Mewaspadai Mutasi Ganda Covid-19

Oleh : Dita Latifah )*

Saat pandemi belum selesai, ada ancaman lagi yaitu mutasi virus corona. Hal ini tentu makin memusingkan para dokter, anggota tim satgas covid-19, dan ahli epidemiologi. Penyebabnya karena jika tidak dicegah, akan terjadi lonjakan pasien dan pandemi entah kapan akan berakhir.

Sudah 13 bulan pasca diumumkannya pasien corona pertama di Indonesia. Pandemi membuat keadaan masyarakat jadi jungkir-balik, terutama di bidang ekonomi. Belum selesai pemulihan efek pandemi di bidang kesehatan dan finansial, saat ini sudah ada ancaman baru berupa mutasi virus.

Di India terjadi kasus mutasi virus covid-19 menjadi tipe B.1.617. Mutasi virus itu lebih berbahaya karena menyebabkan infeksi lebih cepat daripada virus versi lama. Pada virus covid-19 tipe B.1.617, ada 2 mutasi kunci pada protein lonjakan virus corona untuk mengikat sel lebih efektif, sehingga terjadi infeksi.

Mutasi virus di India menambah derita mereka, karena sebelumnya ada pemberitaan tentang lonjakan pasien covid di sana. Penyebabnya karena ada ritual bernama Kumbh Mela, di mana banyak orang mandi si sungai Gangga. Banyak orang berdesak-desakan untuk nyemplung di sana, tanpa memakai masker dan menjaga jarak.

Pasca kejadian ini, prediksi epidemiologi terbukti. Sebanyak lebih dari 1.000 orang terinfeksi virus covid-19 akibat perbuatan mereka sendiri yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Per hari ada 60 orang yang meninggal dan langsung dikremasi. Kematian massal ini tentu memilukan, dan membuat banyak negara melarang warga negaranya untuk bepergian ke India.

Selain memakan banyak korban jiwa, peristiwa ini juga menyebabkan virus covid-19 bermutasi menjadi tipe B.1.617. Inilah asal-muasal mutasi virus, akibat perilaku manusia yang tidak mau tertib. Sungguh miris ketika mereka masuk sungai Gangga demi kesehatan dan keselamatan dirinya, malah berakhir di ranjang Rumah Sakit.

Berkaca dari peristiwa naas di India, jangan sampai terjadi juga di Indonesia. Memang belum ada laporan bahwa virus ini sudah masuk ke wilayah NKRI. Akan tetapi, bukankah kita lebih baik mencegahnya daripada mengobati? Jangan sampai di Indonesia ada banyak mutasi virus, mulai dari tipe B117 SAMPAI B.1.617, karena akan membuat durasi pandemi jadi makin lama.

Untuk mencegah virus covid-19 bermutasi, maka kita harus makin disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. Jangan lelah untuk pakai masker saat keluar rumah, walau hanya ke teras depan atau ke warung tetangga. Ketika sampai di kantor, jangan melepas masker, karena bisa saja ada rekan kerja yang seorang OTG.

Rajin-rajinlah mencuci tangan dan sediakan sebotol hand sanitizer di dalam tas. Saat berada di luar rumah, semprotkan hand sanitizer setidaknya 2 jam sekali. Bawa juga botol berisi cairan antiseptik untuk mensterilkan tempat duduk dan meja, dan bawa juga sendok dan alat makan lainnya sendiri saat terpaksa makan di luar rumah.

Berkerumun juga jadi penyebab mutasi virus. Tahan diri dan jangan mengadakan arisan, reuni, pesta, atau kegiatan lain yang mengundang massa. Mengadakan acara di rumah bukan berarti aman, karena bisa saja salah satu tamu merupakan OTG. Jadi, kita harus meningkatkan kewaspadaan 200%.

Lebih baik Anda repot sedikit dan menambah anggaran belanja untuk membeli masker disposablehand sanitizer, cairan antiseptik, dan perangkat pengaman lain. Daripada sudah terlanjur sakit dan merana selama lebih dari 2 minggu karena terinfeksi virus covid-19. Pencegahan jauh lebih penting, dan ajak anak-anak dan pasangan untuk tertib juga.

Mutasi virus covid-19 di India mengingatkan bahwa penyakit ini masih bisa berubah menjadi lebih ganas. Untuk mencegahnya, maka kita wajib menerapkan protokol kesehatan. Jangan berkerumun dan jangan pula melanggar protokol lainnya.

)* Penulis adalah warganet tinggal di Samarinda 

Tinggalkan Balasan