Oleh : Aldia Putra )*

Pemerintah terus menggencarkan vaksinasi di tengah lonjakan kasus Covid-19 dalam rangka meningkatkan imunitas masyarakat baik dari penularan Covid-19 maupun efek fatal virus tersebut. Masyarakat pun diimbau untuk tidak ragu melakukan vaksinasi lengkap maupun booster karena vaksin yang disediakan aman dan halal sesuai yang dinyatakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Ketika awal program vaksinasi nasional diberlakukan pada awal 2021, masyarakat antusias mengantri di Puskesmas untuk mendapatkan suntikan. Namun setelah lebih dari setahun program ini berjalan, masih ada yang belum vaksin sama sekali. Alasannya karena takut, padahal vaksin Corona di Indonesia sudah halal yang tersertifikasi dari MUI dan memiliki izin BPOM, dan tidak ada efek sampingnya. Masyarakat perlu mendapatkan sosialisasi lagi tentang manfaat vaksin untuk mencegah lonjakan kasus Corona di Indonesia.
Per 1 Juli 2022 ada lebih dari 2.000 pasien
Corona, padahal per tanggal 1 Juni 2022 pasiennya hanya 304 orang. Kenaikan kasus Corona jelas mengkhawatirkan karena Indonesia sedang bersiap memasuki masa endemi. Pandemi wajib diakhiri dan jumlah pasien Covid-19 harus ditekan, dan caranya dengan kembali menggencarkan vaksinasi dari Sabang sampai Merauke.

Vaksinasi massal terus diadakan di berbagai daerah, salah satunya di Banyuasin, Sumatera Selatan. Bupati Banyuasin H. Askolani menyatakan bahwa vaksinasi massal dilakukan di seantero Banyuasin. Bahkan vaksinasi diadakan juga di malam hari. Tujuannya untuk mencapai target minimal 70% warga sudah divaksin.

H. Askolani menambahkan, dengan upaya vaksinasi massal maka masyarakat akan lebih sehat, aman, dan aktif. Dalam artian, ketika sudah divaksin maka warga Banyuasin akan sehat dan bebas Corona. Tentu dengan catatan mereka tetap menaati protokol kesehatan.

Upaya Pemerintah Daerah Banyuasin untuk mencegah lonjakan kasus Corona dengan vaksinasi massal, perlu ditiru oleh daerah-daerah lain. Untuk mencapai cakupan vaksinasi 100% maka perlu ada kerja sama, antara Pemerintah Daerah, Dinas Kesehatan, dan pihak-pihak terkait.

Vaksinasi massal akan lebih menarik masyarakat jika mereka ditawari hadiah. Misalnya para peserta vaksinasi akan mendapatkan susu gratis, paket sembako, voucher belanja, atau doorprize menarik lain. Panitia vaksinasi massal bisa bekerja sama dengan beberapa sponsor sebagai penyuplai hadiah, sehingga tidak memberatkan anggaran.

Sementara itu, Pemerintah Daerah Buleleng, Bali, membuat program Pahlawan Lansia Semangat Dapat Vaksinasi Lengkap. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Buleleng, Suwarmawan, menyatakan bahwa program ini untuk melindungi lansia (lanjut usia). Faktanya, banyak lansia yang belum divaksin karena takut atau tidak tahu bahwa vaksinasi itu wajib. Padahal lansia amat rawan karena imunitasnya lebih rendah dan rata-rata memiliki komorbid (penyakit bawaan) sehingga wajib divaksin.

Suwarmawan melanjutkan, program Pahlawan Lansia Semangat akan menaikkan cakupan vaksinasi karena jika ada 1 lansia yang menjadi pahlawan, teman-temannya akan mau divaksin. Di Buleleng dan sekitarnya, cara ini cukup berhasil untuk merayu banyak lansia. Dengan begitu maka cakupan vaksinasi akan bertambah.

Vaksinasi memang perlu digencarkan lagi di seluruh Indonesia untuk mencegah lonjakan kasus Corona. Jika minimal 70% warga sudah divaksin maka akan terbentuk kekebalan kelompok. Kekebalan ini akan menurunkan jumlah pasien Corona dan mempercepat berakhirnya pandemi.

Untuk menggencarkan vaksinasi maka Pemerintah Daerah wajib berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan, Tim Satgas Covid-19, tokoh masyarakat, dan pihak-pihak lain. Mereka bekerja sama agar vaksinasi massal terus dilakukan, tujuannya agar menaikkan cakupan vaksinasi. Makin banyak yang sudah vaksin maka makin bagus karena mempercepat herd immunity dan mengurangi kenaikan kasus Corona di Indonesia.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh: Namira Eka Saraswati

Disiplin protokol kesehatan dan vaksinasi adalah kunci hadapi subvarian baru Covid-19. Hal ini harus tetap dilakukan agar masyarakat tidak lengah di tengah situasi Covid-19 dalam negeri yang perlahan mereda.

Ahli Kesehatan Masyarakat Hermawan Saputra mengatakan selagi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum mencabut status pandemi atas Covid-19, seharusnya semua negara tetap waspada akan ancaman penyakit tersebut. Hermawan menambahkan agar pemerintah terus gencar mengingatkan masyarakat supaya mematuhi protokol kesehatan dan melakukan vaksinasi demi keselamatan diri sendiri dan orang lain di masa pandemi.

Pentingnya mematuhi protokol kesehatan dan melakukan vaksinasi harus dilakukan karena terjadi peningkatan kasus aktif Covid-19 selama tiga pekan terakhir. Kenaikan kasus aktif ini menurut Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin terjadi karena libur Lebaran, dan munculnya varian baru.

Menkes menjelaskan bahwa secara historis kenaikan kasus aktif tidak terjadi pada tiga hari setelah Hari Raya, tetapi terjadi kenaikan antara 27 hari sampai 35 hari sesudah Hari Raya Besar. Kenaikan ini bersifat normal, namun karena adanya subvarian baru Omicron BA.4 dan BA.5 yang lebih cepat menular, dikhawatirkan akan terjadi peningkatan kasus aktif Covid-19 di Indonesia.

Juru Bicara Kementrian Kesehatan RI Muhammad Syahril menjelaskan bahwa di tingkat global, subvarian BA.4 sudah dilaporkan sebanyak 6.903 kasus dari 58 negara, dan subvarian BA.5 dilaporkan sudah mencapai 8.687 kasus dari 63 negara. Syahril menambahkan bahwa subvarian jenis ini penyebarannya cukup cepat, hanya saja tingkat keparahannya tidak terlalu berat. Tingkat keparahan varian ini lebih ringan dibanding varian omicron terdahulu.

Peningkatan kasus aktif Covid-19 pasca hari besar keagamaan sudah bisa diprediksi. Kenaikan kasus aktif ini masih dalam taraf yang aman. Kenaikan positivity rate di tingkat nasional berada di angka 1.15% setelah sebelumnya kasus positivity rate di Indonesia sempat berkisar di angka 0.5%-0.8%.

Epidemiolog Dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono mengatakan bahwa meningkatkan cakupan vaksinasi lengkap sebanyak-banyaknya dan secepat-cepatnya dapat menjadi salah satu cara untuk mencegah kenaikan kasus aktif Covid-19. Pandu menambahkan bahwa dengan peningkatan cakupan vaksinasi maka akan meningkatkan imunitas dan proteksi optimal bagi setiap individu, karena imunitas yang tinggi di tengah masyarakat dapat menekan angka hospitalisasi dan kematian karena Covid-19.

Cara kerja vaksin Covid-19 di tubuh dalam rangka meningkatkan imunitas adalah dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh, yang mana vaksin dapat melawan infeksi secara efisien dengan mengaktifkan respons tubuh terhadap penyakit tertentu. Selain itu, vaksin juga berguna sebagai pengingat tubuh, yang mana di kemudian hari bila tubuh terserang virus, tubuh akan dengan sendirinya melindungi diri.

Sosialisasi mengenai pentingnya penggunaan masker harus kembali digalakkan. Pelaksanaan protokol kesehatan lain seperti menjaga jarak, dan mencuci tangan juga harus ditingkatkan agar masyarakat tidak lengah terhadap Covid-19.

Mutasi dari virus ini adalah sesuatu yang tidak bisa diduga. Pemerintah dan masyarakat harus tetap bersiap untuk menghadapinya. Dengan kemunculan subvarian baru dari Covid-19 ini, semua pihak harus berperan penting untuk melawannya.

Mendapatkan vaksinasi lengkap dengan tetap menjaga protokol kesehatan adalah cara kita untuk terhindar dari subvarian baru Covid-19. Mengajak keluarga dan lingkungan kita untuk bersiap dari ancaman baru Covid-19 adalah bentuk kepedulian kita agar pandemi ini segera berakhir.

*)Penulis adalah contributor untuk Pertiwi Institute

Oleh : Abdul Hamid )*

Pemerintah terus menggencarkan vaksinasi, meskipun kasus Corona (Covid-19) terus melandai. Upaya ini dilaksanakan guna meningkatkan kekebalan kolektif dan mencegah potensi lonjakan kasus Covid-19.

Awal-awal pandemi suasana saat itu terasa mencekam. Korban Corona berjatuhan satu-persatu, apalagi ketika vaksinnya belum ditemukan. Masyarakat menjadi khawatir dan takut keluar rumah dengan untuk melakukan aktifitasnya. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh belahan dunia.

Namun dalam beberapa minggu ini kasus Corona terus melandai. Jika pada akhir tahun 2021 lalu jumlah pasien Covid-19 mencapai ribuan, maka pada akhir Mei 2022 ‘hanya’ 300-an per hari. Meski kasus tersebut melandai, masyarakat masih harus divaksin sebagai syarat untuk membentuk kekebalan kelompok dan mengakhiri masa pandemi.

Vaksinasi wajib dilakukan karena terbukti bisa meredam lonjakan kasus Corona pasca mudik Lebaran 2022. Jika tahun 2020 dan 2021 selalu ada kenaikan kasus Covid setelah Lebaran dan musim liburan, maka pasca Lebaran 2022 terkendali. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, Dokter Debbie Kalalo menyatakan bahwa kecenderungan kasus Corona setelah Idul Fitri 2022 menurun, karena masyarakat harus vaksin booster sebelum mudik.

Ditambahkannya, vaksinasi terbukti meningkatkan imunitas masyarakat sehingga pasca Lebaran kasus Covid melandai. Dalam artian, walau cakupan vaksinasi baru 60% di seluruh Indonesia, tetapi sudah mulai terbentuk kekebalan kelompok. Kekebalan ini yang membuat situasi pandemi agak mereda.

Namun bukan berarti hal ini membuat masyarakat lalai akan vaksin karena vaksinasi adalah sebuah kewajiban. Dengan vaksinasi dan taat Prokes maka masyarakat diharapkan bisa terhindar dari Corona. Ingat bahwa pandemi belum berakhir, oleh karena itu masyarakat masih harus divaksin. Lagipula vaksinnya sudah digratiskan pemerintah dan statusnya halal MUI sehingga tidak ada alasan untuk menolaknya.

Vaksin yang wajib didapat sampai 3 kali, untuk menyempurnakan perlindungan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa vaksin dosis ketiga atau booster masih harus diperoleh masyarakat untuk memproteksi dirinya sendiri. Penyebabnya karena jika seseorang sudah dibooster maka antibodinya tinggi.

Menteri Budi juga mengingatkan masyarakat untuk tetap taat protokol kesehatan, terutama memakai masker dan agar menghindari keramaian. Sementara bagi mereka yang boleh tidak pakai masker adalah orang-orang yang sehat dan beraktivitas di luar ruangan yang kondisinya relatif sepi. Sementara untuk lansia dan orang yang rawan sakit, masih harus tetap memakai masker.

Untuk penggunaan masker tetap diwajibkan bagi mereka yang beraktivitas di dalam ruangan, seperti kantor yang relatif sempit dan sulit jaga jarak. Tidak ada yang tahu siapa di antara karyawan yang berstatus orang tanpa gejala, jadi masker tidak boleh dilepas, kecuali saat makan siang. Saat makan pun sebaiknya menunggu sepi agar tidak berdesakan dan bisa jaga jarak.

Selain itu, taati juga protokol kesehatan seperti menjaga jarak, mencuci tangan atau memakai hand sanitizer, dan mengurangi mobilitas. Protokol kesehatan terbukti menjaga masyarakat dari ganasnya Corona. Selain itu, jika taat protokol maka juga terhindar dari virus dan bakteri lain, jika diimbangi dengan gaya hidup sehat dan bersih.

Masyarakat tetap harus vaksin sampai 3 kali (booster) meski kasus Covid-19 sudah menurun. Pandemi masih berlangsung hingga saat ini, sehingga vaksinasi untuk meningkatkan antibodi dari Covid-19 adalah sebuah kewajiban untuk menekan meningkatnya kembali kasus Covid-19.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Baskara Prastowo )*

Pemerintah melalui Badan Intelijen Negara (BIN) terus menggencarkan vaksinasi Covid-19 booster atau dosis ketiga kepada masyarakat menjelang momentum Idul Fitri 1443/2022 H. Vaksinasi booster wajib dilaksanakan agar Lebaran 2022 dapat terbebas dari Covid-19.

Sudahkah Anda divaksin sampai dosis ketiga atau booster? Vaksinasi Covid adalah hal yang wajib dilakukan agar menyelamatkan nyawa saat pandemi. jika sudah divaksin tentu tubuh akan lebih kuat dalam menghadapi ganasnya Corona, khususnya varian Omicron.

Vaksinasi amat penting karena booster dijadikan syarat sebelum masyarakat mudik lebaran. Aturan memang diubah ketika warga banyak yang pulang kampung dan otomatis bepergian keluar kota. Mereka tidak perlu tes swab dulu tetapi harus menunjukkan bukti berupa surat vaksin komplit (3 kali suntikan) atau via aplikasi Peduli Lindungi. Vaksinasi selama Ramadhan dilakukan agar kita bisa berlebaran tanpa khawatir akan Corona.

Yudhi Wibowo, Ahli Epidemiologi Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) menyatakan bahwa program percepatan vaksinasi Corona selama Ramadhan bisa dilakukan dengan jemput bola alias mendatangi langsung ke masyarakat. Caranya dengan vaksinasi dari masjid ke masjid. Ini adalah terobosan baru yang perlu diapresiasi.

Vaksinasi selama Ramadhan (di siang hari) diperbolehkan oleh para ulama karena tidak membatalkan puasa. Akan tetapi, saran untuk melakukan vaksinasi dari masjid ke masjid yang dilakukan di malam hari sangat efektif. Setelah tarawih masyarakat sudah berbuka sehingga tenaganya pulih dan siap untuk disuntik, serta bisa meminimalisir KIPI (kejadian pasca vaksinasi).

Untuk menyukseskan program vaksinasi nasional jelang lebaran maka diadakan vaksinasi dari masjid ke masjid yang dilakukan oleh BINDA (Badan Intelijen Negara Daerah) Sulawesi Utara. Salah satunya diakukan di pelataran masjid Al Mu’minun Manurang, Kabupaten Minahasa Selatan. Kegiatan serupa juga dilakukan di masjid lain di kawasan sulawesi Utara.

Pramudhita, Koordinator wilayah BINDA Sulut menyatakan bahwa peningkatan angka capaian vaksinasi harus dilakukan agar kualitas imunitas komunal masyarakat juga terus membaik. Apalagi sekarang rate positivity Covid-19 terus menurun dan angkanya di bawah 5%. Percepatan vaksinasi yang dilakukan oleh BINDA Sulut mempermudah masyarakat karena sebelum mudik disyaratkan untuk booster.

Percepatan vaksinasi yang dilakukan dari masjid ke masjid patut diacungi jempol. Dengan cara ini maka akan jemput bola alias mendatangi masyarakat sehingga mereka tidak usah mendaftar di Rumah Sakit. Jika ada vaksinasi on the spot maka antrean juga lebih pendek daripada saat vaksinasi massal sehingga lekas selesai. Setelah vaksin booster maka masyarakat siap mudik dan berlebaran tanpa takut penularan Corona.

Selain itu, vaksin yang disediakan oleh Nakes juga tidak hanya untuk booster tetapi juga suntikan pertama dan kedua. Sehingga masyarakat yang belum vaksin sama sekali bisa langsung mengantre dan mendapatkan haknya untuk sehat selama pandemi. Sedangkan warga yang ingin vaksin dosis kedua bisa langsung disuntik dan akan lebih memiliki imunitas tubuh yang tinggi sehingga bisa berhari raya dengan sehat tanpa dibayangi oleh virus Covid.

Vaksin dosis kedua amat penting karena jaraknya maksimal 6 bulan dari suntikan pertama, jika terlalu jauh maka harus mengulang. Oleh karena itu ketika ada vaksinasi dari masjid ke masjid amat bagus karena masyarakat bisa langsung diinjeksi tanpa harus mengulang vaksinasinya lagi. Setelah disuntik vaksin dosis kedua maka tinggal menunggu 3 bulan untuk mendapatkan booster.

Lebaran 2022 menjadi momen yang mendebarkan karena untuk pertama kalinya dalam 2 tahun pandemi, masyarakat diperbolehkan untuk mudik. Untuk melindungi mereka dari bahaya Corona saat perjalanan maupun ketika berlebaran di kampung, maka vaksinasi makin digencarkan. Vaksinasi on the spot dari masjid ke masjid amat ampuh untuk meningkatkan cakupan vaksinasi sehingga hari raya idul fitri aman dari Corona.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Abdul Karim )*

Pemerintah terus menggencarkan program vaksinasi kepada masyarakat. Vaksinasi diyakini efektif untuk membentuk antibodi lebih tinggi untuk melawan Covid-19.
Kita sudah melalui pandemi selama dua tahun. Dalam waktu yang berat ini harus sabar dalam menghadapi cobaan dan tetap menjaga protokol kesehatan. Selain itu juga wajib vaksinasi agar imunitas tubuh naik sehingga tidak mudah tertular Corona. Apalagi virus ini terus bermutasi dan varian omicron terbukti lebih cepat menular daripada varian lain, sehingga vaksinasi amat penting.

Program vaksinasi nasional telah dimulai dan pemerintah terus menggenjot agar cepat selesai. Penyebabnya karena makin banyak yang divaksin maka makin cepat kita memiliki herd immunity di seluruh Indonesia, sehingga kondisi pandemi dan lekas dapat diakhiri.
Di banyak daerah sudah mulai terbentuk herd immunity. Survey dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia menyatakan, “Antibodi terhadap Corona yang didapatkan oleh warga yang tinggal di wilayah aglomerasi lebih tinggi dibandingkan kabupaten atau kota lainnya.”

Temuan ini didapatkan dari survey seroprevalensi pada november hingga desember 2021. Seroprevalensi yang dimaksud adalah penelitian yang dilakukan untuk menghitung jumlah individu dalam suatu populasi yang menunjukkan hasil positif untuk penyakit tertentu berdasarkan spesimen serologi atau serum darah.

Iwan Ariawa, anggota tim pandemi Fakultas Kesehatan Masyarakat UI menyatakan, “Seroprevalensi atau sero survei dilakukan berdasarkan wilayah aglomerasi sebanyak 9 provinsi, 47 kabupaten/kota, dan wilayah aglomerasi yang terdiri dari 25 provinsi dan 53 kabupaten/kota. Sampelnya dari 92,8% penduduk.”

Iwan menambahkan, “Wilayah aglomerasi memiliki proporsi penduduk dengan antibodi yang lebih tinggi yakni 90,8% dibanding dengan wilayah non aglomerasi yakni 83,2%. Sedangkan di wilayah aglomerasi lebih banyak penduduk yang sudah divaksin daripada belum.“
Dalam artian, jika di wilayah aglomerasi masyarakatnya memiliki antibodi yang lebih tinggi maka berarti sudah mulai terbentuk herd immunity. Penyebabnya karena mayoritas warga sudah divaksin. Sehingga di satu wilayah yang berdekatan, antibodinya akan lebih tinggi. Jika dibandingkan dengan di wilayah non aglomerasi.

Hal ini membuktikan keampuhan vaksin Corona. Setelah setahun digalakkan program vaksinasi nasional maka antibodi masyarakat lebih tinggi, terutama di wilayah aglomerasi. Posisinya yang berdekatan membentuk kekebalan komunal sehingga tiap orang terlindungi dari Corona.

Dengan adanya hasil survey ini maka kita merasa lega karena ada harapan bahwa pandemi akan berakhir lebih cepat. Sehingga kita bisa beraktivitas dengan normal tanpa takut Corona. Tentunya tetap dengan mematuhi protokol kesehatan.

Walau herd immunity belum 100% di seluruh Indonesia, karena syaratnya harus punya cakupan vaksinasi minimal 75%, tetapi kita tetap optimis. Saat ini cakupan vaksinasi baru sekitar 50% tetapi akan terus digenjot. Hal ini dilakukan agar target dari pemerintah tercapai, yakni 100% vaksinasi setelah 18 bulan dari suntikan pertama di awal program vaksinasi nasional, berarti nanti di bulan september 2022.

Untuk mencapai target cakupan vaksinasi maka banyak pihak yang menyukseskan program vaksinasi nasional dengan mengadakan vaksinasi massal. Jadi, vaksinasi tidak hanya dilakukan di RS dan puskesmas. Namun juga di tempat umum seperti tanah lapang dan aula universitas.

Vaksinasi warga di kawasan aglomerasi terbukti memberi antibodi tubuh yang lebih tinggi untuk melawan Corona. Oleh karena itu, segeralah divaksin jika belum, karena kita harus punya imunitas kuat di masa pandemi. Jarak antar vaksin maksimal 6 bulan dan setelah itu baru menunggu undangan untuk suntik booster.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Abdul Hamid )*

Masyarkat diharapkan untuk selalu taat Protokol Kesehatan (Prokes) dan terus mengikuti vaksinasi. Dengan ketaatan terhadap kedua hal tersebut maka diharapkan kasus Covid-19 jelang Ramadhan dapat ditekan, sehingga masyarakat dapat beribadah dengan tenang.

Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Lagi-lagi kita harus menjalani bulan puasa di tengah pandemi. Kita wajib menjalani semuanya dengan ikhlas dan sabar, meskipun di masa sulit akibat pandemi Covid-19. Pandemi tidak menghalangi tubuh untuk berpuasa. Jika mematuhi protokol kesehatan dan sahur dengan makanan bergizi maka akan terhindar dari kemungkinan penularan Corona.

Menko Manives Luhut B Pandjaitan menyatakan, “Pemerintah akan mengakselerasi vaksinasi lengkap, terutama untuk lansia. Vaksinasi lengkap dan booster untuk mendukung kegiatan di bulan ramadhan dan idul fitri. Masyarakat perlu taat protokol kesehatan (prokes) agar tidak terjadi lonjakan kasus Corona.”
Dalam artian, jelang Ramadhan kita memang harus makin waspada akan Corona. Pasalnya ada beberapa kegiatan di bulan puasa, yang jika dilakukan tanpa menaati protokol kesehatan, akan bisa menaikkan kasus Covid.
Misalnya pasar takjil. Kita tidak bisa melarang para pedagang untuk berjualan es campur atau snack. Akan tetapi perlu diatur agar pengunjung pasar selalu menjaga jarak dan semuanya memakai masker dengan posisi yang benar.

Selain itu, protokol kesehatan harus ditaati saat beribadah. Misalnya ketika salat tarawih. Umat sudah boleh salat berjamaah dan merapatkan saf tetapi semua yang masuk masjid harus mengenakan masker. Mereka juga wajib wudhu terlebih dahulu di rumah, agar meminimalisir kontak di arena keran wudhu. Ketaatan prokes akan membuat penurunan kasus Corona.

Memang saat ini ada penurunan jumlah pasien, dari 26.000-an per hari pada akhir bulan lalu, jadi hanya 11.000 per hari pada pertengahan bulan ini. Akan tetapi kita masih harus meningkatkan kewaspadaan karena angka 11.000 masih cukup tinggi. Jangan sampai ada lonjakan kasus lagi sehingga pandemi entah kapan berakhir.

Menteri Luhut melanjutkan, “Vaksinasi harus dikejar agar tidak terjadi lonjakan kasus dan menaikkan tingkat keterisian Rumah Sakit serta kematian, nanti saat puasa dan idul fitri.” Dalam artian, untuk mencegah penuhnya RS maka cakupan vaksinasi harus dinaikkan. Saat banyak yang vaksin maka akan aman untuk berpuasa karena tubuh punya imunitas tinggi.

Saat ini cakupan vaksinasi di Indonesia baru 50%. Untuk meraih target yang diberi oleh pemerintah, yakni 18 bulan pasca pembukaan vaksinasi nasional (berarti september 2022 karena suntikan pertama pada maret 2021), maka vaksinasi perlu digencarkan.

Sesuai dengan arahan Menteri Luhut maka yang perlu diperhatikan adalah vaksinasi lansia. Untuk itu maka perlu diadakan lagi vaksinasi door to door, karena lansia memiliki kemampuan mobilitas yang terbatas. Dengan begitu mereka semua bisa divaksin tanpa kelelahan saat mengantri untuk disuntik di Rumah Sakit.

Jika semua orang sudah divaksin maka selain kuat berpuasa, akan meyakinkan pemerintah bahwa tahun ini aman untuk mudik. Masyarakat sudah rindu karena hampir 3 tahun tidak pulang kampung. Mereka akan diperbolehkan mudik dengan syarat harus vaksin 2 kali dan menunjukan hasil tes PCR yang negatif.
Untuk menjalankan ibadah puasa dengan sehat dan aman maka semua orang harus menaati protokol kesehatan dan tidak boleh melepas masker. Selain itu, vaksinasi juga penting karena bisa menaikkan imunitas tubuh. Kita bisa beribadah dengan lancar tanpa takut kena Corona.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Pers dan Mahasiswa Cikini

Oleh : Nurlina Widyasari )*

Vaksinasi Covid-19 adalah upaya pemerintah dalam memberikan imunitas kepada masyarakat. Pemberian vaksin tersebut diharapkan dapat mencegah efek fatal Covid-19.

Irjen Pol Fadil Imran selaku Kapolda Metro Jaya menyebutkan, 60 persen angka kematian akibat Covid-19 disebabkan karena pasien belum menjalani vaksinasi. Selain itu, penyebab kematian Covid-19 lainnya adalah pasien yang merupakan lansia dan memiliki riwayat penyakit bawaan. Hal tersebut disampaikan Fadil ketika meninjau langsung percepatan akselerasi vaksin dengan video conference bersama Presiden RI Joko Widodo di Pusat Pemerintahan Kota Tangerang.

Dirinya mengingatkan agar seluruh warga Jadetabek agar tidak mengabaikan penerapan protokol kesehatan (Prokes) Covid-19. Apalagi, kasus Covid-19 varian Omicron sudah mengalami peningkatan. Dia juga mengajak masyarakat yang belum vaksin atau belum menjalani vaksinasi secara lengkap untuk segera melakukan vaksinasi.

Polda Metro Jaya menargetka 1.300 dosis vaksin bisa diberikan khususnya di 104 titik di Kota Tangerang Banten. Sementara itu, satuan tugas (satgas) penanganan Covid-19 mengatakan bahwa vaksinasi memiliki peran penting dalam mencegah keparahan gejala hingga kematian akibat Covid-19.

Juru Bicara Satgas penanganan Covid-19, Prof. Wiku Adisasmito mengatakan kekebalan yang ditimbulkan vaksi memang memiliki banyak peran dalam mencegah keparahan gejala, perawatan di rumah sakit, hinggga kematian.

Meski demikian, dirinya mengatakan masih terdapat risiko long Covid-19 atau gejala Covid-199 yang berkepanjangan meski sudah mendapatkan vaksinasi dan hingga saat ini masih terus diteliti. Oleh sebab itu, Wiku mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan meski sudah mendapatkan vaksinasi.

Vaksinasi dilaksanakan untuk melengkapi upaya pencegahan penyakit Covid-19, seperti memakai masker, mencuci tangan, juga menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Vaksinasi sendiri merupakan prosedur pemberian suatu antigen penyakit, biasanya berupa virus atau bakteri yang dilemahkan atau sudah mati, bisa juga hanya bagian dari virus atau bakteri. Tujuannya adalah untuk membuat sistem kekebalan tubuh mengenali dan mampu melawan saat terkena penyakit tersebut.

Sebenarnya, sistem kekebalan tubuh mengenali dan mampu melawan saat terkena penyakit tersebut. Tetapi, infeksi virus corona memiliki risiko kematian dan daya tular yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan cara lain untuk membentuk sistem kekebalan tubuh, yaitu dengan cara vaksinasi.

Jika vaksinasi ini diberikan secara masal, tentu akan mendorong terbentuknya kekebalan kelompok alias herd immunity dalam masyarakat. Artinya, orang yang tidak bisa mendapatkan vaksin, misalnya bayi baru lahir, ataupun penderita penyakit kelainan imun tertentu, bisa mendapatkan perlindungan dari orang-orang di sekitarnya.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Muhammad Hudori mengatakan kepala daerah memiliki peran penting dalam menyukseskan progam vaksinasi Covid-19.

Hal tersebut sesuai dengan keputusan bersama Menteri Dalam Negeri & Menteri Keuangan No. 119/2813/SJ & Nomor 117/KMK.07/2020 berfokus pada aspek kesehatan, bantuan sosial dan penyelamatan ekonomi di daerah masing-masing terutama UMKM, baik mikro maupun ultra mikro.

Hudori menegaskan, Kepala daerah memiliki peran penting dalam menyukseskan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di daerahnya, terutama melalui penyediaan anggaran dalam APBD untuk mendukung pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di daerah masing-masing.
Dirinya menjelaskan dalam pelaksanaan vaksinasi, pemda provinsi dan kabupten/kota juga dapat memberikan dukungan dalam hal penyediaan tenaga kesehatan, tempat vaksinasi, logistik dan transportasi, gudang dan alat penyimpanan vaksin termasuk buffer persediaan /stok piling, keamanan dan sosialisasi dan menggerakkan masyarakat.

Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota juga diharapkan dapat melakukan pemantauan dan penanggulangan kejadian ikutan pasca vaksinasi Covid-19 bersama Kemenkes dan BPOM.

Hudori berujar, jadi penanganan Covid-19 itu dirinya ingin garis bawahi kepada rekan-rekan sekda. Ini tidak bisa dilaksanakan oleh pemerintah provinsi tetapi juga harus dilakukan secara bersama-sama baik pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Tentu saja masyarakat tidak perlu pilih-pilih vaksin, karena semua vaksin yang hendak disuntikkan telah melalui uji klinis serta layak untuk diberikan kepada masyarakat.

Vaksin juga efektif mencegah efek fatal Covid-19, memang vaksin tidak menjamin seseorang terhindar dari Covid, tetapi vaksin mampu membuat tubuh menjadi lebih kuat untuk melawan ganasnya virus corona.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Retno Palupi )*

Virus Covid-19 varian Omicron membuat lonjakan pasien di Indonesia. Untuk mencegah penularan Omicron maka masyarakat diimbau untuk mengikuti kegiatan vaksinasi agar imunitas tubuh semakin optimal.

Meledaknya pasien Corona bagaikan mimpi buruk yang jadi nyata. Penyebabnya karena 2 bulan lalu kasus Covid bisa ditekan sehingga pasien hanya 500-an per hari, tetapi gara-gara masuknya virus Covid-19 varian Omicron kurva jadi naik lagi. Omicron benar-benar perlu diantisipasi karena menular lebih cepat daripada varian Delta.

Untuk mencegah penularan Omicron tentu kita harus tetap berdisiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Vaksinasi juga harus dilakukan agar kekebalan tubuh meningkat dan tak mudah kena Corona varian apa saja. Segeralah divaksin, karena masih digratiskan oleh pemerintah dan terbukti tidak menimbulkan efek samping apa-apa bagi yang sudah pernah diinjeksi.

Pandu Riono, epidemiolog dari Universitas Indonesia meminta masyarakat tidak usah panik akan masuknya Corona varian Omicron di negeri ini, yang penting mereka sudah vaksinasi. Mutasi virus adalah hal yang wajar dan Omicron relatif tidak berbahaya (jika dibanding dengan varian lain) walau lebih cepat menular.

Pandu menambahkan, lonjakan kasus Corona akibat Omicron sebagian adalah transmisi luar negeri. Berarti dikategorikan kasus yang didapat dari luar negeri, dan masyarakat tak usah panik akan besarnya angka tersebut, apalagi Indonesia telah disebut masuk ke gelombang ketiga Covid.

Omicron baru berbahaya jika ia hinggap di manusia yang berusia lanjut alias lansia, mereka yang memiliki komorbid, dan belum divaksin sama sekali. Jika Anda sudah divaksin maka akan aman dari virus Covid-19 varian terbaru ini, asal disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan 10M.

Bisa jadi lonjakan kasus Corona di Indonesia terjadi selain karena masuknya Omicron, juga karena kendurnya protokol kesehatan. Atau, yang ditaati hanya satu atau dua poin tetap yang lain malah dilanggar. Jika sudah divaksin maka harus tetap jaga protokol kesehatan karena masa pandemi belum selesai.

Vaksinasi juga perlu diadakan lagi di daerah-daerah agar cakupan vaksinasi meluas dan kekebalan kelompok cepat terbentuk. Vaksinasi door to door yang diinisiasi oleh badan itelijen negara (BIN) juga bagus karena mendatangi masyarakat, sehingga makin banyak yang divaksin. Makin banyak yang sudah diinjeksi vaksin tentu makin kebal dari serangan Omicron, karena imunitasnya bagus.

Pihak lain (bukan hanya BIN) baik lembaga pemerintahan maupun swasta juga bisa mengadakan vaksinasi agar membantu suksesnya program vaksinasi nasional. Penyebabnya karena makin banyak yang menyelenggarakan vaksinasi maka makin cepat herd immunity terbentuk, tentu bekerja sama dengan dinas kesehatan setempat. Mereka semangat untuk mengadakan vaksinasi karena ingin membantu pemerintah dalam membasmi Corona.

Misalnya pihak swasta bisa mengadakan vaksinasi di kantor kelurahan, dengan seizin pak Lurah tentunya, dan masyarakat akan diberi hadiah sembako atau paket lain. Dengan cara ini maka makin banyak yang mau divaksin karena ingin mendapatkan gratisan sekaligus proteksi dari Corona, terutama varian Omicron. Ingatlah bahwa Omicron menular lebih cepat sehingga mengadakan vaksinasi sangat membantu pemerintah menghentikan penyebarannya.

Vaksinasi amat penting untuk mencegah meluasnya Corona, terutama varian Omicron, di Indonesia. Memang penderita Omicron hanya sakit dengan gejala ringan tetapi tetap tak boleh disepelekan. Semua orang harus mau divaksin dan tetap disiplin dalam protokol kesehatan, karena pandemi belum selesai dan masih ada potensi tertular Corona walau kemungkinannya kecil.

)* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

Oleh : Nicholas Napitupulu )*

Program vaksinasi Covid-19 nasional adalah concern pemerintah sejak awal tahun 2021. Indonesia pun berhasil melampaui target vaksinasi Badan Kesehatan Dunia WHO, sehingga diharapkan dapat terhindar dari gelombang ketiga Covid-19 seiring adanya varian Omicron.

Pandemi membuat hampir semua tatanan kehidupan berubah dan tiap manusia wajib meningkatkan imunitas agar tidak kena Corona. Salah satu cara ampuh dalam meningkatkan kekebalan tubuh adalah dengan vaksinasi dan sejak Maret 2021 program vaksinasi nasional diberlakukan di seluruh Indonesia. Targetnya program ini selesai tahun 2022 sehingga kita bisa bebas dari status pandemi.

Indonesia telah berhasil melampaui target vaksinasi dari WHO (world health organization), yakni 108,5 juta orang telah diinjeksi vaksin covid per 22 desember 2021. Angka ini melebihi target WHO karena awalnya ditargetkan minimal 40% dari penduduk yang sudah divaksin pada akhir tahun 2021. Vaksin yang telah diberikan juga lengkap 2 dosis sehingga proteksi makin kuat.

BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Universitas Tadulako mengapresiasi pemerintah yang berhasil melampaui target vaksinasi WHO. Pemercepatan program vaksinasi ini demi memutus rantai penyebaran Corona di Indonesia.

Presiden BEM Universitas Tadulako Muhammad Wiranto Basatu menyatakan bahwa ada 2 unsur yang dihadapi saat pandemi. yakni ekonomi dan kesehatan. Presiden Jokowi berhasil menyeimbangkan keduanya sehingga kita optimis bisa mengakhiri masa suram ini secepatnya. Dalam artian, ia menyangjung Presiden Jokowi yang cekatan dan memiliki strategi jitu dalam mengatasi pandemi di negeri ini.

Saat Indonesia berhasil melampaui target vaksinasi dari WHO maka kita optimis pada tahun 2022 program vaksinasi nasional akan selesai 100%. Apalagi saat ini jumlah suntikan dinaikkan, dari 1 juta menjadi 3 juta injeksi dalam sehari (di seluruh Indonesia) dan di mana-mana ada vaksinasi massal. Sehingga program ini akan cepat selesai dan semua orang memiliki kekebalan tubuh untuk melawan Corona.

Apresiasi patut diberikan kepada pemerintah karena vaksinasi bisa diselenggarakan dengan cepat dan tepat sasaran. Sejak awal program vaksinasi nasional, biayanya 100% gratis, sehingga memudahkan rakyat yang kondisi ekonominya menurun akibat efek pandemi. Jika vaksinnya gratis maka semuanya mau disuntik karena mereka sadar akan pentingnya vaksinasi, sekaligus pecinta gratisan.

Vaksinasi juga digencarkan dengan vaksinasi massal yang diselenggarakan baik oleh pihak TNI, BIN, Polri, maupun swasta. Metode ini dijalankan karena lebih efektif, karena dalam sekali vaksinasi massal, langsung ribuan orang yang diinjeksi. Vaksinasi massal diselenggarakan mulai dari di lapangan, gedung, sampai Mall. Tentu dengan mematuhi protokol kesehatan sehingga masyarakat tidak takut akan kerumunan saat vaksinasi massal.

Selain vaksinasi massal, pemerintah yang dibantu oleh BIN (Badan Intelijen Negara) menyelenggarakan vaksinasi door to door. Dengan metode ini maka makin banyak yang diinjeksi vaksin karena para tenaga kesehatan yang mendatangi masyarakat di perkampungan dan perumahan. Sehingga makin banyak WNI yang mendapatkan vaksinasi.

Pemerintah memang menggencarkan vaksinasi agar bisa segera membentuk keekbalan kelompok sehingga kita bebas dari masa pandemi secepatnya. Ketika status pandemi dihapus maka perekonomian akan digencarkan kembali dan kondisi finansial negara akan sehat lagi. Kita bisa bekerja lebih keras lagi untuk menggerakkan roda perekonomian negara dan berubah status menjadi negara maju.

Keberhasilan pemerintah dalam menjalankan program vaksinasi nasional dengan cepat dan akurat patut diapresiasi karena telah melampaui target yang dicanangkan oleh WHO. Ketika makin banyak yang divaksin maka kia tidak takut akan penularan Corona, dengan catatan harus tetap mematuhi protokol kesehatan. Vaksin juga masih digratiskan sehingga semuanya memiliki imunitas yang bagus.

)* Penulis adalah kontributor Lingkar Khatulistiwa

Jakarta — Pemerintah menargetkan vaksinasi Covid-19 dosis pertama mencapai 70 persen dari populasi penduduk di Indonesia, pada akhir tahun ini.

Vaksinasi pertama dilakukan perdana pada Presiden Joko Widodo dan sejumlah pejabat publik dan tokoh masyarakat pada awal Januari lalu. Dilanjutkan pada Februari, dengan vaksinasi secara bertahap untuk kelompok prioritas yang rentan terpapar COVID-19, khususnya tenaga kesehatan.

Juru bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengklaim target itu berhasil dicapai. Ini tidak lepas dari keterlibatan banyak pihak, termasuk pihak swasta yang membantu percepatan distribusi vaksin.

“Akhirnya di akhir tahun ini, Indonesia mencapai target vaksinasi oleh WHO di mana 70 persen populasinya sudah divaksin dosis pertama, dan 40 persen populasi telah divaksin dosis kedua,” kata Wiku dalam konferensi pers, Selasa (28/12/2021).

Wiku juga menyinggung soal upaya pemerintah menjamin ketersediaan vaksin jangka panjang serta mendorong kemandirian anak bangsa, dengan menetapkan kandidat vaksin Merah Putih untuk didukung sepenuhnya, termasuk rangkaian proses produksi serta hilirisasinya.

Dalam upaya mempercepat vaksinasi guna mencapai target herd immunity, pada Mei 2021 pemerintah juga bermitra dengan pihak swasta seperti sektor industri, untuk menjadi penyelenggara vaksinasi atau melaksanakan vaksinasi gotong royong.

Sementara itu, Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan menyebut capaian vaksinasi di pulau Jawa dan Bali bahkan lebih tinggi dari rata-rata nasional. Meskipun jika dilihat dari cakupan geografis, capaian vaksinasi belum merata.

“Dapat kami laporkan juga bahwa capaian vaksinasi umum dan lansia di Jawa dan Bali juga terus meningkat. Capaian vaksinasi dosis satu dan dua di Jawa dan Bali, masing-masing telah mencapai lebih dari 80 persen dan 60 persen. Sementara hasil sero-survei nasional yang menunjukan tingkat kekebalan masyarakat cukup tinggi. Namun masih terdapat beberapa kabupaten kota, dengan vaksinasi dosis satu di bawah 50 persen. Pemerintah terus mendorong peran serta pemerintah daerah untuk memaksimalkan suntikan vaksin di wilayahnya,” kata Luhut dalam keterangan pers, Senin (27/12/2021).

Epidemiolog Universitas Airlangga Laura Navika Yamani mengapresiasi pencapaian tersebut. Hanya saja, Laura menyarankan pemerintah segera meningkatkan target dan capaian vaksinasi Covid-19. Ini tidak lepas dari kemunculan bermacam varian Covid-19, termasuk varian Omicron.

“Dengan capaian vaksinasi yang bisa dikatakan baik, ini tentunya harus dipertahankan. Dan kalau bisa harus ditingkatkan. Karena ini kan kemunculan varian baru, kita nggak tahu ya seperti apa nanti kondisinya. Target vaksinasi yang di awal itu sekitar 70 persen, itu kan identifikasi dari virus awal yang datang dari Wuhan. Yang memiliki daya tular itu satu orang bisa menularkan ke tiga sampai empat orang. Sedangkan saat ini, itu kan sudah berkembang varian-varian yang baru ya. Ada alfa, beta, delta, bahkan sekarang Omicron,” kata Laura, Kamis (23/12/2021).

Laura juga menyinggung soal adanya perubahan karakteristik virus yaitu peningkatan daya transmisi. Terutama saat ini ada varian Omicron yang disebut lebih menular dibandingkan dengan varian Delta, sampai 5 kali.

“Kalau dari saya hitungan kita, kala Delta bisa 7-10 orang. Berarti cakupan vaksinasinya juga kan tidak lagi 70 persen. Jadi satu dibagi misalkan tadi daya tularnya 10 ya, Maka 0,1. Berarti bisa dihitung 1 dikurangi 0,1 itu kan butuh 90 persen,” kata Laura.

Laura menyebut dengan capaian vaksinasi saat ini, kekebalan komunal bisa dikatakan sudah terbentuk. Tapi untuk mempertahankannya, masyarakat tetap wajib dan terus menerapkan protokol kesehatan. (*)