Sampai dengan hari Minggu (18/7/2021) pukul 18.00 WIB, jumlah warga yang berhasil divaksinasi Cov-19 dosis kedua yaitu sebanyak 16.274.150 orang atau 7,81 persen dari total target vaksinasi. Sedangkan jumlah warga yang sudah disuntik vaksin Covid-19 dosis pertama sebanyak 41.673.464 orang atau 20,01 persen. Pemerintah telah menetapkan sasaran vaksinasi untuk mencapai kekebalan komunitas (herd immunity) yaitu 208.265.720 orang.

Komponen sasaran vaksinasi terdiri atas tenaga kesehatan, lanjut usia, petugas publik, masyarakat rentan, dan masyarakat umum termasuk anak-anak usia 12-17 tahun. Adapun sasaran untuk tenaga kesehatan yakni sebanyak 1.468.764 orang.
Sebanyak 1.584.885 (107,91 persen) orang tenaga kesehatan sudah divaksinasi dosis pertama dan 1.438.042 (97,91 persen) orang telah disuntik dosis kedua. Kemudian, sasaran untuk petugas publik sebanyak 17.327.167 orang. Hingga saat ini, sebanyak 23.058.511 (133,08 persen) orang petugas publik sudah divaksinasi dosis pertama dan 9.449.672 (54,54 persen) orang telah disuntik vaksin dosis kedua.

Menyikapi kebijakan tersebut, pengamat kebijakan publik dari Makara Strategic Insight, Iwan Freddy, SH., M.Si, mengatakan bahwa pemerintah saat ini telah optimal melaksanakan program vaksinasi nasion al cegah covid-19.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa peningkatan presentasi tingkat vaksinasi dari 4% menjadi 7,81 % dalam waktu yang singkat merupakan pencapaian yang luar biasa. Para stakeholder harus memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait peran vaksinsi dan prokes guna menyelesaikan pandemi covid-19.

“Peningkatan presentasi tingkat vaksinasi dari 4% menjadi 7,81 % dalam waktu yang singkat merupakan pencapaian yang luar biasa. Para stakeholder harus memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait peran vaksinsi dan prokes guna menyelesaikan pandemi covid-19”, ujar Iwan Freddy.

Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru dr Reisa Kartikasari Broto Asmoro mengatakan sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan vaksin COVID-19 terbukti dapat memberikan perlindungan varian delta atau varian b.1.617.2. Varian tersebut sebelumnya dikenal dengan dengan nama varian ‘India’.

dr Reisa memaparkan data terbaru dari Public Health England (PHE) menemukan dua dosis vaksin COVID-19 Astrazeneca 92% efektif mencegah rawat inap yang disebabkan varian delta dan tidak menunjukkan adanya kematian di antara mereka yang divaksinasi.

Ia juga mengatakan vaksin menunjukkan tingkat efektivitas yang tinggi terhadap varian alpha atau b.1.1.7 yang sebelumnya disebut varian ‘kent’ Inggris dengan menurunkan 86% rawat inap dan tidak ada kematian yang dilaporkan.
Lebih lanjut dr Reisa mengatakan efikasi yang lebih tinggi terhadap penyakit parah dan rawat inap akibat COVID-19 juga didukung oleh data terbaru yang menunjukkan respon sel t yang kuat terhadap pemberian vaksin COVID-19 Astrazeneca.

Hasil ini diduga memiliki korelasi terhadap perlindungan yang tinggi dan bertahan lama. Laporan tersebut dibuat berdasarkan analisis terhadap 14.019 kasus varian delta. Adapun varian delta adalah kontributor utama gelombang infeksi yang saat ini terjadi di India dan sekitarnya.

“Baru-baru ini menggantikan varian alpha sebagai strain dominan di Skotlandia dan telah menyebabkan peningkatan kasus yang signifikan di Inggris,” ujar dr Reisa.

dr Reisa menjelaskan pada Mei 2021, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan juga telah mengumumkan hasil kajian yang menyatakan vaksin sinovac efektif mencegah kematian. Vaksinasi dosis lengkap secara signifikan dapat menurunkan risiko dan mencegah COVID-19 bergejala berat.

Studi yang dilakukan pada 13 januari sampai 18 maret 2021 lalu dan melibatkan lebih dari 128 ribu orang tersebut menunjukkan vaksinasi menurunkan risiko perawatan dan kematian.

“Berdasarkan analisis, ditemukan bahwa vaksinasi Sinovac dosis lengkap bisa menurunkan atau bisa mengurangi risiko COVID-19 sebanyak 94%,” kata dr Reisa.

Lebih lanjut dia menegaskan kajian itu sangat jelas menunjukkan pemberian vaksinasi lengkap 2 dosis bisa menurunkan risiko terinfeksi COVID-19 dan mencegah kematian. Tidak hanya itu, pemberian vaksinasi sinovac 2 dosis dapat mencegah sekitar 96% risiko perawatan dan 98% kematian karena COVID-19.

Studi-studi itu menunjukkan vaksinasi lengkap sangat disarankan karena vaksinasi pemberian dosis pertama itu belum cukup melindungi.

“Apabila masyarakat sudah menerima vaksinasi penuh atau lengkap, akan jauh lebih efektif dalam menurunkan risiko COVID-19 baik perawatan maupun kematian,” ujar dr Reisa. (*)

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Siti Nadia Tarmizi menyebutkan, sampai saat ini anak dengan rentang usia 12-17 tahun yang telah mendapatkan vaksinasi Covid-19 sebanyak 548.000 orang.

Menurut Nadia pelaksanaan vaksinasi untuk usia 12-17 tahun difokuskan di fasilitas pelayanan kesehatan atau di sekolah masing-masing.

“Untuk yang di fasyankes mungkin kita antisipasi usia 12 sampai 17 tahun yang mungkin tidak berada di bangku sekolahan,” kata Nadia, Kamis (23/7/2021).

Keseluruhan vaksin kini sudah didistribusikan ke 34 provinsi di Indonesia, termasuk juga vaksin bagi usia 12-17 tahun. Namun 50% stok vaksin kini disalurkan ke Jawa-Bali lantaran laju penularan kasus di wilayah tersebut masih tinggi.

“Kalau kita bicara target untuk vaksinasi kita kurang lebih 426 juta dosis. Saat ini kita baru memiliki 130 juta dosis artinya kurang lebih baru 30% dari total sasaran di semua provinsi bisa terpenuhi. Menjadi penting untuk bagaimana provinsi tadi melakukan strategi untuk bisa optimalkan jumlah vaksin yang distribusikan termasuk kepada anak-anak,” ujarnya.

“Jadi kalau kita lihat sudah hampir 60 juta dosis yang sudah kita suntikan sampai dengan saat ini,” kata Nadia.

Namun jika melihat dari target sebesar 208 juta sasaran jumlah penerima dosis kedua masih berada diangka 7%. Serta 15% untuk penerima dosis pertama dari target penerima vaksin.

“Kita kejar dalam waktu 7 bulan ini setidaknya 90% dari target kita yang awalnya 181,5 juta kemudian bertambah menjadi 208 juta jumlah mendapatkan vaksin covid,” ujar Nadia.

Sementara itu Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jendral Polisi (Purn) Budi Gunawan menyebut vaksinasi untuk anak-anak perlu dipercepat. Pasalnya saat 1 dari 7 penderita COVID-19 merupakan anak di bawah 18 tahun.

Hal itu diungkapkan Budi Gunawan dalam sambutannya pada vaksinasi pelajar di SMPN 1 Semarang. Budi menjelaskan BIN membantu percepatan vaksinasi bagi pelajar sebagaimana perintah Presiden. Hal itu karena kasus COVID-19 di usia anak-anak meningkat.

“Kasus COVID-19 yang menyerang anak-anak dan pelajar meningkat. 1 dari 7 orang kasus COVID-19 di Indonesia adalah anak-anak. Anak-anak pelajar ini menyumbang angka sampai 9 persen dari seluruh angka positivity rate yang terpapar COVID-19 di Indonesia, ” kata Budi di SMP N 1 Semarang, Rabu (21/7/2021).

Kepada para peserta vaksinasi yang hadir, ia menjelaskan saat ini anak-anak juga bisa menjadi sumber penularan Corona. Terlebih lagi klaster penyebaran Corona di Indonesia didominasi klaster keluarga.

“Pada perkembangannya, anak-anak jadi salah satu trigger atau sumber penularan khususnya di klaster rumah tangga. Klaster rumah tangga itu terbanyak, 85 persen. Sehingga vaksinasi terhadap anak dan pelajar ini juga jadi prioritas,” tandasnya.

Budi juga menyebut vaksinasi bisa mengurangi resiko kematian ketika terpapar Corona. Maka ia mengimbau masyarakat berpartisipasi dalam program vaksinasi.

“Semua yg sudah divaksin minimal terhindar dari resiko kematian. Kalau kena bisa selamat. Oleh karena itu kita mengimbau ke orang tua dan pelajar mari daftar dan ikuti program vaksinasi, jangan termakan isu berita bohong. Semua ini kita lakukan untuk jadikan Indonesia sehat dan Indonesia hebat,” katanya.

Terkait vaksinasi nasional ini, Komisioner KPAI Retno Listyarti, Jumat (23/7/2021) mengatakan bahwa program vaksinasi anak usia 12-17 tahun yang dilakukan dengan sinergitas antara dinas pendidikan dan dinas kesehatan berhasil berjalan efektif. Meskipun capaian rata-rata baru sekitar 70%.

“Angka tersebut terjadi dikarenakan cukup banyak peserta didik yang sedang menjalani isolasi mandiri, bahkan ada sebagian kecil yang di rawat di rumah sakit. Ada juga anak-anak yang belum 3 bulan sejak terinfeksi Covid-19,” kata Retno.

Menurut Retno, KPAI telah melakukan pengawasan ke sentra-sentra vaksinasi di sekolah di DKI Jakarta. Diantaranya, SMPN 30 Jakarta, SMPN 270 Jakarta, SMAN 22 Jakarta, dan sentra vaksinasi di Pulo Gadung Trade Center (PGC).

“Ada beberapa catatan kondisi anak Indonesia selama pandemi yang saya dapatkan dari berbagai pengawasan yang dilakukan, seperti kesiapan dan uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM), angka putus sekolah yang meningkat, dan layanan kesehatan terutama vaksinasi,” kata Retno.

Retno mendesak pemerintah daerah agar menggalakkan vaksinasi Covid-19 baik kalangan pendidik dan peserta didik mulai Juli 2021. Hal ini sebagai upaya membentuk kekebalan komunitas, sehingga diharapkan ketika warga sekolah sudah divaksin sebanyak 70% maka PTM bisa digelar dengan aman. (**)

Presiden Jokowi mengingatkan kemungkinan akan adanya virus corona varian baru pemicu Covid-19 yang melanda dunia setelah merebaknya virus corona varian delta. Presiden Jokowi juga meminta masyarakat tetap mewaspadai varian baru Covid-19 meski pemerintah mulai melonggarkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Level 4.

“Kita harus selalu waspada, ada kemungkinan dunia akan menghadapi varian lain yang lebih menular,” kata Presiden, Minggu (25/7/2021).

Dalam perpanjangan PPKM Level 4, Presiden Jokowi menginstruksikan para menteri membantu penurunan angka kasus Covid-19, dan melakukan langkah maksimal untuk memastikan vitamin dan suplemen kepada masyarakat tersedia.

“Memberikan dukungan obat-obatan dan konsultasi dokter terhadap pasien isolasi mandiri serta dukungan pengobatan di rumah sakit,” katanya.

Upaya maksimal menteri saat PPKM Level 4, perlu untuk menekan laju penularan dan meningkatkan angka kesembuhan.

Presiden meminta angka kematian harus ditekan semaksimal mungkin. Bagi daerah dengan kasus kematian tinggi juga diminta meningkatkan kapasitas rumah sakit isolasi terpusat serta ketersediaan oksigen.

Lebih lanjut Presdien mengatakan bahwa potensi varian baru virus corona mesti disikapi dengan peningkatan testing, tracing, dan treatment alias 3T. Upaya itu diperlukan untuk menekan laju penularan dan meningkatkan angka kesembuhan.

Selain itu, penerapan protokol kesehatan (prokes) ketat juga penting dengan tetap memperhatikan 3T yang akan menjadi pilar utama penanganan Covid-19.

“Saya mengajak seluruh lapisan masyarakat seluruh komponen bangsa untuk bersatu padu dan bahu membahu melawan Covid-19 ini. Dengan usaha keras kita bersama Insya Allah kita bisa segera terbebas dari Covid-19 dan kegiatan sosial ekonomi masyarakat bisa kembali normal,”.

Presiden Jokowi resmi memperpanjang PPKM Level 4 pada 26 Juli sampai 2 Agustus 2021. Sebelumnya PPKM Level 4 telah dimulai sejak 21 Juli 2021 dan menerapkan PPKM Darurat pada 3-20 Juli 2021. (**)

Juru Bicara (Jubir) Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan, vaksin Covid-19 yang digunakan di Indonesia masih efektif melawan varian baru dari virus corona.

Diketahui, saat ini terdapat varian baru Covid-19 yang masuk ke Indonesia. Diantaranya, varian Delta atau varian B.1.617.2 dan Alpha atau varian B.1.1.7.

“Masih sangat efektif dan WHO masih merekomendasikan untuk percepat vaksinasi,” jelas dia.

Adapun selain ketersediaan vaksin yang terus dipercepat kedatangannya, pemerintah juga memperbanyak sentra vaksinasi untuk mempercepat laju penyuntikan vaksin. Selain itu, kerjasama dengan swasta, BUMN serta organisasi masyarakat juga menjadi strategi mempercepat vaksinasi.

“Bekerjasama dengan swasta, BUMN serta organisasi masyarakat untuk membuka pos vaksinasi termasuk seperti pelaksanaan vaksinasi di mall atau pusat perbelanjaan,” imbuhnya.

Agar pelaksanaan vaksinasi semakin efektif, Nadia juga menekankan masyarakat yang sudah divaksin untuk tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan.

Terlebih vaksin saja dinilai tidak cukup untuk mencegah penularan Covid-19, melainkan harus dipadukan dengan protokol kesehatan yang disiplin.

Protokol kesehatan masih diperlukan lantaran saat ini belum semua masyarakat mendapatkan vaksinasi Covid-19. “Vaksin tidak cukup di masa pandemi harus tetap prokes dan masih banyak orang yang tidak vaksin,” imbuhnya.

Guna meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan meski sudah divaksin serta meningkatkan partisipasi masyarakat agar mau divaksin, pemerintah kini terus melakukan edukasi kepada publik.

“Kami tetap edukasi bahwa vaksin memberikan perlindungan terhadap gejala berat sampai dengan 95% dan dari Kematian sampai dengan 98%,” tutur Nadia.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, sesuai arahan Presiden Joko Widodo, mulai awal bulan depan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 ditargetkan dapat mencapai 1 juta dosis per hari.

“Bapak Presiden meminta agar kalau bisa awal bulan depan sudah dicapai satu juta. Dan tolong dipastikan digerakkan semua komponen baik itu komponen melalui vaksinasi pemerintah daerah maupun juga komponen vaksinasi melalui TNI dan Polri,” kata Budi dalam Keterangan Pers yang disiarkan di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (21/6).

Lebih lanjut, pihaknya terus bekerjasama dan berkomunikasi dengan pihak TNI/Polri untuk target 1 juta vaksinasi per hari di bulan depan.

Berdasarkan data yang dikutip dari website resmi Kementerian Kesehatan per 21 Juni 2021 pukul 12.00 WIB, laju vaksinasi secara nasional yaitu total vaksinasi dosis pertama ialah 57,18% atau 23,07 juta penerima dan dosis kedua 30,34% atau 12,24 juta penerima.

Total target sasaran vaksinasi dari tenaga kesehatan, lansia dan petugas publik sebanyak 40,34 juta penerima.
Sementara itu, berdasarkan data covid19.go.id, hingga 30 Juni 2021 sekitar 41 juta masyarakat Indonesia telah menerima vaksin. Namun apakah mereka yang telah menerima vaksin, tidak akan terpapar lagi? Jawabannya perlu diketahui oleh kita semua, “Mengapa Setiap Orang Harus Divaksin?” Dan “Jangan Kendor Prokes Setelah Vaksinasi COVID-19”.

Mengapa Setiap Orang Harus Divaksin?

Setelah Anda menjalankan prokes (protokol kesehatan) 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas) dalam keseharian maka divaksin merupakan upaya terbaik berikutnya yang dapat dilakukan untuk pencegahan penularan infeksi virus Corona. Vaksin COVID-19 disuntikkan untuk mendorong tubuh membentuk antibodi yang berguna dalam melawan infeksi virus corona.

Meski begitu, dibutuhkan waktu sebelum antibodi terbentuk hingga akhirnya dapat berfungsi dengan maksimal. Umumnya, antibodi terbentuk dalam satu bulan setelah vaksin corona dosis pertama. Namun, kinerja antibodi baru akan maksimal pada 28-35 hari setelah suntikan kedua vaksin corona.

Jangan Kendor Prokes Setelah Vaksinasi COVID-19!

Di wilayah Jabodetabek dan beberapa kota lainnya di Indonesia telah mulai dilaksanakan vaksinasi bagi masyarakat umum. Namun, ada hal yang perlu diingat bagi setiap orang yang telah menerima vaksin COVID-19 yaitu semangat disiplin menjalankan prokes 5M tidak boleh kendor. Walau telah menerima vaksin, risiko terpapar COVID-19 tetap saja ada. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh kita semua dan keluarga yang telah mendapatkan vaksin, antara lain : Perhatikan Reaksi dari Vaksin untuk Tubuh Anda ; Redakan Efek Samping Vaksin ; Tetap Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan ; Tiada Hari Tanpa Vitamin C dan D3. (*)

Pencanangan vaksinasi khusus untuk anak usia 12-18 Tahun resmi dimulai, Sabtu (17/7).
Di Kota Palangkaraya, pelajar SMP dan SMA menerima vaksin di SMAN 1  Kota Palangkaraya.

Vaksinasi tersebut diselenggarakan oleh Badan Intelejen Negara ( BIN ) daerah Kalimantan Tengah yang bekerjasama dengan Dinkes Provinsi Kalteng, Polda dan Korem 102 Panju Panjang.

Sasaran vaksinasi pertama diberikan kepada pelajar SMA 1 dan SMP 3 Kota Palangkaraya dan dalam pelaksanaannya pelajar ini dibantu oleh petugas RS TNI dan Biddokkes Polda Kalimantan Tengah.

Jumlah pelajar yang mendapat suntik vaksin dosis pertama ini sebanyak 160 dosis dengan rincian pelajar SMP 3 sebanyak 50 orang dan siswa SMA 1 sebanyak 110 orang. Vaksinasi bagi pelajar dimulai dari siswa/siswi SMP 3 dan SMA 1 Kota Palangkaraya dan akan berlanjut secara bertahap bagi pelajar di sekolah lainnya.

Kepala BIN daerah (Kabinda) Kalteng, Brigjen TNI Sinyo mengatakan, sesuai arahan dan perintah Presiden Joko Widodo, BIN mengawal pelaksanaan vaksinasi kepada pelajar, sehingga hari ini Binda Kalteng Bekerjasama dengan Forkopimda Kalteng melaksanakan vaksinasi kepada pelajar di SMAN 1 Palangkaraya.

“BIN sangat memberikan perhatian serius pada program vaksinasi khusus untuk anak-anak usia 12 sampai 18 tahun, yaitu para pelajar SMP dan SMA yang merupakan generasi penerus dan menjadi tulang punggung bangsa dan negara,” kata Brigjen TNI Sinyo.

Menurutnya, vaksinasi kepada pelajar bertujuan menciptakan ketahanan Herd Imunity generasi muda. Perlu dicermati bahwa terjadi penigkatan kasus penularan Covid-19 di kalangan millenial. Kalangan muda yang terpapar cenderung mengalami masa rawat yang cukup panjang karena belum divaksin.

Acara ini dhadiri langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan Kalteng, Ahmad Syaifudi, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng, Suyuti Samsul, Kabinda Kalteng, Brigjen TNI Sinyo, Kapolda Kalteng Irjen Pol Dedi Prasetyo, Danrem 102 Panju Panjang dan Forkopimda Kalteng.

Oleh : Abdul Karim )*

Ketika kasus corona makin naik, maka masyarakat harus makin waspada dan disiplin dalam menaati protokol kesehatan. Mereka tidak boleh lupa pakai masker dan menjaga imunitas serta higienitas. Vaksinasi juga wajib dilakukan, agar kekebalan tubuh terhadap virus covid-19 meningkat.

Jumlah pasien corona melonjak menjadi 20.000 orang per hari, padahal minggu lalu hanya 12.000 orang. Di banyak RS, jumlah pasien covid melonjak sampai mereka dirawat di lapangan parkir. Kenaikan yang sangat drastis ini tentu membuat kita ngeri karena takut menjadi pasien berikutnya.

Saat genting seperti ini, kita wajib ingat pepatah ‘lebih baik mencegah daripada mengobati’. Pengobatan corona selama ini membutuhkan dana yang mahal (jika tidak punya kartu BPJS). Oleh karena itu kita wajib mencegahnya dengan disiplin dalam menaati protokol kesehatan dan mengikuti program vaksinasi nasional.

Protokol kesehatan 5M terus disosialisasikan, karena selama ini yang dikenal baru 3M. Poin pertama dalam protokol yakni memakai masker masih sering dilanggar, padahal corona varian delta lebih ganas dan bisa menular saat berpapasan dengan OTG. Oleh karena itu, banyak dokter yang menyarankan untuk memakai masker ganda, dengan posisi masker medis di dalam dan masker kain di luar.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) telah membuat percobaan dengan berbagai masker, yakni masker kain, medis, masker tanpa simpul, dan masker ganda. Dari penelitian itu dihasilkan fakta bahwa masker medis memblokir 40,2% droplet dan masker kain 44,3% droplet. Jika dijumlahkan maka hasilnya bisa memblokir lebih dari 80% droplet, sehingga akan aman dari corona.

Selain memakai masker, patuh juga protokol lain seperti mencuci tangan dan menjaga jarak. Penyebabnya karena banyak orang pakai masker tetapi masih bersalaman atau berdekat-dekatan saat menghadiri suatu acara. Padahal kita tidak tahu siapa di antara mereka yang jadi OTG, dan lebih baik mencegah terkena droplet dengan menjaga jarak.

Protokol ke-4 dan ke-5 yakni mengurangi mobilitas dan menjauhi kerumunan juga masih sering dilanggar. Jangan traveling dulu karena kenaikan kasus corona saat ini akibat dari mobilitas masyarakat yang meninggi saat libur lebaran. Jauhi juga kerumunan dan lebih baik belanja via online agar tidak berpapasan dengan banyak orang di pasar.

Di masa pandemi juga dilarang keras untuk mengadakan acara yang mengundang banyak orang, termasuk pesta pernikahan. Kalaupun ada pesta, maksimal tamunya 35 orang dan ada jarak antar kursi tamu. Makanan juga tidak boleh dihidangkan secara prasmanan, tetapi dimasukkan di dalam kotak dan diberikan pada tamu sebagai oleh-oleh. Pasalnya, saat makan bersama otomatis membuka masker dan bisa menularkan corona dari OTG.

Vaksinasi corona juga wajib hukumnya apalagi suntikannya digratiskan 100%. Bandingkan dengan di Singapura yang harus membayar mahal, tetapi tetap laris-manis. Masyarakat Indonesia seharusnya berkaca dari mereka. Ketika ada kesempatan untuk vaksin, baik melalui Puskesmas atau jalur vaksinasi mandiri, wajib diambil demi kesehatan diri sendiri.

Vaksin sudah memiliki status halal MUI dan izin BPOM, sehingga tidak ada keraguan lagi untuk mendapatkannya. Setelah divaksin, kita bisa mempromosikannya di media sosial agar para followers tidak ragu lagi saat akan divaksin. Dengan mempopulekan bahwa vaksin aman, maka kita turut membantu kampanye pemerintah dalam menggalakkan program vaksinasi nasional.

Penanganan corona wajib dilakukan oleh masyarakat demi mendukung pemerintah. Caranya dengan menaati protokol kesehatan 5M dan tetap menjaga higienitas dan imunitas tubuh. Selain itu, vaksinasi juga wajib dilakukan, agar memiliki kekebalan yang tinggi terhadap corona dan mempercepat terbentuknya herd immunity.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Suharso )*

Jumlah pasien Covid-19 yang naik terus membuat status Indonesia menjadi diserang lonjakan kasus positif. Pasalnya, pasien covid lebih tinggi daripada tahun lalu. Oleh karena itu, jika ingin selamat dari Covid-19, maka tidak ada pilihan lain kecuali menaati protokol kesehatan 5M dan mengikuti program vaksinasi nasional.

Pandemi belum juga berakhir dan keadaan jadi makin parah. Baru saja minggu lalu pasien Covid-19 12.000 per orang, saat ini sudah naik jadi 21.342 kasus. Bahkan di DKI Jakarta per hari ada lebih dari 9.000 orang yang kena Covid-19. Lonjakan ini tentu memusingkan karena RS penuh oleh pasien covid, sementara yang isolasi mandiri di rumah pun tak kalah banyaknya.

Lonjakan pasien sudah diprediksi oleh para epidemiolog di Indonesia, karena mereka melihat masyarakat yang tidak disiplin saat libur lebaran. Ada yang nekat mudik dan ada pula yang berwisata tanpa menaati protokol kesehatan. Akibatnya lebih dari 14 hari kemudian, mereka tertular Covid-19 karena mobilitas yang tinggi dan berkerumun seenaknya.

Untuk mencegah terkena Covid-19 gelombang 2 maka kita harus menaati protokol kesehatan 5M dan vaksinasi. Karena berkaca dari beberapa bulan lalu, ada lonjakan pasien covid karena tidak menaati protokol kesehatan physical distancing, menghindari mobilitas, dan menghindari kerumunan. Kondisi ini makin diperparah dengan menyebarnya Covid-19 varian delta yang berasal dari India.

Beda dengan varian alfa, delta lebih ganas dan membuat orang yang kena virus covid-19 merasakan gejala yang lebih parah, karena ia 2 kali menyerang lebih dahsyat. Pasien merasa pusing berat, lemas, lidah pahit, dan diare. Covid-19 delta bisa menular hanya dengan berpapasan dengan OTG, tak heran kita wajib stay at home dan jangan keluar rumah kecuali untuk hal yang penting.

Taati protokol kesehatan 5M: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan. Banyak dokter yang menyarankan untuk memakai masker ganda, yakni masker medis di dalam dan maske kain di luar. Tujuannya agar makin kuat menyaring droplet dari OTG. Kita harus makin waspada karena siapa saja bisa jadi suspect OTG.

Untuk mengurangi mobilitas masyarakat maka pemerintah mencanangkan PPKM mikro lagi dan para pekerja 75% work from home, sementara anak-anak masih sekolah online. Alex K Ginting, Kabid Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 menyatakan bahwa pemerintah daerah harus mengawasi PPKM mikro agar berlangsung dengan baik, tujuannya agar mempertahankan zona hijau.

Dalam artian, mulai dari sekecil RT/RW harus mengawasi warganya untuk menghindari kerumunan. Jika ada hajatan besar-besaran, langsung lapor saja agar dibubarkan oleh tim satgas covid, karena mereka jelas melanggar protokol kesehatan.

Selain menaati protokol kesehatan, masyarakat juga diminta untuk vaksinasi. Jangan pilih-pilih, jika yang ada AstraZeneca maka jangan beralasan mencari vaksin Sinovac. Kedua jenis vaksin ini sama manfaatnya untuk meningkatkan kekebalan tubuh pada virus covid-19. Efikasinya sama-sama tinggi.

Setelah vaksinasi maka bisa selfie lalu diunggah ke media sosial. Tujuannya agar para followers mau juga divaksinasi, karena mereka melihat bahwa tidak ada efek samping sama sekali pasca vaksin. Dengan mengkampanyekan vaksinasi maka kita turut membantu program pemerintah untuk mensukseskan program vaksinasi nasional dan mempercepat terbentuknya kekebalan kelompok.

Menaati protokol kesehatan dan vaksinasi adalah cara untuk menghindari Covid-19 dan jangan sepelekan penyakit ini, karena varian delta lebih berbahaya dan mematikan. Taati protokol kesehatan, tak hanya 3M tetapi juga 5M. Vaksinasi juga wajib dilakukan, apalagi injeksi ini gratis 100%. Jangan lengah sedikitpun agar tidak kena Covid-19.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Diffa Ramadhany )*

Masyarakat diminta untuk tetap menjaga protokol kesehatan (prokes) serta gerakan 5M; memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan serta membatasi mobilisasi, meskipun sudah divaksin. Upaya tersebut merupakan kunci utama untuk mencegah penularan Covid-19.
Gerakan Prokes dan penerapan 5M merupakan kunci penting dalam mengendalikan penularan dan penyebaran virus SAR-Cov-2. Sementera vaksin yang diberikan tidak lantas memberikan kekebalan mutlak terhadap virus tersebut.

Amin Subandrio selaku Kepala LBM Eijkman menyebutkan, mutasi virus covid-19 seperti virus yang lainnya akan terus terjadi. Sehingga perlu keras untuk mencegah mutasi virus dengan memutus mata rantai replikasi atau penyebarannya.

Melalui protokol kesehatan 5M dan meminimalisasi pergerakan masyarakat hingga mendorong terciptanya herd immunity melalui vaksinasi menjadi kunci untuk mencegah mutasi virus corona.

Perihal antisipasi lonjakan Covid-19, sepertinya kita perlu belajar pada negara India Meledaknya kasus Covid-19 di India disinyalir karena masyarakat di sana semakin abai dalam menerapkan protokol kesehatan. Beberapa bulan terakhir terjadi pesta pernikahan besar-besaran di India. Banyak masyarakat tidak mengenakan masker ketika keluar dari rumah.

Selain itu, banyak pula masyarakat yang berkumpul untuk mengikuti kampanye politik tanpa menggunakan masker dan jaga jarak. Beberapa negara bagian India memang melakukan pemilihan umum daerah (pilkada) seperti di daerah Tamil Nadu.

Adapun, ritual keagamaan yang diikuti oleh banyak masyarakat India. Ritual tersebut adalah ritual menghapus dosa dengan mandi di sungai Gangga. Dalam ritual ini banyak masyarakat yang tidak menggunakan masker dan tidak menjaga jarak.

Akibat tsunami kasus Covid-19 tersebut, mayat-mayat bertumpuk di luar rumah sakit pemerintah India, Raipur. Ini disebabkan karena banyaknya pasien Corona yang tidak mampu bertahan dan akhirnya meninggal. Namun, karena jumlahnya yang terlalu banyak, tidak mungkin bisa dikremasi dengan cepat.

Parahnya, sejumlah rumah sakit di India mengalami kesulitan untuk mendapatkan pasokan oksigen hingga membuat banyak pasien Corona tak bisa terselamatkan. Menurut seorang politisi lokal di kotamadya Vasai Virar, Maharashtra, ia membuat permohonan publik untuk membantu mengatasi kekurangan oksigen tersebut.

Selain pasokan oksigen, jumlah bed di rumah sakit untuk menangani pasien Corona juga terbatas. Di New Delhi bahkan hanya memiliki bed atau tempat tidur kurang dari 100 di seluruh RS.Kondisi ini menyebabkan banyak warga India mengeluh soal kurangnya jumlah tempat tidur di RS, tabung oksigen, hingga obat-obatan.

Kekhawatiran yang lebih besar adalah bahwa dalam 24 jam terakhir, angka positivity rate meningkat menjadi sekitar 30 persen dari sebelumnya 24 persen. Kasus-kasus meningkat sangat cepat.

Meskipun sejauh ini telah lebih dari 108 juta orang telah divaksinasi, hal ini rupanya belum cukup untuk menghentikan gelombang kedua Covid-19. Padahal Januari lalu, Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan menyebutkan bahwa negaranya berhasil mencapai herd immunity.

Selain mentaati protokol kesehatan 5M, ada satu senjata yang menjadi upaya meredam penyebaran Covid-19, yakni vaksinasi. Vaksinasi juga wajib dijalani oleh seluruh WNI, apalagi program ini gratis. Selain itu, vaksin corona juga dijamin aman dan halal sebagaimana fatwa yang dikemukakan oleh MUI, sehingga tidak boleh ada keraguan di dalamnya.

Pada kesempatan berbeda, Tokoh Lintas Agama di Semarang juga mendukung akan pelaksanaan vaksinasi. Ketua Majelis Wali Agama Hindu Indonesia Provinsi Jawa Tengah Anak Agung Ketut Darmaja mengatakan bahwa pihaknya juga sangat mendukung program mulia pemerintah tentang vaksinasi Covid-19. Pihaknya juga sudah mensosialisasikan program vaksinasi ini ke seluruh Kabupaten Kota. Provinsi Jawa Tengah, Umat Hindu tidak ada yang menolak.

Vaksin Covid-19 sendiri merupakan vaksin yang diberikan melalui jalur suntikan ke dalam massa otot lengan atas untuk menstimulasi sistem imun atau kekebalan tubuh terhadap virus tersebut. Selain itu Vaksinasi juga berdampak positif untuk sektor ekonomi, karena jika masyarakat memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik untuk melawan penyakit Covid-19, maka kegiatan sosial dan perekonomian masyarakat bisa diadakan kembali seperti sediakala.

Penerapan Prokes 5M dan Vaksinasi adalah 2 hal penting yang harus digalakkan, kedua hal tersebut merupakan strategi efektif untuk menurunkan potensi penularan.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Raditya Rahman )*

Vaksinasi terbukti ampuh ketika sudah disuntikkan ke para Nakes dan mereka terbukti memiliki kekebalan tubuh yang lebih baik. Masyarakat tidak usah takut akan vaksin, karena tidak punya efek samping. Selain itu, vaksin sudah memiliki ijin BPOM dan status halal MUI.

Naiknya jumlah pasien corona membuat program vaksinasi nasional makin digenjot. Tujuannya agar makin banyak yang mendapatkan vaksin dan tidak tertular corona. Sehingga angka kematian akibat virus covid-19 bisa ditekan. Selain itu, jika vaksinasi nasional cepat selesai, maka akan terbentuk herd immunity dan bisa mengakhiri masa pandemi secepatnya.

Vaksin juga terbukti ampuh dalam menekan resiko penyebaran corona. Hal ini terlihat dari para tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas di Kudus, Jawa Tengah. Kepala Dinas Kesehatan Kudus Badai Ismoyo menyatakan bahwa 90% nakes di sana telah sembuh pasca tertular corona. Setelah pulih, mereka bekerja lagi untuk melayani pasien dan menyembuhkan mereka dengan sepenuh hati.

Badai melanjutkan, hanya 5% dari total 6.000 orang nakes di Kudus yang tertular corona, dan mereka hanya perlu isolasi mandiri. Sehingga membuktikan bahwa vaksin sangat efektif untuk mencegah penularan penyakit berbahaya ini. Apalagi nakes adalah orang pertama yang menangani pasien covid, sehingga wajib meningkatkan imunitas tubuhnya sendiri.

Para nakes di Kudus bisa cepat sembuh karena hanya merasakan gejala covid yang ringan. Penyebabnya karena mereka sudah mendapatkan vaksin Sinovac pada gelombang pertama program vaksinasi nasional, awal tahun ini. Hal ini amat menggembirakan karena menunjukkan efektivitas vaksin corona pada tubuh manusia.

Ketika para nakes lekas sehat maka masyarakat yang akan diuntungkan, karena mereka bisa langsung ditangani dengan maksimal. Bayangkan jika tidak ada tenaga medis di Rumah Sakit karena mereka tertular corona, bagaimana dengan pasien? Maka wajar jika nakes yang mendapatkan giliran pertama untuk vaksinasi.

Saat sudah ada buktinya, maka tingkat kepercayaan masyarakat akan naik dan mereka mau divaksin dengan suka hati. Setelah divaksin, maka imunitas tubuh akan meningkat dan ketika terserang virus covid-19, hanya mengalami gejala ringan. Dalam artian hanya seperti penyakit flu biasa, dan butuh istirahat cukup, obat-obatan, vitamin, serta makanan yang bergizi.

Masyarakat pun tak jadi takut akan vaksin karena sudah melihat sendiri kenyataannya, bahwa vaksin bisa menggebuk corona dan meringankan deritanya. Pasien yang kena corona bisa lekas sembuh dan tidak akan terancam kematian. Apalagi saat ini sudah ada virus covid-19 varian baru seperti B 117 yang menyerang 2 kali lebih ganas, sehingga vaksinasi akan penting.

Jika mengalami gejala ringan corona maka tidak usah menginap di Rumah Sakit, karena oleh dokter diperbolehkan isolasi mandiri. Semua itu berkat jasa vaksin yang bisa membuat orang tersebut memiliki kekebalan yang lebih tinggi.

Vaksin sudah terbukti ampuh dalam mengurangi penyebaran corona. Karena ketika para nakes sehat pasca divaksin, mereka tidak akan tertular maupun menularkan virus covid-19 ke pasien. Sehingga mata rantai penyebaran corona akan terputus.

Saat penyebaran corona sudah terhenti dan semua orang sudah divaksin, maka kita akan bisa mencapai herd immunity secepatnya. Keadaan ini yang akan didamba-dambakan, karena semua orang punya imunitas tubuh yang baik. Sehingga kehidupan akan berjalan dengan normal tanpa ada ketakutan akan ancaman corona.

Program vaksinasi nasional terus digenjot agar selesai secepatnya. Tujuannya agar penyebaran corona tidak menggila dan orang-orang yang telah divaksin aman dari dampak fatalnya. Vaksinasi dan menjaga protokol kesehatan adalah ikhtiar untuk bebas dari corona secepatnya..

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini