Oleh : Savira Ayu )*

Pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Oleh sebab itu, masyarakat diminta untuk selalu memperkuat imunitas dengan vaksinasi dan menerapkan prokes ketat dalam beraktivitas.

Ketika awal pandemi, masyarakat sempat panik karena sangat takut kena Corona. Mereka menuruti anjuran pemerintah dengan memakai masker saat keluar rumah, menaati protokol kesehatan, dan juga vaksinasi. Saat vaksin Corona baru datang di Indonesia maka disambut dengan antusias dan warga mengantri di Puskesmas dengan tertib. Mereka yang tidak kebagian jatah vaksin di Puskesmas atau Rumah Sakit lalu mendaftar vaksinasi massal yang diadakan oleh pihak swasta.

Namun setelah 2,5 tahun pandemi, kedisiplinan masyarakat mulai menurun dalam menerapkan protokol kesehatan. Mereka lupa tidak pakai masker atau mengenakannya hanya karena takut ditegur petugas. Poin-poin lain dalam protokol kesehatan juga dilanggar, misalnya dilarang membuat kerumunan, tetapi malah dengan sengaja membuat acara yang mengundang sampai ribuan tamu.

Begitu juga dengan vaksinasi, jika sudah sekali divaksin maka masyarakat merasa sudah aman. Padahal vaksin Corona wajib disuntikkan sampai 3 kali untuk mendapatkan imunitas tubuh yang tinggi. Malah ada kalangan masyarakat yang menolak vaksin dengan alasan yang tidak rasional dan hanya mengandalkan pengobatan herbal. Padahal vaksin Corona gunanya untuk mencegah penularan virus Covid-19 dan tidak bisa diganti dengan herbal apapun.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa ke depannya program vaksinasi Corona akan dilakukan secara rutin, seperti vaksinasi meningitis atau yang lain. Pasalnya, virus Covid-19 akan selalu ada. Dengan vaksinasi Corona maka imunitas tubuh akan terjaga. Dalam artian, virus Corona tidak bisa hilang 100% dan untuk melawannya maka harus vaksinasi.

Vaksinasi harus diberikan ke seluruh kalangan masyarakat yang berusia di atas 6 tahun. Mereka tidak boleh absen karena mendapatkan injeksi vaksin adalah sebuah kewajiban. Apalagi jika resiko tinggi, yakni masyarakat yang lanjut usia atau punya penyakit bawaan, maka mau tak mau harus divaksin.

Jika seseorang sudah divaksin sampai 3 kali maka ketahanan tubuhnya meningkat hingga 90%. Imunitas ini yang dibutuhkan untuk melawan Corona. Booster sangat penting karena akan menyempurnakan ketahanan tubuh, mumpung masih digratiskan maka segera cari Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkannya.

Sementara itu, mmasyarakat yang baru sekali mendapatkan suntikan maka harus melihat jadwal selanjutnya di aplikasi Peduli Lindungi atau melihat di kartu vaksin. Dosis vaksin yang kedua harus diberi maksimal 6 bulan setelah suntikan pertama. Jika lebih maka harus diulang karena efektivitasnya sudah menurun. Oleh karena itu warga harus melihat baik-baik jadwal pemberian injeksi vaksin Covid-19 dan jangan sampai terlewat.

Kemudian, ada fenomena kartu vaksin palsu dan joki vaksin sebagai akal-akalan agar bisa melamar pekerjaan atau bepergian jauh. Masyarakat diimbau untuk tidak menyepelekan vaksinasi apalagi mencari joki vaksin hanya karena ingin mendapatkan kartu vaksin. Kecurangan ini sama saja dengan menjerumuskan diri sendiri karena akan mudah kena Corona ke depannya dan memberi uang haram kepada sang joki.

Menteri Budi meneruskan, di waktu yang akan datang vaksinasi Corona ada 2 jenis pemberian: yang gratis dan yang berbayar. Bagi masyarakat yang mampu maka dipersilakan mengambil vaksinasi berbayar, tetapi untuk yang kurang mampu bisa gratis dengan menunjukkan kartu BPJS.

Walau vaksinasi nantinya berbayar tetapi diharap masyarakat tetap mau disuntik. Kesehatan jauh lebih mahal daripada sakit akibat terkena Corona. Bayangkan ketika belum divaksin, lalu terinfeksi virus Covid-19, maka seseorang tidak bisa bekerja selama 14 hari dan akan sangat rugi dari segi biaya dan waktu.

Selain vaksinasi, maka masyarakat harus menaati protokol kesehatan, terutama memakai masker. Jangan lelah untuk mengenakan masker walau hanya ke warung di dalam kompleks perumahan. Ingatlah bahwa terjadi kenaikan kasus Corona dan jumlah pasien Covid-19 pada tanggal 1 Juli 2022 ada lebih dari 2.000 orang. Dengan memakai masker maka masyarakat akan aman dari Corona dan tidak menjadi pasien selanjutnya.

Protokol kesehatan lain juga wajib diterapkan seperti mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, menghindari kerumunan, dll. Sudah banyak acara seperti pesta pernikahan yang digelar, tetapi penyelenggaraannya harus taat prokes. Selain mengurangi tamu undangan, makanan untuk para tamu juga dimasukkan ke dalam box untuk nantinya dibawa pulang. Tujuannya untuk taat prokes karena menghindari kerumunan yang orang-orangnya membuka masker ketika makan di acara pesta.

Kesehatan adalah nomor satu ketika masyarakat berada di masa pandemi dan seterusnya. Oleh karena itu, semua orang dihimbau untuk tetap taat prokes untuk menghindari penularan Corona. Vaksinasi juga kembali digencarkan agar semua warga yang berusia di atas 6 tahun mendapatkan 3 kali injeksi vaksin dan imunitasnya tetap terjaga.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Reza Kurniawan )*

Pemerintah melalui Badan Intelijen Negara (BIN) terus mengoptimalkan vaksinasi di masa pelonggaran masker. Upaya ini ditempuh untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat demi terwujudnya percepatan pemulihan ekonomi.

Vaksinasi telah terbukti efektif dalam upaya penanganan pandemi Covid-19, hal ini dibuktikan dengan melandainya kasus Covid-19 pasca pemerintah mengizinkan masyarakat untuk mudik. Meski demikian Masih ada beberapa wilayah yang belum sepenuhnya mendapatkan vaksin secara intensif.

Badan Intelijen Negara (BIN) telah mengintensifkan vaksinasi Covid-19 di lima kabupaten/kota di Kalimantan Timur untuk mengejar rasio capaian vaksin serta pemulihan ekonomi. Lima wilayah itu adalah Berau, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Kutai Barat dan Mahakam Ulu.

Kepala BIN Daerah Kalimantan Timur Brigjen TNI Danny Koswara mengungkap capaian vaksinasi di Kalimantan Timur tergolong baik untuk dosis pertama, yakni sebesar 100,95% dari target. Sementara untuk dosis kedua tercatat 88,11 persen dan dosis ketiga 25,99 persen.

Danny berujar, untuk dosis kedua dan ketiga memang masih harus dikejar. Caranya yakni mengintensifkan kegiatan vaksinasi di wilayah yang banyak daerah dengan kategori 4T (terjauh, terpencil, terluar dan terdalam) agar capaian dosis kedua dan ketiganya dapat mengalami kenaikan secara cepat.

Lebih lanjut Danny menuturkan bahwa pemenuhan target vaksinasi sangatlah penting meskipun kasus Covid-19 semakin terkendali. Dirinya menjelaskan bahwa kini masyarakat bisa dengan leluasa beraktivitas usai pemerintah melakukan pelonggaran.

Danny juga menjelaskan, berkat vaksinasi yang pemerintah gencarkan selama dua tahun terakhir, pandemi menjadi semakin terkendali dan pelonggaran aktivitas sosial semakin luas. Hal ini tentu saja harus kita syukuri dengan cara melanjutkan vaksinasi hingga tuntas ke dosis ketiga, sehingga kekebalan komunal bisa semakin meningkat.

Saat ini pemerintah telah memperbolehkan masyarakat untuk melepas maskernya saat berada di ruangan terbuka. Selain itu warga yang telah divaksinasi booster tidak perlu melakukan tes antigen serta PCR.

Danny memaparkan, pemerintah akan memberikan pelonggaran sesuai dengan hasil asesmen berbagai parameter pandemi. Karena pemerintah juga menginginkan pemulihan perekonomian masyarakat berlangsung dengan baik. Karena itulah BIN mendukung upaya tersebut dengan meningkatkan capaian vaksinasi.

Perlu diketahui Vaksin Booster atau yang dikenal sebagai penguat vaksin merupakan dosis vaksin tambahan yang bertujuan untuk memberikan perlindungan ekstra terhadap penyakit karena efek dari beberapa vaksin yang dapat menurun seiring waktu.

Vaksin booster umum diberikan pada infeksi virus seperti tetanus, difteri dan pertusis (DtaP) yang membutuhkan booster setiap 10 tahun. Pemberian vaksin booster akan membantu sistem kekebalan mengingat virus penyebab penyakit. Jika tubuh kembali terpapar virus tersebut, antibodi dapat mengenali dan membunuhnya sebelum menyebabkan kerusakan.

Sebelumnya, Irjen Pol Fadil Imran selaku Kapolda Metro Jaya menyebutkan, 60 persen angka kematian akibat Covid-19 disebabkan karena pasien belum menjalani vaksinasi Covid-19.

Selain itu, penyebab kematian Covid-19 lainnya adalah pasien yang merupakan lansia dan memiliki riwayat penyakit bawaan. Hal tersebut disampaikan Fadil ketika meninjau langsung percepatan akselerasi vaksin dengan video conference bersama Presiden RI Joko Widodo di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang.

Dia juga mengajak masyarakat yang belum vaksin atau belum menjalani vaksinasi secara lengkap untuk segera melakukan vaksinasi.
Juru Bicara Satgas penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito mengatakan kekebalan yang ditimbulkan vaksin memang memiliki banyak peran dalam mencegah keparahan gejala, perawatan di rumah sakit, hingga kematian.

Vaksinasi sendiri merupakan prosedur pemberian suatu antigen penyakit, biasanya berupa virus atau bakteri yang dilemahkan atau sudah mati, bisa juga hanya bagian dari virus atau bakteri. Tujuannya adalah untuk membuat sistem kekebalan tubuh mengenali dan mampu melawan saat terkena penyakit tersebut.

Selain itu, vaksinasi juga bertujuan untuk mendorong terbentuknya herd immunity atau kekebalan kelompok. Hal ini penting dikarenakan ada sebagian orang yang belum atau tidak dapat divaksin seperti orang yang mengidap autoimun, anak-anak, dan lain sebagainya.

Apa yang dilakukan oleh BIN merupakan langkah konkrit dalam upaya menekan pertambahan jumlah kasus, jika angka Covid-19 semakin melandai, tentu saja ekonomi di Indonesia akan semakin pulih, tempat wisata dan pusat perbelanjaan akan semakin ramai.
Langkah yang ditempuh oleh BIN patut mendapatkan dukungan karena keberadaan vaksin telah menjadi bukti bahwa pemerintah tidak tinggal diam selama pandemi Covid-19.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Alfisyah Diasanasari )*

Percepatan vaksinasi adalah misi pemerintah tahun 2022 agar kekebalan kelompok segera terbentuk dan masa pandemi lekas berakhir. Masyarakat pun mendukung upaya percepatan vaksinasi di daerah agar dapat terhindar dari penularan varian Omicron.

Ketika program vaksinasi nasional dimulai tahun 2021 awal maka yang pertama disuntik adalah warga DKI Jakarta dan disusul dengan daerah-daerah lain. Pemerataan vaksinasi penting karena semua WNI memiliki hak yang sama untuk mendapatkan injeksi vaksin. Jadi nantinya masyarakat dari Sabang sampai Merauke sudah divaksin, bagi yang berusia 6 tahun ke atas.

Vaksinasi adalah kewajiban sehingga penyelenggaraannya wajib dibantu oleh semua pihak, karena pemerintah pusat dan kementrian kesehatan tidak bisa bergerak sendiri. Pihak pemerintah daerah juga wajib membantu suksesnya vaksinasi di tempatnya masing-masing, agar tercapai cakupan vaksinasi seratus persen. Makin banyak yang sudah divaksin maka makin aman dari bahaya corona, tentu dengan disiplin protokol kesehatan 10M.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyatakan bahwa pemerintah daerah harus melakukan berbagai cara untuk mempercepat pemberian vaksinasi di berbagai wilayah di Indonesia. Apalagi saat ini Indonesia menghadapi Omicron sehingga tidak boleh lengah. Dalam artian, vaksinasi harus dipercepat agar kekebalan kelompok lekas terbentuk dan mencegah penyebaran Omicron.

Menteri Tito menambahkan, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh pemerintah daerah. Pertama dengan vaksinasi berbasis data di pemerintahan. Kedua dengan vaksinasi mobile alias door to door. Sedangkan yang ketiga adalah dengan membentuk pusat-pusat vaksinasi di seluruh daerah di Indonesia.

Vaksinasi berbasis data pemerintah sudah dilakukan di Provinsi DKI Jakarta dan Bali. Ketika ada vaksinasi berbasis data maka ada pengintegrasian data sehingga terlihat berapa persen masyarakat yang belum divaksin. Mereka yang belum divaksin akan jadi sasaran selanjutnya agar mendapatkan injeksi, karena vaksinasi adalah hak bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sedangkan vaksinasi mobile alias door to door yang diinisiasi oleh Badan Intelijen Negara menjadi metode yang sangat ampuh untuk meningkatkan cakupan vaksinasi. Penyebabnya karena dengan metode ini maka petugas kesehatan yang mendatangi masyarakat, sehingga memudahkan mereka yang kesulitan untuk mendatangi lokasi vaksinasi. Misalnya pada masyarakat yang berstatus lansia, difabel, dll.

Vaksinasi door to door juga mendatangi sekolah-sekolah dan juga sangat bagus karena kenyataannya ada yang masih belum paham bahwa anak usia 6 hingga 6 tahun sudah bisa divaksin. Jika petugas yang mendatangi maka akan dikoordinasi oleh sekolah dan puskesmas terdekat, sehingga lebih rapi dan sistematis. Anak-anak bisa sekolah tatap muka dengan gembira tanpa takut kena Omicron.

Pusat-pusat vaksinasi juga terus dibangun, tak hanya di pulau Jawa tetapi juga di pulau lainnya. Fungsi utama dari pusat vaksinasi adalah sebagai tempat yang representatif untuk melakukan vaksinasi. Sedangkan fungsi lainnya adalah untuk pusat data, sehingga bisa terlihat berapa persen penduduk yang belum divaksin? Data akan diolah secara digital sehingga lebih sistematis.

Pemerintah sudah berupaya agar vaksinasi makin dimudahkan pemberiannya untuk rakyat. Di sisi lain, masyarakat juga harus taat aturan dan mau divaksin agar tidak kena corona, terutama varian Omicron. Apalagi saat ini saat akan masuk ke tempat umum seperti Bank atau pusat perbelanjaan harus scan aplikasi peduli lindungi, sehingga yang boleh masuk hanya yang sudah divaksin.

Berbagai upaya untuk mempercepat vaksinasi dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah agar 100% WNI sudah divaksin dan kekebalan kelompok lekas terbentuk. Vaksinasi wajib hukumnya dan jangan mangkir karena ini adalah upaya penting agar pandemi lekas berakhir.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Fikri Arfiansyah )*

Indonesia meraih prestasi karena cakupan vaksinasi Covid-19-nya ada di peringkat 4 dunia. Ini adalah sebuah kebanggaan, karena menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memberantas corona dan melaksanakan program vaksinasi nasional.

Pandemi membuat kondisi kita jadi jungkir balik dan pemerintah berusaha keras agar keadaan ini tidak berlarut-larut. Untuk mencegah keparahan pandemi maka salah satu strateginya adalah dengan program vaksinasi nasional. Program ini makin digenjot karena makin banyak yang divaksin tentu makin banyak pula yang kebal dari virus Covid-19 (dengan catatan mematuhi protokol kesehatan).

Kerja keras pemerintah dalam melaksanakan vaksinasi membuahkan hasil. Per tanggal 4 januari 2022, Indonesia dinyatakan jadi negara ke-4 yang memiliki cakupan vaksinasi corona terbanyak, yakni lebih dari 283 juta dosis untuk sasaran 166 juta orang. Negara pertama yang mencapai cakupan vaksinasi adalah Tiongkok, disusul India dan Amerika Serikat.

Ketika cakupan vaksinasi di Indonesia sudah lebih dari 283 juta dosis maka lebih dari 60% penduduk yang sudah divaksin. Jika program vaksinasi nasional makin digenjot, maka pada akhir tahun 2022 akan tercapai kekebalan kelompok, karena semua WNI sudah disuntik vaksin. Kekebalan ini yang diidam-idamkan karena bisa menghapus status pandemi yang menyakitkan.

Cakupan vaksinasi yang besar merupakan hasil dari strategi-strategi pemerintah dalam mempercepat program vaksinasi nasional. Pertama, vaksin corona diberikan secara gratis, sehingga banyak yang mau disuntik (mumpung tidak harus membayar seperti di negara lain). Pemerintah paham bahwa kondisi masyarakat saat pandemi begitu menyedihkan, sehingga penggratisan vaksin bisa membantu mereka.

Kedua, vaksinasi dilaksanakan secara massal. Jika pada awal program vaksinasi nasional hanya diadakan di Puskesmas atau RS, maka saat ini vaksinasi selalu diadakan di tanah lapang, aula, atau tempat lain yang bisa menampung banyak orang. Penyelenggara vaksinasi massal biasanya dari pihak aparat dan ada juga pihak swasta.

Menariknya, saat ini juga sudah umum vaksinasi diadakan di pusat perbelanjaan. Hal ini untuk menarik minat masyarakat yang sedang belanja, sehingga mereka yang belum divaksin bisa mendaftar. Sebaliknya, ketika mereka yang niat awalnya mau divaksin, akan makan di foodcourt dan belanja di mall tersebut, sehingga terjadi simbiosis mutualisme.

Vaksinasi juga diadakan secara door to door. Program yang diinisiasi oleh Badan Intelijen Negara (BIN) ini mendekatkan mobil vaksinasi dan tenaga kesehatan ke masyarakat, sehingga mereka bisa disuntik tanpa harus pergi ke Rumah Sakit atau lokasi vaksinasi massal lainnya. Dengan begitu, maka diharap makin banyak masyarakat yang sudah divaksin.

Makin banyak yang sudah divaksin maka makin banyak yang punya imunitas, sehingga tidak mudah tertular corona. Kesehatan adalah modal utama karena jika sehat maka bisa bekerja dengan riang.

Cakupan vaksinasi memang harus diperbesar karena targetnya adalah selesai dalam 18 bulan setelah maret 2021, sehingga perkiraannya pada september 2022 100% WNI sudah divaksin. Untuk mencapai target maka suntikan ditingkatkan, dari 1 juta menjadi 3 juta per hari di seluruh Indonesia.

Pemerintah juga membuat aturan agar semuanya mau divaksin, agar cakupan vaksinasi makin besar. Misalnya ketika ada pembelajaran tatap muka, maka para murid harus divaksin terlebih dahulu. Selain itu, guru-gurunya juga harus divaksin.

Ketika Indonesia menjadi negara ke-4 yang mencapai cakupan vaksinasi terbesar di dunia maka ini adalah sebuah prestasi besar. Hal ini menunjukkan keberhasilan program vaksinasi nasional di Indonesia. Semua WNI juga tertib dan mau divaksin dengan senang hati.

)* Penulis adalah mahasiswa IISIP Jakarta

Jakarta — Evaluasi efektivitas vaksin COVID-19 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes membuktikan, vaksin mampu menurunkan risiko terinfeksi virus corona, serta mengurangi perawatan dan kematian bagi tenaga kesehatan.

Studi ini Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes lakukan terhadap 71.455 tenaga kesehatan di DKI Jakarta, meliputi perawat, bidan, dokter, teknisi, dan tenaga umum lainnya sepanjang periode Januari-Juni 2021.

Penelitian tersebut mengamati kasus konfirmasi positif, perawatan, dan kematian karena COVID-19 pada tiga kelompok tenaga kesehatan. Yakni, mereka yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis pertama, vaksinasi lengkap, dan yang belum divaksinasi.

Para tenaga kesehatan ini mayoritas mendapatkan vaksin COVID-19 buatan Sinovac.

Studi berlangsung dalam kondisi pandemi yang dinamis, mengingat sepanjang Januari-Juni 2021 terjadi beberapa gelombang peningkatan kasus COVID-19 serta dinamika komposisi Variants of Concern (VoC) yaitu ada mutasi varian Delta.

Juru bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, sebanyak 5% dari tenaga kesehatan yang divaksinasi lengkap dilaporkan terkonfirmasi COVID-19 pada periode April-Juni 2021.

“Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang terkonfirmasi COVID-19 pada periode Januari-Maret 2021 yang jumlahnya hanya 0,98%,” kata Nadia dalam keterangan tertulis, 12 Agustus lalu.

Meski begitu, jumlah tenaga kesehatan yang telah mendapat vaksinasi lengkap yang harus dirawat jauh lebih rendah, hanya 0,17%, ketimbang mereka yang belum divaksinasi sebesar 0,35%.

“Hal ini menunjukkan, vaksin COVID-19 yang saat ini digunakan efektif terhadap mutasi virus COVID-19,” ujar Nadia.

Sampai saat ini, Nadia menegaskan, belum ada penelitian ataupun bukti ilmiah yang menunjukkan vaksin yang telah diproduksi dan digunakan di berbagai belahan dunia tidak bisa melindungi dari varian baru virus corona.

“Vaksin yang digunakan dalam upaya kita melakukan penanggulangan pandemi COVID-19 masih sangat efektif,” tegas dia.

Demikian pula dengan kejadian kematian akibat COVID-19. Jumlah tenaga kesehatan yang belum divaksinasi yang meninggal relatif lebih besar dibanding yang sudah mendapat vaksinasi lengkap.

Begitu juga tenaga kesehatan yang baru mendapat vaksinasi dosis pertama, jumlah yang meninggal akibat COVID-19 relatif lebih banyak ketimbang mereka yang menerima dosis lengkap.

Pada dua periode observasi di Januari-Maret dan April-Juni 2021, terlihat proporsi kasus meninggal karena COVID-19 pada tenaga kesehatan yang belum divaksin (0,03%) tidak berbeda dengan tenaga kesehatan yang telah mendapat vaksin dosis pertama (0,03%).

Sedangkan vaksinasi dosis lengkap melindungi tenaga kesehatan dari risiko kematian dengan rasio 0,001% pada periode Januari-Maret 2021 dan 0,01% selama April-Juni 2021.

Data-data tersebut memperlihatkan, vaksinasi COVID-19 dosis lengkap bisa diandalkan untuk melindungi tenaga kesehatan dari risiko perawatan dan kematian akibat infeksi COVID-19.

Efektivitas vaksin COVID-19 dosis lengkap dalam mencegah infeksi COVID-19 pada Januari-Maret sebesar 84%. Dengan kata lain, hanya 2 dari 10 orang tenaga kesehatan yang telah divaksinasi lengkap berpeluang terinfeksi COVID-19.

“Ini menunjukkan, vaksinasi berperan dalam memperlambat risiko infeksi COVID-19. Tenaga kesehatan yang divaksinasi lengkap relatif memiliki ketahanan yang lebih lama untuk tidak terinfeksi COVID-19 dibanding yang belum divaksinasi,” ungkap dr. Nadia

Pada periode April-Juni, total 474 tenaga kesehatan yang dirawat karena terinfeksi COVID-19. Tapi, tenaga kesehatan yang divaksinasi lengkap tidak banyak yang dirawat atau jumlah yang dirawat berkurang hingga 6x lebih rendah, turun dari 18% ke 3,3%.

Data menunjukkan, lama perawatan tenaga kesehatan yang divaksinasi relatif lebih singkat, 8-10 hari dibandingkan dengan yang belum divaksinasi (9-12 hari). D

Dari total tenaga kesehatan yang dirawat, 2,3% memerlukan perawatan intensif di ICU. Sebagian besar (91%) dari tenaga kesehatan yang memerlukan perawatan intensif adalah yang belum divaksinasi atau baru mendapat satu dosis.

Meskipun sudah divaksinasi dr. Nadia berpesan, agar tetap melaksanakan protokol kesehatan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak). “Karena, kemungkinan kita untuk terpapar virus akan tetap ada. Namun, kemungkinan untuk penderita gejala parah akan semakin kecil,” pesannya. (*)

Oleh : Deka Prawira )*

Berita bohong tentang vaksin Covid-19 menciptakan ketakutan masyarakat untuk divaksin, sehingga menghambat terealisasinya kekebalan kolektif. Masyarakat diminta untuk mewaspadai penyebaran hoaks vaksin Corona dan selalu mencari informasi dari sumber terpercaya.

Vaksinasi nasional sudah dimulai di Indonesia sejak Maret 2021. Program ini terus digenjot oleh pemerintah agar seluruh rakyat sudah diinjeksi vaksin, sehingga Indonesia bebas dari status pandemi karena sudah terbentuk kekebalan kelompok. Namun sayang sekali vaksinasi terhalang oleh hoaks yang menyesatkan.

Kementrian Komunikasi dan Informatika melaporkan temuan hoaks seputar vaksin Corona. Hoaks yang ditemukan yang paling banyak ada di Facebook, yakni lebih dari 2.000 buah. Sayang sekali tak hanya di Facebook, tetapi juga di Twitter, Youtube, dan Tiktok, juga ada hoaks tentang vaksin Corona. Padahal media-media sosial tersebut sering sekali diakses oleh rakyat Indonesia, terutama pada generasi muda.

Menggilanya hoaks di media sosial masih ditambah dengan berita palsu tentang vaksin covid di grup WA. Mudahnya cara untuk sharing informasi di aplikasi chatting tersebut malah menjadi bumerang karena bisa menyebarkan hoaks tentang vaksin Corona. Sedihnya, yang paling banyak memiliki hoaks adalah grup WA keluarga, karena keterbatasan pengetahuan atau tipe anggotanya yang sering sharing.

Salah satu hoaks tentang vaksin Corona adalah berita bahwa vaksin ini mengandung chip. Padahal sudah jelas vaksin berisi cairan dan tidak bisa disusupi oleh benda padat seperti chip. Sementara itu, hoaks selanjutnya adalah vaksin dikabarkan mengandung zat berbahaya, padahal sudah banyak orang yang disuntik dan sehat-sehat saja.

Penyebaran hoaks sangat menyebalkan karena bisa membuat banyak korban. Ketika ada 1 orang yang termakan oleh hoaks maka ia bisa menyebarkan dan akhirnya makin banyak yang terkena dan beramai-ramai untuk anti vaksin. Padahal ketika ada kaum anti vaksin seperti ini maka bisa menggagalkan terbentuknya kekebalan kelompok dan akhirnya pandemi jadi berakhir entah kapan.

Oleh karena itu kita wajib menangkal hoaks tentang vaksin Corona agar tidak ada yang jadi korban selanjutnya. Pasalnya, penyebaran vaksin (terutama di media sosial) sudah terlalu deras sehingga wajib diberantas. Jangan sampai gara-gara sebaris dua baris kalimat hoaks bisa mencelakakan banyak orang, karena tidak mau divaksin dan akhirnya meninggal dunia saat kena Corona.

Cara termudah untuk menangkal hoaks adalah dengan melaporkan akun yang sering men-share berita palsu tentang vaksin Corona ke pihak Facebook atau twitter, sehingga akun tersebut bisa dibekukan, karena ketahuan menyebar hoaks. Pihak pengelola media sosial juga tidak suka ketika ada hoaks yang tersebar karena bisa mencoreng nama baik mereka.

Cara lain adalah dengan melaporkannya ke polisi siber, sehingga bisa ditindak siapa dalang di balik akun media sosial yang menyebarkan hoaks. Ia bisa terancam hukuman 2 tahun 9 bulan, sesuai dengan pasal 390 KUHP. Penyebar hoaks patut dihukum seberat itu karena perbuatannya merugikan orang lain, bahkan mengancam nyawa banyak orang, karena mereka gagal mendapatkan proteksi dari vaksin.

Penyebaran hoaks memang harus diberantas karena sangat berbahaya. Memang sepintas berita atau foto palsu tentang vaksin Corona hanya berupa gambar atau beberapa paragraf biasa. Akan tetapi efeknya berbahaya karena menyebabkan banyak orang ogah divaksin dan akibatnya kekebalan kelompok gagal terbentuk.
Masyarakat wajib mewaspadai tersebarnya hoaks tentang vaksin Corona yang banyak terjadi di dunia maya. Ingatlah untuk saring sebelum sharing, agar tidak terjebak dan malah jadi penyebar berita hoaks.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Jakarta — Pakar Biologi Molekuler Ahmad Rusdan Handoyo menyebut ada risiko di balik individu yang belum vaksinasi dengan masuknya varian Omicron atau varian baru Corona B 1.1.529. Ia mengingatkan varian Omicron merupakan turunan dari virus SarS-CoV-2, yang tetap berisiko buruk pada masyarakat yang belum menerima vaksin.

“Omicron masih merupakan bagian dari SARSCoV2 artinya mereka yang belum divaksin tetap mengalami risiko lebih buruk daripada mereka yang sudah divaksin,” ujar Ahmad, Kamis (16/12).

Meski begitu, sejauh ini mayoritas yang terinfeksi varian Omicron memang bergejala ringan, namun bukan berarti tak ada temuan kasus kematian. Kematian karena Omicron telah tercatat di Inggris. Varian yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan tersebut juga menjadi penyebab lonjakan kasus Covid-19 di banyak negara.

“Sejauh ini mayoritas yang terinfeksi Omicron memang gejala ringan, namun tidak berarti tidak ada yang meninggal, klo ndak salah ada satu kasus omicron yang meninggal,” ujarnya.

Omicron dilaporkan sudah terdeteksi untuk yang pertama kali masuk Indonesia pada Rabu (15/12) yang lalu. Hal tersebut diumumkan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Kamis (16/12). Menurut Budi, pasien pertama itu berada di Wisma Atlet Jakarta.

Budi melaporkan pasien pertama itu merupakan petugas kebersihan di Wisma Atlet, Jakarta. Pada 8 Desember 2021, sample rutin diambil di wisma atlet kemudian dikirimkan ke Kemenkes untuk Whole Genome Sequences (WGS).

Ia memastikan pasien tersebut tanpa gejala jadi masih dalam kondisi sehat tidak ada demam dan batuk. “Karena tes pertama 8 Desember, dan tes PCR kedua sudah negatif,” tegas Budi.

Lebih lanjut Budi memastikan bahwa pasien yang positif Covid dan Omicron itu sudah negatif setelah kembali dites PCR. Kementerian Kesehatan juga mendeteksi lima orang probable Omicron.

Pihaknya mendeteksi ada 5 kasus, dua kasus adalah WNI yang baru kembali dari Amerika Serikat (AS) dan saat ini sedang diisolasi di Wisma Atlet. (*)

Oleh : Muhammad Zaki )*

Vaksinasi Door to Door dan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) menjadi salah satu kunci penanganan pandemi Covid-19. Masyarakat pun mengapresiasi program tersebut yang diharapkan dapat mempercepat tren Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Kita sudah lelah menghadapi pandemi selama 2 tahun ini. Selain ketakutan kena Corona, juga kesulitan dalam mobilitas karena ada pembatasan. Pemerintah berusaha agar tidak ada lagi rakyatnya yang kena Corona dengan berbagai cara, di antaranya dengan program vaksinasi nasional dan PPKM, karena ketahanan tubuh akan terjaga dan mobilitas yang rendah menghindarkan rakyat dari Corona.

Program vaksinasi nasional itargetkan selesai dalam 12 bulan, tetapi setelah 6 bulan baru ada 30% WNI yang telah diinjeksi. Padahal vaksinasi harus berpacu dengan waktu, karena makin cepat selesai, makin banyak yang aman dari bahaya Corona setelah terbentuknya kekebalan kelompok. Oleh karena itu pemerintah mempercepat vaksinasi dengan vaksinasi door to door.

Vaksinasi door to dr diinisiasi oleh BIN dan diadakan di 14 provinsi di Indonesia. Presiden Jokowi mengapresiasi program ini dan meminta agar diadakan di daerah-daerah lain, sehingga cakupannya lebih luas. Dengan vaksinasi door to door maka makin banyak yang divaksin, karena petugas yang mendatangi masyarakat langsung di perumahan atau kampung mereka.

Vaksinasi door to door ampuh dalam menangani pandemi karena jika petugas yang datang langsung ke lapangan, kesuksesannya akan 100%, karena mereka bisa langsung diinjeksi di tempat. Mereka hanya perlu antri, diperiksa tekanan darahnya, lalu mendapatkan suntikan vaksin Corona. Masyarakat juga senang karena tidak usah pergi ke GOR atau Puskesmas untuk divaksin dan hemat waktu serta biaya transportasi.

Selain untuk masyarakat umum, vaksinasi door to door juga diberikan kepada ODGJ (orang dengan gangguan jiwa), yang dilakukan di Malang. ODGJ juga WNI yang mendapatkan haknya untuk sehat, oleh karena itu mereka juga wajib disuntik. Dengan vaksinasi door to door maka ODGJ bisa aman dari Corona, apalagi kondisi mereka yang tidak seperti manusia normal, akan sangat sulit untuk mengantri vaksinasi secara massal di lapangan.

PPKM juga terbukti mengamankan masyarakat dari bahaya Corona, oleh karena itu program ini diperpanjang, bahkan sampai 2 minggu lamanya. PPKM diberlakukan hingga 4 oktober 2021. Walau ada sedikit pelonggaran, misalnya penyekatan diganti dengan pemberlakuakn ganjil-genap nomor plat kendaraan bermotor, tetapi program ini tetap ampuh dalam melawan virus Covid-19.

Selama PPKM, mobilitas masih agak dibatasi dan kerumunan pasti akan dibubarkan saat itu juga. Rumah makan memang sudah boleh menyediakan tempat untuk dine in, tetapi hanya maksimal 50% dari kapasitas ruangan. Jika ada yang melanggar maka akan didenda setidaknya 2 juta rupiah dan tempatnya disegel, karena harus disterilkan dengan disinfektan.

Selain itu, aturan lain pada PPKM ini adalah anak-anak boleh sekolah lagi, tetapi harus dengan protokol kesehatan yang ketat. Di satu sisi mereka butuh sosialisasi tetapi di sisi lain juga harus dijaga dari bahaya Corona, apalagi murid berusia 4-12 tahun belum mendapatkan vaksin, karena vaksinasi yang ada di Indonesia baru untuk 12 tahun ke atas. Dengan cara ini maka mereka semangat belajar dan orangtuanya tidak takut akan Corona.

PPKM dan vaksinasi door to door terbukti ampuh dalam melawan Corona, sehingga kedua program ini sangat diapresiasi oleh masyarakat. Mereka tidak mengomel saat ada perpanjangan PPKM karena paham bahwa program ini dibuat demi keselamatan bersama. Selain itu, vaksinasi door to door dilakukan agar lebih banyak masyarakat yang mendapatkan haknya untuk sehat dan bebas Corona.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Presiden Jokowi menegaskan bahwa penerapan protokol kesehatan secara ketat dan vaksinasi merupakan cara terbaik dalam melindungi diri dari penyebaran Covid-19. Hal tersebut disampaikan Kepala Negara saat mengawali kegiatan kunjungan kerja di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan meninjau kegiatan vaksinasi yang digelar di Jogja Expo Center, Kabupaten Bantul, Jumat (10/09/2021).

“Cara yang terbaik adalah melindungi diri dengan vaksinasi dan juga melaksanakan protokol kesehatan secara ketat,” ucap Presiden dalam keterangannya usai peninjauan.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak delapan ribu peserta dari berbagai kalangan masyarakat akan menerima suntikan vaksin AstraZeneca. Mulai dari penyandang disabilitas, para abdi dalem, lansia, pengemudi ojek daring, hingga masyarakat umum. Presiden Jokowi pun berharap vaksinasi tersebut dapat memberikan perlindungan mereka dalam beraktivitas sehari-hari.

“Kita harapkan dengan vaksinasi ini bisa memberikan perlindungan, bisa memberikan proteksi yang maksimal kepada masyarakat sehingga kita semuanya bisa beraktivitas seperti biasa,” ujar Presiden.

Selain itu, Presiden menyebut bahwa percepatan dan perluasan vaksinasi penting dilakukan sehingga target masyarakat yang telah menerima vaksinasi lebih 70 persen pada akhir tahun 2021 mendatang dapat tercapai dan Indonesia segera mencapai kekebalan komunal.

Presiden juga menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat dan seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan program vaksinasi COVID-19 sebagai bentuk upaya pencegahan dari Virus Corona yang tidak mungkin hilang secara total.

“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat yang sudah antusias untuk vaksinasi. Ini akan memberikan proteksi, memberikan perlindungan kepada kita semuanya karena Covid-19, karena Virus Corona ini, tidak mungkin hilang secara total,” ucap Presiden.

Saat di Yogyakarta, Presiden juga meninjau pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bantul, Kabupaten Bantul. Pelaksanaan vaksinasi itu ditujukan bagi kurang lebih 375 pelajar SLB.

“Yang kita harapkan ini bisa memberikan perlindungan, memberikan proteksi secara maksimal kepada para pelajar SLB,” ujar Presiden usai peninjauan.

Kepala Negara menegaskan, pelaksanaan vaksinasi bagi pelajar ini merupakan upaya perluasan vaksinasi yang dilakukan pemerintah untuk mengendalikan penyebaran Covid-19 yang diperkirakan tidak dapat hilang sepenuhnya.

“Kita tahu bahwa Covid-19 ini tidak mungkin akan hilang. Oleh sebab itu, kita harus mulai menyiapkan transisi dari pandemi ke endemi dan juga mulai belajar hidup bersama dengan Covid-19,” ujarnya.

Presiden juga mengingatkan semua pihak untuk tidak euforia menyikapi penurunan kasus Covid-19 yang sedang terjadi di tanah air. Semua pihak harus tetap waspada dan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

“Ini penting saya sampaikan agar kita tidak euforia yang berlebihan, senang-senang yang berlebihan, karena kita semuanya, masyarakat harus sadar bahwa Covid-19 selalu mengintip kita, terutama protokol kesehatan harus terus dilakukan, terutama memakai masker,” pungkasnya.

Turut hadir mendampingi Presiden dalam acar tersebut adalah Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Bupati Bantul Abdul Halim Muslih. (**)

Oleh: Aulia Hawa )*

Program vaksinasi nasional makin digencarkan agar berhasil selesai lebih cepat. Nanti ketika kekebalan komunal sudah terbentuk, kita bisa bebas dari masa pandemi yang mengerikan. Untuk mempercepat vaksinasi maka ada beberapa strategi yang dilakukan oleh pemerintah, dan masyarakat kooperatif dengan menurut saat divaksin.

Apakah Anda sudah divaksin? Saat ini vaksinasi adalah hal yang wajib. Selain untuk menignkatkan kekebalan tubuh dari virus covid-19, kartu vaksin adalah syarat yang harus ditunjukkan sebelum naik pesawat dan masuk Mall. Vaksinasi covid juga gratis, halal, dan sudah lulus uji BPOM, sehingga masyarakat bersemangat untuk mendapatkannya.
Pada awal pandemi, target pemerintah adalah 1 juta suntikan per hari dan diperkirakan bisa selesai dalam waktu 18 bulan. Namun akhirnya target ini direvisi oleh Kementrian Kesehatan, atas perintah Presiden Jokowi.
Beliau ingin agar vaksinasi nasional selesai hanya dalam 12 bulan. Sehingga suntikan ditingkatkan jadi 2 juta vaksin per harinya.
Untuk mencapai target maka Kementrian Kesehatan menggandeng berbagai instansi. Juru bicara vaksinasi covid Kemenkes dr Siti Nadia Tarmizi menyatakan bahwa Kemenkes mengupayakan target 2 juta injeksi per hari bisa tercapai. Caranya dengan berkolaborasi dengan pihak swasta, Ormas, TNI, dan juga Polri.

Bantuan dari TNI dan Polri sangat penting untuk mensukseskan pemercepatan target vaksinasi nasional, karena di daerah yang terpencil mereka ikut membantu dalam distribusinya. Dengan bantuan dari aparat maka penyebaran vaksin akan berlangsung dengan aman. Sehingga di wilayah yang jauh seperti di Merauke sekalipun, stok ampul vaksin covid akan tersalurkan.

Ketika persedian vaksin tersedia, meskipun di Sabang sekalipun, maka seluruh warga Indonesia akan mendapatkan haknya dalam bidang kesehatan. Mereka akan divaksin tanpa harus menunggu selama berbulan-bulan, karena kiriman stok vaksin selalu tepat waktu. Sehingga di luar Jawa, kasus covid akan terkendali, karena sudah banyak orang yang diinjeksi vaksin Corona.

Selain itu, TNI dan Polri juga membantu pemerintah dalam mempercepat target penyelesaian vaksinasi nasional dengan menyelenggarakan vaksinasi massal. Penyelenggaraanya biasanya dilakukan di lapangan dan antriannya lebih tertib, karena panitianya sangat disiplin. Dalam artian, tidak ada kerumunan karena petugas sigap dalam berjaga dan menyediakan kursi yang berjarak 1 meter untuk mengantri.

BIN juga membantu dalam mempercepat target 2 juta suntikan vaksin per hari, dengan menyelenggarakan vaksinasi door to door. Mereka melakukan jemput bola alias datang langsung ke perkampungan dan perumahan, dan menyelenggarakan vaksinasi di sana. Dengan cara itu maka masyarakat bisa mendapatkan vaksinasi dan menghemat biaya transportasi.

Bantuan dari Polri, TNI, dan BIN, adalah komitmen mereka dalam mensukseskan program pemerintah dan menunjukkan komitmen dalam mengamankan masyarakat, khususnya di bidang kesehatan. Aparat adalah sahabat rakyat, sehingga wajar jika mereka turut melayani dalam vaksinasi nasional, dan berharap semoga program ini cepat selesai. Masyarakat juga senang karena aparat membantu pemerintah, sehingga pandemi bisa lekas diakhiri.

Sementara itu, pihak swasta juga membantu dalam mensukseskan percepatan target injeksi, dengan menyelenggarakan vaksinasi. Seperti yang dilakukan oleh salah satu perusahaan transportasi. Mereka melakukan vaksinasi kepada seluruh karyawannya, dan juga pihak luar. Vaksinasi ini dilakukan dengan cara drive thru sehingga berlangsung dengan cepat dan tidak membuat kerumunan.

Berbagai pihak mulai dari aparat hingga swasta turut membantu pemerintah dalam memepercepat target vaksinasi nasional. Semuanya berkolaborasi agar masyarakat selalu sehat dan bebas Corona. Jika program-program ini berhasil, maka kita optimis akan mencapai target 2 juta suntikan per hari dan bisa selesai hanya dalam 12 bulan.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini