Kasus rasisme yang melibatkan Natalius Pigai dikhawatirkan akan menimbulkan berbagai konflik lain yang mengancam kamtibmas di wilayah Papua. Untuk itu, Kepala Suku Jayawijaya, Abner Wetipo SH, meminta masyarakat untuk tetap tenang dan menjaga situasi keamanan di wilayah Papua.

“Menyikapi kejadian ini kami himbau kepada saudara-saudara kami tetap tenang dan tidak perlu ada kekhawatiran karena kasus ini sudah ditangani oleh aparat Kepolisian” kata Abner Wetipo. Pihaknya berharap, pelaku diproses hukum secara transaparan dan tidak boleh mendapatkan perlakuan khusus serta campur tangan pihak lain agar masyarakat Papua bisa puas dengan hasil keputusannya.

“Saya mengajak seluruh kepala-kepala suku dan tokoh-tokoh masyarakat mendukung aparat kepolisian untuk memproses pelaku sesuai dengan hukum yang berlaku,” katanya.

Lanjut Abner Wetipo, dia juga meminta kepada para adik-adik Mahasiswa dan tokoh-tokoh pemuda tidak melakukan tindakan yang tidak perlu untuk menghindari timbulnya permasalahan lain. “Kami sebagai kepala suku mengharapkan agar himbauan ini diteruskan kepada yang lain sehingga kita bisa menciptakan situasi yang kondusif untuk menjadikan Papua tanah yang damai” tutupnya.

Sebelumnya, Kepala Suku Mee di Kabupaten Mimika, Piet Nawipa, mengatakan dirinya mengajak semua komponen masyarakat untuk bersama-sama menciptakan kedamaian di wilayah Papua, tanpa ada lagi konflik dan kekerasan yang terjadi.

“Harus ada kerja sama yang harmonis antara pemerintah daerah, tentara, polisi, dengan masyarakat dari berbagai suku. Jadi ada kerjasama antara aparat dengan masyarakat dan semua pihak, agar menciptakan kedamaian di Bumi Cendrawasih”, tutur Piet Nawipa. Dirinya juga menegaskan bahwa masing-masing suku di Papua juga dituntut untuk menjaga dan melindungi masyarakat akar rumputnya.

Oleh : Rebeca Marian )*

Kasus rasisme yang mengakibatkan Natalius Pigau merasa sudah mereda. Dewan adat Papua pun meminta agar masyarakat tidak tersulut emosi, agar tidak ada peperangan lagi di Bumi Cendrawasih.

Politisi Ambroncius Nababan menghebohkan publik karena tega memajang foto Natalius Pigai yang diedit, sehingga berdampingan dengan gorila. Walau Ambroncius melakukannya karena mengaku kesal, setelah Pigai menolak vaksinasi, namun tindakannya tentu salah. Karena ia terbukti melecehkan dan menghina Pigai secara terbuka.

Kasus ini bisa merembet ke mana-mana karena menyangkut isu SARA. Apalagi Ambroncius Nababan dan Natalius Pigai berbeda suku. Sehingga jika kasus ini terus di-blow up, bisa berbahaya dan menyebabkan peperangan. Orang Indonesia amat sensitif terhadap isu SARA, sehingga kasus ini harus segera diselesaikan.

Sekretaris II Dewan Adat Papua, John Gobay, meminta agar masyarakat di Bumi Cendrawasih tidak terprovokasi oleh ulah Ambroncius. Ia percaya polisi bisa menyelesaikan kasus ini hingga tuntas. Hal ini ia utarakan saat berada di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Papua. Gobay mewakili Pigai untuk melaporkan tindakan Ambroncius.

Tindakan Dewan adat amat tepat, karena isi SARA sangat berbahaya, apalagi di Papua yang notabene pernah kacau akibat peperangan antar suku. Ketika Dewan adat mengademkan suasana, maka warga sipil menahan diri dan tidak melakukan tindakan yang bergejolak. Mereka mengkuti instruksi untuk stay cool dan tidak terprovokasi.

Meski sudah minta maaf kepada Pigai dan seluruh masyarakat Papua, namun Ambroncius tetap bersalah. Polisi berusaha menyelesaikan kasus ini, karena bukan sekadar permasalahan biasa. Melainkan kasus yang menyangkut isu SARA dan cyber bullying. Apalagi baik Ambroncius maupun Nababan adalah tokoh masyarakat, sehingga cukup memiliki pengaruh di depan publik.
Sementara itu, Kenan Sipayung, Ketua Kerukunan Masyarakat Batak Provinsi Papua, mengecam keras tindakan Ambroncius. Menurutnya, ujaran kebencian yang dilakukan oleh Ambroncius Nababan adalah tindakan pribadi, dan bukan mewakili suku Batak secara keseluruhan. Ambroncius terbukti merusak citra masyarakat Batak di Indonesia.

Akibat ulah Ambroncius Nababan maka nama baik suku Batak tercoreng. Padahal mereka adalah orang baik-baik, namun bagaikan nila setititik rusak susu sebelanga, Ambroncius mengacaukannya. Jangan sampai orang Batak jadi identik dengan hal yang negatif, karena mereka adalah WNI yang taat peraturan, dan hanya ada sedikit sekali oknum seperti Ambroncius yang error.

Kenan Sipayung melanjutkan, ia ingin agar polisi segera menyelesaikan kasus ini dan menangkap Ambroncius secepatnya. Kasus rasisme ini terbukti melanggar Undang-Undang yang berlaku. Memang akhirnya aparat bergerak cepat dan mencokok Ambroncius, namun sayang ia masih menolak untuk menandatangani surat penahanannya. Karena merasa yang dilakukan hanyalah satire.

Meski menolak untuk tanda tangan, namun Ambroncius masih bisa diperkarakan. Walau bukti yang tersedia hanya berupa screenshot foto editan Pigai, namun sudah cukup untuk mengantarkannya ke meja hijau. Ia tak bisa berkelit lagi, karena sudah banyak sekali netizen yang melihat foto tersebut.

Kasus rasisme ini wajib diusut sampai tuntas, karena menyangkut 2 suku yang berbeda. Jangan sampai kerukunan antar suku di Indonesia rusak oleh ulah oknum seperti Ambroncius. Jika Piga menolak untuk divaksinasi, maka biarlah Tim Satgas yang menanganinya. Ia tak usah merusak suasana dengan melakukan bullying.

Kasus rasisme yang menyangkut 2 tokoh yang berbeda suku ini sangat memusingkan. Masing-masing pihak berusaha mendinginkan suasana, agar tidak ada peperangan ke depannya. Isu SARA amat sensitif dan janganlah digaungkan kembali. Karena tiap WNI yang baik tentu menghormati satu sama lain.

)* Penulis adalah mahasiswi Papua tinggal di Jakarta

Publik dihebohkan kasus rasisme yang menjerat Ambroncius Nababan terhadap aktivis Bumi Cenderawasih Natalis Pigai di media sosial. Ujaran kebencian ini memantik sejumlah pihak termasuk warga yang tinggal di Papua. Tidak hanya itu, tokoh adat Papua John Gobay meminta Polri menangkap pelaku rasis.

“Tadi kami sudah bertemu dengan Kapolda Papua untuk melaporkan kasus rasisme tersebut. Kami meminta Kapolda untuk segera menangkap Ambroncius Nababan dan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia,” ujar John Gobay.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Provinsi Papua Jery Yudianto, mengatakan dirinya mengimbau masyarakat Bumi Cenderawasih untuk tidak terprovokasi isu rasisme yang belakangan marak diperbincangkan. Hal itu diperlukan untuk menjaga wilayah Papua tetap kondusif. “Masyarakat Papua diharapkan dapat bersikap sabar dan tidak mudah diprovokasi,” ucapnya.

Menurut Jery, masyarakat juga dapat lebih bijak menggunakan media sosial, khususnya terkait isu rasisme tersebut. “Mari kita serahkan penanganan kasus rasisme ini kepada pihak yang berwajib,” ujarnya.

Dia menjelaskan dengan kondisi masyarakat yang tenang dan bersabar maka tidak akan mudah diprovokasi sehingga ketertiban serta kenyamanan di wilayah Papua tetap kondusif.”Jangan sampai kasus kerusuhan sebelumnya terulang lagi, sehingga harus lebih bijak menanggapinya,” tambahnya.

Sebelumnya Kapolda Papua, Irjen Pol Paulus Waterpauw, imbau masyarakat di Bumi Cenderawasih tak terprovokasi dengan dugaan rasisme yang ditujukan kepada Natalius Pigai yang viral di facebook.

Paulus Waterpauw menuturkan menanggapi ujaran rasisme ini, sejumlah elit di Papua melakukan petisi untuk mendorong aparat keamanan melakukan proses hukum.

“Isu ini sudah ditanggapi dan dijawab melalui sinergi bersama di Papua dan Papua Barat, termasuk oleh Mabes Polri. Kami sudah melaporkan setiap perkembangan kepada pimpinan dan isu ini menjadi atensi pimpinan dan tetap akan dilakukan proses hukum,” ujar Paulus.

Kata Paulus selain kepada pelaku, proses penegakan hukum juga dilakukan kepada mereka yang ikut memviralkan adanya ocehan kepada Natalius Pigai yang dianggap rasis. “Hari ini pelaku akan diamankan ke Mabes Polri untuk diproses hukum. Saya berharap kepada rekan-rekan media untuk sampaikan kepada publik agar tidak lagi membuat aksi, karena para pelaku akan di proses hukum,” terangnya.