Oleh : Saphira Aulia )*

Masyarakat diharapkan tidak kendor dalam menerapkan Protokol kesehatan 5M walau pandemi sudah berjalan lebih dari setahun. Dengan adanya ketaatan terhadap Prokes ini, maka diharapkan mampu mencegah lonjakan pandemi Covid-19 akibat adanya mutasi virus Corona.

Jumlah pasien corona makin menanjak dan menurut data dari Tim Satgas Covid-19, Per 2 Juli 2021, kasus harian tercatat menjadi 25.830 orang yang terinfeksi virus Covid-19. Jumlah ini tentu menyedihkan karena yang terkena Corona 2 kali lipat daripada bulan mei lalu.
Sebenarnya keadaan buruk ini sudah diprediksi oleh para epidemiolog karena masyarakat nekat mudik dan liburan saat lebaran, dan akhirnya mereka sendiri yang merasakan akibatnya.

Masyarakat akhirnya harus menaati PPKM mikro darurat mulai tanggal 2 hingga 20 Juli 2021. Selain itu, mereka terus dihimbau untuk menaati protokol kesehatan, bukan hanya 3M tetapi juga 5M. Tujuannya tentu agar tidak terkena corona dan menurunkan jumlah pasien Covid di wilayahnya.

Kanit Bimnas Polsek Minasatene Aiptu Basri Udhin Syamsuri saat mengedukasi warga, menyatakan bahwa semua orang harus menaati protokol kesehatan 5M: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan. Tugas TNI dan Polri untuk memutus mata rantai penyebaran corona.

Masyarakat paham bahwa kedatangan aparat ke tengah masyarakat merupakan bentuk perhatian mereka, agar banyak orang yang tahu akan protokol kesehatan. Pasalnya ada yang baru tahu protokol kesehatan 3M padahal sudah direvisi jadi 5M. Ketika ada aparat yang menertibkan kerumunan juga seharusnya bersyukur, bukannya marah, karena tugas mereka adalah menjaga agar protokol dijalankan di lapangan.

Penertiban kerumunan memang lebih diperketat pada PPKM mikro darurat periode ini, agar tidak terbentuk klaster corona baru. Mall dan pertokoan wajib ditutup dan jangan sampai ada yang diam-diam buka dengan menutup bagian depan tetapi bagian belakangnya boleh dimasuki pengunjung. Cafe dan restoran juga dilarang menerima pengunjung yang akan dine in dan hanya boleh melayani via delivery order.

Selain itu, semua orang masih wajib pakai masker, bahkan para dokter menyuruh agar memakai 2 masker sekaligus. Masker medis di dalam dan masker kain di luar. Tujuannya agar mencegah terkena droplet hingga 85%, karena corona varian delta lebih ganas. Untuk menghindari penularannya maka harus ketat menerapkan protokol kesehatan dan jangan pernah lupa pakai masker.

Protokol kesehatan yang kadang dilanggar adalah mengurangi mobilitas. Padahal kita sudah tahu sendiri bahwa pergerakan massal akan meningkatkan jumlah pasien corona. Sehingga harus rela di rumah saja, apalagi selama PPKM wajib work from home. Jangan malah jalan-jalan, daripada nanti kena virus Covid-19.

Disiplin adalah kunci dari kesuskesan penanganan corona. Jika semua orang disiplin cuci tangan, memakai masker, dan menaati protokol kesehatan lainnya, maka akan terhindar dari ganasnya virus Covid-19. Apalagi di Indonesia sudah berear corona varian delta yang merupakan hasil mutasi, dan bekerja lebih cepat dalam menurunkan imunitas tubuh. Anda tentu tak ingin kena corona, bukan?

Oleh karena itu jangan mengeluh ketika protokol kesehatan 5M terus disosialisasikan oleh pemerintah dan tim satgas Covid. Kita ingin segera bebas dari masa pandemi, oleh karena itu wajib menahan diri dengan mengurangi mobilitas dan menaati protokol lainnya. Jangan seenaknya sendiri, karena jika kena corona akan menyusahkan dan menularkan ke lebih banyak orang.

Protokol kesehatan 5M wajib ditaati agar tidak terjangkiti oleh virus Covid-19. Jangan kendor sedikitpun, karena corona varian delta lebih berbahaya dan bisa menular hanya dengan berpapasan dengan OTG. Kita wajib waspada 2 kali lipat dan tetap menjaga imunitas tubuh dan higienitas lingkungan.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Dede Sulaiman )*

Program vaksinasi nasional dimulai pada awal 2021 dan sudah banyak masyarakat yang divaksin. Namun meski sudah divaksinasi, mereka tidak boleh lalai dan melepas masker. Protokol kesehatan harus dijalankan dengan ketat, karena pandemi belum selesai.

Vaksin adalah harapan baru untuk mengakhiri pandemi, karena setelah disuntik, manusia bisa memiliki imunitas tinggi terhadap corona. Jenis vaksin yang sudah masuk di Indonesia adalah Sinovac, AstraZenica, dan lain sebagainya. Semua vaksin sama bagusnya karena memiliki efikasi yang tinggi dan sangat minim efek samping.

Masyarakat yang sudah divaksin diwanti-wanti untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, karena pasca dinjeksi tidak boleh melepas masker begitu saja. Memang vaksin meningkatkan imunitas terhadap corona, tetapi di luar sana masih banyak OTG. Perbandingan orang yang sudah divaksin dengan yang belum, lebih banyak yang belum, sehingga khawatir akan ada droplet yang tersebar dan menularkan corona.

Dokter Muhammad Abdul Hakam, Kepala Dinas Kesehatan Semarang mengingatkan masyarakat untuk taat protokol kesehatan 5M. Pemberian vaksin bukan berarti otomatis kebal penyakit, sehingga masyarakat harus tetap waspada. Memang ada yang terkena corona pasca divaksin, tetapi jumlahnya hanya 1%.

Jika ada pemberitaan mengenai orang yang terinfeksi virus covid-19 padahal sudah divaksin, maka tidak perlu dibesar-besarkan. Penyebabnya karena hal ini akan membuat banyak orang yang takut divaksin, karena merasa percuma. Padahal setelah divaksin, kekebalan akan meningkat dan saat kena corona pun gejalanya sangat ringan serta cepat sembuh.

Mengapa setelah vaksin tidak bisa langsung melepas masker dan melanggar protokol kesehatan lainnya? Penyebabnya karena keadaan baru benar-benar aman setelah terbentuk kekebalan kelompok, sedangkan untuk mencapai keadaan itu syaratnya harus minimal 181 juta WNI yang sudah divaksin. Hanya dengan herd immunity maka melindungi mereka yang belum mendapatkan giliran vaksin.

Menurut data tim Satgas covid, per 3 juni 2021 baru 11 juta orang yang divaksin covid, sehingga belum ada 10% dari target herd immunity. Untuk mencapai keadaan ini maka butuh waktu yang cukup lama, tetapi pemerintah mentargetkan agar hanya dalam 12 bulan saja, program vaksinasi nasional akan cepat selesai.

Taatilah protokol kesehatan tidak hanya 3M, tetapi juga 5M. Memakai masker yang sekali pakai lebih disarankan oleh para dokter, karena lebih efektif dalam menahan penularan corona delta, yang lebih ganas dari varian biasa. Masker ini hanya ampuh selama 4 jam saja, maka bawalah masker cadangan saat sedang keluar rumah. Setelah dipakai maka masker harus dirusak agar tidak disalahgunakan.

Mencuci tangan juga wajib dilakukan, baik saat baru masuk rumah maupun ke tempat umum. Bisa diganti dengan hand sanitizer jika memang tidak ada keran air, tetapi lebih efektif untuk mencuci tangan dengan sabun antiseptik.

Selain itu, menjaga jarak dan menghindari keramaian adalah 2 poin dalam protokol kesehatan yang harus ditaati. Jangan bersalaman walau dengan saudara dekat, karena saat ini semua orang bisa berstatus OTG. Lebih baik memproteksi diri daripada kena corona karena kelalaian sendiri.

Mengurangi mobilitas juga wajib dilakukan dan jangan bepergian kecuali jika ada sesuatu yang penting. Acara liburan ke luar kota bisa ditunda pasca pandemi. Lagipula, sudah banyak hiburan di gadget, jadi hari minggu atau tanggal merah bisa dihabiskan di rumah saja.

Menaati protokol kesehatan 5M masih harus dilakukan walau seseorang telah mendapatkan vaksin corona, karena kekebalan kelompok belum terbentuk. Jangan sembarang melepas masker dan seenaknya traveling, karena situasi masih genting. Apalagi kasus corona makin naik dan jangan sampai kita menjadi pasien berikutnya.

)* Penulis adalah warganet tinggal Bogor

Oleh : Made Raditya )*

Pandemi makin mengkhawatirkan karena virus covid-19 bermutasi menjadi beberapa varian baru. Seperti virus covid B117 dan corona India. Keganasan virus yang bermutasi lebih berbahaya, dan kita wajib untuk lebih waspada. Protokol kesehatan harus benar-benar dijaga agar terlindungi dari segala macam virus covid.

Rasanya semua orang sudah mulai lelah karena didera pandemi berkepanjangan. Efeknya, sebagian dari mereka ada yang lalai dalam menjalankan protokol kesehatan, atau bisa jadi mengira corona tidak terlihat. Sehingga mulai beraktivitas seperti biasa dan lupa untuk menjaga imunitas dan kedisiplinan dalam menjalankan protokol.

Padahal corona tetap ada walau virusnya tak tampak oleh mata telanjang. Bahkan virus covid-19 sudah bermutasi menjadi beberapa varian. Di antaranya tipe B117 yang ditemukan di Inggris dan tipe B1617 yang ditemukan di India. Mutasi virus diklaim lebih berbahaya karena kekuatannya ganda, sehingga bisa menyerang organ-organ tubuh lebih cepat dan ganas.

Untuk menghindari penularan corona dari virus jenis apapun, kita harus taat protokol kesehatan. Jangan melepas masker dengan alasan benda itu menghalangi kecantikan wajah. Padahal masker adalah perlindungan paling penting karena bisa menahan laju droplet yang membawa penyakit corona. Kita tidak pernah tahu siapa yang berstatus OTG ketika berkontak dengan banyak orang.

Protokol kesehatan terbaru adalah 5M, bukan hanya 3M. M yang pertama tentu memakai masker, dan harus yang sesuai dengan standar WHO. Alias jangan yang bertipe scuba atau buff, karena tidak efektif dalam menahan droplet. Memakainya juga harus dalam posisi yang benar, tidak boleh melorot melebihi hidung dan mulut.

Sedangkan M yang kedua adalah mencuci tangan, dan bisa digantikan dengan memakai hand sanitizer. Malah lebih bagus lagi jika kita sampai di rumah lalu langsung mandi, keramas, dan mengganti baju. Pakaian dan masker yang tadi dikenakan langsung dicuci dengan air panas agar steril.

M yang ketiga ini yang sering dikeluhkan banyak orang, yakni menjaga jarak. Pasalnya masyarakat Indonesia terbiasa hidup bersosialisasi dan agak susah untuk tidak bersalaman dan cipika-cipiki. Namun mereka harus diingatkan bahwa corona bisa saja menular saat berkontak dengan OTG walau hanya menyentuh tangannya dan bercakap-cakap sebentar.

Kedua jenis M tambahan dalam protokol kesehatan adalah mengurangi mobilitas dan menghindari kerumunan. Kurangi frekuensi keluar rumah kecuali untuk berangkat kerja dan bersekolah. Belanja sayuran dan sembako bisa via online, dan memang sangat mudah karena hampir semua kebutuhan sehari-hari tersedia di marketplace atau aplikasi.

Mengganti belanja di pasar dengan belanja online adalah salah satu ikhtiar untuk menghindari kerumunan. Karena kita tidak tahu berapa persen orang di sana yang tak mengenakan masker. Sedangkan menurut dokter Reisa Broto Asmoro, efektivitas penggunaan masker baru terjadi saat minimal ¾ orang di suatu tempat memakainya dengan benar.

Jika Anda tidak bisa work from home karena tenaga dan pemikiran sangat dibutuhkan di kantor, maka bisa diakali dengan melakukan pekerjaan di ruangan terbuka. Coba lobi atasan agar pekerjaan dilakukan di halaman belakang kantor yang luas, agar para pegawai bisa menjaga jarak. Karena bekerja di ruangan tertutup juga berbahaya, selain susah menjaga jarak juga ada AC. Padahal udara yang pengap dan ber-AC bisa jadi sarana penularan corona.

Banyak yang bisa kita lakukan untuk melindungi diri dari ganasnya virus covid-19 varian baru. Jangan pernah lupa untuk memakai masker dan menjaga protokol kesehatan yang lain. Kita harus disiplin dalam melaksanakannya dan jangan hanya dihafal. Selain itu, jagalah imunitas dan higienitas tubuh, agar tidak mudah tertular corona.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengingatkan agar protokol kesehatan disiplin dijalankan. Selain itu juga meminta agar pemerintah daerah menggenjot testing dan tracing.

“Kita kembali kita memonitor setiap minggu adanya mutasi baru. Minggu lalu kita ketemu dua lagi mutasi baru. Dua-duanya terjadi di Jawa Timur. Dua-duanya merupakan pekerja migran Indonesia yang datang dari Malaysia. Mereka membawa satu mutasi dari Afrika Selatan dan satu mutasi dari London,” katanya dalam konferensi persnya, Senin (17/5/2021).

Budi mengingatkan penularan dari varian baru ini lebih tinggi. Oleh karena itu, yang harus dilakukan adalah memastikan protokol kesehatan dijalankan dengan baik.

“Memakai masker terutama.Untuk kita sebagai kepala daerah, kepala RT, lurah, kapolda, pangdam, gubernur tolong pastikan protokol PPKM mikronya dijalankan sebaik-baiknya,” ujarnya.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito meminta masyarakat turut serta meringankan beban kerja dokter, perawat, petugas rumah sakit, petugas laboratorium, petugas klinik serta para tenaga kesehatan lainnya. Sebab kelompok tersebut selama pandemi tidak pernah libur dan terus bekerja demi memastikan keselamatan masyarakat.

Untuk itu, masyarakat diminta tetap patuh pada disiplin protokol kesehatan 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan) agar tidak tertular Covid-19. Hal itu juga mesti dilakukan oleh warga yang sudah melakukan vaksinasi Covid-19. Dengan begitu, beban kerja tenaga kesehatan bisa berkurang.

Oleh: Anwar Sanusi (Warganet Kabupaten Bogor)

Dampak mutasi Virus Corona semakin parah, sehingga masyarakat diminta untuk meningkatkan kewaspadaan. Jangan lalai sedikitpun dalam menaati protokol kesehatan, jaga imunitas dan juga higienitas. Karena mutasi virus ini jauh lebih berbahaya dan menular dengan proses yang lebih cepat.

Perayaan Hari Raya Idul Fitri di tengah pandemi Covid-19 harus dilaksanakan dengan Prokes yang ketat agar tidak menimbulkan dampak buruk. Hal tersebut dilakukan tanpa mengurangi esensi Idul Fitri dan juga sejalan dengan pedoman beragama serta kebijakan pemerintah yang saat ini fokus mengantisipasi gelombang Covid-19 pasca Lebaran.

Kekhawatiran ini beralasan setelah melihat perayaan agama di India hingga kemudian menimbulkan tsunami Covid-19 yang membuat pemerintah India sampai kewalahan mengatasinya.

Epidemologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKM) Universitas Gajah Mada, Dr. Riris Andono mengatakan bahwa seharusnya kewaspadaan tinggi dapat meminimalisasi penyebaran virus.

Presiden Jokowi juga mengimbau pemerintah daerah untuk terus mengingatkan masyarakat agar tetap disiplin menjalan protokol kesehatan dan terus memiliki kewaspadaan serta kesigapan tinggi termasuk mematuhi larangan mudik.

Alasan yang menjadi dasar diberlakukannya kebijakan larangan mudik tahun ini dikarenakan meningkatnya angka penularan dan kematian pasca libur panjang Natal dan tahun baru.

Persentasi kenaikan kasus pada setiap libur panjang dari 37-93 persen dan persentasi kenaikan kematian mencapai 6-75 persen. Oleh karenanya, pemerintah mengambil kebijakan larangan mudik yang dimulai pada 6 Mei 2021 hingga 17 Mei 2021 guna mencegah kejadian serupa. Tidak ada lain, kebijakan tersebut demi melindungi keselamatan seluruh masyarakat.

Ketua Satgas Covid-19, Doni Monardo mengatakan bahwa tren penurunan kasus Covid-19 terjadi disejumlah provinsi lain. Selain itu, Doni juga menyebutkan bahwa setiap libur panjang selalu diikuti oleh peningkatan kasus positif dan kematian, terlebih pada libur Lebaran tahun lalu. Menurutnya, tren penuruanan kasus adalah tren terbaik pada tahun ini, maka masyarakat diharapkan untuk mematuhi kebijakan protokol kesehatan disetiap daerah.

Jagalah higienitas, imunitas, pakai masker, dan selalu ingat untuk cuci tangan. Semoga kita semua terbebas dari ancaman Virus Corona apalagi potensi gelombang kedua penyebaran Covid-19.

Pemerintah tentu tidak dapat mengatasi pandemi ini sendiri tanpa adanya kerja sama dengan masyarakat. Pemerintah sudah memberikan kelonggaran untuk beraktivitas dengan mematuhi protokol kesehatan dan diharapkan terus dilakukan agar kurva peningkatan kasus Covid 19 tidak kembali meningkat.

Tingkat kewaspadaan masyarakat tidak boleh memudar dan kedisiplinan masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan sangat memberikan pengaruh pada tren punurunan kasus. Tetap semangat dan pantang menyerah dalam menghadapi pandemi ini. Melalui kebersamaan yang kuat, Indonesia pasti akan segera terbebas dari pandemi.

Oleh : Alfisyah Dianasari )*

Virus corona makin mengkhawatirkan karena bermutasi ganda, sehingga cepat sekali menyebar dan menginfeksi manusia.  Di sisi lain, banyak masyarakat yang nekat mudik meskipun Pemerintah telah sekuat tenaga melarang warga  pulang ke kampung halaman saat idul Fitri karena dikhawatirkan akan meningkatkan lonjakan kasus baru Covid-19.

Liburan Panjang dan momentum Idul Fitri sering dimanfaatkan sebagian masyarakat untuk melakukan mudik ke kampung halaman. Namun demikian, tren tersebut berpotensi besar untuk meningkatkan kasus Covid-19 sebagaimana yang pernah terjadi sebelumnya.

Penyekatan untuk mencegah pemudik, cukup efektif dalam mencegah masyarakat dari luar daerah kembali ke kampung halaman. Namun, faktanya banyak pula orang yang memaksakan mudik dan lolos dari pos penyekatan.

Hal tersebut berisiko akan adanya masyarakat yang terpapar Covid-19 saat dalam perjalanan kembali dari kampung halaman. Di sisi lain, momentum momen Idulfiri juga sering dimanfaatkan bersilaturahmi kepada sanak saudara juga tetangga. Jika tidak disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan, maka risiko terpapar Covid-19 juga menjadi tinggi.

Ketua Tim Mitigasi Dokter Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Adib Khumaidi mengatakan agar seluruh fasilitas pelayanan kesehatan serta dokter dan tenaga kesehatan menyiapkan ketersediaan ventilator, obat-obatan, alat pelindung diri (APD), dan tempat tidur dalam 1-2 bulan ke depan. 

Kekhawatiran tersebut cukup beralasan karena selain adanya mobilitas penduduk yang tinggi, masyarakat juga rentan terpapar varian baru yakni corona mutasi ganda. Virus hasil mutasi ini ditemukan di India dan terbentuk karena masyarakatnya tidak menjaga protokol kesehatan. Mereka nekat melakukan ritual di Sungai Gangga, berdesak-desakan dan tanpa masker, sehingga penyebaran corona menggila. Bahkan dikabarkan ratusan orang langsung meninggal dunia per harinya.

Mutasi virus covid-19 memang berbahaya karena ia bermutasi ganda, dalam artian penyebaran dan penularannya 2 kali lipat. Sedihnya, virus ini sudah masuk ke Indonesia dan ada 2 orang di Tangerang selatan yang terinfeksi. Kita tentu tidak ingin tertular, sehingga harus melakukan protokol kesehatan dengan ketat.

Menurut dokter Devia Putri, protokol kesehatan ditambah, bukan lagi 3M tetapi 5M. Kelimanya adalah: mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak minimal 2 meter, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas. Kita wajib melakukan semua 5M dan tidak boleh lupa salah satunya, agar aman dari serangan corona mutasi ganda.

Mengapa protokol kesehatan ditambah 2 poin sehingga jadi 5M? Penyebabnya karena masih banyak yang mengabaikan 3M, apalagi 5M. Kalau mereka sudah memakai masker maka menganggap semua akan aman-aman saja, lalu melenggang bebas dan masuk ke dalam pasar. Padahal pengunjung bertumpuk sehingga tidak bisa menjaga jarak.

Menghindari kerumunan sangat penting karena menurut penelitian WHO, virus covid-19 bisa menyebar di tempat yang sempit, kotor, dan pengap. Ketika ada gerombolan orang, maka otomatis udaranya jadi sesak, sehingga amat rawan jadi tempat penyebaran corona. Oleh karena itu, protokol untuk menghindari kerumunan diciptakan, agar menyempurnakan protokol menjaga jarak.

Kerumunan memang rawan dan kita juga jangan sampai membuat klaster baru dengan nekat mengadakan acara yang mengundang banyak orang, termasuk acara halal bi halal. Di masa pandemi, semua harus sadar diri karena ancaman dapat meningkat apabila kita abai.

Selain mencegah kerumunan, hindari juga mobilitas yang berlebihan. Jika Anda terpaksa bepergian, maka sudah sepatutnya melakukan karantina. Tujuannya agar mengamankan istri dan anak-anak dari penularan corona saat Anda berkendara, dan jangan sampai mereka terkena virus mutasi ganda.

Protokol kesehatan 5M dibuat agar masyarakat aman dari penularan corona. Jangan abaikan fakta bahwa saat ini pandemi masih berlangsung. Apalagi ada virus covid-19 hasil mutasi ganda dan sudah masuk ke Indonesia. Kita harus meningkatkan kewaspadaan, mematuhi protokol kesehatan, menjaga higienitas dan imunitas tubuh.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Depok

Oleh : Reza Pahlevi )*

Tahun ini pemerintah menyarankan masyarakat untuk berlebaran di rumah saja. akan tetapi, masih ada yang bandel dan nekat untuk mudik. Padahal pergerakan massa seperti saat pulang kampung amat berbahaya karena bisa meningkatkan jumlah pasien corona. Dari pemudik yang dites massal, ketahuan sebagian dari mereka positif covid. Kita harus ekstra hati-hati agar tak tertular.

Kita sudah melewati 2 kali ramadhan dan lebaran di tengah pandemi, dan rasanya menyesakkan dada karena tidak bisa pulang ke kampung halaman. Akan tetapi, larangan pemerintah untuk tidak mudik harap dilihat sebagai sesuatu yang positif, karena serangan corona masih menggila. Daripada menularkan virus covid-19 ke orang tua di kampung, lebih baik sabar dan berlebaran di rumah saja.

Akan tetapi, ada sebagian masyarakat yang nekat untuk pulang kampung. Tim satgas covid-19 memperkirakan ada 7% warga sipil yang memilih untuk berlebaran di rumah orang tuanya. Ketika ada larangan mudik dan penyekatan jalan, mereka nekat beramai-ramai pergi dengan sepeda motor dan menerabas pembatas, dan tidak menghiraukan peringatan dari aparat yang berjaga.

Kenekatan para pemudik ini yang harus kita waspadai, karena pergerakan massa bisa menyebabkan klaster corona baru. Apalagi jika mereka berasal dari wilayah zona merah, akan bisa membawa bibit virus covid-19 dan menularkannya di kampung. Jika ada banyak pasien corona baru, kapan pandemi akan berakhir?

Teori ini terbukti ketika ada pengetesan rapid massal kepada para pengendara yang nekat untuk mudik. Sebanyak 4.000 orang positif corona dan harus isolasi mandiri. Jika mereka marah saat dicegat petugas, maka sebenarnya malah diselamatkan. Karena ketahuan kena corona sejak awal dan bisa diobati agar lekas sembuh.

Para pemudik yang positif corona tidak merasakan gejala apa-apa alias jadi OTG. Bayangkan jika mereka tidak dites secara acak lalu menularkan corona pada orang tuanya. Maka penularan akan makin menghebat dan mereka yang sudah sepuh bisa dengan mudah drop, lalu kemungkinan terburuknya adalah meninggal dunia. Karena rata-rata orang tua sudah punya penyakit bawaan.

Untuk mencegah ledakan covid, selain taat untuk berlebaran di rumah saja, kita juga harus tegas dalam menolak kedatangan tamu. Walau tetangga sendiri, maka umumkan dengan ketulusan hati bahwa tahun ini tidak ada open house, karena takut menimbulkan kerumunan dan tak bisa menjaga jarak. Lebih baik mencegah penularan corona dari lingkungan terdekat daripada mengobatinya.

Untuk menggantikan silaturahmi, maka selain video call, kita juga bisa mengirim parcell atau hantaran makanan kepada tetangga, rekan kerja, atau saudara. Mereka akan sangat senang karena mendapatkan kejutan manis. Dengan cara ini, maka tali silaturahmi masih terjaga dan juga berpahala karena membuat orang lain bahagia.

Cara lain untuk mencegah penularan corona saat libur lebaran adalah dengan berdisiplin untuk di rumah saja. Meski ada restoran, Mall, dan tempat umum lain yang buka, tetapi kapan-kapan sajalah pergi ke sana atau menunggu pandemi selesai. Karena di tempat seramai itu, kita tidak bisa menjamin apakah ada OTG. Selain itu, hal ini termasuk protokol kesehatan 5M yakni menghindari keramaian.

Mencegah penularan corona dengan tidak makan bersama di restoran wajib ditaati. Karena saat mengkonsumsi nasi dan kawan-kawan, otomatis akan melepas masker. Jika ada 1 saja OTG di sana, apa mau tertular virus covid-19? Jadi lebih baik delivery order daripada dine in.

Ingatlah bahwa jumlah pasien corona di Indonesia masih 1,7 orang dan jangan sampai Anda jadi pasien berikutnya. Sayangilah nyawa satu-satunya dengan menaati aturan: tidak pulang kampung, tidak mengadakan open house, dan mengurangi bepergian keluar rumah. Taatilah protokol kesehatan dan semoga kita semua bebas corona. 

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Kepala Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengimbau kepada seluruh kalangan agar penegakan disiplin protokol kesehatan harus dilakukan secara komunal dan kolektif, terutama menjelang Idul Fitri 1442 Hijriah. “Ini harus ada upaya bersama dari seluruh pihak, jangan lelah untuk mengingatkan seluruh orang agar terus disiplin. Disiplin ini harus komunal dan kolektif,” ujar Doni pada Forum Merdeka Barat 9, di Jakarta, Rabu (5/5).

Doni menegaskan memang tidak ada jaminan orang yang disiplin protokol kesehatan tidak akan terpapar Covid-19. Seperti halnya dirinya yang terpapar virus SARS-CoV-2 saat menangani gempa di Mamuju, Sulawesi Barat. Namun ia mengingatkan transmisi Covid-19 dapat berpotensi terjadi di tempat-tempat keramaian seperti di transportasi umum, terminal bus dan bandara.

Selain itu, sumber penularan tidak hanya dari penularan langsung secara fisik dari manusia ke manusia. Oleh karenanya, membatasi jarak sosial juga membatasi pertemuan-pertemuan orang menurut Doni adalah langkah yang paling efektif untuk terhindarnya Covid-19.

Sayangnya, penerapan protokol kesehatan tersebut dinilai Doni masih belum optimal. Bukan hanya terjadi di Indonesia namun bahkan di banyak negara negara maju masih banyak yang tidak percaya Covid-19.

Doni memaparkan Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, 17 persen dari seluruh penduduk Indonesia, diperkirakan sekitar 40 juta orang tidak percaya Covid-19. Padahal Covid-19 telah membunuh jutaan orang di seluruh dunia, dan banyak warga Indonesia menjadi korban. Bahkan, persentase kematian orang yang terpapar Covid-19 meninggal sekitar 80 persen merupakan pasien dengan usia di atas 47 tahun.

Doni mengatakan dasar hukum penegakan protokol kesehatan serta larangan mudik yang pertama dari aspek global yakni Salus Populi Suprema Lex Esto atau keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi, pembukaan Undang-undang Dasar 1945, dan hukum agama yang mendahulukan yang wajib daripada yang sunnah. Doni mengatakan, silaturahmi liburan dan aktivitas lainnya sifatnya adalah sunnah. Sementara yang wajib adalah menjaga kesehatan dan menjaga keselamatan jiwa.

Oleh : Deka Prawira )*

Sulitnya sebagian masyarakat untuk menaati protokol kesehatan membuat tim satgas covid pusing, karena mereka ogah kena corona tetapi malas pakai masker. Sosialisasi tentang pentingnya diisplin pakai masker dan protokol lain harus digencarkan. Tujuannya agar jumlah pasien covid menurun drastis dan kita bisa bebas dari fase pandemi.

Pada awal pandemi, bulan maret 2020, masyarakat ketakutan bahkan paranoid. Kita tidak berani pergi ke luar rumah, bahkan ke teras sekalipun. Semua orang berebut untuk membeli masker, bahkan harganya melonjak drastis. Herbal seperti jahe dan kunyit juga diborong karena diklaim bisa menyembuhkan corona.

Akan tetapi, ketika PSBB dinyatakan selesai dan diganti dengan pembatasan mikro, tingkat ketakutan mulai menurun. Tempat umum seperti pasar dan supermarket mulai dibuka, dengan syarat harus memenuhi protokol kesehatan. Masyarakat mulai berani pergi keluar rumah dan menyetok banyak masker disposable.

Sayangnya lama-lama kita seperti kena amnesia dan lupa bahwa saat ini masih ada ancaman corona. Mulai ada sebagian masyarakat yang malas pakai masker, karena merasa pandemi sudah selesai. Alasannya, ia dan keluarganya sehat-sehat saja. Padahal bisa saja mereka tertular dari OTG dan akhirnya kena corona, dan ketika sudah fatal (paru-paru berdarah) baru menyesalinya.

Presiden Jokowi menyatakan bahwa orang yang tidak taat protokol kesehatan bukannya makin sedikit, tetapi makin banyak. Penyebabnya adalah sosialisasi yang kurang efektif. Sementara ahli epidemiologi menambahkan, selama ini sosialisasi protokol kesehatan hanya bersifat 1 arah (diseminasi), sehingga kurang efektif.

Presiden Jokowi menambahkan, agar sosialisasi protokol makin efektif, maka perlu digencarkan lagi melalui PKK. Diharap dengan penjelasan dari kader PKK, masyarakat akan lebih taat protokol. Dalam artian, Presiden ingin agar semua WNI berdisiplin, agar mereka tidak terkena corona.

Sosialisasi corona melalui PKK diharap lebih efektif, karena kebanyakan orang akan merasa sungkan saat diberi tahu oleh kader yang notabene lebih senior. Ibu-ibu akan lebih tertib memakai masker, tak hanya saat belanja ke pasar, tetapi ketika menyiram bunga di halaman juga mengenakannya.

Jika yang disasar para ibu, maka otomatis suami dan anak-anaknya akan mengikuti. Karena para bocah akan meniru ibu mereka dan suami yang sayang akan menuruti nasehat istrinya. Sehingga dari 1 orang yang diberi sosialisasi, berefek pada minimal 2 orang lain.

Sosialisasi mengenai pentingnya memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak masih perlu dilakukan walau kita sudah setahun didera pandemi. Penyebabnya karena jumlah pasien corona per hari mencapai 4.900 orang dan total pasien lebih dari 1,5 juta orang di Indonesia (data tangal 19 april 2021). Logikanya, saat semua tertib, tentu tidak ada yang sakit dan jumlah pasien menurun.

Kenaikan jumlah pasien corona tentu mengejutkan. Pasalnya, beberapa minggu lalu jumlah pasien covid ‘hanya’ 4.000 orang, namun malah melonjak menjadi hampir 5.000 orang per harinya. Hal ini sangat miris karena penularan corona dilakukan oleh OTG yang tidak tertib protokol. Sementara korbannya adalah para bayi dan balita, serta lansia, karena lebih rawan kena corona.

Oleh karena itu, mari kita tetap disiplin dalam menaati protokol kesehatan. Bukan hanya demi keselamatan diri sendiri, tetapi juga keselamatan orang lain, terutama keluarga tercinta. Jangan sampai kita malas pakai masker saat naik sepeda motor dan akhirnya jadi OTG, lalu menulari anak-anak di rumah.

Berdisiplin untuk menaati protokol kesehatan tidak susah, asalkan kita niat untuk menghindari corona. Harga masker juga terjangkau dan masker disposable makin mudah ditemukan di minimarket, begitu juga dengan hand sanitizer. Taatilah protokol agar jumlah pasien corona menurun dan pandemi lekas berakhir.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Firza Ahmad)*

Persidangan Rizieq Shihab terus berlanjut dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi. Keterangan para saksi tersebut cenderung menguatkan dakwaan bahwa Rizieq melanggar Prokes di masa pandemi Covid-19.

Proses peradilan Rizieq Shihab masih berlanjut, Berdasar BAP para saksi dari penyidik Bareskrim Polri tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) membuat dakwaan dan menentukan pasal-pasal disangkakan kepada Rizieq Shihab dalam perkara dugaan tindak pidana karantina kesehatan.

Sementara itu, Tim Kuasa Hukum terdakwa Rizieq Shihab menyatakan siap berhadapan dengan para saksi yang dihadirkan JPU dalam sidang lanjutan perkara dugaan tindak pidana karantina kesehatan.

Anggota tim kuasa hukum Rizieq Shihab, Azis Yanuar mengatakan pihaknya sudah mempersiapkan diri berhadapan dengan saksi-saksi yang dihadirkan pada sidang pemeriksaan hari senin 12/4/2021.

Dirinya mengakui bahwa pihaknya telah membongkar BAP (Berita Acara Pemeriksaan), satu per satu. Kemudian keterangan-keterangan keterangan yang nanti hadir ini kurang lebih ada 11 orang.

Bongkar BAP yang dimaksudkan adalah, mempelajari salinan BAP saat para saksi memberi keterangan kepada penyidik Bareskrim Polri sebelum berkas perkara dilimpahkan ke Kejaksaan Agung dan dinyatakan P21.

Saksi polisi yang dimaksud oleh Azis adalah Kombes Heru Novianto yang merupakan eks Kapolrestro Jakarta Pusat yang menjabat saat Rizieq Shihab menggelar kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan acara pernikahan putri Rizieq Shihab pada November 2020 lalu.

Sementara pihak dari Pemda di antaranya eks Wali Kota Jakarta Pusat Bayu Meghantara yang juga menjabat kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan acara pernikahan putri Rizieq Shihab.

Keduanya merupakan bagian dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jakarta Pusat yang disebut JPU sudah memperingatkan Rizieq Shihab agar menggelar kegiatan sesuai protokol kesehatan.

Azis menuturkan Rizieq Shihab yang kini ditahan di Rutan Bareskrim Polri dalam keadaan sehat dan siap menjalani rangkaian sidan selama bulan Ramadhan 1442 Hijriah atau sembari menunaikan ibadah puasa.

Pada kesempatan berbeda, Wali Kota Bogor Bima Arya sempat dihadirkan dalam persidangan sebagai saksi. Namun keterangan yang diberikannya dicap bohong oleh Rizieq Shihab.

Menanggapi hal tersebut, Bima mengatakan bahwa pernyataannya di dalam persidangan sudah sesuai. Ia menekankan bahwa apa yang disampaikan oleh Rizieq Shihab memang tidak benar.

Rizieq sebelumnya mengatakan bahwa dirinya sudah bugar dan memutuskan pulang dari RS Ummi pada sabtu 28 November 2021.

Pakar hukum, Refly Harun menyebutkan Wali Kota Bogor Bima Arya akan masuk sejarah karena menjadi orang yang memenjarakan Rizieq Shihab.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto juga tampak tidak gentar menghadapi kemarahan eks pentolan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab dalam sidang kasus tes swab RM Ummi Kota Bogor di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Bima bersaksi, bahwa apa yang Rizieq Shihab sampaikan saat di Rumah Sakit UMMI bahwa beliau sehat dan sebagainya itu memang tidak sesuai.

Sebab, berdasarkan hasil pemeriksaan di RS Ummi, diketahui jika Rizieq Shihab terbukti positif Covid-19. Tim dokter juga menyampaikan kepada Rizieq tadi, bahwa dia di Rumah Sakit Ummi itu antigennya sudah positif dan kemudian terindikasi Covid juga ada, artinya memang tidak sehat.

Kemudian, ia mengatakan pihaknya menindaklanjuti hasil tes tersebut dengan melakukan langkah-langkah antisipatif.

Bima mengatakan, bahwa hal inilah yang harus diantisipasi, karena dirinya harus memutus rantai penularan, apapun itu. Lebih lanjut, ia juga menjawab pernyataan kubu Rizieq yang menyebut dirinya mengumumkan hasil swab HRS ke publik.

Tentu pihaknya tidak ingin mengumumkan namanya, Namun, pihaknya berjalan sesuai dengan prosedur yang berlaku. Paling tidak protokolnya saja setiap hari dirinya harus mengetahui, berapa jumlah probable, posible terkonfirmasi berapa, suspect berapa. Kalaupun Rizieq Shihab suspect covid-19, tentu harus dilaporkan.

Bima juga menyatakan, sejumlah alasan dirinya melaporkan kasus ini ke Polisi. Namun dirinya menegaskan tidak ada unsur politik di dalamnya.

Dalam perkara tersebut Rizieq dijerat dengan pasal 14 ayat (1), ayat (2), Pasal 15 undang-undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang peraturan hukum Pidana dan/atau Pasal 14 ayat (1), ayat (2) undang-undang RI Nomor 4 tahun 1984 tentang Wabah penyakit menular dan/atau pasal 216 KUHP jo Pasal 55 ayat ke-1 KUHP.

Rizieq Shihab yang telah melakukan pelanggaran terhadap protokol kesehatan memang harus mendapatkan ganjarannya. Tentu saja setelah melalui berbagai persidangan.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Bogor