Oleh :Faradiba Susilowati )*

Pemerintah terus optimal dalam menyediakan vaksin Covid-19 ke Indonesia. Kedatangan vaksin tersebut pun dilakukan secara bertahap, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir dengan kelangkaan vaksin.

Siti Nadia Tarmizi selaku juru bicara vaksinasi covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menjelaskan persoalannya bukan karena vaksin covid-19 mengalami kelangkaan atau pengiriman terputus dari negara produsen.           Tetapi memang pengiriman vaksin dari luar negeri tersebut bertahap. Juli ada 25 juta dosis. Agustus 30-40 juta dosis. September 30-40 juta dosis.

            Pada bulan Oktober pemerintah memiliki banyak stok sekitar 70-80 juta dosis. Sehingga memang kita dalam melakukan vaksinasi harus bertahap, sesuai ketersediaan.          Siti Nadia mengatakan bahwa saat ini program vaksinasi Covid-19 sudah menyasar semua umur, termasuk usia 12 tahun ke atas.

            Kemudian, animo masyarakat untuk mengikuti vaksinasi semakin tinggi, karena meningkatnya laju kasus positif covid-19. Selain itu, sertifikat vaksin covid-19 jadi syarat wajib perjalanan jarak jauh.

            Tingginya animo masyarakat untuk mengikuti vaksinasi Covid-19 sangat baik. Tapi hal tersebut bukan masalah utama kelangkaan vaksin Covid-19 di beberapa daerah. Permasalahan utama yang sebenarnya adalah karena memang vaksinnya belum datang semuanya. Indonesia membutuhkan vaksin sebanyak 426 juta dosis. Namun yang diterima saat ini baru 130 juta dosis.

            Siti Nadia menuturkan, dari 130 juta dosis 68 juta dosis sudah didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia. 61 juta sudah tervaksinasi. Dari 68 juta yang terdistribusi sudah pasti ada sisa, mungkin sekitar 5%. Sehingga, sudah 65 juta dosis yang terpakai. Yang masih di gudang-gudang farmasi kurang lebih 5 juta. Sisanya terdapat 65 juta saat ini di gudang Biofarma.

            Dia melanjutkan, dari 65 juta dosis di gudang Biofarma, 30 juta di antaranya masih dalam bentuk setengah jadi, yang perlu diproduksi selama 3-4 pekan ke depan. Sebanyak 30 juta dosis dalam proses pengujian mutu dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

            Siti menilai bahwa Biofarma perlu mempercepat produksi, BPIM harus mempercepat pengujian mutu. Di sisi lain memang jumlah vaksin yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan kita, karena vaksin datangnya bertahap.

            Ia menuturkan, 50% dosis vaksin covid-19 didistribusikan ke tujuh provinsi di Pulau Jawa dan Bali. Sebab, kasus Covid-19 di Jawa dan Bali cukup tinggi. Sisanya disebar ke 27 provinsi di luar Jawa Bali. Sehingga pembagiannya akan berbeda-beda.

            Di samping itu, jumlah vaksin yang didistribusikan tidak secara sekaligus dan sesuai perhitungan yang telah ditentukan. Yang menjadi catatan adalah vaksin tergantung laporan stok dan kecepatan penyuntikan. Semakin cepat penyuntikan, maka akan semakin cepat mendapatkan tambahan. Kondisi tersebutlah yang membuat beberapa daerah berasums bahwa distribusi vaksin covid-19 tidak merata.

            Dia menjelaskan bahwa Indonesia setiap bulan menerima vaksin dari Sinovac dan AstraZeneca. Bulan Agustus, kemungkinan Indonesia menerima 15 juta dosis vaksin Covid-19 Sinovac.

            Siti Nadia Berujar, pihaknya berharap agar nantinya Covac Facility dapat 7 jutaan. Kemudian yang dibeli dari AstraZeneca perkiraannya sekitar 3 juta. Dirinya memperkirakan Indonesia akan kedatangan 35 juta sampai 40 juta dosis vaksin pada Agustus.

Jika vaksinasi ini diberikan secara masal, tentu akan mendorong terbentuknya kekebalan kelompok alias herd immunity dalam masyarakat. Artinya, orang yang tidak bisa mendapatkan vaksin, misalnya bayi baru lahir, ataupun penderita penyakit kelainan imun tertentu, bisa mendapatkan perlindungan dari orang-orang di sekitarnya.

            Sebelumnya Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno Marsudi memastikan bahwa pemerintah akan terus bekerja keras untuk memastikan ketersediaan vaksin untuk keperluan vaksinasi bagi rakyat Indonesia. Guna mencapai kekebalan komunal atau herd immunity dalam menghadapi pandemi Covid-19, pemerintah menargetkan vaksinasi bagi sekitar 70 persen populasi atau 181,5 juta penduduk.

            Tak hanya vaksin saja, Retno berujar, tawaran dukungan dalam penanganan pandemi juga telah diterima Indonesia dari sejumlah negara sahabat. Seperti Singapura yang memberikan tabung oksigen kosong dengan kapasitas 50 liter, APD dan alat kesehatan lainnya.

            Vaksinasi merupakan salah satu ikhtiar demi mengakhiri pandemi selain penerapan protokol kesehatan, tentu saja bagi yang belum menerima vaksin, perlu bersabar terlebih dahulu karena kedatangan vaksin yang memang bertahap.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiwa Cikini

Oleh : Andhito Bramantyo )*

Pemerintah terus menjamin ketersediaan vaksin Covid-19 bagi masyarakat. Publik pun diharapkan tidak perlu khawatir terhadap kualitasnya karena semua vaksin efektif melawan Covid-19.

Progam vaksinasi nasional yang dimulai sejak awal tahun lalu sudah cukup berhasil. Setidaknya 20% WNI sudah 2 kali disuntik dan mendapatkan perlindungan dari Coronaa. Mereka antusias saat akan diinjeksi karena ingin imunitasnya meningkat dan vaksinasi juga menjadi salah satu syarat jika ingin bepergian jauh.

Ada banyak vaksin Covid yang diproduksi oleh pabrikan yang berbeda, misalnya Sinovac, Pfizer, Moderna, AstraZaneca. Pada periode pertama vaksinasi nasional yang diprioritaskan untuk para nakes, menggunakan vaksin Sinovac, sementara pada periode berikutnya memakai AstraZaneca.

Lantas mana vaksin yang paling ampuh? Haruskah kita pilih-pilih vaksin? Menurut Bill Powderly, pakar kesehatan dan direktur Institut Kesehatan Masyarakat di Washington University, vaksin-vaksin Coronaa sangat efektif dalam melakukan apa yang diinginkan, yakni melindungi orang dari penyakit serius dan mematikan.

Bill menambahkan, vaksin Coronaa juga mencegah hal terburuk seperti pada kasus di negara bagian Missouri, AS. Ketika ada kematian akibat virus Covid-19, terjadi karena pasien belum divaksin. Sementara yang sudah divaksin, meski harus dirawat inap, selamat dan cepat sembuh.

Jadi, kita tidak usah pilih-pilih vaksin karena semua efektif dalam menangkal bahaya Coronaa. Kalaupun pasca vaksinasi masih terkena, maka itu karena imunitas sedang drop dan vaksin akan membuat tubuh hanya terkena gejala ringan, lalu lekas sehat. Tubuh tidak akan merasakan penderitaan seperti sesak nafas, pusing, meriang, dan lain sebagainya.

Meskipun efikasi vaksin berbeda-beda antara AstraZaneca, Sinovac, Moderna, Pfizer, tetapi yang penting mendapatkan vaksinasi. Jadi tidak usah menunda vaksinasi dengan alasan yang ada di Puskesmas atau Rumah Sakit hanya ada AstraZeneca, sedangkan kita lebih percaya pada Sinovac.

Penyebabnya karena mereka yang divaksin pada periode pertama, dengan Sinovac, lebih sehat. Lantas, ketika ada berita bahwa vaksin Moderna akan masuk ke Indonesia, maka itu yang ditunggu. Padahal vaksin ini diutamakan untuk para tenaga kesehatan, bukan untuk kalangan umum.

Tidak usah menunda-nunda vaksinasi dengan alasan ini dan itu. Memang efikasinya berbeda tetapi sama-sama ampuh dalam melawan Coronaa. Daripada di saat menunggu vaksin Moderna datang atau malas mengantri vaksinasi karena yang ada hanya AstraZaneca, kondisi tubuh malah drop. Lantas berkontak dengan OTG lalu terkena Coronaa.

Jangan lupakan fakta pahit bahwa Coronaa varian delta sudah beredar di Indonesia, dan ini adalah virus hasil mutasi, sehingga lebih ganas dan menyerang dengan cepat, juga bisa tersebar hanya dengan berpapasan dengan OTG. Daripada tertular Coronaa varian delta, lalu menderita dan harus dirawat setidaknya 14 hari, lebih baik bentengi diri dengan vaksinasi.

Lagipula vaksinasi digratiskan 100% untuk seluruh WNI, jadi ambil kesempatan emas ini untuk meningkatkan kekebalan tubuh dari Coronaa. Mendapatkan vaksin juga mudah, cukup mendaftar di Puskesmas atau RS yang ditunjuk. Meski harus mengantri saat vaksinasi dan ada jumlah maksimal dalam sehari, ini semua karena untuk menghindari adanya kerumunan.

Jika ada kesempatan untuk vaksinasi maka ambil dengan segera. Jangan pilih-pilih vaksin dan fanatik dengan merek vaksin tertentu, karena harus sesegere mungkin mendapatkan injeksi. Penyebabnya karena makin menunda vaksinasi, maka persentase untuk terkena Coronaa varian delta akan bertambah. Oleh karena itu, cepatlah mendaftar ke Puskesmas untuk mendapatkan injeksinya.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Dede Sulaiman )*

Program vaksinasi nasional dimulai pada awal 2021 dan sudah banyak masyarakat yang divaksin. Namun meski sudah divaksinasi, mereka tidak boleh lalai dan melepas masker. Protokol kesehatan harus dijalankan dengan ketat, karena pandemi belum selesai.

Vaksin adalah harapan baru untuk mengakhiri pandemi, karena setelah disuntik, manusia bisa memiliki imunitas tinggi terhadap corona. Jenis vaksin yang sudah masuk di Indonesia adalah Sinovac, AstraZenica, dan lain sebagainya. Semua vaksin sama bagusnya karena memiliki efikasi yang tinggi dan sangat minim efek samping.

Masyarakat yang sudah divaksin diwanti-wanti untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, karena pasca dinjeksi tidak boleh melepas masker begitu saja. Memang vaksin meningkatkan imunitas terhadap corona, tetapi di luar sana masih banyak OTG. Perbandingan orang yang sudah divaksin dengan yang belum, lebih banyak yang belum, sehingga khawatir akan ada droplet yang tersebar dan menularkan corona.

Dokter Muhammad Abdul Hakam, Kepala Dinas Kesehatan Semarang mengingatkan masyarakat untuk taat protokol kesehatan 5M. Pemberian vaksin bukan berarti otomatis kebal penyakit, sehingga masyarakat harus tetap waspada. Memang ada yang terkena corona pasca divaksin, tetapi jumlahnya hanya 1%.

Jika ada pemberitaan mengenai orang yang terinfeksi virus covid-19 padahal sudah divaksin, maka tidak perlu dibesar-besarkan. Penyebabnya karena hal ini akan membuat banyak orang yang takut divaksin, karena merasa percuma. Padahal setelah divaksin, kekebalan akan meningkat dan saat kena corona pun gejalanya sangat ringan serta cepat sembuh.

Mengapa setelah vaksin tidak bisa langsung melepas masker dan melanggar protokol kesehatan lainnya? Penyebabnya karena keadaan baru benar-benar aman setelah terbentuk kekebalan kelompok, sedangkan untuk mencapai keadaan itu syaratnya harus minimal 181 juta WNI yang sudah divaksin. Hanya dengan herd immunity maka melindungi mereka yang belum mendapatkan giliran vaksin.

Menurut data tim Satgas covid, per 3 juni 2021 baru 11 juta orang yang divaksin covid, sehingga belum ada 10% dari target herd immunity. Untuk mencapai keadaan ini maka butuh waktu yang cukup lama, tetapi pemerintah mentargetkan agar hanya dalam 12 bulan saja, program vaksinasi nasional akan cepat selesai.

Taatilah protokol kesehatan tidak hanya 3M, tetapi juga 5M. Memakai masker yang sekali pakai lebih disarankan oleh para dokter, karena lebih efektif dalam menahan penularan corona delta, yang lebih ganas dari varian biasa. Masker ini hanya ampuh selama 4 jam saja, maka bawalah masker cadangan saat sedang keluar rumah. Setelah dipakai maka masker harus dirusak agar tidak disalahgunakan.

Mencuci tangan juga wajib dilakukan, baik saat baru masuk rumah maupun ke tempat umum. Bisa diganti dengan hand sanitizer jika memang tidak ada keran air, tetapi lebih efektif untuk mencuci tangan dengan sabun antiseptik.

Selain itu, menjaga jarak dan menghindari keramaian adalah 2 poin dalam protokol kesehatan yang harus ditaati. Jangan bersalaman walau dengan saudara dekat, karena saat ini semua orang bisa berstatus OTG. Lebih baik memproteksi diri daripada kena corona karena kelalaian sendiri.

Mengurangi mobilitas juga wajib dilakukan dan jangan bepergian kecuali jika ada sesuatu yang penting. Acara liburan ke luar kota bisa ditunda pasca pandemi. Lagipula, sudah banyak hiburan di gadget, jadi hari minggu atau tanggal merah bisa dihabiskan di rumah saja.

Menaati protokol kesehatan 5M masih harus dilakukan walau seseorang telah mendapatkan vaksin corona, karena kekebalan kelompok belum terbentuk. Jangan sembarang melepas masker dan seenaknya traveling, karena situasi masih genting. Apalagi kasus corona makin naik dan jangan sampai kita menjadi pasien berikutnya.

)* Penulis adalah warganet tinggal Bogor

Oleh : Lisa Pamungkas )*

Program vaksinasi nasional benar-benar digenjot oleh pemerintah dan pemilihan vaksinnya juga dilakukan dengan seksama. Vaksin Sinovac dari RRC menjadi pilihan utama karena memiliki efikasi yang tinggi dan sudah bestatus halal. Sehingga masyarakat tidak ragu lagi untuk mendapatkan vaksinasi.

Vaksinasi adalah cara untuk bebas dari corona, agar tubuh mendapatkan kekebalan dan tidak mudah terserang virus yang berbahaya. Saat pertama kali memulai program vaksinasi nasional, pemerintah memutuskan untuk menggunakan vaksin Sinovac dari RRC. Bukan dari pabrikan lain seperti Pfizer.

Masyarakat awalnya agak ragu dengan vaksin Sinovac, apalagi ketika tahu bahwa pabriknya ada di RRC. Namun mereka akhirnya percaya karena MUI sudah mengeluarkan status halal bagi vaksin Sinovac. BPOM juga sudah mengeluarkan izin, sehingga vaksin ini sangat aman bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa Indonesia menyambut baik validasi vaksin Sinovac oleh WHO. Hal ini menegaskan bahwa pemerintah hanya memilih vaksin yang aman, teruji mutunya, dan terbukti khasiatnya. Dalam artian, validasi WHO menunjukkan bahwa pemerintah tidak salah pilih dan telah memutuskan untuk membeli vaksin yang terbaik untuk rakyatnya.

Vaksin Sinovac memang sempat diragukan karena dibuat di RRC, karena di sanalah virus covid-19 bermula. Namun justru itu, peneliti, laboran, dan para profesor di negeri tirai bambu, bekerja keras untuk membuat vaksin corona yang paling ampuh dalam mencegah penularan penyakit berbahaya ini. Karena mereka tidak ingin ada lebih banyak korban yang terinfeksi virus covid-19.

Efikasi vaksin Sinovac juga cukup tinggi, yakni di atas 60%. Tingkat efikasi ini sudah cukup ampuh dalam menangani penularan corona. Sehingga masyarakat yang sudah mendapatkan 2 kali vaksin, akan lebih kebal dari penyakit berbahaya ini. Tentu dengan diiringi kedisiplinan dalam pelaksanaan protokol kesehatan, karena pandemi belum berakhir dan kekebalan kelompok belum terbentuk.

Selain itu, vaksin Sinovac terbuat dari virus covid-19 yang dilumpuhkan. Berbeda dari jenis lain yang terbuat dari bahan sintetis. Sehingga diklaim lebih ekfektif dalam melawan droplet yang membawa penyakit corona, karena saat disuntikkan tubuh akan lebih memiliki kekebalan.

Kelebihan lain dari vaksin Sinovac adalah suhu penyimpanannya yang tidak terlalu ekstrim, yakni 2-8 derajat celcius. Sehingga dengan pendingin yang paling sederhana sekalipun, bisa memuat vaksin ini sampai ke daerah pelosok. Kita juga sudah memiliki cooler box yang biasa digunakan untuk menyimpan vaksin jenis lain, sehingga tidak usah bingung harus membeli perangkat pendingin yang baru.

Menteri Budi Gunadi melanjutkan, masyarakat tidak perlu khawatir, karena semua jenis vaksin baik untuk mencegah penularan corona. Dalam artian, walau mereka akhirnya nanti mendapatkan vaksin AstraZeneca, masyarakat diminta untuk tidak pilh-pilih. Karena jika mereka ngotot ingin mendapatkan vaksin Sinovac, akan butuh waktu lama, padahal vaksinasi berpacu dengan waktu agar kekebalan kelompok cepat terbentuk.

Penyebab dari jenis vaksin lain yang diberikan karena stok vaksin Sinovac amat terbatas dan suplai dari pabrik belum datang. Sehingga pemerintah memutuskan untuk memberikan vaksin AstraZaneca untuk vaksinasi selanjutnya. Vaksin ini juga ampuh dalam menangkis serangan corona dan efikasinya cukup tinggi. Jangan takut karena keduanya sama-sama berkhasiat.

Validasi dari WHO menunjukkan bahwa pemerintah tidak salah pilih dalam memilih vaksin Sinovac, pada program vaksinasi nasional. Karena vaksin ini terbukti ampuh, memiliki efikasi yang tinggi, minim efek samping, dan yang paling penting sudah mendapatkan status halal MUI dan lolos uji BPOM. Masyarakat juga diminta untuk tak pilih-pilih vaksin, agar semua sehat dan bebas corona.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa cikini

Usaha untuk mewujudkan vaksinasi yang aman dan halal akan terus dilakukan oleh pemerintah. Terkait dengan hal tersebut, Jubir Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemkes), Siti Nadia Tarmizi, mengatakan bahwa pihaknya menyambut baik keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan bahwa produk vaksin Covid-19 dari Astrazeneca diperbolehkan untuk dipergunakan dengan tujuan agar segera keluar dari darurat pandemi Covid-19.
“MUI telah menyampaikan wajib hukumnya bagi seluruh umat Muslim di Indonesia untuk berpartisipasi dalam program vaksinasi Covid-19 yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk mewujudkan kekebalan kelompok dan kita semua terbebas dari wabah Covid-19,” kata Nadia
Lebih lanjut ia menyatakan bahwa vaksin Astrazeneca telah melalui transformasi yang menyeluruh dan berulang kali dimurnikan pada setiap titik proses pembuatanya. Ini yang membuat produk tersebut akhirnya bersih untuk digunakan bagi umat manusia dimanapun di dunia, termasuk umat Muslim dari Indonesia.
Astrazeneca telah disetujui di lebih dari 70 negara di seluruh dunia termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, Oman, Mesir, Aljazair dan Maroko serta banyak Dewan Islam di seluruh dunia telah menyatakan sikap bahwa vaksin ini diperbolehkan untuk digunakan.
Artinya, produk ini sudah pasti dijamin keamanannya untuk digunakan kepada seluruh masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat lanjut usia yang berusia 60 tahun ke atas. Selain itu, lanjut Nadia, vaksin Astrazeneca ini sudah masuk daftar vaksin dalam WHO Emergency Use Listing (UEL) serta memperoleh izin penggunaan darurat atau Emergency Use of Authorization dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Oleh : Edwin Saputra )*

MUI menyatakan bahwa vaksinasi saat Ramadhan tidak membatalkan puasa. Keterangan ini tentu saja melegakan umat Muslim yang sebentar lagi akan menjalankan Ibadah Puasa.

Jelang bulan Ramadhan, tentu tidak sedikit yang mempertanyakan apakah vaksinasi dapat membatalkan puasa, apalagi proses vaksinasi belum selesai.
Menjawab keresahan tersebut, Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kemenag RI, Mohammad Agus Salim menyatakan alasan vaksinasi Covid-19 ketika berpuasa di Bulan Ramadhan tidak membatalkan puasa bagi umat Islam yang menjalaninya.

Ia menjelaskan bahwa vaksinasi tersebut tidak dilakukan melalui lubang terbuka yang ada di tubuh manusia seperti mulut, telingam dubur hidung ataupun kemaluan.

Dalam keterangan resminya, suntik vaksin Covid-19 tidak dapat membuat seseorang kehilangan rasa lapar atau haus.

Selain itu, untuk meminimalisir kekhawatiran masyarakat untuk vaksinasi saat beribadah puasa, Agus meminta para tokoh agama dan Ormas Islam terlibat dalam sosialisasi detail terkait penyuntikan vaksin.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, permasalahan saat ini menjadi semakin kompleks. Para tokoh agama dan Ormas Islam juga harus berperan menjelaskan dengan detail, agar tidak menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat saat menjalani ibadah puasa.

Lebih lanjut, Agus menjelaskan bahwa para ulama memiliki pandangan yang berbeda-beda terkait hal tersebut. Sebagian ulama berpendapat bahwa aktivitas penyuntikan dapat membatalkan puasa jika suntikan tersebut berisi suplemen sebagai pengganti makanan atau penambah vitamin.

Hal tersebut dikarenakan, vitamin tersebut membawa zat yang dibutuhkan oleh tubuh. Lalu, ada juga ulama yang berpendapat bahwa aktivitas penyuntukan tidak membatalkan puasa karena tidak berhubungan langsung dengan perut besar atau lambung.

Kemudian, pendapat ulama yang terakhir, suntikan yang hanya berisi obat dan disuntikkan melalui lengan maka tidak membatalkan puasa. Dengan alasan tidak menghilangkan rasa lapar dan dahaga, atau tidak dapat menjadikan rasa kenyang sebab tidak masuk ke dalam lambung.

Agus juga menjelaskan argumentasi dari sisi medis, bahwa suntikan secara subkutan, subdermal, intramuskular, interoseus, atau intra-artikular untuk tujuan non-gizi memasuki sirkulasi darah. Akan tetapi, hal tersebut tidak digolongkan sebagai tempat masuk yang akan membatalkan puasa.

Melihat hal tersebut, Agus menyarankan agar vaksinasi harus tetap berjalan meskipun di bulan Ramadhan. Hal tersebut bertujuan untuk mendukung vaksinasi masal yang dilakukan pemerintah belakangan ini.

Agus mengatakan, pemerintah menargetkan 70% dari populasi penduduk atau sekitar 181,5 juta penduduk Indonesia untuk membangun kekebalan imunitas atau herd immunity. Program ini diharapkan selesai dalam kurun waktu 1,5 tahun.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri sudah mengeluarkan fatwa terkait vaksinasi Covid-19. MUI menyatakan bahwa suntik vaksin Covid-19 yang dilakukan di siang hari saat menjalankan puasa di bulan Ramadhan, tidak membatalkan puasa.

Sementara itu, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah telah menerbitkan Edaran terkait Tuntunan Ibadah Ramadhan 1442 H/2021 M dalam kondisi darurat Covid-19. Edaran tersebut bernomor 03/EDR/I.0/E/2021 itu ditandatangani oleh Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir dan Sekretaris Umum Muhammadiyah Abdul Mu’ti.

PP Muhammadiyah berharap agar edaran tersebut dapat menjadi panduan bagi umat Islam dan warga Muhammadiyah pada khususnya selama menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.

Isi dari surat edaran tersebut bertuliskan, Khususnya bagi warga Muhammadiyah dengan seluruh institusi yang berada di lingkungan persyarikatan dari pusat sampai ranting, hendaknya memedomani tuntunan ini sebagai wujud mengikuti garis kebijakan organisasi untuk berada dalam satu barisan yang kokoh.

Pada poin 3 edaran tersebut, disebutkan bahwa vaksinasi dengan suntikan, boleh dilakukan pada saat berpuasa dan tidak membatalkan puasa.

Sebab, vaksin diberikan tidak melalui mulut atau rongga tubuh lainnya seperti hidung, serta tidak bersifat memuaskan keinginan dan bukan pula merupakan zat makanan yang mengenyangkan (menambah energi).

PP Muhammadiyah juga meminta agar masyarakat tetap menerapkan protokol kesehatan 3M, yaitu menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas, baik dalam kegiatan kemasyarakatan maupun kegiatan ibadah sehari-hari.

Tak hanya itu, masyarakat juga diharapkan dapat mematuhi anjuran vaksinasi agar terbentuk kekebalan masyarakat dari wabah Covid-19.

Dalam edaran tersebut, PP Muhammadiyah juga memberikan dukungan kepada pemerintah agar terus menggalakkan program vaksinasi hingga mencapai ke seluruh lapisan masyarakat di Indonesia.

Vaksinasi merupakan program dari pemerintah yang patut didukung, upaya ini merupakan salah satu jurus untuk mengakhiri pandemi Covid-19.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menyatakan, pemerintah akan terus mendorong produksi vaksin dalam negeri. Hal ini tak lain untuk memenuhi kebutuhan vaksin selama tahun 2021.

Menurutnya, selama tahun 2021 pemerintah mengestimasikan kebutuhan vaksin sebanyak 50 juta dosis. Ia menjelaskan, jumlah tersebut masih akan terus berubah.

Untuk itu, menurutnya pemerintah akan terus menggenjot produksi vaksin dari dalam negeri.

Senada, Anggota Komisi IX Fraksi Partai NasDem Ratu Ngadu Bonu Wulla minta produksi vaksin dalam negeri dipercepat. Hal tersebut untuk mempercepat pemberian vaksinasi covid-19 di seluruh wilayah di Indonesia.

Anggota Komisi VI DPR Marwan Jafar, mengatakan di tengah kontroversi pengadaan, importasi, distribusi vaksin, seharusnya hal itu mampu memicu kalangan perusahaan BUMN farmasi memainkan perannya memproduksi vaksin sendiri di Indonesia. Hal itu agar BUMN farmasi bisa memberi kontribusi profesional yang lebih kreatif, cerdas, bermanfaat bagi mayoritas warga masyarakat serta bagi negara.

“Maksudnya, di tengah masa Pandemi Covid 19 dan sesudah Pandemi, kalangan BUMN farmasi diharapkan juga memiliki inisiatif dan gagasan segar, menajamkan rencana bisnis yang lebih besar dan strategis berjangka panjang, berkembang, berkelanjutan serta mengoptimalkan benar upaya menjadi industri farmasi yang kokoh di dalam negeri dan berani memasuki pasar regional atau syukur di level global,” ujar Marwan dalam keterangannya, Senin (29/3).

Sejak diterapkan awal tahun 2021, program Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro terbukti menurunkan angka kasus aktif Covid-19 di Indonesia. Tak hanya itu, PPKM Mikro juga berhasil menurunkan tingkat kematian dan bad occupancy rate, bahkan berhasil meningkatkan tingkat kesembuhan. Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Menurutnya, pandemi berangsur membaik terlihat dari angka presentase kasus aktif dan tingkat kesembuhan yang sudah lebih baik dari rata-rata global.

Sebelumnya, Presiden Jokowi juga menyatakan PPKM Mikro efektif dapat menekan laju Kasus Covid-19. Presiden Jokowi mengingatkan agar penurunan kasus harian ini tidak mengurangi jumlah pelaksanaan tes Covid-19 yang dilakukan. Menurut Presiden Jokowi PPKM Mikro yang diterapkan di seluruh provinsi di Pulau Jawa dan Bali terbukti efektif menekan laju kasus Covid-19. Selama pelaksanaan PPKM Mikro, posko penanganan Covid-19 di tingkat desa, kampung, maupun kelurahan juga efektif mencegah penularan Covid-19.

Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin membenarkan kasus aktif corona di tanah air menurun drastis sejak diberlakukan PPKM Mikro. Menurut Menkes Budi, selain angka positif harian, penurunan juga diikuti angka rata-rata kematian dan tingkat keterisian tempat tidur di berbagai rumah sakit. Saat ini keterisian tempat tidur secara nasional berada di bawah 40%.

Menkes menjelaskan, ada 4 startegi utama yang dijalankan dalam menangani pandemi corona di tanah air yakni penguatan sistem kesehatan publik, strategi 3T, teurapetik dan vaksinasi covid-19. Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, kasus aktif covid-19 per 15 Maret 2021 sebesar 9,72%. Angka itu lebih rendah dibanding angka rata-rata global.

Hal senada juga dinyatakan oleh Ketua Satgas Penanganan Covid-19, Doni Monardo bahwa penurunan kasus aktif covid-19 di Indonesia karena adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro. Menurutnya kasus aktif covid-19 di tanah air yang menurun, menandakan kedisiplinan penerapan protokol kesehatan di masyarakat membuahkan hasil. Untuk itu, semua pihak diminta tetap menerapkan protokol kesehatan guna memutus penyebaran virus corona.

Penurunan kasus covid karena PPKM Mikro juga disampaikan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa yang menyatakan bahwa penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro efektif menurunkan penyebaran virus corona di wilayah Jatim. Khofifah mengatakan berdasarkan evaluasi yang Pemerintah Provinsi Jawa Timur, intervensi penerapan PPKM Mikro terbukti efektif untuk menurunkan penyebaran COVID-19 di provinsi ini.

Khofifah menjelaskan pihaknya terus melakukan evaluasi pelaksanaan PPKM Mikro, tahap demi tahap, dan berdasarkan data terdapat banyak hasil yang menggembirakan dari berbagai indikator epidemiologis. Dijelaskan, pelaksanaan PPKM Mikro, dinilai memberikan hasil cukup signifikan terhadap penurunan penyebaran COVID-19 di Jawa Timur. Pada awal Januari 2021, terdapat delapan zona merah dan saat ini sudah tidak ada lagi zona merah.

“Saat ini di Jatim sudah tidak ada zona merah dan 42 persen kabupaten kota sudah masuk di zona kuning. Ini menunjukkan bahwa penerapan PPKM Mikro ini sudah di jalur yang benar,” katanya.

Selain itu, hasil signifikan PPKM juga tampak pada penurunan jumlah pasien COVID-19 yang dirawat di ruang isolasi biasa maupun ICU. Selama PPKM, Bed Occupancy Ratio (BOR) isolasi biasa di Jatim turun, dari 79 persen menjadi 35 persen. Selain itu, BOR ICU juga telah berhasil turun dari 72 persen menjadi 52 persen, artinya tingkat keterisian rumah sakit di Jawa Timur sudah sesuai syarat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni di bawah 60 persen.

Selain keberhasilan pelaksanaan PPKM Mikro, program vaksinasi nasional juga efektif menurunkan angka covid-19. Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kota Surabaya, Misutarno menyatakan program vaksinasi nasional berhasil menurunkan kasus positif covid-19, khususnya bagi perawat di Kota Surabaya. Dijelaskan, hanya tinggal beberapa orang yang dirawat di rumah sakit maupun menjalani isolasi mandiri.

Jumlah pasien di rumah sakit lapangan di Kota Surabaya, juga menurun drastis kurang lebih 50% dari sebelum adanya vaksinasi nasional. Berdasarkan data dan hasil evaluasi DPD PPNI Kota Surabaya, akibat pandemi yang terjadi dalam setahun ini, sebanyak 810 perawat terpapar, dan 19 orang di antaranya meninggal dunia. Sementara sebanyak 782 di antaranya kini sudah sembuh. Penurunan pasien di rumah Sakit Lapangan Surabaya juga mencapai 50%.

“Sebelum adanya program vaksinasi , jumlah pasien yang dirawat baik warga maupun perawat bisa mencapai 200-250 orang/hari. Setelah adanya vaksin, kini turun kurang lebih 100 orang pasien/hari,” katanya.

Seiring dengan keberhasilan kedua hal itu, pemerintah memperpanjang PPKM mikro tahap keempat yang akan berlaku mulai 23 Maret 2021 hingga 5 April 2021 dengan memperluas cakupan menjadi 15 provinsi.

Program vaksinasi nasional juga masih berjalan, baik yang dilakukan oleh pemerintah, maupun program vaksin mandiri (gotong royong) dimana swasta diikutsertakan dalam pelaksanaannya.

Diharapkan, dengan ditekannya angka kasus positif Covid-19, Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah dapat memproyeksikan perekonomian Indonesia bisa berada di kisaran 4% hingga 5,5% di tahun 2021.

Pertumbuhan ekonomi tahun ini akan didorong dengan peningkatan konsumsi, investasi, dan ekspor yang sejalan dengan implementasi Undang-Undang Cipta Kerja, juga dibarengi dengan program vaksinasi untuk memulihkan rasa aman bagi masyarakat.

Jadi program vaksinasi dan PPKM Mikro betul-betul memberikan dampak luar biasa terhadap penurunan kasus COVID-19 di Indonesia. Maka dukungan dari semua pihak, sangat dibutuhkan dalam pelaksanaan vaksinasi dan PPKM Mikro agar hasilnya bisa semakin membaik.

Semoga.

Oleh : Dodik Prasetyo )

Masyarakat perlu untuk terus meningkatkan disiplin Prokes 5 M meskipun vaksinasi saat ini sudah berjalan. Upaya tersebut dilaksanakan dalam rangka mempercepat penanganan pandemi Covid-19 yang masih terjadi.
Vaksin Covid-19 telah sampai di Indonesia pada tahun 2020 dan telah didistribusikan mulai 13 Januari 2021, menyasar kepada masyarakat yang terdaftar dalam prioritas penerima vaksin tahap pertama.

Pemerintah juga menargetkan, sebanyak 40,2 juta orang akan menerima vaksin Covid-19 tahap pertama sampai bulan April 2021. Jumlah tersebut terdiri dari 1.3 juta petugas kesehatan, 17,4 juta petugas layanan publik dan 21,5 juta lansia.

Meski program vaksinasi sudah berjalan, pemerintah menghimbau agar masyarakat yang sudah divaksin maupun yang belum mendapatkan vaksin, agar tetap protokol kesehatan.

Tentu saja hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa protokol kesehatan masih wajib dilakukan meski sudah mendapatkan vaksin.

Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik dari Departemen Mikrobiologi FK Universitas Gadjah Mada (UGM), dr R Ludhang Pradipta R., M. Biotech, SpMK, mengatakan ada kemungkinan untuk terinfeksi virus corona sebelum atau sesudah vaksinasi.

Oleh karena itu, dengan melakukan tindakan pencegahan disertai vaksinasi merupakan langkah perlindungan tubuh yang tepat. Menurut dia, hal tersebut dikarenakan vaksin membutuhkan waktu dan belum memiliki cukup waktu untuk memberikan perlindungan maksimal bagi tubuh.

Ludhang juga mengingatkan, vaksin bukanlah obat yang efeknya dapat terasa setelah dua jam penyuntikan. Setelah vaksinasi, tubuh tetap membutuhkan waktu beberapa minggu untuk membangun kekebalan tubuh.

Dirinya juga tidak bisa memastikan, terkait lamanya waktu untuk membangun kekebalan tubuh dari vaksin.

Sementara itu, reaksi yang muncul setelah mendapatkan vaksin diantaranya ada yang merasakan demam dingin seperti salah satu gejala infeksi yang umum pada pasien Covid-19.

Meski demikian, vaksin tidak dapat membuat seseorang terinfeksi Covid-19. Tidak ada tipe atau platform vaksin resmi yang telah mendapatkan izin/rekomendasi WHO maupun dalam tahap uji klinis mengandung virus aktif yang dapat menyebabkan infeksi Covid-19.

Berdasarkan tinjauan mikrobiologi klinik, Ludhang memaparkan, vaksin virus corona menggunakan metode inactivated untuk “mematikan” virus, sehingga vaksin tersebut sama sekali tidak mengandung virus hidup.

Ia juga menjelaskan, pembuatan vaksin (kasus lain) berluma dengan mengambil sampel virus corona dari pasien yang menjadi dasar kandidat vaksin.

Menurut dia, vaksin virus corona bekerja dengan membuat antibodi untuk melawan virus corona jenis baru. Selanjutnya, antibodi tersebut menempel pada protein virus.

Ludhang juga mengungkapkan, tantangan yang harus dihadapi oleh mereka yang sudah mendapatka vaksin adalah, tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan 5M, yakni Mencuci Tangan, Menggunakan Masker, Menjaga Jarak, Menghindari Kerumunan dan Membatasi Mobilitas.

Sementara itu, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) juga mengingatkan agar masyarakat tidak lengah dalam menjalankan protokol kesehatan, meski program vaksinasi mulai berjalan. Vaksin disebutnya tidak otomatis langsung memberikan kekebalan atau imunitas pada penggunanya.

Juru Bicara Vaksin IDI Iris Rengganis, mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 masih berlangsung di seluruh dunia. Vaksinasi adalah upaya untuk menciptakan kekebalan kelompok alias herd imunity. Kekebalan kelompok ini baru berhasil apabila vaksinasi telah menjangkau 70% penduduk.

Untuk mencapai vaksinasi terhadap 70 persen masyarakat, Indonesia memerlukan waktu bertahap. Selain karena jumlah waktu yang terbatas, Indonesia merupakan negara yang berbentuk kepulauan yang membuat distribusi vaksin tidak bisa dilakukan dalam sekejap.

Dia juga menuturkan, bahwa vaksin Covid-19 bukanlah segalanya. Vaksin tidak bisa melindungi 100 persen. Karena setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam membentuk antibodi di tubuhnya. Sehingga, jangan merasa sakti atau kebal lantas bisa berlaku sesuka hati setelah mendapatkan vaksin Covid-19.

Vaksinasi tentu akan membuat seseorang reaktif ketika dilakukan pemeriksaan test antibodi. Namun bukan berarti hal ini akan menjadi positif swab antigen.

Penting juga diperhatikan, bahwa sebelum menerima vaksinasi, alangkah baiknya untuk tidak mengonsumsi makanan yang membuat tubuh tidak fit misalnya seperti gorengan yang bisa meningkatkan tekanan darah, dan juga tidak begadang menjelang vaksinasi.

Jika malamnya begadang lalu tubuh menjadi demam, tentu saja kondisi tersebut tidak memungkinkan untuk menerima vaksinasi. Tentu saja jika kondisi tekanan darah masih tinggi, maka pemberian vaksin harus ditunda sampai tekanan darah menjadi normal.

Vaksinasi adalah salah satu ikhtiar bangsa Indonesia untuk mengakhiri pandemi, meski demikian langkah ini harus diiringi dengan penerapan protokol kesehatan.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Zakaria )*

Vakasinasi corona nasional adalah program yang harus berhasil 100%. Karena hanya vaksin yang bisa menolak ganasnya virus covid-19. Namun hoax bisa menggagalkan vaksinasi. Karena ada saja kalangan masyarakat yang masih mempercayai berita palsu mengenai vaksin corona.

Ketika masyarakat Indonesa diwajibkan untuk divaksin, maka halangannya bukan harga, karena vaksin digratiskan oleh pemerintah. Namun yang patut diwaspadai untuk jadi batu sandungan adalah hoax alias berita palsu. Hoax sudah menyebar ke mana-mana, mulai dari media sosial hingga grup WA. Sehingga keberadaannya agak susah untuk dikendalikan oleh tim satgas covid.

Masyarakat perlu mewaspadai hoax corona yang sudah terlanjur tersebar ke mana-mana.  Berita palsu yang santer beredar adalah vaksin ini mengandung sel vero alias kera hijau afrika. Menurut Bambang Heriyanto, Sekretaris Perusahaan Bo Farma, memang dalam kultur virus dikembangkan dalam media sel vero, akan tetapi tidak mengandung sel vero. Proses pengembangan virus diperlukan karena vaksin mengandung virus yang dilemahkan.

Hoax kedua tentang vaksin corona adalah ia mengandung chip sehingga berbahaya bagi manusia. Bagaimana bisa sebuah chip yang terbuat dari benda padat dimasukkan ke dalam cairan vaksin? Berita palsu ini sangat menggelikan namun juga meresahkan, karena orang awam akan percaya dan akhirnya menolak untuk divaksin.

Berita palsu selanjutnya adalah vaksin sinovac yang dibeli oleh pemerintah Indonesia tidak ampuh, karena masyarakat dijadikan kelinci percobaan. Hoax ini ditambah pula dengan gambar kemasan vaksin yang bertuliskan “only for clinical trial”. Padahal ini adalah gambar kemasan vaksin untuk uji klinis tahap 3, bukan yang dibeli oleh pemerintah Indonesia.

Hoax lain yang juga menggelikan adalah klaim bahwa vaksin berbahaya, sebab ia bisa menusukkan jarum langsung ke dalam kulit dan menembus jaringan tubuh. Bagaimana bisa sebuah jarum suntik masuk 100% ke dalam tubuh manusia? Selain itu, para tenaga medis yang menyuntikkan pasti berhati-hati dan tidak akan melakukan hal ini.

Ganasnya hoax di masyarakat memang menyebalkan, karena masih saja ada yang mempercayainya. Kalangan yang terjebak berita palsu langsung takut divaksin, karena mereka terlalu percaya akan judul berita yang bombastis. Mereka percaya hoax tentang vaksin corona dan mulai menyalahkan pemerintah.

Mereka yang percaya hoax karena memiliki kemampuan literasi yang rendah, sehingga tida mengecek kebenaran suatu berita di internet. Padahal segala sesuatu di dunia maya tidak 100% benar. Minimnya kemampuan literasi ini menyedihkan, karena faktanya masih banyak masyarakat yang tidak suka membaca, sehingga bisa dikibuli oleh hoax.

Untuk mencegah hoax vaksin, maka kita bisa mengadakan gerakan anti hoax, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Pemerintah berusaha menaikkan kepercayaan masyarakat terhadap vaksin dan mereka jadi tidak percaya hoax, dengan menyuntik para tokoh masyarakat terlebih dahulu, seperti Gubernur dan Wali Kota. Masyarakat akan mengikuti langkah sang pemimpin.

Selain itu, masyarakat juga bisa mendukung vaksinasi corona dan memukul hoax dengan berkampanye di media sosial. Sosmed digunakan untuk menyebarluaskan pentingnya vaksinasi dan menepis hoax corona yang ada di kalangan netizen. Sehingga jika para followers membaca kampanye itu terus-menerus, alam bawah sadarnya akan menolak hoax dan akhirnya mau divaksin.

 Jika ada seseorang yang membuat status mengenai hoax maka laporkan saja ke pihak Facebook atau Instagram. Postingan itu langsung dihapus karena dianggap berita bohong yang meresahkan banyak orang. Meski postingan tentang hoax boasanya langsung dihapus otomatis oleh mereka, namun tidak ada salahnya melapor.Meluasnya hoax tentang vaksin corona di media sosial bisa dicegah jika kita peduli terhadap sesama, dengan berkampanye anti hoax. Jangan lelah untuk saling mengingatkan, karena program vaksinasi corona nasional harus berhasil 100%. Tujuannya agar kita punya kekebalan kelompok dan bisa mengakhiri masa pandemi