini sangat memungkinkan untuk diterapkan “. Dia sendiri sudah jauh mengurangi intensitas kegiatan dengan mobilitas tinggi dan menjauhi kerumunan atau tempat ramai juga sudah dilakukan semenjak Covid-19 pertama kali merebak tahun lalu sampai saat ini.

Menurut Aest, mengurangi mobilitas bukan berarti tidak dapat beraktivitas dan tidak produktif. Sekarang sudah banyak kantor yang menerapkan work from home (WFH) dan mereka bisa tetap produktif walaupun kerja dari rumah. Terlebih saat ini sudah banyak tersedia platform digital untuk berkomunikasi dan bekerja dari manapun. Pelaku usaha juga mulai berinovasi dengan melakukan pemasaran digital, penjualan lewat aplikasi yang dibantu pengiriman barang oleh ride hailing. Meskipun vaksinasi sudah mulai berjalan, Aest melihat penerapan protokol kesehatan, termasuk 2M, di lingkungan sekitarnya masih berjalan dengan baik seperti biasanya. “Saya pun tetap menerapkan disiplin protokol kesehatan untung melindungi diri dan orang di sekitar kita,” ujarnya. (*)