Oleh : Aulia Hawa )*

Masyarakat diimbau untuk mewaspadai akan penyakit hepatitis akut, karena mayoritas korbannya adalah anak-anak. Untuk mencegah penularan hepatitis akut maka masyarakat wajib bergaya hidup sehat dan bersih serta menaati prokes (protokol kesehatan).

Pandemi belum dinyatakan usai tetapi masyarakat masih harus menghadapi satu penyakit lagi yakni hepatitis akut. Hepatitis jenis baru ini belum diketahui penyebabnya karena pemerintah masih mengadakan penelitian panel virus untuk mengetahuinya. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan penyebaran hepatitis akut misterius dengan status KLB (kejadian luar biasa) dan penyakit ini sudah tersebar di belasan negara, termasuk Indonesia.

Lantas bagaimana cara mencegah hepatitis akut? Dinas Kesehatan Kota Bandung mengeluarkan surat edaran yang berisi cara-cara untuk mencegah penyakit berbahaya ini. Pertama dengan memastikan makanan dalam keadaan matang dan bersih, tidak berdekatan dengan orang sakit, dan tidak bergantian alat makan. Dalam artian, kurangi benar intensitas makan di luar karena tidak tahu kebersihan dan kematangannya.

Dengan makan di rumah atau membawa bekal maka sudah pasti higienis dan matang betul. Selain itu juga terhindar dari peminjaman alat makan. Jika memang ada yang meminjam mangkuk atau alat makan lain, maka cucilah dengan air panas agar higienis. Memang jadinya lebih lelah tetapi wajib dilakukan untuk mencegah penularan hepatitis akut.

Kedua, masyarakat diimbau untuk mengikuti pemberitaan tentang hepatitis akut, baik dari surat kabar maupun media online. Dengan update beritanya maka akan paham cara penanganannya. Jika ada saudara atau tetangga yang sakit hepatitis maka segera dibawa ke Rumah Sakit terdekat.

Ciri-ciri hepatitis akut juga wajib dihafal agar penangannya maksimal. Pasien biasanya sakit kuning (bahkan bagian putih di matanya juga berwarna kuning), sering mual, diare, dan kejang-kejang, bahkan kesadarannya menurun. Jika sudah begitu maka wajib segera dilarikan ke Unit Gawat Darurat agar mendapat pertolongan dari tenaga kesehatan.

Cara hidup bersih dan sehat serta taat prokes juga merupakan cara pencegahan penularan hepatitis akut. Dengan rajin mencuci tangan maka akan terhindar dari kuman, bakteri, dan virus yang membawa penyakit hepatitis akut misterius. Bawa juga hand sanitizer agar bisa membersihkan tangan tanpa harus mencari wastafel.

Protokol kesehatan yang lain juga wajib ditaati seperti memakai masker. Ternyata masker juga tak hanya mencegah penularan Corona, tetapi juga penyakit lain seperti hepatitis akut. Jika mulut dan hidung tertutupi maka tidak akan terkena virus apa saja. Namun perlu diingat bahwa masker maksimal digunakan selama 4 jam, jadi saat bepergian harus membawa masker cadangan.

Prokes yang lain seperti menjaga jarak dan menghindari kerumunan juga wajib ditaati. Penyebabnya karena kita tidak tahu di antara orang-orang yang ada di kerumunan, siapa yang terjangkiti oleh virus hepatitis misterius. Apalagi jika banyak yang tidak pakai masker, maka resiko penularan akan makin besar.
Hidup bersih dan sehat memang harus jadi lifestyle walau pandemi telah usai. Penyebabnya karena dengan bergaya hidup bersih dan sehat maka akan terhindar dari Corona, hepatitis akut, atau penyakit lain. Tetaplah rajin makan sayur dan buah, minum air putih, dan berolahraga ringan setiap hari.

Masyarakat wajib mewaspadai penyakit hepatitis akut misterius yang sedang menyebar ke seluruh dunia. Jika terdapat anggota keluarga yang terkena gejala tersebut diatas, maka harus segera dilarikan ke Rumah Sakit. Selain itu, untuk pencegahan penyakit ini, maka wajib menjaga gaya hidup bersih dan sehat, memakai masker, serta menaati protokol kesehatan yang lain. Dengan adanya kewaspadaan bersama, maka diharapkan tidak ada masyarakat yang menjadi korban.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Agung Suwandaru )*

Seluruh masyarakat pelaku perjalanan mudik Lebaran 2022 jangan sampai menjadi lengah dan tidak menerapkan protokol kesehatan. Faktanya, risiko penularan COVID-19 masih ada dan pandemi belum berakhir sepenuhnya.

Keputusan diperbolehkannya melakukan perjalanan mudik Lebaran tahun 2022 ini telah dibuka oleh Pemerintah. Meski masyarakat memang telah diperbolehkan untuk melakukan perjalanan mudik, namun terdapat sebuah pesan penting yang disampaikan oleh Satgas Covid-19 bahwa seluruh pemudik diharapkan untuk sama sekali tidak lengah dan terus menaati protokol kesehatan.

Ketua Bidang Komunikasi Satgas Covid-19, Hery Triyanto menyatakan bahwa meski telah lebih dari 60 persen populasi masyarakat di Indonesia sudah melakukan vaksinasi secara lengkap, namun bukan berarti risiko penularan Covid-19 sama sekali hilang dan tidak ada, melainkan risiko tersebut masih saja bisa terjadi. Untuk itu sama sekali kita tidak diperbolehkan lengah dan merasa bahwa semua akan pasti aman tanpa menerapkan Prokes.

Justru poin penting untuk setidaknya bisa meminimalisasi seluruh risiko penularan tersebut adalah dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat. Di samping itu juga telah melakukan vaksinasi hingga dosis ketiga atau booster. Hal tersebut dikarenakan memang sampai saat ini pun Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri masih belum mengumumkan status baru dan mencabut status pandemi, yang mana berarti pandemi masih belum berakhir meski sudah sangat terkendali dan kurvanya melandai.

Terdapat sebuah data dari hasil survey Serologi yang telah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan pada akhir Maret 2022 menyatakan bahwa ternyata sudah sekitar 99,3 persen masyarakat di Jawa dan Bali telah memiliki imunitas terhadap Covid-19. Tentu kabar ini menjadi kabar yang sangat baik dan tugas kita hanya perlu untuk menjaga keadaan terus seperti itu.

Namun ternyata ditambahkan oleh Hery bahwa terbentuknya imunitas yang sudah cukup besar dalam sebuah populasi masyarakat tersebut sama sekali tidak bisa menjamin bahwa kita berarti telah kebal dari penularan Covid-19. Berkaca dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, yakni selalu ada lonjakan kasus baru dengan varian baru setelah libur Lebaran, ketika masyarakat bisa menjaga Prokes dengan ketat maka hal tersebut diharapkan tidak akan terulang.

Imbauan kepada masyarakat untuk tidak lengah dan terus mawas diri juga dinyatakan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate yang menyatakan bahwa jangan sampai kita kemudian menganggap remeh dan sama sekali tidak waspada. Selain itu kebiasaan untuk menggunakan masker dengan benar, terus rajin mencuci tangan hingga menghindari jarak dari kerumunan hendaknya harus terus dijaga.

Beberapa kegiatan yang patut diwaspadai oleh masyarakat tatkala mudik Lebaran 2022 adalah kegiatan silaturahmi yang tentu akan melibatkan banyak interaksi bahkan hingga kepada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Ditambah dengan masyarakat yang mungkin baru saja selesai melakukan perjalanan jauh dan mengunjungi fasilitas umum yang kepadatannya tinggi. Tentunya itu akan sangat berpotensi untuk menjadi risiko penularan bagi kita apabila kita tidak waspada.

Perkiraan peningkatan para pemudik khususnya di tahun ini akan sangat membludak bahkan hingga sekitar 85,5 juta orang yang tentu angka tersebut bukanlah angka yang sedikit. Sehingga jangan sampai kita justru yang niat awalnya adalah kebaikan, yakni menjalin hubungan persaudaraan dengan warga di kampung, namun justru mendatangkan marabahaya bagi mereka.

Kebijakan Pemerintah yang memperbolehkan masyarakat untuk melaksanakan mudik Lebaran hendaknya disikapi dengan penuh tanggung jawab dengan selalu taat Prokes. Dengan adanya kepatuhan masyarakat tersebut, ledakan kasus Covid-19 pasca Idul Fitri diharapkan tidak terulang kembali.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Aulia Hawa )*

Masyarakat diimbau untuk selalu melaksanakan Prokes ketat dalam menjalani ibadah selama Ramadhan, sebagaimana telah diatur oleh Pemerintah. Ketaatan terhadap Prokes tersebut merupakan upaya untuk mencegah lonjakan Covid-19.

Selama bulan suci Ramadhan setiap umat Muslim wajib berpuasa, bayar zakat fitrah, dan melakukan ibadah sunnah lain seperti salat tarawih, bagi-bagi sedekah, dan lain sebagainya. Seluruh kegiatan di bulan Ramadhan diatur oleh pemerintah agar situasi tetap kondusif dan sesuai dengan Prokes.

Juru Bicara pemerintah untuk penanganan corona Profesor Wiku Adisasmito menyatakan, meski pemerintah telah memberi pelonggaran tetapi masyarakat tetap diminta untuk tidak menurunkan kewaspadaan, terutama tidak boleh mengabaikan protokol kesehatan.

Sejak beberapa hari sebelum bulan puasa pemerintah mengumumkan beberapa pelonggaran protokol kesehatan karena situasi sudah cukup kondusif dan jumlah pasien Covid-19 di bawah 10.000 orang per harinya. Pelaksanaan aktivitas saat Ramadhan memang harus sesuai Prokes walau situasi sudah aman, karena jika banyak pelanggaran maka takut akan terjadi kenaikan kasus Covid-19.

Ada beberapa penyesuaian dalam pelaksanaan aktivitas selama bulan Ramadhan. Pertama, masyarakat boleh beraktivitas di masjid tetapi harus pakai masker. Jadi saat ada pengajian semuanya baik sang ustad maupun jamaah, harus pakai masker dan tidak boleh hanya pakai face shield.

Selama dua tahun ini kita sudah biasa melaksanakan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, Tim Satgas Covid-19 mengingatkan agar semuanya taat Prokes, tidak hanya dalam beraktivitas tetapi juga dalam menjalani kegiatan keagamaan. Apalagi saat Ramadhan ada lebih banyak kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh umat seperti pengajian dan berbagi paket sedekah.

Sementara itu, salat tarawih sudah boleh dilakukan di masjid dengan saf yang rapat. Namun lagi-lagi Prof Wiku mengingatkan, “Masyarakat tetap harus mengenakan masker yang sempurna (menutupi mulut dan hidung) saat salat, membaca al-quran, dan berzikir.” Dalam artian, sebelum berangkat ke masjid memang semua orang harus pakai masker dan tidak boleh dilepas saat salat.

Sebagai aturan tambahan maka umat diminta untuk berwudhu di rumah, jadi saat di masjid langsung bisa salat berjamaah. Dengan berwudhu di rumah maka tidak akan mengantri giliran memakai keran di masjid dan menghindari kerumunan. Mereka juga sebaiknya membawa sajadah dan alat salat sendiri seperti mukena, agar lebih higienis.

Prof Wiku menambahan, masyarakat juga harus memakai masker dan menaati Prokes lain saat pembagian zakat dan sedekah. Dalam artian, baik yang memberi paket beras zakat maupun yang menerima harus sama-sama pakai masker demi kesehatan, dan harus dikenakan dengan benar. Malah kalau bisa yang dipakai masker ganda, dengan masker disposable di dalam dan masker kain di luar, untuk memperkuat filtrasi.

Taati juga Prokes lain seperti mengantri zakat dengan tertib dan jaga jarak. Malah kalau bisa tidak usah ada antrean, dalam artian panitia amil masjid langsung mengantar beras ke masyarakat yang membutuhkan. Semua aturan ini ditegakkan karena pandemi masih belum selesai sehingga kita semua harus waspada dan taat Prokes.

Pemerintah mengatur pelaksanaan aktivitas di tempat ibadah selama Ramadhan agar umat bisa berpuasa dan melakukan ibadah lain dengan lancar. Misalnya saat ke masjid harus pakai masker dan ketika salat berjamaah juga wajib bermasker. Umat juga sebaiknya tidak bersalaman secara langsung setelah selesai berjamaah karena masih pandemi. semua kalangan masyarakat diharap menaati Prokes agar pandemi lekas selesai.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Dian Ahadi )*

Pemerintah telah memberlakukan aturan bagi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN), sehingga saat ini tidak perlu karantina lagi setibanya di Indonesia. Kendati demikian, PPLN wajib menaati aturan lainnya yaitu harus divaksin dua kali dan menunjukkan hasil negatif Covid-19 serta selalu taat Prokes.

Pandemi membuat segalanya berubah termasuk aturan dalam bermobilitas. Jika di awal datangnya Corona semua wajib di rumah saja, maka setelah masa new normal penerbangan boleh dibuka lagi. Saat sudah dua tahun pandemi maka pemerintah melonggarkan lagi aturan bagi pelaku perjalanan luar negeri (PPLN).

Surat edaran dari Satgas Covid-19 Nomor 15 tahun 2022 tentang protokol pelaku perjalanan luar negeri mengatur perubahan ini. Pertama, para WNI maupun WNA yang berstatus PPLN boleh masuk ke Indonesia melalui perbatasan dua negara (NTT dan Kalbar), bandara (Soekarno-Hatta, Juanda, Ngurah Rai, dll), pelabuhan (Tanjung Benoa, Nunukan, dll).

Kedua, mereka yang mendarat di Indonesia harus dites PCR dalam waktu 2×24 jam sebelum terbang, mendowonload aplikasi PeduliLindungi sebelumnya, lalu mengisi E-HAC. Mereka juga harus menunjukkan bukti sudah vaksin dua kali. Jika ada yang belum vaksin sama sekali maka akan ditolak mentah-mentah.

Setelah mendarat baik di bandara atau pelabuhan serta perbatasan, maka PPLN tidak boleh pergi begitu saja. Namun mereka harus melakukan tes PCR dan menunjukkan hasil negatif Covid-19. Sambil menunggu hasil keluar maka PPLN harus menunggu di penginapan dan tidak boleh keluar sama sekali.

Jika hasil tes PCR-nya negatif maka bisa melanjutkan perjalanan ke kota tujuan, tetapi jika mereka baru vaksin sekali maka harus karantina selama 5×24 jam. Ketika mereka positif Covid-19 maka juga wajib melanjutkan karantina, tetapi jika hanya gejala ringan boleh untuk isolasi mandiri. Namun jika sudah vaksin lengkap plus booster dan hasil tesnya langsung negatif, boleh untuk lanjut tanpa karantina.

Masyarakat mengapresiasi perubahan aturan bagi PPLN karena tak bisa dipungkiri karantina memakan waktu (dan biaya). Meski ada pilihan karantina gratis di gedung Wisma Atlet tetapi mereka ingin lekas pulang setelah perjalanan dari luar negeri karena rindu pada keluarga di rumah.

Selain itu, para WNI juga mengapresiasi tindakan pemerintah yang tetap memberlakukan kebijakan wajib tes PCR. Bebas karantina bukan berarti PPLN boleh pergi setelah mendarat di bandara, tetapi tetap harus tes dulu. Walau mereka sudah divaksin dan tes di negaranya sendiri, tetapi ada kemungkinan tertular Corona di perjalanan, jadi tes PCR adalah sebuah kewajiban.

Lagipula harga tes PCR saat ini makin terjangkau sehingga PPLN tidak akan terbebani oleh biayanya. Tes PCR tidak bisa diganggu gugat dan tidak bisa diganti oleh Genose atau model tes lainnya.

Jika tidak ada kewajiban karantina maka wajar jika protokol kesehatan ketat diberlakukan. Bukan hanya pakai masker dan cuci tangan tetapi juga tes PCR dan sederet syarat lain. Kita harus sadar bahwa pandemi belum usai, maka syarat seperti ini amatlah wajar.

Karantina yang diberlakukan bagi mereka yang baru vaksin sekali atau yang ketahuan positif Corona juga diapresiasi karena memang itu prosedur yang berlaku. Bahkan sebelum pandemi sudah ada karantina dari mereka yang datang dari tanah suci, untuk mencegah berbagai kemungkinan terburuk pasca perjalanan super panjang.

Kebijakan PPLN tanpa kewajiban karantina amat disetujui oleh rakyat karena saat ini jumlah pasien Corona di Indonesia terus menurun. Akan tetapi, walau tanpa harus karantina, tetap wajib protokol kesehatan ketat. Semua demi kesehatan dan keselamatan bersama.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Endah Reni)*

Mulai awal Januari 2022 para murid kembali sekolah PTM (pembelajaran tatap muka) setelah hampir 2 tahun sekolah online. Namun demikian, pelaksanaan kegiatan tersebut harus disertai Protokol Kesehatan (Prokes) ketat guna mencegah terbentuknya kluster Corona baru seiring adanya varian Omicron.

Ketika awal pandemi yang paling diperhatikan adalah kesehatan anak-anak karena mereka relatif lebih mudah tertular Corona. Oleh karena itu pemerintah memutuskan untuk melakukan PJJ (pembelajaran jarak jauh) bagi para murid dari jenjang SD hingga SMA, juga mahasiswa. Semua kegiatan sekolah dilakukan via aplikasi Zoom, Google meet, dan WA.

Akan tetapi pada awal tahun 2022 ini situasi sudah relatif aman, terbukti dari jumlah pasien Corona yang terus menurun. Jika pada pertengahan tahun lalu mencapai lebih dari 50.000 orang per hari maka jumlah pasien Covid pada januari ini ‘hanya’ 170-an per hari. Oleh karena itu Pemda DKI Jakarta dan banyak daerah lain mulai memperbolehkan PTM (pembelajaran tatap muka).

Kita tidak usah cemas akan sekolah offline karena dipastikan sesuai dengan protokol kesehatan. Bahkan di beberapa sekolah diadakan simulasi terlebih dahulu untuk mengetahui bagaimana nanti suasana pembelajaran tatap muka yang sebenarnya. Dengan simulasi maka bisa diperlihatkan bahwa semuanya sesuai dengan protokol kesehatan dan gedung sekolah disemprot dengan disinfektan terlebih dahulu.

Presiden Jokowi berpesan bahwa pembelajaran tatap muka sudah diperbolehkan tetapi harus dengan prokes ketat, bahkan wajib memakai masker ganda. Dalam artian, masker yang dipakai tidak hanya yang sekali pakai (seperti N95) tetapi dilapisi dengan masker kain. Tujuannya untuk memperkuat filtrasi sampai 90%.

Masker ganda menjadi salah satu syarat utama dalam pembelajaran tatap muka karena saat ini Corona terus bermutasi dan bahkan sampai varian Omicron. Dengan double masker maka diharap akan menahan laju droplet dari OTG sehingga anak-anak akan sehat walau sekolah offline. Mereka juga diberi pesan agar tidak boleh melepas masker ketika berada di sekolah maupun perjalanan pulang.

Salah satu yang menjadi perhatian saat pembelajaran tatap muka adalah protokol kesehatan jaga jarak, sehingga para murid tidak bisa duduk semeja berdua (bahkan bertiga) seperti pada masa sebelum pandemi. Jumlah siswa yang ada dalam sekelas maksimal 50% sehingga hanya setengahnya yang masuk, sementara yang lain mengerjakan tugas di rumah. Oleh karena itu ada sistem shift dan tidak tiap hari masuk sekolah.

Para murid juga diberi pesan untuk tidak boleh mengobrol dalam jarak dekat dan bergerombol seperti dulu, jadi saat jam istirahat guru diminta untuk memantau. Memang agak susah terutama bagi murid yang masih TK atau SD kelas 1 tetapi semuanya harus menurut. Mereka juga disarankan membawa bekal karena kantin masih tutup, karena dipastikan akan ada kerumunan di sana.

Selain sang murid, para guru dan staff lain juga wajib mematuhi protokol kesehatan. Jangan malah muridnya pakai masker (plus faceshield) tetapi gurunya malah malas pakai masker. Ketika guru jadi OTG maka berbahaya karena ia bisa menularkan Corona ke sekian banyak murid. Oleh karena itu mereka wajib pakai masker, cuci tangan, dan mematuhi protokol kesehatan lain.

Pembelajaran tatap muka menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh para murid karena sejujurnya mereka sudah lelah menjalani sekolah online. Akan tetapi semuanya harus sesuai dengan protokol kesehatan seperti memakai masker ganda, mencuci tangan (atau memakai hand sanitizer), menjaga jarak, dan poin-poin lain. Mereka akan bisa sekolah normal dan mendapat ilmu sekaligus aman dari Corona.

)*Penulis adalah kontributor Nusa Bangsa Institute

Oleh : Dian Ahadi )*

Kendati telah dilaporkan penurunan kasus Covid-19, agaknya masyarakat tak boleh lengah. Masyarakat pun diminta untuk menerapkan Prokes ketat saat momentum libur akhir tahun karena pandemi Covid-19 belum usai.

Pandemi Covid-19 memang telah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Bahkan, disejumlah daerah level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) juga ikut diturunkan. Namun, kewaspadaan akan pandemi ini tentunya tidak boleh berkurang. Namun harus tetap diperketat.

Pemerintah memang terus memperluas cakupan vaksinasi, namun demikian hal itu tidak dapat dijadikan dasar masyarakat untuk lengah menerapkan Prokes. Apalagi menyusul berita terkini adanya varian baru yakni Omicron. Varian virus dengan kode B.1.1.529 tersebut dilaporkan pertama kali pada WHO dari wilayah Afrika Selatan. Tepatnya ialah 24 November 2021 lalu.

Berdasarkan bukti yang didapatkan, varian ini mengindikasikan perubahan yang dinilai merugikan pada epidemiologi Covid-19. Sehingga, pihak TAG-VE menyarankan kepada WHO agar menetapkan jenis ini sebagai varian of concern (VOC). Akhirnya WHO merilis kabar terkait virus ini dengan nama Omicron.

Kabarnya nama ini diambil dari huruf ke-limabelas dalam alfabet asal Yunani. VOC disebut-sebut sebagai varian tertinggi dari virus Corona. Alhasil, penularan, gejala penyakit hingga risiko infeksi ulang mampu mempengaruhi kinerja vaksin. Sebelumnya, dilaporkan jika varian yang cepat menyebar diklasifikasikan menjadi, Beta, Alpha, Delta serta Gamma juga masuk dalam kategori tersebut.

Omicron juga diklaim mengalami mutasi yang sangat banyak ketimbang varian lainnya. Bahkan, beberapa diantaranya cukup mengkhawatirkan, karena dampak potensial ke arah pandemi. Meski kasus di Indonesia belum banyak ditemukan. Tak ada salahnya selalu aware dengan segala kemungkinan yang ada.

Demi mengantisipasi hal ini pemerintah kian menggencarkan Prokes ketat kepada seluruh masyarakat Indonesia. Kabar terbaru menyebutkan adanya peraturan resmi, dimana PPKM level 3 dibatalkan namun diganti dengan sejumlah aturan diantaranya ialah sebagai berikut.

Pemberlakuan ketat arus pelaku perjalanan masuk dari luar negeri. Termasuk para pekerja migran Indonesia atau PMI sebagai langkah antisipasi tradisi pulang kampung atau mudik Nataru. Turut memaksimalkan hingga memperbanyak penggunaan dan penegakan aplikasi PeduliLindungi. Baik untuk fasilitas publik seperti fasilitas umum, tempat wisata, restoran, pusat perbelanjaan hingga fasilitas ibadah.

Kemudian, pembatasan kegiatan masyarakat mulai tanggal 24 Desember hingga 2 Januari tahun 2022. Bahkan bagi seni budaya hingga sektor olahraga yang berpotensi menimbulkan sejumlah penularan Covid-19 yang akan dilakukan tanpa penonton. Serta bukan merupakan perayaan Natal serta tahun baru atau menimbulkan kerumunan dapat diterapkan Prokes dan dihadiri maksimal 50 orang.

Adanya penutupan alun-alun mulai akhir bulan (31 Desember 2021) hingga awal tahun 1 Januari 2022. Dimulainya pemberlakuan sebuah rekayasa hingga antisipasi aktivitas pedagang kaki lima, yang berada di pusat keramaian agar tetap mematuhi Prokes juga menjaga jarak.

Bagi masyarakat yang hendak melakukan perjalanan akan dikenakan beberapa peraturan. Diantaranya dengan Larangan bagi orang untuk bepergian jarak jauh dengan status belum divaksin. Setiap orang yang akan pergi jauh wajib vaksin dua kali serta melakukan rapid antigen tes satu kali dua puluh empat jam
Kemudian, apabila ditemukan pelaku perjalanan dengan kategori pertama dan ternyata positif Covid-19, maka diwajibkan untuk isolasi mandiri. Bisa pula isolasi di tempat yang telah dipersiapkan oleh pihak pemerintah. Dan sejumlah aturan lainnya.

Dalam hal ini tentunya, pemerintah ingin sekali memaksimalkan perlindungan atas COVID-19 kepada seluruh warganya. Tak dipungkiri, pandemi ini sebelumnya memang terasa begitu cepat, awal mula hanya satu-dua kasus saja. Kemudian menyebarluas dan sulit dikendalikan.

Kendati demikian, jika menilik ke belakang tentu kondisi sekarang sudah jauh lebih baik. Meski masih harus terus berjibaku dengan virus mematikan ini, pemerintah tetap akan memberikan upaya terbaiknya. Demi kelangsungan hidup yang aman.

Maka dari itu, jika pemerintah telah mengerahkan segala kemampuannya. Otomatis kita selaku warga negara yang baik wajib mematuhi protokol kesehatan secara ketat. Jangan sampai pembiaran-pembiaran ataupun keteledoran terjadi, dimana hal ini justru akan menjadi sebuah bom waktu yang akan sulit dihentikan.

Pembatalan PPKM Level 3 serentak diharapkan dapat dimaknai secara bijak oleh masyarakat. Tak salah menikmati liburan Natal serta tahun baru, namun tetap jaga Prokes ketat demi kebaikan bersama. Ingat, tetap waspada virus Covid-19 belumlah usai.

)* Penulis adalah mahasiswa universitas Pakuan Bogor

Oleh : Putu Prawira )*

Varian Omicron yang sudah terdeteksi di Indonesia merupakan alarm agar masyarakat menaati Protokol Kesehatan (Prokes) dengan ketat. Dengan terus menjaga kedisiplinan atas Prokes, masyarakat diharapkan dapat terhindar dari penularan varian baru tersebut.

Sebagai virus, Covid-19 bermutasi menjadi varian baru, dari yang awalnya alfa, beta, gamma, delta, dan akhirnya Omicron. Mutasi ini terjadi karena banyak yang terkena virus secara massal sehingga virus punya kekuatan berlipat ganda. Selama pandemi belum selesai maka virus akan bermutasi dan kita wajib mewaspadainya.

Virus Covid-19 bermutasi jadi varian Omicron dan sedihnya ia sudah masuk ke Indonesia. Walau baru 1 orang yang terinfeksi tetapi wajib diwaspadai karena bisa jadi ada orang lain yang terkena, hanya saja tak sadar karena tidak periksa saat sakit dan hanya isolasi mandiri. Kekeliruan yang fatal ini menunjukkan kekurangtaatan banyak orang dalam mematuhi protokol kesehatan.

Presiden Jokowi berpesan agar masyarakat tidak panik dalam menghadapi Corona varian Omicron. Tetaplah menaati protokol kesehatan 10M agar tidak tertular. Pesan Presiden ini sangat penting dan harus ditaati agar Omicron tidak menyebar ke seluruh daerah di Indonesia.
Dalam artian, Omicron adalah alarm agar kita makin menaati protokol kesehatan. Penyebabnya karena menurut para dokter, virus hasil mutasi ini bisa menular 5 kali lebih cepat daripada varian lain. Akan sangat mengerikan ketika ada lonjakan pasien Corona gara-gara Omicron, padahal dalam 1-2 bulan ini situasi sedang kondusif.

Setelah diberlakukan PPKM level selama beberapa bulan, sejak pertengahan 2021, angka pasien Covid di Indonesia memang berkurang drastis. Dari 50.000 jadi ‘hanya’ 500-an orang per harinya. Selain itu, tidak ada daerah yang memiliki status zona merah di negeri ini dan tidak ada lagi yang dikenai PPKM level 4.
Akan tetapi pelonggaran saat tidak ada zona merah malah jadi bumerang karena menyebabkan banyak orang melanggar protokol kesehatan.
Selain malas pakai masker, banyak yang menyelenggarakan acara yang mengundang kerumunan seperti resepsi besar-besaran. Padahal jelas melanggar protokol kesehatan.
Omicron adalah pengingat yang keras bahwa kita harus menegakkan lagi protokol kesehatan, karena pilihannya hanya 2, mau taat prokes atau sakit gara-gara virus hasil mutasi ini? Protokol kesehatan pertama yang harus ditaati adalah pakai masker dan kenakan masker ganda (dengan posisi masker kain di luar dan masker N95 di dalam) agar meningkatkan filtrasi.

Jangan lupa untuk selalu cuci tangan atau memakai hand sanitizer. Setelah sampai rumah, selain cuci tangan, juga wajib mandi dan keramas serta mengganti baju. Masker juga langsung dicuci dengan air panas agar higienis. Kebersihan tubuh, pakaian, dan masker harus dijaga agar terhindari dari Corona Omicron.

Jangan lupa pula untuk menjaga kebersihan lingkungan agar terbebas dari Corona varian apa saja. Semua harus higienis agar bersih dan tak ada yang ketempelan droplet pembawa virus jahat ini.

Selain menaati protokol kesehatan, masyarakat juga wajib divaksin agar mendapatkan perlindungan maksimal dari Corona. Dengan divaksin maka imunitas tubuh akan meningkat dan vaksin bagai jubah pelindung ketika Omicron sudah masuk ke Indonesia. Tentu jika ia juga menaat protokol kesehatan.

Kedatangan Corona varian Omicron adalah alarm bagi masyarakat untuk waspada dan harus tetap menaati protokol kesehatan. Jangan ada yang melanggarnya jika tidak ingin terinfeksi virus jahat ini. Tetaplah pakai masker, cuci tangan, dan menaati protokol kesehatan lain, agar bebas dari Corona.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Irlendo Airlangga )*

Virus Covid-19 telah bermutasi menjadi varian Omicron. Masyarakat pun diimbau untuk tetap waspada dan menjaga Prokes guna mengantisipasi penyebaran varian baru virus Corona tersebut.
Pandemi hampir 2 tahun ini kita jalani, dan Indonesia terus meningkatkan berbagai cara agar tidak ada lagi yang terinfeksi Corona dan membentuk herd immunity. Sayangnya virus Covid-19 telah bermutasi. Dari yang awalnya varian alfa, beta, gamma, delta, dan sekarang Omicron.

Corona varian Omicron ini ditemukan di sekitar Afrika Selatan dan belum masuk ke Indonesia. Walau belum ada laporan pasien Covid varian Omicron tetapi kita tidak boleh berleha-leha, tetapi malah makin meningkatkan kewaspadaan. Sebab biasanya virus hasil mutasi diklaim lebih ganas daripada virus aslinya, sehingga ditakutkan akan menyebabkan kematian.

Pemerintah melalui Kementrian Hukum dan HAM telah melarang warga negara Afrka Selatan, WNI atau warga neagra lain yang habis mengunjungi negara tersebut, untuk mendarat di Indonesia. Larangan ini juga berlaku bagi yang pernah traveling ke Nigeria, Zimbabwe, Botswana, dan sekitarnya. Visa untuk warga negara Afrika Selatan juga ditangguhkan untuk sementara.

Untuk mencegah penularan Corona varian Omicron maka kita wajib meningkatkan kewaspadaan dan tetap disiplin dalam menaati protokol kesehatan. Jangan lupa juga untuk menghafal ciri-ciri terkena Corona varian Omicron, di antaranya pusing berat, pegal-pegal dan kecapekan, dan tidak ada masalah dengan penciuman. Hal ini beda dengan Corona varian lain yang menghilangkan fungsi indra penciuman.

Jika Anda terkena pilek berat dan pegal-pegal, jangan hanya isolasi mandiri. Namun segeralah berobat ke klinik atau Rumah Sakit dan akhiri dengan tes rapid atau PCR. Saat pandemi kita harus tetap waspada, jangan sampai jadi OTG lalu menulari anak-anak di rumah. Oleh karena itu ketika sakit harus segera bertemu dengan dokter, agar jika terkena Corona varian Omicron bisa lekas diatasi.

Sebelum terlanjur tertular Corona varian Omicron, maka tetaplah menaati protokol kesehatan 10M. Saat ini memang pasien Covid menurun, ‘hanya’ 500-an per harinya, tetapi keadaan belum benar-benar aman. Tetaplah pakai masker ganda dengan posisi masker disposable di dalam dan masker kain di bagian luar untuk memperkuat filtrasi dari droplet yang bertebaran di luar rumah.

Pakai masker ketika di luar rumah, walau hanya menyapu halaman atau menyiram tanaman. Masker juga harus dipakai ketika sampai kantor, jangan hanya dikenakan di perjalanan. Sat bekerja tetap taati protokol kesehatan, jaga jarak, dan bersihkan AC secara teratur. Penyebabnya karena Corona bisa menular lewat udara yang kotor dan pengap, seperti yang ada di AC yang kotor.

Selain memakai masker, taati juga protokol kesehatan yang lain seperti menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Jangan malah sengaja membuat kerumunan dengan membuat hajatan yang dihadiri sampai ribuan orang, jika tidak mau dibubarkan oleh aparat dan tim satgas penanganan Covid. Jangan marah saat ada satgas karena mereka melakukan tugasnya untuk menumpas Corona di Indonesia.

Taati juga poin dalam protokol kesehatan yang lain seperti mengurangi mobilitas, mengganti baju, menjaga higienitas lingkungan, dan meningkatkan imunitas tubuh. Jangan liburan saat akhir tahun karena takut ada kenaikan kasus Covid ketika mobilitas tinggi. Jaga pula pola makan dengan lebih banyak mengkonsumsi buah, sayur, dan air putih.

Corona varian Omicron memang belum masuk ke Indonesia tetapi kita tidak boleh santai saja. Bisa jadi virus hasil mutasi itu sudah diam-diam diam menulari Anda tanpa sengaja. Tetaplah jaga protokol kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh agar tidak terkena Corona varian apa saja.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Agung Wicaksono )*

Masyarakat diminta untuk tidak kendor menerapkan Prokes meskipun kasus positif virus Corona melandai. Menaati prokes adalah sebuah kewajiban adanya ancaman gelombang ketiga Covid-19.

Sudahkah Anda memakai masker saat akan keluar rumah? Saat ini, masker adalah benda yang wajib dikenakan, karena ia berfungsi untuk menahan laju droplet ketika berkontak dengan OTG. Selain memakai masker, ada juga 9 poin lain dalam protokol kesehatan, dan semuanya wajib ditaati agar tidak kena Corona.

Sayangnya akhir-akhir ini ada yang mulai capek memakai masker dan menaati prokes. Ada pula yang mengenakan masker tetapi posisinya melorot, sehingga percuma karena tidak bisa melindungi hidung dan mulut. Menurut dokter Reisa, masker amat penting karena efektivitas pemakaiannya baru terjadi ketika di 1 tempat minimal ada 75% orang yang mengenakannya.

Bisa jadi yang malas memakai masker dan menaati prokes berkata bahwa saat ini keadaan sudah aman, bahkan mengira pandemi sudah usai. Memang dalam 1-2 bulan terakhir jumlah pasien Covid menurun drastis, menjadi hanya 500-600 orang per harinya. Tidak ada daerah yang berstatus zona merah dan PPKM level 4. Akan tetapi kita harus tetap taat prokes karena pandemi belum selesai.

Justru ketika keadaan aman ada ancaman yang mengintai secara diam-diam. Penyebabnya karena banyak yang mengira Corona sudah minggat dari Indonesia, dan akhirnya tidak taat prokes. Akhirnya ia malah tertular virus Covid-19 dari OTG tanpa disadari, dan keadaannya bisa makin parah karena belum sempat mendapatkan vaksin. Apakah Anda mau bernasib buruk seperti itu gara-gara tidak taat prokes?

Oleh karena itu tetaplah menaati prokes di mana saja, baik dalam perjalanan maupun saat sampai di kantor atau rumah. Anak-anak yang sudah melaksanakan pembelaajran tatap muka (PTM) juga terus diingatkan agar memakai masker dan taat prokes agar tidak membentuk kluster Corona baru.

Menaati prokes sangat gampang, bukan? Penyebabnya karena kita sudah terbiasa melakukannya selama hampir 2 tahun. Saat ini pemakaian masker yang dianjurkan adalah yang 2 lapis: disposable dan masker kain, agar filtrasinya lebih dari 90%. Penyebabnya karena filtrasi yang kuat bisa menahan droplet dari OTG yang kena virus Covid-19 varian delta, yang bisa menular hanya dengan berpapasan.

Selain memakai masker, kita masih harus mencuci tangan atau memakai hand sanitizer agar tetap higienis, jadi jangan lupa untuk membawa 1 botol saat bepergian, dan kalau bisa bawa juga semprotan anti kuman. Saat sampai rumah juga wajib mandi, keramas, dan berganti baju, kalau bisa baju dan celana dicuci dengan air panas agar kuman-kumannya benar-benar mati.

Menjaga kebersihan juga dilakukan di lingkungan rumah dan sekitarnya, karena Corona bisa dengan leluasa hinggap di tempat kotor. Jangan sepelekan sampah dan debu, lebih baik lelah sedikit untuk bebersih daripada kena Corona lalu merana.

Hindari juga kerumunan untuk sementara, karena kita tidak tahu siapa di antara mereka yang berstatus OTG. Kalau misalnya ada undangan, pastikan tempatnya taat prokes dan tidak usah makan di tempat, tetapi saat ini rata-rata semuanya paham dan makanan dibungkus di dalam kotak untuk oleh-oleh. Kurangi juga mobilitas dan hanya pergi untuk urusan penting saja.

Mudah bukan untuk menaati prokes 10M? Sebenarnya semua ini hanya butuh niat, kesabaran, dan ketelatenan. Jangan lupa untuk saling mengingatkan jika ada yang lupa tak pakai masker dan berikan ia sehelai masker disposable. Menaati prokes tidak susah, dan semua ini dilakukan agar tidak kena Corona dan tidak menularkannya ke anggota keluarga.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Jakarta – Presiden Jokowi meminta gubernur di seluruh Indonesia mewaspadai gelombang ketiga Covid-19. Apalagi beberapa bulan lagi, Natal dan Tahun Baru akan datang. Diharapkan, kepala daerah mengimbau masyarakat tidak bepergian saat libur panjang tersebut.
“Saya harapkan dirancang dan direncanakan secara detail sesuai dengan kondisi masyarakat setempat, dengan menghargai norma-norma yang ada dan tetap mematuhi protokol kesehatan, ” kata Jokowi.

Selain itu, presiden juga meminta para kepala daerah terus mendorong vaksinasi terhadap anak-anak, seiring dibukanya sekolah untuk Pembelajaran Tatap Muka (PTM).
“Kewaspadaan harus kita jaga, agar penurunan Covid-19 bisa kita tekan, kita harapkan tidak ada gelombang ketiga di negara kita,” ujar Jokowi.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate meminta masyarakat untuk tetap menaati protokol kesehatan (prokes), khususnya saat menggunakan kendaraan umum. Meski Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) telah dilonggarkan, publik harus tetap waspada COVID-19 masih ada dan mengancam.
“Kita harus tetap waspada untuk menghindari risiko lonjakan kasus COVID-19. Hal ini sudah terjadi di negara-negara Eropa seperti Inggris dan Rusia,” ujar Johnny.

Menkominfo Johnny menambahkan, aktivitas masyarakat dilonggarkan tidak hanya mengacu pada penyebaran Covid-19 yang kian melandai di ibu kota, tetapi karena banyaknya warga di wilayah Jabodetabek yang divaksin Covid-19.
“Pemerintah mengimbau masyarakat untuk disiplin menerapkan prokes ketika melakukan beraktivitas dan bepergian,” ujarnya.

Di samping itu, ia pun mengingatkan masyarakat untuk disiplin menggunakan masker untuk mencegah percikan atau droplet dari hidung dan mulut sendiri maupun orang lain.
“Mari gunakan masker untuk cegah penularan serta menjaga jarak. Jangan berdesakan atau berhimpitan dan juga rajin mencuci tangan,” pungkasnya.